cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran
ISSN : 27770583     EISSN : 27770575     DOI : https://doi.org/10.51878/learning.v1i2.376
Core Subject : Education,
LEARNING : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran diterbitkan 4 kali setahun (Februari, Mei, Agustus, dan November) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berada dibawah naungan Yayasan Insan Cendekia Indonesia Raya dan berafiliasi dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Hamzanwadi, MKKS SMP Negeri Kab. Lombok Timur dan Ikatan Guru Indonesia Kab. Tulang Bawang. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 739 Documents
KONSTRUKTIVISME SEBAGAI RESISTENSI TERHADAP KRISIS REFLEKSI GENERASI Z DI ERA DIGITAL Anang Wijatmiko; Khamim Qolili; Prasetyo Karyo Utomo; Febrian Afirsta Kusumajaya; Nanda Hasnan Fardany; Arief Rahman Yusuf
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i1.9266

Abstract

Generation Z, as digital natives, faces serious challenges in vocational education, particularly in the Software Engineering (RPL) program. Observations at SMKN 1 Ponorogo reveal a reflection crisis, where students rely heavily on short tutorials from YouTube or online forums to complete assignments. This pattern creates a culture of tutorialism and illusion of competence, in which technical success is considered sufficient without conceptual understanding or social awareness. The urgency of this study lies in the need to restore reflective meaning in digital vocational education so that it does not merely produce compliant technicians but individuals who are critical and responsible. This research aims to examine constructivism as a paradigm of resistance to the reflection crisis of Generation Z. The study employs a qualitative descriptive approach with a case study design. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews with students and teachers, documentation, and focus group discussions (FGD). Thematic analysis was applied with source and method triangulation to ensure validity. The findings highlight four key aspects: (1) the emergence of tutorialism and illusion of competence in RPL learning; (2) an epistemological crisis underlying shallow technical practices; (3) constructivism functioning as a form of pedagogical resistance to the instant digital culture; and (4) the reconstruction of the RPL teacher’s role as a facilitator of critical reflection, emphasizing process rather than mere outcomes.  In conclusion, constructivism is not only a learning strategy but also a pedagogical paradigm capable of restoring reflection as the core of vocational education in the digital era.  ABSTRAK Generasi Z sebagai digital native menghadapi tantangan serius dalam pembelajaran vokasi, khususnya di jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Observasi di SMKN 1 Ponorogo menunjukkan adanya krisis refleksi, di mana siswa lebih banyak mengandalkan tutorial singkat dari YouTube atau forum daring untuk menyelesaikan tugas. Pola ini melahirkan budaya tutorialisme dan ilusi kompetensi, yaitu keberhasilan teknis dianggap cukup tanpa pemahaman konseptual maupun kesadaran sosial. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan mendesak untuk mengembalikan makna reflektif dalam pendidikan vokasi digital agar tidak sekadar melahirkan teknisi patuh, tetapi individu yang kritis dan bertanggung jawab.Penelitian ini bertujuan menelaah konstruktivisme sebagai paradigma resistensi terhadap krisis refleksi generasi Z. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan siswa dan guru, dokumentasi, serta focus group discussion (FGD). Analisis dilakukan secara tematik dengan triangulasi sumber dan metode untuk menjaga validitas. Temuan penelitian menunjukkan empat hal utama: (1) munculnya budaya tutorialisme dan ilusi kompetensi dalam pembelajaran RPL; (2) adanya krisis epistemologis di balik praktik teknis yang dangkal; (3) konstruktivisme berfungsi sebagai bentuk resistensi pedagogis terhadap budaya instan digital; dan (4) rekonstruksi peran guru RPL sebagai fasilitator refleksi kritis yang menekankan proses, bukan sekadar hasil. Sehingga,konstruktivisme bukan hanya strategi pembelajaran, tetapi juga paradigma pedagogis yang mampu mengembalikan refleksi sebagai inti pendidikan vokasi di era digital.   
STUDENT'S PERCEPTIONS TOWARDS PRONUNCIATION FEEDBACKS IN ENGLISH SPEAKING ACTIVITY THROUGH ELSASPEAK TASK Sindi Nurhayati Hermina; Setia Muljanto; Pipih Setiaawati; Muhammad Soni; R Muhammad Satria Gyas Mustagis
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i2.9270

