cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
STUDI KUALITATIF : STRATEGI KOMUNIKASI PASANGAN MENIKAH DALAM MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN JARAK JAUH Anjelly Catrina Setiawan; Meiske Yunithree Suparman
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8972

Abstract

The increasing prevalence of long-distance marriages (LDMs) due to the demands of professional mobility and technological advancements requires couples to develop complex communication strategies to maintain healthy relationships. This study focuses on analyzing the communication strategies employed by married couples in LDMs and their implications for relationship quality in the digital era. Using a qualitative phenomenological approach, data were extracted through in-depth interviews with four LDM couples to understand the dynamics of their interactions. The study findings revealed that each couple adopted adaptive communication strategies according to their emotional needs, with assurance, openness, and conflict management as dominant pillars. Digital media has proven to play a significant role as an emotional bridge, but its effectiveness depends heavily on the couple's ability to minimize misunderstandings due to the absence of non-verbal cues. It is concluded that the success of LDMs is not solely determined by technological sophistication, but rather by the couple's maturity in building trust, commitment, and a solid support system. Integration between wise use of technology and quality interpersonal interactions is key to maintaining the stability and harmony of long-distance marriages. ABSTRAK Fenomena pernikahan jarak jauh (Long Distance Marriage/LDM) yang semakin marak akibat tuntutan mobilitas profesional dan perkembangan teknologi mengharuskan pasangan mengembangkan strategi komunikasi yang kompleks demi mempertahankan hubungan yang sehat. Penelitian ini berfokus pada analisis strategi komunikasi yang diterapkan pasangan suami istri dalam menjalani LDM serta implikasinya terhadap kualitas hubungan di era digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, data digali melalui wawancara mendalam terhadap empat pasangan LDM untuk memahami dinamika interaksi mereka. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa setiap pasangan mengadopsi strategi komunikasi yang adaptif sesuai kebutuhan emosional, di mana dimensi assurance (pemberian jaminan), keterbukaan, dan manajemen konflik menjadi pilar dominan. Media digital terbukti berperan signifikan sebagai jembatan emosional, namun efektivitasnya sangat bergantung pada kemampuan pasangan meminimalisir kesalahpahaman akibat absennya isyarat non-verbal. Disimpulkan bahwa keberhasilan LDM tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kematangan pasangan dalam membangun kepercayaan, komitmen, serta sistem dukungan yang solid. Integrasi antara pemanfaatan teknologi yang bijak dan kualitas interaksi interpersonal menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas dan keharmonisan rumah tangga jarak jauh.  
SKRINING KESEHATAN MENTAL PADA IBU RUMAH TANGGA DI DESA ROBOABA, KECAMATAN SABU BARAT, KABUPATEN SABU RAIJUA Sakila Novirdia Ramadhani; Dian L. Anakaka; Shela C. Pello; Abdi Keraf
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8973

