cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran
ISSN : 27770583     EISSN : 27770575     DOI : https://doi.org/10.51878/learning.v1i2.376
Core Subject : Education,
LEARNING : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran diterbitkan 4 kali setahun (Februari, Mei, Agustus, dan November) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berada dibawah naungan Yayasan Insan Cendekia Indonesia Raya dan berafiliasi dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Hamzanwadi, MKKS SMP Negeri Kab. Lombok Timur dan Ikatan Guru Indonesia Kab. Tulang Bawang. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 739 Documents
PENERAPAN METODE TOTAL PHYSICAL RESPONSE TERINTEGRASI STORYTELLING DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN KATA KERJA BAHASA ARAB PADA SISWA MADRASAH IBTIDAIYAH Indah Rahma Zulikha; Resy Mulyani
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.13191

Abstract

Arabic language learning in Islamic elementary schools remains dominated by conventional methods that provide limited physical engagement and, therefore, have not optimally accommodated students’ learning characteristics. Although the Total Physical Response (TPR) method has been widely applied in Arabic vocabulary instruction, studies specifically examining Arabic verb (fi'il) comprehension among students in Islamic elementary schools within tahfidz Islamic boarding school settings remain limited. This study offers novelty through the implementation of the TPR method integrated with storytelling to improve students’ understanding of fi'il. The study aimed to analyze the implementation of the TPR method integrated with storytelling in improving Arabic verb comprehension among students at MI Pondok Pesantren Tahfidz Al-Manshurah Pekanbaru. The study employed a quantitative approach with a quasi-experimental non-equivalent control group design. Data were collected through pretests and posttests and analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test, Mann–Whitney U Test, and N-Gain analysis. The findings showed that the experimental group demonstrated greater improvement in fi'il comprehension than the control group. The improvement in the experimental group was statistically significant based on the Wilcoxon Signed-Rank Test, with a significance value of 0.002. However, the Mann–Whitney U Test indicated that the difference in learning outcomes between the two groups did not reach statistical significance at the 5% level (p = 0.056). The experimental group also obtained higher mean posttest and N-Gain scores than the control group. Therefore, the implementation of the TPR method integrated with storytelling demonstrated a positive tendency to improve Arabic verb comprehension, although its effectiveness compared with conventional instruction requires further investigation. ABSTRAK Pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah masih didominasi metode konvensional yang kurang melibatkan aktivitas fisik sehingga belum optimal mendukung karakteristik belajar siswa. Meskipun metode Total Physical Response (TPR) telah banyak diterapkan dalam pembelajaran kosakata bahasa Arab, penelitian yang secara khusus mengkaji pemahaman kata kerja (fi'il) pada Madrasah Ibtidaiyah berbasis pesantren tahfidz masih terbatas. Penelitian ini menawarkan kebaruan melalui penerapan metode TPR yang diintegrasikan dengan storytelling untuk meningkatkan pemahaman fi'il. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan metode TPR yang diintegrasikan dengan storytelling dalam meningkatkan pemahaman kata kerja bahasa Arab pada siswa MI Pondok Pesantren Tahfidz Al-Manshurah Pekanbaru.  Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental tipe non-equivalent control group. Data dikumpulkan melalui pretest dan posttest, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test, Mann-Whitney U, dan N-Gain Score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas eksperimen mengalami peningkatan pemahaman fi'il yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Peningkatan pada kelas eksperimen terbukti signifikan berdasarkan hasil uji Wilcoxon Signed-Rank Test dengan nilai signifikansi 0,002. Namun, hasil uji Mann–Whitney U menunjukkan bahwa perbedaan hasil belajar antara kedua kelompok belum mencapai signifikansi statistik pada taraf 5% (p = 0,056). Nilai rata-rata posttest dan N-Gain kelas eksperimen juga lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Dengan demikian, penerapan metode TPR yang dipadukan dengan storytelling menunjukkan kecenderungan peningkatan pemahaman kata kerja bahasa Arab yang lebih baik, tetapi efektivitasnya dibandingkan pembelajaran konvensional masih memerlukan pengujian lebih lanjut.
PENGARUH MODEL COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) TERHADAP KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KELAS 2 SEKOLAH DASAR Maherindah Aprilia Mangunsong; Agustina Tyas Asri Hardini
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.13446

