cover
Contact Name
M. Arifki Zaianro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
m.arifkiz@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Imam Bonjol Gang Sultan Anom Perumahan Sultan Anom Residence Blok D No 1
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
MAHESA : Malahayati Health Student Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 2746198X     EISSN : 27463486     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MAHESA : Malahayati Health Student Journal, dengan nomor ISSN 2746-198X (Cetak) dan ISSN 2746-3486 (Online) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh DIII Keperawatan Universitas Malahayati Lampung. MAHESA : Malahayati Health Student Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan. MAHESA : Malahayati Health Student Journal telah menggunakan Open Journal System dimana penulis, editor dan reviewer bisa memantau proses naskah secara online. Dalam satu tahun MAHESA : Malahayati Health Student Journal terbit sebanyak 4 kali yaitu pada bulan Maret, Juni, September, Desember.
Articles 1,781 Documents
Perubahan Metilasi DNA Akibat Paparan Timbal Perinatal Meningkatkan Resiko Terjadinya Gangguan Sistem Saraf : Narative Review Anggraeni Janar Wulan; Irfannuddin Irfannuddin; Mohammad Zulkarnain; Nur Arfian
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24101

Abstract

ABSTRACT Perinatal lead (Pb) exposure causes in DNA methylation patterns. Changes in methylation patterns have been shown to cause neurotoxicity due to Pb with inter- and transgenerational inheritance patterns. The inheritance of these patterns increases the risk of developmental programming for neurodegenerative diseases and impaired cognitive, emotional, mental, and motor function development. To analyze the effects of perinatal Pb exposure on changes in DNA methylation patterns, what genetic material is involved, possible nervous system disorders, and influencing factors.  Narrative Review using databases from (1) PubMed Central, (2) Google Scholar, (3) Nature, and (4) Cell Press. The articles used were published between 2014 and 2024. The keywords used were lead exposure, DNA methylation, and neurodevelopment combined with Boolean Operators (AND/OR). A total of 11 articles met the criteria and were analyzed narratively. Perinatal exposure to Pb causes changes in DNA methylation, both hypermethylation and hypomethylation. The changes were widespread in various body tissues, including neurons in the cerebral cortex, hippocampus, blood, and placenta, and were inherited by offspring in the F1, F2, and F3 generations. The inheritance pattern was influenced by the age of exposure, stage of pregnancy, sex, and composition involved in the lineage, as well as the exposure dose. Genes considered important predictors of cognitive, motor, behavioral, and emotional developmental disorders are the CCSER1 gene (cg02901723), the GCNT1 gene (CG18515027), and the TRAPPC6A gene (cg19703494). Other genes that undergo changes in DNA methylation patterns are Ankdd1b, Cdh24, APOA5, Dynein Cytoplasmic 1 Light Intermediate Chain 1 (Dync1li1), GOLPH3, DNHD1, Trhde, FABP4, GPR20, and NINJ2.Prenatal exposure to lead increases the risk of various nervous system disorders in the next generation through epigenetic mechanisms, particularly DNA methylation. Changes in DNA methylation in certain genes can be used as predictors of nervous system developmental disorders. Keywords: Developmental Programming, DNA Methylation, Neurodevelopment, Perinatal, Lead. ABSTRAK Paparan timbal (Pb) periode perinatal menyebabkan perubahan pola metilasi DNA . Perubahan pola metilasi terbukti berperan menyebabkan neurotoksisitas akibat Pb dengan pola pewarisan  inter dan transgenerasi. Pewarisan pola ini meningkatkan resiko  munculnya developmental programming terhadap penyakit neurodegeneratif dan gangguan fungsi perkembangan fungsi kognitif, emosi, mental, dan motorik.   Untuk menganalisis bagaimana pengaruh paparan Pb periode perinatal terhadap perubahan pola metilasi DNA, material genetik apa saja yang terlibat, gangguan fungsi sistem saraf apa saja yang mungkin ditimbulkan serta faktor – faktor yang mempengaruhi.  Narative Review dengan menggunakan basis data yang berasal dari (1) PubMed Central, (2) Google Scholar, (3) Nature, dan (4) Cell press. Artikel yang digunakan adalah artikel yang terbit antara tahun 2014 – 2024. Kata kunci yang digunakan adalah  lead exposure, DNA methylation dan neurodevelopment yang digabungkan dengan Boolean Operator (AND/OR). Sebanyak 11 artikel memenuhi kriteria dan dianalisis secara naratif. Paparan Pb perinatal menyebabkan hipermetilasi dan hipometilasi DNA pada promotor, regio, maupun lokus CpGs secara spesifik. Perubahan pola tersebar pada berbagai jaringan tubuh meliputi neuron kortek cerebri, hippocampus, darah, dan plasenta serta menjadi pola yang menetap yang diwariskan pada keturunannya baik F1, F2, dan F3. Pola pewarisan dipengaruhi oleh usia paparan, tahapan usia kehamilan, jenis kelamin dan  komposisi jenis kelamin yang terlibat dalam garis keturunan serta dosis paparan. Gen yang dianggap berperan penting sebagai prediktor terjadinya gangguan perkembangan fungsi kognitif, motorik,   perilaku, dan emosi adalah  gen CCSER1 (cg02901723), gen GCNT1 (CG18515027), dan gen TRAPPC6A (cg19703494). Gen lain yang mengalami perubahan pola metilasi DNA  dan berhubungan dengan penyakit pada sistem saraf adalah Ankdd1b, Cdh24, APOA5, gen Dync1li1, GOLPH3, DNHD1, Trhde, FABP4, GPR20, dan  NINJ2. Paparan Pb periode perinatal meningkatan resiko terjadinya berbagai gangguan fungsi sistem saraf pada generasi berikutnya melalui mekanisme epigenetik khususnya metilasi DNA. Perubahan metilasi DNA pada gen tertentu dapat digunakan sebagai prediktor terjadinya gangguan perkembangan sistem saraf.  Kata Kunci: Developmental Programming, Metilasi DNA, Neurodevelopment, Perinatal, Timbal.
Pendekatan Holistik Pada Fenomena Racun Sangga Menekankan Keseimbangan Mind Body Soul Dalam Pelayanan Keperawatan Modern Abdus Salam; Hamidatul Jannah; Ananda Yasyfa Nurhaliza Sugita; Amalia Amalia; Herman Ariadi
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24074

