cover
Contact Name
I KETUT MUDITE ADNYANE
Contact Email
adnyane@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
acta.vet.indones@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
ACTA VETERINARIA INDONESIANA
ISSN : 23373207     EISSN : 23374373     DOI : -
Core Subject : Health,
Acta Veterinaria Indonesiana (Indonesian Veterinary Journal) mempublikasikan artikel-artikel dalam bentuk: penelitian, ulasan, studi kasus, dan komunikasi singkat yang berkaitan dengan berbagai aspek ilmu dalam bidang kedokteran hewan, biomedis, peternakan dan bioteknologi. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Acta Veterinaria Indonesiana diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Hewan bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. Terbit dua kali dalam satu tahun pada bulan Januari dan Juli. [ISSN 2337-3202, E-ISSN 2337-4373]
Arjuna Subject : -
Articles 332 Documents
Identifikasi Endoparasit pada Sapi Brahman Cross (BX) di Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Tangerang Aminah Aminah; Rahmi Idhatul Setiani; Fitrine Ekawasti
Acta VETERINARIA Indonesiana 2022: Special Issues
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi...41-48

Abstract

Abattoir (RPH) is very necessary as a place for monitoring and surveillance of animal diseases. RPH routinely monitors and inspects animal health. Diseases in livestock due to endoparasitic infections can be economically detrimental by affecting the health of livestock. This situation resulted in a decrease in production related to the quality of the carcass produced. Parasitic diseases rarely receive attention (neglected diseases) so that it is rarely examined for endoparasitic infections. It is necessary to examine beef cattle at the Tangerang abattoir for the presence of endoparasitic infections, both blood parasites and gastrointestinal parasites. From the results of this study, it is expected to improve the quality of livestock health maintenance and supervision services. Blood and feces samples from 25 Brahman Cross cows from Tangerang City abattoir were identified for endoparasitic infections in the blood and digestive tract. The examination carried out based on the observation of parasite morphology showed 48% blood parasite infection and 72% gastrointestinal parasite including mixed infection. The endemicity of these parasites in Indonesian abattoirs must be considered to carry out early control of pathogenic endoparasitic infections.
Efek Pemberian Ekstrak Oregano (Origanum Vulgare) Terhadap Histomorfometri Ileum Pada Mencit Kolibasilosis Indah Amalia Amri; Vinka Melinda; Fidi Nur Aini EPD; Ida Bagus Gde Rama Wisesa
Acta VETERINARIA Indonesiana 2022: Special Issues
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi...15-22

Abstract

Escherichia coli termasuk ke dalam bakteri koliform dengan famili enterobacteriaceae, bakteri tersebut mampu bertahan hidup di dalam salurann pencernaan. E. Coli berbentuk batang atau basil yang bersifat gram-negatif, fakultatif anaerob dan tidak mempunyai spora. Pemberian antibiotik streptomisin golongan aminoglikosida dapat bekerja dengan menghambat sintesis protein. Oregano (Origanum vulgare) kandungan yang dimiliki yaitu flavanoid, fenol cravaracol, glikosida fenolik, tanin, timol dan terpenoid. Fenol cravaracol dapat merusak membran sel dan dapat merusak DNA sel bakteri, serta mengurangi kerusakan sel ileum fenol sebagai antioksidan. Timol berfungsi akan meningkatkan permeabilitas membran sel. Penelitian bersifat eksperimental menggunakan mencit Balb/C (Mus musculus) jantan dengan berat badan 20-25 gr berumur 8-10 minggu. Penelitian ini menggunakan rangkaian acak yang terdiri dari K- (Sehat), K+ (induksi antibiotik streptomisin dan diinduksikan Escherichia coli), P1, P2, P3 diberikan antibiotik streptomisin dan induksi E. coli serta pemberian ekstrak origanum vulgare dengan konsentrasi 5 mg/ekor pada P1, 10 mg/ekor pada P2 dan 20 mg/ekor pada P3. Variabel yang diamati histopatologi ileum secara deskriptif dan histomorfometri dengan pengukuran panjang dan lebar vili menggunakan image J, dan dianalisa menggunakan uji One Way ANOVA dengan homogenitas dan normalitas p>0,05. Hasil peneilitian dan kesimpulan pada histopatologi dan histomorfometri menunjukan bahwa kelompok P1 (5 mg/ekor) tidak mengalami penurunan kerusakan pada epitel vili ileum serta tidak berbeda nyata jika dibandingkan dengan kontrol positif (K+). Sedangkan kelompok P1 (5 mg/ekor) berbeda nyata (p<0,05) jika dibandingkan dengan kelompok P2 (10mg/ekor) dan P3 (20 mg/ekor).
Survei Ancylostomiasis pada Anjing di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Gustaf Eifel Silalahi; Ida Tjahajati; Widagdo Sri Nugroho
Acta VETERINARIA Indonesiana 2022: Special Issues
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi...49-53

