cover
Contact Name
M. Arifki Zaianro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
m.arifkiz@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Imam Bonjol Gang Sultan Anom Perumahan Sultan Anom Residence Blok D No 1
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
MAHESA : Malahayati Health Student Journal
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 2746198X     EISSN : 27463486     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
MAHESA : Malahayati Health Student Journal, dengan nomor ISSN 2746-198X (Cetak) dan ISSN 2746-3486 (Online) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh DIII Keperawatan Universitas Malahayati Lampung. MAHESA : Malahayati Health Student Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidang keperawatan dan kesehatan. MAHESA : Malahayati Health Student Journal telah menggunakan Open Journal System dimana penulis, editor dan reviewer bisa memantau proses naskah secara online. Dalam satu tahun MAHESA : Malahayati Health Student Journal terbit sebanyak 4 kali yaitu pada bulan Maret, Juni, September, Desember.
Articles 1,781 Documents
Tren dan Perspektif Budaya dalam Penelitian Diabetes Melitus: Analisis Bibliometrik Ayu Septiana; Azizah Khoiriyati
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24352

Abstract

ABSTRACT Diabetes mellitus is a chronic disease with a rising global prevalence. While research has long focused on biomedical aspects, cultural and educational dimensions are increasingly recognized as critical in shaping patient behavior, lifestyle, and adherence to therapy. This study analyzes publication trends and cultural perspectives in diabetes mellitus research from 2015 to 2025, highlighting the shift from biomedical approaches toward multidisciplinary perspectives. A bibliometric analysis was conducted using the Scopus database with the keywords culture AND knowledge AND diabetes mellitus. A total of 404 articles meeting inclusion criteria were analyzed with VOSiewer to map keyword networks, temporal distribution, and thematic intensity. Visualizations included network, overlay, and density analyses. Publication output fluctuated across the decade, peaking in 2022 (51 articles). The United States contributed the highest number of publications (125), followed by India, the United Kingdom, and China. Network analysis identified five major clusters: health education and lifestyle, clinical risk factors, biochemical aspects and insulin therapy, patient and healthcare professional education, and diabetes complications. Overlay visualization revealed a temporal shift from biomedical dominance (glucose, insulin, complications) toward behavioral and cultural approaches (self-care, health knowledge, ethnology, education). Diabetes research increasingly emphasizes patient empowerment and adaptation to socio-cultural contexts. Current management strategies highlight education, healthy lifestyles, and culturally sensitive interventions. These findings support evidence-based health policy development and provide recommendations for future research to strengthen preventive and holistic approaches in diabetes care. Keywords: Diabetes Mellitus, Cultural Perspective, Bibliometric Analysis.                                                 ABSTRAK Diabetes melitus merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat secara global. Selama beberapa dekade, penelitian lebih banyak berfokus pada aspek biomedis, namun dimensi budaya dan edukasi semakin diakui sebagai faktor penting dalam membentuk perilaku pasien, gaya hidup, serta kepatuhan terhadap terapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren publikasi dan perspektif budaya dalam penelitian diabetes melitus periode 2015–2025, serta menyoroti pergeseran fokus dari pendekatan biomedis menuju pendekatan multidisipliner.Analisis bibliometrik dilakukan menggunakan basis data Scopus dengan kata kunci culture AND knowledge AND diabetes mellitus. Sebanyak 404 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis menggunakan perangkat lunak VOSiewer untuk memetakan jaringan kata kunci, distribusi temporal, dan intensitas tema. Visualisasi dilakukan dengan metode network, overlay, dan density. Hasil: Jumlah publikasi berfluktuasi dengan puncak produktivitas pada tahun 2022 (51 artikel). Amerika Serikat menjadi negara dengan publikasi terbanyak (125), diikuti India, Inggris, dan China. Analisis jaringan mengidentifikasi lima kluster utama: edukasi kesehatan dan gaya hidup, faktor risiko klinis, aspek biokimia dan terapi insulin, pendidikan pasien dan tenaga kesehatan, serta komplikasi diabetes. Visualisasi overlay menunjukkan pergeseran fokus dari dominasi biomedis (glukosa, insulin, komplikasi) menuju pendekatan edukatif dan budaya (self-care, health knowledge, ethnology, education). Penelitian diabetes melitus dalam dekade terakhir semakin menekankan pemberdayaan pasien dan adaptasi terhadap konteks sosial budaya lokal. Strategi pengelolaan kini lebih menekankan edukasi, gaya hidup sehat, serta intervensi yang sensitif budaya. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan kebijakan kesehatan berbasis bukti dan rekomendasi penelitian lanjutan untuk memperkuat pendekatan pencegahan secara holistik. Kata Kunci: Diabetes Melitus, Perspektif Budaya, Bibliometrik.
Efektivitas Flashcard Game Terhadap Minat dan Pengetahuan dalam Menjaga Kesehatan Gigi pada Anak Sekolah Dasar Alfansa Fath Syaira; Ardhiles Wahyu Kurniawan; Heny Nurmayunita
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24279