Abstract

ABSTRACT The holistic nursing approach emphasises a comprehensive understanding of human beings, encompassing physical, psychological, social, and spiritual aspects. In the context of Kalimantan society, the phenomenon of Racun Sangga presents a unique challenge because it involves interactions between cultural beliefs and modern medical interpretations. This study aims to (1) identify the Racun Sangga phenomenon from medical (body), psychological (mind), and spiritual (soul) perspectives in holistic nursing care, and (2) analyse the influence of Kalimantan society's culture on practice. The research method used a phenomenological and ethnographic approach, through in-depth interviews and live-in. In-depth interviews were conducted with nine informants consisting of doctors, psychologists, spiritual experts, traditional healers, victims, and live-in in one of the villages in Kalimantan. The results of the study show that medically, Racun Sangga is understood as a symptom with biological aetiology; psychologically, it appears as a perceptual or psychosomatic disorder caused by fear and emotional pressure; while spiritually, it is considered a real metaphysical attack by the community. Local culture has been proven to greatly influence the perception of illness and patterns of seeking treatment, where the community first conducts magic-based self-diagnosis before seeking medical help. In conclusion, the Racun Sangga phenomenon is a multidimensional experience that encompasses body–mind–soul interactions and demonstrates that Kalimantan culture plays a dominant role in shaping the beliefs, responses, and health behaviours of the community. The implication is that modern nursing services must integrate cultural competence, medical interventions, psychological support, and ethical spiritual approaches to provide effective and culturally sensitive care. Keywords: Holistic Nursing, Kalimantan Culture, Racun Sangga, Black Magic.  ABSTRAK Pendekatan keperawatan holistik menekankan pemahaman manusia secara menyeluruh mencakup aspek fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Dalam konteks masyarakat Kalimantan, fenomena Racun Sangga menjadi tantangan unik karena melibatkan interaksi antara keyakinan budaya dan interpretasi medis modern. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi fenomena Racun Sangga dari sudut pandang medis (body), psikologis (mind), dan spiritual (soul) dalam pelayanan keperawatan holistik, serta (2) menganalisis pengaruh budaya masyarakat Kalimantan terhadap praktik. Metode penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi dan etnografi, melalui wawancara mendalam dan live-in. Wawancara mendalam dengan sembilan informan yang terdiri dari dokter, psikolog, ahli spiritual, dukun, korban serta live-in di di salah satu desa yang ada di kalimantan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara medis Racun Sangga dipahami sebagai gejala yang memiliki etiologi biologis, secara psikologis muncul sebagai gangguan persepsi atau psikosomatis akibat ketakutan dan tekanan emosional, sedangkan secara spiritual dianggap sebagai serangan metafisik yang nyata oleh masyarakat. Budaya lokal terbukti sangat memengaruhi persepsi sakit dan pola pencarian pengobatan, di mana masyarakat lebih dahulu melakukan self-diagnosis berbasis magis sebelum mencari bantuan medis. Kesimpulannya, bahwa fenomena Racun Sangga merupakan pengalaman multidimensi yang mencakup interaksi body–mind–soul dan melalui bukti bahwa budaya Kalimantan memiliki peran dominan dalam membentuk keyakinan, respons, dan perilaku kesehatan masyarakat. Implikasinya, pelayanan keperawatan modern harus mengintegrasikan kompetensi budaya, intervensi medis, dukungan psikologis, serta pendekatan spiritual yang etis untuk memberikan asuhan yang efektif dan sensitif budaya. Kata Kunci: Keperawatan Holistik, Budaya Kalimantan, Racun Sangga, Santet.
Terapi Adjuvan Magnesium Sulfat Inhalasi Pada Eksaserbasi Asma Akut dengan Risiko Kematian dan Gagal Napas Tipe II Pada Kehamilan: Suatu Kasus Klinis Christan Chaputtra Maharibe; I Made Agus Kresna Sucandra; Putu Agus Surya Panji
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.26859

