cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
ASSESSING THE PRACTICALITY OF REWARD SYSTEMS: THE CASE OF THE "HAPPY AND SAD LIST" Demmy Tabuni; Paskalis Kaipman; Ivona Dorobia
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13451

Abstract

ABSTRACT The implementation of reward systems in classrooms has been widely adopted to encourage positive behavior and enhance students' learning motivation. However, studies examining the psychological and pedagogical implications of openly grouping students through the happy and sad list approach remain limited. This study aimed to analyze the implementation of a reward system using the happy and sad list approach by examining its implications for students' behavior, learning motivation, and psychological development. The study employed a qualitative case study design using an authentic case published in The Psychologist as the unit of analysis. Data were analyzed through repeated reading, thematic coding, and interpretive analysis using theoretical triangulation by integrating perspectives from behaviorism, incentive theory, labeling theory, and the humanistic approach. The findings indicate that this approach can promote positive behavior, increase classroom participation, and strengthen learning motivation when implemented fairly and supported by positive reinforcement. Conversely, inappropriate implementation may lead to negative labeling, reduced self-efficacy, emotional discomfort, and diminished learning motivation. These findings underscore the importance of balancing positive reinforcement, students' psychological well-being, equitable instructional practices, and collaboration between schools and families to foster an inclusive learning environment. ABSTRAK Penerapan reward system di kelas telah banyak digunakan untuk mendorong perilaku positif dan meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Namun, kajian mengenai implikasi psikologis dan pedagogis dari pengelompokan peserta didik secara terbuka melalui pendekatan happy and sad list masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan reward system melalui pendekatan happy and sad list dengan mengkaji implikasinya terhadap perilaku, motivasi belajar, dan perkembangan psikologis peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang memanfaatkan kasus autentik yang dipublikasikan dalam The Psychologist sebagai unit analisis. Data dianalisis melalui pembacaan berulang, pengodean tematik, dan interpretasi menggunakan triangulasi teori yang mengintegrasikan perspektif behaviourism, incentive theory, labelling theory, dan pendekatan humanistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan tersebut dapat mendorong perilaku positif, meningkatkan partisipasi kelas, dan memperkuat motivasi belajar apabila diterapkan secara adil serta didukung positive reinforcement. Sebaliknya, penerapan yang tidak tepat berpotensi menimbulkan pelabelan negatif, menurunkan self-efficacy, memicu ketidaknyamanan emosional, dan mengurangi motivasi belajar. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan perilaku yang menyeimbangkan penguatan positif, kesejahteraan psikologis, praktik pembelajaran yang adil, serta kolaborasi sekolah dan keluarga dalam membangun lingkungan belajar yang inklusif.
PENGALAMAN HUBUNGAN ROMANTIS PADA LAKI-LAKI DEWASA AWAL FATHERLESS AKIBAT PERCERAIAN ORANG TUA Dian Hamama; Rahmadianti Aulia; Niken Hartati; Agitia Kurniati Asrila
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13644