Abstract

Selama masa pandemi Covid-19, mayoritas masyarakat Indonesia menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah. Waktu interaksi antara pemilik dan hewan peliharaan di rumah semakin banyak dihabiskan bersama. Namun, di satu sisi terdapat risiko penularan penyakit dari hewan peliharaan seperti anjing ke manusia. Penyakit yang sering dilaporkan pada anjing adalah ancylostomiasis. Ancylostoma spp. umumnya dikenal sebagai "cacing tambang" dari golongan nematoda. Gejala klinis penyakit ancylostomiasis tidak spesifik karena agen infeksi memiliki siklus hidup dan periode infeksi. Hal ini menjadi perhatian karena tidak adanya gejala yang spesifik sehingga ada potensi infeksi yang tidak terdeteksi pada hewan peliharaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi penyakit ancylostomiasis pada anjing yang dipelihara oleh masyarakat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan survei dengan melibatkan sampel anjing sebanyak 203 ekor anjing. Spesimen yang dikoleksi berupa feses dari anjing jantan dan betina berbagai umur di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemeriksaan sampel feses dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif (metode natif) untuk mengidentifikasi telur dari cacing. Total kasus helminthiasis yang teridentifikasi dari pemeriksaan sampel feses berjumlah 19 dari total 203 anjing. Prevalensi telur Ancylostoma spp. adalah 6,89% (14 dari total 203 anjing). Telur cacing yang teridentifikasi menginfeksi adalah telur cacing spesies Ancylostoma spp. (6,89%) Toxocara spp. (1,97%) dan Dipylidium spp. (0,98%). Proporsi penyakit ancylostomiasis di Daerah Istimewa Yogyakarta pada survei penelitian ini ditemukan 6,89%.
Hubungan Penggunaan Antimikroba terhadap Resistansi pada Peternakan Unggas Broiler Mandiri di Kabupaten Bogor Nofita Nurbiyanti; Imron Suandy; Sunandar; Riana Aryani Arief; Putik Allamanda; Gian Pertela; Budi Purwanto; Hanan Daradjat; Nuraini Triwijayanti; Kanti Puji Rahayu; Oli Susanti; Riska Desitania; Rianna Anwar Sani; David Speksnijder; Tagrid Dinar; Tri Satya Putri Naipospos; Jaap Wagenaar
Acta VETERINARIA Indonesiana 2022: Special Issues
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi...33-40

Abstract

Penggunaan antimikroba di peternakan mengakselerasi proses resistansi antimikroba pada sektor peternakan dan berpotensi mengancam kesehatan manusia. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan antimikroba dengan kejadian resistansi pada bakteri komensal Escherichia coli di peternakan unggas broiler. Data penggunaan antimikroba dikumpulkan selama 4-6 periode produksi (97 siklus) dan periode siklus akhir diambil 1 sampel litter dengan boot swab dari 19 peternakan broiler mandiri di Kabupaten Bogor selama 2019-2022, dan 25 strain E. coli diisolasi dari tiap peternakan. Sebanyak 475 isolat bakteri E. coli diuji Susceptibility dengan metode microdilution (Sensititre®) untuk resistansi fenotipik. Hubungan frekuensi pemberian antimikroba (Treatment Frequency Used Daily Dose/TFUDD) jangka panjang (97 siklus) dan jangka pendek (siklus akhir dimana diambil sampel, 19 siklus) dengan proporsi isolat resistan dianalisis menggunakan regresi linear. Peternakan paling sering menggunakan antimikroba yang termasuk dalam kategori Highest Priority Critically Important Antimicrobials/HPCIA for human medicine (WHO, 2019). Dari 475 isolat E. coli yang diisolasi, terlihat bahwa tingginya persentase populasi E. coli non-wild type (‘resistan’). Resistansi tertinggi terhadap antimikroba ciprofloksasin (93%), ampisilin (88%), tetrasiklin (83%), sulfametoksazol (75%), dan trimethoprim (71%). Dari 5 kelas antimikroba yang dianalisa, didapatkan hubungan signifikan antara frekuensi pemberian antimikroba dan proporsi isolat resistan pada penggunaan jangka panjang terhadap kuinolon dan tetrasiklin (p<0.05), serta pada penggunaan jangka pendek terhadap makrolida (p<0.05) dan tetrasiklin (p<0.01).
Penanganan GSD (German Sheperd) yang Terinfeksi CPV (Canine Parvovirus) dan Parasit Darah Babesia sp. serta Anaplasma Sp. di Antasari Pet Clinic Samarinda Silvana Arpin; Intan Purwa Dewantari
Acta VETERINARIA Indonesiana 2022: Special Issues
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi...23-28

