KINAA: Jurnal Teologi
Kinaa is a word in Toraja languages that means full of wisdom. Kinaa is one of the core characters of Toraja culture. This character process is not instant. A person who is followed and emulated is one who has the character of quinine. Another character is manarang which means clever, barani means brave. These three things are the criteria of a leader in ordinary society. Kinaa is a character that is not easy and cannot be formed in a person and therefore not everyone can be a leader who has three characters at once. People can be rich and brave, but people can not kinaa or wise automatically, because is not an easy process. The Journal of the Faculty of Theology, UKI Toraja gives the name kinaa with the intention and of hope will be wise. It could start from the process of thinking and understanding to have the Kinaa character based on the Bible. The journal is expected to be a process of becoming kinaa. The focus and scope of this journal are theological-biblical thought about culture, religions and social contexts, and the modern world through contemporary theological thinking. Focus and Scope of KINAA 1. Constructive or Systematic Theology 2. Biblical Theology: Old Testament and New Testament 3. Christian Education 4. Pastoral Theology 5. Liturgy 6. Culture Studies 7. History of Christianity 8. And other related fields
Articles
71 Documents
Etika Sosial Indonesia di Toraja
Rychard R. Mapandin;
Frans Pangrante
KINAA: Jurnal Teologi Vol 7 No 2 (2022): KINAA: Jurnal Teologi
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.0302/kinaa.v7i2.2198
Dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, ada beberapa pendekatan yang bisa dipakai dalam melihat persoalan-persoalan sosial yang terjadi. Ada enam pendekatan yang bisa menjadi lensa untuk melihat kehidupan sosial di Indonesia (hukum, prinsip, ilmu sosial, batin, kebajikan dan cerita). Dari keenam pendekatan ini, penulis ingin memperlihatkan bagaimana kopleksitas sosial yang terjadi di Indonesia. Tujuan peneltian adalah deskripsi dan analisis teologi sosial dalam konteks Toraja. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan etika sosial. Konteks sosial Indonesia tidak terlepas dari hukum adat yang masih dipegang teguh oleh 30asyarakat Indonesia. Khusus kebudayaan Toraja, hukum adat masih kental untuk kehidupan sosila 30asyarakat Toraja. Tulisan ini, mau melihatnya dari sisi hukum positif dan Pancasila.
GEREJA DAN POLITIK
Palulun, Annon
KINAA: Jurnal Teologi Vol 9 No 1 (2024): JUNI
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.0302/c78bb742
Skripsi ini mengulas tentang konsep Gereja Toraja mengenai Gereja dan Politik dalam perjumpaannya dengan fenomena politik di Toraja Utara. Melalui tulisan ini diharapkan dapat memberi sumbangsih bagi warga gereja, tentang pentingnya memahmi politik sebagai medan pelayanan dalam menghadirkan damai sejahterah dalam kehidupan yang harmonis. Teori klasik Aristoteles, dari kodratnaya, manusia adalah makhluk ber-polis (anthropos physei politikon zoon). Menurut Aristoteles setiap orang adalah politisi. Dalam setiap interaksi politik, setiap orang (warga gereja) memiliki tanggung jawab besar dalam mengusahakan kesejahteraan bersama dalam suatu daerah (bdk. Yer 29:7). Meskipun Politik merupakan arena yang sarat dengan hal-hal yang melawan ketetapan Allah, namun politik harus dilihat sebagai (Theatrum gloriae Dei) pentas kemulian Allah. Kehadiran gereja dalam politik adalah suatu keharusan dimana gereja terus berorientasi pada nilai-nilai keadilan dan kebenaran demi kehidupan yang baik dan tentram. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan library research (penelitian pustaka) dan field research (penelitian lapangan). Adapun instrumen penelitiannya adalah wawancara, kajian pustaka dan peneliti sebagai instrumen kunci. Sumber data penelitian ini adalah hasil wawancara dari majelis dan anggota Jemaat Lempo Batusangbua serta buku-buku, jurnal dan internet yang terkait dengan Gereja dan Politik. Adapun hasilnya adalah Gereja Toraja perlu mengevaluasi pola hubungan gereja dengan pemerintah serta dalam keterpanggilannya gereja mengupayakan pemberdayaan dan pendewasaan politik dengan masif bagi warga Gereja Toraja (Jemaat Lempo Batusangbua) yang terlibat dalam politik praktis baik dalam lembaga legislatif maupun eksekutif yang berlangsung dalam hubungan yang baik dengan Allah Sang Pencipta untuk mewujudkan damai sejahtera Allah bagi semua.
