cover
Contact Name
Nurul Kusumawardani
Contact Email
nurul.kusumawardani@almaata.ac.id
Phone
+6281902808231
Journal Mail Official
inpharnmed.journal@almaata.ac.id
Editorial Address
Jl. Brawijaya no.99, Tamantirto, Kasihan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal)
ISSN : 25806637     EISSN : 25807269     DOI : http://dx.doi.org/10.21927/inpharnmed
Core Subject : Health,
Pharmaceutics, Biopharmaceutics, Drug Delivery System, Physical Pharmacy, Chemical Pharmacy, Pharmaceutical Technology, Pharmaceutical Microbiology and Biotechnology, Pharmacology and Toxicology, Pharmacokinetics, , Pharmaceutical Chemistry, Pharmaceutical Biology, Community and Clinical Pharmacy, Regulatory Affairs and Pharmaceutical Marketing Research, and Alternative Medicines
Articles 69 Documents
OPTIMASI FORMULA PADA GRANUL PARACETAMOL DENGAN VARIASI KOMPOSISI BAHAN PENGISI LAKTOSA DAN AVICEL PH 101 SERTA EVALUASI PARAMETER KADAR LEMBAB MOISTURE CONTENT DAN LOSS ON DRYING Fatmawati, Annisa; Emelda, Emelda; Elvana, Azza
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1636.187 KB) | DOI: 10.21927/inpharnmed.v4i1.1806

Abstract

Industri Farmasi selalu melakukan penelitian dan pengembangan formula obat, dimana untuk mendapatkan sediaan farmasetis yang berkualitas. Paracetamol merupakan obat yang berkhasiat sebagai analgetik dan antipiretik, dalam sediaan padat berupa sediaan tablet yang diformulasikan dengan metode granulasi basah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan lembab berupa parameter MC (Moisture Content) dan LOD (Loss On Drying) pada granul paracetamol dengan variasi bahan pengisi laktosa dan avicel PH 101. Metode penelitian ini menggunakan metode gravimetri dengan membuat granul paracetamol dan menguji kandungan lembab pada menit ke- 15, 30, 60, 120 dan 180 pengeringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Formula 1 (100% Laktosa) dan Formula 3 (50% Laktosa : 50% avicel PH101) memiliki kandungan lembab < 3% pada menit ke 120, sedangkan Formula 2 (100% avicel PH101) memiliki kandungan lembab < 3% dinyatakan dengan LOD (2,52%) dan MC (2,58%) pada menit ke-60. Formula 2 merupakan formula yang paling baik untuk digunakan dalam formulasi sediaan tablet paracetamol dengan metode granulasi basah berdasarkan kandungan lembab MC dan LOD.
PENGARUH HOMOSISTEIN TERHADAP BERAT OTAK TIKUS MODEL PENYAKIT ALZHEIMER Marintan, Elita; Wasita, Brian; Magna, Adi
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.792 KB) | DOI: 10.21927/inpharnmed.v5i1.1765

Abstract

Homosistein (hcy) adalah asam amino mengandung sulfur yang terbentuk selama metabolisme metionin asam amino esensial. Pemberian homosistein menyebabkan peningkatan stres oksidatif, kerusakan DNA, pemicu apoptosis dan eksitotoksisitas, yang penting dalam degenerasi saraf. Kadar homosistein yang meningkat menyebabkan neurotoksisitas dan atrofi otak pada Penyakit Alzheimer (AD). Penelitian ini bertujuan untuk mengamati bobot otak tikus Sprague Dawley yang diinduksi Hcy selama 7, 14 dan 21 hari. Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorik dengan posttest only group  design. Sembilan ekor tikus Sprague dawley umur 8-12 minggu dengan berat badan antara 150-200 gram dibagi secara acak menjadi 3 kelompok (n=3). Semua kelompok diberikan injeksi homosistein dengan dosis yang sama yaitu 0,4 mg / kg berat badan. Kelompok I, II dan III diinjeksi homosistein selama 7, 14, dan 21 hari untuk setiap kelompok secara berurutan. Pengamatan berat otak dilakukan setelah eutanasia pada hari ke 7, 14, dan 21 setelah perlakuan. Sampel berat otak diukur dengan menggunakan timbangan digital. Perbedaan berat otak antar kelompok dianalisis dengan menggunakan ANOVA. Hubungan antara berat otak dan lama injeksi homosistein dianalisis dengan menggunakan uji korelasi product-moment Pearson. Semua prosedur penelitian telah dilakukan dengan persetujuan dari Komite Etik Hewan Fakultas Kedokteran UNS No: 106/UN27.06.6.1/KEPK/EC/2020. Injeksi homosistein selama 7, 14 dan 21 hari tidak mengubah berat otak. Berat otak mengalami penurunan tetapi tidak signifikan secara statistik  (p=0,549). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar homosistein tidak mempengaruhi berat otak tikus model penyakit Alzheimer.
TERATAI (Nymphaea stellata Willd.) SEBAGAI AGEN ANTIDIABETIK Laili Nailul Muna
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.754 KB) | DOI: 10.21927/inpharnmed.v1i1.563