Abstract

ABSTRACT Asthma is a chronic respiratory disease frequently encountered during pregnancy, with a prevalence of 3-12%. Exacerbations during pregnancy may cause severe maternal and fetal complications, including hypoxemia, preterm birth, and asthma-related death. Management of severe exacerbations is challenging because of suboptimal response to beta2-agonists and concerns regarding drug safety. Magnesium sulfate, which has long been used in obstetrics, has bronchodilatory and anti-inflammatory effects and a favorable safety profile in pregnancy. Objective: This case report aimed to evaluate the use of adjunctive inhaled magnesium sulfate in a pregnant woman with life-threatening acute asthma exacerbation and type II respiratory failure. Method: This article was prepared as a clinical case report based on clinical data, physical examination, laboratory findings, arterial blood gas monitoring, thoracic radiography, echocardiography, treatment course, and follow-up during intensive care. Result: A 28-year-old primigravida at 24 weeks of gestation presented with progressive dyspnea unresponsive to initial inhalation therapy. The patient developed type II respiratory failure with severe respiratory acidosis and hypercapnia, shown by pH 7.01-7.14 and pCO2 77-100 mmHg, requiring intubation and mechanical ventilation. Alongside systemic corticosteroids, inhaled bronchodilators, intravenous aminophylline, antibiotics, sedation, and ventilatory support, adjunctive nebulized MgSO4 was administered at 0.2 mL diluted with 3 mL NaCl every 8 hours. Gradual improvement was observed, with pCO2 declining to 47 mmHg, improvement of respiratory status, correction of electrolyte imbalance, successful extubation, and stable fetal condition. Conclusion: Nebulized magnesium sulfate may be considered a safe and potentially effective adjunctive therapy in life-threatening asthma exacerbation during pregnancy, particularly when response to standard therapy is inadequate. Keywords: Acute Severe Asthma, Hypercapnia, Inhaled Magnesium Sulfate, Pregnancy, Type II Respiratory Failure.  ABSTRAK Asma merupakan penyakit pernapasan kronis yang sering dijumpai pada kehamilan, dengan prevalensi 3-12%. Eksaserbasi asma pada kehamilan dapat menimbulkan komplikasi serius bagi ibu maupun janin, seperti hipoksemia, kelahiran prematur, hingga kematian terkait asma. Tatalaksana eksaserbasi berat sering kali menantang karena keterbatasan respons terhadap beta2-agonist dan kekhawatiran terhadap keamanan obat. Magnesium sulfat, yang telah lama digunakan di bidang obstetri, memiliki efek bronkodilator dan antiinflamasi serta profil keamanan yang baik pada ibu hamil. Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan magnesium sulfat inhalasi sebagai terapi adjuvan pada pasien hamil dengan eksaserbasi asma akut serangan berat, gagal napas tipe II, dan risiko kematian akibat asma. Metode: Artikel ini disusun sebagai laporan kasus klinis berdasarkan data klinis pasien, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, analisis gas darah, radiografi thoraks, echocardiography, perjalanan terapi, dan follow-up selama perawatan intensif. Hasil: Seorang perempuan 28 tahun, G1P0A0 usia kehamilan 24 minggu, datang dengan sesak napas progresif yang tidak membaik setelah terapi inhalasi awal. Pasien mengalami gagal napas tipe II dengan pH 7,01-7,14 dan pCO2 77-100 mmHg sehingga memerlukan intubasi dan ventilasi mekanik. Selain terapi standar berupa kortikosteroid sistemik, bronkodilator inhalasi, aminofilin intravena, antibiotik, sedasi, dan dukungan ventilasi, pasien mendapat nebulisasi MgSO4 0,2 mL yang diencerkan dengan NaCl 3 mL tiap 8 jam. Perbaikan bertahap dicapai dengan penurunan pCO2 menjadi 47 mmHg, perbaikan klinis respirasi, perbaikan gangguan elektrolit, keberhasilan ekstubasi, serta kondisi janin yang tetap stabil. Kesimpulan: Nebulisasi magnesium sulfat dapat dipertimbangkan sebagai terapi adjuvan yang aman dan potensial efektif pada eksaserbasi asma akut derajat berat pada kehamilan, terutama ketika respons terhadap terapi standar tidak mencukupi. Kata Kunci: Asma Akut Berat, Gagal Napas Tipe II, Hiperkapnia, Kehamilan, Magnesium Sulfat Inhalasi.
Hubungan Kadar Albumin Plasma pada Penderita TB Mdr dengan Ko-Infeksi Hepatitis B Farah Alfarisi; Fauna Herawati; Umi Fatmawati
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24322

