cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
PENGARUH KONSELING COGNITIVE BEHAVIOR BERBASIS SABLOK (SAPA BALOK KARTU) UNTUK MEREDUKSI PHUBBING SISWA SMA Lilis Sri Asia; Syska Purnama Sari; Endang Surtiyoni
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12964

Abstract

ABSTRACT The increasing use of smartphones among adolescents has reshaped patterns of social interaction, making phubbing behavior increasingly prevalent in school settings. This condition indicates that addressing phubbing requires more than behavior-oriented interventions; it also demands counseling services that integrate cognitive restructuring with learning experiences that actively engage students in the change process. In response to this need, this study developed and evaluated a group counseling intervention by integrating the principles of Cognitive Behavioral Therapy (CBT) and Cognitive Behavioral Play Therapy (CBPT) through the SABLOK (Sapa Balok Kartu) game as an alternative approach to reducing phubbing behavior. A quantitative approach employing a one-group pretest-posttest design was adopted. The participants consisted of five eleventh-grade students selected through purposive sampling based on their high levels of phubbing behavior. Data were collected using a questionnaire and analyzed with the Wilcoxon Signed-Rank Test. The findings revealed a significant reduction in phubbing behavior following the intervention, as indicated by a Z value of −2.023 and an Asymp. Sig. (2-tailed) value of 0.043 (< 0.05). These findings suggest that integrating Cognitive Behavioral Therapy, Cognitive Behavioral Play Therapy, and the SABLOK game provides an effective intervention strategy for strengthening school counseling services by promoting students' self-control in smartphone use while enhancing the quality of their interpersonal social interactions. ABSTRAK Perubahan pola interaksi sosial di kalangan remaja sebagai konsekuensi meningkatnya penggunaan smartphone menjadikan perilaku phubbing semakin sering dijumpai di lingkungan sekolah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan phubbing tidak cukup dilakukan melalui pendekatan yang hanya berorientasi pada pengendalian perilaku, tetapi memerlukan layanan yang mampu mengintegrasikan perubahan cara berpikir dengan pengalaman belajar yang melibatkan partisipasi aktif peserta didik. Berangkat dari kebutuhan tersebut, penelitian ini mengembangkan dan menguji penerapan konseling kelompok melalui integrasi prinsip Cognitive Behavioral Therapy dan Cognitive Behavioral Play Therapy (CBPT) dengan media permainan SABLOK (Sapa Balok Kartu) sebagai alternatif intervensi untuk mereduksi perilaku phubbing. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one-group pretest-posttest yang melibatkan lima siswa kelas XI yang dipilih secara purposive berdasarkan tingkat phubbing yang tinggi. Data dikumpulkan menggunakan angket dan dianalisis melalui Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil analisis menunjukkan adanya penurunan perilaku phubbing setelah pelaksanaan layanan, dengan nilai Z = -2,023 dan Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,043 (<0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi Cognitive Behavioral Therapy, CBPT, dan media SABLOK merupakan alternatif intervensi yang efektif untuk memperkuat layanan bimbingan dan konseling dalam membantu peserta didik mengembangkan kontrol diri terhadap penggunaan smartphone sekaligus meningkatkan kualitas interaksi sosial di lingkungan sekolah.
EFEKTIVITAS BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN TEKNIK PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN KEMATANGAN KARIR SISWA SMK YWKA PALEMBANG Rifka Aisiyah; Nurlela Nurlela; Endang Surtiyoni
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12965