Abstract

ABSTRACK Parental divorce may result in fatherlessness, a condition characterized by the physical and emotional absence of a father figure, which can influence psychological development, including romantic relationships during emerging adulthood. This study aimed to explore the romantic relationship experiences of emerging adult men who experienced fatherlessness due to parental divorce. A qualitative approach with the Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) method was employed. The participants consisted of two 21-year-old men selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured in-depth interviews, observations, and documentation, and were analyzed using the stages of IPA. The findings identified three superordinate themes: experiences of losing a father figure, the impact of fatherlessness on romantic relationships, and expectations for future relationships. Fatherlessness influenced participants’ ability to develop trust, express emotions, and establish emotional intimacy, leading them to approach romantic relationships more cautiously. However, participants also interpreted these experiences as opportunities to build healthier relationships. The study concludes that fatherlessness shapes the psychological dynamics of romantic relationships while encouraging self-reflection and a commitment to developing more adaptive relationships in emerging adulthood. ABSTRAK Perceraian orang tua dapat menyebabkan kondisi fatherless, yaitu ketidakhadiran figur ayah secara fisik maupun emosional yang berpotensi memengaruhi perkembangan psikologis, termasuk hubungan romantis pada masa dewasa awal. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman hubungan romantis pada laki-laki dewasa awal yang mengalami fatherless akibat perceraian orang tua. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Partisipan terdiri atas dua laki-laki berusia 21 tahun yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis mengikuti tahapan IPA. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama, yaitu pengalaman kehilangan figur ayah, dampak fatherless terhadap hubungan romantis, dan harapan terhadap relasi di masa depan. Pengalaman fatherless memengaruhi kemampuan membangun kepercayaan, mengekspresikan emosi, dan menjalin kedekatan emosional sehingga partisipan cenderung lebih berhati-hati dalam hubungan romantis. Namun, pengalaman tersebut juga dimaknai sebagai pembelajaran untuk membangun hubungan yang lebih sehat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengalaman fatherless membentuk dinamika psikologis sekaligus mendorong refleksi diri dan komitmen membangun relasi yang lebih adaptif pada masa dewasa awal.
POST-TRAUMATIC GROWTH PADA ANAK PEREMPUAN PASCA KEMATIAN AYAH Stevie Feliana; Zakwan Adri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13704

Abstract

Research on women’s experiences following paternal death in Indonesia remains limited, particularly studies that distinguish coping strategies, adaptation processes, and positive changes associated with post-traumatic growth. This study aimed to explore grief reactions and the resources perceived to help women adapt after the death of their fathers. A qualitative survey using an indigenous psychology approach was employed. The study involved 172 women who had lost their fathers due to death and were recruited through purposive sampling. Data were collected using an open-ended questionnaire and analyzed through thematic analysis. The findings showed that participants experienced various grief reactions, including sadness, a sense of loss, denial, anger, longing for their fathers’ presence, and gradual acceptance. Resources that supported the adaptation process included support from family and friends, spiritual practices and meaning-making, engagement in positive activities, emotional expression, and the development of independence. Some participants continued to experience difficulties in coping with the loss. These findings do not directly establish the occurrence of post-traumatic growth but identify adaptive resources and potential positive changes that require further investigation. The findings may provide a basis for developing bereavement support involving families, schools, religious communities, and mental health professionals. ABSTRAK Penelitian mengenai pengalaman perempuan setelah kematian ayah di Indonesia masih terbatas, terutama penelitian yang membedakan strategi koping, proses adaptasi, dan perubahan positif yang berkaitan dengan post-traumatic growth. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi reaksi duka dan sumber daya yang dipersepsikan membantu perempuan beradaptasi setelah kematian ayah. Penelitian menggunakan survei kualitatif dengan pendekatan indigenous psychology. Penelitian ini melibatkan 172 perempuan yang telah kehilangan ayah karena kematian dan direkrut secara purposif. Data dikumpulkan melalui kuesioner terbuka dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan mengalami beragam reaksi duka, seperti kesedihan, rasa kehilangan, penyangkalan, kemarahan, kerinduan terhadap keberadaan ayah, dan proses penerimaan. Sumber daya yang membantu proses adaptasi meliputi dukungan keluarga dan sahabat, praktik serta pemaknaan spiritual, keterlibatan dalam aktivitas positif, ekspresi emosi, dan pengembangan kemandirian. Sebagian partisipan juga masih mengalami kesulitan dalam menghadapi kehilangan. Temuan ini tidak secara langsung membuktikan terjadinya post-traumatic growth, tetapi mengidentifikasi sumber daya adaptasi dan kemungkinan perubahan positif yang perlu dikaji lebih mendalam. Hasil penelitian dapat menjadi dasar pengembangan dukungan kedukaan yang melibatkan keluarga, sekolah, komunitas keagamaan, dan tenaga kesehatan mental.
GAMBARAN PENERIMAAN DIRI PADA LANSIA YANG DITINGGAL PASANGAN KARENA KEMATIAN Maria Tabitha Grace Simangunsong; Nancy Naomi G.P. Aritonang
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13793

