cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
PENGARUH BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN VALUE CLARIFICATION TECHNIQUE UNTUK MENGEMBANGKAN EMPATI SISWA SMA Rara Bunga Febrina; Syska Purnama Sari; Ramtia Darma Putri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13076

Abstract

ABSTRACT Low levels of student empathy remain a challenge for guidance and counseling services, as they affect the quality of social interactions, concern for peers, and character development within the school environment. This study examined the effect of integrating group guidance services with the Value Clarification Technique (VCT) on the development of students' empathy at SMA PGRI 2 Palembang. A quantitative approach was employed using a Pre-Experimental design with a One-Group Pretest–Posttest Design. The research procedure consisted of an initial screening, participant selection through purposive sampling, implementation of group guidance sessions, and pretest–posttest assessments. Data were collected using a Likert-scale questionnaire and analyzed with the Wilcoxon Signed-Rank Test. The findings revealed a significant improvement in students' empathy following the intervention, with a statistically significant difference (Asymp. Sig. (2-tailed) = 0.012; p < 0.05). These findings indicate that integrating the Value Clarification Technique into group guidance facilitates the development of empathy by encouraging value reflection and social experiences that foster greater concern for others and a deeper understanding of different perspectives. ABSTRAK Rendahnya empati peserta didik masih menjadi tantangan dalam layanan bimbingan dan konseling karena berpengaruh terhadap kualitas interaksi sosial, kepedulian terhadap teman sebaya, dan perkembangan karakter di lingkungan sekolah. Penelitian ini menganalisis pengaruh integrasi layanan bimbingan kelompok dengan pendekatan Value Clarification Technique terhadap pengembangan empati siswa SMA PGRI 2 Palembang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Pre-Experimental melalui model One Group Pretest–Posttest Design. Tahapan penelitian meliputi screening, penetapan sampel menggunakan teknik purposive sampling, pemberian layanan bimbingan kelompok, serta pengukuran sebelum dan sesudah perlakuan. Data dikumpulkan menggunakan angket skala Likert dan dianalisis dengan Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan empati siswa setelah mengikuti layanan, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik (Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,012; p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa integrasi Value Clarification Technique dalam dinamika bimbingan kelompok mendukung pengembangan empati melalui proses refleksi nilai dan pengalaman sosial yang mendorong peserta didik membangun kepedulian serta memahami perspektif orang lain secara lebih mendalam.
GAMBARAN SELF-COMPASSION PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL SETELAH MENGALAMI KEKERASAN DALAM PACARAN Lativa Ishaki Bidri; Nancy Naomi Aritonang
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13087

Abstract

ABSTRACT Dating violence is a serious problem experienced by many early adult women and significantly impacts victims' psychological conditions, including their ability to develop self-compassion. This study aims to describe self-compassion in early adult women after experiencing dating violence. The research employed a qualitative method with a phenomenological approach. The subjects were two early adult women aged 23 and 24 years who had experienced dating violence. Data collection techniques included in-depth interviews, observation, and documentation. Data analysis used Braun and Clarke's thematic analysis. The findings showed that both participants achieved the three dimensions of self-compassion: self-kindness, common humanity, and mindfulness. Both participants demonstrated a shift from self-blame toward greater self-acceptance, developed an awareness that suffering is a universal human experience, and became more capable of confronting negative experiences mindfully without avoidance or becoming overwhelmed by their emotions. Factors influencing the emergence of self-compassion included social support, self-reflection, information exposure, and emotional regulation skills. This study concludes that self-compassion is a healing response that can be learned and developed gradually after experiencing dating violence. ABSTRAK Kekerasan dalam pacaran merupakan masalah serius yang banyak dialami oleh perempuan dewasa awal dan berdampak signifikan terhadap kondisi psikologis korban, termasuk kemampuan mereka untuk mengembangkan self-compassion. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan self-compassion pada perempuan dewasa awal setelah mengalami kekerasan dalam pacaran. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian adalah dua orang perempuan dewasa awal berusia 23 dan 24 tahun yang pernah mengalami kekerasan dalam pacaran. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua partisipan telah mencapai tiga aspek self-compassion, yaitu kebaikan pada diri sendiri (self-kindness), kemanusiaan bersama (common humanity), dan kesadaran penuh (mindfulness). Kedua partisipan mengalami perubahan dari kecenderungan menyalahkan diri menjadi lebih mampu menerima diri, menyadari bahwa penderitaan merupakan pengalaman yang bersifat universal, serta menghadapi pengalaman negatif secara lebih sadar tanpa menghindari atau larut dalam emosi yang berlebihan. Faktor-faktor yang memengaruhi munculnya self-compassion meliputi dukungan sosial, refleksi diri, paparan informasi, dan keterampilan regulasi emosi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa self-compassion merupakan respons penyembuhan yang dapat dipelajari dan dikembangkan secara bertahap setelah mengalami kekerasan dalam pacaran.
HUBUNGAN DUKUNGAN TEMAN SEBAYA DENGAN KESEHATAN MENTAL REMAJA AKHIR DI ERA DIGITAL Wulan Dari Febrianti; Erfan Ramadhani; Endang Surtiyoni
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13116