Abstract

ABSTRACT Elementary school students’ reading comprehension skills remain relatively low. Students are generally able to read texts but experience difficulties in understanding the content, drawing conclusions, and answering implicit questions. This condition indicates the need for the implementation of a learning model that can enhance students’ engagement in comprehending reading texts. The Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) learning model was selected as an alternative to address this problem. This study aimed to determine the effect of implementing the CIRC learning model on the reading comprehension skills of second-grade elementary school students. This research employed a quantitative approach with a quasi-experimental method and a Nonequivalent Control Group Design. The sample consisted of 52 second-grade students at SD Negeri Salatiga 02, selected using purposive sampling. Data were collected through observation and essay tests, then analyzed using normality tests, homogeneity tests, Independent Samples t-Test, and N-Gain Score with the assistance of IBM SPSS Statistics 31. The results showed that the experimental class achieved an average posttest score of 83.58, which was higher than the control class score of 78.85. The Independent Samples t-Test resulted in a significance value of 0.011 < 0.05, indicating that the CIRC model had a significant effect on students’ reading comprehension skills. The N-Gain Score analysis showed that the experimental class was categorized as moderately effective, while the control class was categorized as less effective. The implementation of the CIRC model improved students’ ability to comprehend reading texts through reading activities, discussions, and group collaboration. Therefore, the CIRC model can be used as an alternative approach in Indonesian language learning to improve elementary school students’ reading comprehension skills. ABSTRAK Kemampuan membaca pemahaman siswa sekolah dasar masih tergolong rendah. Siswa umumnya mampu membaca teks, tetapi mengalami kesulitan memahami isi bacaan, menarik kesimpulan, serta menjawab pertanyaan tersirat. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penerapan model pembelajaran yang mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam memahami teks bacaan. Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) dipilih sebagai alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan Model Pembelajaran CIRC terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa kelas 2 sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis quasi eksperimen dan desain Nonequivalent Control Group Design. Sampel penelitian berjumlah 52 siswa kelas 2 SD Negeri Salatiga 02 yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi dan tes uraian, kemudian dianalisis menggunakan uji normalitas, homogenitas, Independent Samples t-Test, dan N-Gain Score berbantuan IBM SPSS Statistics 31. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata posttest kelas eksperimen mencapai 83,58, lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 78,85. Uji Independent Samples t-Test menghasilkan nilai signifikansi 0,011 < 0,05, sehingga terdapat pengaruh signifikan model CIRC terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa. Analisis N-Gain Score menunjukkan kelas eksperimen berada pada kategori cukup efektif, sedangkan kelas kontrol kurang efektif. Penerapan model CIRC mampu meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan melalui kegiatan membaca, berdiskusi, dan bekerja sama dalam kelompok. Dengan demikian, model CIRC dapat dijadikan alternatif pembelajaran Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa sekolah dasar.
DAMPAK SISTEM EVALUASI KINERJA GURU TERBARU (E-KINERJA BKN) PADA MOTIVASI DAN PROFESIONALISME GURU: STUDI FENOMENOLOGI DI SD GUGUS 1 KECAMATAN MUARA PADANG Endri Purnomo; Reva Maria Valianti; Djunaidi Djunaidi
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.13702