Tinjauan Pastoral Mengenai Luka Batin Akibat Perceraian
Herman, Bita
KINAA: Jurnal Teologi Vol 9 No 1 (2024): JUNI
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.0302/tdvd3b21
Tulisan ini akan memaparkan tinjauan dampak luka batin pasca perceraian dari sudut pandang pastoral. Perceraian dapat menimbulkan luka batin bahkan trauma bagi yang mengalaminya. Oleh karena itu, tujuan dari tulisan ini adalah untuk meninjau dari sudut pandang pastoral luka batin yang ditimbulkan oleh perceraian sehingga dapat ditemukan cara penanganannya khususnya bagi perempuan. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan. Dari hasil penelitian, penulis menemukan bahwa banyak perempuan yang mengalami luka batin pasca perceraian, sehingga pendampingan pastoral sangat dibutuhkan bagi mereka yang mengalami luka batin agar dapat melepaskan segala trauma yang dialaminya.
MIMPI
Veny, Era
KINAA: Jurnal Teologi Vol 9 No 1 (2024): JUNI
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.0302/kkw5z797
Salah satu kebiasaan yang masih dilakukan di Jemaat Lempo Berurung adalah kebiasaan ketika bermimpi khususnya bermimpi bertemu dengan orang yang telah meninggal dunia maka sangat dipercaya akan mendatangkan berkat juga bisa saja mendatangkan musibah dan malapetaka bagi si pemimpi. Sehingga mereka melakukan berbagai cara untuk menghindari jika mimpi tersebut memberi pertanda buruk. Hal inilah yang membuat penulis tertarik menggali lebih dalam untuk mengetahui apa makna teologis tentang mimpi dan implikasinya bagi anggota Jemaat Lempo Berurung. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian studi pustaka dan penelitian lapangan. Kebiasaan yang dilakukan pada dasarnya dapat membuat Jemaat Lempo Berurung terarah ke dalam kepercayaan dualisme, sehingga kepercayaan tersebut perlu untuk ditinggalkan.
Kaunan dalam Budaya Toraja dan Hamba dalam Kekristenan sebuah Studi Komparasi
Layuk Pirade, Vernando Feldis
KINAA: Jurnal Teologi Vol 9 No 1 (2024): JUNI
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.0302/skpt3x96
Tulisan ini akan membandingkan dua realitas yang berbeda. Dimulai dari kehidupan orang Toraja dan kehidupan Kristen, penulis akan membandingkan tentang kaunan dari budaya Toraja dan pelayan dari Kristen. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menemukan konsep kaunan dalam budaya Toraja dan pelayan dalam agama Kristen dan membandingkannya untuk mendapatkan nilai-nilai dalam memperlakukan kaunan karena kaunan merupakan kasta yang sering dianggap tidak layak, sedangkan dalam Alkitab manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Tuhan yang keduanya memiliki perasaan.