Abstract

AbstrakDiabetes Millitus (DM) adalah sekelompok penyakit gangguan metabolik. Salah satu tanaman herbal yang dapat digunakan sebagai agen antidiabetes adalah Nymphae stellata (Syn. Nymphae nouchali) yaitu teratai biru. Di India, teratai digunakan sebagai Ayurveda dan Siddha untuk mengobati penyakit diabetes. Nymphayol merupakan steroid yang diisolasi dari bunga teratai yang terbukti bertanggung jawab memiliki aktivitas agen antidiabetes. Review ini bertujuan untuk melihat efektivitas dari Nymphae Stellata yang memiliki potensi sebagai agen antidiabetes.Studi ini menggunakan metode Review Article. Pencarian literatur dalam penelitian ini menggunakan data base Pubmed dan Google Scholar. Strategi pencarian artikel berdasarkan PICO. Nymphayol dilaporkan memiliki aktivitas antidiabetik  pada dosis 20 mg/kg BB oleh tikus diabetes terinduksi streptozotocin. Pemberian perlakuan Hydro-Ethanolic Extract (HEE) Nymphae stellata 300 mg/kg BB pada tikus yang terinduksi aloksan mampu menurunkan nilai HbA1C secara signifikan (P<0.001) dibandingkan kelompok normal yang terindikasi kontrol glikemik yang buruk. Ekstrak bunga Nymphae stellata  terhadap tikus terinduksi alloxan menujukkan nilai penurunan Fasting Blood Glucose (FBG) yang signifikan lebih (P<0.001) tinggi pada dosis 300 mg/kg BB dibandingkan dosis 200 mg/kg BB dan 400 mg/kg BB.Review menunjukkan bahwa HEE Nymphae stellata dan ekstrak bunga Nymphae stellata efektif sebagai agen antidiabetes dengan berbagai mekanisme spesifik dibandingkan dengan placebo sebagai pembanding. Nymphayol merupakan steroid yang terbukti bertanggung jawab memiliki aktivitas agen antidiabetes.Kata kunci :  Nymphae stellata, Nymphayol, Antidiabetes, Efektivitas  AbstractDiabetes Mellitus is a group metabolic disorders. One of herbal plant that can be use for antidiabetic agent is Nymphae stellata (Syn. Nymphae nouchali) called blue lotus. In India, lotus used as Ayurveda dan Siddha to treat diabetes. Nymphayol form isolated steroid from lotus which proved to be responsible to have an activity of antidiabetic agent.This review intends to see the effectivity of Nymphae Stellata which has a potential as an antidiabetic agent.This study uses Review Article method. Prospecting literature in this research uses Pubmed and Google Scholar databases. Article prospecting strategy based on PICO. Decreased glucose levels in diabetic patients. Nymphayol reported that it has antidiabetic activity at doses 20 mg / kg body weight by streptozotocin induced diabetic mice. Giving treatment Hydro-Ethanolic Extract (HEE) Nymphaea stellata 300 mg / kg in mice induced by alloxan able to reduce HbA1c values significantly (P <0.001) compared to the normal group indicated rough glycemic control. Nymphae stellata flower extract induced alloxan mice showed the significant decreasing values of Fasting Blood Glucose (FBG) higher (P<0.001) at doses 300 mg/kg body weight than doses 200 mg/kg body weight and 400 mg/kg body weight.The review showed that HEE Nymphae stellata and Nymphae stellata flower extract are effective as an antidiabetic agent with various specific mechanism compared to placebo as comparator. Nymphayol is a steroid that was proven to responsible for antidiabetic agent activities. Keywords : Nymphae stellata, Nymphayol, Antidiabetic, Effectivity
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN TERHADAP PERILAKU SWAMEDIKASI NYERI YANG RASIONAL DI APOTEK HARISH FARMA KABUPATEN SUKOHARJO Kusumaningtyas Siwi Artini
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.424 KB) | DOI: 10.21927/inpharnmed.v4i2.1386