Abstract

ABSTRACT The death of a spouse in later life represents a major life transition that reshapes older adults' emotional, social, and psychological well-being. Within this context, self-acceptance becomes an essential adaptive process through which older adults reconstruct meaning and continue their daily lives following bereavement. This study explored how self-acceptance develops among older adults who have lost their spouses due to death and identified the factors that facilitate this process. A descriptive qualitative approach was employed involving two older adults from Perkebunan Panigoran Village, North Sumatra, selected through purposive sampling. Data were generated through in-depth interviews, non-participant observation, and documentation, and were analyzed using Creswell's qualitative analysis procedures, including data organization, comprehensive reading, coding, theme development, and interpretation. The findings revealed that although both participants experienced distinct bereavement trajectories, they demonstrated the stages of denial, anger, bargaining, and acceptance, while depression did not emerge as a dominant characteristic. Self-acceptance was reflected in their ability to perceive the loss as part of God's will, establish a renewed sense of balance, and maintain adaptive engagement in everyday activities. This adaptive process was strengthened by religiosity, family support, broader social support, and participation in religious as well as community activities. These findings suggest that self-acceptance following spousal loss is a highly contextual and individualized experience shaped by the interaction of psychological, spiritual, and social resources, thereby enriching the understanding of bereavement adaptation among older adults in everyday life. ABSTRAK Kematian pasangan hidup pada usia lanjut tidak hanya menghadirkan kehilangan secara emosional, tetapi juga menuntut penyesuaian terhadap perubahan peran, rutinitas, dan cara memaknai kehidupan. Dalam situasi tersebut, penerimaan diri menjadi bagian penting dari proses adaptasi yang berlangsung secara berbeda pada setiap individu. Artikel ini mengeksplorasi bagaimana penerimaan diri terbentuk pada lansia yang kehilangan pasangan akibat kematian sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap proses tersebut. Kajian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif terhadap dua lansia di Desa Perkebunan Panigoran, Sumatera Utara, yang dipilih melalui purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi nonpartisipan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan analisis kualitatif Creswell yang meliputi pengorganisasian data, pembacaan menyeluruh, pengodean, pengembangan tema, dan interpretasi. Analisis menunjukkan bahwa kedua partisipan menempuh perjalanan berduka yang tidak seragam, meskipun sama-sama memperlihatkan dinamika denial, anger, bargaining, dan acceptance, tanpa dominasi karakteristik depression. Penerimaan diri berkembang melalui kemampuan memaknai kehilangan sebagai bagian dari kehendak Tuhan, mempertahankan keberfungsian dalam kehidupan sehari-hari, serta membangun keseimbangan hidup yang baru. Religiusitas, dukungan keluarga, dukungan sosial, dan keterlibatan dalam aktivitas sosial maupun keagamaan menjadi sumber daya yang saling melengkapi selama proses adaptasi. Temuan ini menegaskan bahwa penerimaan diri pada lansia setelah kehilangan pasangan merupakan pengalaman yang kontekstual, dipengaruhi oleh interaksi antara aspek psikologis, spiritual, dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
HUBUNGAN ANTARA JOB INSECURITY DENGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA KARYAWAN KONTRAK DI KOTA MEDAN Sicha Ladiska Tambunan; Karina M Brahmana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13857

