cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 775 Documents
HUBUNGAN STIGMA MASYARAKAT DENGAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP ODGJ DI KELURAHAN HELVETIA TENGAH MEDAN Zefanaya Putri Siagian; Nancy Naomi Aritonang
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14671

Abstract

ABSTRACT Social relationships between communities and individuals with mental disorders are an important aspect of the recovery process because social acceptance can influence their continued participation in society. However, the persistence of stigma within communities makes the pattern of social support received by individuals with mental disorders a phenomenon that requires further investigation. This study examined the relationship between community stigma and social support toward people with mental disorders in Helvetia Tengah Urban Village, Medan City. A quantitative approach with a correlational design was employed involving 350 community members who had interacted with people with mental disorders, selected through purposive sampling based on the Isaac and Michael table. Data were collected using a stigma scale based on the dimensions proposed by Link and Phelan (2001) and a social support scale developed from Sarafino and Smith’s (2014) framework. The data were analyzed using Pearson Product Moment correlation with the assistance of IBM SPSS Statistics version 20.0 after conducting normality and linearity tests. The findings revealed a positive and significant relationship between community stigma and social support toward people with mental disorders, with a low level of correlation strength. These results indicate that the presence of stigma does not directly determine reduced social support, as other factors, such as social experiences, knowledge, and community environments, also contribute to shaping supportive behaviors. Strengthening community-based mental health services, public education, and family empowerment are essential strategies to promote more optimal social support for people with mental disorders. ABSTRAK Hubungan sosial antara masyarakat dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) menjadi salah satu aspek penting dalam proses pemulihan karena penerimaan lingkungan dapat menentukan keberlanjutan partisipasi sosial mereka. Namun, keberadaan stigma yang masih melekat di masyarakat menjadikan pola dukungan sosial terhadap ODGJ sebagai fenomena yang perlu dikaji lebih mendalam. Penelitian ini mengkaji keterkaitan antara stigma masyarakat dan dukungan sosial terhadap ODGJ di Kelurahan Helvetia Tengah, Kota Medan. Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional digunakan pada 350 masyarakat yang pernah berinteraksi dengan ODGJ, dengan pemilihan responden melalui teknik purposive sampling berdasarkan tabel Isaac dan Michael. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala stigma yang mengacu pada Link dan Phelan (2001) serta skala dukungan sosial berdasarkan Sarafino dan Smith (2014). Data dianalisis menggunakan korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan IBM SPSS Statistics versi 20.0 setelah melalui pengujian normalitas dan linearitas. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara stigma masyarakat dan dukungan sosial terhadap ODGJ dengan tingkat hubungan yang rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan stigma tidak secara langsung menentukan rendahnya dukungan sosial, karena terdapat faktor lain seperti pengalaman sosial, pengetahuan, dan lingkungan komunitas yang turut berperan. Penguatan layanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat, edukasi, serta pemberdayaan keluarga menjadi strategi penting untuk menciptakan dukungan sosial yang lebih optimal bagi ODGJ.
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA DENGAN KEPERCAYAAN DIRI SISWA SMA BANTARAN SUNGAI Kiki Rejeki; Eklys Cheseda Makaria; Noor Ainah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12737