Abstract

ABSTRACT Career maturity is an essential competency for vocational high school (Sekolah Menengah Kejuruan/SMK) students, as it enables them to make realistic decisions regarding further education and future employment based on their individual potential. In practice, many students continue to experience difficulties in recognizing their strengths, evaluating career alternatives, and making independent career decisions, indicating the need for more participatory career guidance services. This study aimed to evaluate the effectiveness of group guidance integrated with the problem-solving technique in improving the career maturity of students at SMK YWKA Palembang. A quantitative approach was employed using a pre-experimental one-group pretest-posttest design. Ten students were selected through purposive sampling, and their level of career maturity was measured using a career maturity questionnaire administered before and after the intervention. Changes in the scores were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test with the assistance of SPSS version 26. The mean career maturity score increased from 94 in the pre-test to 109.6 in the post-test. Statistical analysis yielded a Z value of −2.803 with a significance level of 0.005 (p < 0.05), indicating a statistically significant improvement following the intervention. These findings demonstrate that group guidance employing the problem-solving technique effectively enhances students' career maturity and provides empirical support for the development of more active, reflective, and contextually relevant career guidance and counseling services within vocational education. ABSTRAK Rendahnya kematangan karir pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi tantangan karena banyak peserta didik belum mampu memahami potensi diri, merencanakan karir, dan menentukan pilihan karir secara tepat. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya layanan bimbingan dan konseling yang mampu mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambil keputusan karir secara rasional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kematangan karir siswa sebelum dan sesudah mengikuti layanan bimbingan kelompok dengan teknik problem solving, sekaligus menguji efektivitas layanan tersebut dalam meningkatkan kematangan karir siswa SMK YWKA Palembang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental one-group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 10 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui angket kematangan karir dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon signed-rank test dengan bantuan SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor kematangan karir meningkat dari 94 pada pre-test menjadi 109,6 pada post-test. Hasil uji Wilcoxon signed-rank test memperoleh nilai Z = -2,803 dengan nilai signifikansi 0,005 (<0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara skor sebelum dan sesudah perlakuan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa layanan bimbingan kelompok dengan teknik problem solving efektif dalam meningkatkan kematangan karir siswa SMK YWKA Palembang dan berpotensi menjadi alternatif layanan bimbingan karir di sekolah kejuruan.
THE NEW AVENGERS: THE ROLE OF SOCIAL JUSTICE AND TEAMWORK IN DIGITAL ACTIVISM – A LITERATURE REVIEW Serly Andriani Kusnadi; Herdiyan Maulana; Zarina Akbar
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12968

Abstract

ABSTRACT Obstacles to channeling conventional political aspirations and the prevalence of systemic discrimination in the public sphere are the background to this article. These issues trigger sociopsychological alienation, which drives the emergence of independent collective movements in cyberspace. The main focus of this theoretical study is to comprehensively explore the central role of social justice and teamwork in mapping the phenomenon of digital movements driven by a new generation of activists called The New Avengers. The research steps were carried out using a narrative literature review method that adopted the selection principles of the PRISMA framework. The secondary data screening procedure systematically synthesized twenty original scientific articles from Scopus, PsycINFO, and Google Scholar databases published over the past ten years. Thematic synthesis-based research findings indicate that the principle of social justice serves as a core motivation and fundamental goal of the movement. Digital platforms have proven to provide powerful tools for narrative amplification, fostering solidarity among marginalized groups, and coordinating collective action in real time. The main conclusion emphasizes that although cyberspace offers freedom of expression, the success of digital activism is heavily influenced by cyber structural barriers, the threat of antagonism, and the repressive dynamics of authoritarian networks. Activists are recommended to draft a strategy to strengthen critical media literacy and inclusive collaborative ethics to ensure the sustainability of the impact of social change.   ABSTRAK Hambatan penyaluran aspirasi politik konvensional serta maraknya diskriminasi sistemik di ruang publik melatarbelakangi penulisan artikel ini. Masalah tersebut memicu alienasi sosiopsikologis yang mendorong munculnya gerakan kolektif independen di ruang siber. Fokus utama kajian teoretis ini adalah mengeksplorasi secara komprehensif peran sentral keadilan sosial serta kerja sama tim dalam memetakan fenomena pergerakan digital yang digerakkan oleh generasi aktivis baru bernama The New Avengers. Langkah-langkah penelitian dijalankan menggunakan metode tinjauan literatur naratif (narrative literature review) yang mengadopsi prinsip seleksi kerangka kerja PRISMA. Prosedur penyaringan data sekunder secara sistematis menyintesis dua puluh artikel ilmiah orisinal dari basis data Scopus, PsycINFO, dan Google Scholar dalam rentang publikasi sepuluh tahun terakhir. Temuan riset berbasis sintesis tematik menunjukkan bahwa prinsip keadilan sosial berfungsi sebagai motivasi inti dan tujuan fundamental pergerakan. Platform digital terbukti menyediakan alat yang ampuh untuk amplifikasi narasi, penggalangan solidaritas kelompok marjinal, serta koordinasi tindakan kolektif secara real-time. Simpulan utama menegaskan bahwa meskipun ruang siber menawarkan kebebasan ekspresi, tingkat keberhasilan aktivisme digital sangat dipengaruhi oleh hambatan struktural siber, ancaman antagonisme, dan dinamika represi jaringan otoriter. Para aktivis direkomendasikan menyusun draf strategi penguatan literasi media kritis dan etika kolaborasi inklusif demi menjamin keberlanjutan dampak perubahan sosial.
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA ANGGOTA KSBSI YANG MENGALAMI PHK Jorgi Excellency Mboeik; Mernon Y. C. Mage; Marleny P. Panis
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12970