Abstract

Canine Parvovirus (CPV) merupakan penyakit virus pada anjing yang menyebabkan penyakit pencernaan akut pada anak anjing. Penyakit ini sangat menular dan menjadi penyebab kematian paling tinggi terutama menyerang anak anjing umur 2–6 bulan. Babesia dan Anaplasma merupakan suatu penyakit parasit yang disebabkan oleh mikroorganisme intraseluler gram negatif akibat infeksi protozoa yang ditularkan melalui vektor caplak. Seekor anjing ras german sheperd dengan kondisi lemas, anorexia, serta diare berdarah. Pemeriksaan Klinis menunjukkan terdapat infestasi ektoparasit sekitar 30 %, dan mukosa mulut pucat. Pengujian CPV Antigent rapid test menunjukkan garis dua yang berarti positif terinfeksi Parvo Virus. Hasil pemeriksaan darah lengkap menunjukkan ada penurunan WBC yang menunjukkan adanya infeksi virus, dan ada kenaikkan di nilai SGOT yang menunjukkan adanya kerja berat pada organ hati. Dan dari hasil ulas darah ditemukan parasite darah yaitu babesia sp. dan anaplasma sp. Terapi yang diberikan berupa terapi cairan ringer laktat, doxycycline 20mg/kg BB sebagai antiparasit. Antibiotic menggunakan Gentamicin injeksi 5 mg/kg BB atau 0.005 ml/kg BB, pemberian vitamin k3 (hemostop k) injeksi 0,1 ml/kg BB sebagai antipendarahan, hematofos 0,1 ml/kg BB untuk mengatasi anemia.dan pemberian promax sebagai probiotik, serta pakan khusus gastrointestinal. Pada hari pertama terapi, anjing sudah menunjukkan progress, berupa nafsu makan yang telah kembali, dan pada hari yang ketiga sudah tidak diare lagi dan feses sudah normal.
Penggunaan Microscopic Agglutination Test (MAT) dalam Pendiagnosaan Leptospira sp. di Anjing Erika; Sharon Gunardi; Agus Efendi; Khairiza Asri
Acta VETERINARIA Indonesiana 2022: Special Issues
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi...29-32

Abstract

Leptospirosis is an infectious disease that can affect various kinds of animals including dogs and cats. Leptospirosis has a zoonotic potential, therefore it is necessary to confirm a definitive diagnosis in patients suspected infection by leptospirosis. Establishing a diagnosis is important for the public health sector because dogs and cats infected with Leptospira sp. can spread organisms through urine to the environment. Microscopic agglutination test (MAT) is the gold standard for diagnosing leptospirosis. However, MAT has limitations in the sensitivity and specificity of the test because it works by detecting antibodies in the serum. A repeat of the MAT test is necessary to confirm the diagnosis, especially if the antibody titer value is not significantly increased in the first test. Four cases of dogs treated at the Joint Veterinary Practice (PDHB) drh Cucu Kartini Sajuthi with clinical symptoms of jaundice mucous membrane, vomiting, diarrhea, and blood tests showed an increase in blood urea nitrogen and creatinine values ​​indicating impaired kidney function and an increase in serum glutamic pyruvic values transaminase and alkaline phosphatase indicating the impaired of liver cells. The emergence of clinical symptoms and abnormalities in the blood picture led to the suspicion of the patient being infected with Leptospira sp. The MAT test was carried out at the Center for Veterinary Research (BB Litvet) Bogor. The test was repeated with interval of 7-14 days. An increase in antibody titer fourfold or more indicates a strong presence of Leptospira sp. Of the four cases presented, three patients had a 4-fold increase in antibody titer on the second MAT test while one patient did not have an increase in antibody titer. This study concludes that MAT testing is applicable in the clinical diagnosis of leptospirosis, but it is necessary to repeat the test with an interval of 7–14 days.
Pengaruh Transplantasi Ovarium pada Kelinci Lokal Bunting Semu Terhadap Peningkatan Hormon Kortisol Syafruddin; Angghian Siti Safur; Tongku Nizwan Siregar; Gholib; Roslizawaty; Amalia Sutriana
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 3 (2022): November 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.3.281-287

