KINAA: Jurnal Teologi
Kinaa is a word in Toraja languages that means full of wisdom. Kinaa is one of the core characters of Toraja culture. This character process is not instant. A person who is followed and emulated is one who has the character of quinine. Another character is manarang which means clever, barani means brave. These three things are the criteria of a leader in ordinary society. Kinaa is a character that is not easy and cannot be formed in a person and therefore not everyone can be a leader who has three characters at once. People can be rich and brave, but people can not kinaa or wise automatically, because is not an easy process. The Journal of the Faculty of Theology, UKI Toraja gives the name kinaa with the intention and of hope will be wise. It could start from the process of thinking and understanding to have the Kinaa character based on the Bible. The journal is expected to be a process of becoming kinaa. The focus and scope of this journal are theological-biblical thought about culture, religions and social contexts, and the modern world through contemporary theological thinking. Focus and Scope of KINAA 1. Constructive or Systematic Theology 2. Biblical Theology: Old Testament and New Testament 3. Christian Education 4. Pastoral Theology 5. Liturgy 6. Culture Studies 7. History of Christianity 8. And other related fields
Articles
71 Documents
Simbol Mantaa Duku'
Kinaa Editor;
Kristanto Kristanto
KINAA: Jurnal Teologi Vol 1 No 1 (2016)
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (424.763 KB)
|
DOI: 10.0302/kinaa.v1i1.1197
This article was retracted by Junal Kinaa - Theology Faculty of the Christian University of Indonesia Toraja. The publisher found that the main author Kristanto violated copyright prudence and was suspected of violating works and copying works from other parties. The editor of the Kinaa Journal takes the value of intellectual property seriously so that as a consequence of this violation the article above is declared withdrawn.
Kebangkitan Seorang Nabi: Kajian Pandangan di Kalangan Kristen dan Tokoh Islam Mengenai Nabi yang Dinubuatkan oleh Musa dalam Ulangan
Pranoz Theozen Pati;
Kristanto Kristanto
KINAA: Jurnal Teologi Vol 6 No 1 (2021): KINAA: Jurnal Teologi
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.0302/kinaa.v6i1.1501
The prophet is an important figure in the Bible who was sent by God to give advice and teaching to mankind in the prophet's time, until now for believers. So it is important to know the prophets written in the Bible. The prophecy of the prophet Moses of the coming of a prophet who was promised to the Israelites gave rise to different views among Christians and Islamic leaders about who the prophet who would come was. Islamic figures claim that the prophet is Muhammad, and Christians claim that prophet is Jesus Christ. Based on the analysis of qualitative research methods with a literature review approach, based on the criteria, namely, coming from the midst and from among the Israelites, like Moses, God will put His Word into the mouth of the prophet. Then it was revealed that the prophet foretold by Moses in Deuteronomy 18:15-19 was Jesus Christ.
Superior dan Inferior dalam Pluralisme: Pola Relasi Gereja Toraja dan Aluk Todolo
Marlina Belo;
Johana R Tangirerung
KINAA: Jurnal Teologi Vol 5 No 2 (2020): KINAA: Jurnal Teologi
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kemajemukan adalah realita dalam kehidupan masyarakat di Toraja. Sebelum kekristenan masuk, masyarakat Toraja memiliki agama leluhur yakni Aluk Todolo tetapi, hingga saat ini masyarakat Toraja mayoritas adalah pemeluk agama Kristen secara khusus Gereja Toraja. Selalu diupayakan relasi yang setara antara Kekristenan dan Aluk Todolo sebagai sama-sama komunitas iman, namun pola ini tidak terlihat dalam relasi yang terjadi diantara Gereja Toraja dengan Aluk Todolo. Hal itu dapat diamati dari salah satu program Gereja Toraja yangmelaksanakan misi penginjilan di mana penganut kepercayaan Aluk Todolo menjadi salah satu sasaran Pekabaran Injil (PI) Gereja Toraja. Apakah ini bagian dari relasi inferior – superior yang mesti dibaca kembali? PEnelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan Paul Knitter tentang model dialog antar-agama. Tujuan tulisan ini adalah mengobservasi dan menganalisis pola relasi superior dan inferior Gereja Toraja dan Aluk Todolo menuju teologi persahabatan. Pada akhirnya, hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam pluralisme pola relasi Gereja Toraja dengan Aluk Todolo adalah superior dan inferior. Dalam hal ini Gereja Toraja sebagai superior dan Aluk Todolo adalah inferior. Sekalipun Gereja Toraja mengakui adanya kemajemukan, namun dalam kenyataannya yang nampak itu adalah relasi superior dan inferior di mana Gereja Toraja menempatkan diri dalam posisi yang lebih dominan. Hal itu dapat diamati dari salah satu program yang menjadikan Aluk Todolo sebagai sasaran penginjilan. Oleh karena itu dalam konstruksi sosial Gereja Toraja harus melihat Aluk Todolo dalam relasi yang setara menuju Teologi Persahabatan.