Abstract

Regional economic uncertainty and the intense social pressure following the loss of formal employment are the background to this research. These operational issues have triggered increased mental vulnerability and a drastic decline in workers' life satisfaction. The main focus of this scientific study is to analyze and empirically test the relationship between stress levels and the psychological well-being of members of the All-Indonesian Trade Union Confederation (KSBSI) who have experienced layoffs. This quantitative, descriptive, correlational research path was implemented using a questionnaire, reaching a sample of 137 respondents through a simple random sampling technique. Primary data measurement used the Depression Anxiety Stress Scale-42 and the Ryff Psychological Well-Being Scale, which were then statistically executed through residual normality tests and Pearson correlation analysis. The quantitative data empirically revealed a weak, significant negative correlation between stress levels and psychological well-being, with a correlation coefficient value of r of minus 0.193 at a significance parameter of p less than 0.001. The majority of research subjects were stably distributed in the moderate stress and moderate well-being categories. The main conclusion confirms that the escalation of workers' psychological stress is directly proportional to the decline in autonomy and self-acceptance. Employment organization practitioners are recommended to design coping management and psychosocial support drafts consistently. ABSTRAK Ketidakpastian ekonomi regional serta besarnya tekanan sosial pasca kehilangan pekerjaan formal melatarbelakangi kegiatan penelitian ini. Masalah operasional tersebut memicu peningkatan kerentanan mental serta penurunan drastis pada derajat kepuasan hidup para buruh. Fokus utama kajian ilmiah ini adalah membedah dan menguji secara empiris hubungan antara tingkat stres dan kesejahteraan psikologis anggota Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Langkah-langkah jalur riset kuantitatif deskriptif korelasional ini dioperasikan menggunakan kuesioner dengan menjangkau sampel sebanyak 137 responden melalui teknik simple random sampling. Pengukuran data primer menggunakan instrumen Depression Anxiety Stress Scale-42 dan Ryff Psychological Well-Being Scale, yang selanjutnya dieksekusi statistik lewat uji normalitas residual serta analisis korelasi Pearson. Data kuantitatif secara empiris menyingkap korelasi negatif lemah yang signifikan antara tingkat stres dan kesejahteraan psikologis dengan nilai koefisien korelasi r sebesar minus 0,193 pada parameter signifikansi p kurang dari 0,001. Mayoritas subjek penelitian terdistribusi secara stabil pada kategori tingkat stres sedang dan tingkat kesejahteraan sedang. Simpulan utama menegaskan bahwa eskalasi ketegangan psikologis buruh berbanding lurus dengan penurunan fungsi otonomi serta penerimaan diri. Praktisi organisasi ketenagakerjaan direkomendasikan merancang draf manajemen koping dan dukungan psikososial secara konsisten.    
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DAN NEED TO BELONG DENGAN PRESENTASI DIRI PADA PENGGEMAR OLAHRAGA LARI YANG MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL Puja Anastatiro; I Gusti Ayu Agung Noviekayati; Aliffia Ananta
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12971