Abstract

Self-confidence is an important aspect of adolescent development because it is associated with the ability to interact, adapt, and develop one’s potential. Peer social support is theoretically considered one of the factors associated with students’ self-confidence. Although the relationship between these two variables has been widely investigated, empirical evidence concerning students living in riverbank areas remains relatively limited. This study aimed to examine the relationship between peer social support and self-confidence among students living in riverbank areas who attend SMA Negeri 8 Banjarmasin. This study employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 193 Grade X students who met the criteria for living in riverbank areas and were selected using purposive sampling based on identification and recommendations from school guidance and counseling teachers. Data were collected using Likert-scale questionnaires administered via Google Forms that had met validity and reliability requirements. Data were analyzed using the Pearson Product-Moment correlation test with SPSS. The results revealed a positive and significant relationship between peer social support and self-confidence among students living in riverbank areas. This finding indicates that students who receive higher levels of peer social support tend to have higher levels of self-confidence. This study provides empirical evidence that the positive relationship between peer social support and self-confidence is also observed among students living in riverbank areas. The findings are expected to provide useful input for guidance and counseling teachers in designing services that promote positive social relationships among students. ABSTRAK Kepercayaan diri merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan remaja karena berkaitan dengan kemampuan berinteraksi, beradaptasi, dan mengembangkan potensi diri. Dukungan sosial teman sebaya menjadi salah satu faktor yang secara teoritis berkaitan dengan kepercayaan diri siswa. Meskipun hubungan kedua variabel tersebut telah banyak diteliti, bukti empiris pada siswa yang tinggal di kawasan bantaran sungai masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan kepercayaan diri siswa bantaran sungai di SMA Negeri 8 Banjarmasin. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 193 siswa kelas X yang memenuhi kriteria sebagai siswa bantaran sungai dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan identifikasi serta rekomendasi guru Bimbingan dan Konseling. Data dikumpulkan menggunakan angket skala Likert berbasis Google Form yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dan kepercayaan diri siswa bantaran sungai. Temuan ini menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh dukungan sosial teman sebaya lebih tinggi cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi. Penelitian ini memberikan bukti empiris bahwa hubungan positif antara dukungan sosial teman sebaya dan kepercayaan diri juga ditemukan pada siswa yang tinggal di kawasan bantaran sungai. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi guru bimbingan dan konseling dalam merancang layanan yang mendukung hubungan sosial positif antarsiswa.
KEPEMIMPINAN GEN Z DALAM MEMBANGUN BUDAYA DISIPLIN DI SDIT AL-FATTAH SUKAHURIP KABUPATEN TASIKMALAYA Akmal Awwalin Hadi; Asep Deni; Ulfi Wisa Belinda
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12923

Abstract

Building a culture of discipline in Islamic schools has become increasingly challenging in the digital era, as schools need to integrate consistent rule enforcement, students’ psychological needs, Islamic values, and the use of technology in educational management. This study aims to describe and analyze Generation Z leadership strategies in building a culture of discipline and to evaluate the implementation of persuasive approaches and the use of digital instruments at SDIT Al-Fattah Sukahurip, Tasikmalaya Regency. This study employed a qualitative descriptive approach. The study involved three informants: the principal, the vice principal for student affairs, and the vice principal for curriculum, who were selected through purposive sampling. Data were collected through observation, in-depth interviews, and document analysis and were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, which includes data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. The findings indicate that Generation Z leadership is characterized by humanistic, persuasive, communicative, and collaborative approaches supported by the use of digital technology for coordinating and monitoring school activities. These strategies are implemented through religious habituation activities, exemplary leadership, routine evaluations, and the reinforcement of spiritually grounded disciplinary values. Digital instruments support communication and the monitoring of school activities, while persuasive approaches encourage the development of self-discipline without creating psychological pressure. These findings indicate that Generation Z leadership contributes to building an adaptive and humanistic culture of discipline that is aligned with Islamic values within the school environment. ABSTRAK Tantangan membangun budaya disiplin di sekolah Islam pada era digital semakin kompleks karena sekolah perlu mengintegrasikan ketegasan aturan, kebutuhan psikologis peserta didik, nilai-nilai keislaman, dan pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis strategi kepemimpinan Generasi Z dalam membangun budaya disiplin serta mengevaluasi penerapan pendekatan persuasif dan pemanfaatan instrumen digital di SDIT Al-Fattah Sukahurip Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Informan penelitian berjumlah tiga orang, yaitu kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan Gen Z diterapkan melalui pendekatan humanis, persuasif, komunikatif, dan kolaboratif yang didukung oleh pemanfaatan teknologi digital dalam koordinasi dan monitoring kegiatan sekolah. Strategi tersebut diwujudkan melalui pembiasaan kegiatan keagamaan, keteladanan, evaluasi rutin, serta penguatan nilai-nilai kedisiplinan berbasis spiritual. Pemanfaatan instrumen digital mendukung komunikasi dan pengawasan kegiatan sekolah, sedangkan pendekatan persuasif mendorong tumbuhnya kesadaran disiplin dari dalam diri tanpa tekanan psikologis. Temuan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Gen Z berkontribusi dalam membangun budaya disiplin yang adaptif, humanis, dan selaras dengan nilai-nilai keislaman di lingkungan sekolah.
PENGARUH SELF-ESTEEM DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP KEPERCAYAAN DIRI PADA REMAJA TUNARUNGU DI SURABAYA Kharisma Isnaini; Nurfi Laili
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13810