Abstract

ABSTRACT Dental health problems in elementary school children are still commonly found, mainly due to low interest and knowledge in maintaining dental hygiene. The purpose of this study was to analyze the effectiveness of flashcard games on interest and knowledge in maintaining dental health among fourth-grade students at Islamic Global School Malang. This study was a quantitative comparative analysis using a one-group pretest-posttest design. The research population consisted of 100 students, with a sample of 80 respondents selected using simple random sampling. The instrument used was a questionnaire on interest and knowledge that had undergone validity and reliability tests. Statistical analysis used the Paired t-test for the interest variable and the Wilcoxon test for the knowledge variable with a significance level of α = 0.05. The pretest results showed that most respondents were in the moderate interest (78.8%) and moderate knowledge (62.5%) categories. After being given the flashcard game, almost all respondents were in the good interest (61.3%) and good knowledge (78.8%) categories. A p-value 0.001 in the Wilcoxon test and p = 0.000 in the Paired T-test indicate a difference before and after the intervention. The conclusion of this study is that flashcard games are effective in increasing the interest and knowledge of elementary school students in maintaining dental health. Keywords: Dentah Health, Elementary school, Flash Card, Game, Interest, Knowledge.  ABSTRAK Masalah kesehatan gigi pada anak sekolah dasar masih sering ditemukan, terutama akibat rendahnya minat dan pengetahuan dalam merawat kebersihan gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas flashcard game terhadap minat dan pengetahuan dalam menjaga kesehatan gigi pada siswa kelas IV SD Islamic Global School Malang. Penelitian ini merupakan kuantitatif analitik komparatif dengan pendekatan one group pretest–posttest design. Populasi penelitian berjumlah 100 siswa, dengan sampel 80 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner minat dan pengetahuan yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Analisis statistik menggunakan uji Paired t-test untuk variabel minat dan uji Wilcoxon untuk variabel pengetahuan dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil pretest menunjukkan sebagian besar responden berada pada kategori minat sedang (78,8%) dan pengetahuan sedang (62,5%). Setelah diberikan flashcard game, hampir seluruh responden menjadi kategori minat baik (61,3%) dan pengetahuan baik (78,8%). Nilai p 0,001 pada uji Wilcoxon dan p = 0,000 pada uji Paired T-test menunjukkan adanya perbedaan sebelum dan sesudah intervensi. Simpulan dari penelitian ini adalah flashcard game efektif dalam meningkatkan minat dan pengetahuan siswa sekolah dasar dalam menjaga kesehatan gigi Kata Kunci: Flashcard Game, Minat, Pengetahuan, Kesehatan Gigi, Sekolah Dasar.
Analisis Budaya Organisasi, Gaya Kepemimpinan, dan Motivasi Terhadap Kinerja Perawat di RS Siloam Manado Hesky Frengky Ngongoloy; Nurwijayanti Nurwijayanti; Joko Prasetyo
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24129

