cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
PENGARUH BUDAYA PATRIARKI DALAM RUMAH TANGGA TERHADAP KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS IBU RUMAH TANGGA Fatiha Az Zahra Putrina Sujatmiko; Hamka Hamka; Desti Purnamasari
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12455

Abstract

The phenomenon of patriarchal culture in the household is a phenomenon that still prevails in households in Indonesia today, and good psychological well-being in the household is a positive self-actualization for the needs of life in developing one's potential optimally. However, in reality, patriarchal culture hinders the achievement of psychological well-being of housewives, especially in areas such as East Kalimantan, which results in unequal gender roles. This study aims to determine the extent of the influence of patriarchal culture on the psychological well-being of housewives. This study uses a quantitative correlational method with a snowball sampling technique reaching a small number of samples then asked to continue repeatedly until it develops. Data collection uses a patriarchal culture scale and a psychological well-being scale and data analysis uses linear regression. The results of the study indicate a significant influence between the influence of patriarchal culture on psychological well-being in housewives with a contribution of 3.5%. This finding implies the importance of increasing awareness of women's empowerment as an effort to support psychological well-being and improve the quality of life of housewives.. ABSTRAK Fenomena budaya patriarki dalam rumah tangga adalah fenomena yang masih berlaku dalam rumah tangga di Indonesia pada saat ini dan kesejahteraan psikologis yang baik dalam rumah tangga adalah aktualisasi diri secara positif untuk kebutuhan hidup dalam mengembangkan potensi diri secara optimal. Namun kenyataannya, budaya patriarki menghambat pencapaian kesejahteraan psikologis ibu rumah tangga terutama di daerah seperti Kalimantan Timur, di mana mengakibatkan peran gender yang tidak setara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa pengaruh budaya patriarki terhadap kesejahteraan psikologis ibu rumah tangga. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan teknik snowball sampling dengan menjangkau jumlah kecil kemudian sampel diminta untuk meneruskan secara berulang hingga menjadi berkembang. Pengumpulan data menggunakan skala budaya patriarki dan skala kesejahteraan psikologis dan analisis data menggunakan regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh signifikan antara pengaruh budaya patriarki terhadap kesejahteraan psikologis pada ibu rumah tangga dengan kontribusi pengaruh sebesar 3.5%. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya meningkatkan kesadaran mengenai pemberdayaan perempuan sebagai upaya untuk mendukung kesejahteraan psikologis serta meningkatkan kualitas hidup ibu rumah tangga.  
HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA PADA PEGAWAI BNN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Rifdha Arvine Salsabila; Muslimin Nulipata; Tri Astuti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12467