Abstract

Deaf adolescents often encounter psychological and social challenges that may affect the development of self-confidence. Communication barriers frequently limit their opportunities to build interpersonal relationships, develop positive self-perceptions, and express their abilities in social environments. In this context, self-esteem and social support are considered important factors that contribute to the development of self-confidence. This study aimed to examine the influence of self-esteem and social support on self-confidence among deaf adolescents in Surabaya. A quantitative approach with a correlational design was employed using multiple linear regression analysis. The study involved 62 respondents selected using a non-probability sampling technique with judgment sampling based on predetermined criteria. Data were collected using the Lauster Self-Confidence Scale, the Coopersmith Self-Esteem Scale, and the adapted Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). The findings revealed that self-esteem and social support simultaneously had a significant effect on self-confidence, explaining 34.1% of the variance. Individually, both variables also had positive and significant effects, with self-esteem emerging as the stronger predictor. These findings indicate that strengthening self-esteem and enhancing social support from family, peers, and the surrounding environment play an important role in improving self-confidence and facilitating better social adjustment among deaf adolescents. ABSTRAK Remaja tunarungu menghadapi berbagai tantangan dalam perkembangan psikologis dan interaksi sosial yang dapat memengaruhi kepercayaan diri. Keterbatasan dalam komunikasi sering kali menyebabkan kesulitan dalam membangun hubungan sosial, menerima diri, serta mengekspresikan kemampuan yang dimiliki. Dalam kondisi tersebut, self-esteem dan dukungan sosial dipandang sebagai faktor penting yang berkontribusi terhadap terbentuknya kepercayaan diri. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh self-esteem dan dukungan sosial terhadap kepercayaan diri pada remaja tunarungu di Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional melalui analisis regresi linear berganda. Subjek penelitian berjumlah 62 responden yang dipilih menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode judgment sampling berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan. Data dikumpulkan menggunakan skala kepercayaan diri Lauster, skala self-esteem Coopersmith, dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) yang telah diadaptasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-esteem dan dukungan sosial secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kepercayaan diri dengan kontribusi sebesar 34,1%. Secara parsial, kedua variabel juga memberikan pengaruh positif dan signifikan, dengan self-esteem sebagai variabel yang memiliki pengaruh lebih dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan self-esteem dan peningkatan dukungan sosial dari keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar berperan penting dalam meningkatkan kepercayaan diri remaja tunarungu serta mendukung proses penyesuaian diri mereka di lingkungan sosial.
PENGARUH KONTROL DIRI DAN TEMAN SEBAYA TERHADAP PROKRASTINASI AKADEMIK PADA SISWA SMP NEGERI 1 TILATANG KAMANG Zakia Fitri; Elviana Elviana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14638

Abstract

Academic procrastination is the behavior of delaying the completion of academic tasks, which may interfere with students' learning achievement and academic goals. This behavior can be influenced by both internal and external factors, including self-control and the peer environment. This study aimed to analyze the effects of self-control and peers on academic procrastination among students at SMP Negeri 1 Tilatang Kamang. This study employed a quantitative approach with an associative research design. The population consisted of 145 eighth-grade students, and the entire population was selected as the sample using total sampling. Data were collected through questionnaires that had undergone validity and reliability testing and were analyzed using multiple linear regression with the assistance of SPSS version 25. The results showed that self-control had a negative and significant effect on academic procrastination, with a regression coefficient of -0.480 and a significance value of 0.000 (<0.05). In contrast, peers had a positive and significant effect on academic procrastination, with a regression coefficient of 0.369 and a significance value of 0.001 (<0.05). Simultaneously, self-control and peers had a significant effect on academic procrastination, as indicated by an F-value of 110.205 and a significance value of 0.000 (<0.05). These findings indicate that students' self-control and the characteristics of their peer environment are important aspects to consider in efforts to reduce academic procrastination. ABSTRAK Prokrastinasi akademik merupakan perilaku menunda penyelesaian tugas akademik yang dapat menghambat pencapaian tujuan belajar siswa. Perilaku ini dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal, termasuk kemampuan kontrol diri dan lingkungan teman sebaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kontrol diri dan teman sebaya terhadap prokrastinasi akademik pada siswa SMP Negeri 1 Tilatang Kamang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif. Populasi penelitian berjumlah 145 siswa kelas VIII dan seluruh populasi dijadikan sampel melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan angket yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol diri berpengaruh negatif dan signifikan terhadap prokrastinasi akademik, dengan koefisien regresi sebesar -0,480 dan nilai signifikansi 0,000 (<0,05). Sebaliknya, teman sebaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap prokrastinasi akademik, dengan koefisien regresi sebesar 0,369 dan nilai signifikansi 0,001 (<0,05). Secara simultan, kontrol diri dan teman sebaya berpengaruh signifikan terhadap prokrastinasi akademik, dengan nilai F sebesar 110,205 dan signifikansi 0,000 (<0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan kontrol diri dan karakteristik lingkungan teman sebaya merupakan aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya mengurangi prokrastinasi akademik siswa.
PENGARUH KARAKTERISTIK KEPRIBADIAN DAN LINGKUNGAN SOSIAL TERHADAP COPING STRESS Ahmad Fauzan; Elviana Elviana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14878