Abstract

ABSTRACT Tuberculosis is a chronic infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis. Resistance of the Mycobacterium tuberculosis (Mtb) germ is caused by spontaneous mutations in the chromosome. The proportion of Mtb germs that have undergone mutation (wild-type resistant mutants) in patients who have never received OAT is very small. TB treatment causes selective inhibition of the Mtb germ population, leading to the killing of sensitive Mtb germs, while the mutant population will reproduce and cause resistance to OAT (acquired resistance). A common co-infection in TB patients is Hepatitis B. Hepatitis B infection is a liver disease that causes inflammation and damage to hepatocytes. Chronic hepatitis B virus (HBV) infection in tuberculosis patients ranges from 0.5% to 44%. Hypoalbuminemia is often associated with both TB and Hepatitis B. It frequently occurs in hepatitis B due to liver damage caused by hepatitis B virus infection, while in TB, hypoalbuminemia is often linked to malnutrition and poor nutritional intake in TB patients. This hypothesis aligns with the patient's current condition, where the patient is diagnosed with hepatitis B confirmed by laboratory results showing HBsAg values 1000. Additionally, the patient also suffers from MDR TB with poor nutritional intake, as evidenced by the patient's BMI of only 19.53. Keywords: Hepatitis B, Hypoalbuminemia, Co-infection, Multi-drug resistant, Tuberculosis, Multi-Drug Resistant.  ABSTRAK Tuberkulosis ada suatu penyakit kronik menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Resistansi kuman Mycobacterium tuberculosis (Mtb) disebabkan oleh mutasi spontan pada kromosom. Proporsi kuman Mtb yang sudah mengalami mutasi (wild-type resistant mutants) pada pasien yang tidak pernah mendapatkan OAT sangat sedikit. Pengobatan TB menyebabkan hambatan selektif pada populasi kuman Mtb sehingga kuman Mtb sensitif dibunuh, sementara populasi mutan akan bereproduksi dan menyebabkan terjadinya resistansi terhadap OAT (resistansi didapat). Ko-infeksi yang sering terjadi pada pasien TB adalah Hepatitis B. Infeksi hepatitis B adalah penyakit hati yang menyebabkan peradangan dan kerusakan hepatosit. Infeksi virus hepatitis B (HBV) kronis pada pasien tuberkulosis berkisar antara 0,5% hingga 44%. Hipoalbuminemia sering dikaitkan dengan penyakit TB maupun Hepatitis B. Pada hepatitis B sering terjadi dikarenakan adanya kerusakan hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B, sedangkan pada TB sering terjadi hipoalbumin dikaitkan dengan malnutrisi dan kurangnya asupan gizi pada pasien TB. Hipotesis ini sesuai dengan kondisi pasien pada saat ini, dimana pasien didiagnosis hepatitis B yang ditegakkan dengan hasil pemeriksaan labortarorium dimana nilai HBsAg 1000, selain itu pasien juga menderita TB MDR dengan asupan gizi yang buruk, dimana dapat dilihat BMI pasien hanya 19.53. Kata Kunci: Hepatitis B, Hipoalbuminemia, Ko-Infeksi, Multi Drug Resistant, Tuberkulosis, Multi Drug Resistant.
Hubungan Jenis Kelamin, Self-Efficacy, dan Kepatuhan Menjalani Terapi dengan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RSUD Kota Mataram Ni Luh Putu Nefa Pradnyandari; Dian Rahadianti; Sherliyanah Sherliyanah; Kadek Dwi Pramana
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24268

Abstract

ABSTRACT Patients with Chronic Kidney Disease (CKD) undergoing hemodialysis may experience complications such as discomfort and a decreased quality of life, encompassing physical, psychological, and spiritual aspects. The quality of life of patients is influenced by gender, self-efficacy, and adherence to therapy. This study aimed to determine the relationship between gender, self-efficacy, and therapy adherence with the quality of life of patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis at RSUD Kota Mataram in 2025. This study employed a quantitative analytic observational design with a cross-sectional approach. The sampling technique used was consecutive sampling, with a total of 84 respondents. Data were analyzed using the Chi-square test. The results of the univariate analysis showed that most respondents were female 43 (48.8%), high self-efficacy 53 (63.1%), therapy adherence 68 (81%), and high quality of life 53 (63.1%). Bivariate analysis showed significant relationships between gender and quality of life (p-value 0.001), self-efficacy and quality of life (p-value 0.000), and therapy adherence and quality of life (p-value 0.018). In conclusion, there were significant relationships between gender, self-efficacy, and therapy adherence with the quality of life of patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis at RSUD Kota Mataram in 2025. Keywords: Quality of Life, Chronic Kidney Disease, Gender, Self-Efficacy, Therapy Adherence.  ABSTRAK Pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) yang menjalani hemodialisis dapat mengalami komplikasi seperti ketidaknyamanan serta penurunan kualitas hidup yang mencakup aspek fisik, psikologis, dan spiritual. Kualitas hidup pasien dipengaruhi oleh jenis kelamin, self-efficacy, dan kepatuhan menjalani terapi. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan jenis kelamin, self-efficacy, dan kepatuhan terapi dengan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Kota Mataram tahun 2025. Metode penelitian ini kuantitatif analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Sampel penelitian sebanyak 84 responden. Data dianalisis dengan uji Chi-square. Hasil analisis univariat menunjukkan sebgaian besar perempuan 43 (48,8%), self-efficacy tinggi 53 (63,1%), patuh menjalani terapi 68 (81%) dan kualitas hidup tinggi 53 (63,1%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kualitas hidup (p-value 0,001), terdapat hubungan antara self-efficacy dengan kualitas hidup (p-value 0,000) dan terdapat hubungan antara kepatuhan menjalani terapi dengan kualitas hidup (p-value 0,018). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin, self-efficacy, dan kepatuhan menjalani terapi dengan kualitas hidup pasien pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Kota Mataram 2025. Kata Kunci: Kualitas Hidup, Penyakit Ginjal Kronik, Jenis Kelamin, Self-Efficacy, Kepatuhan Terapi.
Hubungan Tingkat Stres, Kualitas Tidur, dan Karakteristik Mahasiswa dengan pH Saliva Mahasiswa/I Fakultas Kedokteran Universitas Prima Indonesia saat Objective Structured Clinical Examination (OSCE) Beatrice Benedicta Siahaan; Masdalena Nasution; Herlin Novita Pane
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.26722