Abstract

ABSTRACT The transformation of social interactions in the digital era has introduced new challenges to university students' mental health, making peer support increasingly recognized as an important protective factor that warrants empirical investigation. This study aimed to examine the relationship between peer support and mental health among late adolescents enrolled in the Guidance and Counseling Study Program at PGRI University of Palembang, Class of 2024. A quantitative approach with a correlational design was employed by administering questionnaires to 60 respondents selected from a population of 135 students. The collected data were analyzed using the Pearson Product-Moment Correlation test. The analysis revealed a correlation coefficient of 0.622 with a significance value of 0.029 (p < 0.05), indicating a positive and statistically significant relationship between peer support and mental health. These findings suggest that the quality of peer support is associated with students' ability to maintain psychological well-being while coping with academic demands and the challenges of life in the digital era. This study extends empirical evidence regarding the role of peer support as a protective factor for mental health by highlighting the digital environment as an important context for understanding students' experiences. Furthermore, the findings provide a foundation for developing more adaptive guidance and counseling services through peer support-based programs to promote university students' mental health. ABSTRAK Transformasi interaksi sosial pada era digital menghadirkan tantangan baru terhadap kesehatan mental mahasiswa, sehingga dukungan teman sebaya semakin dipandang sebagai salah satu faktor protektif yang perlu dipahami secara empiris. Kajian ini difokuskan untuk menganalisis hubungan antara dukungan teman sebaya dan kesehatan mental pada remaja akhir yang sedang menempuh pendidikan di Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Palembang angkatan 2024. Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional diterapkan melalui penyebaran angket kepada 60 responden yang dipilih dari populasi berjumlah 135 mahasiswa, kemudian dianalisis menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Analisis menghasilkan koefisien korelasi sebesar 0,622 dengan nilai signifikansi 0,029 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara dukungan teman sebaya dan kesehatan mental. Hubungan tersebut menegaskan bahwa kualitas dukungan yang diterima mahasiswa berkaitan dengan kemampuannya mempertahankan keseimbangan psikologis dalam menghadapi tuntutan akademik maupun dinamika kehidupan pada era digital. Penelitian ini memperluas bukti empiris mengenai peran dukungan teman sebaya sebagai faktor protektif kesehatan mental dengan menempatkan konteks kehidupan digital sebagai bagian penting dalam memahami pengalaman mahasiswa. Temuan ini sekaligus menjadi dasar bagi pengembangan layanan bimbingan dan konseling berbasis peer support yang lebih adaptif dalam mendukung kesehatan mental mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi.
HUBUNGAN STRATEGI COPING BERFOKUS EMOSI DENGAN TINGKAT STRES AKADEMIK MAHASISWA PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ANGKATAN 2023-2024 Tiara Salsa Bila Putri; Ramtia Darma Putri; Endang Surtiyoni
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13117

