cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
PENDIDIKAN BERINTEGRITAS SEBAGAI FONDASI GENERASI MASA DEPAN Aurelia Naftali Kalengkongan; Paula Jessica Claudia Sibi; Celine Vandea Anika Tumundo; Susana Febie Sombuk; Vian Stanly Immanuel Rumainum; Jap Tji Beng
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8331

Abstract

Education plays a crucial role in shaping individuals who are not only intellectually capable but also possess integrity and moral character. Although integrity has become a central focus of national education policy, empirical studies that deeply explore university students’ subjective experiences in interpreting and internalizing integrity within higher education remain limited. This study aims to explore the meaning of integrity from students’ perspectives and to identify the process through which integrity values are internalized in academic life. A qualitative approach with a phenomenological design was employed. Five active university students were purposively selected based on their academic engagement and participation in character education activities. Data were collected through in-depth interviews and non-participant observation and analyzed using a phenomenological analysis method. The findings reveal that integrity is understood as the alignment between thoughts, words, and actions grounded in moral values. The formation of integrity is influenced by educators’ role modeling, a supportive academic environment, reflective experiences in facing moral dilemmas, and self-awareness as part of students’ moral identity. These findings enrich the discourse on integrity-based education in higher education and provide practical implications for developing more contextual and sustainable character development programs. ABSTRAK Pendidikan berperan penting dalam membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berintegritas dan bermoral. Meskipun nilai integritas telah menjadi fokus kebijakan pendidikan nasional, kajian empiris yang menggali secara mendalam pengalaman subjektif mahasiswa dalam memaknai dan menginternalisasi integritas di pendidikan tinggi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna integritas dari perspektif mahasiswa serta mengidentifikasi proses internalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan akademik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Lima mahasiswa aktif dipilih secara purposive berdasarkan kriteria keterlibatan dalam kegiatan akademik dan pengalaman mengikuti pendidikan karakter. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi non-partisipatif, kemudian dianalisis menggunakan metode analisis fenomenologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas dimaknai sebagai keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan yang berlandaskan nilai moral. Proses pembentukan integritas dipengaruhi oleh keteladanan pendidik, lingkungan akademik yang suportif, pengalaman reflektif dalam menghadapi dilema moral, serta kesadaran diri sebagai bagian dari identitas moral mahasiswa. Temuan ini memperkaya kajian tentang pendidikan berintegritas di pendidikan tinggi dan memberikan implikasi praktis bagi pengembangan program pembinaan karakter yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.
RESILIENSI AKADEMIK DAN ACADEMIC SELF-EFFICACY PADA MAHASISWA CAREGIVER KELUARGA DEMENSIA Dede Kristin; Rahmah Hastuti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8332

Abstract

Students who care for family members with dementia face dual demands in the form of academic responsibilities and caregiving duties, which may increase stress and interfere with academic functioning. This study aimed to examine the relationship between academic resilience and academic self-efficacy among student caregivers of family members with dementia. This study employed a quantitative correlational design involving 158 active university students who served as family caregivers and were selected using purposive sampling. Data were collected using an academic resilience scale and an academic self-efficacy scale, and were analyzed using Spearman’s correlation test. The results showed a significant positive relationship between academic resilience and academic self-efficacy (ρ = 0.725; p < 0.001). These findings indicate that the higher the students’ academic resilience, the higher their confidence in their ability to manage academic demands while carrying out caregiving roles. This study extends the empirical understanding of the psychological dynamics of student caregivers of family members with dementia and highlights the importance of psychological support and more responsive university policies to address their needs. ABSTRAK Mahasiswa yang merawat anggota keluarga dengan demensia menghadapi tuntutan ganda berupa kewajiban akademik dan tanggung jawab caregiving, yang dapat meningkatkan stres dan mengganggu fungsi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara resiliensi akademik dan academic self-efficacy pada mahasiswa caregiver keluarga penyandang demensia. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan melibatkan 158 mahasiswa aktif yang berperan sebagai caregiver keluarga, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala resiliensi akademik dan skala academic self-efficacy, kemudian dianalisis dengan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara resiliensi akademik dan academic self-efficacy (ρ = 0,725; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi resiliensi akademik, semakin tinggi pula keyakinan mahasiswa terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tuntutan akademik di tengah peran caregiving. Studi ini memperluas pemahaman empiris mengenai dinamika psikologis mahasiswa caregiver keluarga penyandang demensia serta menegaskan pentingnya dukungan psikologis dan kebijakan kampus yang lebih responsif terhadap kebutuhan mereka.
PSIKOLOGI INDIVIDUAL – INFERIOR MENJADI SUPERIOR : UPAYA MENGURANGI POPULASI KORBAN PERUNDUNGAN PERSPEKTIF ALFRED ADLER Albertus Agung Dwi Kristiyanto; Kurniawan Dwi Madyo Utomo; Agustinus Herjuno Handhika Pradinta
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8333