Abstract

ABSTRACT The implementation of a nationally standardized digital performance management system through e-Kinerja BKN presents particular challenges for schools in tidal areas with limited infrastructure, particularly in maintaining teachers’ motivation and professionalism dynamics. This study aims to analyze and describe the impact of the e-Kinerja BKN evaluation system implementation on teachers’ motivation and professionalism dynamics during the planning, implementation, and supervision phases at SDN 12 Muara Padang, Muara Padang District. This study employs a qualitative approach with a phenomenological design. Data collection was conducted through in-depth interviews, non-participant observation, and documentation studies involving the school principal, senior teachers, junior teachers, PPPK teachers, and school operators. The results, analyzed using Herzberg's Two-Factor Theory, indicate that the implementation of e-Kinerja is dominated by hygiene factors (such as procedural compliance and fear of performance allowance deductions), which shifts intrinsic pedagogical motivation into mere administrative routines. Unstable internet network and electricity supply constraints trigger technostress (techno-overload and techno-uncertainty) among teachers and create the phenomenon of an invisible labor burden borne by school operators. In conclusion, the e-Kinerja system has the potential to reconstruct teachers' professional identities from substantive professionalism to administrative professionalism, where performance is evaluated more by digital data displays rather than the actual impact of learning in the classroom. ABSTRAK Penerapan sistem manajemen kinerja digital yang seragam secara nasional melalui e-Kinerja BKN menghadirkan tantangan tersendiri bagi sekolah di wilayah pasang surut dengan keterbatasan infrastruktur, terutama dalam menjaga dinamika motivasi dan profesionalisme guru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan dampak implementasi sistem evaluasi e-Kinerja BKN terhadap dinamika motivasi dan profesionalisme guru pada fase perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan di SDN 12 Muara Padang, Kecamatan Muara Padang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan studi dokumentasi terhadap informan yang terdiri dari kepala sekolah, guru senior, guru junior, guru PPPK, dan operator sekolah. Hasil penelitian, yang dianalisis menggunakan Teori Dua Faktor Herzberg, menunjukkan bahwa implementasi e-Kinerja mendominasi faktor hygiene (seperti kepatuhan prosedural dan ketakutan pemotongan tunjangan kinerja), sehingga menggeser motivasi intrinsik pedagogis menjadi rutinitas kewajiban administratif semata. Kendala infrastruktur berupa jaringan internet dan pasokan listrik yang tidak stabil memicu technostress (techno-overload dan techno-uncertainty) pada guru dan memunculkan fenomena beban kerja tak terlihat (invisible labor) yang ditanggung oleh operator sekolah. Kesimpulannya, sistem e-Kinerja berpotensi merekonstruksi identitas profesional guru dari profesionalisme substantif menuju profesionalisme administratif, di mana kinerja lebih diukur dari tampilan data pada sistem dibandingkan dampak nyata pembelajaran di ruang kelas.
STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN AGAMA ISLAM SISWA DI SD Nurlia Difinubun; Siti Nur Hidayatul Hasanah
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14007

Abstract

Education requires instructional strategies that actively engage students in constructing knowledge and relating learning materials to real-life situations. One such approach is Problem-Based Learning (PBL). This study aimed to describe the implementation of Problem-Based Learning in Islamic Religious Education at SD Negeri Larat Kei Besar, Southeast Maluku. The study employed a descriptive qualitative approach, with data collected through observations, interviews, and documentation. Data were analyzed using the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that the teacher implemented PBL by presenting authentic problems related to students' daily lives, followed by group discussions, presentations, and reflective activities. This learning strategy encouraged students' active participation, facilitated their understanding of Islamic Religious Education within real-life contexts, and provided opportunities for discussion and collaborative problem-solving. The study also identified several challenges, including limited instructional time, differences in students' analytical abilities, and unequal participation during group discussions. These findings indicate that PBL can be implemented as a contextual instructional strategy in Islamic Religious Education, provided that learning activities are managed effectively to support active participation from all students. ABSTRAK Pendidikan memerlukan strategi pembelajaran yang mampu mendorong keterlibatan aktif siswa dalam memahami materi serta mengaitkannya dengan situasi kehidupan sehari-hari. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah Problem-Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan strategi Problem-Based Learning pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Negeri Larat Kei Besar, Maluku Tenggara. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI menerapkan PBL melalui penyajian permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, diskusi kelompok, presentasi hasil, dan refleksi pembelajaran. Penerapan strategi tersebut mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran, memfasilitasi siswa untuk menghubungkan materi PAI dengan konteks kehidupan nyata, serta memberikan ruang bagi siswa untuk mengemukakan pendapat dan berdiskusi dalam memecahkan masalah. Penelitian juga mengidentifikasi beberapa kendala dalam pelaksanaan PBL, yaitu keterbatasan waktu pembelajaran, perbedaan kemampuan analisis antarsiswa, dan tingkat partisipasi yang belum merata dalam diskusi kelompok. Temuan ini menunjukkan bahwa PBL dapat diterapkan sebagai salah satu strategi pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran PAI, dengan dukungan pengelolaan pembelajaran yang sesuai agar seluruh siswa dapat berpartisipasi secara optimal.
IMPLEMENTASI PROGRAM SATU HARI BACA TULIS PEKAN NARASI (SAHABAT PENA) DI KELAS V SD Nurul Aini Lailatul Nisaa; Muawwinatul Laili; Mohammad Setyo Wardono
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14031