Abstract

ABSTRACT Nurses performance is a key indicator of nursing service quality and patient safety in hospitals. From a nursing management perspective, nurses’ performance is influenced by various internal organizational factors, including organizational culture, leadership style, and work motivation. Although these factors are theoretically assumed to play an important role in shaping nurses’ behavior and performance, empirical findings remain inconsistent, particularly in private hospital settings. This study aimed to analyze the influence of organizational culture, leadership style, and work motivation on nurses’ performance at Siloam Manado Hospital. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. A total of 110 nurses were selected as respondents using a simple random sampling technique. Data were collected through structured questionnaires that had been tested for validity and reliability. Data analysis was conducted using dummy linear regression, preceded by classical assumption tests including normality, multicollinearity, heteroscedasticity, and linearity tests. The simultaneous test results indicated that organizational culture, leadership style, and work motivation did not have a significant joint effect on nurses’ performance (p 0.05). Partial analysis also revealed that each independent variable did not significantly influence nurses’ performance. The coefficient of determination (R²) was 0.034, indicating that the regression model explained only 3.4% of the variance in nurses’ performance. In conclusion, nurses’ performance at Siloam Manado Hospital appears to be relatively stable and not significantly influenced by organizational culture, leadership style, or work motivation. This finding may be attributed to the strong implementation of standardized operating procedures and structured work systems, which minimize performance variation attributable to internal organizational factors. Keywords: Leadership Style, Nurses Performance, Organizational Culture, Work Motivation.  ABSTRAK Kinerja perawat merupakan indikator utama mutu pelayanan keperawatan dan keselamatan pasien di rumah sakit. Dalam perspektif manajemen keperawatan, kinerja perawat dipengaruhi oleh berbagai faktor internal organisasi, antara lain budaya organisasi, gaya kepemimpinan, dan motivasi kerja. Meskipun secara teoretis ketiga faktor tersebut diyakini berperan penting dalam membentuk perilaku dan kinerja perawat, hasil penelitian empiris menunjukkan temuan yang belum konsisten, khususnya pada konteks rumah sakit swasta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh budaya organisasi, gaya kepemimpinan, dan motivasi kerja terhadap kinerja perawat di RS Siloam Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 110 perawat yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan regresi linear dummy yang didahului dengan uji asumsi klasik meliputi uji normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan linearitas. Hasil uji simultan menunjukkan bahwa budaya organisasi, gaya kepemimpinan, dan motivasi kerja secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perawat (p 0,05). Uji parsial juga menunjukkan bahwa masing-masing variabel independen tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perawat. Nilai koefisien determinasi sebesar 0,034 mengindikasikan bahwa model penelitian hanya mampu menjelaskan 3,4% variasi kinerja perawat. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja perawat di RS Siloam Manado relatif stabil dan tidak dipengaruhi secara signifikan oleh budaya organisasi, gaya kepemimpinan, maupun motivasi kerja. Kondisi ini diduga berkaitan dengan kuatnya penerapan standar operasional prosedur dan sistem kerja yang terstandarisasi, sehingga variasi faktor internal organisasi tidak berdampak nyata terhadap kinerja yang terukur. Kata Kunci: Budaya Organisasi, Gaya Kepemimpinan, Kinerja Perawat, Motivasi Kerja.
Pengaruh Edukasi Berbasis Aplikasi Android “SEDIA” dalam Meningkatkan Self Efficacy Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Kota Kupang Stefania Efenhilda Tefa; Welmince Paulina Nggorong
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.23877

Abstract

ABSTRACT Diabetes mellitus (DM) is a chronic and progressive disease that causes quite serious complications in sufferers. One of the causes of the high number of complications is the lack of self-confidence in the ability of sufferers to carry out the 5 pillars of diabetes care independently optimally, which is related to the incidence of illness and also the quality of life of sufferers. One effort to increase self-efficacy is through providing education as a basis for forming perceptions that help sufferers adopt certain behaviors for their health. This study used a quantitative Quasi Experimental method with a Pretest and Posttest two Group Design research design, to analyze the effectiveness of the SEDIA application in increasing the self-efficacy of T2DM sufferers. Results: After respondents in the intervention group used the application for one month, there was an increase in self-efficacy among respondents in the control group. A total of 14 respondents (56%) felt confident in performing self-care at home, while 11 respondents (44%) felt doubtful. The Wilcoxon Sign Rank test showed a p value of 0.002 with an α value of 0.05. A p value α indicates that H0 is rejected, which indicates that the Android application-based educational program "SEDIA" significantly increases the self-efficacy of T2DM patients. = In general, education provided by health workers is still conventional, namely in the form of printed materials and demonstrations. The Diabetes Health Education Application (SEDIA) is an Android-based application that can be used as a tool to support health promotion and support for people with type 2 diabetes mellitus. Keywords: Diabetes Mellitus, SEDIA, Android, Self-Efficacy.  ABSTRAK Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis dan progresif yang menyebabkan komplikasi cukup serius pada pasien. Salah satu alasan masih tingginya kasus komplikasi adalah kurangnya kepercayaan diri pasien akan kemampuannya untuk melakukan 5 pilar perawatan diabetes secara mandiri dengan optimal, yang berhubungan dengan angka kejadian sakit dan juga quality of life penderita. Salah satu upaya untuk meningkatkan efikasi diri adalah melalui pemberian edukasi sebagai dasar pembentukan persepsi  yang membantu pasien mengadopsi perilaku tertentu bagi kesehatannya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif Quasi Eksperimen dengan rancangan penelitian Pretest and Posttest two Group Design, untuk menganalisa efektivitas aplikasi SEDIA dalam meningkatkan self efficacy pasien DMT2. Setelah responden kelompok intervensi menggunakan aplikasi selama 1 bulan, terjadi peningkatan self efficacy responden kelompok kontrol sebanyak 14 responden (56%) yakin melakukan perawatan mandiri di rumah, sedangkan terjadi penurunan responden yang merasa tidak yakin sebanyak 11 orang (44%). Hasil uji Wilcoxon Sign Rank Test menunjukkan hasil nilai p= 0,002 dengan nilai α= 0,05 didapatkan nilai pα maka H0 ditolak yang berarti ada pengaruh edukasi berbasis aplikasi android “SEDIA” dalam meningkatkan self efficacy pasien DMT2. Pada umumnya edukasi yang diberikan tenaga kesehatan masih secara konvensional menggunakan bahan cetak dan demostrasi, tanpa adanya efek stimulasi suara dan gerak.  Aplikasi Edukasi Sehat Diabetes (SEDIA) merupakan aplikasi berbasis android yang dapat digunakan sebagai sarana penunjang media promosi kesehatan dan dukungan bagi penderita diabetes mellitus tipe 2. Kata Kunci: Diabetes Mellitus, SEDIA, Android, Self Efficacy.
Hubungan Jenis Kelamin, Persepsi Citra Tubuh, dan Penggunaan Media Sosial Dengan Body Dysmorphic Disorder Pada Remaja di SMA X Mataram Ida Bagus Ari Satya Daniswara; Lusiana Wahyu Ratna Wijayanti; Nisia Putri Rinayu; Dewi Utary
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24476