Abstract

ABSTRACT In medical education, the Objective Structured Clinical Examination (OSCE) is extensively used to evaluate students' clinical competencies. Despite its educational value, the examination is frequently identified as a major academic stressor for medical students. Stress and poor sleep quality are known to affect the autonomic nervous system and salivary secretion, potentially altering salivary pH. However, studies integrating psychological factors, sleep quality, student characteristics, and salivary biomarkers remain limited. To determine the relationship between stress levels, sleep quality, and OSCE participants’ characteristics with salivary pH among students of the Faculty of Medicine, Universitas Prima Indonesia. This cross-sectional study used an observational analytical quantitative technique and involved 218 students from Prima Indonesia University's Faculty of Medicine. The respondents were selected using a stratified random sampling technique. The respondents' stress levels were then measured using the Depression Anxiety Stress Scale-21 (DASS-21), their sleep quality was measured using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), and the acidity of their saliva was measured using salivary pH indicator paper. Following data analysis using the Spearman, Mann-Whitney, and Kruskal-Wallis tests, the study's statistical significance level was set at a p-value of less than 0.05 (p 0.05). Most respondents had neutral salivary pH (74.8%), poor sleep quality (85.8%), and 59.2% experienced stress ranging from mild to extremely severe levels. “The findings indicated a significant correlation between stress level and salivary pH (r = 0.186; p = 0.006). By contrast, the relationship between sleep quality and salivary pH did not reach statistical significance (r = 0.121; p = 0.074). Similarly, comparisons by sex, age group, and academic semester demonstrated no significant differences in salivary pH (p = 0.498, p = 0.288, and p = 0.126, respectively). Conversely, a significant difference in salivary pH was detected between students with different living arrangements (p = 0.022).”Stress level and living arrangement status were significantly associated with salivary pH among medical students during the OSCE. In contrast, sleep quality, sex, age, and academic semester showed no significant association with salivary pH. Keywords: Academic Stress, Sleep Quality, Salivary pH, OSCE, Medical Students.  ABSTRAK Sebagai salah satu bentuk evaluasi kompetensi klinis, Objective Structured Clinical Examination (OSCE) telah menjadi bagian penting dalam proses pendidikan kedokteran. Di sisi lain, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan OSCE sering dipersepsikan sebagai salah satu sumber utama stres akademik di kalangan mahasiswa kedokteran. Stres dan kualitas tidur yang buruk diketahui dapat memengaruhi sistem saraf otonom dan sekresi saliva sehingga berpotensi mengubah pH saliva. Namun, penelitian yang mengintegrasikan faktor psikologis, kualitas tidur, karakteristik mahasiswa, dan biomarker saliva masih terbatas. Menganalisis hubungan antara tingkat stres, kualitas tidur, dan karakteristik peserta yang mengikuti Objective Structured Clinical Examination (OSCE). terhadap pH saliva mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Prima Indonesia. Kajian Ilmiah potong lintang ini menggunakan teknik kuantitatif analitik observasional dan melibatkan 218 mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Universitas Prima Indonesia. Responden dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel acak bert stratified. Tingkat stres responden kemudian diukur menggunakan Skala Depresi Kecemasan Stres-21 (DASS-21), kualitas tidur mereka diukur menggunakan Indeks Kualitas Tidur Pittsburgh (PSQI), dan keasaman saliva mereka diukur menggunakan kertas indikator pH saliva. Setelah analisis data menggunakan uji Spearman, Mann-Whitney, dan Kruskal-Wallis, tingkat signifikansi statistik penelitian ditetapkan pada nilai p kurang dari 0,05 (p 0,05). Sebagian besar responden memiliki pH saliva netral (74,8%), mengalami kualitas tidur buruk (85,8%), dan 59,2% mengalami stres dari kategori ringan hingga sangat berat. “Terdapat hubungan signifikan antara tingkat stres dan pH saliva (r=0,186; p=0,006). Tidak terdapat hubungan signifikan antara kualitas tidur dan pH saliva (r=0,121; p=0,074). Tidak ditemukan perbedaan pH saliva berdasarkan jenis kelamin (p=0,498), usia (p=0,288), dan semester (p=0,126). Perbedaan signifikan ditemukan berdasarkan status tempat tinggal (p=0,022).”  Tingkat stres dan status tempat tinggal memiliki hubungan bermakna terhadap pH saliva mahasiswa saat OSCE. Kualitas tidur, jenis kelamin, usia, dan semester tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Kata Kunci: Stres Akademik, Kualitas Tidur, pH Saliva, OSCE, Mahasiswa Kedokteran.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Jamaah Umroh Tentang Vaksinasi Meningitis di Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Tanjung Priok Rhani Desica; Isnaini Isnaini
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24075