Abstract

Work productivity is an important indicator that reflects an organization's success in achieving its established objectives. One factor that is presumed to be associated with employees' work productivity is job satisfaction. This study aimed to examine the relationship between job satisfaction and work productivity among employees of the National Narcotics Agency (BNN) of East Kalimantan Province. This study employed a quantitative approach with a correlational research design. The study population consisted of 71 employees. The sample size was determined based on the Krejcie and Morgan Table, resulting in a minimum required sample of 61 employees. During the data collection process, data were successfully obtained from 64 employees who met the research criteria, namely active employees of BNN East Kalimantan Province who had worked for at least six months. Participants were selected using a purposive sampling technique. Data were collected using job satisfaction and work productivity scales that had met the required standards of validity and reliability. Data were analyzed using the Pearson Product-Moment Correlation technique with the assistance of IBM SPSS Statistics 32.0 for Windows. The results revealed a positive and statistically significant relationship between job satisfaction and work productivity, with a correlation coefficient of r = 0.658 and a significance value of p < 0.001. These findings indicate that employees with higher levels of job satisfaction tend to demonstrate higher levels of work productivity. Therefore, it can be concluded that there is a positive and significant relationship between job satisfaction and work productivity among employees of BNN East Kalimantan Province. ABSTRAK Produktivitas kerja merupakan salah satu indikator penting yang mencerminkan keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan produktivitas kerja pegawai adalah kepuasan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepuasan kerja dan produktivitas kerja pada pegawai Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi penelitian berjumlah 71 pegawai. Penentuan jumlah sampel mengacu pada Tabel Krejcie & Morgan, sehingga diperoleh jumlah sampel minimum sebanyak 61 pegawai. Pada pelaksanaan penelitian, data berhasil diperoleh dari 64 pegawai yang memenuhi kriteria penelitian, yaitu pegawai aktif BNN Provinsi Kalimantan Timur yang telah bekerja minimal 6 bulan, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala kepuasan kerja dan skala produktivitas kerja yang telah memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan menggunakan teknik Korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan IBM SPSS Statistics 32.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara kepuasan kerja dan produktivitas kerja dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,658 dan nilai signifikansi p < 0,001. Temuan ini menunjukkan bahwa pegawai yang memiliki tingkat kepuasan kerja yang lebih tinggi cenderung memiliki tingkat produktivitas kerja yang lebih tinggi. Dengan demikian, terdapat hubungan positif dan signifikan antara kepuasan kerja dengan produktivitas kerja pada pegawai BNN Provinsi Kalimantan Timur.    
PENERAPAN GROUP INVESTIGATION UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PESERTA DIDIK KELAS VIII SMP Rani Tri Cahyani; Dahlia Novarianing Asri; Mega Ika Mariana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12512

Abstract

ABSTRACT Interpersonal communication is an essential competency that supports positive interactions among students in the school environment. The Student Needs Assessment Questionnaire (Angket Kebutuhan Peserta Didik [AKPD]) conducted in Class VIII-D of SMP Negeri 3 Madiun revealed that many students experienced difficulties in expressing their opinions constructively, highlighting the need for guidance services that encourage active participation. This Guidance and Counseling Action Research (Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling [PTBK]) explored the implementation of the Group Investigation technique in classical guidance services to enhance students' interpersonal communication skills. The study was conducted over two action cycles consisting of planning, implementation, observation, and reflection, involving 31 eighth-grade students. Data were collected using a reliable interpersonal communication questionnaire and a service process evaluation sheet. The findings indicated an improvement in the quality of guidance service implementation, accompanied by an increase in the mean interpersonal communication score from 47.16 in the pre-action stage to 85.81 at the end of the intervention. These findings suggest that the effectiveness of the Group Investigation technique is supported not only by collaborative learning activities but also by the continuous reflective process embedded in each PTBK cycle. Therefore, the Group Investigation technique can serve as an effective alternative approach in classical guidance services to strengthen students' interpersonal communication skills while enriching guidance and counseling practices in schools. ABSTRAK Kemampuan komunikasi interpersonal merupakan salah satu kompetensi yang berperan penting dalam mendukung interaksi positif peserta didik di lingkungan sekolah. Hasil Angket Kebutuhan Peserta Didik (AKPD) di kelas VIII-D SMP Negeri 3 Madiun menunjukkan masih adanya kendala dalam menyampaikan pendapat secara positif sehingga diperlukan layanan bimbingan yang mampu mendorong partisipasi aktif peserta didik. Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK) ini mengeksplorasi penerapan teknik Group Investigation dalam layanan bimbingan klasikal untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus yang meliputi tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi terhadap 31 peserta didik kelas VIII-D. Data dikumpulkan melalui angket komunikasi interpersonal yang telah memenuhi uji reliabilitas serta lembar evaluasi proses layanan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kualitas pelaksanaan layanan yang diikuti oleh kenaikan rata-rata skor komunikasi interpersonal peserta didik dari 47,16 pada prasiklus menjadi 85,81 pada akhir tindakan. Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas teknik Group Investigation tidak hanya ditunjang oleh aktivitas kolaboratif antarpeserta didik, tetapi juga oleh proses refleksi berkelanjutan dalam setiap siklus PTBK. Dengan demikian, teknik Group Investigation dapat menjadi alternatif layanan bimbingan klasikal yang efektif untuk memperkuat kemampuan komunikasi interpersonal peserta didik sekaligus memperkaya praktik layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.
IMPLEMENTASI LAYANAN KONSELING INDIVIDU DENGAN TEKNIK REALITAS DALAM UPAYA PENANGANAN KESEHATAN MENTAL PADA WARGA BINAAN DI LAPAS KELAS III RANGKASBITUNG Moch. Nasef Fikri Muzaki; Arga Satrio Prabowo; Putri Dian Dia Conia; Angga Sugara Febriantiko
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12589

