cover
Contact Name
burhanuddin
Contact Email
burhanuddin@stainmajene.ac.id
Phone
+6285338415371
Journal Mail Official
almutsla@stainmajene.ac.id
Editorial Address
Jalan. Blk. Kelurahan Totoli, Kecamatan Banggae, Kabupaten. Majene, Provinsi Sulawesi Barat.
Location
Kab. majene,
Sulawesi barat
INDONESIA
Al-Mutsla: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman dan Kemasyarakatan
ISSN : -     EISSN : 27155420     DOI : https://doi.org/10.46870/jstain.v3i1
Jurnal Al Mutsla The journal contains many variants of the field Research and many variants of Islamic studies, among others Islamic education, the Shariah, Islamic thought, Study Al Quran and Hadits, Islamic economi, Islamic studies, Sosial Islamic and other general sciences.
Articles 182 Documents
RITUAL MATTAMPUNG: MENALAR GAP DI KALANGAN MASYARAKAT SOPPENG RIAJA DI BARRU SULAWESI SELATAN Nasruddin
AL-MUTSLA Vol. 4 No. 2 (2022): Al Mutsla : Jurnal Al Mutsla Desember 2022
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v4i2.287

Abstract

The mattampung ritual is a practice of beliefs and traditions carried out by the Bugis in order to remember the spirits of the deceased by reciting prayers or verses of the Qur'an in order to gain salvation and get the right place by the side of Allah. The purpose of this study is to reveal an understanding of the ritual of mattampung among the people. This type of research is qualitative usingnormative theological proximity which is then supported by an interview with a local scholar. The results of this study revealed that the rituals of mattampung can be studied based on legal sources. The first source of law based on naqly's postulates is the Qur'an and hadith. While the second source of law is the aqly postulate which is the source of law based on reason. later, developed by the scholars of ushul fiqhi on the basis of ijtihad. The difference in people's understanding of the death ritual in Soppeng Riaja District, Barru Regency, is because on the one hand that the ritual is an Islamic culture by relying on two postulates, namely the naqli postulate (al-Qur'an and Hadith) and also the aqli (reason consideration) postulate which is used by ushul fiqhi scholars as one of the sources of Islamic law, namely al- Urf' (the establishment of laws based on customs and traditions carried out by the local people).
A QUEST FOR A BETTER LIFE AND RACIAL DISCRIMINATION IN BAUCHI EMECHETER’S "SECOND CLASS CITIZEN" Musa Habib Musa; Muhammad Muhktar
AL-MUTSLA Vol. 4 No. 2 (2022): Al Mutsla : Jurnal Al Mutsla Desember 2022
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v4i2.289

Abstract

Many black Africans migrate to Europe in search of a better life. However, they face different challenges in the process such as racism, rape, and lack of accommodation in Europe. Thus, this study aims at examining how the quest for a better life and racial discrimination is portrayed in Buchi Emecheter’s Second Class Citizen. The study adopts psychoanalysis theory to analyze the data. The findings of the study show that many Africans consider Europe as heaven, as a source of happiness as a place of freedom and enjoyment while Nigeria and Africa at large as hell. As a result, they want to go and have a better life in the West. Also, the findings show the extent to which Black Africans are racially discriminated against there. They are considered inferior, and unimportant by the whites, and nobody wants to even associate with them. The study identifies some implications of the findings and makes some recommendations for further studies.
MELACAK AKAR PEMAHAMAN HADIS NABI: (Kajian Enkulturasi Dalam Ormas Islam di Majene Sulawesi Barat) Muhammad Nasir
AL-MUTSLA Vol. 4 No. 2 (2022): Al Mutsla : Jurnal Al Mutsla Desember 2022
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v4i2.295