Tana’ dalam Kehidupan Gereja antar Iman Kristen dan Strata Sosial
Serlyanti Seru Sanglayanti;
Agustinus K Sampeasang
KINAA: Jurnal Teologi Vol 5 No 2 (2020): KINAA: Jurnal Teologi
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tana’ merupakan suatu sistem pemilahan masyarakat Toraja dalam tingkat- tingkatan sosial berdasarkan kuasa, keturunan dan kekayaan, tana’ juga menenukan pergaulan masyarakat dan menjadi standar penilaian yang menentukan dalam melakukan sesuatu. Di era modern sekarang ini dimana orang Toraja sudah mayoritas menganut agama Kristen yang dalam ajarannya menegaskan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah menjadi fenomena bahwa tana’ masih tetap berpengaruh dalam kehidupan orang Toraja yang beragama Kristen. Tana’ masih akan tetap berpengaruh dan mempunyai dampak bagi kehidupan kekristenan sehingga gereja mesti memiliki daya tangkal secara kritis. Tulisan ini akan mengkaji bagaimana sikap gereja dalam menghadapi dampak tana? dalam kehidupan kekristenan.
Kesehatan Mental: Peran Gereja Dalam Membangun Kesehatan Mental Pemuda Di Jemaat Rante Lombongan
Kurnia Ayu;
Agustinus Karurungan Sampe Asang;
Daud Kaluring
KINAA: Jurnal Teologi Vol 5 No 2 (2020): KINAA: Jurnal Teologi
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Di tengah zaman yang demikian kompleks ini di mana tekanan hidup sangat berat, esehatan mentalmenjadi persoalan yang penting. Sementara abai akan Kesehatan mental jemaat. Adapun yangmenjadi tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui bagaimana peran Gereja dalammembentuk kesehatan mental pemuda. Dalam penelitian ini metode yang digunakan ialah metodekualitatif, dengan melakukan beberapa langkah mulai dari mencari informasi dan buku-bukureferensi, jurnal dan artikel yang berkaitan dengan skripsi ini. Kemudian melakukan observasi danwawancara dengan beberapa responden. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Pemudayang mengalami gangguan kesehatan mental akibat tidak adanya pemenuhan kebutuhan. Untukitu mereka membutuhkan pendampingan dari Gereja melalui Majelis Gereja dikarenakan selamaini mereka tidak mempunyai tempat untuk menyampaikan apa yang mereka alami dan merasatidak dipedulikan.
