cover
Contact Name
Brury Eko Saputra
Contact Email
brury@sttaletheia.ac.id
Phone
+62341-426617
Journal Mail Official
brury@sttaletheia.ac.id
Editorial Address
Jl. Argopuro No.28-34, Lawang, Kec. Lawang, Malang, Jawa Timur 65211
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
ISSN : 27232786     EISSN : 27232794     DOI : https://doi.org/10.47596/sg.v1i2
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi di bidang Teologi Biblika dan Praktika. Focus dan Scope penelitian SOLA GRATIA adalah: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Pastoral 3. Teologi Kontemporer
Articles 161 Documents
Pendampingan Sosioteologis Mengenai Penggunaan Media Sosial Dan Implementasi Misi Gereja Otniel Aurelius Nole; Tony Tampake
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2025): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i2.287

Abstract

Misi gereja di masa kontemporer ini ialah mendampingi umat dalam menggunakan media sosial demi mencegah problem sosial dalam dunia virtual. Untuk menghindari penyalahgunaan media sosial, gereja berperan penting dalam menerapkan misi yang memuat pendampingan sosioteologis. Tujuan penelitian ini ialah menegaskan pendampingan sosioteologis dalam menggunakan media sosial sebagai implementasi misi gereja. Metode penelitian ini ialah kualitatif dengan pendekatan reviu literatur dan peneliti mengumpulkan data melalui wawancara terstruktur. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pelaksanaan misi gereja dengan melakukan pendampingan sosioteologis sangat relevan bagi umat, secara khusus bagi mereka yang memiliki media sosial. Pada prinsipnya, gereja menaruh perhatian yang besar untuk umat agar tetap merealisasikan kasih lewat media sosial.
Memaknai Kebenaran Di Era Pasca Kebenaran (Tinjauan Refleksi Teologi Biblis-Komparatif Kata Kebenaran Dalam Ams 8:1-36 Dan Yoh 14:5-7) Innoccentius Gerardo Mayolla
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2025): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i2.262

Abstract

Penelitian ini berfokus untuk mencari makna kebenaran dari kitab Amsal 8: 1-36 dan Injil Yohanes 14:5-7 serta menyimak relevansi-refleksinya atas era pasca kebenaran. Makna kebenaran telah didefinisikan oleh filsafat dan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Namun dalam khazanah teologi Katolik, kebenaran adalah sebuah keutamaan penting yang perlu digali terus kebermaknaannya. Riset ini hendak menganalisis kitab Amsal dan Injil Yohanes, sebagai dua kitab yang banyak menulis kata “Kebenaran”. Metode penelitian yang saya gunakan ialah metode kualitatif dengan eksegese semantik atas kata “Kebenaran” yang terdapat dalam dua kitab tersebut. Penelitian ini didukung dengan studi-studi literatur biblis dari komentar para Bapa Gereja dan para ekseget kitab Amsal dan Yohanes. Pemahaman akan frasa “kebenaran” itu kemudian dipertemukan dan direfleksikan dengan locus et tempus theologicus manusia kekinian yakni era pasca kebenaran (post-truth). Maka riset juga dilengkapi dengan pembacaan atas situasi humaniora kontemporer mengenai era pasca kebenaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kebenaran menurut kitab Amsal bernilai sebuah keutamaan moral. Namun Injil Yohanes tidak hanya sekadar keutamaan moral, tetapi iman akan pribadi Kristus. Kedua aspek kebenaran ini penting bagi pastoral dan katekese umat Kristiani di era pasca kebenaran ini. 
Menjelajahi Kemungkinan Transhumanisme Sebagai Imago Dei Stella Lusiana; Yahya Wijaya
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2025): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i2.311