ALLAH HADIR DALAM PANDEMI
Two, Feby Bels
KINAA: Jurnal Teologi Vol 9 No 1 (2024): JUNI
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.0302/t29x5570
Coronavirus penyebab COVID-19 secara resmi dinamai Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) oleh International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV) berdasarkan analisis filogenetik dan taksonomi. SARS-CoV-2 diyakini sebagai limpahan dari coronavirus hewan yang kemudian beradaptasi dan berpindah penularannya dari manusia ke manusia. Pandemi covid-19 masuk dalam kategori bencana non alam sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia [1]Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana Pasal 1 Poin 1 dan 3. Tujuan Penelitian ini adalah ingin mengetahui pemahaman warga jemaat Batusura’ tentang kehadiran Allah dalam bencana alam (Pandemi Covid-19), metode penelitian yang akan digunakan adalah metode Kualitatif (Dengan Bantuan data Kuantitatif) dan Studi Kasus (Studi dokumen dan Wawancara). Pandemi covid-19 memang adalah sesuatu yang tidak bisa kita pungkiri dalam kehidupan kita, faktanya bahwa memang kita harus hidup berdampingan dengan pandemi covid-19 ini, ketika Tuhan mengizinkan itu terjadi dalam kehidupan kita maka itu akan terjadi, dan satu hal yang perilu kita ingat dan renungkan dalam kehidupan kita bahwa jangan lagi kita hidup dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri serta perlu kita sadari kita hadir didalam dunia ini dan ketika kita memilih untuk menjadi pengikut kristus berarti kita siap untuk hidup menderita bersama Tuhan. Pandemi covid-19 tidak berasal dari Tuhan, tetapi setidaknya bahwa Tuhan mengizinkan hal itu terjadi dalam kehidupan kita [1] Republik Indonesia, “Undang?Undang RI Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, ” Bab 1 Pasal 1
PERAN IBU: Tinjauan Etis Teologis Peran Ribka Sebagai Ibu BerdasarkanKejadian 27:8-10 Dan Terapannya Dalam Keluarga Kristen
Rombe Layuk, Eunike
KINAA: Jurnal Teologi Vol 9 No 2 (2024): Desember
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.0302/49sk2k20
Ibu memiliki tanggung jawab yang besar dalam keluarga, ia berperan sebagai pribadi yang dituntut untuk menjadi contoh dan teladan dalam bertutur kata, bertindak serta berperilaku. Dalam Alkitab ada banyak tokoh-tokoh yang berperan sebagai ibu, ada yang berhasil berperan sebagai ibu yang baik bagi anak-anaknya dan ada juga yang tidak berhasil menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya dalam hal berperilaku, salah satu contohnya ialah Ribka. Berdasarkan hal itu, maka tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui bagaimana pandangan etis teologis peran Ribka sebagai ibu berdasarkan Kejadian 27:8-10 dan bagaimana terapannya dalam keluarga Kristen. Oleh karena itu, penulis akan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka untuk memberikan penjelasan yang tepat. Berdasarkan hasil pembahasan, maka kesimpulannya adalah tindakan Ribka dalam melakukan tipu daya muslihat merupakan hal yang tidak dapat dibenarkan dan tidak baik untuk dicontoh. Tetapi sebagai ibu yang menjaga dan memegang teguh ketetapan Allah, ia berani mengambil resiko untuk berusaha agar janji Allah tersebut betul-betul terjadi dalam keluarganya. Karena ketegaran hati dan imannya, Ribka berani memilih melakukan tindakan yang menunjukkan bahwa Allahlah yang berdaulat dan yang utama dari segalanya. Untuk mampu menjadi pribadi yang patut diteladani, seorang ibu harus terlebih dahulu memiliki kedekatan yang akrab dengan Tuhan karena Tuhan adalah sumber segala kebaikan dan hikmat.
