cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS
ISSN : 27979431     EISSN : 27978842     DOI : https://doi.org/10.51878/social.v1i2.447
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan IPS.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 574 Documents
PENGARUH PENGGUNAAN LILIN AROMATERAPI TERHADAP STRESS AKADEMIK MAHASISWA Ninawati Ninawati; Prajna Paramitha Marhaeni; Maulida Abiyya; Farsya Meyrasikhah; Kezia Alexandra Emor
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9719

Abstract

A number of stressors cause stress in university students' lives. Stress might not be harmful if experienced at a tolerable intensity and for a short duration. Therefore, it is imperative to tackle stress effectively and efficiently. There are several ways to manage stress, including counsellor involvement. However, managing stress independently can reduce both cost and time consumption. Aromatherapy is one such method. This study focused on the use of scented aromatherapy candles. The research employed a within-subjects experimental methodology in which a group of participants were tested before and after the intervention. Participants were selected using purposive sampling and were active students in their final year of study. The intervention involved using scented aromatherapy candles for seven consecutive days, with 30 minutes of exposure each day. The experiment aimed to reduce participants' academic stress. The participants comprised two males and eight females who were active students in their sixth and eighth semesters when the research was conducted in July 2025. They ranged in age from 19 to 22 years old. The study showed no significant difference in overall stress levels amongst participants before and after the intervention. However, the research found that there was indeed a difference in the stress reaction dimension before and after the therapy. Specifically, there was a decrease in stress levels in the cognitive sub-dimension following the aromatherapy intervention. ABSTRAK Dalam kehidupan mahasiswa, terdapat banyak stressor yang akan menimbulkan stres. Stres bukanlah hal yang buruk jika dialami dalam intensitas yang sedang dan tidak dalam rentang waktu yang lama. Untuk itu kondisi stres perlu penanganan yang tepat dan harus dihilangkan dengan segera sebelum menjadi lebih parah. Penanganan stres dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk dengan melibatkan konselor. Namun penanganan stres juga dapat dilakukan secara mandiri yang tentunya menjadi lebih hemat biaya dan waktu. Penanganan stres ini di antarnya adalah dengan menggunakan aromaterapi. Pada penelitian ini digunakan aromaterapi dari lilin dengan wewangian tertentu. Metode penelitian yang digunakan adalah experiment within subject, di mana sekelompok partisipan akan diuji sebelum dan setelah intervensi. Partisipan dipilih secara purposive yaitu mahasiswa aktif kuliah dan berada pada tahun terakhir masa kuliahnya. Intervensi dilakukan dengan lilin aromaterapi selama tujuh hari berturut-turut dengan durasi 30 menit setiap harinya. Diharapkan dengan mengikuti eksperimen ini para partisipan dapat mengurangi stres akademiknya di periode akhir penelitian. Partisipan penelitian ini berjumlah 10 orang, yang terdiri dari dua orang laki-laki dan 8 orang perempuan. Mereka adalah mahasiswa aktif yang berada pada semester keenam dan semester kedelapan pada saat penelitian diselenggarakan yaitu pada bulan Juli 2025. Usia partisipan antara 19 sampai 22 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan stres akademi mahasiswa sebelum dan setelah melakukan aroma terapi. Namun pada dimensi reaksi stres ada perbedaan antara sebelum dan setelah terapi. Khususnya pada sub-dimensi kognitif terjadi penurunan Tingkat stres sebelum dan setelah aroma terapi.    
STRATEGI PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DI KAPANEWON PALIYAN Subandriyo Subandriyo; Supardal Supardal
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9720

