cover
Contact Name
I Wayan Titra Gunawijaya
Contact Email
wayantitragunawijaya@gmail.com
Phone
+62362 21289
Journal Mail Official
proditeologistahmpukuturan@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pulau Menjangan No. 27 Banyuning Selatan Singaraja
Location
Kab. buleleng,
Bali
INDONESIA
JNANASIDDHÂNTA : JURNAL TEOLOGI HINDU
ISSN : 26865203     EISSN : 26864509     DOI : -
Jurnal Jñānasiddhânta merupakan Jurnal Teologi Hindu yang terbit tiap semester. Artikel dalam jurnal mengadopsi nilai Teologi Hindu dan teologi lokal yang bekembang. Penulis dalam Jurnal Jñānasiddhânta berasal dari kalangan akademis di lingkungan STAH N Mpu Kuturan Singaraja serta masyarakat umum bisa mengajukan artikel ilmiah untuk diterbitkan di Jurnal Jñānasiddhânta.
Articles 80 Documents
Estetika Hindu Dalam Lontar Aji Ghurnnita Ariyasa Darmawan
Jnanasiddhanta : Jurnal Teologi Hindu Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/jnana.v4i1.2487

Abstract

Karawitan comes from the word rawit which means smooth or beautiful, to karawitan which means the art of instrumental and vocal sound using the barrel or scales of pelog and selendro. Balinese instrumental karawitan is called gamelan, and vocal karawitan is called tembang or sekar.               Hindu aesthetics is essentially a perspective on the sense of beauty that is bound by Hindu religious values based on the teachings of the Vedic scriptures. There are several concepts that would become an important foundation of Hindu aesthetics, namely purity (Shiwam), truth (Satyam), and balance (Sundaram). Holiness (Shiwam) is essentially about divine values which also includes Yajña and taksu. Truth (Satyam) includes the values of honesty, sincerity, and sincerity. Balance (Sundaram) which includes similarities and differences can be reflected in several dimensions.               Aesthetic reflection with the concept of balance that has two dimensions can produce symmetrical forms that are at the same time asymmetrical or harmonious and disharmony relationships which are commonly called rwa bhineda. Balance in the three dimensions is closely related to the concept of Hindu cosmology which divides this world into three parts: upper, middle, and lower which is commonly known as Tri Bhuwana. The underworld (Bhur loka) is the world of bhuta kala, the middle world (Bhwah loka) which is the realm between the human world and the rest of the world, and the upper world (Shwah loka) is the world of God and the gods.            The balance of the two Balinese musical arts that is often mentioned in Lontar Aji Ghūrṇnita is the existence of pelog and selendro barrels, ngumbang ngisep, lanang and wadon, as well as the concept ofbaikan or patet or saih. The balance of the three Balinese musical arts mentioned in Lontar Aji Ghūrṇnita is the concept of tri angga, consisting of pengawit or percussion opening, pengawak or percussion body, and pressing or closing the percussion.
UPAKARA dan PRASĀDAM: IMPLEMENTASI TATTWA, SUSILA DAN ĀCARĀ I Nengah Asrama Juta Ningrat; Ayu Veronika Somawati
Jnanasiddhanta : Jurnal Teologi Hindu Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/jnana.v4i1.2332