Abstract

Mental health is an essential factor influencing an individual's quality of life, including that of housewives who carry dual roles within the family and the community. Workload, economic pressure, and limited social support can increase the risk of mental health problems in this population. This study aims to describe the mental health condition of housewives in Roboaba Village, West Sabu District, Sabu Raijua Regency, with a specific focus on Daigama Hamlet. This research employed a quantitative descriptive design involving 87 housewives as respondents. The instrument used was the Self-Reporting Questionnaire (SRQ-29), developed by the World Health Organization (WHO), widely applied as a screening tool for mental health disorders. Data were analyzed using univariate methods and presented in frequency distributions and percentages. The results revealed that 58 respondents (66.7%) were indicated to have mental health problems, while 29 respondents (33.3%) showed no signs of such disorders. Based on the SRQ-29 dimensions, the most frequently reported symptoms were somatic symptoms (79.3%), followed by anxiety symptoms (64.4%), cognitive symptoms (62.1%), decreased energy (55.2%), trauma symptoms (54.0%), risk behaviors (54.0%), and depressive symptoms (48.3%). These findings indicate that housewives in Roboaba Village are highly vulnerable to mental health problems. Therefore, preventive and curative efforts are necessary, including increasing awareness of mental health, providing counseling services, and strengthening social support from families and the community. ABSTRAK Kesehatan mental merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi kualitas hidup individu, termasuk ibu rumah tangga yang memiliki peran ganda dalam keluarga dan masyarakat. Beban peran, tekanan ekonomi, serta kurangnya dukungan sosial dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan mental pada ibu rumah tangga di Desa Roboaba, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, dengan fokus lokasi di Dusun Daigama. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 87 ibu rumah tangga. Instrumen yang digunakan adalah Self-Reporting Questionnaire (SRQ-29) yang dikembangkan oleh WHO dan telah digunakan secara luas untuk skrining gangguan kesehatan mental. Analisis data dilakukan secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden terindikasi memiliki masalah kesehatan mental, yaitu sebanyak 58 orang (66,7%), sedangkan 29 orang (33,3%) tidak menunjukkan indikasi gangguan kesehatan mental . Berdasarkan aspek SRQ-29, gejala yang paling banyak ditemukan adalah gejala somatik sebanyak 69 orang (79,3%), diikuti oleh gejala kecemasan 56 orang (64,4%), gejala kognitif 54 orang (62,1%), gejala penurunan energi 48 orang (55,2%), gejala trauma 47 orang (54,0%), perilaku berisiko 47 orang (54,0%), dan gejala depresi 42 orang (48,3%) . Ini menunjukkan bahwa ibu rumah tangga di Desa Roboaba berada pada kondisi yang rentan terhadap gangguan kesehatan mental. Oleh karena itu, diperlukan perhatian dan intervensi melalui peningkatan kesadaran tentang kesehatan mental, penyediaan layanan konseling, serta dukungan sosial dari keluarga dan masyarakat.      
HUBUNGAN SELF-COMPASSION DAN KECEMASAN PEREMPUAN KORBAN INTIMATE PARTNER VIOLENCE (IPV) Dea Putery Aisyah; Naomi Soetikno
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.9101

Abstract

Intimate Partner Violence (IPV) is a form of violence within intimate relationships that is widely experienced by women and has significant impacts on mental health, particularly anxiety. Experiences of violence that are repetitive, characterized by relational power imbalance, and traumatic in nature can intensify persistent feelings of fear, worry, and insecurity among victims. One psychological factor considered to function as an internal resource in coping with these adverse effects is self-compassion. This study aimed to examine the relationship between self-compassion and anxiety among women survivors of Intimate Partner Violence (IPV).The study employed a non-experimental quantitative approach with a correlational design. Participants consisted of 344 adult women who had experienced Intimate Partner Violence (IPV), recruited using purposive sampling techniques. The research instruments included the Self-Compassion Scale (SCS) to measure levels of self-compassion and the Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7) to assess anxiety levels; both instruments met established criteria for validity and reliability. Data analysis was conducted using Spearman’s correlation test due to non-normal data distribution.The results revealed a significant negative relationship between self-compassion and anxiety (r = ?0.283; p < 0.001), indicating that higher levels of self-compassion are associated with lower levels of anxiety among women survivors of Intimate Partner Violence (IPV). These findings suggest that self-compassion serves as a psychological protective factor in the context of relational trauma and has important implications for the development of compassion-based psychological interventions to help women survivors of Intimate Partner Violence (IPV) manage anxiety. ABSTRAK Intimate Partner Violence (IPV) merupakan bentuk kekerasan dalam hubungan intim yang banyak dialami perempuan dan berdampak signifikan terhadap kesehatan mental, khususnya kecemasan. Pengalaman kekerasan yang bersifat berulang, tidak seimbang secara relasional, dan traumatis dapat meningkatkan rasa takut, khawatir, serta ketidakamanan yang menetap pada korban. Salah satu faktor psikologis yang dipandang berperan sebagai sumber daya internal dalam menghadapi dampak tersebut adalah self-compassion. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dan kecemasan pada perempuan korban Intimate Partner Violence (IPV). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 344 perempuan dewasa yang pernah mengalami Intimate Partner Violence (IPV) dan direkrut menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Self-Compassion Scale (SCS) untuk mengukur tingkat self-compassion dan Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-7) untuk mengukur tingkat kecemasan, yang telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman karena data tidak berdistribusi normal. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif dan signifikan antara self-compassion dan kecemasan (r = ?0,283; p < 0,001), yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat self-compassion, semakin rendah tingkat kecemasan pada perempuan korban Intimate Partner Violence (IPV). Temuan ini menunjukkan bahwa self-compassion berperan sebagai faktor protektif psikologis dalam konteks trauma relasional dan memiliki implikasi penting bagi pengembangan intervensi psikologis berbasis compassion untuk membantu perempuan korban Intimate Partner Violence (IPV) dalam mengelola kecemasan.
DISONEKSI DIGITAL SEBAGAI STRATEGI REGULASI DIRI TERHADAP KEBUTUHAN UMPAN BALIK PADA MAHASISWA PENGGUNA MEDIA SOSIAL Carine Ompusunggu
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9148