Abstract

AbstrakSelf-medication (pengobatan sendiri) adalah penggunaan obat-obatan dengan maksud terapi tanpa saran dari profesional atau tanpa resep. Swamedikasi dapat dilakukan dengan menggunakan obat dari pengobatan sebelumnya, dengan membeli obat tanpa resep, mengikuti saran dari saudara atau teman tentang penggunaan obat tertentu. Nyeri menjadi salah satu penyakit yang banyak dialami pasien yang kadang tidak bisa ditolerensi sehingga pasien melakukan pengobatan sendiri. Penggunaan obat nyeri banyak digunakan bebas di masyarakat sehingga dapat menyebabkan ketergantungan, sehingga diperlukan edukasi sehingga pengobatan tersebut rasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap swamedikasi nyeri di Apotek Harish Farma, Kabupaten Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan rancangan survey cross sectional dengan menggunakan accidental sampling dan data kuesioner diolah dengan metode uji Pearson. Pada penelitian ini melibatkan 84 responden. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2020. Dari penelitian dapat dilihat 46% responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang, 48% responden memiliki pengetahuan yang cukup baik dan 6% responden memiliki pengetahuan yang baik dan untuk perilaku swamedikasi sebanyak 37% responden memiliki perilaku swamedikasi yang kurang, 39% responden memiliki perilaku swamedikasi yang cukup baik, dan 24% memiliki perilaku swamedikasi yang baik. Pada analisis dengan menggunakan uji pearson diperoleh hasil r hitung sebesar 0,309 dan nilai sig. 0,004 yang menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku swamedikasi nyeri. Kata Kunci: tingkat pengetahuan, swamedikasi; antinyeri; apotekAbstractSelf-medication is the use of drugs for the purpose of therapy without professional advice or without a prescription. Self-medication can be done by using drugs from previous treatment, by buying drugs without a prescription, following advice from relatives or friends about the drugs. Pain is one of the diseases which sometimes cannot be tolerated so patient do self-medication. The analgetic is widely used in the community so education to the patient is needed in order to make the medication will be rational. The purpose of this study was to determine the correlation between patient knowledge and pain self-medication at Apotek Harish Farma, Kabupaten Sukoharjo. This study used a cross-sectional survey design using accidental sampling and the questionnaire data were processed using the Pearson test method. This study was used by 84 respondents. This research was conducted in July - August 2020. The results showed that 46% of respondents had a low level of knowledge, 48% of respondents had good enough knowledge and 6% of respondents had good knowledge and 37% of respondents had less self-medicated behavior, 39% of respondents had good enough self-medicated behavior, and 24% have good self-medicated behavior. In the analysis using the Pearson test, the r count was 0.309 and the sig value. 0.004 which shows the relationship between knowledge and pain self-medication behavior. Keyword: level of knowledge; self-medication; analgetic; apotek
HUBUNGAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN SWAMEDIKASI DI BEBERAPA APOTEK WILAYAH PURWOREJO Wulandari, Ari Susiana; Ahmad, Najla Firsty Sofia
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1427.999 KB) | DOI: 10.21927/inpharnmed.v4i1.1764