Abstract

ABSTRACT Correctional rehabilitation requires attention to psychological well-being, as incarcerated individuals' readiness to resume their social roles after release is closely associated with their mental health. Within this context, the present study examined the implementation of individual counseling based on the Want, Doing, Evaluation, and Planning (WDEP) technique as part of a rehabilitative support program at the Class III Rangkasbitung Correctional Institution. The study employed a Participatory Action Research (PAR) approach involving 50 early-adult inmates selected through purposive sampling. Data on participants' psychological needs and developmental progress were generated through the integration of the General Problem Disclosure Instrument (Alat Ungkap Masalah Umum/AUM), the Psychological Well-Being (PWB) instrument, semi-structured interviews, and participant observation. The findings revealed that the most prominent issues were related to family relationships, personal concerns, and the management of leisure time. Throughout the counseling process, participants demonstrated an enhanced ability to recognize their needs, reflect on their existing behaviors, and formulate realistic plans for change. These developments were accompanied by improvements in self-acceptance, emotional regulation, interpersonal relationships, and clarity of life purpose. The findings suggest that integrating psychological needs assessment with WDEP-based individual counseling extends the application of Reality Therapy within correctional rehabilitation while providing an alternative counseling approach to strengthen mental health services in correctional settings and offering a foundation for future intervention-based research in similar contexts. ABSTRAK Pembinaan di lembaga pemasyarakatan memerlukan perhatian terhadap aspek psikologis karena kesiapan warga binaan untuk kembali menjalankan fungsi sosial dipengaruhi oleh kondisi kesehatan mental yang dimilikinya. Dalam konteks tersebut, penelitian ini mengkaji implementasi layanan konseling individu berbasis teknik Want, Doing, Evaluation, dan Planning (WDEP) sebagai bagian dari penguatan layanan rehabilitatif di Lapas Kelas III Rangkasbitung. Kajian dilaksanakan melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan melibatkan 50 warga binaan kategori dewasa awal yang dipilih secara purposive. Gambaran kebutuhan psikologis dan perkembangan peserta diperoleh melalui integrasi Alat Ungkap Masalah Umum (AUM), instrumen Psychological Well-Being (PWB), wawancara semiterstruktur, serta observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persoalan yang paling banyak teridentifikasi berkaitan dengan hubungan keluarga, diri pribadi, dan pengelolaan waktu senggang. Selama proses pendampingan, peserta memperlihatkan kemampuan yang semakin baik dalam mengenali kebutuhan, merefleksikan perilaku yang dijalani, serta menyusun rencana perubahan yang sesuai dengan kondisi nyata. Perubahan tersebut diikuti oleh berkembangnya penerimaan diri, pengelolaan emosi, kualitas hubungan interpersonal, dan orientasi hidup yang lebih jelas. Temuan ini memperlihatkan bahwa pengintegrasian asesmen kebutuhan psikologis dengan konseling individu berbasis WDEP memperluas implementasi Reality Therapy dalam pembinaan warga binaan sekaligus memberikan alternatif layanan yang mendukung penguatan kesehatan mental di lingkungan pemasyarakatan serta menjadi dasar pengembangan penelitian intervensi pada konteks serupa di masa mendatang.
PENGARUH KONSELING KEDAMAIAN TERHADAP PERILAKU MEROKOK SISWA SMKN Sry Alfina Damayanti; Sahril Buchori; Aswar Aswar; Syahril Syahril
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12621