Abstract

English pronunciation is essential for effective oral communication, yet it remains a persistent challenge for Indonesian junior high school students, particularly in terms of accuracy and speaking confidence. Recent advances in artificial intelligence, especially Computer-Assisted Pronunciation Training (CAPT), have introduced new opportunities for providing immediate and personalized pronunciation feedback. This descriptive qualitative study explored ninth-grade students’ perceptions of pronunciation feedback provided by the ELSA Speak application and examined the reasons underlying these perceptions. The study was conducted at SMPN 6 Garut and involved 34 ninth-grade students selected through purposive sampling. Data were collected through weekly reflective journals, classroom observations during pronunciation practice, and documentation of pronunciation scores generated by the application. The data were analyzed using thematic analysis to identify recurring patterns in students’ experiences. The findings reveal a clear polarization in students’ perceptions. Some students benefited from ELSA Speak due to its safe practice environment, visual feedback, and support for autonomous learning, while others experienced technical frustration, limited articulatory explanations, and digital fatigue caused by repetitive practice and reduced human interaction. The study concludes that ELSA Speak is not a one-size-fits-all solution and is most effective when used as a supplementary tool supported by teacher guidance. Further research is recommended to examine the role of teacher mediation and long-term use of AI-based pronunciation tools in diverse learning contexts. ABSTRAK Pelafalan bahasa Inggris merupakan aspek penting dalam komunikasi lisan, namun masih menjadi tantangan bagi siswa sekolah menengah pertama di Indonesia, terutama terkait ketepatan fonologis dan kepercayaan diri berbicara. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan, khususnya Computer-Assisted Pronunciation Training (CAPT), menawarkan peluang baru melalui penyediaan umpan balik pelafalan yang bersifat langsung dan personal. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi siswa kelas IX terhadap umpan balik pelafalan yang diberikan oleh aplikasi ELSA Speak serta mengidentifikasi alasan di balik persepsi tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 6 Garut dengan melibatkan 34 siswa kelas IX yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui jurnal reflektif mingguan, observasi kelas selama latihan pelafalan, serta dokumentasi skor pelafalan dari aplikasi. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola pengalaman siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya polarisasi persepsi siswa. Sebagian siswa merasakan manfaat dari ELSA Speak karena lingkungan latihan yang aman, umpan balik visual yang jelas, dan dukungan terhadap pembelajaran mandiri. Sebaliknya, siswa lain mengalami frustrasi teknis, keterbatasan penjelasan artikulatoris, serta kelelahan digital akibat latihan yang repetitif dan minim interaksi manusia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ELSA Speak bukan solusi tunggal pembelajaran pelafalan dan lebih efektif digunakan sebagai alat pendukung dengan bimbingan guru. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji peran mediasi guru dan penggunaan jangka panjang teknologi CAPT dalam konteks pembelajaran yang beragam.
PENINGKATAN LITERASI BACA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE LEARNING PADA SISWA KELAS IV SD Helga Nahakleky; Zainudin Notanubun; Stelie Dorce Ratumanan
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i2.9291