Abstract

Implantasi atau proses memindahkan organ tubuh dari satu makhluk hidup ke makhluk hidup yang lain dapat menginisiasi terjadinya stres. Penelitian ini bertujuan mengetahui peningkatan konsentrasi hormon kortisol pada kelinci lokal bunting semu yang mendapat transplantasi ovarium sapi aceh dengan durasi yang berbeda. Penelitian ini menggunakan sembilan ekor kelinci betina lokal berumur 3-5 tahun, bobot badan 1,5-2,9 kg. dibagi dalam tiga kelompok perlakuan (n=3) yakni kelompok transplantasi ovarium sapi di dalam uterus kelinci lokal bunting semu selama 3 hari (K1), 5 hari (K2), dan 7 hari (K3). Sampel feses untuk pemeriksaan konsentrasi kortisol diambil pada waktu sebelum dan setelah transplantasi. Konsentrasi metabolit hormon kortisol diukur dari sampel feses menggunakan teknik enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan rerata konsentrasi hormon kortisol pada kelinci H-3 sebelum transplantasi ovarium sapi aceh adalah 125,12±74,68 ng/g. Konsentrasi kortisol sesudah transplantasi pada kelompok K1; K2; dan K3 masing-masing adalah 433,94±207,44; 176,74±83,00; 343,28±178,42 ng/g (P>0,05). Disimpulkan bahwa transplantasi ovarium sapi aceh pada kelinci lokal bunting semu cenderung meningkatkan hormon kortisol namun durasi ovarium di dalam uterus tidak memengaruhi konsentrasi kortisol.
PERANAN HEWAN PELIHARAAN DALAM KAITANNYA SEBAGAI STRESS RELIEVER PADA MAHASISWA UNPAD Zega, Defornatasya Indah Sinta Nadania; Tyagita; Hanna
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.1.87-95

Abstract

Stres akademik selama perkuliahan daring ketika pandemi covid 19 menunjukan level yang cukup tinggi, karena berkurangnya interaksi langsung antar mahasiswa yang menimbulkan berbagai stresor mengakibatkan penurunan fokus dalam belajar serta pemahaman materi. Upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi stres yaitu menjauhi stresor dan melakukan aktivitas yang menyenangkan salah satunya adalah berinteraksi dengan hewan peliharaan. Tujuan penelitian ini yaitu menggambarkan perbedaan tingkat stres pada mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran gigi Universitas Padjadjaran yang memiliki hewan peliharaan dan tidak memiliki hewan peliharaan, mengetahui interaksi mahasiswa dengan hewan peliharaannya, mengetahui gambaran mengenai peranan hewan peliharaan sebagai stress reliever pada mahasiswa. Penelitian ini merupakan penelitian analitik kategorik, dengan desain cross sectional. Melibatkan 100 mahasiswa aktif Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran gigi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner daring. Kemudian dianalisis setiap variabelnya meliputi karakteristik umum responden, jenis hewan peliharaan serta karakteristik pemeliharaan, dan tingkat stres responden. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kepemilikan hewan dengan tingkat stres karena didapatkan hasil uji chi square p value >0,05 dan nilai hitung lebih besar daripada nilai tabel. Pada penelitian ini tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat interaksi responden dengan tingkat stres yang ditunjukan dengan hasil uji korelasi pearson p >0,05. Kata-kata kunci: Pelepas stres, hewan peliharaan, stres mahasiswa.
Sindrom Pernapasan Akut Parah Akibat Infeksi Virus Corona-2 (Sars Cov-2) pada Kucing Bengal Puri Prihatiningsih, Nur Liliana; Sri Kayati Widyastuti; I Wayan Batan
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.1.26-33