Abstract

ABSTRACT Smoking behavior among adolescents remains a serious health problem in Indonesia, particularly among vocational high school students who are highly vulnerable to risky behaviors. Preliminary data at SMKN 5 Makassar showed that 78.67% of students were in the moderate to very high smoking behavior category. This study aimed to examine the effectiveness of peace counseling in reducing students’ smoking behavior. The study employed a quantitative approach with a quasi-experimental pretest-posttest nonequivalent control group design. The participants consisted of 14 students selected through proportional purposive sampling and divided into experimental and control groups. Data were collected using a smoking behavior scale and analyzed through descriptive statistics and Independent Samples T-Test. The results showed that the experimental group experienced a significant decrease in smoking behavior scores from 105.14 to 84.00, while the control group showed no meaningful change. Statistical testing revealed a significance value of 0.001 (<0.05), indicating that peace counseling was effective in reducing students’ smoking behavior. Therefore, peace counseling can serve as an alternative humanistic counseling intervention in schools. ABSTRAK Perilaku merokok pada remaja masih menjadi permasalahan kesehatan yang serius di Indonesia, termasuk pada siswa SMKN 5 Makassar yang menunjukkan tingkat perilaku merokok kategori sedang hingga sangat tinggi. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas konseling kedamaian dalam mereduksi perilaku merokok siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimental pretest-posttest nonequivalent control group design. Sampel penelitian berjumlah 14 siswa yang dipilih menggunakan teknik proportional purposive sampling dan dibagi ke dalam kelompok eksperimen serta kelompok kontrol. Pengumpulan data menggunakan skala perilaku merokok, sedangkan analisis data dilakukan melalui statistik deskriptif dan Independent Sample T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mengalami penurunan skor perilaku merokok dari kategori tinggi menjadi sedang, sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan berarti. Hasil uji hipotesis memperoleh nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,001 (<0,05), sehingga konseling kedamaian terbukti efektif dalam mereduksi perilaku merokok siswa. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan layanan bimbingan dan konseling berbasis nilai kemanusiaan di sekolah.
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DAN KONSEP DIRI DENGAN STRATEGI COPING AKIBAT LOSE STREAK GAME MOBILE LEGENDS PADA DEWASA AWAL Hernani Mariati; Agus Salim
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12646