Abstract

This article relates technological developments, specifically artificial intelligence, to the theological concept of Imago Dei. Transhumanism dreams of technological progress that can overcome human biological limitations. The idea has implications for anthropology and theology. Can transhumans replace humans not only biologically but also ethically and spiritually? This question will be answered by borrowing Alistair McFadyen's theory of Imago Dei which understands this theological concept as a call to a participation in God's work that saves and transforms the world. If Imago Dei refers not to the original nature of humans that is fixed from the beginning, but to the possibility of its development in the future, then there is potential for alignment of transhumanism with Imago Dei theology. Moreover, Imago Dei can make an ethical contribution and eschatological vision for the development of human enhancement technology so that it can help to result in the improvement of the common good and the salvation of all creation..
Allah, Tanah, Dan Manusia: Mengurai Masalah Relasi Ketiganya Berdasarkan Yosua 21:43-45 Radiman Siringoringo; Salomo Sihombing
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2025): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i2.320

Abstract

Dalam Perjanjian Lama (PL), terdapat beberapa bagian yang menggambarkan tentang relasi. Beberapa relasi yang dimaksud antara lain hubungan antara Allah dengan manusia (Kej. 1:26-27; Kel. 2:22-25; 4:22; 19:4-5; 15:17; 32:13), relasi antara Allah dengan ciptaan (Kej. 1; Mzm. 24:1; 33:6), kemudian relasi antara ciptaan dengan ciptaan lainnya (Kej. 1:28; 2:15) dan juga relasi antara Allah, manusia, dan ciptaan lainnya, salah satunya adalah tanah (Kej. 1:26-28; 12:2; 17:2; Im. 25:38; 25:42-45, 53-55; Ul. 4:21-29; Im. 25:38; 7:7-9; Yos. 21:1-45). Artikel ini berfokus pada masalah relasi antara Allah, tanah, dan manusia menurut Yosua 21:43-45. Penelitian ini dilakukan melalui kajian pustaka (kualitatif). dengan kajian hermeneutis-eksegesis. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pemulihan relasi antara Allah, tanah, dan manusia merupakan kunci untuk mengatasi masalah yang dimaksud.Kata Kunci: Allah; Yosua 21:43-45; tanah; manusia; relasi
Yesus Sebagai Jalan Ibadah Yang Baru: Kajian Biblika Kisah Yesus Menyucikan Bait Allah di Yohanes 2:13-25 Henky Purwanto
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2025): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i2.285

Abstract

Kisah tentang Yesus menyucikan Bait Allah merupakan salah satu kisah yang populer dalam Alkitab. Bukan hanya populer namun kisah ini merupakan kisah yang dianggap penting oleh semua penulis Injil, baik sinoptik maupun Yohanes. Hal itu dibuktikan dengan ditulisnya kisah ini pada semua Injil. Matius dalam pasal 21:12-13; Markus dalam pasal 11:15-17; Lukas dalam pasal 19:45-46 dan Yohanes dalam pasal 2:13-25. Sebagai catatan, tidak semua kisah yang sama ditulis di dalam empat Injil seperti kisah Yesus berjalan air yang tidak ada dalam catatan Injil Lukas, padahal peristiwa ini juga dianggap sangat penting. Poin penting yang sering terlewatkan atau bahkan tidak dianggap penting oleh banyak orang adalah peletakan kisah ini. Ketiga penulis Injil Sinoptik meletakannya di bagian akhir Injil mereka, hanya Yohanes yang meletakkan di awal Injilnya. Tentu saja peletakan ini bukanlah tanpa alasan. Ada maksud Yohanes meletakannya di awal, yaitu untuk menampilkan Yesus sebagai jalan ibadah yang baru. Inilah yang menjadi kebaruan dalam tulisan ini. Untuk mencapai hal tersebut, metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah kualitatif dengan studi pustaka yang meneliti bentuk akhir Injil Yohanes, latar belakang dan tentu saja konteks bagian tersebut maupun keseluruhan Injil Yohanes untuk memahami maksud dan tujuannya.
Antara Hukum Dan Kasih: Memahami Perkataan Yesus Dalam Markus 2:27-28 Dan Relevansinya Bagi Umat Kristen Masa Kini Ramlon sinaga
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2025): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i2.292