Abstract

ABSTRACT The increasing intensity of social media use among university students has amplified the need for digital feedback, which often leads to psychological pressure, digital fatigue, and a tendency to withdraw temporarily from online environments. This self-regulatory response is reflected in digital disconnection behaviors, which function as a strategy to maintain psychological balance amid constant digital engagement. This study aims to examine the relationship between the need for social media feedback and digital disconnection behaviors among university students. This research employed a quantitative correlational design. A total of 255 university students participated as respondents through purposive sampling. Data were collected using online questionnaires measuring the need for social media feedback and digital disconnection behaviors. Data analysis was conducted using Spearman’s correlation test alongside a linearity assessment to identify the directional pattern between the variables. The results indicate a significant positive relationship (r = 0,305; p < 0,01) between the need for social media feedback and digital disconnection. Higher levels of digital feedback seeking were associated with a stronger tendency to engage in disconnection as a means of reducing psychological distress and restoring self-control. The relationship between the variables demonstrated a stable and linear pattern. In conclusion, the need for social media feedback plays a substantial role in shaping digital disconnection tendencies among university students. These findings highlight the importance of digital literacy, self-regulation skills, and healthier social media usage strategies in supporting student well-being within increasingly connected digital environments. ABSTRAK Penggunaan media sosial yang intensif pada mahasiswa sering kali memunculkan kebutuhan tinggi akan umpan balik digital, yang dapat menimbulkan tekanan psikologis dan kelelahan digital sehingga mendorong individu untuk mengambil jarak dari aktivitas daring. Salah satu strategi yang muncul adalah perilaku disoneksi digital sebagai bentuk regulasi diri terhadap potensi dampak negatif penggunaan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebutuhan umpan balik media sosial dengan perilaku disoneksi digital pada mahasiswa pengguna media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 255 mahasiswa pengguna media sosial berpartisipasi sebagai responden melalui metode purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner daring yang terdiri dari skala kebutuhan umpan balik media sosial dan skala perilaku disoneksi digital. Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman serta uji linearitas untuk melihat pola keterkaitan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif (r = 0,305; p < 0,01) yang signifikan antara kebutuhan umpan balik media sosial dan perilaku disoneksi digital. Maka, semakin tinggi kebutuhan individu untuk memperoleh validasi dan respons digital, semakin besar kecenderungan mereka untuk melakukan disoneksi sebagai upaya mengurangi tekanan dan memulihkan kendali diri. Pola hubungan yang ditemukan bersifat linear dan stabil. Kesimpulannya, kebutuhan umpan balik media sosial berperan dalam membentuk kecenderungan mahasiswa untuk melakukan digital disoneksi. Implikasi penelitian menekankan pentingnya literasi digital, kemampuan regulasi diri, serta strategi penggunaan media sosial yang lebih sehat bagi mahasiswa di era konektivitas digital yang semakin intensif.
NEOFOBIA MAKANAN DAN PERILAKU MAKAN SISWA SEKOLAH DASAR DALAM PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS DI SDIT INSAN KAMIL KARANGANYAR Muhammad Arifudin; Mahasri Shobahiya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.9153