Abstract

ABSTRACT Academic pressure experienced by university students is not always addressed by directly resolving the source of the problem; instead, it is often managed through emotional regulation as part of a broader psychological adaptation process. This phenomenon prompted the present study to examine the relationship between emotion-focused coping and academic stress among students of the Guidance and Counseling Study Program at Universitas PGRI Palembang from the 2023–2024 cohorts, while also addressing the limited empirical evidence concerning prospective counselors. A quantitative approach employing a correlational design was implemented, involving 133 students selected from a population of 199 through stratified random sampling. Data were collected using questionnaires that had demonstrated satisfactory validity and reliability, followed by normality testing and Spearman’s Rank correlation analysis with IBM SPSS Statistics because the data did not meet the assumption of normal distribution. The analysis yielded a correlation coefficient of 0.724 with a significance value of 0.000 (p < 0.05), indicating a positive and statistically significant relationship between emotion-focused coping and academic stress. These findings confirm that increased use of emotion-focused coping is associated with students’ efforts to regulate their emotional responses when encountering academic demands rather than reflecting deteriorating psychological conditions. This study contributes empirical evidence to the literature on prospective counselors and provides a practical foundation for developing Guidance and Counseling services aimed at strengthening students’ adaptive emotion-focused coping strategies in managing academic stress. ABSTRAK Tekanan akademik yang dialami mahasiswa tidak selalu direspons melalui upaya menyelesaikan sumber permasalahan secara langsung, tetapi sering kali diwujudkan melalui pengelolaan respons emosional sebagai bagian dari proses adaptasi psikologis. Fenomena tersebut menjadi dasar penelitian ini untuk mengkaji hubungan antara emotion-focused coping dan tingkat stres akademik pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Palembang angkatan 2023–2024, sekaligus memberikan bukti empiris pada kelompok calon konselor yang masih relatif terbatas dikaji. Penelitian menerapkan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional yang melibatkan 133 mahasiswa, dipilih dari populasi sebanyak 199 mahasiswa melalui teknik stratified random sampling. Data diperoleh menggunakan angket yang telah memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis secara bertahap melalui uji normalitas dan dilanjutkan dengan uji korelasi Spearman Rank menggunakan IBM SPSS Statistics karena data tidak memenuhi asumsi distribusi normal. Analisis menghasilkan koefisien korelasi sebesar 0,724 dengan nilai signifikansi 0,000 (< 0,05), yang mengindikasikan adanya hubungan positif dan signifikan antara emotion-focused coping dan stres akademik. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan penggunaan emotion-focused coping lebih mencerminkan proses penyesuaian psikologis mahasiswa terhadap tekanan akademik daripada menunjukkan memburuknya kondisi psikologis. Hasil penelitian memberikan landasan konseptual sekaligus praktis bagi pengembangan layanan Bimbingan dan Konseling dalam memperkuat kemampuan coping mahasiswa secara lebih adaptif.
INTOLERANCE OF UNCERTAINTY DAN QUARTER-LIFE CRISIS PADA MAHASISWA KEDOKTERAN: PERAN MODERASI PSYCHOLOGICAL CAPITAL Rasila Firli Anas Tasya; Satiningsih Satiningsih
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13169