Abstract

This study was motivated by the difficulties experienced by some university students in managing academic and social stress, which are presumed to be associated with personality characteristics and the social environment. This study aimed to examine the influence of personality characteristics and the social environment on stress coping among students in the Guidance and Counseling Study Program at Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. This study employed a quantitative approach with an associative research design. The population consisted of 127 students from the 2024 cohort in classes A, B, C, and D of the Guidance and Counseling Study Program. The sampling technique used total sampling, with 110 students meeting the criteria as respondents because some students were inactive. Data were collected using a Likert-scale questionnaire that had undergone validity and reliability testing. The data were analyzed using descriptive statistics, simple linear regression, and multiple linear regression. The results showed that personality characteristics did not have a significant effect on stress coping, with a significance value of 0.342 and a contribution of 0.8%. The social environment had a positive and significant effect on stress coping, with a significance value of 0.006 and a contribution of 6.7%. Simultaneously, personality characteristics and the social environment had a significant effect on stress coping, with an F value of 4.016, a significance value of 0.021, and a contribution of 7%. Thus, the social environment was a stronger partial predictor, while personality characteristics and the social environment jointly contributed to students' stress coping. These findings highlight the importance of strengthening supportive social environments and developing positive personal characteristics to support students' ability to cope with stress. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam mengelola stres akademik dan sosial, yang diduga berkaitan dengan karakteristik kepribadian dan lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh karakteristik kepribadian dan lingkungan sosial terhadap coping stress mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif. Populasi penelitian terdiri atas 127 mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2024 kelas A, B, C, dan D. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, dengan 110 mahasiswa yang memenuhi kriteria sebagai responden karena sebagian mahasiswa berstatus tidak aktif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner skala Likert yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, regresi linear sederhana, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kepribadian tidak berpengaruh signifikan terhadap coping stress, dengan nilai signifikansi 0,342 dan kontribusi sebesar 0,8%. Lingkungan sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap coping stress, dengan nilai signifikansi 0,006 dan kontribusi sebesar 6,7%. Secara simultan, karakteristik kepribadian dan lingkungan sosial berpengaruh signifikan terhadap coping stress, dengan nilai F sebesar 4,016, signifikansi 0,021, dan kontribusi sebesar 7%. Dengan demikian, lingkungan sosial merupakan prediktor yang lebih kuat secara parsial, sedangkan kombinasi karakteristik kepribadian dan lingkungan sosial secara bersama-sama berkontribusi terhadap coping stress mahasiswa. Temuan ini menunjukkan pentingnya penguatan lingkungan sosial yang suportif dan pengembangan karakteristik pribadi dalam mendukung kemampuan mahasiswa menghadapi stres.
HUBUNGAN KECANDUAN MEDIA SOSIAL DENGAN BEDTIME PROCRASTIONATION PADA MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI PADANG Widya Maharani; Mario Pratama
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.15022

