cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS
ISSN : 27979431     EISSN : 27978842     DOI : https://doi.org/10.51878/social.v1i2.447
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan IPS.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 574 Documents
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBELAJARAN DEEP LEARNING DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN IPS Erric Kondo; Herman Philips Dolonseda; Dhea Jessica Sendiang; Verry Ronny Palilingan
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9380

Abstract

This study aims to explore the factors influencing deep learning in developing critical thinking skills among students in the Social Studies Education Department at Manado State University. Using a qualitative approach with a case study design, this study involved five students (M1-M5) and three lecturers (D1-D3) as participants. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using thematic analysis. The findings revealed four main factors influencing deep learning: (1) the lecturer's pedagogical strategy as a facilitator of higher-order thinking, with an emphasis on Socratic questioning, problem-based learning, and contextual case analysis; (2) students' intrinsic motivation and self-regulation, which demonstrate the crucial role of individual initiative in the construction of deep understanding; (3) the learning environment and social interactions, which create a zone of proximal development through collaborative discussions and peer feedback; and (4) structural and cultural barriers, including large class sizes, conventional assessment systems, and a culture of shyness that limits the expression of critical thinking. This study concludes that deep learning is a systemic phenomenon resulting from a complex interaction between pedagogical, psychological, social, and contextual factors. Theoretical implications point to the need to adapt Western learning theories to the Indonesian sociocultural context, while practical implications emphasize the importance of multi-level interventions to optimize deep learning and the development of critical thinking in higher education.   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran deep learning dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa Jurusan Pendidikan IPS Universitas Negeri Manado. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, penelitian ini melibatkan lima mahasiswa (M1-M5) dan tiga dosen (D1-D3) sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Temuan mengungkap empat faktor utama yang mempengaruhi pembelajaran mendalam: (1) strategi pedagogik dosen sebagai fasilitator berpikir tingkat tinggi, dengan penekanan pada pertanyaan Socratic, problem-based learning, dan analisis kasus kontekstual; (2) motivasi intrinsik dan regulasi diri mahasiswa, yang menunjukkan peran krusial inisiatif individu dalam konstruksi pemahaman mendalam; (3) lingkungan pembelajaran dan interaksi sosial, yang menciptakan zona perkembangan proksimal melalui diskusi kolaboratif dan peer feedback; serta (4) hambatan struktural dan kultural, termasuk ukuran kelas besar, sistem asesmen konvensional, dan budaya malu berpendapat yang membatasi ekspresi berpikir kritis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran mendalam merupakan fenomena sistemik yang dihasilkan dari interaksi kompleks antara faktor pedagogik, psikologis, sosial, dan kontekstual. Implikasi teoretis menunjukkan perlunya adaptasi teori pembelajaran Barat ke konteks sosiokultural Indonesia, sementara implikasi praktis menekankan pentingnya intervensi multi-level untuk mengoptimalkan pembelajaran mendalam dan pengembangan berpikir kritis di pendidikan tinggi.  
KUALITAS PENGAJARAN DAN EFIKASI DIRI SEBAGAI DETERMINAN PRESTASI AKADEMIK MAHASISWA PENDIDIKAN AKUNTANSI Farah Oktavia Azhar; Nazifa Devlani; Esi Andina Febriyana Siregar
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9381