Abstract

The results of the 2022 Programme for International Student Assessment (PISA) show that Indonesia's reading literacy score is only 359 points, far below the OECD average of 476 points. Similar problems were also found at Kaiwatu Christian Elementary School, particularly among fourth-grade students who had difficulty understanding the content of the reading material, determining the main ideas, and retelling the content of the text they had read. This study aims to improve the reading literacy of fourth-grade students at Kaiwatu Christian Elementary School through the application of the Cooperative Learning model. This study uses the Classroom Action Research (CAR) method, which is carried out in two cycles, including the planning, implementation, observation, and reflection stages. The research subjects were 17 fourth-grade students at Kaiwatu Christian Elementary School in Southwest Maluku Regency. The research instruments used included tests and observation sheets with data collection techniques through observation, tests, and documentation. The success indicator was set at a minimum of 75% of students achieving a score of 65 according to the KKTP standard. The results of the study indicate that the application of the Cooperative Learning model can significantly improve students' reading literacy. At the beginning of the pre-cycle, the average score of students was only 60 with a mastery rate of 18% or 3 students. In Cycle I, the average score remained at 60, but the number of students in the “Poor” category decreased from 35% to 12%. A significant improvement occurred in Cycle II, with the average score increasing to 80 and the mastery rate reaching 100% or 17 students. The improvement was comprehensive, covering cognitive, psychomotor, and affective aspects. It can be concluded that the application of the Cooperative Learning model is proven to be effective in improving the reading literacy of fourth-grade students at Kaiwatu Christian Elementary School ABSTRAK Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 menunjukkan bahwa skor literasi membaca Indonesia hanya mencapai 359 poin, jauh di bawah rata-rata negara OECD sebesar 476 poin. Permasalahan serupa juga ditemukan di SD Kristen Kaiwatu, khususnya pada siswa kelas IV yang mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan, menentukan gagasan pokok, dan menceritakan kembali isi teks yang telah dibaca. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi baca siswa kelas IV SD Kristen Kaiwatu melalui penerapan model Cooperative Learning. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 17 siswa kelas IV SD Kristen Kaiwatu Kabupaten Maluku Barat Daya. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi tes dan lembar observasi dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, tes, dan dokumentasi. Indikator keberhasilan ditetapkan apabila minimal 75% siswa mencapai nilai 65 sesuai standar KKTP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Cooperative Learning dapat meningkatkan literasi baca siswa secara signifikan. Pada kondisi awal pra-siklus, rata-rata nilai siswa hanya mencapai 60 dengan persentase ketuntasan 18% atau 3 siswa. Pada Siklus I, rata-rata nilai tetap 60 namun jumlah siswa kategori Kurang menurun dari 35% menjadi 12%. Peningkatan signifikan terjadi pada Siklus II dengan rata-rata nilai meningkat menjadi 80 dan ketuntasan mencapai 100% atau 17 siswa. Peningkatan terjadi secara komprehensif meliputi aspek kognitif, psikomotor, dan afektif. Dapat disimpulkan bahwa penerapan model Cooperative Learning terbukti efektif dalam meningkatkan literasi baca siswa kelas IV SD Kristen Kaiwatu..  
EFEKTIVITAS CHATGPT DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK MENDORONG SELF-REGULATED LEARNING DI SMK Nakamesa Genma; Sony Zulfikasari
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i1.9348

Abstract

The rapid advancement of Artificial Intelligence (AI) has created significant opportunities for fostering autonomous learning in educational settings, with ChatGPT emerging as a prominent tool for interactive language-based instruction. This study examines the impact of ChatGPT on enhancing Self-Regulated Learning (SRL) among vocational high school students, guided by Zimmerman’s model encompassing forethought, performance, and self-reflection phases. Employing a quantitative approach with a one-group pretest–posttest design, the research involved 42 tenth-grade students of the Office Management and Business Services program at SMKN 2 Kuningan. The study utilized a 30-item SRL questionnaire and an English proficiency test, both validated by subject experts and demonstrating strong reliability (Cronbach’s Alpha = 0.934). Findings revealed a substantial improvement from the pretest mean score of 66.00 to the posttest mean score of 89.29 (t = -11.589; p < 0.05), with a large effect size (Cohen’s d = 1.788). The findings demonstrate the effectiveness of ChatGPT in fostering SRL, particularly by enhancing all dimensions, goal setting, independent learning strategies, progress monitoring, and reflective evaluation.These results highlight the pedagogical potential of ChatGPT as an AI-based learning companion, particularly for English language instruction that demands sustained practice and readily accessible learning resources. ABSTRAK Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) telah membuka peluang luas untuk mendukung pembelajaran mandiri di lingkungan pendidikan, termasuk pemanfaatan ChatGPT sebagai media belajar berbasis percakapan interaktif. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas ChatGPT dalam meningkatkan Self-Regulated Learning (SRL) siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan mengacu pada Model Zimmerman yang menekankan tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi diri. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one-group pretest-posttest, melibatkan 42 siswa kelas X MPLB-1 SMKN 2 Kuningan. Instrumen penelitian mencakup angket SRL sebanyak 30 butir serta tes kemampuan Bahasa Inggris, dengan validasi isi oleh ahli (dosen pembimbing dan guru Bahasa Inggris) dan reliabilitas tinggi (Cronbach’s Alpha = 0,934). Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada skor rata-rata pretest (66,00) menjadi posttest (89,29) dengan t = -11,589; p < 0,05 dan effect size Cohen’s d = 1,788 (kategori sangat besar). Penelitian ini menunjukkan efektivitas penggunaan ChatGPT, yaitu mampu meningkatkan seluruh dimensi SRL, termasuk penetapan tujuan belajar, pemilihan strategi belajar mandiri, pemantauan proses, dan refleksi hasil belajar.Temuan ini mengindikasikan bahwa integrasi ChatGPT yang dirancang dengan prinsip pedagogis mampu memperkuat kemandirian belajar siswa SMK, khususnya pada pembelajaran Bahasa Inggris yang membutuhkan latihan berkelanjutan dan akses sumber belajar yang fleksibel.
INTEGRASI LEARNING MANAGEMENT SYSTEM (GOOGLE CLASSROOM) UNTUK OPTIMALISASI PENGAJARAN MANAJEMEN TATA RIAS BERBASIS PROYEK Ririn Amaliah Putri Sarah; Merdila Nuril Fahmi; Fadli Ilham; Syielvi Dwi Febrianty; Sri Meiweni Basra; Dian Fitriarni Sari
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i1.9349

