cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
HUBUNGAN FAMILY CLIMATE dan PERILAKU AGRESIF ANAK USIA PRA-SEKOLAH MENURUT ORANG TUA Assyifa Hapsari Sya’ban Komarudin; Riana Sahrani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8270

Abstract

Aggressive behavior in preschool-aged children is one of the developmental problems that may be influenced by the quality of the family environment. Family climate refers to the interpersonal atmosphere within the family, including emotional closeness, support, and conflict among family members. This study aimed to examine the relationship between family climate and aggressive behavior in preschool-aged children as reported by parents. This quantitative correlational study involved 252 parents who had children aged 3–6 years. Data were collected using the Family Climate Scale and the Children’s Aggression Scale–Parent Version, both of which had undergone translation as well as validity and reliability testing. Spearman correlation analysis showed a significant negative relationship between family climate and children’s aggressive behavior (r_s = -.386, p < .001). These findings indicate that the more positive the family climate, the lower the level of aggressive behavior in children. Additional findings showed that both family climate and children’s aggressive behavior were in the moderate category among the respondents. ABSTRAK Perilaku agresif pada anak usia prasekolah merupakan salah satu masalah perkembangan yang dapat dipengaruhi oleh kualitas lingkungan keluarga. Family climate menggambarkan suasana interpersonal dalam keluarga yang mencakup kedekatan emosional, dukungan, dan konflik antaranggota keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara family climate dan perilaku agresif pada anak usia prasekolah menurut orang tua. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan melibatkan 252 orang tua yang memiliki anak usia 3–6 tahun. Data dikumpulkan menggunakan Family Climate Scale dan Children’s Aggression Scale–Parent Version yang telah melalui proses translasi serta uji validitas dan reliabilitas. Analisis korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara family climate dan perilaku agresif anak (r_s = -.386, p < .001). Hasil ini menunjukkan bahwa semakin positif iklim keluarga, semakin rendah tingkat perilaku agresif anak. Temuan tambahan menunjukkan bahwa family climate dan perilaku agresif anak pada responden berada pada kategori sedang.
HUBUNGAN ANTARA ATTACHMENT IBU DAN SELF-ESTEEM PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR Karelina Primavitri; Agustina Agustina; Hanna Christina Uranus
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8314

Abstract

This study aimed to examine the relationship between maternal attachment and self-esteem among final-year university students in Indonesia. Final-year students are in a phase that is vulnerable to academic pressure, thesis completion demands, and career uncertainty, all of which may affect self-evaluation. However, studies that specifically examine the relationship between maternal attachment and self-esteem among final-year students within the Indonesian cultural context remain limited. This study involved 319 final-year university students. Self-esteem was measured using the Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), while maternal attachment was assessed using the Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA). Data were analyzed using Pearson’s correlation after the assumptions of normality and linearity were met. The results showed a significant positive relationship between maternal attachment and self-esteem (r = 0.837, p < 0.001), indicating that the higher the quality of maternal attachment, the higher the students’ self-esteem. These findings contribute scientifically by extending empirical evidence on the role of the mother–child relationship in shaping self-esteem among final-year university students, particularly within the Indonesian cultural context, where mothers are often regarded as an important source of emotional support during the transition to early adulthood. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara attachment ibu dan self-esteem pada mahasiswa tingkat akhir di Indonesia. Mahasiswa tingkat akhir berada pada fase yang rentan terhadap tekanan akademik, tuntutan penyelesaian tugas akhir, serta ketidakpastian karier yang dapat memengaruhi evaluasi diri. Namun, penelitian yang secara khusus menelaah hubungan attachment ibu dan self-esteem pada mahasiswa tingkat akhir dalam konteks budaya Indonesia masih terbatas. Penelitian ini melibatkan 319 mahasiswa tingkat akhir. Self-esteem diukur menggunakan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), sedangkan attachment ibu diukur menggunakan Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA). Data dianalisis menggunakan korelasi Pearson setelah asumsi normalitas dan linearitas terpenuhi. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara attachment ibu dan self-esteem (r = 0.837, p < 0.001), yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi kualitas attachment ibu, semakin tinggi pula self-esteem mahasiswa. Temuan ini memberikan kontribusi ilmiah dengan memperluas bukti empiris mengenai peran relasi ibu–anak dalam pembentukan self-esteem pada populasi mahasiswa tingkat akhir, khususnya dalam konteks budaya Indonesia yang menempatkan ibu sebagai sumber dukungan emosional yang penting pada masa transisi menuju dewasa awal.
KEKUATAN KEPEDULIAN: DARI TINDAKAN ALTRUISTIK MENUJU PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA RELAWAN DEWASA AWAL Audrey Felicia Lie; Rahmah Hastuti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8320