Abstract

ABSTRACT Food neophobia is a behavioral tendency that influences children’s acceptance of foods, particularly in the context of school-based meal programs. In the Free Nutritious Meal Program, this condition may reduce the effectiveness of nutritional provision if it is not properly managed. This study aims to examine the dynamics of food neophobia and eating behaviors among elementary school students during the implementation of the Free Nutritious Meal Program at SDIT Insan Kamil Karanganyar. The study employed a descriptive qualitative approach involving students, teachers, and school staff as informants. Data were collected through observations, in-depth interviews, and document analysis and were analyzed through data reduction, thematic grouping, and triangulation of sources and methods. The results indicate that food neophobia manifested in the form of refusal of certain menu items, selective eating behaviors, and preferences for familiar foods. These behaviors were shaped by previous dietary habits, individual experiences, and the school social context, including the roles of teachers and peers. The main contribution of this study lies in providing context-specific qualitative evidence on the role of behavioral factors in the implementation of universal school meal programs. The findings emphasize that the success of the Free Nutritious Meal Program depends not only on menu quality but also on students’ behavioral readiness to accept the meals served. Therefore, understanding food neophobia constitutes an essential basis for designing more adaptive and educational school meal programs that foster long-term healthy eating habits among elementary school students. ABSTRAK Neofobia makanan merupakan kecenderungan perilaku yang memengaruhi penerimaan anak terhadap pangan, khususnya dalam konteks program makan berbasis sekolah. Dalam Program Makan Bergizi Gratis, kondisi ini berpotensi mengurangi efektivitas pemenuhan gizi apabila tidak dikelola secara tepat. Penelitian ini bertujuan mengkaji dinamika neofobia makanan serta perilaku makan siswa sekolah dasar selama pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di SDIT Insan Kamil Karanganyar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan siswa, guru, dan pihak sekolah sebagai informan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, pengelompokan temuan, serta triangulasi sumber dan teknik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa neofobia makanan terwujud dalam bentuk penolakan terhadap menu tertentu, perilaku memilih-milih makanan, serta preferensi terhadap pangan yang sudah familiar. Perilaku tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan konsumsi sebelumnya, pengalaman individu, serta konteks sosial sekolah, termasuk peran guru dan teman sebaya. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada penyediaan bukti kualitatif kontekstual mengenai peran faktor perilaku dalam implementasi program makan sekolah universal. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya ditentukan oleh kualitas menu, tetapi juga oleh kesiapan perilaku siswa dalam menerima makanan yang disajikan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap neofobia makanan menjadi dasar penting bagi perancangan program makan sekolah yang lebih adaptif, edukatif, dan berorientasi pada pembentukan kebiasaan makan sehat jangka panjang pada siswa sekolah dasar.
PERILAKU PROSOSIAL DITINJAU DARI EMPATI PADA SISWA SMK X SAMARINDA Mochamad Arya Ramadhani Kusuma; Miranti Rasyid; Aulia Suhesty; Ridha Wahyuni
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9165

Abstract

Prosocial behavior is a form of voluntary action aimed at helping others without expecting anything in return, and is an important aspect of adolescent social development. One psychological factor that is thought to play a role in encouraging prosocial behavior is empathy. This study aims to determine the effect of empathy on prosocial behavior among students at SMK X Samarinda. This study used a quantitative approach with a correlational method. The study population consisted of 490 students in grade XI at SMK X Samarinda, with a sample of 220 students determined using the Slovin formula. Data collection was conducted using empathy and prosocial behavior scales that had been tested for validity and reliability. Data analysis was performed using SPSS version 27 through assumption testing and simple linear regression analysis. The results showed that empathy had a positive and significant effect on students' prosocial behavior, with a calculated F value of 171.131 and a significance value of p = 0.000 (p < 0.05). The coefficient of determination (R²) value of 0.440 indicates that empathy contributes 44% to prosocial behavior, while the remaining 56% is influenced by factors outside the scope of this study. Thus, the research hypothesis is accepted. The conclusion of this study is that the higher the level of empathy students have, the higher their tendency to exhibit prosocial behavior. This study is expected to contribute theoretically and practically to the development of prosocial behavior in vocational high school students. ABSTRAKPerilaku prososial merupakan bentuk tindakan sukarela yang bertujuan untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan, dan menjadi aspek penting dalam perkembangan sosial remaja. Salah satu faktor psikologis yang diduga berperan dalam mendorong perilaku prososial adalah empati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh empati terhadap perilaku prososial pada siswa SMK X Samarinda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMK X Samarinda sebanyak 490 siswa, dengan sampel berjumlah 220 siswa yang ditentukan menggunakan rumus Slovin. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala empati dan skala perilaku prososial yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 27 melalui uji asumsi dan analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empati berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku prososial siswa, dengan nilai F hitung sebesar 171,131 dan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05). Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,440 menunjukkan bahwa empati memberikan kontribusi sebesar 44% terhadap perilaku prososial, sementara 56% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Dengan demikian, hipotesis penelitian diterima. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa semakin tinggi tingkat empati yang dimiliki siswa, semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk menunjukkan perilaku prososial. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dan praktis dalam pengembangan perilaku prososial pada siswa SMK.
PENDEKATAN SPIRITUAL DALAM PENANGANAN SKIZOAFEKTIF TIPE MANIK- LAPORAN KASUS Jefry halim; Ni Ketut Putri Ariani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.9214