Abstract

This paper discusses how individuals who are victims of bullying (inferior) can develop into superior individuals based on Alfred Adler's individual psychology theory. Adler argued that every individual is born with a sense of inferiority that drives them to become superior through the development of their potential. This study employs a qualitative method with a literature review approach, analyzing literature related to Adler’s theory. The findings show that in order to transform from inferior to superior, individuals must go through three key stages: social interest, lifestyle, and creativity. Social interest helps individuals connect with others, lifestyle shapes healthy behavioral patterns, and creativity enables individuals to overcome their weaknesses by developing their uniqueness. These three stages work together to help individuals overcome feelings of inferiority and achieve superiority. Based on the analysis, the success rate of applying this theory to bullying victims shows an effectiveness of 75%, with many individuals successfully increasing their self-confidence and reducing their feelings of inferiority. ABSTRAK Tulisan ini membahas bagaimana individu yang menjadi korban perundungan (inferior) dapat berkembang menjadi individu yang superior berdasarkan teori psikologi individual Alfred Adler. Adler berpendapat bahwa setiap individu dilahirkan dengan rasa inferior yang memicu dorongan untuk menjadi superior melalui pengembangan potensi diri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, menganalisis literatur terkait dengan teori Adler. Temuan menunjukkan bahwa untuk berubah dari inferior menjadi superior, individu harus melalui tiga tahapan penting: minat sosial, gaya hidup, dan kreativitas diri. Minat sosial membantu individu untuk menghubungkan diri dengan orang lain, gaya hidup membentuk pola perilaku yang sehat, dan kreativitas diri memungkinkan individu mengatasi kelemahan dengan mengembangkan keunikan mereka. Ketiga tahapan ini saling mendukung dalam membantu individu mengatasi perasaan inferior dan mencapai superioritas. Berdasarkan analisis, keberhasilan penerapan teori ini pada korban perundungan menunjukkan tingkat efektivitas sebesar 75%, dengan banyak individu yang berhasil meningkatkan rasa percaya diri dan mengurangi perasaan inferior mereka. 
PERAN MODERASI SELF-COMPASSION TERHADAP HUBUNGAN ANTARA SOCIAL ANXIETY DAN SOCIAL MEDIA ADDICTION PADA DEWASA AWAL PENGGUNA MEDIA SOSIAL Jason Dionnicius Young; Sandi Kartasasmita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8335