Abstract

ABSTRACT Contract-based employment is frequently associated with uncertainty regarding job continuity; however, its psychological consequences do not necessarily manifest in the same way across workers. This study examined the relationship between job insecurity and psychological well-being among contract employees in Medan City using a quantitative correlational design. A total of 166 respondents were recruited through non-probability sampling with a purposive sampling approach. Data were collected using a job insecurity scale adapted from Greenhalgh and Rosenblatt and Ashford et al. (1989), while psychological well-being was measured using an instrument developed based on Ryff’s (1989) multidimensional model. The relationship between the two variables was analyzed using Spearman’s rho correlation. The findings revealed no significant relationship between job insecurity and psychological well-being (r = 0.016; p = 0.834). Most respondents reported a moderate level of job insecurity, whereas their psychological well-being was generally categorized as high. These findings suggest that the psychological well-being of contract employees is not determined solely by perceptions of job security but is also shaped by adaptive capacity, coping strategies, and the availability of social support. This study contributes to the field of occupational psychology by demonstrating that psychological well-being is a multidimensional construct that is sustained through the combined influence of personal resources and organizational support. ABSTRAK Status kerja kontrak sering dikaitkan dengan ketidakpastian mengenai keberlanjutan pekerjaan, namun konsekuensi psikologis dari kondisi tersebut tidak selalu berkembang secara seragam pada setiap pekerja. Penelitian ini mengeksplorasi keterkaitan antara job insecurity dan psychological well-being pada karyawan kontrak di Kota Medan melalui pendekatan kuantitatif dengan rancangan korelasional. Sebanyak 166 responden direkrut menggunakan teknik non-probability sampling melalui purposive sampling. Pengumpulan data memanfaatkan skala job insecurity yang diadaptasi dari Greenhalgh dan Rosenblatt serta Ashford et al. (1989), sementara psychological well-being diukur menggunakan instrumen yang mengacu pada dimensi Ryff (1989). Hubungan antarvariabel dianalisis menggunakan korelasi Spearman's rho. Analisis menunjukkan bahwa job insecurity tidak berhubungan secara signifikan dengan psychological well-being (r = 0,016; p = 0,834). Responden umumnya memperlihatkan tingkat job insecurity pada kategori sedang, sedangkan psychological well-being berada pada kategori tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa kesejahteraan psikologis pekerja kontrak tidak semata-mata ditentukan oleh persepsi terhadap keamanan kerja, tetapi juga dipengaruhi oleh kemampuan beradaptasi, strategi coping, serta dukungan sosial yang tersedia. Dengan demikian, penelitian ini memperkaya kajian psikologi kerja dengan menegaskan bahwa psychological well-being merupakan konstruk yang multidimensional sehingga penguatannya memerlukan sinergi antara sumb er daya personal dan dukungan organisasi.
KONFORMITAS TEMAN SEBAYA SEBAGAI MEDIATOR PENGARUH PELEPASAN MORAL TERHADAP PERUNDUNGAN SIBER PADA REMAJA AWAL DI KOTA PADANG Defi Syazana Nadhira; Izzanil Hidayati; Putri Sukma Deri; Wirza Feny Rahayu
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13866

Abstract

Cyberbullying remains a concern among adolescents because it is associated with adverse psychological and social consequences. Moral disengagement is a cognitive factor associated with cyberbullying, whereas peer conformity may encourage adolescents to adopt group behavior. However, studies integrating these three variables into a mediation model, particularly among Indonesian adolescents, remain limited. This study examined the relationship between moral disengagement and cyberbullying through peer conformity among early adolescents in Padang City. A quantitative approach with a cross-sectional explanatory design was employed. The participants were 218 early adolescents selected using incidental sampling. Data were collected using self-report measures of cyberbullying, moral disengagement, and peer conformity. The data were analyzed using PROCESS Macro Model 4 in SPSS with a bootstrapping procedure. The findings showed that moral disengagement was positively associated with and statistically predicted both peer conformity and cyberbullying. Peer conformity was also positively associated with and statistically predicted cyberbullying. Furthermore, peer conformity partially mediated the relationship between moral disengagement and cyberbullying. These findings highlight the importance of considering both cognitive and social factors when understanding cyberbullying among adolescents. Nevertheless, the findings should be interpreted cautiously because of the use of incidental sampling, self-report data, and a cross-sectional design. ABSTRAK Cyberbullying masih menjadi permasalahan pada remaja karena berkaitan dengan berbagai konsekuensi negatif terhadap kondisi psikologis dan hubungan sosial. Moral disengagement merupakan faktor kognitif yang berkaitan dengan cyberbullying, sedangkan konformitas teman sebaya dapat mendorong remaja mengikuti perilaku kelompok. Namun, penelitian yang menguji ketiga variabel tersebut secara terpadu dalam model mediasi, khususnya pada remaja di Indonesia, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan moral disengagement dengan cyberbullying melalui konformitas teman sebaya pada remaja awal di Kota Padang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori cross-sectional yang melibatkan 218 remaja awal yang dipilih menggunakan teknik incidental sampling. Data dikumpulkan melalui instrumen laporan diri yang mengukur cyberbullying, moral disengagement, dan konformitas teman sebaya. Data dianalisis menggunakan PROCESS Macro Model 4 pada SPSS dengan teknik bootstrapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moral disengagement berhubungan positif dan memprediksi secara statistik konformitas teman sebaya serta cyberbullying. Konformitas teman sebaya juga berhubungan positif dan memprediksi secara statistik cyberbullying. Selain itu, konformitas teman sebaya terbukti memediasi secara parsial hubungan antara moral disengagement dan cyberbullying. Temuan ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan faktor kognitif dan sosial dalam memahami cyberbullying pada remaja. Namun, generalisasi dan interpretasi temuan perlu dilakukan secara hati-hati karena penggunaan incidental sampling, data laporan diri, dan desain cross-sectional.
PENGARUH FATHER-LOVE ABSENCE TERHADAP INSECURE ATTACHMENT TIPE PREOCCUPIED PADA WANITA DEWASA AWAL GENERASI Z INDONESIA Nabila Aulia; Zulmi Yusra
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13895