Abstract

ABSTRAK Vaksin meningitis merupakan salah satu persyaratan kesehatan bagi jemaah umroh untuk mencegah penularan penyakit meningokokus selama perjalanan dan saat berada di area dengan kepadatan tinggi. Namun, tingkat pengetahuan jemaah mengenai pentingnya vaksinasi masih bervariasi dan sering kali belum memadai, sehingga memengaruhi kepatuhan terhadap vaksinasi. Pendidikan kesehatan berperan penting dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran jemaah tentang manfaat serta prosedur vaksinasi. Peningkatan pengetahuan melalui edukasi yang terstruktur diharapkan dapat membantu jemaah membuat keputusan kesehatan yang tepat serta mencegah risiko penyakit selama perjalanan ibadah. Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan jamaah umroh tentang vaksinasi meningitis. Quasi experiment dengan desain one group pretest-posttest. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian jama’ah umroh yang datang di Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Tanjung Priok pada bulan November 2025, sebanyak 70 orang.  Teknik pengambilan sampel menggunakan randoom sampling. Mayoritasresponden berumur 30-59 tahun 75,7%, pendidikan menengah 58,6% dan berjenis kelamin perempuan 65,7%. Tingkat pengetahuan responden tentang vaksinasi meningitis sebelum diberikan pendidikan  kesehatan mayoritas berpengetahuan cukup 55,7%, dan sesudahnya mayoritas berpengetahuan baik 70,0%. Adanya pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan jamaah umroh tentang vaksinasi meningitis, dengan nilai p value 0,00. Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan jamaah umroh tentang vaksinasi meningitis. Diharapkan instansi terkait dapat meningkatkan program edukasi tentang vaksinasi meningitis melalui penyampaian informasi yang mudah dipahami, dan dilakukan secara rutin pada setiap kegiatan pembekalan jemaah umroh. Kata Kunci: Pendidikan Kesehatan, Pengetahuan, Vaksin Meningitis, Jamaah Umroh.  ABSTRACT Meningitis vaccination is a health requirement for Umrah pilgrims to prevent meningococcal transmission during travel and in high-density areas. However, pilgrims' knowledge of the importance of vaccination varies and is often inadequate, impacting their compliance. Health education plays a crucial role in increasing pilgrims' understanding and awareness of the benefits and procedures of vaccination. Increasing this knowledge through structured education is expected to help pilgrims make informed health decisions and prevent the risk of illness during their pilgrimage. To determine the influence of health education on the knowledge of Umrah pilgrims regarding meningitis vaccination. This was a quasi-experimental study with a one-group pretest-posttest design. The sample consisted of 70 Umrah pilgrims who arrived at the Tanjung Priok Health Quarantine Center in November 2025. Random sampling was used as the sampling technique. The majority of respondents were aged 30-59 years (75.7%), had secondary education (58.6%), and were female (65.7%). The level of knowledge of respondents about meningitis vaccination before receiving health education was 55.7% sufficient knowledge, and afterward the majority had good knowledge (70.0%). There was an effect of health education on the knowledge of Umrah pilgrims about meningitis vaccination, with a p-value of 0.00. Health education has an impact on Umrah pilgrims' knowledge about meningitis vaccination. It is hoped that relevant agencies can improve their education programs on meningitis vaccination by providing easy-to-understand information and conducting it routinely during all Umrah pilgrim briefings. Keywords: Health Education, Knowledge, Meningitis Vaccine, Umrah Pilgrims.
Analisis Determinan Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Wllayah Kerja Puskesmas Bandar Sinembah Kecamatan Binjai Barat Dhea Salsabila Br. Sitepu; Fitriani Pramita Gurning; Rapotan Hasibuan
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i7.26572

Abstract

ABSTRACT National Health Insurance (JKN) participation is an important indicator in achieving Universal Health Coverage (UHC). Although Binjai City has achieved high JKN participation coverage, the Bandar Sinembah Community Health Center (Puskesmas) working area still has a participation rate of 58.06%, thus not meeting the national UHC target of 99%. This study aims to analyze the determinants of JKN participation in the Bandar Sinembah Community Health Center working area, West Binjai District. This study uses a quantitative method with a cross-sectional design. The research sample is the community in the Bandar Sinembah Community Health Center working area, which includes two sub-districts, namely Bandar Sinembah and Suka Maju. The sample obtained was 114 respondents. Sampling used the Stratified Random Sampling Technique. Data analysis was carried out using univariate analysis, bivariate (chi-square test) and multivariate analysis (logistic regression). The chi-square test results showed no significant association between age, gender, occupation, income, and knowledge level with JKN participation. However, the variables of attitude, access to health facilities, and health history showed a significant relationship with JKN participation. Logistic regression analysis results indicated that access to health facilities had an Exp(B) of 8.721; thus, access to health facilities was the dominant variable, while attitude (Exp(B) = 5.122) and health history (Exp(B) = 3.391) also influenced JKN participation. The multivariate analysis showed that age, gender, occupation, income, and knowledge were not significantly associated with JKN participation.  Keywords: JKN Participation, Universal Health Coverage, Attitude, Access To Health Facilities, Medical History.  ABSTRAK Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan salah satu indikator penting dalam pencapaian Universal Health Coverage (UHC). Meskipun Kota Binjai telah mencapai cakupan kepesertaan JKN yang tinggi, wilayah kerja Puskesmas Bandar Sinembah masih memiliki tingkat kepesertaan sebesar 58,06%, sehingga belum memenuhi target UHC nasional sebesar 99%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan kepesertaan JKN di wilayah kerja Puskesmas Bandar Sinembah Kecamatan Binjai Barat. Penelitian ini menggunakan Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian adalah masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Bandar Sinembah, yang meliputi dua kelurahan yaitu kelurahan Bandar Sinembah dan Suka Maju. Sampel yang didapat sebanyak 114 responden. Pengambilan sampel menggunakan Teknik Stratified Random Sampling. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat, bivariat (uji chi-square) dan analisis multivariat (regresi logistik). Hasil uji chi-square menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendapatan, tingkat pengetahuan dengab kepesertaan JKN. Namun, variabel sikap, akses fasilitas kesehatan, dan riwayat kesehatan menunjukkan hubungan signifikan dengan kepesertaan JKN. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa akses terhadap fasilitas kesehatan Exp(B)=8,721 Dengan demikian, variabel Akses Fasilitas Kesehatan merupakan variabel dominan yang mempengaruhi kepesertaan JKN di wilayah kerja puskesmas Bandar Sinembah, variabel sikap dengan nilai Exp(B)=5,122, serta variabel riwayat kesehatan dengan nilai Exp(B) 3,391 memiliki pengaruh terhadap kepesertaan JKN. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendapatan, dan pengetahuan tidak berhubungan secara signifikan dengan kepesertaan JKN.  Kata Kunci: Kepesertaan JKN, Universal Health Coverage, Sikap, Akses Fasilitas Kesehatan, Riwayat Penyakit.
Six Minute Walk Test (6mwt) sebagai Indikator Pemulihan Fungsional Fase Rehabilitasi Jantung Pasca Sindrom Koroner Akut: Scoping Review Subhan Ulan; Azizah Khoiriyati; Erna Rochmawati
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24423