Abstract

ABSTRACT Body Dysmorphic Disorder (BDD) is a psychological disorder characterized by excessive preoccupation with perceived physical flaws that are minimal or not objectively observable. Factors presumed to contribute to BDD include gender, body image perception, social media use, and bullying. Objective to determine the relationship between gender, body image perception, and social media influence with the incidence of Body Dysmorphic Disorder among adolescents at SMA X Mataram. This study employed a cross-sectional design using a cluster sampling technique with a total of 103 respondents. Data were analyzed using univariate and bivariate methods, with the Spearman’s Rank test applied for correlation analysis. The findings showed a significant relationship between gender and the level ofBody Dysmorphic Disorder (BDD) (p- value = 0.013), a significant relationship between body image perception and BDD (p-value = 0.000), and a significant relationship between social media use and BDD (p-value = 0.003). There is a significant association between gender, body image perception, and social media use with the level of Body Dysmorphic Disorder among adolescents. These findings indicate that BDD is a multifactorial condition influenced by the interaction of various contributing factors. Keywords: Body Dysmorphic Disorder (BDD), Gender, Body Image Perception, Social Media Use.  ABSTRAK Body Dysmorphic Disorder (BDD) merupakan gangguan psikologis yang ditandai dengan preokupasi berlebihan terhadap kekurangan fisik yang bersifat minimal atau tidak tampak secara objektif. Faktor yang berperan meliputi jeniskelamin, persepsi citra tubuh, penggunaan media sosial, dan bullying. Tujuan untuk mengetahui hubungan jenis kelamin, persepsi citra tubuh, dan pengaruh media sosial dengan kejadian Body Dysmorphic Disorder pada remaja di SMA X Mataram. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan teknik cluster sampling pada 103responden. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman’s Rank. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin dengan tingkat Body Dysmorphic Disorder (BDD) (p-value 0,013), terdapat hubungan signifikan antara persepsi citra tubuh dengan tingkat BDD (p-value 0,000), serta terdapat hubungan signifikan antara penggunaan media sosial dengan tingkat BDD (p-value 0,003). Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, persepsi citra tubuh, dan penggunaan media sosial dengan tingkat Body Dysmorphic Disorder (BDD) pada remaja. Temuan ini menunjukkan bahwa BDD merupakan kondisi multifaktorial yang dipengaruhi oleh interaksi berbagai faktor. Kata Kunci: Body Dysmorphic Disorder (BDD), Jenis Kelamin, Persepsi Citra Tubuh, Penggunaan Media Sosial.
Diskrepansi Golongan Darah Abo Pada Leukemia Khaulah Karimah; Zelly Dia Rofinda; Dwi Yulia; Rikarni Rikarni; Elfira Yusri; Husni Husni
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24320