Abstract

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini perilaku konsumen cenderung mengobati sendiri dengan membeli di apotek dari pada memeriksakan diri ke dokter maupun dating ke fasilitas kesehatan masyarakat. Pengobatan sendiri (swamedikasi) adalah pemilihan dan penggunaan obat-obatan tanpa resep dari dokter untuk mengobati penyakit atau gejala penyakit. Namun pada pelaksanaanya, pengobatan sendiri dapat menjadi sumber kesalahan pengobatan akibat terbatasnya pengetahuan mengenai obat dan penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan swamedikasi masyarakat pengobatan swamedikasi di beberapa apotek Wilayah Kabupaten Purworejo. Desain penelitian ini merupakan penelitian cross sectional yang menggunakan sampel responden sebanyak 127 responden yang membeli obat swamedikasi di beberapa apotek yang tersebar di beberapa kecamatan Purworejo. Teknik pengambilan data dengan menggunakan metode wawancara dan kuesioner. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode accidental sampling selama bulan November 2019 hingga Januari 2020 di lokasi 10 kecamatan yang berada di kawasan wilayah Purworejo. Variabel yang diamati adalah tingkat pengetahuan responden mengenai swamedikasi, yang dihubungkan dengan faktor sosiodemografi responden. Berdasarkan hasil perhitungan statitistika, mayoritas tingkat pengetahuan swamediksi responden di wilayah Purworejo tergolong tinggi 76%. Hasil uji Chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan responden dengan variabel jenis kelamin (sig=0,047) dan variabel pendidikan (sig=0,047).
PERBAIKAN KADAR INSULIN TIKUS JANTAN GALUR WISTAR TERINDUKSI STREPTOZOTOCIN (STZ) AKIBAT PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL BATANG BROTOWALI Ashari, Ayu -; Nurinda, Eva; Fatmawati, Annisa
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (973.697 KB) | DOI: 10.21927/inpharnmed.v5i1.1653

Abstract

Brotowali stems (Tinospora crispa L.) contain flavonoids which act as antioxidants and are expected to have the potential to reduce blood glucose levels and increase insulin levels in mice due to STZ induction. The purpose of this study was to determine the effect of brotowali stem ethanol extract (EEBB) on insulin levels in STZ-induced male Wistar rats. Measurement of mouse insulin levels using the mouse insulin ELISA kit method. The results showed that the ethanol extract of brotowali rods at a dose of 450 mg / kgBW rats were significantly different (<0.05) between the hyperglycemic control group and the EEBB treatment group showing an increase in the mean insulin levels of the rats after being given EEBB for 10 days. Brotowali stems can be used for the treatment of natural ingredients with flavonoid content. 
KAJIAN PENGGUNAAN OBAT OFF-LABEL PADA ANAK DI PUSKESMAS SLEMAN Rizki Akbar; Ndaru Setyaningrum; Daru Estiningsih
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.93 KB) | DOI: 10.21927/inpharnmed.v1i1.501

Abstract

AbstrakOff-label merupakan istilah singkat yang menjelaskan penggunaan obat diluar ketentuan yang berkaitan dengan dosis, kelompok usia, rute pemberian, dan indikasi yang berbeda. Penggunaan obat off-label pada anak terjadi karena tidak lengkapnya data farmakokinetik, farmakodinamik, dan efek samping dari suatu obat karena penelitian klinik pada anak cukup sulit dan tidak sesuai dengan etika dan moral penelitian. Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif. Data prevalensi penggunaan off-label pada anak diperoleh dengan melakukan telaah catatan medik anak di Puskesmas Sleman selama periode tahun 2015. Selain kajian obat off-label dilakukan juga pengelompokan obat berdasarkan sistem klasifikasi ATC (Anatomical Therapeutic Chemical). Berdasarkan hasil penelitian dari 100 sampel rekam medis pasien anak usia 0-18 tahun selama tahun 2015 terdapat obat-obat off-label sebanyak 25 kasus (8,41%), yang terdiri dari 12 kasus (4,04%) off-label cara pemberian, 8 kasus (2,69%) off-label indikasi, dan 5 kasus (1,68%) off-label usia. Sedangkan untuk kategori off-label dosis dan off-label kontraindikasi tidak ditemukan adanya kasus off-label. Obat yang paling banyak diresepkan secara off-label adalah golongan obat saluran napas sebanyak 13 penggunaan (4,38%) yaitu salbutamol, dan gliseril guaiakolat. Kata Kunci: Obat off-label, Anak, Puskesmas Sleman, ATC. AbstractOff-label is a term to decscribe the usage of drugs agaisnt the regulations in accordance to doses, age groups, distribution routes, and diverse indications. The usage of off-label drugs on children is caused by incomplete pharmacokinetic data, pharmacodynamic, and as a result of side effects due to clinical studies on children are quite complex and incorresponding with ethics and moral of the studies. Method used in this study was evaluative-descriptive using retrospective approach in data collection. Prevelance data of the usage of off-label drugs on children was gathered by examining the children medical records in Sleman Community Health Center within the time period of 2015. Besides research on off-label drug, drug categorization was also done based on the ATC Classification system (Anatomical Therapeutic Chemical). Based on the result of the research, out of 100 sample of patient medical record of the age 0-18 years along 2015, there has been 25 cases of off-label medicines (8,41%), in which 12 cases (4,04%) was distribution way off-label, 8 cases (2,69%) indicated off label, and 5 cased (1.68%) age off-label. While for the category of dose off label and contraindication off label has not been found any case. The most common off label prescription was respiratory drugs of 13 use (4,38%) that is salbutamol, and glyceril guaiacolat. Keyword: Off-label drugs, Children, Sleman Community Health Center, ATC.
FORMULASI DAN UJI SIFAT FISIK SEDIAAN GEL TUNGGAL DAN KOMBINASI EKSTRAK ETANOLIK DAUN SIRIH MERAH (Pipper crocatum) dan MINYAK KAYU MANIS (Cinnamon oil) Emelda Emelda
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1375.593 KB) | DOI: 10.21927/inpharnmed.v4i2.1405