Abstract

Intensive social media use among university students may extend into the night and potentially disrupt regular sleep patterns. University students are an important population to study because of their high exposure to social media, combined with academic demands and social activities that may affect their ability to regulate their rest time. Although previous studies have demonstrated an association between social media use and bedtime delay, evidence regarding the relationship between social media addiction and bedtime procrastination among students at Universitas Negeri Padang remains limited. This study contributes empirical evidence on the relationship between these two variables in the context of students at Universitas Negeri Padang. This study aimed to determine the level of social media addiction, describe bedtime procrastination, and analyze the relationship between social media addiction and bedtime procrastination among students at Universitas Negeri Padang. A quantitative approach with a correlational design was employed using purposive sampling. The participants were 395 active students of Universitas Negeri Padang. Data were collected online using the Social Media Addiction Scale and the Bedtime Procrastination Scale. The results showed that the majority of students had moderate levels of social media addiction and bedtime procrastination. TikTok and Instagram were the most frequently used social media platforms among the respondents. The correlation analysis revealed a positive and significant relationship between social media addiction and bedtime procrastination, with a moderate strength of association. These findings indicate that higher levels of social media addiction are associated with a greater tendency among students to engage in bedtime procrastination. The findings highlight the importance of managing social media use and strengthening self-regulation as part of efforts to maintain regular sleep patterns among university students. ABSTRAK Penggunaan media sosial yang intensif di kalangan mahasiswa dapat berlanjut hingga malam hari dan berpotensi mengganggu keteraturan waktu tidur. Mahasiswa menjadi kelompok yang penting untuk diteliti karena tingginya keterpaparan terhadap media sosial, disertai tuntutan akademik dan aktivitas sosial yang dapat memengaruhi kemampuan mengatur waktu istirahat. Meskipun penelitian sebelumnya telah menunjukkan keterkaitan antara penggunaan media sosial dan penundaan waktu tidur, bukti mengenai hubungan kecanduan media sosial dengan bedtime procrastination pada mahasiswa Universitas Negeri Padang masih terbatas. Penelitian ini berkontribusi dengan memberikan bukti empiris mengenai hubungan kedua variabel tersebut pada konteks mahasiswa Universitas Negeri Padang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecanduan media sosial, menggambarkan bedtime procrastination, serta menganalisis hubungan antara kecanduan media sosial dan bedtime procrastination pada mahasiswa Universitas Negeri Padang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan teknik purposive sampling. Responden berjumlah 395 mahasiswa aktif Universitas Negeri Padang. Data dikumpulkan secara daring menggunakan Skala Kecanduan Media Sosial dan Skala Bedtime Procrastination. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa berada pada kategori sedang dalam kecanduan media sosial dan bedtime procrastination. TikTok dan Instagram merupakan platform media sosial yang paling banyak digunakan oleh responden. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kecanduan media sosial dan bedtime procrastination dengan kekuatan hubungan sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kecanduan media sosial, semakin tinggi pula kecenderungan mahasiswa melakukan bedtime procrastination. Temuan penelitian menegaskan pentingnya pengelolaan penggunaan media sosial dan penguatan regulasi diri sebagai bagian dari upaya menjaga keteraturan waktu tidur mahasiswa.
MENGAPA SAUDARA MENJADI RIVAL? PERAN GAYA PENGASUHAN ORANG TUA TERHADAP SIBLING RIVALRY PADA REMAJA Dinda Aprilia Maulidina Santoso Putri; Lely Nur Azizah; Khoirur Reza
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14956