Abstract

Social media has become an integral part of life in the digital era, but its use may also lead to negative consequences, one of which is social media addiction. Social anxiety is one of the factors contributing to social media addiction, as individuals with social anxiety tend to use social media as an escape from negative experiences and social situations that create psychological distress. Self-compassion is assumed to play a role in this relationship because it is associated with an individual’s ability to accept personal shortcomings and respond to difficult experiences more adaptively. This study aimed to examine the moderating role of self-compassion in the relationship between social anxiety and social media addiction among young adult social media users. This study employed a quantitative approach using purposive sampling involving 419 young adult participants. Data were collected using the Indonesian Bergen Social Media Addiction Scale (α = .762), the Indonesian version of the Liebowitz Social Anxiety Scale–Self Report (α = .955), and the Self-Compassion Scale (α = .828), and were analyzed using moderated regression analysis. The results showed that self-compassion moderated the relationship between social anxiety and social media addiction. This finding may be explained by the presence of the negative dimensions of self-compassion, such as self-judgment, isolation, and overidentification, which may actually exacerbate social anxiety and increase the tendency toward social media addiction. ABSTRAK Media sosial telah menjadi bagian integral dalam kehidupan di era digital, tetapi penggunaannya juga dapat menimbulkan dampak negatif, salah satunya social media addiction. social anxiety merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap social media addiction, karena individu dengan kecemasan sosial cenderung menggunakan media sosial sebagai sarana pelarian dari pengalaman negatif dan situasi sosial yang menimbulkan tekanan psikologis. self-compassion diduga berperan dalam hubungan tersebut karena berkaitan dengan kemampuan individu untuk menerima kekurangan diri dan merespons pengalaman sulit secara lebih adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran moderasi self-compassion dalam hubungan antara social anxiety dan social media addiction pada dewasa awal pengguna media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling pada 419 partisipan dewasa awal. Data dikumpulkan menggunakan Indonesian Bergen Social Media Addiction Scale (α = .762), Liebowitz social anxiety scale–self report versi Bahasa Indonesia (α = .955), dan Skala Welas Diri (α = .828), kemudian dianalisis menggunakan moderated regression analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-compassion memoderasi hubungan antara social anxiety dan social media addiction. Penemuan ini dapat dijelaskan melalui adanya dimensi negatif self-compassion, seperti self-judgment, isolation, dan overidentification, yang justru dapat memperburuk kecemasan sosial dan meningkatkan kecenderungan social media addiction.
HUBUNGAN ANTARA SELF-CONFIDENCE DENGAN TINDAKAN ACADEMIC DISHONESTY PADA MAHASISWA PENGGUNA CHATGPT Tasya Viviana; Sandi Kartasasmita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8336

Abstract

This study aims to examine the relationship between self-confidence and academic dishonesty among university students who use ChatGPT. Amid the increasing use of Artificial Intelligence (AI) in academia, concerns have arisen regarding its potential misuse. Using a correlational quantitative approach, data were collected from 104 students through purposive sampling. Two standardized instruments were used to measure self-confidence and academic dishonesty. The results indicated that students had high levels of self-confidence and low tendencies toward academic dishonesty. A significant negative relationship was found between the two variables (r = -0.287, p = 0.003), particularly in the grades and studying dimensions. No gender differences were observed in self-confidence, but a significant difference was found in academic dishonesty between male and female students. This study offers important insights into the protective role of self-confidence against unethical behavior in AI usage and supports the need for implementing digital ethics policies in higher education. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara self-confidence dan academic dishonesty pada mahasiswa pengguna ChatGPT di perguruan tinggi. Di tengah meningkatnya pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam dunia akademik, muncul kekhawatiran terkait potensi penyalahgunaannya. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, data dikumpulkan dari 104 mahasiswa melalui teknik purposive sampling. Pengukuran dilakukan dengan dua skala terstandarisasi: skala self-confidence dan skala academic dishonesty. Hasil analisis menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki tingkat self-confidence yang tinggi dan kecenderungan academic dishonesty yang rendah. Terdapat hubungan negatif signifikan antara kedua variabel (r = -0.287, p = 0.003), terutama pada dimensi grades dan studying. Tidak ditemukan perbedaan self-confidence berdasarkan gender, namun terdapat perbedaan signifikan dalam academic dishonesty antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Studi ini memberikan kontribusi penting dalam memahami peran self-confidence sebagai faktor pelindung terhadap perilaku tidak etis dalam penggunaan AI, serta mendorong penerapan kebijakan etika digital dalam pendidikan tinggi.
GAMBARAN KESEPIAN PADA DEWASA AWAL PENGGUNA MEDIA SOSIAL Agnes Muliani; Rahmah Hastuti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8337