Abstract

The suboptimal academic achievement of Accounting Education students at Jakarta State University is often influenced by internal and external factors, particularly self-efficacy and teaching quality. This study aims to analyze the influence of teaching quality and self-efficacy on student academic achievement. Using a quantitative approach with a survey method, the study involved 42 active students from the 2022–2024 intake as a sample. Data were collected through a structured questionnaire and analyzed using the Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) method after undergoing validity and reliability tests. The study findings indicate that teaching quality has a significant effect on the intervening variable with a path coefficient of 0.348 and a p-value of 0.018, while self-efficacy has a more dominant influence with a path coefficient of 0.568 and a p-value of 0.000. Although both variables contribute positively to the learning process, further analysis revealed that the intervening variable has not significantly affected GPA directly with a p-value of 0.059. The main conclusion of this study confirms that although the quality of teaching and self-efficacy are crucial in supporting the learning process, the achievement of GPA as the final indicator of academic achievement is multidimensional and influenced by other factors outside this research model. ABSTRAK Prestasi akademik mahasiswa Pendidikan Akuntansi di Universitas Negeri Jakarta yang belum optimal sering kali dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, khususnya efikasi diri dan kualitas pengajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas pengajaran dan efikasi diri terhadap prestasi akademik mahasiswa. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, penelitian melibatkan 42 mahasiswa aktif angkatan 2022–2024 sebagai sampel. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) setelah melalui uji validitas dan reliabilitas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kualitas pengajaran berpengaruh signifikan terhadap variabel intervening dengan koefisien jalur sebesar 0,348 dan nilai p 0,018, sementara efikasi diri memiliki pengaruh yang lebih dominan dengan koefisien jalur 0,568 dan nilai p 0,000. Meskipun kedua variabel tersebut berkontribusi positif terhadap proses pembelajaran, analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa variabel intervening belum berpengaruh signifikan terhadap IPK secara langsung dengan nilai p 0,059. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa meskipun kualitas pengajaran dan efikasi diri krusial dalam mendukung proses pembelajaran, pencapaian IPK sebagai indikator akhir prestasi akademik bersifat multidimensional dan dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian ini.
PENGARUH GAMIFIKASI TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP PENGANGGARAN DALAM AKUNTANSI MANAJEMEN DENGAN MOTIVASI BELAJAR SEBAGAI VARIABEL MEDIASI PADA MAHASISWA PENDIDIKAN AKUNTANSI Fitriyana Syawalin; Andra Tabah Kurniawan; Ardita Fathna Ramadhanti; Arini Puspita Sari; Khaylila Aydin Nhestia; Kyra Putri
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9382

Abstract

The complexity of the numerical and analytical nature of budgeting material in Management Accounting courses often hinders students from achieving comprehensive understanding, primarily due to the dominance of conventional learning methods that minimize active engagement. This study aims to analyze the effect of gamification implementation on understanding budgeting concepts by positioning learning motivation as a mediating variable. Using a quantitative approach with an explanatory design, the study involved 154 Accounting Education students from the 2022–2024 intake at Jakarta State University, selected through a purposive sampling technique. Data were collected using a questionnaire and analyzed through linear regression and the Sobel test using SPSS. Empirical findings indicate that gamification significantly influences conceptual understanding with a regression coefficient of 0.232, and positively impacts learning motivation. Learning motivation proved to be the dominant predictor with a coefficient of 0.423 on conceptual understanding. Simultaneously, both variables contributed significantly with a calculated F value of 32.762 and an Adjusted R Square of 29.3%. Path analysis confirmed that learning motivation partially mediates the relationship between gamification and conceptual understanding. The main conclusion confirms that gamification integration not only directly improves conceptual understanding, but also strengthens learning motivation which is crucial for optimizing learning outcomes, so this strategy is recommended as a pedagogical innovation in accounting education. ABSTRAK Kompleksitas materi penganggaran yang bersifat numerik dan analitis dalam mata kuliah Akuntansi Manajemen sering kali menjadi hambatan bagi mahasiswa untuk mencapai pemahaman komprehensif, terutama akibat dominasi metode pembelajaran konvensional yang minim keterlibatan aktif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penerapan gamifikasi terhadap pemahaman konsep penganggaran dengan menempatkan motivasi belajar sebagai variabel mediasi. Menggunakan pendekatan kuantitatif berdesain eksplanatori, penelitian melibatkan 154 mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Jakarta angkatan 2022–2024 yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis melalui regresi linier serta uji sobel berbantuan SPSS. Temuan empiris menunjukkan bahwa gamifikasi berpengaruh signifikan terhadap pemahaman konsep dengan koefisien regresi 0,232, serta berdampak positif pada motivasi belajar. Motivasi belajar terbukti menjadi prediktor dominan dengan koefisien 0,423 terhadap pemahaman konsep. Secara simultan, kedua variabel berkontribusi signifikan dengan nilai F hitung sebesar 32,762 dan Adjusted R Square sebesar 29,3%. Analisis jalur mengonfirmasi bahwa motivasi belajar memediasi secara parsial hubungan antara gamifikasi dan pemahaman konsep. Simpulan utama menegaskan bahwa integrasi gamifikasi tidak hanya meningkatkan pemahaman konseptual secara langsung, tetapi juga memperkuat motivasi belajar yang krusial bagi optimalisasi hasil belajar, sehingga strategi ini direkomendasikan sebagai inovasi pedagogis dalam pendidikan akuntansi.
MENINGKATKAN INTERAKSI SOSIAL MELALUI KEGIATAN BUDAYA RUTINAN YASIN–TAHLIL Muhammad Rifki Adam; Ari Kusumadewi; Najlatun Naqiyah
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9383