Abstract

Implementasi ajaran agama Hindu tidak dapat dipisahkan dari Tri Kerangka Dasar Agama Hindu itu sendiri. Tiga kerangka dasar tersebut terdiri dari tattwa, susila, dan ācarā. Tattwa merupakan inti dari ajaran agama Hindu, filsafat dalam agama Hindu yang memberi arti dan makna dalam setiap aktivitas keagamaan yang dilaksanakan. Susila merupakan seperangkat aturan yang menjadi dasar pelaksanaan aktivitas keagamaan dalam agama Hindu sedangkan ācarā merupakan serangkaian aktivitas keagamaan dalam agama Hindu sebagai bentuk implementasi dari tattwa dan susila. Ācarā sendiri tidak dapat dilepaskan dari upakara sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Hyang Widhi Wasa. Upakara yang telah dipersembahkan disebut dengan prasādam. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, tulisan ini mengkaji mengenai upakara dan prasādam dilihat dari segi tattwa, susila, dan ācarā. Adapun hasil kajian mengenai upakara dan prasādam dari sudut pandang Tri Kerangka Dasar Agama Hindu adalah apabila dikaji dari segi tattwa-nya, upakara dan prasādam merupakan suatu persembahan suci yang menurut Lontar Yajña Praketi memiliki nilai filosofis sebagai perwujudan dari alam semesta beserta isinya, lambang dari kemahakuasaan Tuhan, serta lambang dari pengorbanan diri manusia. Susila dari upakara sudah tampak dari bagaimana umat Hindu diajarkan untuk menjaga etika selama pembuatannya, dalam mempersembahkan hingga menikmati prasādam sebagai bentuk rasa syukur atas segala karunia Hyang Widhi Wasa, yang ternyata juga berguna bagi kesehatan manusia. Untuk ācarā-nya sendiri, upakara dan prasādam merupakan salah satu sarana yang melengkapi dan menyemarakkan suatu kegiatan keagamaan
Pengawak Daun Alang-Alang Dalam Upacara Ngaben Kusa Prenawa Ida Bagus Putu Eka Suadnyana
Jnanasiddhanta : Jurnal Teologi Hindu Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/jnana.v4i1.2330

Abstract

Agama Hindu pada prinsipnya memiliki tiga kerangka dasar pelaksanaan ajaran agama Hindu yang meliputi Tattwa, susila, dan Upacara. Seperti yang kita ketahui bahwa pelaksanaan ajaran agama Hindu tidak bisa lepas dari ketiga unsur itu. Diantara ketiga unsur tersebut yang paling menonjol pelaksanaannya adalah dalam bidang upacara, salah satunya yaitu upacara Pitra Yadnya. Dalam upacara Pitra Yadnya ada disebut upacara ngaben, yaitu ngaben kusa pranawa. Dalam penelitian ini mengangkat beberapa permasalahan yaitu: Prosesi ngaben Kusa Prenawa mengunakan pengawak daun alang-alang di Desa Pakraman Selemadeg Kaja, Fungsi dan makna pengawak daun alang-alang dalam upacara ngaben Kusa Pranawa di  desa pakraman Selemadeg Kaja
Kajian Nilai Pendidikan Agama Hindu Dan Identifikasi Penyakit Kronis Dalam Lontar Usada Budha Kecapi asthadi mahendra bhandesa; Ni Luh Putu Kartiningsih
Jnanasiddhanta : Jurnal Teologi Hindu Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/jnana.v4i1.2498

Abstract

ABSTRAK: Usada budha kecapi adalah satu diantararatusan naskah lontar usada yang disarankan sebagai dasar terapi tradisional praktisi usada di Bali. Sulitnya memahami isi lontar usada budha kecapi menyebabkan sebagian besar praktisi usada hanya mengetahui kisah Sang Budha Kecapi sebagai praktisi medis lokal yang sangat kuat, serta merupakan guru Sang Klimosada dan Sang Klimosadi. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menganalisis nilai pendidikan agama Hindu dan identifikasi penyakit kronis dalam lontar usada budha kecapi. Rancangan penelitian diawali dengan analisis teks (content analysis), selanjutnya dilakukan klarifikasi isi lontar melalui wawancara mendalam (in-depth interview) dengan tokoh agama dan tokoh usada tentang usada budha kecapi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Nilai pendidikan agama Hindu dalam lontar usada budha kecapi meliputi: Tattva, Susila, Acara dan Kesehatan. Konsep tattva ditunjukkan pada bagian pertama memuat nilai dan ajaran oleh Sang Hyang Siwa kepada Sang Hyang Nini (Bhatara Durga), pada bagian kedua disampaikan oleh Sang Hyang Nini kepada Sang Budha Kecapi, pada bagian ketiga nilai dan ajaran tersebut diturunkan oleh Sang Budha Kecapi kepada kedua muridnya yaitu Sang Klimosada dan Sang Klimosadi serta kepada pembaca lontar, lebih jauh tattva yang dimaksud adalah dalam bentuk konsep ketuhanan Sang Hyang Tiga, Brahma, Wisnu, Iswara yang ketiganya adalah Sang Hyang Siwa. Konsep susila dalam bentuk tidak menyombongkan diri, memusatkan pikiran, mencintai dan mengasihi semua mahluk hidup di alam semesta. Dalam bentuk acara yaitu melaksanakan tapa-brata-yoga-semadi untuk mencapai penyatuan dengan Sang Hyang Pramakawi, melalui keseimbangan bhuwana agung dan bhuwana alit. Nilai kesehatan yang terdapat pada lontar usada budha kecapi meliputi jenis penyakit, tanda penyakit, asal muasal penyakit dan cara pengobatannya; 2) Penyakit kronis yang terdapat dalam lontar usada budha kecapi dalam bentuk beberapa jenis penyakitmenahun yaitu angangsur (sesak napas), angereges (kanker), angerambat (kurang gizi), aserep (hipertensi), dakang (penyakit kuning), dalama (sakit pankreas), tiwang loh (liver). Kata kunci: Nilai Pendidikan Agama Hindu, Usada Budha Kecapi, Kesehatan, Penyakit Kronis
AJARAN KETUHANAN DALAM LONTAR BUBUKSAH ecy wulandari12
Jnanasiddhanta : Jurnal Teologi Hindu Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/jnana.v4i1.2454