Abstract

Public services at the sub-district level play a strategic role in ensuring the fulfillment of administrative and community service needs effectively and responsively. However, several challenges related to service quality and the optimization of apparatus performance are still encountered. This study aims to analyze strategies for improving the quality of public services through optimizing the performance of government apparatus in Kapanewon Paliyan. This research employed a qualitative method with a descriptive approach. Data were collected through in-depth interviews with government officials and documentation studies related to public service implementation. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results indicate that strategies to improve service quality were implemented through strengthening work discipline, enhancing apparatus competence, improving service facilities and infrastructure, and strengthening internal organizational coordination. Supporting factors include leadership commitment and regulatory support, while inhibiting factors consist of limited resources and workload constraints. The study concludes that optimizing apparatus performance is a key factor in achieving effective, efficient, and community-oriented public services. ABSTRAK Pelayanan publik pada tingkat kapanewon memiliki peran strategis dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan administrasi dan pelayanan masyarakat secara efektif dan responsif. Namun, masih ditemukan berbagai kendala yang berkaitan dengan kualitas pelayanan dan optimalisasi kinerja aparatur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi peningkatan kualitas pelayanan publik melalui optimalisasi kinerja aparatur di Kapanewon Paliyan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan aparatur pemerintah kapanewon serta studi dokumentasi terhadap dokumen pelayanan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi peningkatan kualitas pelayanan dilakukan melalui penguatan disiplin kerja, peningkatan kompetensi aparatur, pemanfaatan sarana prasarana pelayanan, serta koordinasi internal organisasi. Faktor pendukung meliputi komitmen pimpinan dan dukungan regulasi, sedangkan faktor penghambat mencakup keterbatasan sumber daya dan beban kerja aparatur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa optimalisasi kinerja aparatur menjadi kunci dalam mewujudkan pelayanan publik yang lebih efektif, efisien, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.
SINERGI PEMBINAAN KEWIRAUSAHAAN BAGI PEMUDA DI KABUPATEN SLEMAN Endang Dwi Ratnasari; R. Widodo Triputro
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9721

Abstract

Entrepreneurship development for youth is crucial to welcoming the Golden Indonesia Era in 2045, ensuring that this era brings benefits in the form of increased national economic development. Youth are expected to contribute to the nation's economic independence. Capacity building through entrepreneurship development is carried out so that young people are no longer dependent on job providers but are instead able to become entrepreneurs. Entrepreneurship development for youth is certainly the responsibility of all parties, especially local governments through authorized regional apparatus. In 2024, Sleman Regency received the "Kabupaten Layak Wiramuda" or "Young Entrepreneur" award from the Ministry of Youth and Sports. This achievement demonstrates the local government's role in fostering entrepreneurship. However, youth entrepreneurship development still faces various challenges, such as limited skills, access to capital, unstable psychological conditions of young people, and a lack of ongoing mentoring. This study uses qualitative research methods to describe the synergy between several Regional Government Organizations (OPDs) in fostering entrepreneurship for young entrepreneurs. The aim is to analyze the synergy of entrepreneurship development for young people involving several regional government organizations (OPDs). The results of the study indicate that comprehensive synergy between Regional Government Organizations (OPDs) in fostering entrepreneurship for young people can increase the number of young entrepreneurs in Sleman Regency. This synergy in fostering entrepreneurship can provide more facilities for entrepreneurs, ranging from training, business permit services, even market access and business networks. Challenges in fostering entrepreneurship for young entrepreneurs include the clarity of the division of roles between Regional Government Organizations (OPDs) and the intensity of coordination. ABSTRAK Pembinaan kewirausahaan bagi pemuda penting dilakukan untuk menyongsong Indonesia Emas tahun 2045 agar era tersebut membawa keuntungan berupa kenaikan pembangunan ekonomi nasional. Pemuda diharapkan mampu berkontribusi dalam kemandirian ekonomi suatu bangsa. Peningkatan kapasitas berupa pembinaan kewirausahaan dilakukan agar pemuda tidak lagi tergantung pada penyedia pekerjaan, melainkan mampu berwirausaha. Pembinaan kewirausahaan bagi pemuda tentu menjadi tanggungjawab semua pihak, terutama pemerintah daerah melalui perangkat daerah yang berwenang. Tahun 2024 Kabupaten Sleman mendapatkan penghargaan Kabupaten Layak Wiramuda atau Wirausaha Muda oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga, prestasi ini menjadi bukti bahwa pemerintah daerah telah berperan dalam pembinaan kewirausahaan tersebut. Namun, pengembangan kewirausahaan pemuda masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan keterampilan, akses permodalan, kondisi psikis pemuda yang belum stabil, serta kurangnya pendampingan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menggambarkan sinergi beberapa Organisai Perangkat Daerah (OPD) dalam pembinaan kewirausahaan bagi wirausaha muda. Tujuannya untuk menganalisis sinergi pembinaan kewirausahaan bagi pemuda yang melibatkan beberapa organisasi pemerintah daerah (OPD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinergi antar Organisai Perangkat Daerah (OPD) dalam pembinaan kewirausahaan bagi pemuda yang dilakukan secara komprehensif mampu meningkatkan jumlah wirausahawan muda di Kabupaten Sleman. Sinergi pembinaan kewirausahaan mampu memberikan fasilitasi lebih bagi para wirausahawan mulai dari pelatihan, pelayanan ijin berusaha, bahkan akses pasar dan jejaring usaha. Tantangan dari sinergi pembinaan kewiraushaan bagi wirausahawan muda yakni ketegasan dalam pembagian peran antar Organisai Perangkat Daerah (OPD dan keintensifan koordinasi.
PARTISIPASI KARANG TARUNA TUNAS HARAPAN DALAM KEGIATAN JIMPITAN UNTUK MENINGKATKAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL Devi Permatasari; Maria Helena Sri Rahayu
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9722