Abstract

The increasing psychological pressure in the form of stress and frustration in early adulthood due to the inability to manage emotions after experiencing consecutive losses in digital games is the background of this research. These operational problems trigger the emergence of maladaptive behavioral responses that disrupt the mental stability of daily cyber players. The main focus of this scientific study is to dissect the relationship between social support and self-concept with coping strategies due to losing streaks in the Mobile Legends game in early adulthood. The steps of this correlational quantitative approach were operated through purposive sampling of 170 active respondents aged 18 to 40 years. Data collection used a standardized Likert scale questionnaire, which was then statistically analyzed using the Pearson correlation test. Quantitative data empirically revealed a significant positive correlation between social support (r = 0.538; p = 0.000) with a contribution of 16.5 percent, and self-concept (r = 0.552; p = 0.000) which contributed 34.1 percent. Simultaneously, the accumulated contribution of both independent variables reached a total of 50.6 percent. The main conclusion confirms that the effectiveness of managing game mechanics' stress is largely determined by the resilience of positive self-concept as an internal factor, reinforced by the supply of external social resources. Psychology practitioners are recommended to draft a consistent guidance module for the affective regulation of digital activities. ABSTRAK Meningkatnya tekanan psikologis berupa stres dan frustrasi pada usia dewasa awal akibat ketidakmampuan mengelola emosi pasca mengalami kekalahan beruntun dalam permainan digital melatarbelakangi penelitian ini. Masalah operasional tersebut memicu timbulnya respons perilaku maladaptif yang mengganggu stabilitas mental para pemain siber harian. Fokus utama kajian ilmiah ini adalah membedah hubungan antara dukungan sosial dan konsep diri dengan strategi coping akibat lose streak game Mobile Legends pada dewasa awal. Langkah-langkah pendekatan kuantitatif korelasional ini dioperasikan melalui penarikan sampel secara purposive sampling terhadap 170 responden aktif berusia 18 hingga 40 tahun. Pengumpulan data menggunakan kuesioner skala Likert terstandardisasi, yang selanjutnya dianalisis statistik lewat uji korelasi Pearson. Data kuantitatif secara empiris menyingkap korelasi positif signifikan pada dukungan sosial (r = 0,538; p = 0,000) dengan kontribusi 16,5 persen, serta konsep diri (r = 0,552; p = 0,000) yang menyumbang 34,1 persen. Secara simultan, akumulasi kontribusi kedua variabel independen mencapai total 50,6 persen. Simpulan utama menegaskan bahwa efisiensi pengelolaan stres mekanik game sangat didominasi oleh ketangguhan konsep diri positif sebagai faktor internal, yang diperkuat pasokan sumber daya sosial eksternal. Praktisi psikologi direkomendasikan menyusun draf modul bimbingan regulasi afektif aktivitas digital secara konsisten.    
PENGUATAN RESILIENSI PSIKOLOGIS MELALUI REFLEKSI EMOSI POSITIF PADA KONFLIK TEMAN SEBAYA: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Nur Afifa; Akhmad Harum; M. Amirullah; Salmiati Salmiati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12776

Abstract

ABSTRACT The low level of junior high school students’ psychological resilience, particularly in the dimension of emotional regulation, limits their ability to manage peer conflict constructively, as reported in various national and international studies. Meanwhile, school counseling services remain predominantly reactive and have not systematically facilitated students’ positive emotional reflection skills. This study aimed to synthesize empirical evidence regarding the contribution of positive emotional reflection to strengthening junior high school students’ psychological resilience in dealing with peer conflict. The study employed a systematic literature review method with a narrative synthesis approach by searching articles indexed in Google Scholar and Scopus published between 2015 and 2025 using the keywords psychological resilience, positive emotional reflection, peer conflict, and emotional regulation. A total of 25 national and international articles that met the inclusion criteria were analyzed thematically. The findings revealed that low student resilience is closely associated with weak emotional regulation and limited psychosocial peer support. In addition, positive emotional reflection was found to help students develop emotional regulation, self-adaptation, and psychological resilience in coping with interpersonal conflict. The review also identified a gap between the need for resilience-strengthening interventions and the availability of structured counseling services in schools. These findings imply the importance of developing activity-based positive emotional reflection modules as preventive and systematic interventions to strengthen junior high school students’ psychological resilience. ABSTRAK Rendahnya psychological resilience siswa SMP, terutama pada dimensi regulasi emosi, menghambat kemampuan mereka mengelola konflik sebaya secara konstruktif dalam berbagai studi nasional maupun internasional, sementara layanan bimbingan dan konseling di sekolah masih bersifat reaktif dan belum melatih kemampuan refleksi emosi positif secara terstruktur. Penelitian ini bertujuan mensintesis bukti literatur mengenai kontribusi refleksi emosi positif terhadap penguatan psychological resilience siswa SMP dalam menghadapi konflik sebaya. Metode yang digunakan adalah systematic literature review dengan pendekatan narrative synthesis melalui penelusuran artikel pada Google Scholar dan Scopus tahun 2015–2025 menggunakan kata kunci psychological resilience, refleksi emosi positif, konflik sebaya, dan regulasi emosi. Sebanyak 25 artikel nasional dan internasional yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa rendahnya resiliensi siswa berkaitan erat dengan lemahnya regulasi emosi dan keterbatasan dukungan psikososial teman sebaya. Selain itu, refleksi emosi positif terbukti membantu siswa mengembangkan kemampuan regulasi emosi, adaptasi diri, dan ketahanan psikologis dalam menghadapi konflik interpersonal. Kajian ini juga menemukan adanya kesenjangan antara kebutuhan intervensi penguatan resiliensi dengan ketersediaan layanan BK yang terstruktur di sekolah. Temuan penelitian mengimplikasikan pentingnya pengembangan modul refleksi emosi positif berbasis aktivitas sebagai intervensi preventif dan sistematis untuk memperkuat psychological resilience siswa SMP.
HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY DAN KESIAPAN KERJA PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA Alfina Dhiya Islami; Meita Santi Budiani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12779