Abstract

ABSTRACT Quarter-life crisis has become one of the most prevalent psychological challenges experienced by medical students due to the high academic demands and various uncertainties encountered throughout their education. This condition highlights the importance of identifying both risk and protective factors that contribute to the development of quarter-life crisis. This study aimed to examine the effect of intolerance of uncertainty on quarter-life crisis and to investigate the moderating role of psychological capital. A quantitative explanatory research design was employed involving 91 undergraduate medical students from a university in Surabaya, Indonesia, who were selected using a simple random sampling technique. Data were collected through standardized questionnaires and analyzed using moderated regression analysis with SPSS. The findings revealed that intolerance of uncertainty had a positive and significant effect on quarter-life crisis, accounting for 29.8% of its variance. Meanwhile, psychological capital did not have a significant direct effect on quarter-life crisis; however, it significantly moderated the relationship between intolerance of uncertainty and quarter-life crisis through a buffering effect, increasing the model's explanatory power to 42.3%. These findings suggest that strengthening psychological capital may serve as a protective factor in reducing the adverse impact of intolerance of uncertainty on quarter-life crisis among medical students. ABSTRAK Quarter-life crisis menjadi salah satu tantangan psikologis yang banyak dialami mahasiswa kedokteran akibat tingginya tuntutan akademik dan berbagai ketidakpastian selama menjalani pendidikan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mengidentifikasi faktor risiko maupun faktor protektif yang berperan dalam memengaruhi munculnya quarter-life crisis. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh intolerance of uncertainty terhadap quarter-life crisis serta menguji peran psychological capital sebagai variabel moderator. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori yang melibatkan 91 mahasiswa program sarjana kedokteran di salah satu universitas di Surabaya yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstandar, kemudian dianalisis menggunakan analisis regresi moderasi dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intolerance of uncertainty berpengaruh positif dan signifikan terhadap quarter-life crisis dengan kontribusi sebesar 29,8%. Sementara itu, psychological capital tidak berpengaruh secara langsung terhadap quarter-life crisis, tetapi terbukti memoderasi hubungan keduanya melalui buffering effect, sehingga meningkatkan kemampuan model dalam menjelaskan variasi quarter-life crisis menjadi 42,3%. Temuan ini menegaskan bahwa penguatan psychological capital berpotensi menjadi faktor protektif dalam mengurangi dampak negatif intolerance of uncertainty terhadap quarter-life crisis pada mahasiswa kedokteran.
MEMBANGUN KEPERCAYAAN, MENGUATKAN PENGASUHAN: IMPLIKASI FATHER ATTACHMENT TERHADAP PENDIDIKAN DALAM KELUARGA MINANGKABAU Rahmadianti Aulia; Irsyad Shabri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13178

Abstract

ABSTRACT Father involvement in family education remains more limited than maternal involvement, resulting in suboptimal father–child relationships. This issue is important because father attachment plays a significant role in supporting children's social, emotional, and psychological development. In the Minangkabau community, which adopts a matrilineal kinship system, fathers continue to hold an essential role in family education; however, studies examining father attachment within this cultural context remain limited. This study aimed to describe father attachment as an integral component of family education in Minangkabau culture from the perspective of late adolescents. A descriptive quantitative approach was employed involving 166 Minangkabau late adolescents aged 18–21 years living in Padang City, selected through accidental sampling. Data were collected using the father version of the Inventory of Parent and Peer Attachment-Revised (IPPA-R) and analyzed descriptively using JASP. The findings revealed that father attachment was generally at a moderate level, with trust emerging as the strongest dimension, followed by communication and alienation. These findings indicate that father–child relationships are primarily built on mutual trust, although the quality of communication requires further strengthening. The study highlights the importance of developing fathering education programs that emphasize effective communication, emotional involvement, and the integration of Minangkabau cultural values into family education. ABSTRAK Keterlibatan ayah dalam pendidikan keluarga masih cenderung lebih rendah dibandingkan ibu, sehingga kualitas hubungan ayah dan anak belum berkembang secara optimal. Kondisi tersebut menjadi perhatian penting karena kelekatan ayah berperan dalam mendukung perkembangan sosial, emosional, dan psikologis anak. Pada masyarakat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, peran ayah tetap memiliki kedudukan penting dalam pendidikan keluarga, namun kajian mengenai kelekatan ayah dalam konteks budaya tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kelekatan ayah sebagai bagian dari pendidikan keluarga dalam budaya Minangkabau berdasarkan perspektif remaja akhir. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 166 remaja akhir berusia 18–21 tahun di Kota Padang yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan Inventory of Parent and Peer Attachment-Revised (IPPA-R) pada dimensi kelekatan ayah dan dianalisis secara deskriptif menggunakan JASP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelekatan ayah berada pada kategori sedang, dengan dimensi trust sebagai aspek yang paling dominan, diikuti communication dan alienation. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan ayah dan anak telah dibangun melalui rasa saling percaya, namun kualitas komunikasi masih perlu diperkuat. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan program pendidikan pengasuhan ayah yang berorientasi pada peningkatan kualitas komunikasi, keterlibatan emosional, dan penguatan nilai-nilai budaya Minangkabau dalam pendidikan keluarga.
HUBUNGAN BIG FIVE PERSONALITY DENGAN CELEBRITY WORSHIP PADA PENGGEMAR K-POP DI INDONESIA Melinda Marisi Nadeak; Hotpascaman Simbolon
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13268