Abstract

Sibling rivalry—characterized by competition, jealousy, and conflict between brothers and sisters—is a common occurrence throughout adolescence and may carry consequences for an individual's social-emotional adjustment later in life. This research aimed to pinpoint which of three parenting styles (authoritarian, authoritative, or permissive) most strongly predicts sibling rivalry among adolescents with siblings. Using a quantitative, cross-sectional design, 170 adolescents aged 12–21 years were selected via purposive sampling to take part in the study. Online data collection relied on the Parenting Style Scale (Buri, 1991, as adapted by Prambayu, 2018) and the Sibling Rivalry Scale (Maisarah, 2021); the resulting data were then analyzed with bootstrapped regression (5,000 replications) in JASP version 0.19.1.0 owing to the non-normal distribution of most variables. The analysis showed that each of the three parenting dimensions significantly and positively predicted sibling rivalry, with authoritarian parenting emerging as the strongest predictor (B = 0.690; R² = 23.6%), permissive parenting ranking second (B = 0.426; R² = 6.1%), and authoritative parenting showing the weakest, though still significant, effect (B = 0.383; R² = 4.2%). These results lend support to all three hypotheses and confirm that high control devoid of warmth, as well as freedom without firm boundaries, function as key risk factors driving sibling rivalry during adolescence. The findings are expected to serve as a foundation for parenting psychoeducation initiatives aimed at curbing authoritarian and permissive tendencies so as to cultivate more harmonious sibling bonds. ABSTRAKPersaingan, kecemburuan, dan konflik antar saudara kandung yang dikenal dengan istilah sibling rivalry termasuk fenomena umum pada tahap perkembangan remaja, dan berimplikasi terhadap kemampuan penyesuaian sosial-emosional seseorang di masa mendatang. Tujuan penelitian ini yaitu mengungkap gaya pengasuhan mana, di antara otoriter, otoritatif, dan permisif, yang paling kuat pengaruhnya terhadap kejadian sibling rivalry pada remaja bersaudara kandung. Melalui desain cross-sectional dan pendekatan kuantitatif, sebanyak 170 remaja berusia 12–21 tahun dilibatkan sebagai partisipan menggunakan teknik purposive sampling. Skala Gaya Pengasuhan dan Skala Sibling Rivalry digunakan untuk menjaring data secara daring, yang kemudian diolah menggunakan analisis regresi berbasis bootstrapping sebanyak 5.000 replikasi melalui JASP versi 0.19.1.0, sebab sebagian besar data tidak terdistribusi normal. Dari hasil analisis diketahui bahwa ketiga dimensi pengasuhan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap sibling rivalry, dengan urutan pengaruh dari yang terbesar hingga terkecil sebagai berikut: otoriter (B = 0,690; R² = 23,6%), permisif (B = 0,426; R² = 6,1%), dan otoritatif (B = 0,383; R² = 4,2%). Ketiga hipotesis penelitian dinyatakan terdukung, sekaligus mengonfirmasi bahwa kombinasi kontrol berlebih tanpa kehangatan, serta kebebasan tanpa batasan yang jelas, merupakan dua faktor risiko dominan penyebab sibling rivalry pada remaja. Studi ini diharapkan mampu menjadi rujukan bagi penyusunan program psikoedukasi parenting yang menyasar perbaikan pola pengasuhan otoriter dan permisif guna mewujudkan hubungan antar saudara yang lebih harmonis.    
HUBUNGAN RELIGIUSITAS, KECERDASAN DAN EMOSI DENGAN KEPUASAAN HIDUP DI TINJAU DARI JENIS KELAMIN PADA REMAJA DI UPTD KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK NAIBONAT Delsylia Tresnawati Ufi; Imelda Marina Djira; Arkhipus Aditya Manada Golu
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.8198

Abstract

ABSTRACT Life satisfaction is an important aspect of adolescent development, including among adolescents living in social welfare institutions who experience separation from their families or come from broken-home families. Religiosity and emotional intelligence are considered factors that may be associated with adolescents’ ability to cope with life and achieve life satisfaction. This study aimed to examine the relationship between religiosity and emotional intelligence and life satisfaction, as well as differences in these variables based on gender among adolescents at the Riang Naibonat Child Social Welfare Technical Implementation Unit (UPTD), Kupang Regency, East Nusa Tenggara. This study employed a quantitative approach. Data were collected through questionnaires measuring religiosity, emotional intelligence, and life satisfaction. The sample consisted of 60 adolescents, comprising 35 male and 25 female adolescents. The sampling technique used was saturated sampling, in which all members of the population were included as research participants. The data were analyzed using multiple linear correlation to examine the relationship between religiosity and emotional intelligence and life satisfaction, as well as difference tests to examine differences in the research variables based on gender. The results showed that there was no significant relationship between religiosity and emotional intelligence and life satisfaction. However, further analysis showed that religiosity and emotional intelligence had an effect on life satisfaction, whereas the interaction between religiosity and emotional intelligence did not have an effect on life satisfaction. In terms of gender, there were no differences in religiosity or emotional intelligence between male and female adolescents; however, there was a difference in life satisfaction between the two groups. ABSTRAK Kepuasan hidup merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan remaja, termasuk remaja yang tinggal di lembaga kesejahteraan sosial dan menghadapi kondisi jauh dari keluarga atau berasal dari keluarga broken home. Religiusitas dan kecerdasan emosi dipandang sebagai faktor yang berkaitan dengan kemampuan remaja dalam menjalani kehidupan dan mencapai kepuasan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan religiusitas dan kecerdasan emosi dengan kepuasan hidup serta mengetahui perbedaannya berdasarkan jenis kelamin pada remaja di UPTD Kesejahteraan Sosial Anak Riang Naibonat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur religiusitas, kecerdasan emosi, dan kepuasan hidup  Sampel penelitian berjumlah 60 remaja yang terdiri atas 35 remaja laki-laki dan 25 remaja perempuan. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik sampling jenuh, yaitu seluruh anggota populasi dijadikan sebagai sampel penelitian. Data penelitian dianalisis menggunakan korelasi linear berganda untuk menguji hubungan religiusitas dan kecerdasan emosi dengan kepuasan hidup serta uji beda untuk mengetahui perbedaan variabel penelitian berdasarkan jenis kelamin. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan religiusitas dan kecerdasan emosi dengan kepuasan hidup. Namun, hasil analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa religiusitas dan kecerdasan emosi berpengaruh terhadap kepuasan hidup, sedangkan interaksi antara religiusitas dan kecerdasan emosi tidak berpengaruh terhadap kepuasan hidup. Ditinjau dari jenis kelamin, tidak terdapat perbedaan religiusitas dan kecerdasan emosi antara remaja laki-laki dan perempuan, tetapi terdapat perbedaan kepuasan hidup antara remaja laki-laki dan perempuan. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan religiusitas dan kecerdasan emosi dengan kepuasan hidup. Namun, religiusitas dan kecerdasan emosi berpengaruh terhadap kepuasan hidup, sedangkan interaksi antara religiusitas dan kecerdasan emosi tidak berpengaruh terhadap kepuasan hidup.
DETEKSI DINI GANGGUAN TINGKAH LAKU PADA ANAK DENGAN CDRS TEACHER AND PARENT DI KOTA DENPASAR I Gusti Ayu Indah Ardani; I Gusti Ayu Trisna Windiani; I Gusti Agung Ngurah Sughita; Sindi Antika; I Gusti Ngurah Wisuda Manik
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.10130