Abstract

This study aimed to examine the relationship between altruism and psychological well-being (PWB) among early adult volunteers. Altruism refers to the tendency to help others voluntarily, while PWB includes six core dimensions: self-acceptance, positive relations, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal growth. A total of 138 volunteers aged 20–40 years from Community X were selected using purposive sampling. Data were collected using the Self-Report Altruism Scale and the Indonesian-adapted version of the Ryff Psychological Well-Being Scale. Spearman's rho correlation was used due to non-normal data distribution. The results showed that most participants had moderate to high levels of altruism and PWB. However, altruism was not significantly associated with overall PWB (r = 0.041; p = 0.635), except for the autonomy dimension, which showed a significant positive correlation (r = 0.192; p = 0.024). These findings suggest that altruistic behavior does not necessarily enhance general psychological well-being but does contribute to a sense of independence in decision-making. This study expands the understanding of the dynamics between volunteering and well-being within a collectivist cultural context. Future research is recommended to explore potential mediators such as empathy and prosocial motivation, as well as to broaden the scope and sectors of volunteer activities. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara altruisme dan psychological well-being (PWB) pada volunteer dewasa awal. Altruisme adalah kecenderungan membantu secara sukarela, sedangkan PWB mencakup enam aspek utama: penerimaan diri, relasi positif, autonomy, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Sebanyak 138 volunteer berusia 20–40 tahun dari Komunitas X dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui Self-Report Altruism Scale dan Ryff Psychological Well-Being Scale versi Indonesia. Analisis Spearman's rho digunakan karena data tidak berdistribusi normal. Hasil menunjukkan sebagian besar partisipan memiliki tingkat altruisme dan PWB sedang hingga tinggi. Namun, altruisme tidak berhubungan signifikan dengan PWB secara keseluruhan (r = 0,041; p = 0,635), kecuali pada dimensi autonomy yang menunjukkan hubungan positif signifikan (r = 0,192; p = 0,024). Temuan ini mengindikasikan bahwa perilaku altruistik tidak serta merta meningkatkan kesejahteraan psikologis secara umum, tetapi berkontribusi pada aspek kemandirian dalam pengambilan keputusan. Studi ini memperluas pemahaman mengenai dinamika volunteering dan kesejahteraan dalam konteks budaya kolektivis. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi peran mediator seperti empati, motivasi prososial, serta memperluas konteks dan sektor kegiatan kerelawanan.
HUBUNGAN BODY IMAGE DENGAN SELF-PRESENTATION PADA DEWASA AWAL PENGGUNA INSTAGRAM Sevilla Simon; Agustina Agustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8321