Abstract

ABSTRACT The growing popularity of K-Pop in Indonesia has not only expanded fandom activities in digital spaces but has also intensified the psychological attachment that some fans develop toward public figures. This variation in attachment prompted the present study to examine the relationship between Big Five Personality and Celebrity Worship among Indonesian K-Pop fans. A quantitative approach with a correlational design was employed, involving 1,000 K-Pop fans aged 20–25 years who belonged to one or more of the following fandoms: ARMY, BLINK, EXO-L, NCTzen, and CARAT. Participants were selected using purposive sampling, while data were collected online using a Big Five Personality scale adapted from the Big Five Inventory and a Celebrity Worship scale adapted from the Celebrity Attitude Scale. Data analysis included normality and linearity testing, followed by the Pearson Product-Moment correlation test. The findings revealed a positive and statistically significant relationship between Big Five Personality and Celebrity Worship (r = 0.222; p < 0.001), although the correlation strength was relatively weak. Among the five personality dimensions, Openness to Experience demonstrated the strongest association, followed by Neuroticism, Conscientiousness, Agreeableness, and Extraversion. These findings indicate that personality contributes to the tendency toward Celebrity Worship, but it does not fully account for the phenomenon. This study extends empirical evidence regarding the role of personality in Indonesian K-Pop fandoms and provides a foundation for future research incorporating additional psychological factors. ABSTRAK Fenomena K-Pop di Indonesia tidak hanya memperluas aktivitas fandom di ruang digital, tetapi juga menghadirkan variasi dalam tingkat keterikatan psikologis penggemar terhadap figur publik. Perbedaan tersebut mendorong penelitian ini untuk mengkaji hubungan antara Big Five Personality dan Celebrity Worship pada penggemar K-Pop di Indonesia. Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional diterapkan pada 1.000 penggemar K-Pop berusia 20–25 tahun yang tergabung dalam fandom ARMY, BLINK, EXO-L, NCTzen, atau CARAT. Responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling, sedangkan data dikumpulkan secara daring melalui skala Big Five Personality yang diadaptasi dari Big Five Inventory dan skala Celebrity Worship yang diadaptasi dari Celebrity Attitude Scale. Analisis dilakukan menggunakan uji normalitas, uji linearitas, dan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara Big Five Personality dan Celebrity Worship (r = 0,222; p < 0,001), meskipun kekuatan hubungannya tergolong rendah. Dimensi Openness to Experience memiliki korelasi tertinggi, diikuti Neuroticism, Conscientiousness, Agreeableness, dan Extraversion. Temuan ini menunjukkan bahwa kepribadian berkontribusi terhadap kecenderungan Celebrity Worship, tetapi bukan merupakan satu-satunya faktor yang membentuk perilaku tersebut. Penelitian ini memperluas bukti empiris mengenai peran kepribadian dalam konteks fandom K-Pop di Indonesia dan menjadi dasar bagi pengembangan penelitian yang melibatkan faktor-faktor psikologis lainnya.
PENGARUH PERCEIVED SOCIAL SUPPORT TERHADAP PENYESUAIAN DIRI PADA SISWA SEKOLAH RAKYAT BANJARBARU Nur Assyifa; Dicky Listin Quarta; Gladis Corinna Marsha
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13282

