cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
DAMPAK POLA ASUH DEMOKRATIS SINGLE PARENT TERHADAP PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL ANAK DI MAN 1 KOTA PONTIANAK Dwi Tysna Duta Prasetyo; Nur Kur’ani; Riszky Ramadhan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8117

Abstract

This research is motivated by the significance of parenting styles in shaping children's psychosocial development, particularly within single-parent families, which frequently contend with emotional, social, and economic challenges. This research focuses on identifying the influence of democratic parenting styles employed by single parents on the psychosocial development of students at MAN 1 Pontianak City. The research employed a quantitative methodology, encompassing instrument development, validity and reliability testing, data collection via questionnaires, and statistical analysis. The statistical analysis included descriptive statistics, normality testing, linearity testing, and simple linear regression. The research sample comprised 32 students raised by single parents. The research findings indicate that the data exhibit a normal distribution and demonstrate a linear relationship between democratic parenting styles and children's psychosocial development. Regression analysis yielded a R value of 0.673 and an R-squared value of 0.453. This indicates that democratic parenting contributes 45.3% to children's psychosocial development, with the remaining variance attributed to other factors. The positive regression coefficient (0.347) and a significance value of 0.000 suggest a positive and significant relationship between the two variables. Consequently, a democratic parenting style has been shown to play a significant role in fostering self-esteem, self-control, social competence, and emotional stability in children of single parents. These findings underscore that a nurturing, communicative parenting style, coupled with clearly defined boundaries, can serve as a protective factor in child development within non-traditional family structures. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pola asuh dalam membentuk perkembangan psikososial anak, terutama pada keluarga single parent yang sering menghadapi masalah emosional, sosial, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bagaimana pola asuh demokratis orang tua tunggal berdampak pada perkembangan psikososial siswa di MAN 1 Kota Pontianak. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, yang mencakup pembuatan instrumen, pengujian validitas dan reliabilitas, pengumpulan data melalui kuesioner, dan analisis statistik, yang mencakup uji normalitas, uji linieritas, uji regresi linier sederhana, dan uji deskriptif. Grup penelitian terdiri dari 32 siswa yang diasuh oleh satu orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang linier antara pola asuh demokratis dan perkembangan psikososial anak. Data juga berdistribusi normal. Ada koefisien regresi positif (0,347) dan nilai signifikansi 0,000, yang menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki pengaruh positif dan signifikan satu sama lain. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa pola asuh demokratis memberikan kontribusi sebesar 45,3% terhadap perkembangan psikososial anak, dengan nilai R = 0,673 dan R Square = 0,453. Oleh karena itu, pola asuh demokratis telah ditunjukkan untuk meningkatkan kepercayaan diri, kontrol diri, kemampuan sosial, dan stabilitas emosional anak-anak yang dibesarkan oleh satu orang tua. Menurut temuan ini, pola asuh yang ramah, komunikatif, dan memberi batasan yang jelas dapat membantu perkembangan anak dalam keluarga yang tidak lengkap.    
HUBUNGAN ANTARA SELF-COMPASSION DENGAN KECEMASAN DALAM PUBLIC SPEAKING PADA MAHASISWA S1 Selly Selly; Meiske Yunithree Suparman
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8149

Abstract

Anxiety in public speaking is often experienced by people aged 18 to 25 years. On the other hand, self-compassion is considered a form of defense to reduce anxiety. This study aims to determine the relationship between self-compassion and anxiety in public speaking in undergraduate students. The method used is a non-experimental quantitative with a correlational approach. The sampling technique used purposive sampling and finally obtained 396 student respondents aged 18–25 years. Data were collected through distributing questionnaires using Google Forms to students who have had public speaking experience within 1 year. The correlation test used is the nonparametric Spearman Rank test. The results of the analysis show a positive relationship between self-compassion and anxiety in public speaking in undergraduate students, evidenced by sig. <0.001 (sig. <0.05). The negative correlation coefficient (–0.447) indicates that higher levels of self-compassion are associated with lower scores of public speaking anxiety. On the other hand, the higher the anxiety in public speaking, the lower the self- compassion in students. The results of this study also found that students who are busy with social activities can reduce the risk of anxiety in public speaking. ABSTRAK Kecemasan dalam public speaking sering kali dialami oleh orang dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun. Di sisi lain, self-compassion dianggap sebagai bentuk pertahanan untuk meredakan kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara self-compassion dengan kecemasan dalam public speaking pada mahasiswa S1. Metode yang digunakan adalah kuantitatif non eksperimen dengan pendekatan korelasional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan akhirnya didapatkan 396 responden mahasiswa berusia 18–25 tahun. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner menggunakan Google Form kepada mahasiswa yang pernah memiliki pengalaman public speaking dalam 1 tahun. Adapun uji korelasi yang digunakan adalah uji nonparametrik Spearman Rank. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif antara self-compassion dengan kecemasan dalam public speaking pada mahasiswa S1, dibuktikan dengan nilai sig. <0,001 (sig. < 0,05). Korelasi yang bernilai negatif (-0,447) dapat diartikan semakin tinggi self-compassion, maka hal tersebut akan menurunkan skor kecemasan dalam public speaking. Sebaliknya semakin tinggi kecemasan dalam public speaking maka semakin rendah self-compassion pada mahasiswa. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki kesibukan/ kegiatan sosial lebih dapat menurunkan risiko kecemasan dalam public speaking.
TRADISI CHENG BENG DAN IMPLIKASINYA DALAM PERSPEKTIF PSIKIATRI BUDAYA Mikael Aditya; Cokorda Bagus Jaya Lesmana; Ni Ketut Putri Ariani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8212