Abstract

Perkataan Yesus dalam markus 2:27-28 menjadi titik balik penting dalam memahami makna sejati hari Sabat yang membawa perspektif baru dan membebaskan Sabat dari belenggu legalisme. Interpretasi dan praktik Sabat diwarnai dengan hukum yang kaku dan aturan-aturan rumit yang ditetapkan oleh para ahli Taurat dan orang Farisi sehingga Sabat bukan lagi menjadi hari pemulihan dan sukacita, melainkan beban bagi umat Tuhan. Tulisan ini betujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang pesan yang ingin disampaikan melalui perkataan Yesus dan relevansinya bagi kehidupan orang Kristen saat ini. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan Analisis Teologis dan historis yaitu mempelajari berbagai penafsiran Teologis tentang perkataan Yesus dalam Markus 2:27-28 dengan analisis sejarah dan praktek perayaan sabat dalam masyarakat Yahudi pada zaman Yesus. Disamping itu penulis juga melakukan eksegese terhadap ayat ini untuk memperkaya pengetahuan pembaca bagaimana makna serta relevansi sabat bagi kehidupan orang Kristen pada masa kini. Melalui tulisan ini, penulis ingin menegaskan bahwa hubungan dengan Tuhan adalah hal yang paling penting, dan sabat adalah tentang menghabiskan waktu dengan Tuhan dan memperdalam hubungan dengan-Nya tanpa mengabaikan kepedulian dan belas kasih kepada sesama.Kata kunci: sabat, eksegese, markus 2:27-28  
Konsep Mengasihi Menurut Yohanes 13: 34-35 Dan Karya Karitatif Gereja Indonesia Boy Wolor
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2025): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i2.278

Abstract

The Church's charitable work is a concrete expression of faith in God's work. This mission was first initiated by Jesus with a spirit of love. However, the increasingly complex challenges of the times seem to weaken the enthusiasm for this service of love. Therefore, through this article, the author will discuss the urgency of the charitable work of the Indonesian Church and the concept of love based on John 13:34-35. The research method used is qualitative-descriptive. The author employs literature study techniques to collect data that will be analyzed. The results indicate that the concept of love can become a spirit that drives the charitable work of the Indonesian Church so that its service is targeted and valuable. The spirit of love can also raise awareness among everyone, especially Church members, to engage directly in concrete service. Moreover, intense communication becomes a strength for building cooperation and implementing this service in contemporary times.. Keywords: Church; Indonesia; charitable work; love; Jesus.AbstrakKarya karitatif Gereja merupakan bentuk pernyataan iman yang konkret atas karya Allah. Karya ini pertama-tama dimulai oleh Yesus dengan spirit mengasihi. Namun, tantangan zaman yang semakin kompleks seolah mengendurkan semangat pelayanan kasih ini. Karena itu, melalui artikel ini penulis akan mengulas urgennya karya karitatif Gereja Indonesia dan konsep mengasihi berdasarkan Yohanes 13: 34-35. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif-deskriptif. Penulis menggunakan teknik studi kepustakaan untuk mengumpulkan data-data yang akan dianalisis. Hasilnya ialah konsep mengasihi dapat menjadi spirit yang mendorong karya karitatif Gereja Indonesia agar pelayanannya tepat sasaran dan bernilai. Spirit mengasihi juga dapat menyadarkan semua orang khususnya anggota Gereja untuk terjun langsung dalam pelayanan yang konkret. Selain itu, komunikasi yang intens juga menjadi kekuatan untuk membangun kerja sama dan mengimplementasikan pelayanan tersebut di zaman ini.Kata Kunci: Gereja; Indonesia; karya karitatif; mengasihi; Yesus.    
Locus of Scripture’s Authority in Calvin vis-à-vis His Opponents John Jebaseelan
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 2 (2025): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i2.319