Abstract

Instagram, as a visual-based social media platform, encourages users to present themselves attractively, often influenced by their perception of body image. This study aims to examine the relationship between body image and self-presentation among young adult Instagram users. A total of 263 participants aged 18–25 were selected through purposive sampling. The instruments used were the Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire (MBSRQ) to measure body image and the Presentation of Online Self Scale (POSS) to measure self-presentation. Data analysis using Spearman's correlation revealed a significant negative relationship between body image and self-presentation (? = –0.371, p < 0.001). This indicates that individuals with a more positive body image tend to engage less in intense and inauthentic self-presentation on social media. These findings suggest that a positive body perception plays an important role in shaping a more authentic digital self. The study highlights the importance of promoting healthy body image education to support more mindful and balanced use of social media among young adults. ABSTRAK Instagram sebagai media sosial visual mendorong penggunanya untuk menampilkan diri secara menarik, sering kali dipengaruhi oleh persepsi terhadap tubuh atau body image. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body image dan self-presentation pada dewasa awal pengguna Instagram. Sebanyak 263 partisipan berusia 18–25 tahun dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire (MBSRQ) untuk mengukur body image dan Presentation of Online Self Scale (POSS) untuk mengukur self-presentation. Analisis data menggunakan korelasi Spearman menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara body image dan self-presentation (? = –0.371, p < 0.001). Artinya, semakin positif body image individu, semakin rendah kecenderungan mereka menampilkan diri secara intens dan tidak autentik di media sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi positif terhadap tubuh berperan dalam membentuk representasi diri yang lebih autentik. Implikasi penelitian ini menggarisbawahi pentingnya edukasi terkait body image sehat untuk mendorong penggunaan media sosial yang lebih sadar dan seimbang.
PENGARUH STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR YANG MENYUSUN SKRIPSI DI UNIVERSITAS SWASTA DAN NEGERI Angelina Regina Halim; Meiske Yunithree Suparman
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8322

Abstract

This study found that the type of educational institution, whether public or private university, does not significantly affect the academic stress levels of final-year students completing their thesis. Although students from public universities had higher academic stress scores (59.2) compared to those from private universities (57.3), the linear regression test showed no statistically significant difference (R² = 0.00668; p = 0.189). The study involved 260 students who completed the Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) questionnaire to measure academic stress levels. The results indicate that other factors, such as resilience and social support, play a more dominant role in influencing academic stress. These findings highlight the importance of psychological support programs and stress management in educational institutions to assist students in coping with academic challenges during the final stages of their studies. ABSTRAK Penelitian ini menemukan bahwa jenis institusi pendidikan, baik universitas negeri maupun swasta, tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat stres akademik mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi. Meskipun mahasiswa dari universitas negeri menunjukkan skor stres akademik yang lebih tinggi (59,2) dibandingkan mahasiswa dari universitas swasta (57,3), hasil uji regresi linear menunjukkan bahwa perbedaan ini tidak signifikan secara statistik (R² = 0,00668; p = 0,189). Penelitian ini melibatkan 260 mahasiswa yang mengisi kuesioner Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) untuk mengukur tingkat stres akademik. Hasil menunjukkan bahwa faktor lain, seperti resiliensi dan dukungan sosial, lebih dominan dalam mempengaruhi stres akademik. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya program dukungan psikologis dan manajemen stres di institusi pendidikan untuk membantu mahasiswa menghadapi tantangan akademik pada tahap akhir studi.
KESADARAN PENGASUHAN DIGITAL, MENINGKATKAN EFISIENSI IBU BEKERJA: PERAN WORK–LIFE BALANCE DAN DIGITAL PARENTAL SELF EFFICACY DALAM PENGGUNAAN PERANGKAT DIGITAL ANAK Alia Rizki Fauziah; Nita Sri Handayani; Annisa Julianti; Mardianti Mardianti; Natalia Konradus
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8324