Abstract

Social interaction is the primary foundation for creating a harmonious and cohesive society. In the context of modernization, globalization, and the development of individualistic lifestyles, as well as the intensity of social interactions within society, particularly in the field of education, religious activities and local religious practices hold a strategic role as a means to foster and strengthen social ties among members of the community. The purpose of this article is to examine the routine cultural activities of Yasin-Tahlil as a means to enhance social interaction among the residents of Jatikalang Village, Krian Subdistrict. The author of this article employs a descriptive qualitative approach, utilizing literature analysis and social analysis in relation to the practical implementation of Yasin-Tahlil activities in the community. The focus is on how these activities are conducted, how the community participates, and the existing social norms. The findings of the analysis indicate that the Yasin-Tahlil activities are more than just a means of worship. In addition to strengthening the religious and cultural identity of the community, these activities can foster social cohesion, solidarity, and brotherhood. Thus, the routine of Yasin-Tahlil makes a significant contribution to improving the quality of social interaction and strengthening the social cohesion of the Jatikalang Village community. The preservation and strengthening of such cultural-religious activities are essential for promoting social harmony and the sustainability of the community's way of life in the face of social change. ABSTRAK Interaksi sosial merupakan dasar utama untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan kohesif. Dalam konteks modernisasi, globalisasi, dan perkembangan gaya hidup individualistis, serta intensitas interaksi sosial di dalam masyarakat , khususnya di bidang pendidikan ,. Dalam konteks ini , kegiatan keagamaan dan keagamaan lokal memiliki peran strategis sebagai sarana untuk membina dan memperkuat ikatan sosial di antara masyarakat . Tujuan artikel ini adalah untuk meneliti kegiatan budaya rutin Yasin - Tahlil dalam rangka meningkatkan interaksi sosial di antara warga Desa Jatikalang, Kecamatan Krian. Penulis artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis literatur dan analisis sosial dalam kaitannya dengan implementasi praktis kegiatan Yasin - Tahlil di masyarakat. Fokusnya adalah pada bagaimana kegiatan tersebut dilakukan , bagaimana masyarakat berpartisipasi , dan norma - norma sosial yang ada . Temuan analisis menunjukkan bahwa kegiatan Yasin - Tahlil lebih dari sekadar​​​​​​sarana ibadah. Selain memperkuat identitas keagamaan dan budaya masyarakat , kegiatan ini dapat menumbuhkan kohesi sosial , solidaritas dan persaudaraan . Dengan demikian , rutinitas Yasin - Tahlil memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kualitas interaksi sosial dan memperkuat kohesi sosial masyarakat Desa Jatikalang . Pelestarian dan penguatan kegiatan budaya - keagamaan semacam ini sangat penting untuk mendorong keharmonisan sosial dan keberlanjutan cara hidup masyarakat dalam menghadapi perubahan sosial.​
INTERNALISASI NILAI-NILAI BUDAYA LOKAL “GULAT OKOL” MELALUI BIMBINGAN KONSELING MULTIKULTURAL Himmah Rosyidah; Najlatun Naqiyah; Ari Khusumadewi
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9384