Abstract

Literacy is one of the essential competencies that should be developed from the elementary school level to enhance students' reading, writing, critical thinking, and information comprehension skills. However, the implementation of the School Literacy Movement (Gerakan Literasi Sekolah or GLS) in many schools still faces challenges, including low reading interest among students, limited reading materials, and insufficient teacher guidance during literacy activities. To address these challenges, SD Futuhiyah developed the Satu Hari Baca Tulis Pekan Narasi (SAHABAT PENA) program as a school literacy initiative. This study aims to describe the implementation of the Satu Hari Baca Tulis Pekan Narasi (SAHABAT PENA) program a school literacy initiative in the fifth-grade class at SD Futuhiyah. The subjects of the study were fifth-grade students and their teacher. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through observation, interviews, and documentation. The results indicate that the SAHABAT PENA program was implemented in three stages, in accordance with the 2016 Ministry of Education and Culture guidelines for the School Literacy Movement (GLS) in elementary schools: the habituation stage, involving the reading of print and digital books using the Sustained Silent Reading technique; the development stage, involving the completion of reading journals that include summaries, the ADiKSiMBa elements (What, Where, When, Who, Why, and How), and moral messages; and the learning stage, which integrates scanning and skimming techniques into Indonesian Language and Pancasila Education lessons. The school also provides academic recognition to motivate students to read. The researcher concludes that the program has been successfully implemented at SD Futuhiyah; however, its effectiveness could be further maximized if teachers provided more intensive guidance particularly when students are searching for book titles and authors or reading online news and if the school expanded its reading book collection and made better use of classroom reading corners. ABSTRAK Literasi merupakan salah satu kompetensi dasar yang perlu dikembangkan sejak jenjang sekolah dasar untuk meningkatkan kemampuan membaca, menulis, berpikir kritis, dan memahami informasi. Namun, pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di berbagai sekolah masih menghadapi tantangan, seperti rendahnya minat baca peserta didik, keterbatasan bahan bacaan, serta belum optimalnya pendampingan guru dalam kegiatan literasi. Sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut, SD Futuhiyah mengembangkan program Satu Hari Baca Tulis Pekan Narasi (SAHABAT PENA) sebagai salah satu kegiatan literasi sekolah.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi program Satu Hari Baca Tulis Pekan Narasi (SAHABAT PENA) di kelas V SD Futuhiyah sebagai kegiatan literasi sekolah. Subjek yang diteliti terdiri dari peserta didik kelas V serta guru kelas V. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program SAHABAT PENA diimplementasikan melalui tiga tahap sesuai dengan panduan GLS di Sekolah Dasar oleh Kemendikbud tahun 2016 yaitu: tahap pembiasaan melalui kegiatan membaca buku cetak dan digital dengan teknik dalam hati berkelanjutan (Sustained Silent Reading); tahap pengembangan melalui pengisian jurnal dengan ringkasan, unsur ADiKSiMBa (Apa, Dimana, Kapan, Siapa, Mengapa, dan Bagaimana), dan pesan moral; serta tahap pembelajaran dengan membaca menggunakan teknik membaca memindai (Scanning) dan membaca cepat (Skimming) ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Pancasila. Sekolah juga memberikan penghargaan secara akademik sebagai bentuk memotivasi peserta didik untuk membaca. Peneliti menyimpulkan bahwa program ini sudah berjalan dengan baik di SD Futuhiyah. Namun, akan jauh lebih maksimal jika guru mendampingi dan memberikan bimbingan lebih intens saat peserta didik mencari judul dan nama pengarang buku serta saat membaca teks berita lewat internet, sekolah menambah koleksi buku bacaan dan memanfaatkan sudut baca kelas dengan baik.
PENGARUH MODEL GUIDED DISCOVERY LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA MATERI MAGNET DAN LISTRIK MELALUI GENERATOR SEDERHANA KELAS V SDI Khoiriyah Khoiriyah; Arie Widya Murni; Hikmah Luqiyah Kartikasari
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14182