Ekslusivisme Agama: Sikap Beragama Warga Gereja Di Lembang Angin-Angin Dalam Konteks Bangsa Indonesia Yang Plural
Dewi Setiowati;
Hans Lura;
Merlyn Brenda Lumintang
KINAA: Jurnal Teologi Vol 5 No 2 (2020): KINAA: Jurnal Teologi
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Agama merupakan salah satu faktor penyebab munculnya konflik dalammasyarakat. Hal ini dapat terjadi ketika masyarakat masih memiliki pahameksklusif terhadap agama lain. Masalahnya adalah dalam konteks bangsa Indonesiayang plural, seharusnya setiap umat beragama menerima adanya pluralisme agama.Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap beragamawarga gereja di Lembang Angin-angin dalam konteks bangsa Indonesia yangplural. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitiankualitatif dengan pendekatan library research (penelitian pustaka) dan fieldresearch (studi lapangan).Sekilas dari hasil penelitian ini yaitu bahwa masih ada beberapa masyarakatLembang Angin-angin yang menganut paham eksklusif namun tidakeksklusivisme. Paham yang eksklusif ini memang menimbulkan konflik dalamkehidupan umat beragama dan warga gereja yang bisa saja mengakibatkanmunculnya benih-benih eksklusivisme. Namun, paham yang eksklusif oleh wargagereja di Lembang Angin-angin ini hanya memberikan dampak kecil dan masihtoleran terhadap agama lain maupun denominasi lain, sehingga tidak terlalunampak dalam kehidupan masyarakat. Umat beragama di Lembang Angin-anginini dapat menjadi contoh bagi umat beragama lainnya agar dapat hidup rukun tanpamemandang perbedaan agama.
Pemuda dan Falsafah Tongkonan
Resturiel Bongga Salu;
Kristanto Kristanto
KINAA: Jurnal Teologi Vol 5 No 2 (2020): KINAA: Jurnal Teologi
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Masyarakat Toraja, merupakan masyarakat yang memiliki keunikan baik itu dari segi adat istiadat, kebudayaan, terutama mencari kelebihan dalam kelemahan tersebut, seperti masyarakat Toraja merupakan masyarakat yang dahulunya belum tau membaca, menulis sehingga kelemahan tersebut dijadikan kelebihan dimana mereka memberikan didikan kepada generasinya tidak dengan menulis buku-buku hebat lalu diterbitkan melainkan dengan tradisi lisan, dan dibalik tradisi lisan tersebut bukan hanya didikan yang diterima para generasi mereka, melainkan hubungan dari si pembawa pesan dan si penerima pesan tentunya memiliki hubungan yang semakin erat karena selalu memiliki waktu untuk berkumpul bersama dan berbincang, dan tentunya menyampaikan segala harapan dan cita-cita mereka kepada para generasi mereka, agar menjadi pemuda yang memiliki mental yang kuat, tidak manja dan menjadi pemuda yang Kinaa.
Pekabaran Injil oleh Pemuda Berbasis Digital
Yolanda Fajar Tiranda;
Johana R Tangirerung;
Yonathan Mangolo
KINAA: Jurnal Teologi Vol 6 No 1 (2021): KINAA: Jurnal Teologi
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.0302/kinaa.v6i1.1980
Manusia diselamatkan hanya karena anugerah Allah melalui Yesus Kristus. Yesus memberikan amanat agung untuk menyampaikan kabar baik ini kepada semua orang agar mengenal dan mengandalkan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Tugas ini diperuntukkan kepada semua orang percaya sebagai gaya hidup, tidak terkecuali pemuda. Pemuda memiliki jiwa semangat yang tinggi dan juga peka terhadap perubahan zaman. Perkabaran Injil harus menjadi gaya hidup pemuda terlebih dalam menghadapi tantangan hidup saat ini. Kehadiran teknologi memudahkan aktifitas seseorang, sehingga pemuda cenderung menggunakan media digital dalam kehidupan mereka. Itu menjadi sarana yang baik sesuai dengan konteks kehidupan pemuda saat ini. Penyataan itu membuat penulis kemudian melakukan penelitian dengan metode kualitatif di Jemaat Sion Sangkombong, dengan menerima data dari PPGT terkait dengan strategi pemuda menggunakan media sosial sebagai sarana perkabaran Injil. Tunjuan penelitian yakni untuk menerima data dari responden sehubungan dengan strategi perkabaran Injil yang dilakukan oleh pemuda (PPGT) dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Suatu Kajian Teologis tentang Makna Untanda Allo dalam Membangun Rumah dan Implikasinya bagi Anggota Jemaat Lempo Berurung