Abstract

This study was motivated by the phenomenon of Generation Z early adult women who exhibit a tendency toward preoccupied insecure attachment in romantic relationships, characterized by fear of abandonment, emotional dependency, and a strong need for validation from their partners. One factor presumed to contribute to this condition is father-love absence, defined as the lack of paternal affection, attention, and emotional involvement during childhood. Although previous studies have extensively examined father absence and fatherlessness, research specifically investigating father-love absence as a form of emotional paternal absence and its association with preoccupied insecure attachment among Generation Z early adult women in Indonesia remains limited. Therefore, this study aimed to examine the effect of father-love absence on preoccupied insecure attachment among Generation Z early adult women in Indonesia. This study employed a quantitative approach with an associative research design. A total of 385 participants were selected using accidental sampling. Data were collected using the Father-Love Absence Scale (FLAS) and the Attachment Style Questionnaire (ASQ) and analyzed using simple linear regression with JASP version 0.19.3. The results revealed that father-love absence had a positive and significant effect on preoccupied insecure attachment (β = 0.515, t = 11.746, p < .001), with a coefficient of determination (R²) of 0.265. These findings indicate that higher levels of father-love absence are associated with a greater tendency to develop preoccupied insecure attachment among Generation Z early adult women. This study highlights the importance of fathers' emotional involvement in fostering adaptive attachment patterns during early adulthood and provides a basis for developing psychoeducational and family-based intervention programs to promote healthier interpersonal relationships. ABSTRAK Latar belakang penelitian ini didasarkan pada fenomena wanita dewasa awal Generasi Z yang menunjukkan kecenderungan insecure attachment tipe preoccupied dalam hubungan romantis, seperti ketakutan kehilangan pasangan, ketergantungan emosional, serta kebutuhan yang tinggi akan validasi. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap kondisi tersebut adalah pengalaman father-love absence, yaitu kurangnya kasih sayang, perhatian, dan keterlibatan emosional ayah selama masa perkembangan. Meskipun penelitian mengenai father absence dan fatherlessnes telah banyak dilakukan, kajian yang secara khusus mengkaji pengaruh father-love absence terhadap insecure attachment tipe preoccupied pada wanita dewasa awal Generasi Z di Indonesia masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh father-love absence terhadap insecure attachment tipe preoccupied pada wanita dewasa awal Generasi Z di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif. Sebanyak 385 responden dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan Father-Love Absence Scale (FLAS) dan Attachment Style Questionnaire (ASQ), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana dengan bantuan perangkat lunak JASP versi 0.19.3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa father-love absence berpengaruh positif dan signifikan terhadap insecure attachment tipe preoccupied (β = 0,515; t = 11,746; p < 0,001) dengan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,265. Temuan penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi pengalaman father-love absence, semakin tinggi kecenderungan wanita dewasa awal Generasi Z untuk mengembangkan insecure attachment tipe preoccupied. Penelitian ini menegaskan bahwa keterlibatan emosional ayah merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan pola kelekatan pada masa dewasa awal serta menjadi dasar bagi pengembangan psikoedukasi dan intervensi keluarga untuk mendukung hubungan interpersonal yang lebih sehat.
PERBEDAAN CAREER DECISION MAKING SELF-EFFICACAY (CDMSE) PADA MAHASISWA AKHIR YANG BERORGANISASI DAN TIDAK BERORGANISAI Jelita Elfidawati Silitonga; Hotpascaman Simbolon
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13963