Abstract

Karang Taruna Tunas Harapan in Ngelosari, Sambirejo, Jumantono, Karanganyar manages jimpitan activities as a means of social learning to increase youth participation and social responsibility. The purpose of this study is to describe the participation of Karang Taruna Tunas Harapan in jimpitan activities to increase social responsibility and describe the inhibiting and supporting factors. This study uses a descriptive qualitative approach that focuses on Karang Taruna Tunas Harapan as the subject and jimpitan activities as the object to increase social responsibility. The informants include the Head of the RT and RW, the Head of the youth organization, and five members of the youth organization. Data collection techniques through participant observation, interviews, and documentation. The validity of the data used is triangulation of sources and techniques. Then analyzed through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that the participation of the Tunas Harapan Youth Organization (Karang Taruna Tunas Harapan) in jimpitan activities increases social responsibility, including: 1) self-control and respect for the rights of others, including members listening to criticism and suggestions from the community, reflecting an attitude of altruism and eliminating apathy and being responsible for the agreed duty schedule; 2) effort and participation, including all members willing to participate in jimpitan activities without coercion; 3) self-direction, including members checking each collection point as evidence of accountability while on duty; 4) helping others, including members being sensitive to environmental security conditions while traveling and having empathy for friends who need assistance while on duty. Inhibiting factors identified included bad weather, human error, and time constraints. However, its success was supported by internal solidarity, a sense of mutual cooperation, and full support from parents and community leaders. This study concludes that participation in jimpitan activities, as a positive activity managed effectively by the Tunas Harapan Youth Organization (Karang Taruna Tunas Harapan), can shape and increase active participation and social responsibility among youth. ABSTRAK Karang Taruna Tunas Harapan di Ngelosari, Sambirejo, Jumantono, Karanganyar mengelola kegiatan jimpitan sebagai sarana pembelajaran sosial untuk meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab sosial pemuda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan partisipasi Karang Taruna Tunas Harapan dalam kegiatan jimpitan untuk meningkatkan tanggung jawab sosial serta mendeskripsikan faktor penghambat dan pendukungnya. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif yang fokus pada Karang Taruna Tunas Harapan sebagai subjek dan kegiatan jimpitan sebagai objek untuk meningkatkan tanggung jawab sosial. Informannya antara lain Ketua RT dan RW, Ketua karang taruna, serta lima anggota karang taruna. Teknik pengumpulan data melalui observasi partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber dan teknik. Kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi Karang Taruna Tunas Harapan dalam kegiatan jimpitan untuk meningkatkan tanggung jawab sosial yaitu 1) kontrol diri dan menghormati hak orang lain, antara lain anggota mendengarkan kritik saran dari masyarakat mencerminkan sikap altruisme dan menghilangkan apatisme bertanggung jawab atas kesepakatan jadwal bertugas, 2) usaha dan partisipasi, antara lain semua anggota mau berpartisipasi dalam kegiatan jimpitan tanpa paksaan, 3) pengarahan diri, antara lain anggota memberi tanda centang di setiap titik pengambilan menjadi bukti akuntabilitas ketika bertugas, 4) membatu sesama, antara lain anggota memiliki kepekaan terhadap kondisi keamanan lingkungan ketika berkeliling dan memiliki rasa empati terhadap teman yang membutuhkan pendampingan saat bertugas. Faktor penghambat yang ditemukan meliputi cuaca buruk, human error, dan kendala waktu. Namun, keberhasilannya didukung oleh solidaritas internal, kesadaran bergotong royong, dan dukungan penuh dari orang tua serta tokoh masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa partisipasi dalam kegiatan jimpitan sebagai kegiatan positif yang dikelola secara efektif oleh Karang Taruna Tunas Harapan dapat membentuk serta meningkatkan partisipasi aktif dan tanggung jawab sosial pemuda.  
PERANAN KARANG TARUNA REMAND’S DALAM MENINGKATKAN KEPEDULIAN SOSIAL DI DESA MANDAN, KABUPATEN SUKOHARJO Rika Amelia Putri; Maria Helena Sri Rahayu
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9723