Abstract

ABSTRACT The ABO blood group system plays a crucial role in transfusion safety. In patients with hematologic malignancies such as leukemia, ABO blood group discrepancies may occur due to reduced or absent expression of antigens or antibodies, potentially leading to errors in blood group determination. This study aimed to describe the pattern of ABO blood group discrepancies among leukemia patients. A descriptive cross-sectional study was conducted involving 210 leukemia patients who met the inclusion and exclusion criteria. ABO blood grouping was performed using the gel card method. Data were analyzed descriptively. ABO blood group discrepancies were identified in 13 of 210 patients. Discrepancies were observed in acute lymphoblastic leukemia (6 cases; 46.2%), followed by acute myeloid leukemia (4 cases; 30.8%), chronic myeloid leukemia (2 cases; 15.4%), and chronic lymphocytic leukemia (1 case; 7.7%). Of the 10 cases classified as type I discrepancy (weak or loss of antibody reactions), occurred in acute lymphoblastic leukemia (60%), while the remaining cases were observed in acute myeloid leukemia (20%), chronic myeloid leukemia (10%), and chronic lymphocytic leukemia (10%). Type II discrepancy (weak or loss of antigen reactions) was found exclusively in acute myeloid leukemia (66.7%) and chronic myeloid leukemia (33.3%). No type III or type IV discrepancies were identified, and no extra antigen/antibody or mixed-field reactions were observed. Type I ABO blood group discrepancy was observed across all leukemia subtypes, whereas type II discrepancy was limited to acute and chronic myeloid leukemia. These findings highlight the importance of careful serological interpretation in blood group determination and transfusion practices for leukemia patients. Keywords: Leukemia, ABO Blood Group, ABO Discrepancy.  ABSTRAKSistem golongan darah ABO berperan penting dalam keamanan transfusi darah. Pada pasien keganasan hematologi seperti leukemia, dapat terjadi diskrepansi golongan darah ABO akibat penurunan atau hilangnya antigen maupun antibody yang berpotensi menimbulkan kesalahan penetapan golongan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran diskrepansi golongan darah ABO pada pasien leukemia. Penelitian ini merupakan studi deskriptif potong lintang yang melibatkan 210 pasien leukemia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pemeriksaan golongan darah ABO dilakukan menggunakan metode gel card. Data dianalisis secara deskriptif. Dari 210 pasien leukemia, ditemukan 13 kasus diskrepansi golongan darah ABO. Diskrepansi terjadi pada leukemia limfoblastik akut sebanyak 6 kasus (46,2%), diikuti leukemia mieloid akut 4 kasus (30,8%), leukemia mieloid kronik 2 kasus (15,4%), dan leukemia limfositik kronik 1 kasus (7,7%). Dari total 10 kasus diskrepansi tipe I (pola reaksi aglutinasi weak/loss antibody), sebagian besar terjadi pada leukemia limfoblastik akut (60%), sedangkan sisanya pada leukemia mieloid akut (20%), leukemia mieloid kronik (10%), dan leukemia limfositik kronik (10%). Diskrepansi tipe II (pola reaksi aglutinasi weak/loss antigen) ditemukan pada leukemia mieloid akut (66,7%) dan leukemia mieloid kronik (33,3%). Tidak ditemukan diskrepansi tipe III maupun IV, serta tidak dijumpai pola reaksi aglutinasi extra antigen/antibodymaupun mixed field. Diskrepansi golongan darah ABO tipe I ditemukan pada seluruh tipe leukemia, sedangkan diskrepansi tipe II hanya ditemukan pada leukemia mieloid akut dan leukemia mieloid kronik. Temuan ini menegaskan pentingnya interpretasi serologis yang cermat dalam penentuan golongan darah dan praktik transfusi pada pasien leukemia. Kata Kunci: Leukemia, Golongan Darah ABO, Diskrepansi ABO.
Analisis Pengaruh TNA dan Budaya Organisasi Terhadap Kualitas Layanan Rumah Sakit melalui Kompetensi Sumber Daya Manusia Slamet Riyadi; Mundakir Mundakir; Sholihul Absor
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24207

Abstract

ABSTRACT This study investigates the effects of information system–based Training Needs Analysis (TNA) and organizational culture on hospital service quality, with human resource (HR) competency development positioned as a mediating variable. An explanatory quantitative design was employed by distributing five-point Likert questionnaires to 110 employees at a regional public hospital, and the data were analyzed using PLS-SEM with SmartPLS. The findings show that organizational culture positively influences HR competence (β = 0.270; p 0.05) but does not directly affect service quality (β = 0.016; p 0.05). In contrast, HR competence has a strong positive effect on service quality (β = 0.640; p 0.001). System-based TNA significantly improves HR competence (β = 0.530; p 0.01) and service quality (β = 0.235; p 0.05). Mediation testing confirms that HR competence significantly mediates the effect of TNA on service quality (β = 0.339; p 0.001), whereas it does not mediate the relationship between organizational culture and service quality. Overall, strengthening system-based TNA alongside structured competency development is essential to improve hospital service quality, while cultural transformation remains necessary to better facilitate competency development. Keywords: Competency Development, Hospital Service Quality, Organizational   Culture, Training Needs Analysis.  ABSTRAK Penelitian ini menganalisis pengaruh Analisis Kebutuhan Pelatihan (TNA) berbasis sistem informasi dan budaya organisasi terhadap kualitas pelayanan rumah sakit, dengan pengembangan kompetensi sumber daya manusia (SDM) sebagai variabel mediator. Penelitian menggunakan desain kuantitatif eksplanatori melalui penyebaran kuesioner skala Likert lima poin kepada 110 karyawan rumah sakit umum daerah, serta dianalisis menggunakan SEM-PLS (SmartPLS). Hasil menunjukkan bahwa budaya organisasi berpengaruh positif terhadap kompetensi SDM (β = 0,270; p 0,05), namun tidak berpengaruh langsung terhadap kualitas pelayanan (β = 0,016; p 0,05). Sebaliknya, kompetensi SDM berpengaruh kuat dan signifikan terhadap kualitas pelayanan (β = 0,640; p 0,001). Penerapan TNA berbasis sistem berpengaruh signifikan terhadap kompetensi SDM (β = 0,530; p 0,01) dan kualitas pelayanan (β = 0,235; p 0,05). Uji mediasi mengonfirmasi bahwa kompetensi SDM secara signifikan memediasi pengaruh TNA terhadap kualitas pelayanan (β = 0,339; p 0,001), sedangkan kompetensi SDM tidak memediasi hubungan budaya organisasi dengan kualitas pelayanan. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan pentingnya penguatan TNA berbasis sistem yang diikuti pengembangan kompetensi yang terstruktur untuk meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit, sekaligus menekankan perlunya transformasi budaya agar lebih efektif dalam mendorong peningkatan kompetensi. Kata Kunci: Pengembangan Kompetensi, Kualitas Pelayanan Rumah Sakit,        Budaya Organisasi, Analisis Kebutuhan Pelatihan.
Analisis Kebutuhan Edukasi untuk Mendukung Pengembangan Program Pencegahan Jatuh Berbasis Komunitas pada Lansia RW 018 Kelurahan Sadang Serang Ferdinan Sihombing; Jajat S Adiwinata; Asep Saepudin; Viena Rusmiati; Benedicta Videlia Kusuma Ayu Gulo; Bani Sakti
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.26709