Abstract

The increasing popularity of running in Indonesia in recent years reflects not only a shift toward a healthier lifestyle but also the transformation of running into a medium of self-presentation on social media. Running activities shared through photos, videos, and performance records represent how individuals construct and display their identity in digital spaces. This study aims to examine the relationship between self-esteem and need to belong with self-presentation among running enthusiasts who use social media. This research employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 147 running enthusiasts who actively use social media. Data were collected online using questionnaires and analyzed using multiple linear regression. The results indicate that self-esteem and need to belong simultaneously have a significant relationship with self-presentation, with a coefficient of determination of 0.998. Partially, need to belong contributed an effective contribution of 72.49%, while self-esteem contributed an effective contribution of 25.07% to self-presentation. These findings suggest that the need for social acceptance and belonging plays a more dominant role than internal self-evaluation in shaping self-presentation on social media among running enthusiasts. ABSTRAK Fenomena meningkatnya popularitas olahraga lari di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya menunjukkan perubahan gaya hidup sehat, tetapi juga menjadikan lari sebagai sarana presentasi diri di media sosial. Aktivitas lari yang dibagikan dalam bentuk unggahan foto, video, maupun pencapaian olahraga mencerminkan cara individu menampilkan identitas dan citra diri di ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara harga diri dan need to belong dengan presentasi diri pada penggemar olahraga lari yang menggunakan media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 147 responden penggemar olahraga lari yang aktif menggunakan media sosial. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga diri dan need to belong secara simultan memiliki hubungan yang signifikan dengan presentasi diri, dengan nilai koefisien determinasi sebesar 0,998. Secara parsial, need to belong memberikan sumbangan efektif sebesar 72,49%, sedangkan harga diri memberikan sumbangan efektif sebesar 25,07% terhadap presentasi diri. Temuan ini menunjukkan bahwa kebutuhan untuk diterima dan diakui secara sosial memiliki peran yang lebih dominan dibandingkan evaluasi diri internal dalam membentuk presentasi diri di media sosial pada penggemar olahraga lari.    
HUBUNGAN FOMO (FEAR OF MISSING OUT) TERHADAP KECANDUAN MEDIA SOSIAL GENERASI Z Amelia Pebriyanti; Puspita Puji Rahayu
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12972

Abstract

This study aims to examine the effect of fear of missing out (FoMO) on social media addiction among Generation Z. The study employed a quantitative approach with a correlational design. Participants consisted of 115 individuals within the Generation Z age range (13–27 years) who actively use social media for more than five hours per day. A purposive sampling technique was used to select respondents. Data were collected online using the Fear of Missing Out Scale to measure FoMO and the Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS) to measure social media addiction. Data analysis was conducted using SPSS through normality testing and simple linear regression analysis. The results indicated that the data were normally distributed, with Kolmogorov–Smirnov significance values of 0.309 for the FoMO variable and 0.077 for the social media addiction variable (p > 0.05). Regression analysis showed that FoMO had a positive and significant effect on social media addiction among Generation Z, with a significance value of 0.001 (p < 0.05). The coefficient of determination (R²) was 0.087, indicating that FoMO contributed 8.7% to social media addiction, while the remaining variance was influenced by other factors not examined in this study. In conclusion, higher levels of FoMO are associated with higher tendencies toward social media addiction. However, the magnitude of the effect is relatively low; therefore, future research is recommended to consider additional variables that may influence social media addiction among Generation Z. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fear of missing out (FoMO) terhadap kecanduan media sosial pada generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 115 orang yang termasuk dalam rentang usia generasi Z (13-27 tahun) dan merupakan pengguna aktif media sosial lebih dari 5 jam per-hari. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan skala Fear of Missing Out Scale untuk mengukur FoMO dan Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS) untuk mengukur kecanduan media sosial. Data dianalisis menggunakan bantuan SPSS melalui uji normalitas dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dengan nilai signifikansi uji Kolmogorov–Smirnov sebesar 0,309 untuk variabel FoMO dan 0,077 untuk variabel kecanduan media sosial (p > 0,05). Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa FoMO berpengaruh positif dan signifikan terhadap kecanduan media sosial pada generasi Z dengan nilai signifikansi 0,001 (p < 0,05). Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,087 menunjukkan bahwa FoMO memberikan kontribusi sebesar 8,7% terhadap kecanduan media sosial, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat FoMO yang dimiliki individu, maka semakin tinggi pula kecenderungan kecanduan media sosial. Meskipun demikian, besarnya pengaruh yang diberikan tergolong rendah, sehingga penelitian selanjutnya disarankan untuk mempertimbangkan variabel lain yang dapat memengaruhi kecanduan media sosial pada generasi Z.    
HUBUNGAN SELF ESTEEM DENGAN BYSTANDER BULLYING DI PONDOK PESANTREN Arfin Nurma Halida; Siti Jaro’ah; Ni Wayan Sukmawati Puspitadewi; Adiwignya Nugraha Widhi Harita; Davina Firzia Aurellyn; Kevinda Satriatama
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12976

Abstract

Bullying is a serious problem that remains prevalent in educational settings, including Islamic boarding schools. The complex dynamics of life in these schools can give rise to bullying in various forms, where the role of bystanders is often overlooked. This study aims to examine the relationship between bystander bullying and self-esteem among students in Islamic boarding schools. The study employs a quantitative approach using a cross-sectional survey. The sample consisted of 448 middle school students (SMP/MTs/equivalent) from Islamic boarding schools in the Banyuwangi region, selected through purposive sampling. The instruments used were the Self-Liking Competence Scale-Revised (SLC-R) and the Student Bystander Behavior Scale (SBSS). Data analysis was conducted using descriptive statistics, normality tests, linearity tests, and Spearman’s rank correlation. The results indicate a significant and strong relationship between bystander bullying and self-esteem (r = 0.759; p = 0.000). Students who act as passive observers or supporters of bullying tend to have lower self-esteem, while those who actively defend victims demonstrate higher self-esteem. These findings emphasize the importance of strengthening the role of bystanders (bystander bullying) through interventions based on pesantren values to prevent bullying and improve psychological well-being. ABSTRAK Bullying merupakan permasalahan serius yang masih banyak ditemukan di lingkungan pendidikan, termasuk di pondok pesantren. Kompleksitas dinamika kehidupan di pesantren dapat memunculkan perilaku bullying dalam berbagai bentuk, di mana peran bystander (pengamat) sering kali luput dari perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara bystander bullying dengan self esteem santri di pondok pesantren. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Partisipan penelitian berjumlah 448 santri tingkat menengah Pertama (SMP/MTs/sederajat) di pondok pesantren wilayah Banyuwangi yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Self-Liking Competence Scale Recides (SLC-R) dan Student Bystander Behavior Scale (SBSS). Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, uji linearitas, dan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan kuat antara bystander bullying dan self esteem (r = 0,759; p = 0,000). Santri yang berperan sebagai pengamat pasif atau pendukung bullying cenderung memiliki tingkat harga diri yang lebih rendah, sementara santri yang berperan aktif membela korban menunjukkan harga diri yang lebih tinggi. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan peran pengamat (bystander bullying) melalui intervensi berbasis nilai-nilai pesantren guna mencegah bullying dan meningkatkan kesejahteraan psikologis santri.    
HUBUNGAN ANTARA KESEPIAN DENGAN KECENDERUNGAN KECANDUAN GAME ONLINE MOBILE LEGENDS PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR Nabilla Chairunnisa; Ayunda Ramadhani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12977

Abstract

Academic pressure during the preparation of the final thesis and the lack of real social interaction in the campus environment are the background of this research. These operational problems trigger excessive emotional distress that encourages students to escape into uncontrolled cyber activities. The main focus of this scientific study is to dissect and empirically test the relationship between loneliness and the tendency to be addicted to the online game Mobile Legends in final year students. The steps of this quantitative descriptive correlational research path are operated through purposive sampling of 140 active respondents at Mulawarman University with the criteria of playing duration exceeding four hours per day. The field data collection procedure was collected through the distribution of standardized Likert scale questionnaires, which were then executed using the Pearson Product Moment correlation analysis technique assisted by SPSS software version 27. Quantitative data empirically revealed a positive and significant relationship with the achievement of a correlation coefficient value of r of 0.488 at a significance parameter p less than 0.05. The test results proved that the majority of subjects were in the very high addiction category reaching 66.4 percent and a very high level of loneliness at 50.7 percent. The main conclusion confirms that feelings of emptiness due to limited real-life social relationships have been shown to significantly accelerate virtual world addiction. Academic practitioners are recommended to draft consistent emotion regulation counseling strategies. ABSTRAK Tekanan akademik selama penyusunan tugas akhir skripsi serta minimnya interaksi sosial nyata di lingkungan kampus melatarbelakangi penelitian ini. Masalah operasional tersebut memicu timbulnya distres emosional berlebih yang mendorong mahasiswa melarikan diri ke aktivitas siber secara tidak terkontrol. Fokus utama kajian ilmiah ini adalah membedah dan menguji secara empiris hubungan antara kesepian dengan kecenderungan kecanduan game online Mobile Legends pada mahasiswa tingkat akhir. Langkah-langkah jalur riset kuantitatif deskriptif korelasional ini dioperasikan melalui penarikan sampel secara purposive sampling terhadap 140 responden aktif di Universitas Mulawarman dengan kriteria durasi bermain melebihi empat jam per hari. Prosedur pengumpulan data lapangan dihimpun lewat penyebaran kuesioner skala Likert terstandardisasi, yang selanjutnya dieksekusi menggunakan teknik analisis korelasi Product Moment Pearson berbantuan perangkat lunak SPSS versi 27. Data kuantitatif secara empiris menyingkap adanya hubungan positif dan signifikan dengan capaian nilai koefisien korelasi r sebesar 0,488 pada parameter signifikansi p kurang dari 0,05. Hasil pengujian membuktikan bahwa mayoritas subjek berada pada kategori kecanduan sangat tinggi mencapai 66,4 persen dan tingkat kesepian sangat tinggi sebesar 50,7 persen. Simpulan utama menegaskan bahwa perasaan hampa akibat keterbatasan relasi sosial nyata terbukti kuat mempercepat adiksi dunia virtual. Praktisi akademis direkomendasikan merancang draf strategi konseling regulasi emosi secara konsisten.    
HUBUNGAN ANTARA KEBERSYUKURAN DAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS BAGI REMAJA YANG MEMILIKI SAUDARA KANDUNG TUNAGRAHITA Ninda Graciella Parrangan Putri; Dewita Karema Sarajar
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12978

Abstract

Gratitude is one of the internal factors that plays a role in enhancing an individual’s psychological well-being, particularly among adolescents facing various life demands. Adolescents who have siblings with intellectual disabilities often face emotional challenges and additional responsibilities that can affect their psychological well-being. This study aims to examine the relationship between gratitude and psychological well-being among adolescents with siblings with intellectual disabilities. The method used is a quantitative approach with a correlational design. The study participants consisted of 190 adolescents aged 13–20 years, selected using purposive sampling. The instruments used were the Gratitude Questionnaire–6 (GQ-6) to measure gratitude and the Psychological Well-Being Scale (PWB) based on Ryff’s model to measure psychological well-being. Data analysis was conducted using the Spearman’s rank correlation test. The results indicated a significant positive relationship between gratitude and psychological well-being (r = 0.379; p < 0.05) with a moderate strength of association. These findings suggest that the higher the level of gratitude adolescents possess, the higher their perceived psychological well-being. This study is expected to contribute to the development of gratitude-based psychological interventions to improve adolescents’ psychological well-being. ABSTRAK Kebersyukuran merupakan salah satu faktor internal yang berperan dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis individu, khususnya pada remaja yang menghadapi berbagai tuntutan kehidupan. Remaja yang memiliki saudara kandung tunagrahita seringkali dihadapkan pada tantangan emosional dan tanggung jawab tambahan yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebersyukuran dan kesejahteraan psikologis pada remaja yang memiliki saudara kandung tunagrahita. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 190 remaja berusia 13–20 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Gratitude Questionnaire–6 (GQ-6) untuk mengukur kebersyukuran dan Psychological Well-Being Scale (PWB) berdasarkan model Ryff untuk mengukur kesejahteraan psikologis. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kebersyukuran dan kesejahteraan psikologis (r = 0,379; p < 0,05) dengan kekuatan hubungan pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kebersyukuran yang dimiliki remaja, semakin tinggi pula kesejahteraan psikologis yang dirasakan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan intervensi psikologis berbasis kebersyukuran untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis remaja.    
ADAPTASI ALAT UKUR ONLINE SELF-DISCLOSURE DALAM INTERAKSI DENGAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PADA GENERASI Z Ninawati Ninawati; Nalia Divari Hanan; Vania Pamela Susijanto; Regina Alvia Gunawan; Cetrina Cetrina; Shereen Anggini
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12979