Abstract

Karang Taruna is an organization that plays a role in increasing social awareness of youth at the village level. However, individualistic attitudes and changes in social dynamics pose challenges in optimizing the role of Karang Taruna Remand's. The purpose of this study is to describe the role of Karang Taruna Remand's in increasing social awareness, identify the constraints faced, and analyze solutions to optimize the role of Karang Taruna in increasing social awareness of youth in Mandan Village, Sukoharjo Regency in a sustainable manner. This study uses a descriptive qualitative approach. Data collection techniques in this study are interviews, observation, and documentation. Data validity used is data triangulation and methods. Data analysis used is data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that the role of Karang Taruna Remand's in increasing social awareness in Mandan Village includes: 1) having concern for the welfare of others through the implementation of various social activities, such as social service, mutual cooperation, distribution of takjil, tilikan, and annual village activities, 2) having a desire to establish close relationships reflected in interactions between youth and involvement in village activities, 3) following moral intuition seen from the internalization of social awareness values ​​in organizational activities, and 4) having a tendency to follow the behavior of others seen from the examples set by active administrators and members. The implementation of Karang Taruna Remand's activities faces constraints, namely internal organizational constraints, unequal youth participation, limited infrastructure, and lack of funding. Thus, solutions are needed to strengthen the internal capacity of the organization, strategies to increase youth participation by designing more innovative activities, optimizing supporting facilities and infrastructure, and strengthening synergy between Karang Taruna, the village government, and the community. This study concludes that Karang Taruna Remand's has the potential to be an effective means of increasing social awareness. ABSTRAK Karang taruna merupakan organisasi yang memiliki peranan dalam meningkatkan kepedulian sosial pemuda di tingkat desa.  Akan tetapi, sikap individualisme dan perubahan dinamika sosial menjadi tantangan dalam optimalisasi peranan Karang Taruna Remand’s. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peranan Karang Taruna Remand’s dalam meningkatkan kepedulian sosial, mengidentifikasi faktor kendala yang dihadapi, dan menganalisis solusi untuk mengoptimalkan peranan karang taruna dalam meningkatkan kepedulian sosial pemuda di Desa Mandan, Kabupaten Sukoharjo secara berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Validitas data yang digunakan adalah triangulasi data dan metode. Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan Karang Taruna Remand’s dalam meningkatkan kepedulian sosial di Desa Mandan antara lain: 1) mempunyai kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain melalui pelaksanaan berbagai kegiatan sosial, seperti bakti sosial, gotong royong, pembagian takjil, tilikan, dan kegiatan tahunan desa, 2) memiliki keinginan untuk menjalin hubungan erat tercermin dari interaksi antar pemuda dan keterlibatan dalam kegiatan desa, 3) mengikuti intuisi moral terlihat dari internalisasi nilai kepedulian sosial dalam kegiatan organisasi, dan 4) memiliki kecenderungan mengikuti perilaku orang lain yang terlihat dari teladan oleh pengurus dan anggota yang aktif. Pelaksanaan kegiatan Karang Taruna Remand’s menghadapi faktor kendala yaitu kendala internal organisasi, partisipasi pemuda yang kurang merata, keterbatasan sarana prasarana, serta kurangnya pendanaan. Dengan demikian, diperlukan solusi untuk penguatan kapasitas internal organisasi, strategi peningkatan partisipasi pemuda dengan merancang kegiatan yang lebih inovatif, optimalisasi sarana dan prasarana pendukung, serta penguatan sinergi antara karang taruna, pemerintah desa, dan masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Karang Taruna Remand’s memiliki potensi menjadi sarana efektif dalam meningkatkan kepedulian sosial.  
SUSTAINABILITY ISSUES IN FINANCIAL ACCOUNTING RESEARCH Muhammad Putra Aprullah; Raida Fuadi; Indrayani Indrayani; Zahara Zahara; Agus Adria; Muhammad Sayuthi; Salsabilla Julnadi; William Ben Gunawan
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9724

Abstract

ABSTRACT In financial accounting, sustainability is predominantly analyzed through corporate social responsibility (CSR) and environmental, social, and governance (ESG) frameworks, both of which are now integral to economic decision-making. Sustainability has become a central concern in global business and investment. The purpose of this essay is to review the literature on sustainability issues in financial accounting, with particular emphasis on information related to ESG practices. This study employs a literature review, analyzing journal articles to synthesize key findings and identify prevailing patterns. ESG research in financial accounting predominantly examines implications for financial performance, firm value, and capital costs from the perspectives of investors and creditors. While long-term benefits are acknowledged, concerns persist that ESG may obscure accounting malpractices, such as earnings management, which can erode its credibility with stakeholders. This study is not deeply explaining about behavioural factors, fraudulent practices, and creative accounting in the relationship between ESG practices and accounting variables. This study views comprehensively to prevent fraudulent accounting practices, such as earnings management and fraud. Therefore, the role of internal control systems and public auditors must be to ensure the reliability of the company's ESG information, as more and more investors, creditors, and other stakeholders use ESG information in assessing the company's business prospects and risks. This essay provides a timely synthesis that highlights the ESG paradox in financial accounting, contrasting its value as a sustainability indicator with its potential to enable opportunistic behavior. The analysis emphasizes the urgent need for regulatory intervention. ABSTRAK Dalam akuntansi keuangan, keberlanjutan sebagian besar dianalisis melalui tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan kerangka kerja lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), yang keduanya kini menjadi bagian integral dari pengambilan keputusan ekonomi. Keberlanjutan telah menjadi perhatian utama dalam bisnis dan investasi global. Tujuan esai ini adalah untuk meninjau literatur tentang isu-isu keberlanjutan dalam akuntansi keuangan, dengan penekanan khusus pada informasi yang berkaitan dengan praktik ESG. Studi ini menggunakan tinjauan literatur, menganalisis artikel jurnal untuk mensintesis temuan utama dan mengidentifikasi pola yang berlaku. Penelitian ESG dalam akuntansi keuangan sebagian besar mengkaji implikasi terhadap kinerja keuangan, nilai perusahaan, dan biaya modal dari perspektif investor dan kreditor. Meskipun manfaat jangka panjang diakui, kekhawatiran tetap ada bahwa ESG dapat mengaburkan praktik akuntansi yang salah, seperti manajemen laba, yang dapat mengikis kredibilitasnya di mata pemangku kepentingan. Studi ini tidak menjelaskan secara mendalam tentang faktor perilaku, praktik curang, dan akuntansi kreatif dalam hubungan antara praktik ESG dan variabel akuntansi. Studi ini melihat secara komprehensif untuk mencegah praktik akuntansi curang, seperti manajemen laba dan kecurangan. Oleh karena itu, peran sistem pengendalian internal dan auditor publik harus memastikan keandalan informasi ESG perusahaan, karena semakin banyak investor, kreditor, dan pemangku kepentingan lainnya menggunakan informasi ESG dalam menilai prospek bisnis dan risiko perusahaan. Esai ini memberikan sintesis tepat waktu yang menyoroti paradoks ESG dalam akuntansi keuangan, membandingkan nilainya sebagai indikator keberlanjutan dengan potensinya untuk memungkinkan perilaku oportunistik. Analisis ini menekankan kebutuhan mendesak akan intervensi regulasi.  
PENGUATAN KOMPETENSI WIDYAISWARA ERA DIGITAL BERBASIS MANAJEMEN TALENTA DI BALAI DIKLAT KEAGAMAAN MAKASSAR Hanafi Pelu; Rosmiati Rosmiati; Juairia Pelu; Sipa Pelu
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9725

Abstract

Strengthening the competencies of lecturers in the digital era through a talent management framework is a strategic investment in optimizing human capital to produce precise, adaptive learning innovations that have a significant impact on the effectiveness of bureaucratic transformation. The purpose of this study is to analyze the success rate of the talent management approach in addressing the technological skill gap of ASN lecturers at the Makassar Religious Training Center, as well as to formulate strategies for strengthening digital competencies to improve the effectiveness of religious training in the digital era. Qualitative research methods and descriptive research types were used in this study. The results of the study show that the implementation of talent management and competency development for widiyaiswara through a systematic approach integrated with digital technology can improve the quality of learning and overcome technological skill gaps among widiyaiswara. Through talent strategies integrated with digital technology, such as online platform-based training, hybrid learning, and digital competency assessments, the Makassar Religious Training Center can contribute to the development of more adaptive, effective, and efficient learning in the future. ABSTRAK Penguatan kompetensi widyaiswara di era digital melalui kerangka manajemen talenta merupakan investasi strategis dalam mengoptimalkan modal insani guna menghasilkan inovasi pembelajaran yang presisi, adaptif, dan berdampak signifikan terhadap efektivitas transformasi birokrasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat keberhasilan pendekatan manajemen talenta dalam mengatasi gap skill teknologi Widyaiswara ASN di Balai Diklat Keagamaan Makassar, serta merumuskan strategi penguatan kompetensi digital untuk meningkatkan efektivitas pelatihan keagamaan era digital. Metode Penelitian Kualitatif dan Jenis Penelitian Deskriptif yang digunakan pada penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, implementasi manajemen talenta dan pengembangan kompetensi widiyaiswara melalui pendekatan sistematis yang berintegrasi dengan teknologi digital dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan mengatasi ketidaksesuaian skill teknologi di kalangan widiyaiswara. Melalui strategi talenta yang terintegrasi dengan teknologi digital, seperti pelatihan berbasis platform online, pembelajaran hybrid, dan asesmen kompetensi digital, Balai Diklat Keagamaan Makassar dapat berkontribusi pada pengembangan pembelajaran yang lebih adaptif, efektif, dan efisien di masa depan.  
MAKNA SIMBOLIK TENTANG PELETAKAN BATU PERTAMA RUMAH ADAT: STUDI ETNOGRAFI DI NEGERI NENIARI GUNUNG KECAMATAN TANIWEL KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT Lenda Lumatalale; Fricean Tutuarima; Louisa Metekohy
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9726

Abstract

The indigenous people of Negeri Neniari Gunung, West Seram, view traditional houses or Baileo as more than just physical structures, but rather centers of cultural sacredness whose essence must be consistently maintained amidst the tide of modernization. This study aims to analyze the symbolic meaning behind the ritual of laying the first stone of a traditional house through an in-depth ethnographic study. Using a qualitative approach with a phenomenological paradigm, this study involved the king of the village, traditional leaders, and the community as key informants. The research stages were carried out systematically, including field observations and in-depth interviews, which were then processed through a process of data reduction, presentation, and drawing objective conclusions. The research findings reveal that the laying of the first stone is a sacred symbol of beginnings, functioning as a form of respect for ancestors and asking for blessings from God for collective salvation. Philosophically, the stone symbolizes the foundation of life and the steadfastness of customary principles passed down from generation to generation. In addition to the spiritual dimension, the preservation of this ritual is interpreted as an embodiment of civic culture that strengthens the values ​​of participation, mutual cooperation, and adherence to social norms. This ritual also serves as a strategic civic education medium for the younger generation, helping them internalize social responsibility and national identity. The main conclusion emphasizes that this ceremony is not merely a technical ceremony, but rather a solid foundation for social order and strengthening community character, deeply rooted in local wisdom. ABSTRAK Masyarakat adat di Negeri Neniari Gunung, Seram Bagian Barat, memandang rumah adat atau Baileo bukan sekadar konstruksi fisik, melainkan pusat sakralitas budaya yang esensinya harus dijaga secara konsisten di tengah arus modernisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik di balik ritual peletakan batu pertama rumah adat melalui studi etnografi yang mendalam. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma fenomenologi, penelitian ini melibatkan raja negeri, tokoh adat, serta masyarakat sebagai informan kunci. Tahapan penelitian dilaksanakan secara sistematis meliputi observasi lapangan dan wawancara mendalam, yang kemudian diolah melalui proses reduksi, penyajian data, serta penarikan simpulan objektif. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa peletakan batu pertama merupakan simbol awal yang sakral, berfungsi sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan permohonan restu kepada Tuhan demi keselamatan kolektif. Secara filosofis, batu tersebut melambangkan dasar kehidupan dan keteguhan prinsip adat yang diwariskan secara turun-temurun. Selain dimensi spiritual, pelestarian ritual ini dimaknai sebagai pengejawantahan civic culture yang memperkuat nilai partisipasi, gotong royong, dan kepatuhan terhadap norma sosial. Ritual ini juga bertindak sebagai media pendidikan kewargaan yang strategis bagi generasi muda untuk menginternalisasi tanggung jawab sosial dan jati diri negeri. Simpulan utama menegaskan bahwa upacara ini bukan sekadar seremoni teknis, melainkan fondasi kokoh bagi keteraturan sosial dan penguatan karakter masyarakat yang berakar kuat pada nilai kearifan lokal.
EKSISTENSI NILAI-NILAI NASIONALISME PENINGGALAN MOHAMMAD HATTA DAN SUTAN SJAHRIR DI PULAU BANDA Asriana Yanto; Louisa Metekohy; Susi Anita Patmawati
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9727

Abstract

This study aims to analyze the existence of the values of nationalism left behind by Mohammad Hata and Sultan Sjahrir on Banda Island. The importance of nationalism values for the Indonesian nation, the nationalism values that need to be instilled include love for the homeland, willingness to sacrifice, pride in diverse cultures, appreciation for the services of heroes, and prioritizing the public interest. Connecting the past and emphasizing the nationalism values instilled through history and their relevance in the era of disruption, directly connecting the importance of preserving the traces of heroes with the formation of the nation's character. The type of research is qualitative. The research location is Banda Island, Central Maluku Regency, Maluku Province. The subjects of this research are the community responsible for maintaining the Cultural Heritage Site or the managers of the exile house, traditional leaders, community leaders, and the people of  Banda Naira. The data collection techniques are observation and documentation. The data is analyzed using descriptive qualitative methods. The research results show that the values of nationalism contained in the historical traces of Mohammad Hatta and Sutan Sjahrir on Banda Island are reflected through their attitudes, thoughts, and activities during their exile. Translated with DeepL.com (free version) These values include love for the homeland, fighting spirit, sacrifice, unity, and efforts to educate the public through education and intellectual enlightenment. The historical traces left behind are proof of the existence of the nationalist values of these two figures. The preservation and utilization of the historical relics of Mohammad Hatta and Sutan Sjahrir on Banda Island play an important role in shaping the historical awareness and nationalism of the community. These historical relics not only serve as historical evidence, but also as a means of education and learning that can foster a love for the homeland and pride in the nation's history. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis eksistensi nilai-nilai nasionalisme peninggalan Mohammad Hata dan Sultan Sjahrir di Pulau Banda. Pentingnya nilai-nilai nasionalisme bagi bangsa Indonesia, Nilai-nilai nasionalisme yang perlu ditanamkan antara lain cinta tanah air, rela berkorban, bangga pada budaya yang beragam, menghargai jasa para pahlawan serta mengutamakan kepentingan umum. menghubungkan masalalu dan penekanan pada nilai-nilai nasionalisme yang ditanamkan melalui sejarah dan relevansinya di era disrupsi, secara langsung menghubungkan pentingnya pelestarian jejak pahlawan dengan pembentukan karakter bangsa, Tipe dalam penelitian ini adalah kualitatif. Lokasi penelitian pada Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat yang bertanggung jawab menjaga Cagar Budaya atau pengelola rumah pengasingan,  tokoh adat, tokoh masyarakat, serta masyarakat  Banda Naira. Teknik pengumpulan  data adalah observasi dan Dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil Penelitian bahwa Nilai-nilai nasionalisme yang terkandung dalam jejak-jejak sejarah Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir di Pulau Banda tercermin melalui sikap, pemikiran, dan aktivitas mereka selama masa pengasingan. Nilai-nilai tersebut meliputi cinta tanah air, semangat perjuangan, pengorbanan, persatuan, serta upaya mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan dan pencerahan intelektual. Jejak sejarah yang ditinggalkan menjadi bukti eksistensi nilai-nilai nasionalisme kedua tokoh tersebut. Pelestarian dan pemanfaatan peninggalan sejarah Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir di Pulau Banda memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran sejarah dan nasionalisme masyarakat. Peninggalan sejarah tersebut tidak hanya berfungsi sebagai bukti sejarah, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan pembelajaran yang dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air serta kebanggaan terhadap sejarah bangsa.
EKSISTENSI TRADISI ADAT BELANG SEBAGAI CIVIC CULTURE MASYARAKAT BANDA NAIRA Ima Triayana Hatapayo; Louisa Metekohy; Jumiati Tuharea
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i1.9728

Abstract

This study aims to analyze the existence of the Adat Belang tradition as the civic culture of the Banda Naira community. Local cultural expressions that grow within a community reflect the distinctive values of the region and become the collective identity of an ethnic group or community. The existence of Adat Belang is not only about tradition, but also about efforts to preserve national identity through the preservation of culture that is deeply rooted in the lives of the local community. The type of research is qualitative research, with the research location being community and religious leaders. The data collection techniques are observation and documentation. The data is analyzed descriptively and qualitatively. The results of the research show that the Belang Custom is not just a boat race or a means of transportation, but a very sacred sociological instrument for the people of Banda Naira. This tradition internalizes civic values such as mutual cooperation (gotong royong), social solidarity, moral responsibility, and harmonious teamwork, which form the foundation of the local community's character. The sustainability of the Belang tradition is highly dependent on the active role of the local community, including traditional leaders, religious leaders, and youth. Through collective involvement in the ritual procession, from the construction to the launching of the boat into the sea, the community has succeeded in preserving their collective memory and maritime identity amid the challenges of modernization and globalization. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis  eksistensi tradisi adat belang sebagai civic culture masyarakat  Banda Naira. Ekspresi budaya lokal yang tumbuh di tengah masyarakat mencerminkan nilai-nilai khas daerah dan menjadi identitas kolektif suatu etnis atau komunitas. eksistensi Adat Belang, tidak hanya membicarakan tentang sebuah tradisi, melainkan juga tentang upaya menjaga jati diri bangsa melalui pelestarian budaya yang berakar kuat dalam kehidupan masyarakat lokal. Tipe penelitian adalah penelitian kualitatif, lokasi penelitian Subjek dalam penelitian adalah tokoh masyarakat dan tokoh agama. Teknik pengumpulan  data adalah observasi dan dokumentasi. data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian bahwa Tradisi Adat Belang bukan sekadar perlombaan perahu atau sarana transportasi, melainkan instrumen sosiologis yang sangat sakral bagi masyarakat Banda Naira. Tradisi ini menginternalisasi nilai-nilai kewargaan seperti gotong royong (maren), solidaritas sosial, tanggung jawab moral, dan kerja sama tim yang harmonis, yang menjadi fondasi karakter masyarakat setempat. Keberlanjutan tradisi Belang sangat bergantung pada peran aktif masyarakat lokal, termasuk tokoh adat, tokoh agama, dan pemuda. Melalui keterlibatan kolektif dalam prosesi ritual, mulai dari pembuatan hingga penurunan perahu ke laut, masyarakat berhasil menjaga ingatan kolektif dan identitas maritim mereka di tengah tantangan modernisasi dan globalisas