Abstract

ABSTRACT Adapting to life in a boarding school presents a substantial challenge for students of Sekolah Rakyat, as they are required to develop independence while adjusting to a new social environment and daily routines away from their families. Within this context, perceived social support is often regarded as a psychological resource that facilitates adjustment, although previous empirical findings have produced inconsistent evidence regarding its role. This study investigated the relationship between perceived social support and self-adjustment among 85 students of Sekolah Rakyat Banjarbaru using a quantitative correlational approach. Data were collected through the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) and the Self-Adjustment Scale, and subsequently analyzed using simple linear regression. The findings revealed that perceived social support had a statistically significant effect on self-adjustment (p < 0.01), but the relationship was negative. Moreover, the coefficient of determination (R² = 0.08) indicated that perceived social support accounted for only 8% of the variance in students' self-adjustment, suggesting that other factors play a more substantial role in shaping their adaptive capacity. Therefore, the observed negative association should be interpreted cautiously and should not be taken to imply that social support impedes adjustment. Rather, the findings highlight the complexity of the adjustment process in boarding school settings and underscore the importance of fostering students' independence alongside strengthening their adaptive skills through targeted educational programs. ABSTRAK Proses adaptasi menjadi salah satu tantangan utama bagi siswa Sekolah Rakyat yang menjalani kehidupan di lingkungan boarding school, terutama karena mereka harus membangun kemandirian sekaligus menyesuaikan diri dengan sistem kehidupan yang berbeda dari lingkungan keluarga. Dalam konteks tersebut, persepsi terhadap dukungan sosial sering dipandang sebagai sumber daya psikologis yang membantu proses penyesuaian, meskipun bukti empiris mengenai perannya masih belum konsisten. Penelitian ini mengeksplorasi keterkaitan kedua aspek tersebut pada 85 siswa Sekolah Rakyat Banjarbaru melalui pendekatan kuantitatif korelasional. Pengukuran dilakukan menggunakan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) dan Self Adjustment Scale, sedangkan hubungan antarvariabel dianalisis dengan regresi linear sederhana. Analisis memperlihatkan bahwa perceived social support memiliki pengaruh yang signifikan terhadap self adjustment (p < 0,01), tetapi dengan arah hubungan negatif. Besarnya kontribusi variabel tersebut relatif terbatas, ditunjukkan oleh koefisien determinasi sebesar R² = 0,08, sehingga hanya mampu menjelaskan sekitar 8% variasi penyesuaian diri siswa. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kemampuan beradaptasi di lingkungan boarding school lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lain di luar persepsi dukungan sosial. Oleh sebab itu, hubungan negatif yang ditemukan tidak dapat dimaknai bahwa dukungan sosial menghambat penyesuaian diri, melainkan perlu dipahami secara kontekstual sesuai karakteristik kehidupan di Sekolah Rakyat. Temuan ini memperkuat pentingnya pengembangan program yang tidak hanya memperhatikan dukungan sosial, tetapi juga memfasilitasi pembentukan kemandirian serta keterampilan adaptasi siswa.
PENGARUH SOCIAL COMPARISON TERHADAP SELF-ESTEEM PADA GENERASI Z Najwa Azzahra; Rizqi Amalia Aprianty; Dyta Setiawati Hariyono
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13284

Abstract

ABSTRACT Digital environments have become an integral part of Generation Z's daily lives, increasing opportunities for social comparison through social media and shaping how individuals evaluate themselves. Against this background, the present study examined the influence of social comparison on self-esteem among Generation Z individuals who actively use social media. A quantitative correlational approach was employed, involving 106 Generation Z university students residing in Banjarmasin, Indonesia. Participants were recruited using a non-probability sampling technique, while data were collected through reliable social comparison and self-esteem instruments. Data were analyzed using normality testing, Pearson correlation analysis, and simple linear regression with statistical software. The findings indicated that the data were normally distributed and revealed a significant positive relationship between social comparison and self-esteem. Furthermore, the regression analysis confirmed that social comparison significantly predicted self-esteem. Nevertheless, the contribution of social comparison was not sufficient to explain the overall variation in self-esteem, suggesting that additional psychological and social factors are also involved. These findings provide further empirical evidence that self-evaluation among Generation Z is shaped, in part, by ongoing comparison processes within digital environments and highlight the need for future studies to incorporate broader explanatory variables in understanding self-esteem. ABSTRAK Ruang digital telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Generasi Z, sehingga proses membandingkan diri dengan orang lain melalui social media semakin sering terjadi dan berpotensi memengaruhi cara individu menilai dirinya. Kondisi tersebut mendorong penelitian ini untuk mengeksplorasi pengaruh social comparison terhadap self-esteem pada Generasi Z yang aktif menggunakan social media. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan korelasional yang melibatkan 106 mahasiswa Generasi Z di Kota Banjarmasin. Responden dipilih melalui teknik non-probability sampling, sedangkan pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen social comparison dan self-esteem yang telah memenuhi kriteria reliabilitas. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas, uji korelasi Pearson, dan uji regresi linear sederhana menggunakan perangkat lunak statistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa data berdistribusi normal serta terdapat hubungan positif yang signifikan antara social comparison dan self-esteem. Analisis regresi juga mengonfirmasi bahwa social comparison memberikan pengaruh yang signifikan terhadap self-esteem. Meskipun demikian, besarnya kontribusi variabel tersebut belum sepenuhnya menjelaskan variasi self-esteem, sehingga mengindikasikan keterlibatan faktor psikologis maupun sosial lainnya. Temuan ini memperkaya pemahaman mengenai dinamika evaluasi diri pada Generasi Z dengan menunjukkan bahwa pengalaman membandingkan diri di lingkungan digital menjadi salah satu proses yang berperan dalam pembentukan self-esteem, sekaligus membuka peluang pengembangan penelitian dengan model yang lebih komprehensif.
HUBUNGAN JOB DEMANDS DENGAN WORK ENGAGEMENT PADA PNS BALAI BESAR POM DI MEDAN Cintia M F Lumban Gaol; Nenny Ika Putri Simarmata
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13382