Abstract

This study was motivated by the low level of students' critical thinking skills, which was attributed to the dominance of conventional teacher-centered learning. This condition limited students' active participation in the learning process, resulting in insufficient opportunities to analyze, evaluate, and construct conceptual understanding. This study aimed to examine the effect of the Guided Discovery Learning model on students' critical thinking skills. A quantitative approach with a Quasi-Experimental Design using a Non-Equivalent Control Group Design was employed. The sample consisted of 25 students in the experimental class and 25 students in the control class. Data were collected using pretest and posttest instruments. Data analysis included the Shapiro–Wilk normality test, Levene's Test for homogeneity, and the Independent Samples t-test. The results showed that the mean pretest score of the control class was 47.64, while that of the experimental class was 55.76. After the treatment, the mean posttest score increased to 56.96 in the control class and 72.96 in the experimental class. The normality test indicated that all data were normally distributed, while the homogeneity test produced a significance value of 0.956 (p > 0.05), indicating homogeneous variances. Furthermore, the Independent Samples t-test yielded a t-value of -7.706 with a significance value of 0.000, indicating a significant effect of the Guided Discovery Learning model on students' critical thinking skills. Therefore, the Guided Discovery Learning model can be considered an effective instructional alternative for improving elementary school students' critical thinking skills on the topic of magnets and electricity. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa yang disebabkan oleh dominasi pendekatan pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru (teacher-centered learning). Kondisi tersebut mengakibatkan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran belum optimal sehingga kemampuan mereka dalam menganalisis, mengevaluasi, dan mengonstruksi pemahaman terhadap materi pembelajaran masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan model pembelajaran Guided Discovery Learning terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan Quasi Experimental Design berbentuk Non-Equivalent Control Group Design. Sampel penelitian terdiri atas 25 siswa pada kelas eksperimen dan 25 siswa pada kelas kontrol. Data dikumpulkan menggunakan instrumen tes berupa pretest dan posttest. Analisis data meliputi uji normalitas Shapiro–Wilk, uji homogenitas Levene's Test, dan uji hipotesis menggunakan Independent Samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai pretest kelas kontrol sebesar 47,64, sedangkan kelas eksperimen sebesar 55,76. Setelah diberikan perlakuan, rata-rata nilai posttest kelas kontrol meningkat menjadi 56,96, sedangkan kelas eksperimen meningkat menjadi 72,96. Hasil uji normalitas menunjukkan seluruh data berdistribusi normal, sedangkan uji homogenitas menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,956 (p > 0,05), sehingga varians kedua kelompok dinyatakan homogen. Hasil Independent Samples t-test menunjukkan nilai t hitung sebesar -7,706 dengan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000, sehingga |t hitung| (7,706) > t tabel (2,011) dan 0,000 < 0,05. Dengan demikian, H₀ ditolak dan H₁ diterima, yang menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Guided Discovery Learning berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Oleh karena itu, model pembelajaran Guided Discovery Learning dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi magnet dan listrik di sekolah dasar.
PENGEMBANGAN MODEL MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN DAN IMPLEMENTASINYA PADA PELATIHAN DASAR KEMILITERAN KOMPONEN CADANGAN Ansori Zaini; I Wayan Warka
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14374