Abstract

The rapid development of digital technology requires parents, especially working mothers, to possess awareness and the ability to manage technology use efficiently, while balancing professional and parenting roles. This study aims to examine the influence of work-life balance and digital parental self-efficacy on digital parental awareness, specifically in the subdimension of efficient technology use. A quantitative research approach with an online survey was conducted with 182 working mothers who have children aged 5–15 years and are actively using gadgets or the internet. The results show that work-life balance and digital parental self-efficacy have a positive and significant effect on digital parental awareness in the efficient use of technology (R² = 0.239, F = 28.151, p < 0.01). These findings reveal that 23.9% of the variance in efficient digital awareness can be explained by these two variables. A balance between work and personal life supports mothers' involvement in overseeing their children's technology use, while digital self-efficacy enhances their ability to manage technology in a safe and productive manner. This study underscores the importance of programs that enhance work-life balance and digital self-efficacy training for working mothers in the digital age. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital memerlukan orang tua, terutama ibu bekerja, untuk memiliki kesadaran dan kemampuan dalam mengelola penggunaan teknologi secara efisien, sambil menyeimbangkan peran profesional dan pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dan efikasi diri orang tua digital (digital parental self-efficacy) terhadap kesadaran orang tua digital, khususnya pada subdimensi penggunaan teknologi yang efisien (efficient use). Metode penelitian kuantitatif dengan survei daring melibatkan 182 ibu bekerja yang memiliki anak usia 5–15 tahun dan aktif menggunakan gawai atau internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan kehidupan kerja dan efikasi diri digital memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kesadaran digital orang tua dalam penggunaan teknologi yang efisien (R² = 0.239, F = 28.151, p < 0.01). Temuan ini mengungkapkan bahwa 23,9% variasi dalam kesadaran digital yang efisien dapat dijelaskan oleh kedua variabel tersebut. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi mendukung keterlibatan ibu dalam mengawasi penggunaan teknologi oleh anak, sementara efikasi diri digital meningkatkan kemampuan ibu dalam mengelola teknologi dengan cara yang aman dan produktif. Penelitian ini menegaskan pentingnya program yang dapat meningkatkan keseimbangan kehidupan kerja dan pelatihan efikasi diri digital bagi ibu bekerja di era digital.
THE RELATIONSHIP BETWEEN SPIRITUAL WELL-BEING AND RESILIENCE IN STUDENTS FROM FATHERLESS BACKGROUNDS Debby Napouling; Meiske Yunithree Suparman
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8327

Abstract

This study aims to examine the relationship between spiritual well-being and resilience among university students with a fatherless background. The study uses a quantitative correlational approach with the Spiritual Well-Being Scale (SWBS) to measure spiritual well-being and the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) to assess resilience. The sample consisted of 268 students aged 18–24 years, spanning from the 1st to the 7th semester. Data were collected using questionnaires measuring spiritual well-being, resilience, and the fatherless condition experienced by the respondents. The results show a strong positive relationship between spiritual well-being and resilience among fatherless students. Most respondents (90.3%) showed moderate levels of resilience, while 9.7% exhibited high resilience. Spiritual well-being was generally moderate among respondents. This study emphasizes the importance of strengthening spiritual well-being as a source of strength in building resilience among students from fatherless families. The findings also have implications for the development of psychological intervention programs that integrate spiritual aspects to enhance students' mental toughness. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kesejahteraan spiritual dan ketahanan diri di kalangan mahasiswa yang memiliki latar belakang tanpa ayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan Skala Kesejahteraan Spiritual (SWBS) untuk mengukur kesejahteraan spiritual dan Skala Ketahanan Connor-Davidson (CD-RISC) untuk menilai ketahanan diri. Sampel penelitian terdiri dari 268 mahasiswa berusia 18–24 tahun, yang tersebar dari semester 1 hingga semester 7. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur kesejahteraan spiritual, ketahanan diri, dan kondisi tanpa ayah yang dialami oleh responden. Hasil penelitian menunjukkan hubungan positif yang kuat antara kesejahteraan spiritual dan ketahanan diri di kalangan mahasiswa tanpa ayah. Sebagian besar responden (90,3%) menunjukkan tingkat ketahanan diri yang moderat, sementara 9,7% menunjukkan ketahanan diri yang tinggi. Kesejahteraan spiritual secara umum berada pada tingkat moderat di kalangan responden. Penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kesejahteraan spiritual sebagai sumber kekuatan dalam membangun ketahanan diri di kalangan mahasiswa dari keluarga tanpa ayah. Temuan ini juga memiliki implikasi untuk pengembangan program intervensi psikologis yang mengintegrasikan aspek spiritual untuk meningkatkan ketangguhan mental mahasiswa.
KONTRIBUSI SELF-COMPASSION TERHADAP FEAR OF MISSING OUT PADA PENGGUNA TIKTOK DI KALANGAN GENERASI Z Raisya Anaya Putri; Riana Sahrani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8328