Abstract

ABSTRACT The Six Minute Walk Test (6MWT) is widely used as a simple and practical measurement tool to assess patients' functional abilities, but the variations in its use and implementation in various cardiac rehabilitation contexts have not been comprehensively mapped. Acute coronary syndrome (ACS) is the leading cause of cardiovascular morbidity and mortality worldwide, making the recovery of functional capacity a primary focus in cardiac rehabilitation. This study aims to map the scientific evidence regarding the use of the 6MWT as an indicator of functional capacity recovery in post-ACS patients across various cardiac rehabilitation models. This study uses a scoping review approach based on the Arksey O’Malley (2005) framework and the PRISMA-ScR (2018) guidelines. Literature search was conducted on the Scopus, PubMed, Cochrane Library, and Google Scholar databases for the period 2015–2025. Inclusion criteria included quantitative studies on adult post ACS patients using the 6MWT in cardiac rehabilitation. A total of 10 studies met the criteria and were thematically analysed using the PCC framework.  The analysis results show that the 6MWT is consistently used as the primary indicator of functional capacity recovery, with a significant increase in distance covered after cardiac rehabilitation. Three main themes were identified, namely 6MWT as the Primary Indicator of Functional Recovery, the Effectiveness of Cardiac Rehabilitation Models on 6MWT Outcomes, and the Relationship between 6MWT and Clinical and Psychosocial Outcomes. The study was dominated by China, followed by Iran, South Korea, Germany, and Indonesia. The 6MWT is a valid, practical, and versatile measurement tool for assessing post ACS patient recovery in various cardiac rehabilitation contexts. The integration of the 6MWT in clinical practice has the potential to enhance rehabilitation monitoring and support the prevention of long-term complications. Keywords: Functional Capacity, Cardiac Rehabilitation, Acute Coronary Syndrome, Six-Minute Walk Test, Scoping Review.  ABSTRAK Six Minute Walk Test (6MWT) banyak digunakan sebagai alat ukur sederhana dan praktis untuk menilai kemampuan fungsional pasien, namun variasi penggunaan dan implementasinya dalam berbagai konteks rehabilitasi jantung belum terpetakan secara komprehensif. Sindrom koroner akut (SKA) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas kardiovaskular di dunia, sehingga pemulihan kapasitas fungsional menjadi fokus utama dalam rehabilitasi jantung. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan bukti ilmiah mengenai penggunaan 6MWT sebagai indikator pemulihan kapasitas fungsional pada pasien pasca SKA dalam berbagai model rehabilitasi jantung. Penelitian ini menggunakan pendekatan scoping review berdasarkan kerangka Arksey O’Malley (2005) dan panduan PRISMA-ScR (2018). Penelusuran literatur dilakukan pada database Scopus, PubMed, Cochrane Library, dan Google Scholar untuk periode 2015–2025. Kriteria inklusi mencakup studi kuantitatif pada pasien dewasa pasca SKA yang menggunakan 6MWT dalam rehabilitasi jantung. Sebanyak 10 studi memenuhi kriteria dan dianalisis secara tematik menggunakan kerangka PCC. Hasil analisis menunjukkan bahwa 6MWT secara konsisten digunakan sebagai indikator utama pemulihan kapasitas fungsional, dengan peningkatan jarak tempuh yang signifikan setelah rehabilitasi jantung. Tiga tema utama teridentifikasi, yaitu 6MWT sebagai Indikator Utama Pemulihan Fungsional, Efektivitas Model Rehabilitasi Jantung terhadap Hasil 6MWT, Hubungan 6MWT dengan Outcome Klinis dan Psikososial. Studi didominasi oleh negara Tiongkok, diikuti Iran, Korea Selatan, Jerman, dan Indonesia.  6MWT merupakan alat ukur yang valid, praktis, dan serbaguna dalam menilai pemulihan pasien pasca SKA di berbagai konteks rehabilitasi jantung. Integrasi 6MWT dalam praktik klinis berpotensi meningkatkan pemantauan rehabilitasi dan mendukung pencegahan komplikasi jangka panjang. Kata Kunci: Kapasitas Fungsional, Rehabilitasi Jantung, Sindrom Koroner Akut, Six-Minute Walk Test, Scoping Review.
Pengaruh dari Ketorolac dan Metamizole terhadap Hemostasis: A Literature Review Iwan Setiawan Adji; Yasinta Rizky Wulandari; I Gede Budiastra Yandita Putra; Hetty Soelakmi Bekti; Firstiara Alifah Putriasari; Muhammad Ihsanul Fikri
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24269