Abstract

ABSTRACT The transition from university to the workforce is shaped not only by students' academic achievement but also by their confidence in making career-related decisions. Differences in learning experiences throughout higher education, including participation in student organizations, are assumed to contribute to the development of Career Decision-Making Self-Efficacy (CDMSE). Accordingly, this study compared the level of CDMSE between final-year students who actively participated in student organizations and those who did not at HKBP Nommensen University Medan. A quantitative comparative design was employed, involving 300 participants selected through purposive sampling, consisting of 150 students who were actively engaged in student organizations and 150 students with no organizational involvement. Data were collected using a valid and reliable Career Decision-Making Self-Efficacy scale and analyzed using an Independent Samples t-test. The findings revealed a statistically significant difference in CDMSE between the two groups (t = 2.202; p = 0.028). Students who actively participated in student organizations demonstrated a higher mean CDMSE score than their non-participating counterparts, indicating that organizational experiences are associated with stronger confidence in career decision-making. Nevertheless, the findings also suggest that CDMSE is shaped not solely by organizational involvement but by a broader range of learning experiences acquired throughout university. These results provide empirical evidence supporting the development of more inclusive career development services to better prepare students for the transition into the professional workforce. ABSTRAK Perjalanan mahasiswa menuju dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh pencapaian akademik, tetapi juga oleh keyakinan mereka dalam menetapkan pilihan karier. Perbedaan pengalaman selama menjalani pendidikan tinggi, termasuk keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan, diduga berkontribusi terhadap pembentukan Career Decision-Making Self-Efficacy (CDMSE). Atas dasar tersebut, penelitian ini membandingkan tingkat CDMSE antara mahasiswa tingkat akhir yang aktif berorganisasi dan mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi di Universitas HKBP Nommensen Medan. Penelitian menerapkan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif dan melibatkan 300 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, terdiri atas 150 mahasiswa aktif berorganisasi dan 150 mahasiswa yang tidak berorganisasi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Career Decision-Making Self-Efficacy yang telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis melalui Independent Samples t-test. Analisis menunjukkan adanya perbedaan CDMSE yang signifikan antara kedua kelompok (t = 2,202; p = 0,028). Rerata skor mahasiswa yang aktif berorganisasi lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak berorganisasi, mengindikasikan bahwa pengalaman organisasi berkaitan dengan meningkatnya keyakinan dalam mengambil keputusan karier. Meskipun demikian, temuan ini juga memperlihatkan bahwa pembentukan CDMSE tidak hanya bersumber dari aktivitas organisasi, melainkan dipengaruhi oleh berbagai pengalaman belajar yang diperoleh selama masa studi. Hasil penelitian memberikan dasar empiris bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan layanan pengembangan karier yang lebih inklusif guna mendukung kesiapan mahasiswa menghadapi transisi ke dunia kerja.
HUBUNGAN KESEPIAN DAN FEAR OF MISSING OUT PADA REMAJA AKHIR PENGGUNA MEDIA SOSIAL KOTA MEDAN Monica Wulansari Butarbutar; Hotpascaman Simbolon
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13965