Abstract

ABSTRACT Population ageing has increased the prevalence of chronic diseases, functional decline, and fall-related injuries among older adults. Falls contribute to disability, hospitalization, dependency, and reduced quality of life. However, educational interventions for fall prevention are often developed without adequately considering the characteristics and learning needs of older adults. Educational needs assessment offers an evidence-based approach to designing more relevant and effective educational programs. This study aimed to analyze the educational needs of community-dwelling older adults to support the development of community-based fall prevention programs. A descriptive quantitative study was conducted among 152 older adults residing in RW 018 in February 2026. Data on demographic characteristics, educational attainment, chronic disease history, fall history, and walking aid use were collected using structured questionnaires and analyzed descriptively using frequencies and percentages. Findings were interpreted to identify educational priorities. Most respondents were aged 60–69 years (53.2%) and female (63.8%). Low educational attainment was common (42.1%), 70.4% had chronic diseases, 11.8% reported falls within the previous six months, and only 2.6% used walking aids. These findings emphasize the need for educational programs focusing on early prevention, chronic disease management, safe mobility, environmental safety, family involvement, and literacy-appropriate learning strategies. Educational needs assessment provides an important basis for developing targeted, accessible, and sustainable community-based fall prevention programs for older adults. Keywords: Educational Needs Assessment, Fall Prevention, Older Adults, Community-Based Education.  ABSTRAK Peningkatan jumlah lansia diikuti oleh meningkatnya prevalensi penyakit kronis, penurunan fungsi, dan risiko jatuh. Jatuh merupakan masalah kesehatan yang dapat menyebabkan cedera, disabilitas, ketergantungan, serta penurunan kualitas hidup. Namun, program edukasi pencegahan jatuh sering kali belum disusun berdasarkan karakteristik dan kebutuhan belajar lansia. Analisis kebutuhan edukasi diperlukan untuk menghasilkan program yang lebih tepat sasaran. Menganalisis kebutuhan edukasi lansia sebagai dasar pengembangan program pencegahan jatuh berbasis komunitas. Penelitian kuantitatif deskriptif dilakukan pada 152 lansia di RW 018 pada Februari 2026. Data mengenai karakteristik demografi, tingkat pendidikan, riwayat penyakit, riwayat jatuh, dan penggunaan alat bantu jalan dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase, kemudian diinterpretasikan untuk mengidentifikasi prioritas kebutuhan edukasi. Sebagian besar responden berusia 60–69 tahun (53,2%) dan perempuan (63,8%). Sebanyak 42,1% berpendidikan dasar atau lebih rendah, 70,4% memiliki riwayat penyakit kronis, 11,8% pernah mengalami jatuh dalam enam bulan terakhir, dan hanya 2,6% menggunakan alat bantu jalan. Temuan ini menunjukkan perlunya edukasi yang menekankan pencegahan dini, pengelolaan penyakit kronis, mobilitas aman, keamanan lingkungan, pelibatan keluarga, serta metode pembelajaran yang sesuai dengan tingkat literasi lansia. Analisis kebutuhan edukasi memberikan dasar dalam pengembangan program pencegahan jatuh berbasis komunitas yang lebih tepat sasaran, mudah diterapkan, dan berkelanjutan. Kata Kunci: Analisis Kebutuhan Edukasi, Pencegahan Jatuh, Lansia, Edukasi Berbasis Komunitas.
Model Perilaku Pencegahan Flebitis Berbasis Theory of Planned Behavior pada Perawat di RSUD Blambangan Banyuwangi Kusnul Kotimah; Iis Rahmawati; Rondhianto Rondhianto
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.22387