Abstract

Indonesia boasts a diverse range of cultures spread across its regions. Culture is a national identity; every country in the world certainly has its own. Culture can function to shape the attitudes and behavior of a group of people, and can serve as a guide for life in conducting themselves. Globalization also triggers a shift in societal mindsets from traditional perspectives to more logical and rational thinking. One effort to prepare and fortify adolescents in the era of globalization is to build adolescent character based on local cultural values. In this context, the role of multicultural guidance and counseling becomes crucial. The purpose of this study is to uncover the internalization of local cultural values ​​​​of the okol wrestling tradition through multicultural guidance and counseling. This study used a qualitative approach with a literature study method (library research) with a period of 2020-2025. Data collection was carried out using a literature review technique, namely by collecting secondary data from various relevant and credible sources. The results of the study show that the okol wrestling tradition is a local cultural tradition that is not only recreational or competitive, but also contains educational and psychosocial values, including: (1) Sportsmanship, (2) Emotional control, (3) Social solidarity and togetherness, (4) respect for others. Through the internalization of the okol wrestling cultural values ​​in this multicultural counseling guidance, it also contributes to strengthening the local cultural identity of students, fostering a sense of pride and love for their own regional culture, and can reduce individualistic values ​​that tend to emerge as a result of globalization. ABSTRAK Indonesia memiliki beragam macam budaya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah. Budaya merupakan identitas bangsa, setiap negara di dunia pasti memiliki budayanya masing-masing. Budaya dapat berfungsi membentuk sikap dan perilaku suatu golongan masyarakat, serta dapat menjadi pedoman hidup dalam bertingkah laku. Globalisasi juga memicu pergeseran pola pikir masyarakat dari cara pandang tradisional menuju pemikiran yang lebih logis dan rasional. Salah satu upaya untuk mempersiapakan dan membentengi remaja dalam era globalisasi adalah membangun karakter remaja berbasis nilai budaya lokal. Dalam konteks inilah peran bimbingan dan konseling multikultural menjadi sangat penting. Tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap internalisasi nilai budaya lokal tradisi gulat okol melalui bimbingan konseling multikultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur (library researchca) dengan rentang tahun 2020-2025. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik kajian pustaka, yaitu dengan menghimpun data sekunder dari berbagai sumber yang relevan dan kredibel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi gulat okol merupakan tradisi budaya lokal yang tidak hanya bersifat rekreatif ataupun kompetitif saja, melainkan juga mengandung nilai-nilai edukatif dan psikososial antara lain : (1) Sportivitas, (2) Pengendalian emosi, (3) Solidaritas sosial dan kebersamaan, (4) penghargaan terhadap orang lain. Melalui internalisasi nilai budaya gulat okol dalam bimbingan konseling multikultural ini turut memberikan kontribusi dalam menguatkan identitas budaya lokal siswa, menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap budaya daerah sendiri, serta dapat mengurangi nilai-nilai individualis yang cenderung muncul akibat dari globalisasi.  
FENOMENA TREN #KABURAJADULU PADA MEDIA SOSIAL TIKTOK DALAM PERSPEKTIF MAHASISWA PROGRAM STUDI PPKN Achmad Dzaky Santana Putra; Umi Chotimah
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9385