Abstract

Loneliness is a subjective emotional experience commonly encountered during early adulthood, particularly amid the increasing use of social media as a means of social interaction. This study aims to describe the level of loneliness among early adult social media users. A quantitative approach with a descriptive cross-sectional design was employed. The participants consisted of 391 early adults aged 18–23 years who actively used social media for more than three hours per day, selected through purposive sampling. Data were collected online using the UCLA Loneliness Scale version 3, which has demonstrated good validity and reliability, and were analyzed descriptively. The results showed that the majority of participants experienced moderate loneliness (76.0%), followed by high loneliness (13.9%) and low loneliness (12.1%). Furthermore, no significant differences in loneliness levels were found based on gender, age, participant status, duration of social media use, or the type of social media platform used. These findings indicate that loneliness in early adulthood is a subjective psychological experience that is relatively evenly distributed among social media users, highlighting the importance of fulfilling emotional needs and the quality of social relationships during this developmental stage. ABSTRAK Kesepian merupakan pengalaman emosional subjektif yang umum dialami individu pada fase dewasa awal, khususnya di tengah meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sarana interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat kesepian pada individu dewasa awal pengguna media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif cross-sectional. Partisipan berjumlah 391 individu dewasa awal berusia 18–23 tahun yang aktif menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring dengan menggunakan UCLA Loneliness Scale versi 3 yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas partisipan berada pada kategori kesepian sedang (76,0%), diikuti kategori kesepian tinggi (13,9%) dan kesepian rendah (12,1%). Selain itu, tidak ditemukan perbedaan tingkat kesepian yang signifikan berdasarkan jenis kelamin, usia, status partisipan, durasi penggunaan, maupun platform media sosial yang digunakan. Temuan ini menunjukkan bahwa kesepian pada dewasa awal merupakan pengalaman psikologis yang bersifat subjektif dan relatif merata di kalangan pengguna media sosial, sehingga pemenuhan kualitas hubungan sosial tetap menjadi aspek penting dalam fase perkembangan ini.
GANGGUAN BAHASA PSIKOGENIK KING ALOY PADA CANAL YOUTUBE VINDES: KAJIAN PSIKOLINGUISTIK Salsabyla Nurul Khanifah; Eko Suroso
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8338

Abstract

This study aims to identify and analyze the types of psychogenic disorders experienced by King Aloy in the YouTube video titled “Aloy Gak Mood Vincent Desta Hesti Enzy Sembah Aloy Supaya Mau Syuting” (Aloy is not in the mood, Vincent Desta Hesti Enzy begs Aloy to film). The method used was qualitative with data collection techniques of observation and note-taking, namely by observing King Aloy's conversations and body movements throughout the video. Based on the results of the analysis, five types of psychogenic tics were found, namely echolalia, echopraxia, coprolalia, autoecolalia, and automatic obedience. The symptom of echolalia was evident when King Aloy repeated words spoken by others, such as “best moment.” Echopraxia appeared when he imitated Desta's bowing gesture. Coprolalia was evident in his spontaneous exclamation of ‘goblok’ (stupid) when he was surprised. Autoecholalia was seen when he repeated his own words, such as “lah, lah” and “padel, padel.” Meanwhile, automatic obedience is seen when he raises his eyebrows or imitates the “Opa Gangnam Style” movement after being commanded or provoked verbally. The results of the study show that King Aloy's echolalia behavior often experiences psychogenic echolalia, namely autoecolalia. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis jenis-jenis gangguan psikogenik latah yang dialami oleh King Aloy dalam tayangan YouTube Vindes berjudul “Aloy Gak Mood Vincent Desta Hesti Enzy Sembah Aloy Supaya Mau Syuting”. Metode yang digunakan ialah kualitatif dengan teknik pengumpulan data simak dan catat, yaitu dengan menyimak percakapan dan gerak tubuh King Aloy selama video berlangsung. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan lima jenis gangguan psikogenik latah, yaitu Ekolalia, Ekopraksia, koprolalia, autoEkolalia, dan automatic obedience. Gejala Ekolalia tampak ketika King Aloy mengulang kata yang diucapkan orang lain, seperti “best moment”. Ekopraksia muncul saat ia menirukan gerakan Desta yang membungkuk. Koprolalia tampak dari ucapan spontan “goblok” ketika terkejut. AutoEkolalia terlihat ketika ia mengulang kata-katanya sendiri seperti “lah, lah” dan “padel, padel”. Sedangkan automatic obedience terlihat ketika ia menaikkan alis atau menirukan gerakan “Opa Gangnam Style” setelah diperintah atau dipancing secara verbal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku latah King Aloy sering mengalami gangguan psikogenik lata yaitu autoEkolalia.
PERAN BUDAYA SEKOLAH POSITIF DALAM MENCEGAH PERUNDUNGAN DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN : SCOPING REVIEW Justin Samuel Hutabarat; Stephen Stephen; Elbert Tan; Nathanael Darrel Frans; Frisia Mafaza; Jap Tji Beng
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8339