Abstract

This study aims to examine the effectiveness of integrating the Learning Management System (LMS) Google Classroom into Project-Based Learning (PjBL) in the Beauty Services Management course, with the goal of enhancing students’ learning outcomes and self-regulated learning. The study employed a quantitative approach with a pre-experimental, one-group pretest–posttest design. The sample consisted of 50 Vocational Education students specializing in Beauty Services, selected through purposive sampling. The research instruments included a project-based learning assessment and a learning independence questionnaire adapted from the Self-Regulated Learning Questionnaire (SRLQ). Data were analyzed using a paired-sample t-test. The results indicated an average increase of 21.9% in learning outcomes and 16.6% in learning independence following the implementation of Google Classroom, with a significance level of p < 0.05, demonstrating a statistically significant improvement. These findings suggest that LMS integration can enhance the effectiveness of project-based learning, strengthen students’ learning autonomy, and promote more active and reflective engagement in the learning process. The study emphasizes that utilizing LMS platforms such as Google Classroom represents a relevant digital learning strategy for vocational education, particularly in supporting the transformation of teaching and learning in the Industry 4.0 era. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas integrasi Learning Management System (LMS) Google Classroom dalam pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PjBL) pada mata kuliah Manajemen Tata Rias, dengan tujuan meningkatkan hasil belajar dan kemandirian belajar mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra-eksperimen tipe one-group pretest–posttest. Sampel penelitian terdiri dari 50 mahasiswa Pendidikan Vokasional Tata Rias yang dipilih melalui purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi tes hasil belajar berbasis proyek dan angket kemandirian belajar yang diadaptasi dari Self-Regulated Learning Questionnaire (SRLQ). Data dianalisis menggunakan uji t berpasangan (paired-sample t-test). Hasil penelitian menunjukkan peningkatan rata-rata hasil belajar sebesar 21,9% dan kemandirian belajar sebesar 16,6% setelah penerapan Google Classroom, dengan nilai signifikansi p < 0,05, yang menandakan adanya peningkatan yang signifikan secara statistik. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi LMS dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran berbasis proyek, memperkuat kemandirian belajar mahasiswa, serta mendorong mereka menjadi lebih aktif dan reflektif dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menekankan bahwa pemanfaatan LMS seperti Google Classroom merupakan strategi pembelajaran digital yang relevan bagi pendidikan vokasional, terutama dalam mendukung transformasi pembelajaran di era Industri 4.0.    
MAKNA TRADISI RUWAH DESA BAGI PENGEMBANGAN KONSELING MULTIBUDAYA Dian Isdwiyanti; Najlatun Naqiyah; Ari Khusumadewi
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i1.9350