Abstract

ABSTRACT The spiritual approach is a supportive therapeutic strategy that emphasizes the internalization of belief, religious, and cultural values through practices such as prayer and meditation. In the context of manic-type schizoaffective disorder, this approach is considered relevant as it addresses the psychological and existential aspects of patients that are not fully accommodated by pharmacological therapy, thereby strengthening coping mechanisms and emotional stabilization. This article aims to describe the role of a spiritual approach in managing manic-type schizoaffective disorder with severe stressors. The method used is a case report of a 26-year-old female patient who underwent hospitalization with a diagnosis of manic-type schizoaffective disorder. The patient exhibited psychotic symptoms including visual hallucinations, increased energy, reduced need for sleep, grandiosity, and excessive speech, which were further complicated by legal issues. The treatment was conducted over 14 days, combining conventional therapy with a spiritual approach in the form of prayer and meditation facilitated by the patient’s family from day 8 to day 14. Clinical evaluation showed a reduction in the intensity of psychotic symptoms and improved self-control following the implementation of the spiritual intervention as an adjunct therapy. The findings suggest that a spiritual approach can be considered as part of a comprehensive intervention for patients with manic-type schizoaffective disorder and severe stressors, particularly as a supportive psychosocial component integrated with primary medical treatment. These findings highlight the importance of integrating spiritual approaches as complementary therapy to support holistic mental health recovery. ABSTRAK Pendekatan spiritual merupakan strategi pendukung terapi yang menekankan internalisasi nilai keyakinan, agama, dan budaya melalui praktik doa dan meditasi. Dalam konteks gangguan skizoafektif tipe manik, pendekatan ini relevan karena mampu menjangkau aspek psikologis dan eksistensial pasien yang belum sepenuhnya terakomodasi dalam terapi farmakologis, sehingga berpotensi memperkuat mekanisme koping dan stabilisasi emosi. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan peran pendekatan spiritual dalam penanganan skizoafektif tipe manik dengan stresor berat. Metode yang digunakan adalah laporan kasus terhadap seorang perempuan berusia 26 tahun yang menjalani rawat inap dengan diagnosis skizoafektif tipe manik. Pasien menunjukkan gejala psikotik berupa halusinasi visual, peningkatan energi, berkurangnya kebutuhan tidur, grandiositas, dan pembicaraan berlebihan yang diperberat oleh masalah hukum. Perawatan berlangsung selama 14 hari dengan kombinasi terapi konvensional dan pendekatan spiritual berupa doa dan meditasi yang difasilitasi keluarga sejak hari ke-8 hingga ke-14. Hasil evaluasi klinis menunjukkan penurunan intensitas gejala psikotik serta peningkatan kontrol diri setelah intervensi spiritual diberikan sebagai terapi pendamping. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan spiritual dapat menjadi bagian dari intervensi komprehensif pada pasien skizoafektif tipe manik dengan stresor berat, terutama sebagai dukungan psikososial yang bersifat suportif dan kolaboratif dengan terapi medis utama. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi pendekatan spiritual sebagai terapi komplementer dalam mendukung pemulihan kesehatan mental pasien secara holistik.
GANGGUAN DEPRESIF ORGANIK (F06.32) PADA PASIEN DENGAN INFEKSI HIV Alexandra Adeline
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.9243