Abstract

The increasing intensity of reports of emotional disorders and high individual resistance in accessing professional psychological services due to social stigma are the background to this research. These operational issues have triggered a shift in the preferences of the younger generation to seek alternative, non-traditional support spaces through the interaction of artificial intelligence technology. The main focus of this scientific study is to adapt and validate the psychometric structure of the Online Self-Disclosure Scale instrument in the context of subject self-disclosure to conversational artificial intelligence. The steps for developing this measurement tool (scale development) were operated through a Google Forms digital survey reaching 432 respondents from the Generation Z group in the Greater Jakarta area. Sampling was carried out using a non-probability sampling method with the criteria for subjects aged 18 to 25 years, executed through a purposive sampling technique. Statistical parameter analysis was processed interactively using content validity requirements tests, internal reliability, and Exploratory Factor Analysis (EFA) and Confirmatory Factor Analysis (CFA) modeling. Quantitative data from the empirical evaluation showed that this 17-item instrument met the four-dimensional model's structural suitability (Goodness of Fit) very well, as indicated by the CFI index achievement of 0.957, TLI of 0.948, and GFI of 0.994. The estimated McDonald's omega reliability index was at 0.941 and Cronbach's alpha of 0.939. The main conclusion confirms that this adapted scale draft has proven valid, reliable, and stable for measuring digital psychology phenomena on an ongoing basis. ABSTRAK Meningkatnya intensitas pelaporan gangguan emosional serta tingginya resistensi individu dalam mengakses layanan psikologis profesional akibat stigma sosial melatarbelakangi penelitian ini. Masalah operasional tersebut memicu pergeseran preferensi generasi muda untuk mencari ruang dukungan alternatif nontradisional melalui interaksi teknologi kecerdasan buatan. Fokus utama kajian ilmiah ini adalah mengadaptasi serta memvalidasi struktur psikometrik instrumen Online Self-Disclosure Scale dalam konteks keterbukaan diri subjek terhadap conversational artificial intelligence. Langkah-langkah pengembangan alat ukur (scale development) ini dioperasikan melalui survei digital Google Forms dengan menjangkau 432 responden dari kelompok Generasi Z di wilayah Jabodetabek. Penarikan sampel dijalankan menggunakan metode non-probability sampling dengan kriteria subjek berusia 18 hingga 25 tahun yang dieksekusi melalui teknik purposive sampling. Analisis parameter statistik diproses secara interaktif menggunakan uji persyaratan validitas isi, reliabilitas internal, serta pemodelan Exploratory Factor Analysis (EFA) dan Confirmatory Factor Analysis (CFA). Data kuantitatif hasil evaluasi empiris menunjukkan instrumen 17 butir ini memenuhi kesesuaian struktur model empat dimensi (Goodness of Fit) yang sangat baik, ditunjukkan oleh capaian indeks CFI sebesar 0,957, TLI sebesar 0,948, dan GFI sebesar 0,994. Estimasi indeks reliabilitas McDonald’s omega berada pada parameter 0,941 serta Cronbach’s alpha sebesar 0,939. Simpulan utama menegaskan bahwa draf skala adaptasi ini terbukti sahih, andal, dan stabil untuk mengukur fenomena psikologi digital secara berkelanjutan.