Abstract

AbstrakSirih merah memiliki kandungan senyawa aktif seperti minyak atsiri, alkaloid, saponin, tanin dan flavonoid. Minyak atsiri yang terkandung di dalamnya memiliki aktivitas sebagai antiseptik. Tanaman lain yang juga memiliki banyak manfaat adalah kayu manis. Minyak kayu manis diketahui memiliki aktivitas sebagai anti inflamasi. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat formulasi sediaan gel kombinasi ekstrak etanol daun sirih merah dan minyak kayu manis dan mengetahui sifat fisik sediaan tersebut.Penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan. Daun sirih merah diekstraksi dengan pelarut etanol kemudian diformulasikan dalam bentuk gel dan dikombinasikan dengan minyak kayu manis. Uji sifat fisik sediaan krim dan salep, meliputi organoleptik, uji homogenitas, pH dengan indikator pH universal, uji daya lekat, daya sebar dan uji konsistensi.Hasil penelitian menunjukkan sediaan gel kombinasi ekstrak etanol daun sirih merah dan minyak kayu manis memiliki warna hijau kecoklatan, dan kayu manis tunggal berwarna putih, memiliki bau khas, berbentuk semipadat, homogen, daya lekat lebih dari 1 detik, daya sebar masih berada dalam rentang 5-7 cm dan  uji konsistensi menunjukkan tidak terjadi pemisahan.Sediaan gel kombinasi ekstrak etanol daun sirih merah dan minyak kayu manis memenuhi persyaratan uji fisik, meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya lekat daya sebar dan uji konsistensi. Kata Kunci: Daun sirih merah, minyak kayu manis, gel, uji sifat fisik AbstractRed betel contains active compounds such as essential oils, alkaloids, saponins, tannins, and flavonoids. The essential oil contained in it has antiseptic activity. Another plant that also has many benefits is cinnamon. Cinnamon oil is known to have anti-inflammatory activity. The purpose of this study was to formulate a gel preparation for a combination of ethanol extract of red betel leaf and cinnamon oil and to determine the physical properties of these preparations.This research is an experimental laboratory. Red betel was Extracted with an ethanol solvent, red betel leaves are then formulated in the form of a gel and combined with cinnamon oil. The physical properties test for cream and ointment preparations included organoleptic, homogeneity test, pH with a universal pH indicator, adhesion test, spreadability, and consistency test.The results showed that the combination gel preparation of the ethanol extract of red betel leaf and cinnamon oil had a brownish-green color and white for only cinnamon oil, had a distinctive odor, was semisolid, homogeneous, adhered more than 1 second, the spreadability was still within the range of 5-7 cm and consistency test showed there is no separation.The combination gel preparation for the ethanol extract of red betel leaf and cinnamon oil met the physical test requirements, including the organoleptic test, homogeneity, pH, adhesiveness, spreadability, and consistency test. Keyword: Red Betel leaf, Cinnamon oil, physical properties test 
KAJIAN PERESEPAN OBAT ANTIBIOTIKA PADA PASIEN DEWASA RAWAT JALAN DI KLINIK KIMIA FARMA ADI SUCIPTO YOGYKARTA Purwanti, IIn; Estiningsih, Daru; Wulandari, Ari Susiana; Indrayana, Sofyan
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1314.424 KB) | DOI: 10.21927/inpharnmed.v4i1.1819