Abstract

Curriculum management is a fundamental element in ensuring the effectiveness and sustainability of educational programs, including strategic education related to national defense and state resilience. Basic Military Training for the Reserve Component, as part of the Total Defense System, requires curriculum management that is not solely oriented toward military operational needs but is also aligned with systematic, adaptive, and sustainable educational curriculum management principles. However, studies that specifically develop a general model of educational curriculum management and examine its implementation in the context of Reserve Component training remain limited. This study aims to develop an educational curriculum management model and analyze its implementation in the Basic Military Training of the Reserve Component in Indonesia. This study employs a qualitative approach with a normative–empirical research design. Normative data were obtained through an analysis of the Regulation of the Minister of Defense of the Republic of Indonesia Number 4 of 2021 concerning the Curriculum for Basic Military Training of the Reserve Component. Empirical data were collected through in-depth interviews with the Head of the Reserve Component Division at the Ministry of Defense of the Republic of Indonesia. Data analysis was conducted using thematic analysis, encompassing the stages of curriculum planning, organizing, implementation, and evaluation as the core framework of educational curriculum management. The findings indicate that the curriculum management of the Basic Military Training for the Reserve Component has been systematically structured by integrating character and attitude development, knowledge and skills enhancement, and military physical training. Nevertheless, the implementation of the curriculum faces several challenges, particularly related to curriculum adaptability to the dynamics of modern defense threats, limitations in training resources, and the absence of a continuous curriculum renewal mechanism. Based on these findings, this study proposes a conceptual and applicative model of educational curriculum management that can be implemented in Reserve Component training and is also relevant for the development of other forms of strategic education. This model is expected to contribute to strengthening curriculum governance in state defense education. ABSTRAK Manajemen kurikulum merupakan aspek fundamental dalam penyelenggaraan pendidikan, termasuk pada pendidikan strategis yang berorientasi pada bela negara dan pertahanan. Pelatihan Dasar Kemiliteran Komponen Cadangan sebagai bagian dari Sistem Pertahanan Semesta membutuhkan pengelolaan kurikulum yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan kemiliteran, tetapi juga selaras dengan prinsip-prinsip manajemen kurikulum pendidikan yang sistematis, adaptif, dan berkelanjutan. Namun, kajian yang mengembangkan model manajemen kurikulum pendidikan dan mengimplementasikannya secara komprehensif pada pelatihan Komponen Cadangan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model manajemen kurikulum pendidikan serta menganalisis implementasinya pada Pelatihan Dasar Kemiliteran Komponen Cadangan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain normatif–empiris. Data normatif diperoleh melalui analisis Peraturan Menteri Pertahanan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2021 tentang Kurikulum Pelatihan Dasar Kemiliteran Komponen Cadangan, sedangkan data empiris dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan Kepala Bagian Komponen Cadangan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik yang mencakup tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum sebagai kerangka utama manajemen kurikulum pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen kurikulum Pelatihan Dasar Kemiliteran Komponen Cadangan telah disusun secara terstruktur dengan mengintegrasikan pembinaan sikap dan perilaku, pengembangan pengetahuan dan keterampilan, serta pembinaan jasmani militer. Meskipun demikian, implementasi kurikulum masih menghadapi tantangan, terutama terkait dengan adaptasi kurikulum terhadap dinamika ancaman pertahanan modern, keterbatasan sumber daya pelatihan, serta mekanisme pembaruan kurikulum yang berkelanjutan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menghasilkan model manajemen kurikulum pendidikan yang bersifat konseptual dan aplikatif, yang dapat diimplementasikan pada Pelatihan Dasar Kemiliteran Komponen Cadangan serta relevan bagi pengembangan kurikulum pendidikan strategis lainnya.
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA PENDIDIKAN EKONOMI DENGAN MODEL PROBLEM-BASED LEARNING BERBANTUAN SIMULASI DILEMA ETIKA BISNIS Yusuf Yusuf; Tansini Tansini; Fitriani S Fitriani; Ambo Rappe
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.13809