Abstract

The development of information and communication technology has brought significant changes to society, particularly through social media, which has become the main space for interaction among the younger generation. TikTok, as a short-video-based platform, is widely used by students to express themselves while simultaneously following digital trends. One of the emerging phenomena is the #KaburAjaDulu trend, which is not only characterized by the habit of taking short trips abroad as a form of escape from life pressures, but also reflects a new lifestyle among young people that emphasizes experience, freedom, and the search for identity. This study employs a quantitative method with a descriptive statistical research model, involving a population of 400 students and a sample of 200 students from the 2022-2025 cohorts. Data collection techniques include questionnaires and documentation, with valid and reliable instruments initially distributed to each cohort leader and subsequently shared within their respective class groups. In this study, the independent variable is the #KaburAjaDulu trend on TikTok, while the dependent variable is the perspective of students in the Civic Education Study Program (PPKn) at FKIP Sriwijaya University. The findings reveal that the phenomenon is perceived positively by students, as evidenced by 83.3% of respondents giving positive responses to 25 out of 30 statements, while 16.7% gave negative responses to 5 statements. These results indicate that student involvement in the trend serves not only as a means of self-expression and participation in digital trends, but also reflects a drive to enhance creativity, broaden horizons, and create a healthy pause from academic routines and social pressures. words. ABSTRAK Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, khususnya melalui media sosial yang menjadi ruang utama interaksi generasi muda. TikTok sebagai platform berbasis video pendek kini banyak dimanfaatkan mahasiswa untuk mengekspresikan diri sekaligus mengikuti tren digital, salah satunya fenomena tren #KaburAjaDulu yang tidak hanya berupa kebiasaan melakukan perjalanan singkat ke luar negeri sebagai bentuk pelarian dari tekanan hidup, tetapi juga mencerminkan gaya hidup baru generasi muda yang menekankan pengalaman, kebebasan, dan pencarian identitas diri. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan model penelitian statistik deskriptif, dengan populasi 400 mahasiswa dan sampel 200 mahasiswa dari tahun angkatan 2022-2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui angket (kuesioner) dan dokumentasi, di mana instrumen yang valid dan reliabel disebarkan terlebih dahulu kepada setiap ketua angkatan untuk kemudian diteruskan ke grup kelas masing-masing angkatan. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah fenomena tren #KaburAjaDulu pada media sosial TikTok, sedangkan variabel terikatnya adalah perspektif mahasiswa Program Studi PPKn FKIP Universitas Sriwijaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena tersebut dipersepsikan positif oleh mahasiswa, dibuktikan dengan 83.3% responden memberikan tanggapan positif terhadap 25 pernyataan dari total 30 pernyataan, sementara 16.7% memberikan tanggapan negatif terhadap 5 pernyataan. Temuan ini mengindikasikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam tren tersebut tidak hanya menjadi sarana untuk mengekspresikan diri sekaligus mengikuti tren digital, tetapi juga mencerminkan dorongan mengembangkan kreativitas, memperluas wawasan, serta menciptakan ruang jeda yang sehat dari rutinitas akademik maupun tekanan sosial.
POTENSI PEMBELAJARAN IPAS DALAM MEMPERKENALKAN KEARIFAN LOKAL DI SEKOLAH DASAR Margaretha Lidya Sumarni; Siprianus Jewarut; Felisitas Viktoria Melati; Benedhikta Kikky Vuspitasari; Yeremia Niaga Atlantika; Maria Angela Siokalang
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9386

Abstract

The implementation of the Independent Curriculum, which integrates science and social studies into the science subject, aims to create a comprehensive understanding of science. However, the rapid flow of globalization has triggered the urgency of preserving local wisdom values ​​in national education. This study aims to instill the potential and learning strategies of science as an effective means of introducing local culture in elementary schools. Using a qualitative descriptive approach through a literature study method, this study examines various scientific sources through four systematic stages: data collection, authoritative source collection, content analysis, and comprehensive conclusions. The research findings reveal that the integration of local wisdom of the Dayak Tribe in Bengkayang Regency, such as the ethnobotanical practice of medicinal plants and traditional agricultural rituals, into the science curriculum has great potential to increase the connection of the material with the real life reality of students. The results of the literature synthesis confirm its high effectiveness with a success rate of up to 97.41% in increasing students' learning interest and critical thinking skills compared to the use of conventional methods. The main conclusion confirms that science is a pedagogical strategy medium for strengthening cultural identity while realizing the Pancasila Student Profile with ecological and religious characteristics. The success of this implementation fosters active collaboration between schools, traditional leaders, and the government in developing a contextual curriculum to ensure traditional knowledge remains sustainable for future generations. ABSTRAK Implementasi Kurikulum Merdeka yang mengintegrasikan IPA dan IPS menjadi mata pelajaran IPAS bertujuan untuk menciptakan pemahaman sains yang utuh, namun derasnya arus globalisasi memicu urgensi pelestarian nilai kearifan lokal dalam dunia pendidikan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi dan strategi pembelajaran IPAS sebagai sarana efektif untuk memperkenalkan budaya lokal di jenjang sekolah dasar. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui metode studi pustaka atau literatur, penelitian ini menelaah berbagai sumber ilmiah melalui empat tahapan sistematis yang meliputi pengumpulan data, identifikasi sumber otoritatif, analisis konten, serta penarikan kesimpulan secara komprehensif. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa integrasi kearifan lokal Suku Dayak di Kabupaten Bengkayang, seperti praktik etnobotani tanaman obat dan ritual pertanian tradisional, ke dalam kurikulum IPAS berpotensi besar meningkatkan keterkaitan materi dengan realitas kehidupan nyata peserta didik. Hasil sintesis literatur mengonfirmasi adanya efektivitas tinggi dengan persentase keberhasilan hingga 97,41% dalam meningkatkan minat belajar serta keterampilan berpikir kritis siswa dibandingkan penggunaan metode konvensional. Simpulan utama menegaskan bahwa IPAS merupakan media pedagogis strategis untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang berkarakter ekologis dan religius. Keberhasilan implementasi ini menuntut kolaborasi aktif antara pihak sekolah, tokoh adat, dan pemerintah dalam penyusunan kurikulum kontekstual agar pengetahuan tradisional tetap lestari bagi generasi masa depan.  
TRADISI ADOK SEBAGAI WUJUD ESTETIKA BUDAYA DALAM ADAT PERNIKAHAN Engracia Abelta Namira; Camellia Camellia
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9390