Abstract

ABSTRACT Cheng Beng tradition is an ancestral ritual performed by the Chinese community, aiming to maintain a spiritual connection with ancestors and preserve cultural values and Chinese ethnic identity. The background of this tradition is rooted in the importance of honoring ancestors in Chinese culture, which is carried out through rituals such as prayers, grave cleaning, and offering sacrifices. This study aims to analyze the psychological and social significance of the Cheng Beng tradition and its implications from a cultural psychiatry perspective. The research method employed is a literature review, examining various sources related to the Cheng Beng tradition, symbolism theory, and psychological motivation in cultural practices. The research stages involve collecting data from journals, books, and related articles, which are analyzed to understand the psychological, social, and spiritual aspects embedded in this tradition. The findings suggest that the Cheng Beng tradition strengthens cultural identity, enhances family solidarity, and fulfills spiritual and emotional needs. The Cheng Beng tradition is not merely a cultural ritual but also a practice with profound meaning in the lives of the Chinese community, serving as a form of ancestor veneration as well as a mechanism for maintaining mental health and strengthening family relationships. From the perspective of cultural psychiatry, this tradition functions as a symbolic space that helps individuals and families maintain psychological balance and ensure the continuity of cultural values across generations. ABSTRAK Tradisi Cheng Beng adalah ritual penghormatan leluhur yang telah lama dilaksanakan oleh masyarakat Tionghoa, yang bertujuan untuk menjaga hubungan spiritual dengan leluhur serta melestarikan nilai-nilai budaya dan menjadi identitas etnis Tionghoa. Latar belakang dari tradisi ini terkait dengan pentingnya menghormati leluhur dalam budaya Tionghoa, yang dilakukan melalui ritual sembahyang, pembersihan makam, dan pemberian persembahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna psikologis dan sosial dari tradisi Cheng Beng, serta implikasinya dalam perspektif psikiatri budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review yang mengkaji berbagai sumber mengenai tradisi Cheng Beng, teori simbolisme, dan motivasi psikologis dalam praktik budaya. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data dari jurnal, buku, dan artikel terkait, yang dianalisis untuk memahami aspek psikologis, sosial, dan spiritual yang terkandung dalam tradisi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Cheng Beng berfungsi untuk memperkuat identitas budaya, meningkatkan solidaritas keluarga, dan memenuhi kebutuhan spiritual serta emosional. Tradisi Cheng Beng tidak hanya sekadar ritual budaya, tetapi juga merupakan praktik yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Tionghoa sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus mekanisme pemeliharaan kesehatan mental dan penguatan relasi keluarga. Dalam perspektif psikiatri budaya, tradisi ini berperan sebagai ruang simbolik yang membantu individu dan keluarga menjaga keseimbangan psikologis serta kesinambungan nilai-nilai budaya lintas generasi.
ASPEK PSIKIATRI DALAM UPACARA MEGEDONG-GEDONGAN G. A. Ade Cahayani Saraswati; Cokorda Bagus Jaya Lesmana; Ni Ketut Putri Ariani; Luh Nyoman Alit Aryani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8213

Abstract

ABSTRACT Pregnancy is a period of biological, psychological, and social transition that increases women’s vulnerability to mental health disorders, particularly perinatal anxiety and depression. Although various biomedical approaches have been developed, they have not fully addressed the psychosocial and cultural aspects influencing maternal well-being. In Balinese culture, the Megedong-gedongan (Garbha Wedana) ceremony is a pregnancy ritual rich in spiritual and social meaning and involves family and community participation. The purpose of this article is to examine the role of the Megedong-gedongan ceremony on maternal mental health from a cultural psychiatry perspective. The method used is a literature study with a descriptive qualitative approach through a search of scientific journal articles, reference books, and policy documents related to perinatal mental health and cultural practices of pregnancy published between 2016 and 2025. The research stages include identification and selection of literature, critical review of content, grouping themes, and synthesis and interpretation of results within a cultural psychiatry framework. The results indicate that the Megedong-gedongan ceremony acts as a form of social support that includes emotional, informational, and practical support, which has the potential to reduce stress and anxiety levels in pregnant women and increase psychological readiness for childbirth. This study affirms that Megedong-gedongan constitutes a relevant socio-cultural capital for promoting the mental health of pregnant women and has the potential to be integrated into culturally sensitive maternal healthcare approaches. ABSTRAK Kehamilan merupakan masa transisi biologis, psikologis, dan sosial yang meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, khususnya kecemasan dan depresi perinatal. Meskipun pendekatan biomedis telah dikembangkan, aspek psikososial dan budaya belum sepenuhnya terakomodasi. Dalam budaya Bali, upacara Megedong-gedongan (Garbha Wedana) merupakan ritual kehamilan bermakna spiritual dan sosial yang melibatkan keluarga serta komunitas. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengkaji peran upacara Megedong-gedongan terhadap kesehatan mental ibu hamil dari perspektif psikiatri budaya. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui penelusuran artikel jurnal ilmiah, buku rujukan, dan dokumen kebijakan terkait kesehatan mental perinatal dan praktik budaya kehamilan yang terbit dalam rentang tahun 2016–2025. Tahapan penelitian meliputi identifikasi dan seleksi literatur, telaah kritis isi, pengelompokan tema, serta sintesis dan pemaknaan hasil dalam kerangka psikiatri budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa upacara Megedong-gedongan berperan sebagai bentuk dukungan sosial yang mencakup dukungan emosional, informasional, dan praktis, yang berpotensi menurunkan tingkat stres dan kecemasan ibu hamil serta meningkatkan kesiapan psikologis menghadapi persalinan. Penelitian ini menegaskan bahwa Megedong-gedongan merupakan modal sosial-budaya yang relevan untuk promosi kesehatan mental ibu hamil dan berpotensi diintegrasikan dalam pendekatan layanan kesehatan maternal yang sensitif budaya.
GANGGGUAN DEPRESIF ORGANIK PADA WANITA DENGAN KEGANASAN GINEKOLOGI STADIUM LANJUT: SEBUAH SERIAL KASUS Rebecca Mutia Agustina Silaen; I Made Darmayasa; Ni Ketut Putri Ariani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8214

Abstract

ABSTRACT Cervical and ovarian cancers often give rise to significant psychological impacts, including depressive disorders. In certain conditions, depression emerges as a direct consequence of biological changes resulting from the underlying physical illness. This case series report describes two female patients diagnosed with advanced-stage gynecological malignancies who met the criteria for organic depressive disorder, aiming to illustrate the clinical manifestations, diagnostic process, and management of organic depressive disorder in women with advanced gynecological malignancies. The study utilized data obtained through medical record review, clinical and ancillary examinations, as well as interviews with the patients and their families, which were subsequently analyzed descriptively and narratively. The research stages included case identification, assessment of depression severity using the Hamilton Depression Rating Scale, establishment of the diagnosis, and implementation of pharmacological and non-pharmacological palliative interventions. Both cases fulfilled the criteria for organic depressive disorder and were managed using a comprehensive palliative approach. It is concluded that organic depressive disorder  represents  an  important  complication  of advanced gynecological malignancies and requires holistic management to improve patients’ quality of life. ABSTRAK Kanker serviks dan ovarium sering menimbulkan dampak psikologis yang bermakna, termasuk gangguan depresif. Pada kondisi tertentu, depresi muncul sebagai akibat langsung dari perubahan biologis akibat penyakit fisik yang mendasari. Laporan kasus serial ini menjelaskan dua pasien wanita yang didiagnosis keganasan ginekologi stadium lanjut dan memenuhi kriteria gangguan depresif organik, yang bertujuan untuk menggambarkan manifestasi klinis, proses diagnosis, dan penatalaksanaan gangguan depresif organik pada wanita dengan keganasan ginekologi stadium lanjut, menggunakan data yang diperoleh melalui telaah rekam medis, pemeriksaan klinis dan penunjang, serta wawancara dengan pasien dan keluarga, kemudian dianalisis secara deskriptif dan naratif. Tahapan penelitian meliputi identifikasi kasus, penilaian derajat depresi menggunakan Hamilton Depression Rating Scale, penetapan diagnosis, serta pemberian intervensi paliatif farmakologis dan nonfarmakologis. Kedua kasus memenuhi kriteria gangguan depresif organik dan ditangani dengan pendekatan paliatif komprehensif. Disimpulkan bahwa gangguan depresif organik merupakan komplikasi penting pada keganasan ginekologi stadium lanjut yang memerlukan penatalaksanaan holistik untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
PENTINGNYA PEMAHAMAN ORANG TUA TERHADAP KESEHATAN MENTAL ANAK DI TENGAH KONFLIK KELUARGA Ghaniyya Putri Salsabila; Yani Achdiani; Gina Indah Permata Nastia
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8215

Abstract

ABSTRACT This study examines the crucial role of parental understanding in maintaining children’s mental health amid increasing family conflicts caused by economic pressure, social factors, and cultural changes in Indonesia. The study aims to analyze the impact of family conflict on children’s mental health, including anxiety, depression, and other emotional disorders, as well as to explore the application of democratic parenting as a preventive strategy. A qualitative descriptive approach was employed through a literature review of 20 scientific articles published between 2020 and 2025, using thematic analysis to identify the main themes. The findings indicate that family conflict, such as divorce or unhealthy parenting practices, exacerbates children’s psychological conditions. Conversely, warm and balanced democratic parenting enhances parental awareness of children’s emotional needs. Legal and religious support further strengthens the effectiveness of such interventions. This study concludes that enhancing parental understanding through education and effective communication is a strategic step to prevent the long-term negative effects of family conflict on children’s psychological well-being. ABSTRAK Penelitian ini membahas peran penting pemahaman orang tua dalam menjaga kesehatan mental anak di tengah meningkatnya konflik keluarga yang disebabkan oleh tekanan ekonomi, faktor sosial, dan perubahan nilai budaya di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak konflik keluarga terhadap kesehatan mental anak yang meliputi kecemasan, depresi, dan gangguan emosional lainnya, serta menelaah penerapan pola asuh demokratis sebagai strategi pencegahan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui tinjauan literatur terhadap 20 artikel ilmiah yang diterbitkan pada periode 2020-2025, dengan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola utama. Hasil kajian menunjukkan bahwa konflik keluarga, seperti perceraian atau pola asuh yang tidak sehat, memperburuk kondisi psikologis anak. Sebaliknya, pola asuh demokratis yang hangat dan seimbang terbukti meningkatkan kesadaran orang tua terhadap kebutuhan emosional anak. Dukungan dari aspek hukum dan keagamaan juga memperkuat efektivitas intevensi tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan pemahaman orang tua melalui pendidikan dan komunikasi yang efektif merupakan langkah strategis untuk mencegah dampak jangka panjang konflik keluarga terhadap kesejahteraan psikologis anak.
PERAN MINDFULNESS TERHADAP STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR UNIVERSITAS X JAKARTA Amanda Diva Vebiyan; Niken Widi Astuti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8216

Abstract

ABSTRACT Final-year university students often face high levels of academic pressure due to thesis completion demands, complex coursework, and the transition toward entering the workforce. These pressures can trigger academic stress, which negatively impacts psychological well-being and learning performance. This study aims to analyze the role of mindfulness in reducing academic stress among final-year students at University X Jakarta and to identify gender differences in mindfulness and academic stress. Using a quantitative approach with a simple linear regression design, the study involved 410 final-year students aged 20–25. Data were collected online using the Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) and the Perceived Academic Stress Scale (PAS). The analysis included regression assumption tests, simple linear regression, and Independent Samples t-test. The findings indicate that mindfulness has a significant and negative effect on academic stress, with a coefficient of determination (R²) of 0.123, meaning that mindfulness contributes 12.3% to the reduction of academic stress. Additionally, gender differences were observed: male students demonstrated higher mindfulness levels and lower academic stress compared to female students. This study concludes that mindfulness serves as a protective factor in reducing academic stress, although most of the stress variance is influenced by factors beyond mindfulness. These findings highlight the importance of implementing mindfulness-enhancement programs in higher education as a strategy to support the mental well-being of final-year students. ABSTRAK Mahasiswa tingkat akhir sering menghadapi tekanan akademik yang tinggi akibat tuntutan penyelesaian skripsi, beban tugas kompleks, serta persiapan transisi menuju dunia kerja. Tekanan ini berpotensi memicu stres akademik yang berdampak pada kesejahteraan psikologis dan performa belajar. Penelitian ini menganalisis peran mindfulness dalam menurunkan tingkat stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas X Jakarta, serta mengidentifikasi perbedaan tingkat mindfulness dan stres akademik berdasarkan jenis kelamin. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain regresi linear sederhana yang melibatkan 410 mahasiswa tingkat akhir berusia 20–25 tahun. Data dikumpulkan secara daring menggunakan instrumen Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) dan Perceived Academic Stress Scale (PAS), kemudian dianalisis melalui uji asumsi regresi, regresi linear sederhana, dan Independent Samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mindfulness berpengaruh signifikan dan negatif terhadap stres akademik dengan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,123, yang berarti mindfulness berkontribusi 12,3% dalam menurunkan stres akademik. Selain itu, ditemukan perbedaan berdasarkan jenis kelamin, di mana mahasiswa laki-laki memiliki tingkat mindfulness lebih tinggi dan stres akademik lebih rendah dibandingkan mahasiswa perempuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mindfulness berperan sebagai faktor protektif dalam mengurangi stres akademik, namun sebagian besar varians stres dipengaruhi oleh faktor lain di luar mindfulness. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan program peningkatan mindfulness di perguruan tinggi sebagai strategi mendukung kesehatan mental mahasiswa tingkat akhir.
HUBUNGAN MAKNA HIDUP DAN QUARTER LIFE CRISIS PADA GENERASI Z YATIM/PIATU Jolanda Chatarina Wibawa; Riana Sahrani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8227

Abstract

Quarter life crisis is one of the developmental challenges commonly experienced by Generation Z, particularly among individuals who face psychological vulnerability due to parental loss. However, studies examining psychological factors associated with quarter life crisis among Generation Z individuals who have lost one or both parents remain limited. This study aimed to examine the relationship between meaning in life and quarter life crisis among Generation Z individuals who had lost one or both parents. This study employed a quantitative approach with a correlational design. The participants were 392 Generation Z individuals who had lost one or both parents, recruited using purposive sampling. Data were collected using the Meaning in Life Questionnaire (MLQ) and the Quarter Life Crisis Scale (QLCS). The data were analyzed using Spearman’s rho correlation. The results showed a significant negative relationship between meaning in life and quarter life crisis (rs = -0.546, p < .001). These findings indicate that higher meaning in life was associated with lower quarter life crisis among bereaved Generation Z individuals. The findings suggest that meaning in life is related to more adaptive psychological functioning in this group. This study may serve as a basis for developing psychological interventions focused on strengthening meaning in life among vulnerable populations. ABSTRAK Quarter life crisis merupakan salah satu tantangan perkembangan yang sering dialami Generasi Z, terutama pada individu yang menghadapi kerentanan psikologis akibat kehilangan orang tua. Namun, penelitian mengenai faktor psikologis yang berkaitan dengan quarter life crisis pada Generasi Z yatim/piatu masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara makna hidup dan quarter life crisis pada Generasi Z yatim/piatu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 392 individu Generasi Z yang kehilangan satu atau kedua orang tua, yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Meaning in Life Questionnaire (MLQ) dan Quarter Life Crisis Scale (QLCS). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara makna hidup dan quarter life crisis (rs = -0.546, p < 0.001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi makna hidup, semakin rendah quarter life crisis pada Generasi Z yatim/piatu. Hasil ini mengindikasikan bahwa makna hidup berkaitan dengan kondisi psikologis yang lebih adaptif pada kelompok tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan intervensi psikologis yang berfokus pada penguatan makna hidup pada kelompok rentan.
FORGIVENESS ORANGTUA DALAM MENYIKAPI PERISTIWA KEHAMILAN REMAJA DI LUAR NIKAH DI NUSA TENGGARA TIMUR Monika Indriyanti Putri Claudia; Diana Aipipidely; Mardian Artati; R Pasifikus Ch; Wijaya Wijaya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8254

Abstract

This study aims to understand the process of parental forgiveness toward teenage daughters who experience out-of-wedlock pregnancy in East Nusa Tenggara (NTT), Indonesia. This region is known for its patriarchal culture that highly values family honor, making teenage pregnancy a heavily stigmatized social issue. While many studies have examined the impact of teenage pregnancy, few have explored how parents, particularly in the local cultural context, process their emotions and forgive their children. Using a qualitative approach with Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), this study involved five parents who were interviewed to explore their experiences. The findings reveal five key stages in the forgiveness process: (1) early detection of pregnancy through parental intuition, (2) initial emotional reactions such as anger and disappointment, (3) transition toward unconditional love and protective actions, (4) social and spiritual support that strengthens acceptance, and (5) varying attitudes toward the male counterpart involved. This study fills a gap in the literature regarding the emotional dynamics of parents facing teenage pregnancy in Eastern Indonesia and provides insights for culturally sensitive counseling practices in handling similar cases. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses pemaafan orangtua terhadap anak remaja yang hamil di luar nikah di Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Daerah ini dikenal dengan budaya patriarkal yang sangat menjunjung tinggi kehormatan keluarga, sehingga kehamilan remaja menjadi masalah sosial yang sangat distigmatisasi. Meskipun banyak penelitian yang meneliti dampak kehamilan remaja, belum banyak yang membahas bagaimana orangtua, khususnya dalam konteks budaya lokal, memproses perasaan mereka dan memberi maaf kepada anak mereka. Dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode Analisis Fenomenologi Interpretatif (IPA), penelitian ini melibatkan lima orangtua yang diwawancarai untuk menggali pengalaman mereka. Hasil penelitian menunjukkan lima tahap penting dalam proses pemaafan: (1) deteksi awal kehamilan melalui intuisi orangtua, (2) reaksi emosional awal seperti marah dan kecewa, (3) transisi menuju kasih sayang tanpa syarat dan tindakan perlindungan, (4) dukungan sosial dan spiritual yang memperkuat penerimaan, dan (5) sikap yang bervariasi terhadap pihak laki-laki yang terlibat. Penelitian ini mengisi kekosongan literatur mengenai dinamika emosional orangtua dalam menghadapi kehamilan remaja di Indonesia Timur, serta memberikan wawasan bagi praktik konseling yang lebih sensitif terhadap budaya dalam menangani kasus serupa.  
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN ACADEMIC BURNOUT PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR YANG MERANTAU Hanindita Andraini; Niken Widi Astuti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8266

Abstract

ABSTRACT The heavy academic workload in the final semester, particularly during thesis completion, has the potential to trigger academic burnout among university students. This condition becomes more challenging for final-year students who study away from home and must cope with academic pressure without direct family presence. Family social support is considered a protective factor that can help students manage stress and academic demands during the completion of their studies. This study aims to examine the relationship between family social support and academic burnout among final-year students studying away from home. The study employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 353 final-year students studying away from their hometowns, selected based on research criteria. Data were collected using family social support and academic burnout scales and analyzed using Spearman correlation. The results revealed a significant negative relationship between family social support and academic burnout with a correlation coefficient of r = -0.464. These findings indicate that higher levels of family social support are associated with lower levels of academic burnout, and vice versa. Therefore, family social support plays an important role in reducing academic burnout among final-year students studying away from home. This study highlights the importance of family involvement and communication as sources of psychological support for students in facing academic demands during their final semester. ABSTRAK Beban akademik yang tinggi pada tingkat akhir, khususnya dalam penyusunan tugas akhir, berpotensi memicu academic burnout pada mahasiswa. Kondisi ini semakin menantang bagi mahasiswa tingkat akhir yang merantau dan harus menghadapi tekanan akademik tanpa kehadiran langsung keluarga. Dukungan sosial keluarga dipandang sebagai salah satu faktor protektif yang dapat membantu mahasiswa mengelola stres dan tekanan selama masa studi akhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan academic burnout pada mahasiswa tingkat akhir yang merantau. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 353 mahasiswa tingkat akhir yang merantau, yang dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel yang sesuai dengan kriteria penelitian. Data dikumpulkan melalui instrumen skala dukungan sosial keluarga dan skala academic burnout, kemudian dianalisis menggunakan teknik korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dan academic burnout dengan koefisien korelasi sebesar r = -0,464. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial keluarga yang diterima mahasiswa, semakin rendah tingkat academic burnout yang dirasakan, dan sebaliknya. Dengan demikian, dukungan sosial keluarga memiliki peran penting dalam menekan tingkat academic burnout pada mahasiswa tingkat akhir yang merantau. Penelitian ini menegaskan pentingnya keterlibatan dan komunikasi keluarga sebagai sumber dukungan psikologis bagi mahasiswa dalam menghadapi tuntutan akademik pada tingkat akhir.