Abstract

Most of the doctrinal problems in Christendom spring from a faulty understanding of the nature and authority of the Scripture. When the nature of Scripture is misunderstood and its authority demeaned, the life of the Church and the theology suffers. History of theology is also the history of the quest to find the right understanding about Scripture because it is from this doctrine all other doctrines flow forth. Reformation is one exemplary movement in which this quest turned the history of the Church along with the western civilization upside down.  The nature of the authority of the Scripture and its relationship with other sources of the knowledge of God became the focal point of the reformation. The whole narrative of reformation hinged on the place given to Scripture in the theological discourse and the life of the Church. Reformers led the movement with the cry Sola Scriptura which means that the “Scripture remains the final authority” to decide anything concerning faith to Scripture. That is why when Luther was asked at Diet of Worms to retract the writings he had produced, he said, “I am bound by the Scriptures I have quoted and my conscience is captive to the Word of God. I cannot and I will not retract anything.” Reformers gave supreme and final authority to Scripture and all other sources only had relative authority.Among the reformers, Calvin’s view of Scripture is dynamic and practical which is the result of the constant dialogue with his opponents and their errant views. This paper would explore where Calvin locates the authority of the Scripture vis-à-vis his opponents – the Roman Catholic Church and the Radicals. In his struggle with his opponents he established a delicate balance between the Word of God and the Spirit of God in which the Word of God is inherently authoritative and the Spirit of God is the witness and seal to it. Evangelical theology needs to reclaim this balance to be true to the biblical witness in the contemporary world.
Kesembuhan Ilahi Eskatologis, Holistik, Dan Pentakostal: Macchia–Vondey Dan Kontribusinya Bagi Diskursus Teologi Indonesia Christo Antusias Davarto Siahaan
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 1 (2025): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v6i1.355

Abstract

This paper seeks to enrich the theological discourse on divine healing in Indonesia. Divine healing refers to healing believed to come from the power of God, commonly understood as occurring directly or through miraculous or supernatural means. This practice often involves prayer, speaking words of faith, and similar actions. The current theological conversation on divine healing in the Indonesian context tends to focus on its criticisms, apologetics, biblical studies, and descriptive field research. However, it seldom engages deeply with broader loci of systematic theology. In response, this paper argues that the theological visions of Frank D. Macchia and Wolfgang Vondey offer an understanding of divine healing that is eschatological, holistic, and Pentecostal. Eschatological refers to the manifestation of the Kingdom of God that has already come and will be consummated in the parousia of Jesus Christ. Holistic implies that healing embraces spiritual, psychological, social, biological, economic, ecological, and political dimensions. Pentecostal signifies an emphasis on Spirit baptism and divine healing as a response to God’s call to be restored and to participate in God's restorative mission. The author arrives at this thesis through a threefold literaturebased approach: first, by presenting the ideas of Macchia and Vondey; second, by synthesizing their insights; and third, by articulating their implications.
Menghargai Seperti Yesus Menghargai: Studi Reflektif Markus 12:41-44 Dan Pengorbanan Single Mom Dalam Mengasuh Anak Berkebutuhan Khusus Meyrlin Saefatu
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 1 (2025): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v6i1.342

Abstract

This study aims to explore the forms of sacrifice made by single mothers in raising children with special needs (CWSN), drawing theological inspiration from the story of the poor widow in Mark 12:41–44. This biblical narrative represents the values of sincerity and sacrifice, which can strengthen the psychosocial resilience of single mothers facing the challenges of parenting without a partner’s support. A theological and social approach is employed to analyze how spiritual values found in the Bible serve as a source of inner strength and a moral foundation in caregiving practices. The study highlights the construction of resilience through the internalization of religious values and daily life experiences, as well as the significance of sacrifices that encompass material, emotional, and spiritual aspects. The findings indicate that the sacrifices of single mothers, like the widow’s offering, are not measured by their material amount but by their sincerity and transformative impact. Selfless acts for the well-being of CWSN reflect deep love and active faith, becoming a tangible expression of transformative spiritual love. Although often socially unseen, such sacrifices carry profound theological meaning and contribute significantly to the improvement of the child’s quality of life.