Abstract

The phenomenon of fear of missing out (FoMO) is increasingly experienced by Generation Z in line with the rising use of social media, particularly TikTok, which has become a dominant platform with a very high level of engagement. This app, with its algorithm that continuously updates trends and content, can amplify the anxiety of users who feel left out of social activities, leading them to constantly monitor the platform. One psychological factor that can reduce the impact of FoMO is self-compassion, which refers to an individual’s ability to be kind to oneself and accept difficult experiences as part of the human condition. Individuals with higher self-compassion tend to cope better with social pressures and regulate their emotions more effectively. This study aims to examine the role of self-compassion in reducing FoMO among TikTok users in Generation Z. Through analysis of 305 participants aged 18–28 years, the study found that higher levels of self-compassion contribute to a decrease in the tendency to experience FoMO, explaining 13.2% of the variance in FoMO. The findings suggest that self-compassion can be an important factor in reducing the negative impact of FoMO, which is commonly experienced by social media users. These results highlight the importance of developing self-compassion as an adaptive strategy to cope with social pressure in the digital age. ABSTRAK Fenomena fear of missing out (FoMO) semakin banyak dialami oleh Generasi Z seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial, khususnya TikTok, yang telah menjadi aplikasi dominan dengan tingkat keterlibatan yang sangat tinggi. Aplikasi ini, dengan algoritma yang terus memperbarui tren dan konten, dapat meningkatkan rasa cemas pengguna yang merasa tertinggal dari aktivitas sosial yang terjadi, sehingga mendorong mereka untuk terus memantau platform tersebut. Salah satu faktor psikologi yang dapat mengurangi dampak FoMO adalah self-compassion, yaitu kemampuan individu untuk bersikap welas asih terhadap diri sendiri dan menerima pengalaman sulit sebagai bagian dari kehidupan manusia. Individu dengan self-compassion yang tinggi cenderung lebih mampu menghadapi tekanan sosial dan mengelola emosi dengan lebih seimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran self-compassion dalam mengurangi FoMO pada pengguna TikTok di kalangan Generasi Z. Melalui analisis terhadap 305 partisipan berusia 18–28 tahun, penelitian ini menemukan bahwa tingkat self-compassion yang lebih tinggi berkontribusi pada penurunan kecenderungan mengalami FoMO, menjelaskan 13,2% variasi FoMO. Temuan ini menunjukkan bahwa self-compassion dapat menjadi faktor penting dalam mengurangi dampak negatif FoMO, yang sering muncul di kalangan pengguna media sosial. Temuan ini menyoroti pentingnya pengembangan self-compassion sebagai strategi adaptif dalam menghadapi tekanan sosial di era digital.
INTERAKSI DENGAN AI COMPANION: STUDI KORELASIONAL ANTARA DISPOSITIONAL SHAME DAN SELF-DISCLOSURE PADA GEN Z Keysha Ananda Mareta; Agoes Dariyo
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8329