Abstract

ABSTRACT Critical thinking is an essential competency for Economics Education students to analyze problems, evaluate alternative solutions, and make sound decisions when facing complex business ethics dilemmas. However, preliminary observations revealed that students' critical thinking skills in the Business Ethics course were still inadequate, particularly in connecting theoretical concepts with the resolution of authentic business cases. This study aimed to examine the improvement of students' critical thinking skills through the implementation of the Problem-Based Learning (PBL) model supported by business ethics dilemma simulations. The study employed a quantitative approach using a quasi-experimental design. The participants consisted of 41 Economics Education students enrolled in the Business Ethics course. Data were collected using a critical thinking skills test comprising ten essay questions based on business ethics cases and an observation sheet assessing students' critical thinking performance. The data were analyzed using descriptive and inferential statistical techniques to determine changes in students' critical thinking skills following the implementation of the learning model. The findings indicate that the implementation of Problem-Based Learning assisted by business ethics dilemma simulations significantly improved students' critical thinking skills across all measured indicators. These results suggest that integrating problem-based learning with contextual simulation activities provides more meaningful learning experiences, promotes active student engagement, and strengthens analytical as well as ethical decision-making abilities. Therefore, this instructional model can serve as an innovative alternative for enhancing the quality of Business Ethics learning in higher education. ABSTRAK Kemampuan berpikir kritis merupakan kompetensi esensial yang perlu dimiliki mahasiswa Pendidikan Ekonomi untuk menganalisis persoalan, mengevaluasi berbagai alternatif, serta mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi dilema etika bisnis. Namun, hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis mahasiswa pada mata kuliah Etika Bisnis masih belum optimal, terutama dalam menghubungkan konsep teoretis dengan penyelesaian kasus nyata. Penelitian ini bertujuan menganalisis peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa melalui penerapan model Problem-Based Learning (PBL) berbantuan simulasi dilema etika bisnis. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental. Sampel penelitian berjumlah 41 mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi yang menempuh mata kuliah Etika Bisnis. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan berpikir kritis berupa sepuluh soal esai berbasis kasus etika bisnis dan lembar observasi aktivitas berpikir kritis. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan inferensial untuk menguji perubahan kemampuan berpikir kritis setelah penerapan model pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem-Based Learning berbantuan simulasi dilema etika bisnis mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa secara signifikan pada berbagai indikator yang diukur. Temuan ini mengindikasikan bahwa integrasi pembelajaran berbasis masalah dengan simulasi kontekstual memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna, meningkatkan partisipasi aktif mahasiswa, serta memperkuat kemampuan analisis dan pengambilan keputusan etis. Dengan demikian, model pembelajaran ini layak dijadikan alternatif inovasi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Etika Bisnis di perguruan tinggi.
PENGARUH REWARD DALAM MODEL NUMBERED HEADS TOGETHER TERHADAP MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN PANCASILA SISWA KELAS IV SD Ramanda Eko Saputri; Fakhrur Rozy; Arif Nur Hidayat
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14539

Abstract

This study aims to determine the effect of rewards in the Numbered Heads Together (NHT) learning model on students' motivation and learning outcomes in Pancasila Education. The study employs a quantitative approach with a pre-experimental One Group Pretest-Posttest Design. The sample consisted of 24 fourth-grade students of SDN Banjarbendo selected through saturated sampling. Data were collected using a learning motivation questionnaire and learning outcome tests and analyzed through descriptive statistics, the Shapiro-Wilk normality test, and the Wilcoxon Signed Rank Test using SPSS Statistics 20. The results showed that the mean motivation score increased from 68.29 to 74.92, while the mean learning outcome score increased from 75.42 to 88.33. The Wilcoxon test yielded an Asymp. Sig. (2-tailed) value of 0.000 < 0.05 for both variables. It can be concluded that rewards integrated into the NHT learning model significantly improve students' motivation and learning outcomes. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian reward dalam model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) terhadap motivasi dan hasil belajar Pendidikan Pancasila siswa kelas IV SDN Banjarbendo. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen dan desain One Group Pretest-Posttest. Sampel penelitian berjumlah 24 siswa yang dipilih melalui sampling jenuh. Data diperoleh melalui angket motivasi belajar dan tes hasil belajar, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro-Wilk, dan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan bantuan SPSS Statistics 20. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata motivasi belajar meningkat dari 68,29 menjadi 74,92, sedangkan hasil belajar meningkat dari 75,42 menjadi 88,33. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05 pada kedua variabel. Temuan ini menunjukkan bahwa pemberian reward dalam model pembelajaran NHT berpengaruh signifikan terhadap peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila.