cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
HUBUNGAN ANTARA SELF COMPASSION DENGAN QUARTER LIFE CRISIS PADA MAHASISWA RANTAU SEMESTER AKHIR Melyani Taruk Lembang; Wahyuni Kristinawati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12993

Abstract

This study aims to determine the relationship between self-compassion and quarter-life crisis in final-semester out-of-school students. Final-semester out-of-school students are in the emerging adulthood phase, characterized by various developmental demands, including completing studies, career preparation, financial considerations, and family expectations. These pressures can give rise to anxiety, confusion, and uncertainty about the future, leading to a quarter-life crisis. Self-compassion is an important psychological factor because it helps individuals accept themselves, understand failure as part of life, and respond to pressure more adaptively. This study used a quantitative, correlational approach. The research subjects were 100 final-semester out-of-school students at UKSW, obtained using a purposive sampling technique. The research instruments used a self-compassion scale and a quarter-life crisis scale. Data analysis was performed using the Pearson product-moment correlation test. The results showed a negative and significant relationship between self-compassion and quarter-life crisis, with a correlation coefficient value of r = -0.442 and a significance value of p = 0.000 (p < 0.05). These results indicate that the higher a student's self-compassion, the lower the level of quarter-life crisis they experience. Conversely, the lower the self-compassion, the higher the perceived quarter-life crisis. This study confirms that self-compassion plays a protective role in helping final-semester students from other countries cope with the stress and uncertainty of emerging adulthood. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dan quarter-life crisis pada mahasiswa rantau semester akhir. Mahasiswa rantau semester akhir berada pada fase emerging adulthood yang ditandai dengan berbagai tuntutan perkembangan, seperti penyelesaian studi, persiapan karier, kondisi finansial, dan harapan keluarga. Tekanan tersebut dapat memunculkan kecemasan, kebingungan, dan ketidakpastian mengenai masa depan yang mengarah pada quarter-life crisis. Self-compassion menjadi salah satu faktor psikologis yang penting karena membantu individu menerima diri, memahami kegagalan sebagai bagian dari pengalaman hidup, serta menghadapi tekanan secara lebih adaptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Subjek penelitian berjumlah 100 mahasiswa rantau semester akhir di UKSW yang diperoleh menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan skala self-compassion dan skala quarter-life crisis. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson product moment. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara self-compassion dan quarter-life crisis dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = -0,442 dan nilai signifikansi sebesar p = 0,000 (p < 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi self-compassion yang dimiliki mahasiswa, maka semakin rendah tingkat quarter-life crisis yang dialami. Sebaliknya, semakin rendah self-compassion, maka semakin tinggi quarter-life crisis yang dirasakan. Penelitian ini menegaskan bahwa self-compassion berperan sebagai faktor protektif dalam membantu mahasiswa rantau semester akhir menghadapi tekanan dan ketidakpastian pada masa emerging adulthood.    
PENGARUH BIMBINGAN KELOMPOK PROBLEM FOCUSED COPING UNTUK MENCEGAH BULLYING DI KALANGAN SISWA SMK Widya Septia Wardani; Arizona Arizona; Nurlela Nurlela
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12999

Abstract

ABSTRACT Bullying in schools continues to reflect the limited effectiveness of preventive efforts aimed at strengthening students' ability to manage social conflict adaptively. This study addresses that gap by integrating the Problem Focused Coping approach with the Role Playing technique within group guidance services as an alternative preventive intervention to enhance students' bullying prevention skills at SMK Negeri 2 Palembang. A quantitative approach was employed using a pre-experimental method with a one-group pretest–posttest design. Eight students were selected through purposive sampling and completed a bullying prevention questionnaire before and after the intervention. The collected data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test with SPSS version 26. The findings revealed a substantial improvement in students' bullying prevention abilities, with the mean score increasing from 74.62 on the pre-test to 90.62 on the post-test. Hypothesis testing produced a Z value of -2.546 and an Asymp. Sig. (2-tailed) value of 0.011 (< 0.05), indicating a statistically significant difference between students' conditions before and after the intervention. These findings provide empirical evidence that integrating the Problem Focused Coping approach with the Role Playing technique in group guidance services is an effective preventive model for strengthening students' bullying prevention skills and can be considered an innovative counseling strategy to foster a safer and more supportive school environment. ABSTRAK Perilaku bullying di lingkungan sekolah masih menjadi tantangan yang memerlukan strategi pencegahan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan pemahaman siswa, tetapi juga pada penguatan kemampuan menghadapi konflik sosial secara adaptif. Penelitian ini menawarkan integrasi pendekatan Problem Focused Coping dengan teknik Role Playing dalam layanan bimbingan kelompok sebagai alternatif layanan preventif untuk meningkatkan kemampuan pencegahan bullying pada siswa SMK Negeri 2 Palembang. Penelitian menerapkan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-experimental menggunakan desain one group pretest-posttest. Delapan siswa dipilih melalui teknik purposive sampling, kemudian diberikan angket sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test berbantuan SPSS versi 26. Hasil analisis memperlihatkan adanya peningkatan kemampuan pencegahan bullying, ditunjukkan oleh kenaikan rata-rata skor dari 74,62 pada pre-test menjadi 90,62 pada post-test. Pengujian hipotesis menghasilkan nilai Z sebesar -2,546 dengan nilai signifikansi (Asymp. Sig. 2-tailed) sebesar 0,011 (<0,05), yang mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan antara kondisi sebelum dan sesudah perlakuan. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa integrasi pendekatan Problem Focused Coping dan teknik Role Playing memberikan kontribusi terhadap penguatan kemampuan siswa dalam mencegah bullying serta berpotensi menjadi alternatif model layanan preventif yang dapat diimplementasikan dalam program bimbingan dan konseling di sekolah.
ANALISIS KEBUTUHAN APLIKASI UNTUK MENGELOLA STRES AKADEMIK MURID SMKN 2 MAKASSAR Nur Safitri; Agung Surya Salam; Abid Raisardhi Abdullah; Sinta Nurul Oktaviana Kasim
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13001

Abstract

The burden of vocational competencies, the demands of industrial practice, and the anxiety of transitioning into the world of work that trigger psychological stress for students are the background of this research. These operational issues lead to decreased learning concentration and limitations in conventional Guidance and Counseling services that are still reactive. The main focus of this scientific study is to analyze the level of academic stress of students and identify the specific needs for developing a mindfulness-based stress management mobile application at SMKN 2 Makassar. The steps of the development research (R&D) with the ADDIE model are limited to the analysis stage through a mixed-methods explanatory sequential design strategy approach. Sampling was carried out using a purposive sampling method involving 27 twelfth-grade students and 2 counselor teachers as informants. Primary data collection was collected through the Academic Stress Scale, semi-structured interviews, and field observations. Quantitative data empirically revealed that the level of student stress was in the moderate to high category, where as many as 68.96 percent of students often felt anxious due to the burden of assignment evaluations and 75.86 percent of students were worried about their future careers. Students' adaptive coping skills were also minimal, at only around 15 percent. The main conclusion underscores the real urgency of drafting a blueprint for a digital stress management application as an innovative preventive guidance and counseling service.ABSTRAKBeban kompetensi vokasional, tuntutan praktik industri, serta kecemasan transisional menuju dunia kerja yang memicu tekanan psikologis bagi para siswa melatarbelakangi penelitian ini. Masalah operasional tersebut menimbulkan penurunan konsentrasi belajar serta keterbatasan layanan Bimbingan dan Konseling konvensional yang masih bersifat reaktif. Fokus utama kajian ilmiah ini adalah menganalisis tingkat stres akademik siswa serta mengidentifikasi spesifikasi kebutuhan pengembangan aplikasi mobile pengelolaan stres berbasis mindfulness di SMKN 2 Makassar. Langkah-langkah penelitian pengembangan (Research and Development) dengan model ADDIE ini dibatasi pada tahap analisis (analyze) melalui pendekatan mixed-methods strategi explanatory sequential design. Penarikan sampel dijalankan menggunakan metode purposive sampling yang melibatkan 27 siswa kelas dua belas dan 2 guru konselor sebagai informan. Pengumpulan data primer dihimpun lewat Skala Stres Akademik, wawancara semi-terstruktur, dan observasi lapangan. Data kuantitatif secara empiris menyingkap bahwa tingkat stres siswa berada pada kategori sedang hingga tinggi, di mana sebanyak 68,96 persen siswa sering merasa cemas akibat beban evaluasi tugas dan 75,86 persen siswa khawatir terhadap karier masa depan. Kemampuan coping adaptif siswa juga tergolong minim yakni hanya berkisar 15 persen. Simpulan utama menegaskan adanya urgensi nyata terhadap draf cetak biru aplikasi manajemen stres digital sebagai inovasi layanan BK preventif.    
PENGARUH SELF-EFFICACY, MOTIVASI KERJA, DAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN TERHADAP KESIAPAN KERJA SMKS PGRI 2 SIDOARJO Fadillah Dewi Sajidah; Ruri Nurul Aeni Wulandari
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13002

Abstract

The This study was motivated by the persistently high unemployment rate among vocational high school graduates and the suboptimal work readiness of students in meeting industry demands. The objective of this study is to analyze the influence of self-efficacy, work motivation, and field work practice (PKL) on the work readiness of students majoring in Office Management at SMKS PGRI 2 Sidoarjo. This study uses Brady’s Work Readiness theory, Bandura’s Social Cognitive Theory, Herzberg’s Two-Factor Theory, and Kolb’s Experiential Learning Theory as its theoretical framework. The research method employed is a quantitative approach with an associative research design. Data collection was conducted by distributing questionnaires to 108 students in grades XI and XII who had participated in PKL. The data were analyzed using multiple linear regression analysis with the aid of SPSS through classical assumption tests, t-tests, F-tests, and the coefficient of determination. The results of the study indicate that self-efficacy, work motivation, and field work practices have a positive and significant effect on students’ work readiness, both partially and simultaneously, with a coefficient of determination of 64.9%. Thus, students’ work readiness can be enhanced by strengthening self-efficacy, work motivation, and the quality of the PKL program, which should be aligned with students’ vocational competencies. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya angka pengangguran dikalangan lulusan SMK serta belum optimalnya kesiapan kerja siswa dalam memenuhi tuntutan  industri. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis bagaimana pengaruh self-efficacy, motivasi kerja, dan praktik kerja lapangan (PKL) terhadap kesiapan kerja siswa jurusan Manajemen Perkantoran SMKS PGRI 2 Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan teori Work Readiness dari Brady, Social Cognitive Theory dari Bandura, Herzberg’s Two-Factor Theory, serta Experiential Learning Theory dari Kolb sebagai landasan teoritis. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian asosiatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada 108 siswa kelas XI dan XII yang telah mengikuti PKL. Data dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda dengan bantuan SPSS melalui uji asumsi klasik, uji t, uji F, dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-efficacy, motivasi kerja, dan praktik kerja lapangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan kerja siswa, baik secara parsial maupun simultan, dengan nilai koefisien determinasi sebesar 64,9%. Dengan demikian, peningkatan kesiapan kerja siswa dapat dilakukan melalui penguatan keyakinan diri, motivasi kerja, dan kualitas pelaksanaan PKL yang relevan dengan kompetensi keahlian siswa.    
HUBUNGAN HOMESICKNESS DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA MAHASISWA RANTAU DI KOTA SEMARANG Amalia Dwi Rahmi; Shofwatun Amaliyah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13003

Abstract

The difficulties of sociocultural adaptation and geographic separation from primary family support systems during the transition to college are the background to this research. These operational issues trigger profound emotional distress, culture shock, and increased mental vulnerability among newcomers. The main focus of this scientific study is to analyze and empirically test the relationship between homesickness and anxiety levels among out-of-town students in Semarang City. The steps of this quantitative research pathway with a correlational design were operated through sampling using a non-probability sampling method. The primary data collection procedure involved 106 active respondents via an online questionnaire using the Utrecht Homesickness Scale and Generalized Anxiety Disorder-7 instruments. The quantitative data were statistically analyzed using a Pearson correlation test. The empirical results revealed a positive and significant relationship between the two variables with a correlation coefficient r of 0.545 and a significance value p of 0.000. These findings indicate that the higher the level of homesickness experienced by students, the greater the intensity of their psychological anxiety. The main conclusion confirms that homesickness acts as a crucial indicator factor in determining emotional stability. It is recommended that students from other countries and academic institutions draft adaptive coping strategies to reduce the accumulation of negative mental tension on an ongoing basis. ABSTRAK Kesulitan proses adaptasi sosiokultural serta keterpisahan geografis dari sistem dukungan utama keluarga pada masa transisi perkuliahan melatarbelakangi kegiatan penelitian ini. Masalah operasional tersebut memicu distres emosional mendalam, fenomena culture shock, dan peningkatan kerentanan mental pada kalangan pendatang baru. Fokus utama kajian ilmiah ini adalah membedah dan menguji secara empiris hubungan antara homesickness dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa rantau di Kota Semarang. Langkah-langkah jalur riset kuantitatif dengan desain korelasional ini dioperasikan melalui penarikan sampel menggunakan metode non-probability sampling. Prosedur pengumpulan data primer melibatkan 106 responden aktif via kuesioner daring menggunakan instrumen Utrecht Homesickness Scale dan Generalized Anxiety Disorder-7. Data kuantitatif dianalisis statistik lewat uji korelasi Pearson. Hasil penelitian secara empiris menyingkap adanya hubungan positif dan signifikan antara kedua variabel dengan nilai koefisien korelasi r sebesar 0,545 serta nilai signifikansi p sebesar 0,000. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kerinduan rumah yang dialami mahasiswa, maka semakin meningkat pula intensitas kecemasan psikologisnya. Simpulan utama menegaskan bahwa homesickness bertindak sebagai salah satu faktor indikator krusial penentu stabilitas emosi. Mahasiswa perantau serta institusi akademik direkomendasikan menyusun draf strategi pengondisian koping adaptif guna mereduksi akumulasi ketegangan pikiran negatif secara berkelanjutan.    
PERSEPSI GURU TENTANG FAIRNESS DALAM ASESMEN PENDIDIKAN: STUDI KUALITATIF PADA GURU SEKOLAH MENENGAH DI INDONESIA Shierly Luthfia Shalsa; Aprilia Rambe; Intan Baiduri; Rachmadiar Perdana; Hazatriningrum Kusumawati; Indri Hapsari
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13004

Abstract

Fairness in educational assessment is a fundamental principle shaping the quality of teacher-student relationships and the meaningfulness of the learning process. A preliminary study conducted in several secondary schools in Jakarta, Semarang, and Banjarbaru found that some teachers still base their assessment practices on personal experience and institutional pressure, without a clear conceptual grounding in fairness. This study aims to explore in depth how secondary school teachers interpret and practice fairness in educational assessment. The study employed a qualitative approach using semi-structured interviews with five teachers from junior high, senior high, and vocational school levels in public schools. Data were analyzed using Braun and Clarke's six-phase thematic analysis, encompassing familiarization with the data, generating initial codes, searching for themes, reviewing themes, defining and naming themes, and producing the report. The findings reveal six major themes: teacher identity, emotion, and professional development; teacher-student relationships and classroom management; assessment systems and learning evaluation; curriculum and education policy; inclusive education and student diversity; and professional collaboration and learning innovation. The findings indicate that teachers' perceptions of fairness are neither singular nor static, but are dynamically constructed through the interaction of emotional experience, interpersonal relationships with students, curriculum policy demands, and the need to accommodate students with special needs. Teachers conceive of fairness not as uniform treatment, but as the adjustment of assessment to each student's condition, effort, and character. This study contributes to the development of a contextual fairness model for assessment that reflects the realities of education in Indonesia and provides a basis for designing teacher professional development programs related to fair assessment literacy. ABSTRAK Keadilan (fairness) dalam asesmen pendidikan merupakan prinsip penting yang menentukan kualitas hubungan antara guru dan peserta didik serta kebermaknaan proses belajar. Studi pendahuluan di beberapa sekolah menengah di Jakarta, Semarang, dan Banjarbaru menemukan bahwa sebagian guru masih mendasarkan praktik penilaian pada pengalaman pribadi dan tekanan institusional, tanpa pijakan konsep fairness yang jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana guru sekolah menengah memaknai dan mempraktikkan fairness dalam asesmen pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara semi-terstruktur terhadap lima guru dari jenjang SMP, SMA, dan SMK di sekolah negeri. Data dianalisis menggunakan analisis tematik enam tahap dari Braun dan Clarke, meliputi pengenalan data, pembuatan kode awal, pencarian tema, peninjauan tema, penamaan tema, dan penyusunan laporan. Hasil penelitian mengungkap enam tema utama, yaitu identitas, emosi, dan pengembangan guru; hubungan guru-siswa dan manajemen kelas; sistem penilaian dan evaluasi pembelajaran; kurikulum dan kebijakan pendidikan; pendidikan inklusif dan keberagaman siswa; serta kolaborasi profesional dan inovasi pembelajaran. Temuan menunjukkan bahwa persepsi guru tentang fairness tidak bersifat tunggal dan statis, melainkan terbentuk secara dinamis melalui interaksi antara pengalaman emosional, relasi interpersonal dengan siswa, tuntutan kebijakan kurikulum, dan kebutuhan akomodasi bagi siswa berkebutuhan khusus. Guru memaknai keadilan bukan sebagai penyamaan perlakuan, tetapi sebagai penyesuaian penilaian terhadap kondisi, usaha, dan karakter masing-masing siswa. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan model fairness dalam asesmen yang kontekstual dengan realitas pendidikan di Indonesia, serta menjadi dasar bagi penyusunan program pengembangan profesional guru terkait literasi asesmen yang adil.  
KORELASI NOMOPHOBIA DENGAN MOTIVASI INTRINSIK BELAJAR BAHASA ARAB PADA MAHASISWI GENERASI Z Raudhatul Jannah; Angga Frananda
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13034

Abstract

Learning motivation is an essential factor in students' academic success. However, studies examining the influence of nomophobia on Arabic language learning motivation in higher education remain limited, despite the increasing intensity of smartphone use that may affect students' learning processes. This study aimed to examine the relationship between nomophobia and intrinsic motivation for learning Arabic among students of the Arabic Language Education Program at Syekh Yusuf Islamic University. The novelty of this study lies in investigating the relationship between these two variables within the context of Arabic language learning among Generation Z university students, an area that has received limited attention in previous research. This study employed a quantitative approach with a correlational design involving 140 students selected through proportional quota sampling. Data were collected using the adapted Nomophobia Questionnaire (NMP-Q) and the Intrinsic Motivation Inventory (IMI) and were analyzed using the Pearson Product-Moment correlation test. The findings indicate that most students exhibited a moderate level of nomophobia and a high level of intrinsic learning motivation. Furthermore, the results reveal that nomophobia does not have a significant relationship with intrinsic motivation for learning Arabic, suggesting that other factors may play a more substantial role in shaping students' learning motivation. These findings imply that instructional strategies should place greater emphasis on strengthening students' intrinsic motivation while promoting the responsible use of smartphones to support the Arabic language learning process. ABSTRAK Motivasi belajar merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan akademik mahasiswa. Namun, kajian mengenai pengaruh nomophobia terhadap motivasi belajar bahasa Arab di perguruan tinggi masih terbatas, padahal penggunaan smartphone yang semakin intensif berpotensi memengaruhi proses belajar mahasiswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara nomophobia dan motivasi intrinsik belajar bahasa Arab pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Syekh Yusuf. Kebaruan penelitian terletak pada pengkajian hubungan kedua variabel tersebut dalam konteks pembelajaran bahasa Arab pada mahasiswa Generasi Z, yang masih jarang dilaporkan dalam penelitian sebelumnya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional terhadap 140 mahasiswa yang dipilih melalui teknik proportional quota sampling. Data dikumpulkan menggunakan adaptasi Nomophobia Questionnaire (NMP-Q) dan Intrinsic Motivation Inventory (IMI), kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat nomophobia sedang dan motivasi intrinsik yang tinggi. Analisis juga menunjukkan bahwa nomophobia tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan motivasi intrinsik belajar bahasa Arab, sehingga faktor lain diduga lebih berperan dalam membentuk motivasi belajar mahasiswa. Temuan ini memberikan implikasi bahwa pengembangan strategi pembelajaran perlu lebih menekankan pada penguatan motivasi intrinsik serta pemanfaatan smartphone secara bijaksana agar mendukung proses pembelajaran bahasa Arab.
PENGARUH KONSELING KELOMPOK MINDFULNESS TERHADAP PENINGKATAN KEMATANGAN KARIR SISWA SMA Muhammad Alifio Erlangga Basuki; Nurlela Nurlela; Ramtia Darma Putri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13063