Abstract

One of the religious texts whose text contains divine teachings is Lontar Bubuksah which specifically explains about Shiva Buddha. Bubuksah is an imaginative story script about a religious literary work, as a story with a religious breath expressing the ideals and essence of liberation of the soul towards a pure nature, namely Moksa, in the Bubuksah text it tends to be Guruistic which takes its source from the doctrine of Shiva (Bhatara Guru) as a god. highest. Gagakaking represents Shiva's doctrine while Bubuksah represents Buddhist doctrine. which Bubuksah as a representation of the Buddhist pedanda in Bali which comes from the teachings of Bhatara Guru (Guruistick sources). In the end Gagakaking and Bubuksah represented the revered priest Sewa Sogata as a manifestation of Bhatara Guru. This is what distinguishes it from other Buddhist teachingsKeywords: Divinity, Bubuksah
Ajaran Brahmawidya Dalam Lontar Eka Pratama I Wayan Titra Gunawijaya; Ni Kadek Sri Andayani
Jnanasiddhanta : Jurnal Teologi Hindu Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/jnana.v4i1.2657

Abstract

Lontar Eka Prathama considers marriage to be a ceremony that must be carried out with a sacred ceremonial order, because marriage according to the teachings of Hinduism is yajna, so that people who enter the marriage bond will go to the gate of the grahasta hostel to better understand the concept of marriage from various aspects. Through this, we will examine the problems regarding the teachings of the Brahmawidya contained in eka pratama ejection. The method used in this study is a qualitative method with data sources in the form of primary data and secondary data, through data collection techniques including observation techniques, interviews, literature and documentation, as well as techniques for determining informants which are then processed and presented descriptively. The results of the study show that the existence of eka pratama lontar as a source of teachings is related to the implementation of the manusa yajna ritual. The meaning of the divine teachings is the worship of God's manifestation in the form of a god in the form of offerings as a means of worship or the embodiment of God/Gods in the form/form of offerings with various symbols. The discussion on the concept of chastity in eka pratama ejection states how sacred the wedding ceremony is in the series of humanusyadnya ceremonies that will be carried out. In addition to the concepts of brahmawidya and holiness, it is also discussed about the harmony that will be established according to the Lontar Eka Pratama concept, namely the harmony of relations in the household according to the obligations of the husband or wife.
Studi Komparasi Ratu Ayu Mas Manik Meketel Di Pura Luhur Pucak Penataran Dengan Deva Dalam Veda Ni Luh Putu Yuliani Dewi
Jnanasiddhanta : Jurnal Teologi Hindu Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/jnana.v4i1.2658

Abstract

The localization of Hinduism is not only happening in Bali but also in other regions outside Bali. So that often various names of deva or bhatara are found in each temple or other holy place in Bali which is certainly different from the name deva in the Vedas. Surely it is necessary to reconnect these local appellations (manifestations) of God with the name deva in Veda, by looking for its similarity with deva in the Vedas. It is hoped that the boundary of the argument does not stop at the statement that 'the various namings or designations of God (bhatara) known especially in Bali are names that have undergone localization (local theology)' without being reconnected with the deva in the Vedas tag. Therefore, devotees will understand that Veda and Hinduism are really able to adapt and be localized to local traditions. It also aims to lead to an increase in people's understanding from local theology to Vedic theology (Brahmawidya). The research method used is a qualitative descriptive research method that seeks to uncover the relationship of similarities between prabhawa/manifestations of God named locally and the names of deva in the Vedas. Ratu Ayu Mas Manik Meketel, who is one of the manifestations of God in the local theological concept, also has a similar relationship with deva-deva in the Vedic theological concept, namely Devi Laksmi and Deva Visnu.
Prosesi Pemujaan Ganesa di Pura Ponjok Batu sri marselina wati
Jnanasiddhanta : Jurnal Teologi Hindu Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/jnana.v4i1.2499