Abstract

ABSTRACT Organic depressive disorder is a mood disorder that arises as a direct consequence of medical conditions, including advanced-stage Human Immunodeficiency Virus (HIV) infection, which may lead to neuropsychiatric complications and significantly affect patients’ psychosocial functioning and quality of life. This article aims to describe the clinical characteristics, diagnostic process, and management of organic depressive disorder in a patient with stage IV HIV. This study employed a case report design using data obtained from autoanamnesis, heteroanamnesis, mental status examination, physical examination, and relevant supporting investigations. The patient was a 26-year-old male presenting with persistent sadness, hopelessness, sleep disturbance, and loss of interest in daily activities. Clinical evaluation indicated depressive symptoms associated with the underlying medical condition without any prior history of mood disorder, leading to a diagnosis of organic depressive disorder (F06.32). Management was carried out comprehensively through a Consultation and Liaison Psychiatry approach, including antidepressant pharmacotherapy, supportive psychotherapy, and psychoeducation for both the patient and family. The findings showed an improvement in the patient’s emotional condition and psychosocial functioning following the integrated intervention. This case highlights the importance of early detection of psychiatric disorders in patients with advanced HIV and the need for a multidisciplinary approach to improve clinical outcomes and quality of life. ABSTRAK Gangguan depresif organik merupakan gangguan mood yang muncul sebagai akibat langsung dari kondisi medis tertentu, salah satunya infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) stadium lanjut yang dapat menimbulkan komplikasi neuropsikiatri dan berdampak pada fungsi psikososial serta kualitas hidup pasien. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik klinis, proses diagnostik, dan penatalaksanaan gangguan depresif organik pada pasien HIV stadium IV. Penelitian ini menggunakan metode laporan kasus dengan data yang diperoleh melalui autoanamnesis, heteroanamnesis, pemeriksaan status mental, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang yang relevan. Pasien adalah laki-laki berusia 26 tahun dengan keluhan perasaan sedih berkepanjangan, putus asa, gangguan tidur, dan penurunan minat aktivitas. Evaluasi klinis menunjukkan gejala depresif yang berkaitan dengan kondisi medis yang mendasari tanpa riwayat gangguan mood sebelumnya, sehingga ditegakkan diagnosis gangguan depresif organik (F06.32). Penatalaksanaan dilakukan secara komprehensif melalui pendekatan Consultation and Liaison Psychiatry yang meliputi farmakoterapi antidepresan, psikoterapi suportif, dan psikoedukasi kepada pasien serta keluarga. Hasil menunjukkan adanya perbaikan kondisi emosional dan fungsi psikososial pasien setelah intervensi terpadu diberikan. Laporan ini menegaskan pentingnya deteksi dini gangguan psikiatri pada pasien HIV stadium lanjut serta perlunya pendekatan multidisiplin untuk meningkatkan luaran klinis dan kualitas hidup pasien.
TERAPI INTERPERSONAL DAN MOTIVATIONAL INTERVIEWING PADA GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR DAN GANGGUAN PENGGUNAAN ZAT Christantio Brilian Richard Legoh
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.9244

Abstract

ABSTRACT Psychoactive substance misuse is a global health problem that affects biological, psychological, and social aspects of individuals. Substance addiction, including the use of multiple substances such as alcohol, nicotine, and methamphetamine, is associated with mental disorders, impaired social functioning, and an increased risk of relapse and medical complications. This paper aims to examine the concept of polysubstance addiction, its underlying neurobiological mechanisms, and biopsychosocial management approaches. The method employed is a literature review of psychiatry textbooks and recent scientific articles related to substance addiction and psychotherapeutic interventions, with a publication range from 2021 to 2026 obtained from databases such as PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar, and using inclusion criteria focusing on studies addressing addiction mechanisms, psychological comorbidities, and evidence-based therapeutic interventions. The findings indicate that addiction is a chronic condition involving alterations in the brain reward system, increased impulsivity and compulsivity, and is influenced by genetic, psychological, and sociocultural factors. Management requires a multimodal approach combining pharmacological treatment for comorbid symptoms (such as depression and psychosis) and non-pharmacological therapies, including Cognitive Behavioral Therapy, Interpersonal Psychotherapy, and Motivational Interviewing. The integration of psychosocial interventions has been shown to improve patient engagement, reduce relapse rates, and enhance quality of life. In conclusion, the management of polysubstance addiction should be conducted holistically and continuously to support long-term recovery. ABSTRAK Penyalahgunaan zat psikoaktif merupakan masalah kesehatan global yang berdampak pada aspek biologis, psikologis, dan sosial individu. Adiksi zat, termasuk penggunaan multipel seperti alkohol, nikotin, dan metamfetamin, berkaitan dengan gangguan mental, penurunan fungsi sosial, serta meningkatnya risiko kekambuhan dan komplikasi medis. Tulisan ini bertujuan mengkaji konsep adiksi zat multipel, mekanisme neurobiologis, serta pendekatan penatalaksanaan berbasis biopsikososial. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka terhadap buku teks psikiatri dan artikel ilmiah terkini terkait adiksi zat dan intervensi psikoterapi, dengan rentang publikasi tahun 2021–2026 yang diperoleh dari basis data PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar, serta menggunakan kriteria inklusi berupa artikel yang membahas mekanisme adiksi, komorbiditas psikologis, dan intervensi terapi berbasis bukti. Hasil kajian menunjukkan bahwa adiksi merupakan kondisi kronis yang melibatkan perubahan sistem reward otak, peningkatan impulsivitas dan kompulsivitas, serta dipengaruhi faktor genetik, psikologis, dan sosiokultural. Penatalaksanaan memerlukan pendekatan multimodal melalui terapi farmakologis untuk gejala komorbid (depresi dan psikosis) serta terapi nonfarmakologis seperti Cognitive Behavioral Therapy, Interpersonal Psychotherapy, dan Motivational Interviewing. Integrasi intervensi psikososial terbukti meningkatkan keterlibatan pasien, menurunkan kekambuhan, dan memperbaiki kualitas hidup. Simpulan kajian ini menegaskan bahwa penanganan adiksi zat multipel perlu dilakukan secara holistik dan berkesinambungan guna mendukung pemulihan jangka panjang.
PENGUJIAN KONSTRUK ALAT UKUR PARASOCIAL RELATIONSHIP IN SOCIAL MEDIA SURVEY (PRISM) DALAM BAHASA INDONESIA Bryan Hamdoyo; Rita Markus Idulfilastri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9247