Abstract

Conduct disorder in children is a mental health problem that often remains undetected at an early stage despite its long-term consequences for social functioning, academic performance, and psychological development. The limited use of systematic assessment and reliance on subjective observation in school settings may contribute to the underdetection of cases during the early stages. This study aimed to identify the prevalence of conduct disorder among elementary school students using a multi-informant screening approach. A descriptive-analytic cross-sectional study was conducted among 261 students in grades 4–6 at SD 3 Saraswati Denpasar using total sampling. Assessment was performed using the Indonesian version of the Conduct Disorder Rating Scale (CDRS), completed by both parents and teachers. Data were analyzed descriptively by presenting the frequency and proportion of conduct disorder identified based on parent- and teacher-reported CDRS assessments. The results showed that 6.53% of students were identified as having conduct disorder, with differences in the number of cases identified by teachers and parents, reflecting contextual variations in children’s behavior. These findings indicate that conduct disorder is a clinically relevant problem that may remain underrecognized in the absence of systematic screening. The study concludes that the use of standardized instruments with a multi-informant approach may enhance the sensitivity of early detection and is relevant for integration into school-based mental health services. These findings also highlight the importance of integrating education and mental health policies to prevent the progression of behavioral problems from an early age. ABSTRAK Gangguan tingkah laku pada anak merupakan masalah kesehatan jiwa yang sering tidak terdeteksi secara dini meskipun memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap fungsi sosial, akademik, dan perkembangan psikologis. Keterbatasan identifikasi berbasis observasi subjektif di lingkungan sekolah menyebabkan rendahnya deteksi kasus pada fase awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi gangguan tingkah laku pada anak sekolah dasar menggunakan pendekatan skrining berbasis multi-informan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) pada 261 siswa kelas 4–6 di SD 3 Saraswati Denpasar dengan teknik total sampling. Pengukuran dilakukan menggunakan Conduct Disorder Rating Scale (CDRS) versi Indonesia yang diisi oleh orang tua dan guru. Data dianalisis secara deskriptif dengan menyajikan frekuensi dan proporsi kejadian gangguan tingkah laku berdasarkan hasil penilaian CDRS orang tua dan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 6,53% siswa teridentifikasi mengalami gangguan tingkah laku, dengan perbedaan jumlah kasus antara penilaian guru dan orang tua yang mencerminkan variasi konteks perilaku anak. Temuan ini menegaskan bahwa gangguan tingkah laku merupakan fenomena klinis yang nyata namun berpotensi terabaikan tanpa pendekatan skrining yang sistematis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan instrumen terstandar dengan pendekatan multi-informan meningkatkan sensitivitas deteksi dini dan relevan untuk diintegrasikan dalam layanan kesehatan mental berbasis sekolah. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya integrasi kebijakan pendidikan dan kesehatan mental untuk mencegah progresivitas gangguan sejak usia dini.