Abstract

Pura Ponjok Batu merupakan Pura Kahyangan Jagat sehingga seluruh umat Hindu dapat bersembahyang ke tempat tersebut. Dewa Ganeśa telah dipuja sejak berdirinya Pura Ponjok Batu. Pada awal pemujaan ukuran arca Ganeśa lebih kecil dan ditaruh di tengah palinggih sehingga tidak semua umat yang datang mengetahui keberadannya. Berbeda dengan kondisi sekarang arca Dewa Ganeśa terlihat besar sehingga semua umat hindu yang datang bersembahyang dapat melihat keberadaan Beliau secara fisik. Masyarakat di Desa Pacung memuja Dewa Ganeśa dengan tujuan memohon keselamatan karena Dewa Ganeśa menganugerahkan keberhasilan dalam setiap usaha manusia. Keberadaan arca Ganeśa di Pura Ponjok Batu menarik perhatian peneliti untuk mengetahui pemujaan yang dipersembahkan warga di Desa Pacung. Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif yang menggunakan metode Pengumpulan data observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Pemujaan Dewa Ganeśa di Pura Ponjok Batu merupakan suatu persembahan dari masyarakat mengingat manusia adalah mahkluk religius. Pemujaan Dewa Ganeśa di Pura Ponjok Batu dibagi menjadi dua yaitu, pemujaan setiap hari dan pemujaan sewaktu-waktu.Kata Kunci: Pemujaan; Dewa Ganeśa, Pura Ponjok Batu       
ASPEK TEOLOGI HINDU DALAM TRADISI NERANG UJAN DI BALI Putu Maria Ratih Anggraini
Jnanasiddhanta : Jurnal Teologi Hindu Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/jnana.v4i1.2386

Abstract

Artikel ini memuat tentang tradisi nerang ujan di Bali dalam persepktif Teologi Hindu. Tradisi nerang hujan sudah diwarisi oleh masyarakat Bali secara turun-temurun dan masih tetap eksis sampai sekerang. Tidak hanya di Bali hampir diseluruh wilayah nusatara memiliki tradisi yang sama yaitu menolak kedatangan hujan atau memanggil hujan. Di Bali sumber-sumber tradisi nerang hujan  banyak ditemukan pada naskah lontar yang tersimpan diperpustakaan maupun yang masih berada di rumah-rumah masyarakat. Biasanya orang yang melakukan nerang hujan  selalu menggunkan sarana dan mantra untuk memuja salah satu Ista Dewata. Jika pelaksanaannya di areal rumah, cukup nunas (meminta) panerangan hujan di sanggah kemulan atau pangijeng karang, Jika dilaksanakan pada tingkatan Banjar maka nunas (meminta) pada Palinggih Bhagawan Penyarikan, dan jika pada tingkatan Desa biasanya nunas di Pura Khayangan Tiga
Upacara Ngaben Simbolisasi Bhakti Terhadap Orang Tua wayan Kari Arta
Jnanasiddhanta : Jurnal Teologi Hindu Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/jnana.v4i1.2491

Abstract

The Ngaben ceremony is one of the religious traditions in Hinduism. Ngaben is included in the type of pitra yadnya ceremony. The background of the research on the Ngaben ceremony symbolizing devotion to parents is to find out the motives of pratisentana, which are the background of the Ngaben ceremony. The Ngaben ceremony symbolizes devotion to parents. This research is qualitative research with a social theology approach. The data obtained in this study results from a field study, where the primary data is Hindus carrying out the mass cremation ceremony. In contrast, the secondary data is in the form of reference books, articles, and written documents found in libraries or other places related to research. The cremation ceremony carried out by Hindus is a form of actualization of Hindu teachings that can create social harmony. In addition, the Ngaben ceremony also provides awareness that the spirit of yadnya must be used as a reference in turning the wheels of the economy and upholding dharma.