Abstract

ABSTRACT Employee work engagement plays a pivotal role in sustaining the quality and effectiveness of public services, while increasing job demands may shape the extent to which employees remain psychologically connected to their work. Within government institutions, however, evidence regarding the association between job demands and work engagement remains inconsistent, particularly in organizations responsible for regulatory oversight and public service, such as the National Agency of Drug and Food Control. This study examined the relationship between these two variables among Civil Servants employed at the Medan Center for Food and Drug Control using a quantitative correlational design. The study involved the entire population of 127 employees through a total sampling technique. Data were collected using the Job Demands Scale and the Work Engagement Scale, and analyzed through normality and linearity tests followed by the Pearson Product-Moment correlation using IBM SPSS Statistics 26.0. Descriptive findings indicated that most participants reported low levels of job demands and high levels of work engagement. Correlation analysis yielded a coefficient of r = −0.280 with a significance value of p = 0.001 (p < 0.05), indicating a significant negative relationship between the two variables. These findings contribute additional empirical evidence concerning the interplay between job demands and employee engagement in the public sector while providing practical insights for developing human resource management strategies aimed at sustaining employees' work engagement. ABSTRAK Keterikatan pegawai terhadap pekerjaan menjadi salah satu elemen yang menentukan keberhasilan penyelenggaraan layanan publik, sementara tuntutan pekerjaan yang terus berkembang dapat memengaruhi kualitas keterlibatan tersebut. Pada lingkungan instansi pemerintah, hubungan antara job demands dan work engagement masih memperlihatkan temuan yang beragam, khususnya pada organisasi yang memiliki karakteristik tugas pengawasan dan pelayanan seperti Balai Besar POM. Penelitian ini mengeksplorasi keterkaitan kedua variabel tersebut pada Pegawai Negeri Sipil (PNS) Balai Besar POM di Medan melalui pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Seluruh populasi yang berjumlah 127 pegawai dilibatkan sebagai responden menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh melalui Skala Job Demands dan Skala Work Engagement, kemudian dianalisis menggunakan uji normalitas, uji linearitas, serta korelasi Pearson Product Moment berbantuan IBM SPSS Statistics 26.0. Gambaran deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori job demands rendah dan work engagement tinggi. Analisis korelasi menghasilkan koefisien sebesar r = −0,280 dengan nilai signifikansi p = 0,001 (p < 0,05), yang mengindikasikan adanya hubungan negatif dan signifikan antara kedua variabel. Temuan ini memperluas bukti empiris mengenai dinamika tuntutan kerja dan keterikatan pegawai pada sektor pemerintahan sekaligus memberikan landasan bagi penguatan strategi pengelolaan sumber daya manusia untuk mempertahankan tingkat work engagement secara berkelanjutan.