Abstract

ABSTRACT Ketorolac and metamizole are non-opioid analgesics widely used in perioperative practice, but both have the potential to affect hemostasis through different pharmacological mechanisms. Understanding this risk profile is essential to ensure patient safety. A literature review was conducted by evaluating experimental, observational, and clinical trials that addressed the effects of both drugs on platelet function, coagulation, and perioperative bleeding incidence. Ketorolac majorly inhibits thromboxane A₂ synthesis through COX-1 inhibition, thereby reducing platelet aggregation and increasing the risk of bleeding in certain procedures. Metamizole exhibits more heterogeneous effects; some studies report inhibition of platelet aggregation and interference with the effects of aspirin, while others show minimal impact on hemostasis. The choice of analgesic should consider the risk profile of each drug, the patient's clinical condition, and potential pharmacological interactions. An individualized approach is necessary to optimize analgesia while maintaining the integrity of perioperative hemostasis. Keywords: Ketorolac, Metamizole, Hemostasis, Blood Coagulation.  ABSTRAK Ketorolac dan metamizole merupakan analgesik non-opioid yang banyak digunakan dalam praktik perioperatif, namun keduanya memiliki potensi memengaruhi hemostasis melalui mekanisme farmakologis yang berbeda. Pemahaman terhadap profil risiko ini penting untuk memastikan keselamatan pasien. Tinjauan literatur dilakukan dengan mengevaluasi penelitian eksperimental, observasional, dan uji klinis yang membahas efek kedua obat terhadap fungsi trombosit, koagulasi, dan insiden perdarahan perioperative. Ketorolac secara garis besar menghambat sintesis tromboksan A₂ melalui inhibisi COX-1, sehingga menurunkan agregasi trombosit dan meningkatkan risiko perdarahan pada prosedur tertentu. Metamizole menunjukkan efek yang lebih heterogen; sebagian studi melaporkan hambatan agregasi trombosit dan interferensi terhadap efek aspirin, sementara yang lain menunjukkan dampak minimal terhadap hemostasis. Pemilihan analgesik harus mempertimbangkan profil risiko masing-masing obat, kondisi klinis pasien, dan potensi interaksi farmakologis. Pendekatan individual diperlukan untuk mengoptimalkan analgesia sembari menjaga integritas hemostasis perioperatif. Kata Kunci: Ketorolac, Metamizole, Hemostasis, Pembekuan Darah.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026) Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026) Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026) Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026) Vol 6, No 5 (2026): Volume 6 Nomor 5 (2026) Vol 6, No 4 (2026): Volume 6 Nomor 4 (2026) Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026) Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 Nomor 2 (2026) Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 (2026) Vol 5, No 12 (2025): Volume 5 Nomor 12 (2025) Vol 5, No 11 (2025): Volume 5 Nomor 11 (2025) Vol 5, No 10 (2025): Volume 5 Nomor 10 (2025) Vol 5, No 9 (2025): Volume 5 Nomor 9 (2025) Vol 5, No 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 (2025) Vol 5, No 7 (2025): Volume 5 Nomor 7 (2025) Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025) Vol 5, No 5 (2025): Volume 5 Nomor 5 (2025) Vol 5, No 4 (2025): Volume 5 Nomor 4 (2025) Vol 5, No 3 (2025): Volume 5 Nomor 3 (2025) Vol 5, No 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 (2025) Vol 5, No 1 (2025): Volume 5 Nomor 1 (2025) Vol 4, No 12 (2024): Volume 4 Nomor 12 (2024) Vol 4, No 11 (2024): Volume 4 Nomor 11 (2024) Vol 4, No 10 (2024): Volume 4 Nomor 10 (2024) Vol 4, No 9 (2024): Volume 4 Nomor 9 (2024) Vol 4, No 8 (2024): Volume 4 Nomor 8 (2024) Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024) Vol 4, No 6 (2024): Volume 4 Nomor 6 (2024) Vol 4, No 5 (2024): Volume 4 Nomor 5 (2024) Vol 4, No 4 (2024): Volume 4 Nomor 4 (2024) Vol 4, No 3 (2024): Volume 4 Nomor 3 (2024) Vol 4, No 2 (2024): Volume 4 Nomor 2 (2024) Vol 4, No 1 (2024): Volume 4 Nomor 1 (2024) Vol 3, No 12 (2023): Volume 3 Nomor 12 (2023) Vol 3, No 11 (2023): Volume 3 Nomor 11 (2023) Vol 3, No 10 (2023): Volume 3 Nomor 10 (2023) Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023) Vol 3, No 8 (2023): Volume 3 Nomor 8 (2023) Vol 3, No 7 (2023): Volume 3 Nomor 7 (2023) Vol 3, No 6 (2023): Volume 3 Nomor 6 (2023) Vol 3, No 5 (2023): Volume 3 Nomor 5 (2023) Vol 3, No 4 (2023): Volume 3 Nomor 4 (2023) Vol 3, No 3 (2023): Volume 3 Nomor 3 (2023) Vol 3, No 2 (2023): Volume 3 Nomor 2 (2023) Vol 3, No 1 (2023): Volume 3 Nomor 1 (2023) Vol 2, No 4 (2022): Volume 2 Nomor 4 (2022) Vol 2, No 3 (2022): Volume 2 Nomor 3 (2022) Vol 2, No 2 (2022): Volume 2 Nomor 2 (2022) Vol 2, No 1 (2022): Volume 2 Nomor 1 (2022) Volume 1 Nomor 4 Desember 2021 Volume 1 Nomor 3 September 2021 Volume 1 Nomor 2 Juni 2021 Volume 1 Nomor 1 Maret 2021 More Issue