Agustinus Karurukan Sampeasang;
Pista Nanna';
Hans Lura
KINAA: Jurnal Teologi Vol 6 No 1 (2021): KINAA: Jurnal Teologi
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Budaya Toraja merupakan kekayaan yang dimiliki oleh orang Toraja secara khusus bagi Gereja Toraja, Banyak kebudayaan yang masih terus dilaksanakan oleh orang Toraja sampai saat ini, untuk dapat menikmati kekristenan dalam budaya Toraja maka sangat perlu memaknai kebiasaan atau budaya kemudian mengaplikasikan makna tersebut dalam kehidupan sebagai orang Kristen. Salah satu budaya yang masih dilakukan di Jemaat Lempo Berurung adalah untanda allo. Dalam melaksanakan suatu kegiatan terutama membangun rumah, masyarakat Toraja berpatokan atau melihat hari karena mereka percaya bahwa dengan melihat hari, mereka dapat menentukan hari yang baik untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Masyarakat Toraja menyakini bahwa ada hari yang menurut mereka tidak baik untuk melaksanakan kegiatan dan mereka percaya bahwa ketika untanda allo dalam membangun rumah maka kesejahteraan, kesehatan, kemakmuran dan dijauhkan dari malapetaka. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk menggali lebih dalam mengenai makna untanda allo dalam membangun rumah dan implikasinya bagi anggota jemaat Lempo Berurung. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian studi pustaka dan penelitian lapangan. Untanda allo tidak hanya sekedar kebiasaan yang dilakukan dengan pemaknaan bahwa akan mendatangkan berkat tapi juga dari sisi lain bersifat positif karena kebiasaan tersebut juga masih mengikat kekerabatan bagi anggota keluarga untuk sepaham dalam melaksanakan suatu kegiatan.
“Makna Ritual Ma’ Pakande Deata bagi Masyarakat Kristen di Toraja”
Yonathan Mangolo;
Abram Sesa Pandin
KINAA: Jurnal Teologi Vol 6 No 2 (2021): KINAA: Jurnal Teologi
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.0302/kinaa.v6i2.1982
Ritual ma’ pakande deata adalah salah satu kebudayaan warisan leluhur yang masih dipegang oleh beberapa masyarakat Toraja. Tujuan tradisi ini ialah mengenang arwah para leluhur mereka yang telah meninggal dan juga sebagai saran untuk memohon berkat dan pertolongan dari para leluhur yang telah membali puang. Meskipun tradisi ini adalah bagian dari kepercayaan nenek moyang yaitu agama ALuk Todolo, sejauh mana ma’pakande deata ini dipahami oleh masyarakat Kristen, menjadi konteks berteologi. Tujuannya adalah agar tradisi ini menjadi konteks berteologi secara kontekstual. Metode yang penulis gunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan penelitian lapangan dengan teknik observasi dan wawancara serta penelitian kepustakaan. Penulis mewawancarai setiap narasumber dan hasil dari wawancara tersebut yang kemudian sejumlah referensi membantu penulis untuk menganalisis. Hasil penelitian ini dapat dietahui bahwa tujuan dilakukannya ritual ma’ pakande deata oleh beberapa masyarakat Toraja ialah untuk menjaga hubungan mereka dengan arwah leluhur, mereka percaya bahwa leluhur yang telah menjadi dewa tersebut akan mencurahkan berkat bagi anak, cucu, dan cicit yang ada di bumi. Hasil lain adalah menemukan korelasi berkat leluhur dalam PL dengan berkat leluhur dalam konteks Toraja. Kesimpulannya ialah, berkat leluhur dapat dipahami sebagai relasi yang memberi semangat berjuang dalam konteks iman Kristen.