Abstract

ABSTRACT   This study aimed to examine the relationship between self-efficacy and work readiness among final-year students at Universitas Negeri Surabaya. Work readiness is an important factor in preparing students for the transition into the workforce, as it is influenced not only by academic competence but also by individuals’ confidence in their ability to cope with various job demands. The study employed a quantitative approach with a correlational design involving 380 final-year students selected through quota random sampling. Data were collected using validated and reliable Likert-scale questionnaires and analyzed using the Pearson Product-Moment correlation test with the assistance of SPSS. The findings revealed a positive and significant relationship between self-efficacy and work readiness, indicated by a correlation coefficient of 0.639 and a significance value of 0.000 (p < 0.05). The coefficient of determination (R Square) of 0.409 indicates that self-efficacy contributes 40.9% to students’ work readiness, while the remaining 59.1% is influenced by other factors beyond the scope of this study. These findings suggest that enhancing self-efficacy has the potential to strengthen students’ readiness to enter the workforce. Therefore, the results of this study may serve as a reference for higher education institutions in designing work readiness development programs that focus not only on academic competence but also on strengthening students’ psychological aspects, particularly self-efficacy. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dengan kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir Universitas Negeri Surabaya. Kesiapan kerja menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi transisi menuju dunia kerja karena dipengaruhi tidak hanya oleh kompetensi akademik, tetapi juga keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan berbagai tuntutan pekerjaan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional yang melibatkan 380 mahasiswa tingkat akhir sebagai sampel, dipilih menggunakan teknik quota random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis menggunakan korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara self-efficacy dengan kesiapan kerja, yang ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,639 dengan nilai signifikansi 0,000 (Sig. < 0,05). Nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,409 mengindikasikan bahwa self-efficacy memberikan kontribusi sebesar 40,9% terhadap kesiapan kerja mahasiswa, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan self-efficacy berpotensi memperkuat kesiapan mahasiswa dalam memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi dalam merancang program pengembangan kesiapan kerja yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada penguatan aspek psikologis mahasiswa, khususnya self-efficacy.
PENGARUH BIMBINGAN KELOMPOK MENGGUNAKAN MEDIA GAME KAHOOT UNTUK MENINGKATKAN RESILIENSI AKADEMIK ANAK KELAS VII Aldo Tobing; Syska Purnama Sari; Nurlela Nurlela
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12829