Abstract

Parasocial relationships on social media have become an increasingly prominent phenomenon in digital communication. However, to date, no instrument specifically designed to measure parasocial relationships in the social media context has been validated in Indonesian. This study aimed to examine the construct validity of the Indonesian version of the Parasocial Relationship in Social Media Survey (PRISM). This study employed a quantitative cross-sectional design involving 307 participants who actively used social media and followed a media figure. The research procedure included instrument adaptation into Indonesian, Confirmatory Factor Analysis (CFA), internal reliability testing, convergent validity analysis using Average Variance Extracted (AVE), internal discriminant validity analysis using the Heterotrait-Monotrait Ratio (HTMT), and external validity testing using the Celebrity Attitude Scale (CAS) and UCLA Loneliness Version 3 (UCLA LV3). The results showed that the initial PRISM model did not meet the model fit criteria. After model modification, the fit indices reached a marginal yet acceptable level (CFI = 0.936, TLI = 0.925, RMSEA = 0.059). Nevertheless, several items showed low factor loadings, the AVE values indicated weak internal convergent validity, and internal discriminant validity was not consistently supported across factors. These findings suggest that the Indonesian version of PRISM is not yet fully adequate for direct use and still requires further item refinement and adaptation to better fit the Indonesian language context. ABSTRAK Hubungan parasosial di media sosial merupakan fenomena yang semakin berkembang dalam komunikasi digital. Namun, hingga saat ini belum tersedia alat ukur hubungan parasosial yang secara spesifik dirancang untuk konteks media sosial dan telah tervalidasi dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas konstruk Parasocial Relationship in Social Media Survey (PRISM) versi Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif cross-sectional dengan melibatkan 307 partisipan yang aktif menggunakan media sosial dan mengikuti figur media. Proses penelitian mencakup adaptasi instrumen ke dalam bahasa Indonesia, pengujian Confirmatory Factor Analysis (CFA), reliabilitas internal, analisis validitas konvergen melalui Average Variance Extracted (AVE), validitas diskriminan internal melalui Heterotrait-Monotrait Ratio (HTMT), serta validitas eksternal menggunakan Celebrity Attitude Scale (CAS) dan UCLA Loneliness Version 3 (UCLA LV3). Hasil menunjukkan bahwa model awal PRISM versi Indonesia belum memenuhi kriteria kecocokan model. Setelah dilakukan modifikasi, model menunjukkan kecocokan yang berada pada taraf marginal namun masih dapat diterima (CFI = 0.936, TLI = 0.925, RMSEA = 0.059). Meskipun demikian, beberapa butir memiliki muatan faktor yang rendah, nilai AVE menunjukkan validitas konvergen internal yang lemah, dan validitas diskriminan internal belum konsisten antarfaktor. Temuan ini menunjukkan bahwa PRISM versi Indonesia belum sepenuhnya memadai untuk digunakan secara langsung, sehingga masih diperlukan penyempurnaan item dan adaptasi lebih lanjut agar sesuai dengan konteks bahasa Indonesia.