Abstract

Bullying is a serious problem in educational settings that significantly affects adolescents’ psychological, social, and academic well-being. A preventive approach based on positive school culture is considered more sustainable than reactive interventions that focus solely on case handling. This study aims to map forms of interventions and bullying prevention strategies grounded in positive school culture and to identify factors that support their effectiveness. This study employed a scoping review approach following the PRISMA-ScR guidelines and the PCC (Population, Concept, Context) framework. A literature search was conducted across several scientific databases for articles published between 2020 and 2025 in Indonesian and English. After identification, screening, and full-text review processes, 16 articles met the inclusion criteria and were analysed using a descriptive-thematic approach. The synthesis findings indicate that a positive school culture emphasizing changes in social norms toward aggressive behaviour, strengthening empathy and social responsibility values, active teacher involvement as mediators, consistent anti-bullying policies, and collaboration between schools and parents contributes to reducing bullying prevalence. School-based programs such as KiVa and the Olweus Bullying Prevention Program have proven more effective when implemented comprehensively, supported by teacher training, and accompanied by systematic school supervision. It can be concluded that establishing a positive school culture through the internalization of prosocial values, reinforcement of school policies, enhancement of teacher competence, and transformation of collective student norms represents a systemic and sustainable preventive approach to reducing bullying and fostering a safe and healthy educational environment for all students. ABSTRAK Perundungan (bullying) merupakan permasalahan serius di lingkungan pendidikan yang berdampak signifikan terhadap kesejahteraan psikologis, sosial, dan akademik remaja. Pendekatan preventif berbasis budaya sekolah positif dipandang lebih berkelanjutan dibanding intervensi reaktif yang hanya berfokus pada penanganan kasus. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan bentuk intervensi dan strategi pencegahan perundungan berbasis budaya sekolah positif serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung efektivitasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan scoping review dengan pedoman PRISMA-ScR dan kerangka PCC (Population, Concept, Context). Pencarian literatur dilakukan pada beberapa basis data ilmiah untuk artikel yang diterbitkan pada tahun 2020–2025 dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Setelah melalui tahap identifikasi, penyaringan, dan telaah teks penuh, diperoleh 16 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif-tematik. Hasil sintesis menunjukkan bahwa budaya sekolah positif yang menekankan perubahan norma sosial terhadap perilaku agresif, penguatan nilai empati dan tanggung jawab sosial, keterlibatan aktif guru sebagai mediator, kebijakan anti-perundungan yang konsisten, serta kolaborasi antara sekolah dan orang tua berkontribusi dalam menurunkan prevalensi perundungan. Program berbasis sekolah seperti KiVa dan Olweus terbukti lebih efektif ketika diimplementasikan secara menyeluruh, didukung pelatihan guru, dan disertai pengawasan lingkungan sekolah yang sistematis. Dapat disimpulkan bahwa pembentukan budaya sekolah positif melalui internalisasi nilai prososial, penguatan kebijakan sekolah, peningkatan kompetensi guru, dan perubahan norma kolektif siswa merupakan pendekatan preventif yang sistemik dan berkelanjutan dalam mencegah perundungan serta membangun iklim pendidikan yang aman dan sehat bagi seluruh peserta didik.
HUBUNGAN ANTARA DISTRAKSI DIGITAL DAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENYUSUN SKRIPSI Earline Clarissa Syamkemal; Debora Basaria
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8378

Abstract

The development of digital technology has made it easier for students to carry out academic activities, but it has also increased the potential for digital distractions that may disrupt concentration and encourage academic procrastination. This study aimed to examine the relationship between digital distraction and academic procrastination among final-year students who were writing their undergraduate thesis. This study employed a quantitative correlational approach involving 193 students from universities in the Greater Jakarta area aged 19–25 years. The sample was selected purposively, and data were collected through an online questionnaire using Google Form. The instruments used were the Smartphone Distraction Scale and the Academic Procrastination Scale. Data were analyzed using Pearson correlation and simple linear regression with the assistance of IBM SPSS Statistics. The results showed that digital distraction was positively and significantly associated with academic procrastination (r = 0.417; p < 0.01). The regression analysis also indicated that digital distraction was a significant predictor of academic procrastination (b = 0.910; p < 0.001). These findings indicate that the higher the level of digital distraction experienced by students, the higher their tendency to procrastinate in completing their thesis. This study highlights the importance of managing digital distractions to support more effective completion of final academic tasks. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital memudahkan mahasiswa dalam menjalankan aktivitas akademik, tetapi juga meningkatkan potensi distraksi yang dapat mengganggu konsentrasi dan mendorong prokrastinasi akademik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara distraksi digital dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 193 mahasiswa dari perguruan tinggi di wilayah Jabodetabek yang berusia 19–25 tahun. Sampel diambil secara purposive, dan data dikumpulkan melalui kuesioner daring menggunakan Google Form. Instrumen yang digunakan adalah Smartphone Distraction Scale dan Academic Procrastination Scale. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan regresi linear sederhana dengan bantuan IBM SPSS Statistics. Hasil analisis menunjukkan bahwa distraksi digital berhubungan positif dan signifikan dengan prokrastinasi akademik (r = 0,417; p < 0,01). Hasil regresi juga menunjukkan bahwa distraksi digital merupakan prediktor yang signifikan terhadap prokrastinasi akademik (b = 0,910; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi distraksi digital yang dialami mahasiswa, semakin tinggi kecenderungan mereka untuk menunda pengerjaan skripsi. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan distraksi digital untuk mendukung penyelesaian tugas akhir secara lebih efektif.
BODY DISSATISFACTION DAN SELF-ESTEEM: STUDI KORELASIONAL PADA PEREMPUAN EMERGING ADULTHOOD Joan Andriona; Pamela Hendra Heng; Hanna Christina Uranus
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8405

Abstract

ABSTRACT The increasing phenomenon of body dissatisfaction among women in emerging adulthood is often associated with the development of self-esteem. Body dissatisfaction is defined as a negative perception of body shape or size, accompanied by feelings of discomfort and dissatisfaction with physical appearance, whereas self-esteem refers to an individual’s overall evaluation of self-worth and self-acceptance. This study aimed to examine the relationship between body dissatisfaction and self-esteem levels among women in emerging adulthood. A quantitative correlational approach was employed, involving 338 female participants aged 18–25 years who were selected using purposive sampling. Data were collected using the Body Shape Questionnaire (BSQ-34) and the Indonesian-adapted version of the Rosenberg Self-Esteem Scale. The results indicated a significant negative relationship between body dissatisfaction and self-esteem (r = ?0.496). Additional analyses revealed significant differences in body dissatisfaction and self-esteem based on body mass index (BMI) categories, with the majority of participants falling within the moderate level for both variables. These findings highlight the importance of a healthy and positive body perception in supporting the development of adaptive self-esteem among women in emerging adulthood. Future research is recommended to include other psychological variables or moderating factors to obtain a more comprehensive understanding of the determinants of self-esteem. ABSTRAK Fenomena meningkatnya ketidakpuasan tubuh (body dissatisfaction) pada perempuan usia emerging adulthood kerap dikaitkan dengan pembentukan harga diri (self-esteem). Body dissatisfaction dipahami sebagai persepsi negatif terhadap bentuk atau ukuran tubuh yang disertai rasa tidak nyaman dan ketidakpuasan terhadap penampilan fisik, sedangkan self-esteem merujuk pada penilaian individu terhadap nilai serta penerimaan diri secara keseluruhan. Studi ini bertujuan untuk menguji hubungan antara body dissatisfaction dan tingkat self-esteem pada perempuan emerging adulthood. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan dengan melibatkan 338 partisipan perempuan berusia 18–25 tahun yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen Body Shape Questionnaire (BSQ-34) dan Rosenberg Self-Esteem Scale dalam adaptasi Bahasa Indonesia. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara body dissatisfaction dan self-esteem (r = -0.496). Analisis tambahan juga menemukan perbedaan signifikan body dissatisfaction dan self-esteem berdasarkan kategori indeks massa tubuh (BMI), dengan mayoritas partisipan berada pada kategori tingkat sedang untuk kedua variabel. Temuan ini menegaskan pentingnya persepsi tubuh yang sehat dan positif dalam mendukung pembentukan self-esteem yang adaptif pada perempuan emerging adulthood. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan variabel psikologis lain atau faktor moderator guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai determinan self-esteem.