Abstract

The Ruwah Desa tradition represents a form of local wisdom within Javanese society that embodies social, spiritual, and psychological values and continues to be preserved in rural communities, including Rangkah Kidul Village, Sidoarjo Regency. This study aims to examine the meaning of the Ruwah Desa tradition and its relevance to the development of multicultural counseling grounded in local wisdom. A qualitative approach with a case study design was employed. Participants were selected purposively and included traditional leaders, religious figures, village officials, and community members actively involved in the implementation of the tradition. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and document analysis, and analyzed interactively through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that the Ruwah Desa tradition embodies values of communal spirituality, mutual cooperation, social solidarity, intergenerational value transmission, and environmental awareness, which contribute to strengthening social cohesion and collective emotional regulation within the community. These values are strongly aligned with the principles of multicultural counseling, particularly in promoting contextual, inclusive, and community-based counseling services. This study contributes to the enrichment of multicultural counseling discourse by integrating local cultural practices as psychosocial resources in counseling and guidance services. ABSTRAK Tradisi Ruwah Desa merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat Jawa yang mengandung nilai-nilai sosial, spiritual, dan psikologis yang masih terpelihara dalam kehidupan masyarakat pedesaan, termasuk di Desa Rangkah Kidul, Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna tradisi Ruwah Desa serta relevansinya bagi pengembangan konseling multibudaya berbasis kearifan lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian ditentukan secara purposive, melibatkan tokoh adat, tokoh agama, aparat desa, dan masyarakat yang terlibat aktif dalam pelaksanaan tradisi. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara interaktif melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Ruwah Desa mengandung nilai spiritualitas komunal, gotong royong, solidaritas sosial, pewarisan nilai lintas generasi, serta kepedulian terhadap lingkungan yang berperan dalam memperkuat kohesi sosial dan regulasi emosi kolektif masyarakat. Nilai-nilai tersebut memiliki kesesuaian yang kuat dengan prinsip konseling multibudaya, khususnya dalam menghadirkan layanan konseling yang kontekstual, inklusif, dan berbasis komunitas. Penelitian ini berkontribusi pada pengayaan kajian konseling multibudaya melalui integrasi praktik budaya lokal sebagai sumber daya psikososial dalam layanan bimbingan dan konseling.
PENDEKATAN KONSELING MULTIKULTURAL UNTUK MENUMBUHKAN KESETARAAN DAN SENSITIVITAS GENDER DI KALANGAN SISWA Wiwik Wilujeng; Najlatun Naqiyah; Ari Khusumadewi
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i1.9351

Abstract

Gender inequality in education, manifested through unequal role distribution, negative labeling, and bullying, can hinder students' psychological and academic development. This study focuses on analyzing the role of a multicultural counseling approach as an intervention strategy to foster gender equality and sensitivity in schools. The method used is a literature study by reviewing various theoretical references and relevant research results on multicultural counseling and gender issues. The research findings indicate that the implementation of multicultural counseling, both through individual and group services, is effective in helping students identify biased social constructs, reduce stereotypes, and develop empathy and mutual respect amidst diversity. This approach is not only preventive against discrimination but also transformative in creating an inclusive and safe school climate. The main conclusion emphasizes that multicultural counseling is a crucial instrument that requires counselor competence in recognizing cultural and gender biases, in order to create a just educational environment and support the sustainable self-actualization of all students. ABSTRAK Ketimpangan gender dalam pendidikan, yang termanifestasi melalui pembagian peran tidak seimbang, pelabelan negatif, hingga perundungan, dapat menghambat perkembangan psikologis dan akademik siswa. Penelitian ini berfokus pada analisis peran pendekatan konseling multikultural sebagai strategi intervensi untuk menumbuhkan kesetaraan dan sensitivitas gender di sekolah. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji berbagai referensi teoritis dan hasil penelitian relevan mengenai konseling multikultural dan isu gender. Temuan penelitian menunjukkan bahwa implementasi konseling multikultural, baik melalui layanan individu maupun kelompok, efektif membantu siswa mengidentifikasi konstruksi sosial yang bias, mereduksi stereotip, serta mengembangkan empati dan sikap saling menghargai di tengah keberagaman. Pendekatan ini tidak hanya bersifat preventif terhadap diskriminasi, tetapi juga transformatif dalam menciptakan iklim sekolah yang inklusif dan aman. Simpulan utama menegaskan bahwa konseling multikultural merupakan instrumen krusial yang menuntut kompetensi konselor dalam mengenali bias budaya dan gender, guna mewujudkan lingkungan pendidikan yang adil dan mendukung aktualisasi diri seluruh siswa secara berkelanjutan.  
PELESTARIAN BUDAYA SALIM DAN UCAP SALAM SAAT BERTEMU GURU DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA Ida Safitri; Najlatun Naqiyah; Ari Khusumadewi
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i1.9352

Abstract

Culture is a vital entity passed down through generations. In the context of Indonesian education, the tradition of shaking hands and greetings holds a high urgency as a manifestation of noble character. This research is motivated by the need to strengthen character education in schools to address the decline in ethics and students' respect for educators. The main focus of this study is to analyze the implications of preserving the culture of shaking hands and greetings when meeting teachers on the formation of students' polite character. The research method applies a systematic literature study by reviewing various relevant journals over the past five years. The findings show that greetings are not merely verbal greetings, but contain a prayer for safety and a deep value of tolerance. The habit of shaking hands and greetings has consistently been proven to be able to shape polite behavior, improve the ethics of verbal and non-verbal communication, and strengthen emotional bonds and Islamic brotherhood between teachers and students. The main conclusion emphasizes that this cultural integration is very effective as an instrument for forming polite character, so it is worth preserving not only in the academic environment, but also implemented widely in students' social interactions in society. ABSTRAK Budaya merupakan entitas vital yang diwariskan secara turun-temurun, di mana dalam konteks pendidikan di Indonesia, tradisi salim dan mengucapkan salam memiliki urgensi tinggi sebagai manifestasi karakter luhur. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perlunya penguatan pendidikan karakter di sekolah guna menanggulangi penurunan etika dan rasa hormat siswa terhadap pendidik. Fokus utama kajian ini adalah menganalisis implikasi pelestarian budaya salim dan salam saat bertemu guru terhadap pembentukan karakter kesantunan siswa. Metode penelitian menerapkan studi literatur sistematik dengan menelaah berbagai jurnal relevan dalam rentang waktu lima tahun terakhir. Temuan menunjukkan bahwa salam tidak sekadar sapaan verbal, melainkan mengandung muatan doa keselamatan dan nilai toleransi yang mendalam. Pembiasaan salim dan salam secara konsisten terbukti mampu membentuk perilaku sopan santun, meningkatkan etika komunikasi verbal maupun non-verbal, serta mempererat hubungan emosional dan ukhuwah Islamiyah antara guru dan peserta didik. Simpulan utama menegaskan bahwa integrasi budaya ini sangat efektif sebagai instrumen pembentukan karakter yang santun, sehingga patut dilestarikan tidak hanya dalam lingkungan akademik, tetapi juga diimplementasikan secara luas dalam interaksi sosial siswa di masyarakat.    
EFEKTIVITAS KONSELING MULTIBUDAYA BERBASIS ART THERAPY DALAM REGULASI EMOSI SISWA SMP Reri Saputra; Najlatun Naqiyah; Ari Khusumadewi
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i1.9353

Abstract

Multicultural school environments require guidance and counseling services that are responsive to cultural diversity and students’ emotional dynamics. Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), as an Indonesian school abroad, accommodates junior high school students from diverse cultural backgrounds, which may contribute to emotional regulation challenges. This study aims to explore the role of multicultural counseling based on art therapy in supporting changes in students’ emotional regulation at Sekolah Indonesia Jeddah. The study employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through in-depth interviews with students, observations of counseling sessions, documentation of art therapy artifacts, and supporting interviews with guidance counselors and homeroom teachers. The research was conducted through three stages: pre-intervention (needs assessment), intervention in the form of multicultural counseling using art therapy, and post-intervention. Data were analyzed thematically to identify patterns of change in emotional regulation. The findings indicate improvements in emotional awareness, a shift from reactive to reflective emotional responses, the development of more adaptive emotional regulation strategies, more constructive management of social conflicts, and more positive interpretations of multicultural experiences. These findings suggest that integrating art therapy into multicultural counseling serves as an effective expressive and reflective medium for enhancing students’ emotional regulation. This study provides practical implications for the development of inclusive and culturally sensitive guidance and counseling services in multicultural school settings. ABSTRAK Lingkungan sekolah multibudaya menuntut layanan bimbingan dan konseling yang mampu merespons keberagaman latar budaya dan dinamika emosi siswa secara adaptif. Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ) sebagai sekolah Indonesia di luar negeri memiliki karakteristik siswa SMP yang heterogen, sehingga berpotensi memunculkan permasalahan regulasi emosi. Penelitian ini bertujuan untuk memaknai peran konseling multibudaya berbasis art therapy dalam mendukung perubahan regulasi emosi siswa SMP di Sekolah Indonesia Jeddah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan siswa, observasi proses konseling, dokumentasi artefak art therapy, serta wawancara pendukung dengan guru bimbingan dan konseling dan wali kelas. Penelitian dilaksanakan melalui tahapan pra-intervensi (asesmen kebutuhan), intervensi berupa konseling multibudaya berbasis art therapy, dan pasca-intervensi. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola perubahan regulasi emosi siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kesadaran emosi, pergeseran respons emosi dari reaktif ke reflektif, berkembangnya strategi regulasi emosi yang lebih adaptif, pengelolaan konflik sosial yang lebih konstruktif, serta pemaknaan yang lebih positif terhadap pengalaman multibudaya. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi art therapy dalam konseling multibudaya berfungsi sebagai media ekspresif dan reflektif yang efektif dalam mendukung regulasi emosi siswa. Penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi pengembangan layanan bimbingan dan konseling yang inklusif dan sensitif budaya di lingkungan sekolah multikultural.  
ANALISIS SOSIOLINGUISTIK VARIASI BAHASA DAN SISTEM SAPAAN DALAM INTERAKSI SOSIAL SANTRI Indah Purmasari; Muhammad Bagus Bagaskoro Angkasa; R. Panji Hermoyo
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i1.9354

Abstract

This study examines language variation and the use of forms of address in social interactions among students at Ibnu Utsman Boarding School, focusing on the ideologies embedded in and reproduced through everyday communicative practices within the pesantren environment. The study explores how linguistic practices reflect social values, politeness, and hierarchical relationships among students, male and female teachers (ustadz and ustadzah), and caregivers. A qualitative descriptive approach was employed using sociolinguistic discourse analysis, with data collected through participant observation of language use in various daily pesantren activities. The findings reveal the presence of socially and religiously loaded language variations and address systems, such as the use of ustadz and ustadzah for female teachers and ustad or buya for senior male teachers. In addition, pesantren-specific terms such as ngaos, storan hafalan, and ngaji binadhor were found to represent direct Qur’anic learning practices conducted face-to-face with teachers, indicating close pedagogical relationships between teachers and students. These language variations function not only as tools of communication but also as markers of politeness norms, group identity, and hierarchical structures within the pesantren community, contributing to the formation of harmonious and ethical social relations in Islamic Boarding School education. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji variasi bahasa dan penggunaan sapaan dalam interaksi sosial santri di Ibnu Utsman Boarding School dengan fokus pada ideologi yang terkandung dan direproduksi melalui praktik komunikasi sehari-hari di lingkungan pesantren. Kajian ini menelaah cara berbahasa santri yang merefleksikan nilai-nilai sosial, kesantunan, serta hubungan hierarkis antara santri, ustadz, ustadzah, dan pengasuh. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis wacana sosiolinguistik, sedangkan data dikumpulkan melalui observasi partisipatif terhadap interaksi kebahasaan dalam berbagai aktivitas rutin pesantren. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi bahasa dan sistem sapaan yang sarat muatan sosial dan religius, seperti penggunaan sapaan ustadz dan ustadzah untuk guru perempuan serta ustad atau buya untuk guru laki-laki senior. Selain itu, ditemukan istilah khas pesantren seperti ngaos, storan hafalan, dan ngaji binadhor yang merepresentasikan pembelajaran Al-Qur’an secara langsung di hadapan guru dan menunjukkan kedekatan relasi antara pengajar dan santri. Variasi bahasa tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menegaskan norma kesantunan, identitas kelompok, dan struktur hierarki dalam komunitas pesantren, sehingga penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam memahami peran bahasa dalam membentuk relasi sosial yang harmonis dan beradab di lingkungan pendidikan pesantren.