Abstract

This study aims to examine the adok tradition as a form of cultural aesthetics within the wedding customs of the Ranau community in Sukamarga Village, South OKU Regency, Indonesia. The adok tradition is not merely a ceremonial ritual but functions as a cultural mechanism embedded with symbolic meanings, aesthetic expressions, and social legitimacy. This research employs a qualitative approach with an ethnographic design, utilizing participant observation during traditional wedding ceremonies, in-depth interviews with customary leaders, community members, and married couples, as well as documentation analysis. The findings reveal that the adok tradition represents Ranau cultural aesthetics through three interrelated dimensions: visual, performative, and symbolic aesthetics. The ngeharak kebayan procession, the use of traditional ornaments, martial arts performances accompanied by kulintang music, and the striking of the gong serve as aesthetic expressions that affirm honor, social recognition, and communal acceptance of the bride and groom. Furthermore, the adok tradition embodies noble values such as togetherness, social responsibility, protection, and respect for customary structures. From the perspective of Pancasila and Civic Education, the adok tradition holds significant relevance as a contextual learning resource grounded in local wisdom, contributing to the formation of civic identity and the internalization of Pancasila values. This study highlights the importance of preserving the Adok Tradition to ensure the sustainability of local culture amid contemporary social transformations. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi adok sebagai wujud estetika budaya dalam adat pernikahan masyarakat Ranau di Desa Sukamarga, Kabupaten OKU Selatan. Tradisi adok dipahami bukan sekadar ritual seremonial, melainkan sebagai mekanisme adat yang sarat makna simbolik, estetika, dan fungsi sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian etnografi, yang dilakukan melalui observasi partisipatif pada prosesi adat pernikahan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, masyarakat, dan pasangan pengantin, serta studi dokumentasi adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi adok merepresentasikan estetika budaya Ranau dalam tiga dimensi utama, yaitu estetika visual, performatif, dan simbolik. Prosesi ngeharak kebayan, penggunaan ornamen adat, pertunjukan kuntau dengan iringan kulintang, serta penabuhan gong menjadi ekspresi estetika yang menegaskan kehormatan, legitimasi sosial, dan penerimaan adat terhadap pasangan pengantin. Tradisi adok mengandung nilai-nilai luhur berupa kebersamaan, tanggung jawab sosial, perlindungan, dan penghormatan terhadap struktur adat. Dalam perspektif Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Tradisi adok memiliki relevansi strategis sebagai sumber belajar kontekstual berbasis kearifan lokal yang berkontribusi pada pembentukan identitas kewargaan dan penguatan nilai Pancasila. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian tradisi adok sebagai bagian dari keberlanjutan budaya lokal di tengah dinamika sosial modern.
PENANAMAN NILAI BUDAYA MAPPATABE’ DI PONDOK PESANTREN Nur Rahma; Jumadi Jumadi; Dimas Ario Sumilih
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9391