Abstract

ABSTRACT Many high school students continue to encounter difficulties in preparing for future educational and occupational pathways due to limited self-understanding, insufficient career exploration, and uncertainty when making career-related decisions. These challenges highlight the need for counseling services that extend beyond career information delivery by strengthening students' psychological readiness for career planning. This study examined the effect of mindfulness-based group counseling on the career maturity of eleventh-grade students at SMA Negeri 15 Palembang. A quantitative approach was employed using a one-group pretest-posttest pre-experimental design. Seven students identified as having low levels of career maturity were selected through purposive sampling and participated in a series of group counseling sessions integrating mindfulness practices. Career maturity was measured before and after the intervention using a career maturity questionnaire, and the data were analyzed with the Wilcoxon Signed-Rank Test. The findings revealed that the mean career maturity score increased from 47.0 at the pretest to 95.5 at the posttest, with a significance value of 0.008 (p < 0.05). These findings indicate that integrating mindfulness into group counseling strengthens career readiness by enhancing self-awareness, emotional regulation, and reflective decision-making. Furthermore, this intervention offers an evidence-based alternative for career counseling services while enriching the implementation of psychological approaches to promote career maturity among senior high school students. ABSTRAK Kesiapan siswa dalam menentukan arah pendidikan dan pekerjaan masih menghadapi berbagai hambatan yang berkaitan dengan rendahnya kesadaran terhadap potensi diri, keterbatasan eksplorasi karir, serta keraguan dalam mengambil keputusan. Situasi tersebut mendorong perlunya pendekatan layanan yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian informasi karir, tetapi juga mengembangkan kesiapan psikologis peserta didik. Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh konseling kelompok berbasis mindfulness terhadap peningkatan kematangan karir siswa kelas XI SMA Negeri 15 Palembang. Kajian dilaksanakan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one-group pretest-posttest pre-experimental. Tujuh siswa yang memiliki tingkat kematangan karir rendah dipilih melalui teknik purposive sampling, kemudian mengikuti rangkaian layanan konseling kelompok yang mengintegrasikan latihan mindfulness. Pengukuran dilakukan menggunakan angket kematangan karir sebelum dan sesudah intervensi, sedangkan analisis data memanfaatkan uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Perubahan skor memperlihatkan peningkatan rata-rata dari 47,0 pada pengukuran awal menjadi 95,5 setelah intervensi, dengan nilai signifikansi 0,008 (p < 0,05). Temuan tersebut menegaskan bahwa integrasi mindfulness dalam konseling kelompok mampu memperkuat kesiapan karir melalui pengembangan kesadaran diri, pengelolaan emosi, dan refleksi terhadap pilihan masa depan. Pendekatan ini sekaligus menawarkan alternatif layanan bimbingan dan konseling berbasis bukti yang relevan untuk mendukung pengembangan karir siswa sekolah menengah.
MAKNA HIDUP SEBAGAI FAKTOR DALAM MENGHADAPI KESEPIAN PADA LANSIA DI PANTI JOMPO PANTI SOSIAL LANJUT USIA HARAPAN KITA INDRALAYA Dwi Hurriyati; Velza Indita Putri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13065

Abstract

ABSTRACT Loneliness among older adults living in residential social care institutions is influenced not only by reduced social interaction but also by how individuals interpret and assign meaning to their life experiences after encountering various changes associated with aging. This condition suggests that meaning in life may serve as an important psychological resource associated with the experience of loneliness, although empirical evidence within the context of Indonesian residential care facilities remains limited. Accordingly, this study examined the relationship between meaning in life and loneliness among older adults residing at Harapan Kita Elderly Social Care Center, Indralaya. A quantitative approach with a correlational design was employed involving 20 participants selected through purposive sampling. Data were collected using valid and reliable questionnaires and analyzed with the Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) through descriptive statistics, assumption testing, and correlation analysis. The findings revealed a correlation coefficient of r = −0.462 with a significance value of p = 0.040 (p < 0.05), indicating a significant negative relationship between meaning in life and loneliness. Older adults with higher levels of meaning in life tended to report lower levels of loneliness. These findings highlight the importance of developing psychosocial interventions that integrate social engagement, spiritual activities, and the enhancement of meaning in life to promote psychological well-being among older adults living in residential social care institutions. ABSTRAK Kesepian pada lansia yang menetap di panti sosial tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya interaksi sosial, tetapi juga dipengaruhi oleh cara individu memaknai perjalanan hidupnya setelah menghadapi berbagai perubahan pada masa lanjut usia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meaning in life berpotensi menjadi sumber daya psikologis yang berkaitan dengan pengalaman loneliness, meskipun bukti empiris pada konteks panti sosial di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini diarahkan untuk menganalisis hubungan antara makna hidup dan kesepian pada lansia yang tinggal di Panti Sosial Lanjut Usia Harapan Kita Indralaya. Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional diterapkan pada 20 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data diperoleh menggunakan kuesioner yang telah memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis dengan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) melalui statistik deskriptif, pengujian prasyarat analisis, dan uji korelasi. Analisis menghasilkan koefisien korelasi sebesar -0,462 dengan nilai signifikansi 0,040 (p < 0,05), yang memperlihatkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara makna hidup dan kesepian. Temuan ini mengindikasikan bahwa lansia yang memiliki tingkat kebermaknaan hidup lebih tinggi cenderung mengalami kesepian yang lebih rendah. Bukti tersebut memperkuat pentingnya pengembangan program psikososial yang mengintegrasikan aktivitas sosial, spiritual, dan penguatan makna hidup sebagai upaya mendukung kesejahteraan psikologis lansia di lingkungan panti sosial.
PENGARUH BIMBINGAN KELOMPOK TEKNIK BRAINSTORMING TERHADAP SIKAP BIJAK BERMEDIA SOSIAL SISWA DI SMA M. D. Hardianto; Arizona Arizona; Erfan Ramadhani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13075

Abstract

ABSTRACT The increasing integration of social media into students' daily lives presents both opportunities and challenges for the development of responsible digital behavior in schools. While social media facilitates access to information, communication, and collaborative learning, many students still experience difficulties in critically verifying information, maintaining appropriate digital communication ethics, and recognizing the potential consequences of their online activities. This condition highlights the need for guidance and counseling services that actively promote the development of responsible social media behavior through participatory learning experiences. This study aimed to examine the effect of group guidance services employing the brainstorming technique on improving students' wise social media behavior at SMA Negeri 1 Tanjung Agung. A quantitative approach was employed using a pre-experimental method with a one-group pretest-posttest design. The participants consisted of nine students selected through purposive sampling. Data were collected using a Wise Social Media Behavior Questionnaire and analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test with IBM SPSS Statistics. The research procedure included a pretest, four sessions of group guidance utilizing the brainstorming technique, and a posttest. The findings revealed an increase in the mean score from 86 to 120, with an Asymp. Sig. (2-tailed) value of 0.008 (<0.05), indicating a statistically significant difference between the pretest and posttest scores. These findings demonstrate that group guidance based on the brainstorming technique effectively strengthens students' wise social media behavior by fostering reflective thinking, digital ethics, and responsible decision-making, thereby offering a promising preventive strategy for enhancing students' digital character in the school environment. ABSTRAK Penggunaan media sosial yang semakin melekat dalam kehidupan peserta didik menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi perkembangan perilaku digital di lingkungan sekolah. Di satu sisi, media sosial mendukung akses informasi, komunikasi, dan kolaborasi pembelajaran, namun di sisi lain masih ditemukan siswa yang belum mampu memverifikasi informasi secara kritis, menjaga etika komunikasi digital, maupun mempertimbangkan konsekuensi dari aktivitas yang dilakukan di ruang siber. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya layanan bimbingan dan konseling yang mampu memfasilitasi pembentukan sikap bijak bermedia sosial secara partisipatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan teknik brainstorming terhadap peningkatan sikap bijak bermedia sosial siswa di SMA Negeri 1 Tanjung Agung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-experimental melalui desain one-group pretest-posttest. Sampel penelitian terdiri atas sembilan siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan angket sikap bijak bermedia sosial, kemudian dianalisis dengan Wilcoxon Signed-Rank Test menggunakan bantuan IBM SPSS Statistics. Tahapan penelitian meliputi pemberian pretest, pelaksanaan empat sesi layanan bimbingan kelompok dengan teknik brainstorming, dan posttest. Hasil analisis menunjukkan peningkatan skor rata-rata dari 86 menjadi 120, dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,008 (<0,05), yang mengindikasikan adanya perbedaan signifikan antara kondisi sebelum dan sesudah perlakuan. Temuan ini menegaskan bahwa layanan bimbingan kelompok berbasis teknik brainstorming efektif memperkuat sikap bijak bermedia sosial melalui pengembangan kemampuan reflektif, etika digital, dan pengambilan keputusan yang lebih bertanggung jawab, sehingga berpotensi menjadi strategi preventif dalam penguatan karakter digital peserta didik di sekolah.