Abstract

The use of Artificial Intelligence (AI) in everyday life continues to increase, not only for information seeking but also for emotional purposes through the presence of AI companions. This phenomenon is especially relevant for individuals who experience barriers in face-to-face social interaction. This study aimed to examine the relationship between dispositional shame and self-disclosure to AI companions among Gen Z young adults. The study used a quantitative approach with purposive sampling. Participants were 182 Gen Z young adults who had experience interacting with AI companions. Data were collected using The Test of Self-Conscious Affect-4 (TOSCA-4) to measure dispositional shame and an adapted version of the Self-Disclosure Index for the AI companion context. Data were analyzed using Spearman’s rho correlation. The results showed a significant positive relationship between dispositional shame and self-disclosure to AI companions (r_s = 0.337, p < 0.001). These findings indicate that higher levels of dispositional shame are associated with greater self-disclosure to AI companions. The results also suggest that AI companions may be perceived as a safer interactional space for individuals who are vulnerable to shame and social evaluation. ABSTRAK Penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam kehidupan sehari-hari terus meningkat, tidak hanya untuk mencari informasi, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan emosional melalui kehadiran AI companion. Fenomena ini relevan bagi individu yang mengalami hambatan dalam interaksi sosial tatap muka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara dispositional shame dan self-disclosure kepada AI companion pada dewasa awal Gen Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Partisipan penelitian berjumlah 182 dewasa awal Gen Z yang memiliki pengalaman berinteraksi dengan AI companion. Data dikumpulkan menggunakan The Test of Self-Conscious Affect-4 (TOSCA-4) untuk mengukur dispositional shame dan Self-Disclosure Index yang diadaptasi ke konteks AI companion. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara dispositional shame dan self-disclosure kepada AI companion (r_s = 0.337, p < 0.001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dispositional shame, semakin tinggi pula kecenderungan individu untuk membuka diri kepada AI companion. Hasil ini mengindikasikan bahwa AI companion dapat dipersepsikan sebagai ruang interaksi yang lebih aman bagi individu yang rentan terhadap rasa malu dan penilaian sosial.
PENGARUH OUTBOUND TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA MAHASISWA Hasna Uzzakiyah; Faza Maulida; Rinda Kumala Wati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8330

Abstract

The contemporary workplace faces increasing challenges in recruiting candidates who possess not only strong academic qualifications but also adequate interpersonal competencies. One essential competency is interpersonal communication, which plays a crucial role in enhancing work effectiveness, collaboration, and professional readiness. This study aims to examine the effectiveness of an experiential learning-based outbound training program in improving interpersonal communication skills among professional psychology students. The research employed a one-group pretest–posttest quasi-experimental design without a control group, involving 35 first-semester students enrolled in a professional psychology program, selected through purposive sampling. The intervention was conducted over six hours in three structured sessions targeting openness, empathy, positive attitudes, equality, and social support. Data were analyzed using a paired sample t-test to examine differences before and after the intervention. The results indicated a significant improvement in interpersonal communication skills following the training, t(34) = -3.28, p = 0.001, with a medium effect size (Cohen’s d = 0.55). These findings demonstrate that experiential learning-based outbound training is effective in enhancing students’ interpersonal communication skills. Theoretically, this study strengthens the application of experiential learning models in soft skills development within higher education. Practically, it provides recommendations for educational institutions to integrate experience-based learning methods into student competency development programs. ABSTRAK Dunia kerja dihadapkan pada tantangan untuk memperoleh kandidat yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi interpersonal yang memadai. Salah satu kompetensi penting adalah kemampuan komunikasi interpersonal yang berperan dalam meningkatkan efektivitas kerja, kolaborasi, dan kesiapan profesional. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pelatihan outbound berbasis experiential learning dalam meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal mahasiswa profesi psikolog. Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental one-group pretest–posttest tanpa kelompok kontrol dengan melibatkan 35 mahasiswa semester pertama pendidikan profesi psikolog yang dipilih melalui purposive sampling. Intervensi dilaksanakan selama enam jam dalam tiga sesi terstruktur yang menargetkan aspek keterbukaan, empati, sikap positif, kesetaraan, dan dukungan sosial. Data dianalisis menggunakan paired sample t-test untuk menguji perbedaan skor sebelum dan sesudah intervensi. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada kemampuan komunikasi interpersonal setelah pelatihan, t(34) = -3.28, p = 0.001, dengan ukuran efek sedang (Cohen’s d = 0.55). Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan outbound berbasis experiential learning efektif dalam meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal mahasiswa. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat penerapan model experiential learning dalam pengembangan soft skills di pendidikan tinggi, serta secara praktis memberikan rekomendasi bagi institusi pendidikan untuk mengintegrasikan metode pembelajaran berbasis pengalaman dalam program pengembangan kompetensi mahasiswa.