Abstract

This study aims to determine the process of instilling mappatabe' cultural values in the daily lives of adolescents at the Imam Bukhari Islamic Boarding School in Makassar. This study is a descriptive study using qualitative data. To achieve this objective, the researcher used data collection techniques through observation, interviews, documents, and documentation. The data obtained was then analyzed and interpreted based on relevant theories and research results. The results showed that the process of instilling mappatabe' values at the Imam Bukhari Islamic Boarding School in Makassar took place through habits and rules applied in the daily lives of the students. Students were trained to always be polite, greet others, speak softly, and ask for permission by saying tabe'. The Islamic boarding school rules reinforce these habits by emphasizing manners and imposing sanctions on students who commit violations, thereby shaping the Islamic character of students in their daily lives and creating civilized and cultured young people. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penanaman nilai budaya mappatabe’ berlangsung dalam kehidupan sehari-hari pada generasi usia remaja di Pondok Pesantren Imam Bukhari Makassar. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan data kualitatif. Untuk mencapai tujuan itu maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumen dan dokumentasi. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis dan diinterpretasi berdasarkan teori dan hasil penelitian yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penanaman nilai mappatabe’ di Pondok Pesantren Imam Bukhari Makassar berlangsung melalui pembiasaan dan aturan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari santri. Santri dilatih untuk senantiasa bersikap sopan santun, memberi salam, berbicara lembut, serta meminta izin dengan ucapan tabe’. Aturan Pondok Pesantren menguatkan pembiasaan tersebut dengan menegaskan tata krama dan memberikan sanksi bagi santri yang melakukan pelanggaran, sehingga membentuk karakter Islami santri dalam kehidupan sehari-hari dan mewujudkan remaja yang beradab dan berbudaya.
EFEKTIVITAS PENDEKATAN ETNOPEDAGOGI DALAM MENGINTEGRASIKAN BUDAYA LOKAL PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA Tiara Berliani; Nila Sari
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9392

Abstract

The low level of students' understanding of the diversity of Indonesian society due to the suboptimal integration of local culture in Pancasila Education subjects is the background to the urgency of this research. This study aims to evaluate the effectiveness of the ethnopedagogy approach as a strategy for integrating local culture in Pancasila Education learning. The research method uses a quantitative approach with a quasi-experimental nonequivalent control group design, involving two seventh grade classes at SMP Negeri 18 Palembang as the experimental and control groups. The data collection process was carried out through pretest and posttest instruments whose validity and reliability were tested, then analyzed using prerequisite tests and the Mann–Whitney U Test hypothesis test. The results of the quantitative data analysis showed a significant increase, where the experimental class with the ethnopedagogy approach experienced an average increase in scores from 60.41 to 83.88 or 38.85%, higher than the control class using conventional methods with an increase from 54.02 to 74.16 or 37.28%. Statistical tests confirmed a significant difference in learning outcomes between the two groups. The main conclusion of this study confirms that the ethnopedagogical approach has proven effective in improving students' understanding and successfully integrating local cultural values ​​contextually in Pancasila Education learning, so it is recommended as a relevant pedagogical innovation. ABSTRAK Rendahnya pemahaman peserta didik terhadap keberagaman masyarakat Indonesia akibat belum optimalnya pengintegrasian budaya lokal dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila menjadi latar belakang urgensi penelitian ini. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pendekatan etnopedagogi sebagai strategi pengintegrasian budaya lokal dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental nonequivalent control group design, melibatkan dua kelas VII di SMP Negeri 18 Palembang sebagai kelompok eksperimen dan kontrol. Proses pengumpulan data dilakukan melalui instrumen pretest dan posttest yang teruji validitas serta reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan uji prasyarat dan uji hipotesis Mann–Whitney U Test. Hasil analisis data kuantitatif menunjukkan peningkatan signifikan, di mana kelas eksperimen dengan pendekatan etnopedagogi mengalami kenaikan rata-rata nilai dari 60,41 menjadi 83,88 atau sebesar 38,85%, lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional dengan kenaikan dari 54,02 menjadi 74,16 atau sebesar 37,28%. Uji statistik mengonfirmasi adanya perbedaan nyata hasil belajar antara kedua kelompok. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan etnopedagogi terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta didik dan berhasil mengintegrasikan nilai budaya lokal secara kontekstual dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila, sehingga direkomendasikan sebagai inovasi pedagogis yang relevan.