Abstract

ABSTRACTPhlebitis is a common complication of intravenous therapy that increases patient morbidity, length of hospital stay, and healthcare costs. Nurses’ preventive behaviors play a crucial role in reducing phlebitis incidence; however, field practice shows persistent non-adherence to standard procedures. This study aimed to develop a phlebitis prevention behavior model among nurses based on the Theory of Planned Behavior (TPB). An analytic observational design with a cross-sectional approach was employed. The sample consisted of 98 inpatient and emergency department nurses at Blambangan General Hospital, Banyuwangi, recruited using a total sampling method. Data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Results revealed that perceived behavioral control (PBC) significantly influenced both the intention and actual behavior of phlebitis prevention. Social and informational factors affected attitudes, subjective norms, and PBC, which in turn shaped nurses’ intentions to perform preventive actions. PBC emerged as the key determinant of phlebitis prevention behavior, directly and indirectly through intention. These findings highlight that enhancing nurses’ behavioral control including self-efficacy, availability of resources, and procedural convenience constitutes a pivotal strategy in phlebitis prevention interventions. Keywords: Phlebitis, Nurses, Theory 0f Planned Behavior, Perceived Behavioral Control, Intention.  ABSTRAK Flebitis merupakan komplikasi umum pada pemasangan terapi intravena yang dapat meningkatkan morbiditas, lama rawat, serta biaya perawatan pasien. Perilaku pencegahan flebitis oleh perawat memiliki peran krusial dalam menurunkan angka kejadian, namun praktik di lapangan menunjukkan masih adanya ketidakpatuhan terhadap standar prosedur. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model perilaku pencegahan flebitis pada perawat berbasis Theory of Planned Behavior (TPB). Desain penelitian menggunakan pendekatan analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian adalah 98 perawat ruang rawat inap dan IGD RSUD Blambangan Banyuwangi yang dipilih dengan metode total sampling. Analisis data dilakukan menggunakan Partial Least Square–Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceived behavioral control (PBC) berpengaruh signifikan terhadap intensi maupun perilaku aktual pencegahan flebitis. Faktor sosial dan faktor informasi berpengaruh terhadap pembentukan sikap, norma subjektif, dan PBC, yang selanjutnya memengaruhi intensi perawat dalam melakukan tindakan pencegahan flebitis. Determinan utama perilaku pencegahan flebitis adalah PBC, baik secara langsung maupun melalui intensi. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kemampuan perawat dalam mengendalikan perilaku (self-efficacy, ketersediaan fasilitas, dan kemudahan prosedur) menjadi strategi penting dalam intervensi pencegahan flebitis. Kata Kunci: Flebitis, Perawat, Theory 0f Planned Behavior, PBC, Intensi.
Analisis Konsumsi dan Ketepatan Antibiotik Aware Pada Pasien Bedah Bersih dan Bersih Terkontaminasi di Rumah Sakit Husada Utama Surabaya Mufida Indrayanti; Aprilia Dhynar Purborini; Rika Yulia
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24388

Abstract

ABSTRACT Antibiotic resistance has an impact on the quality of clinical services, so limiting the use of antibiotics is an effort to minimize antibiotic resistance, so a study will be conducted that aims to analyze the use of antibiotics based on the AWaRe classification and determine the suitability of antibiotic use based on the Ministry of Health's PPAB and PPAB Husada Utama Hospital in clean and clean contaminated surgical patients. This study is a non-experimental, descriptive, observational study conducted retrospectively using medical record data from patients in the surgical ward at Husada Utama Hospital for the period from January to June 2025. In that period, there were more clean surgical patients (76.57%) than clean contaminated surgical patients (32.43%). Based on the AWaRe classification, in clean surgical patients the Access category (34%), Watch category (64%), and Reserve category (2%), while in clean contaminated surgical patients, the Access category (14.48%), Watch category (79.17%), and Reserve category (5.25%). The selection of antibiotic types in clean surgical patients based on the PPAB of the Ministry of Health and PPAB of Husada Utama Hospital is appropriate (36.17%). The selection of antibiotic types in clean contaminated surgical patients based on the PPAB of the Ministry of Health and PPAB of Husada Utama Hospital is appropriate (16.67%). Keywords: Antibiotic, AWaRe, Clean Surgery, Contaminated Clean Surgery.  ABSTRAK Resistensi antibiotik mempunyai dampak terhadap mutu pelayanan klinis, sehingga pembatasan penggunaan antibiotik merupakan upaya untuk meminimalisir resistensi antibiotik, maka akan dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisis penggunaan antibiotik berdasarkan klasifikasi AWaRe dan mengetahui kesesuaian penggunaan antibiotik berdasarkan PPAB Kemenkes dan PPAB Rumah Sakit Husada Utama pada pasien bedah bersih dan bersih terkontaminasi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif non-eksperimental yang dilakukan secara retrospektif menggunakan data rekam medis pasien bangsal bedah Rumah Sakit Husada Utama periode Januari – Juni 2025. Pada periode tersebut, pasien bedah bersih lebih banyak (76,57%) daripada pasien bedah bersih terkontaminasi (32,43%). Berdasarkan klasifikasi AWaRe, pada pasien bedah bersih kategori Access (34%), kategori Watch (64%), dan kategori Reserve (2%), sedangkan pada pasien bedah bersih terkontaminasi, kategori Access (14,48%), kategori Watch (79,17%), dan kategori Reserve (5,25%). Pemilihan jenis antibiotik pada pasien bedah bersih berdasarkan PPAB Kemenkes dan PPAB Rumah Sakit Husada Utama sesuai (36,17%). Pemilihan jenis antibiotik pada pasien bedah bersih terkontaminasi berdasarkan PPAB Kemenkes dan PPAB Rumah Sakit Husada Utama sesuai (16,67%). Kata Kunci: Antibiotik, AWaRe, Bedah Bersih, Bedah Bersih Terkontaminasi.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 6, No 9 (2026): Volume 6 Nomor 9 (2026) Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026) Vol 6, No 7 (2026): Volume 6 Nomor 7 (2026) Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026) Vol 6, No 5 (2026): Volume 6 Nomor 5 (2026) Vol 6, No 4 (2026): Volume 6 Nomor 4 (2026) Vol 6, No 3 (2026): Volume 6 Nomor 3 (2026) Vol 6, No 2 (2026): Volume 6 Nomor 2 (2026) Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 Nomor 1 (2026) Vol 5, No 12 (2025): Volume 5 Nomor 12 (2025) Vol 5, No 11 (2025): Volume 5 Nomor 11 (2025) Vol 5, No 10 (2025): Volume 5 Nomor 10 (2025) Vol 5, No 9 (2025): Volume 5 Nomor 9 (2025) Vol 5, No 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 (2025) Vol 5, No 7 (2025): Volume 5 Nomor 7 (2025) Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025) Vol 5, No 5 (2025): Volume 5 Nomor 5 (2025) Vol 5, No 4 (2025): Volume 5 Nomor 4 (2025) Vol 5, No 3 (2025): Volume 5 Nomor 3 (2025) Vol 5, No 2 (2025): Volume 5 Nomor 2 (2025) Vol 5, No 1 (2025): Volume 5 Nomor 1 (2025) Vol 4, No 12 (2024): Volume 4 Nomor 12 (2024) Vol 4, No 11 (2024): Volume 4 Nomor 11 (2024) Vol 4, No 10 (2024): Volume 4 Nomor 10 (2024) Vol 4, No 9 (2024): Volume 4 Nomor 9 (2024) Vol 4, No 8 (2024): Volume 4 Nomor 8 (2024) Vol 4, No 7 (2024): Volume 4 Nomor 7 (2024) Vol 4, No 6 (2024): Volume 4 Nomor 6 (2024) Vol 4, No 5 (2024): Volume 4 Nomor 5 (2024) Vol 4, No 4 (2024): Volume 4 Nomor 4 (2024) Vol 4, No 3 (2024): Volume 4 Nomor 3 (2024) Vol 4, No 2 (2024): Volume 4 Nomor 2 (2024) Vol 4, No 1 (2024): Volume 4 Nomor 1 (2024) Vol 3, No 12 (2023): Volume 3 Nomor 12 (2023) Vol 3, No 11 (2023): Volume 3 Nomor 11 (2023) Vol 3, No 10 (2023): Volume 3 Nomor 10 (2023) Vol 3, No 9 (2023): Volume 3 Nomor 9 (2023) Vol 3, No 8 (2023): Volume 3 Nomor 8 (2023) Vol 3, No 7 (2023): Volume 3 Nomor 7 (2023) Vol 3, No 6 (2023): Volume 3 Nomor 6 (2023) Vol 3, No 5 (2023): Volume 3 Nomor 5 (2023) Vol 3, No 4 (2023): Volume 3 Nomor 4 (2023) Vol 3, No 3 (2023): Volume 3 Nomor 3 (2023) Vol 3, No 2 (2023): Volume 3 Nomor 2 (2023) Vol 3, No 1 (2023): Volume 3 Nomor 1 (2023) Vol 2, No 4 (2022): Volume 2 Nomor 4 (2022) Vol 2, No 3 (2022): Volume 2 Nomor 3 (2022) Vol 2, No 2 (2022): Volume 2 Nomor 2 (2022) Vol 2, No 1 (2022): Volume 2 Nomor 1 (2022) Volume 1 Nomor 4 Desember 2021 Volume 1 Nomor 3 September 2021 Volume 1 Nomor 2 Juni 2021 Volume 1 Nomor 1 Maret 2021 More Issue