Abstract

Sindrom pernapasan akut yang parah coronavirus-2 (SARS CoV-2) adalah agen etiologi covid-19 merupakan agen jenis baru yang sebelumnya belum pernah diidentifikasi pada manusia atau hewan, juga tidak terkait dengan virus corona kucing (FCoV) yang umum terjadi terkait dengan infeksi peritonitis kucing. Seekor kucing bengal betina steril bernama Inka berumur 8 tahun 7 bulan dengan bobot 5,45 kg dibawa ke klinik dengan keadaan terdapat luka terbuka di dekat anus dan ekor. Setelah 5 hari perawatan di klinik, kucing mengalami gejala bersin, batuk, adanya leleran pada mata, dan juga terdapat perubahan pada konsistensi feses. Pemeriksaan hematologi rutin ditemukan peningkatan jumlah total leukosit dan neutrofil serta penurunan platelet. Pada pemeriksaan biokimia darah ditemukan kenaikan aktiva Alanine Aminotransferase. Hasil pemeriksaan rapid tes antigen dan Reverse Trancription Polymerase Chain Reaction menunjukkan kucing positif SARS Cov-2. Berdasarkan anamesis, gejala klinis dan pemeriksaan laboratoris kucing didiagnosis SARS Cov-2. Penanganan yang dilakukan dengan memberikan nebulasi Ventolin® sebanyak 1,25mL, Pulmicort® sebanyak tiga tetes, dan gentamycin 0,1 mL. Kucing mengalami perbaikan klinis pada hari ke-21 dan dinyatakan sembuh dari SARS Cov-2 pada hari ke-32.
Pemodelan Matematik untuk Menentukan Faktor-faktor Penyebab Repeat Breeding pada Sapi Aceh Sayuti, Arman; Cut Nila Thasmi; Tongku Nizwan Siregar; Husnurrizal; Sri Wahyuni
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.1.34-42

Abstract

Penelitian ini bertujuan membuat pemodelan untuk diagnosis repeat breeding (RB) pada sapi aceh berdasarkan intensitas estrus, profil hormonal, profil biokimia darah, dan jumlah infeksi bakteri pada saluran uterus. Hewan yang digunakan pada penelitian ini adalah 16 ekor sapi aceh yang terdiri atas 7 ekor sapi aceh fertil dan 9 ekor sapi aceh RB, yang berumur 3-8 tahun dengan skor kondisi tubuh (BCS) 3-4. Seluruh sapi aceh fertil dan RB dilakukan sinkronisasi estrus menggunakan hormon PGF2α dengan pola penyuntikan ganda dengan interval 11 hari. Setelah penyuntikan PGF2α, intensitas estrus diamati 3 kali sehari yakni pada pukul 08.00, 12.00, dan 16.00 WIB, masing-masing pengamatan selama 20 menit. Koleksi serum dilakukan pada pagi hari (jam 07.00-09.00 WIB). Koleksi serum dilakukan untuk pemeriksaan kadar hormon estradiol dan progesteron menggunakan teknik enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Selain itu, sampel darah juga digunakan untuk pemeriksaan profil biokimia darah. Koleksi sampel bakteri dilakukan dengan metode swab uterus. Hasil pemodelan diagnosis RB pada sapi aceh diperoleh model matematis regresi linear sebagai berikut : Y= a + bX1 + bX2 .............+ bX11S/C = -5.28 + 1,27X1 - 0,69X2 - 0,99X3 - 0,23X4 + 2,28X5 – 0,53X6 + 0,71X7 - 0,29X8 + 0,09X9 + 3,04X10 Berdasarkan hasil dari pemodelan diagnosis RB pada sapi aceh menunjukkan bahwa penyebab utama RB pada sapi aceh adalah infeksi bakteri pada uterus yang kemungkinan mengakibatkan sapi tersebut mengalami stres yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah. Selain itu, RB pada sapi aceh juga dipengaruhi oleh ketidakseimbangan nutrisi dan hormonal yang mengakibatkan intensitas estrus menjadi rendah.