Abstract

ABSTRACT Social media has become an integral part of late adolescents' daily lives; however, frequent digital interaction does not necessarily fulfill their need for meaningful emotional connection. This condition makes loneliness and fear of missing out (FoMO) two closely related psychological phenomena. The present study examined the relationship between loneliness and FoMO among late adolescent social media users in Medan City. A total of 350 participants aged 18–21 years were recruited using a purposive sampling technique. Data were collected online through Google Forms using the UCLA Loneliness Scale Version 3 (ULS-3) and the Fear of Missing Out Scale (FoMOs). The data were analyzed using Spearman's rho correlation with IBM SPSS Statistics version 25. The findings revealed a positive and statistically significant relationship between loneliness and FoMO (rs = 0.561; p < 0.001), indicating a moderate correlation. These results suggest that higher levels of loneliness are associated with a greater tendency to experience FoMO among late adolescents. Beyond demonstrating this relationship, the study highlights the importance of interpersonal relationship quality in understanding FoMO within the context of digital life. The findings provide empirical support for developing psychological assistance programs, strengthening social connectedness, and promoting healthier social media use among late adolescents. ABSTRAK Media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja akhir, tetapi tingginya intensitas interaksi digital belum tentu mampu memenuhi kebutuhan akan kedekatan emosional. Kondisi tersebut menjadikan loneliness dan fear of missing out (FoMO) sebagai dua fenomena psikologis yang saling berkaitan. Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan antara loneliness dan FoMO pada remaja akhir pengguna media sosial di Kota Medan. Sebanyak 350 responden berusia 18–21 tahun dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan secara daring melalui Google Form menggunakan UCLA Loneliness Scale Version 3 (ULS-3) dan Fear of Missing Out Scale (FoMOs). Analisis dilakukan dengan uji korelasi Spearman’s rho menggunakan IBM SPSS Statistics versi 25. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara loneliness dan FoMO (rs = 0,561; p < 0,001) dengan kekuatan korelasi pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kesepian yang dialami remaja akhir, semakin besar kecenderungan mereka mengalami FoMO. Selain memperkuat pemahaman mengenai dinamika psikologis remaja di era digital, penelitian ini menegaskan bahwa kualitas hubungan interpersonal memiliki peran penting dalam menjelaskan munculnya FoMO. Temuan tersebut dapat menjadi landasan bagi pengembangan program pendampingan psikologis, penguatan relasi sosial, dan edukasi penggunaan media sosial yang lebih sehat bagi remaja akhir.
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SEJARAH DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CTL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) PESERTA DIDIK KELAS X SMAN 2 KASONGAN SAMULANI SAMULANI
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 3 No. 3 (2023)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v3i3.2689

Abstract

This research aims to improve history learning outcomes by implementing the CTL (Contextual Teaching And Learning) learning model for class X students at SMAN 2 Kasongan. This research is classroom action research with the application of Contextual Teaching and Learning. The subjects of this research were 20 students of SMAN-2 Kasongan class X. Data collection techniques use observation sheets, documentation and test results. Based on the actions that have been taken, implementing the CTL (Contextual Teaching and Learning) learning model can improve learning outcomes in learning activities. The student learning outcomes in the initial study were only 65.76 to 72.00 and 86.05 in the second cycle, with a learning completeness level of 8 students or 40%, in the first cycle there were 13 students or 65%, and in the second cycle there were 17 students or 85%. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar sejarah dengan penerapan model pembelajaran CTL (Contextual Teaching And Learning) peserta didik kelas X SMAN 2 kasongan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan penerapan Contextual Teaching and Learning. Subjek penelitian ini adalah peserta didik SMAN-2 Kasongan kelas X sebanyak 20 peserta didik. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, dokumentasi, dan hasil tes. Berdasarkan tindakan yang telah dilakukan penerapan model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) dapat meningkatkan hasil belajar pada kegiatan pembelajaran. Hasil belajar peserta didik pada studi awal hanya 65,76 menjadi 72,00 dan 86,05 pada siklus kedua, dengan tingkat ketuntasan belajar sebanyak 8 peserta didik atau 40%, siklus I ada 13 peserta didik atau 65%, dan pada siklus II ada 17 peserta didik atau 85%.