Abstract

Penelitian ini berujuan Untuk mengetahui sumber pemahaman hadis Nabi yang diimplementasikan oleh umat Islam dalam kehidupannya, serta menganalisa akar pemahaman dari ormas Islam yang ada di Majene dalam memahami hadis-hadis Nabi saw. sehingga jelas afiliasinya. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode analisis konten. pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan historis, dan pendekatan Sosial yang difokuskan pada tiga ormas Islam yaitu Muhammadiyah, Nahdatul Ulama dan Darud Dakwah wal Irsyad yang bertempat di Majene. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa ormas Muhammadiyah sangat selektif menggunakan hadis sebagai hujjah dengan penekanan pada hadis yang shaẖih sekalipuh dalam masalah fadlâilul ‘amal. Pernyataan ini tertuang dalam Putusan Majelis Tarjih bahwa Hadis mauqûf tidak dapat dijadikan hujjah kecuali status hukumnya marfû’. Pengikut Muhammadiyah di Majene dalam praktek keagamaannya ada dua model yaitu Muhammadiyah puritan dan Muhammadiyah adaptif. Adapun ormas NU mendefinisikan hadis sejalan dengan empat imam madzhab dan jumhur ulama ahli hadis. Adapun ke-hujjah-an hadis dhâ’if dalam penetapan hukum tasyri’, maka para ulama tidak memperbolehkan. Hadis dhâ’if bisa digunakan dalam hal fadhailul ‘âmal (keutamaan beramal), bukan sebagai argumen hukum dan aqidah, itupun dengan beberapa syarat yang harus terpenuhi, sedangkan Ormas DDI dalam pemikiran keagamaan dan pengamalan ajaran agama Islam, hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh NU, baik dari aspek pemahaman teologi, fikih, tasawuf dan pengkajian hadis. Khusus dalam kajian hadis, ormas DDI mengikut pada jumhur ulama hadis dalam aspek pemaknaan hadis. Apabila hadis itu kualitasnya shahih ataupun hasan, maka hadis tersebut dapat di amalkan. Demikian pula hadis dhaif bisa diamalkan jika terkait dengan fadhail al-amal
Peran Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Dalam Pelaksanaan Dakwah Di Desa Kotarindau Aldiawan
AL-MUTSLA Vol. 4 No. 2 (2022): Al Mutsla : Jurnal Al Mutsla Desember 2022
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v4i2.334

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran pondok pesantren madinatul ilmi dolo dalam pelaksanaan dakwah di desa kotarindau kecamatan dolo kabupaten sigi melalui kegiatan-kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat setempat. Penulis mengumpulkan data melalui telaah pustaka, observasi lapangan dan wawancara dengan pimpinan dan para pembina pondok pesantren madinatul ilmi dolo serta beberapa tokoh masyarakat setempat. Setelah melakukan penelitian maka hasil temuan dirumuskan sebagai berikut: peran pondok pesantren madinatul ilmi dalam pelaksanaan dakwahnya yaitu Pertama; mengadakan kajian-kajian intensif keIslaman setiap satu bulan sekali yang diikuti masyarakat desa kotarindau. Kedua; mengadakan bimbingan baca tulis al-qur’an. Ketiga; membuka kesempatan kepada masyarakat desa kotarindau untuk ikut mengenyam pendidikan di pondok pesantren madinatul ilmi dolo. Keempat ; setiap bulan ramadhan pondok pesantren madinatul ilmi selalu mengadakan pesantren kilat yang mengkaji beberapa kitab kuning dan terbuka untuk umum.
The Islamization of Science in the Era of Society 5.0: Study of the Thought of Ismail Raji Al-Faruqi and Syed Naquib Al-Attas Septian Aristya; Rachmat Soe’oed; Khojir
AL-MUTSLA Vol. 4 No. 2 (2022): Al Mutsla : Jurnal Al Mutsla Desember 2022
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v4i2.356

Abstract

Science is one of the important elements that must be possessed by humans, human development is also never separated from science. The development of science, especially from the west, also requires a filter so that secular values ​​that are not in accordance with Islam can be prevented. The importance of Islamization of science is a main concept that can be a vaccine to prevent negative values ​​that accompany science and can also be a vitamin to increase the spirit of Muslims to always try to develop science.Several Muslim figures who initiated the concept of Islamization of Science, including Syed Naquib Al-Attas and Ismail Raji Al-Faruqi, the two Muslim figures considered the Islamization of science as a solution to the problem of the current dichotomy of science. Especially where we have entered the era of Society 5.0 where the development of technology and science has become a necessity without leaving important human aspects as the main element in that era.As for the use of this research method, it uses a pure library research method with a descriptive analytical approach, namely describing and critically interpreting the meaning of the discussion process so as to make a new idea in the development of science. The purpose of this study is to find a correlation between the Islamization of science in the era of society 5.0 and the study of the concepts offered by Ismail Raji al-Faruqi and Syed Naquib al-Attas. And from the results of this study, it was found that there was a correlation between the Islamization of science in the era of Society 5.0, this was seen in the strengthening of humans as the center of civilization so that the concept of Islamization became a solution to the gap and strengthened human character in particular.
PENGELOLAAN IKATAN PERSAUDARAAN HAJI (IPHI) PASCA PANDEMI COVID-19 DALAM PERSPEKTIF DAKWAH Wahyu Khoiruz Zaman
AL-MUTSLA Vol. 4 No. 2 (2022): Al Mutsla : Jurnal Al Mutsla Desember 2022
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v4i2.496