Abstract

ABSTRACT Academic resilience is an essential capacity that enables students to cope with various challenges and pressures encountered throughout the learning process. However, low learning motivation, a tendency to give up easily when facing difficulties, and high levels of academic anxiety indicate that this capacity has not been optimally developed among some students. In addition, group guidance services in schools are still predominantly delivered through conventional approaches, while the integration of gamification-based media to strengthen academic resilience within guidance and counseling services remains relatively limited. This study aimed to examine the effect of group guidance services assisted by the Kahoot educational game on improving the academic resilience of seventh-grade students at SMP Negeri 1 Semendawai Timur. A quantitative approach was employed using a pre-experimental one-group pretest-posttest design involving nine students selected through purposive sampling. Data were collected using an academic resilience questionnaire administered before and after the intervention and were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test. The findings revealed a significant improvement in students' academic resilience following the intervention, as indicated by a significant difference between the pretest and posttest scores (p = 0.008). These findings demonstrate that integrating Kahoot into group guidance activities is an effective approach to strengthening students' academic resilience while extending the application of gamification-based media as an innovative strategy in school guidance and counseling services. ABSTRAK Resiliensi akademik merupakan kemampuan penting yang membantu peserta didik menghadapi berbagai tuntutan dan tekanan selama proses pembelajaran. Namun, rendahnya motivasi belajar, kecenderungan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, serta tingginya kecemasan akademik menunjukkan bahwa kemampuan tersebut belum berkembang secara optimal pada sebagian siswa. Di sisi lain, layanan bimbingan kelompok di sekolah masih didominasi pendekatan konvensional, sementara pemanfaatan media berbasis gamification untuk memperkuat resiliensi akademik dalam layanan bimbingan dan konseling masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh layanan bimbingan kelompok berbantuan media game Kahoot terhadap peningkatan resiliensi akademik siswa kelas VII SMP Negeri 1 Semendawai Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one-group pretest-posttest yang melibatkan sembilan siswa sebagai sampel melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan angket resiliensi akademik sebelum dan sesudah perlakuan, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan resiliensi akademik siswa setelah mengikuti layanan, dengan perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan posttest (p = 0,008). Temuan ini menegaskan bahwa integrasi Kahoot sebagai bagian dari dinamika layanan bimbingan kelompok merupakan pendekatan yang efektif untuk memperkuat resiliensi akademik sekaligus memperluas penerapan media berbasis gamification sebagai inovasi dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
PRAKTIK PASUNG PADA ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA: STUDI KASUS DI MALAKA Gabriel Hermes Poyk; R. Pasifikus C; Wijaya Wijaya; Diana Aipipidely; Christina Nayoan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12962

Abstract

The practice of shackling people with mental disorders (ODGJ) still occurs in Malaka Regency. This study aims to uncover the reasons why families still practice shackling their family members with mental disorders. This study uses a qualitative method with a case study approach. Participants in this study were selected using a snowball sampling technique. Data collection was conducted through semi-structured interviews, while the data analysis technique used the Creswell model case study data analysis. The results of the study indicate that shackling is carried out as a last resort due to aggressive behavior of family members. This decision is based on the family's inability to control aggressive behavior, limited access to health services, economic limitations, and low family understanding of mental disorders. Pressure from society and family experiences when family members relapse also strengthen the family's decision to shackle their family members. Limited resources and suboptimal care make shackling the choice of families, this decision also has a negative impact on family members both physically and psychologically and adds to the emotional burden on the family. ABSTRAK Praktik pasung pada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) masih terjadi di kabupaten Malaka. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap alasan keluarga masih melakukan praktik pasung pada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Partisipan dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi terstruktur, sedangkan teknik analisi data menggunakan analisi data studi kasus model creswell. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemasungan dilakukan sebagai pilihan terakhir akibat perilaku agresif anggota keluarga. Keputusan ini didasari oleh ketidakmampuan keluarga untuk mengendalikan perilaku agresif, keterbatasan akses pada layanan kesehatan, keterbatasan ekonomi, dan rendahnya pemahaman keluarga terkait gangguan jiwa. Tekanan dari masyarakat dan pengalaman keluarga saat anggota keluarganya kambuh juga memperkuat keputusan keluarga untuk melakukan pemasungan pada anggota keluarganya. Keterbatasan sumber daya dan ketidak optimalan perawatan membuat pemasungan dipilih keluarga, keputusan ini juga berdampat buruk bagi anggota keluarganya baik secara fisik, dan psikologis serta menambah beban emosional bagi keluarga.