Abstract

Golongan antibiotik merupakan obat yang paling banyak dikonsumsi di dunia terkait dengan besarnya angka kejadian infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik yang salah atau tidak rasional dapat menimbulkan dampak negatif yang menyebabkan resiko terjadinya resistensi atau kekebalan kuman terhadap satu atau beberapa antibiotik. Ketidaktepatan dalam peresepan antibiotik kemungkinan terjadi tidak hanya di rumah sakit dan di puskesmas, namun juga di pusat-pusat pelayanan kesehatan lain seperti poliklinik. Rasionalitas penggunaan antibiotika salah satu faktor penunjangnya adalah ketepatan dalam peresepan antibiotik, yaitu tepat indikasi, tepat dosis, tepat frekuensi penggunaan dan durasi penggunaan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pola peresepan obat antibiotik untuk mengatahui profil penggunaan antibiotik dan rasionalitas penggunaan antibiotik berdasarkan 4T (tepat indikasi, tepat dosis, tepat frekuensi dan tepat durasi penggunaan) pada pasien dewasa rawat jalan di Klinik Kimia Farma Adi Sucipto Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dengan analisa deskriptif yang bersifat retrospektif. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik nonprobability sampling dengan cara purposive sampling. Data yang diambil periode November-Desember 2019 diperoleh populasi sebanyak 1194 resep pasien dan dijadikan sebagai sampel sebanyak 66 resep pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan peresepan antibiotik terbanyak adalah jenis antibiotik amoksisilin sebanyak 23 (34,3%), jenis penyakit terbanyak adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) 31 (47,9%), jenis antibiotik berdasarkan jumlah antibiotik adalah resep tunggal 65 (98,5%). Berdasarkan kerasionalan antibiotik sebanyak 58 (86,6%) tepat indikasi, tepat dosis 64 (95,5%), tepat frekuensi 61 (91,0%) dan tepat durasi 56 (83,6%). Dari hasil penelitian ratarata peresepan antibiotik sudah sesuai dengan pedoman pengobatan baik dari ketepatan indikasi, ketepatan dosis, tepatan frekuensi dan durasi penggunaan.
UJI MUTU FISIK DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FORMULA KRIM KOMBINASI EKSTRAK ETANOL GANGGANG HIJAU (Ulva latuca L.) DAN LIDAH BUAYA (Aloe vera) SEBAGAI PERAWATAN KULIT WAJAH Hanifah, Wening; Emelda, Emelda; Fatmawati, Annisa; Aprilia, Veriani
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (979.707 KB) | DOI: 10.21927/inpharnmed.v5i1.1670

Abstract

Antioksidan merupakan molekul yang dapat memperlambat atau mencegah proses terjadinya oksidasi. Oksidasi merupakan reaksi kimia yang dapat menghasilkan radikal bebas. Paparan radikal bebas seperti sinar matahari, polusi udara, obat-obatan, asap rokok secara terus menerus akan menyebabkan kulit tampak kering, kusam, lesi kulit, dan juga penuaan dini. Ganggang hijau (Ulva Lactuca L.) dan lidah buaya (Aloe Vera) telah diteliti memiliki aktivitas antioksidan, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formula terbaik berdasarkan mutu fisik dan aktivitas antioksidan krim kombinasi ekstrak etanol ganggang hijau (EEGH) dan lidah buaya (EELB) dengan metode DPPH. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium terhadap 5 formula sediaan krim dengan perbedaan jumlah ekstrak serta dilakukan uji mutu fisik dan aktivitas antioksidan sediaan krim pada hari ke-0 menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Krim formula 1 memiliki daya sebar, daya lekat dan aktivitas antioksidan sebesar 4,5 cm, 10,456 detik, IC50 802,038 µg/mL. Formula 2 sebesar 3,1 cm, 4,59 detik, IC50 1.643,955 µg/mL. Formula 3 sebesar 4,833 cm, 13,993 detik, IC50 304,41 µg/mL. Formula 4 sebesar 3,766 cm, 9,806 detik, IC50 559,453 µg/mL. Formula 5 sebesar 3,833 cm, 9,116 detik, IC50 2.227 µg/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula 3 merupakan formula terbaik berdasarkan uji mutu fisiknya dengan nilai daya sebar sebesar 4,833 cm, daya lekat 13,993 detik, dan aktivitas antioksian ditunjukkan dengan nilai IC50 sebesar 304,411 µg/mL.