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengelolaan sebuah organisasi ikatan persaudaraan haji (IPHI) setelah pandemic covid-19 dalam perspektif dakwah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Untuk pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tiga teknik yang meliputi observasi wawancara, dan dokumentasi yang relevan dengan penelitian ini. Sumber data penelitian ini didapat dari pengurus dan anggota organisasi IPHI di wilayah Kecamatan Mayong Kabupaten Jepara, Jawa Tengah yang aktif pada tahun 2022 yang sebelumnya terdampak pandemi Covid-19. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen yang dilakukan dalam mengelola kegiatan silaturahmi yang sempat terhambat akibat pandemi. Dalam menerapkan manajemen terdapat beberapa faktor pendukung yaitu, terjalin komunikasi yang baik antara pengurus dan masyarakat sekitar. Namun disisi lain terdapat juga beberapa faktor penghambat yaitu, kurangnya sumber daya manusia dan generasi muda yang berminat untuk mengelola organisasi.
MEMBENTUK MANUSIA BERPARADIGMA QUR’ANI MELALUI TAFAKUR AYAT-AYAT ALLAH Abdul Waris Marsyam
AL-MUTSLA Vol. 3 No. 2 (2021): Jurnal Al Mutsla Desember 2021
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v3i2.499

Abstract

Artikel ini mengkaji tentang upaya pembentukan manusia yang berparadigma qur’ani melalui tafakur ayat-ayat Allah, yakni: ayat-ayat Qauliyah, Afaqiyah dan Anfusiyah yang terkandung dalam QS. Fussilat [41]: 53. Cara pandang manusia modern yang dikenal dengan paradigma sains modern, turut andil dalam melahirkan kemerosotan moral manusia modern-kontemporer dan krisis ekologi global yang berdampak pada bencana alam di abad ke-21. Dari sini terlihat pentingnya reintegrasi ilmu atau sains modern dengan agama yang didasarkan pada wahyu al-Qur’an untuk melahirkan kembali manusia literat dan berparadigma qur’ani. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis, artikel ini menyimpulkan bahwa Tafakur ayat-ayat Allah baik ayat-ayat qauliyah (al-Qur’an), afaqiyah (alam raya) dan anfusiyah (diri manusia) merupakan suatu metode dalam pembentukan manusia yang berparadigma al-Qur’an (Qur’anic theory building) yang digunakan dalam memahami realitas dan mengantarkan seseorang pada realitas tertinggi, yakni Sang Maha Benar (al-Haqq). Dalam aplikasinya, perumusan paradigma al-Qur’an dapat dilakukan melalui tiga tahapan, yakni tahapan pembacaan, pemahaman dan pengamalan.
JOSEPH SCHACHT DAN SISTEM ISNAD: Pandangannya dan sanggahan A‘zhami terhadapnya Muhammad Yunan
AL-MUTSLA Vol. 4 No. 2 (2022): Al Mutsla : Jurnal Al Mutsla Desember 2022
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seorang sarjana Barat bernama Joseph Schacht, seorang orentalis berdarah Yahudi, pada tahun 1950 muncul menerbitkan hasil penelitiannya dalam bidang hadis. Konon penelitiannya itu memakan waktu 10 tahun. Karya tersebut bagi para orientalis adalah menjadi karya yang dianggap penting. Pandangan miringnya yang tidak mengakui keabsahan sanad hadis yang ia ulas di dalam bukunya beruaha menggiring pembacanya untuk mengabaikan bukti-bukti yang menjelaskan tentang otentisitas sistem isnad dalam kajian kesarjanan muslim. Merespon pandangan tersebut, seorang ulama hadis kontemporer bernama Muhammad Mustafa Al- A’zhami tampil memberikan sanggahan terhadap kekeliruan-kekeliruan pemikiran pengkaji hadis dari kalangan orentalis, khususnya kekeliruan-kekeliruan Schacht tentang sistem isnad tersebut. Tulisan ini menyuguhkan pemikiran Schacht dan bantahan A’zhami atasnya lewat pendekatan kualitatif. Menariknya, bangunan pemikiran Schacht berhasil dirubuhkan oleh A’zhami.
Stigma Wayang Kulit “Halal atau Haram” Berdasarkan Perspektif Budaya dan Keislaman Masyarakat Desa Setro Amanda Rohmah Widyanita
AL-MUTSLA Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Al Mutsla Juni 2023
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v5i1.392

Abstract

Kebudayaan diartikan sebagai peninggalan para leluhur yang diwariskan secara turun menurun sehingga menjadi suatu hal yang patut dilestarikan keberadaannya. Salah satu peninggalan budaya tersebut ialah wayang kulit. Wayang kulit merupakan kesenian daerah yang tumbuh serta berkembang di wilayah Jawa Timur maupun Jawa Tengah, khususnya pada masyarakat Desa Setro Kabupaten Gresik. Masyarakat setempat mempercayai bahwa wayang kulit merupakan sebuah bentuk perjalanan menuju sang Maha Tinggi (roh, tuhan, dewa) yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1500 sebelum Masehi. Semula kesenian tersebut digunakan masyarakat Setro sebagai sebuah pertunjukan untuk mengisi kegiatan-kegiatan masyarakat seperti perkawaninan, sedekah bumi, sunatan, dan lain sebagainya dengan harapan ingin melestarikan dan memperkenalkan warisan leluhur. Namun, di era modernisasi seperti saat ini pagelaran wayang kulit dianggap sebagai sesuatu yang yang menyimpang dari ajaran agama islam, sebab tidak sedikit khalayak ramai memberikan komentar pada sosial media bahwa kesenian tersebut termasuk haram dikarenakan patung yang digunakan menyerupai wujud manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui stigma halal atau haram terkait kesenian wayang dalam konteks budaya dan keislaman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori menurut Peter L. Berger yang menjelaskan konsepsi kontruksi sosial dengan tiga komponen. Sehingga hasil yang didapatkan adalah perspektif kebudayaan dan keislaman wayang kulit pada masyarakat Desa Setro.
Pluralism Theology of Nurcholis Madjid Andi Ahmad Zahri Nafis; Barsihannor Barsihannor; Indo Santalia
AL-MUTSLA Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Al Mutsla Juni 2023
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v5i1.451

Abstract

Pluralism is an understanding of mutual respect and understanding of differences in people's lives. Nurcholish Madjid's thoughts are considered relevant for discussion. As a figure to be reckoned with in Indonesia, his existence is considered to represent the rise of reform thinking in the archipelago. His thoughts on pluralism are considered a necessity associated with the condition of religious communities in Indonesia. The statement is based on the Indonesian population's condition of religious pluralism. If the pluralism of religions adhered to is not glued together with a pluralistic perspective, then the plurality of religions has the potential to trigger conflict. This research aims to find out the thoughts of Kalam Nurcholish Madjid on Pluralism. The method used is literature study by taking references from various sources such as printed and digital books, as well as research-related journals. The results of the study show that there are three approaches used by Nurcholis Madjid in formulating the concept of Pluralism, namely first, the Tawheed approach, namely the return of human dignity and status back to its position as a creature of Allah. Humans look up "up" only to God, to fellow human beings must look in a series of equality. Second, the Philological Approach, namely the redefinition of the meaning of Islam or more precisely the expansion of the definition of Islam as an attitude of surrender, submission, and obedience to God Almighty. The third is the Historical Approach, which is the value or spirit contained in that history. In this case, every adherent of religion needs to take as an example the values of openness of the people of Medina at that time, not to take the form of the government of the Prophet Muhammad in Medina to be applied today.

Page 5 of 19 | Total Record : 182