Pesta: Analisis Teologis-Sosiologis Penggunaan Kata Pesta Pada Acara Rambu Solo’ Bagi Masyarakat Toraja
Hardjo, Purwanti
KINAA: Jurnal Teologi Vol 9 No 2 (2024): Desember
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.0302/2vrp3269
Budaya dapat saja mempengaruhi dan memberi perubahan dalam kehidupan masyarakat. Khususnya dalam budaya Toraja yang memiliki salah satu tradisi yaitu Upacara adat Rambu Solo’ yang merupakan upacara adat kematian yang begitu mewah dan meriah, baik melalui dekorasi, hewan yang di sembelih dan makanan yang dihidangkan yang begitu mewah. Melalui hal yang seperti itu sehingga masyarakat Toraja menyebutkan bahwa pergi ke rumah duka dengan istilah pergi ma’pesta. Penggunaan kata pesta dalam Rambu Solo’ merupakan kata atau bahasa yang sering digunakan oleh orang Toraja dalam kehidupan mereka. Dalam suku Toraja Rambu Solo’ merupakan upacara kematian orang Toraja, sedangkan pesta merujuk kepada suatu kemeriahan, kebahagiaan dan sebagainya. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberi pemahaman kepada masyarakat Toraja tentang makna teologis dan sosiologis penggunaan kata pesta dalam acara Rambu Solo’. Sehingga penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan melakukan wawancara untuk memberikan penjelasan terkait peneliti dengan topik penelitian. Berdasarkan hasil pembahasan maka kesimpulannya adalah kata pesta tidak dapat digunakan di acara Rambu Solo’. Melainkan ketika orang Toraja pergi ke rumah duka maka mereka akan berkata male tongkon, bukan pergi pesta. Karena tongkon berarti duduk bersama dengan keluarga yang berduka. Hal itu dapat terjadi melalui proses perubahan dalam budaya Toraja.
DARO-DARO:Makna Teologis-Sosiologis Simbol Daro-daro Dalam Ritus Rambu Solo’ Dan Implikasinya Bagi Masyarakat Bori’
Sannang, Ferayanti
KINAA: Jurnal Teologi Vol 9 No 2 (2024): Desember
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.0302/rvmpd680
Dalam tulisan ini, penulis melakukan penelitian terkait apa makna Teologis-Sosiologis simbol Daro-daro dalam ritus Rambu Solo’ dan implikasinya bagi masyarakat Bori’. Simbol Daro-daro atau disebut juga Paningoan bombo dipercaya sebagai media menyatakan cinta kepada arwah/bombo-bombo keluarga yang telah meninggal. Apakah relasi tersebut masih relevan dipercayai orang percaya sekalipun merupakan bentuk cinta kepada keluarga yang telah meninggal. Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan field research dengan melakukan wawancara terhadap Majelis Gereja, Pemerhati adat, masyarakat setempat/warga Jemaat dan Pemerintah setempat. Penulis memberikan beberapa pertanyaan sekaitan dengan topik yang penulis kaji dalam karya ilmiah ini. Penulis juga memakai library research untuk memperkuat argumen didalam tulisan ini. Berdasarkan fenomena yang terjadi, simbol Daro-daro digunakan sebagai media dalam berelasi dengan arwah atau bombo-bombo. Dalam hal ini, penulis melihat bahwa bukanlah semata-mata Daro-daro yang menjadi media untuk mengekspresikan relasi sukacita dengan arwah/bombo-bombo keluarga yang telah meninggal agar mereka turut disenangkan, akan tetapi Yesus Kristus-lah yang menjadi media ekspresi kebahagiaan dan sukacita sebagai orang percaya. Pengharapan akan kasih karunia Tuhan bagi mereka yang telah mendahului akan terus melekat dan dijiwai setiap orang percaya sehingga tidak ada lagi kegelisahan. Terlepas dari itu, dukacita tentunya akan dirasakan namun memori yang tersimpan akan terus menuntun manusia untuk dapat melihat teladan dari sikap hidup keluarga yang telah mendahului.
Teologi dan Musik: Analisis Teologi Trinitas Dalam Musik Berdasarkan Teologi Musik Jeremy S. Begbie
Pasae, Yandri Christianto
KINAA: Jurnal Teologi Vol 9 No 2 (2024): Desember
Publisher : Publikasi dan UKI Press UKI Toraja.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.0302/j9mwk681
Musik merupakan bagian intergral dari gereja. Musik bahkan memegang peran penting dalam peribadahan sejak zaman Perjanjian Lama yaitu menjadi sarana yang memperjumpakan umat dengan Allah. Akan tetapi, sebagaimana yang dikatakan Jeremy S. Begbie, musik sebagai dunia audio belum mendapat perhatian dalam berteologi, khususnya dalam memahami doktrin Trinitas. Bagi Begbie, fenomena nada dan trinada dalam musik mampu menjelaskan doktrin Trinitas dengan baik dibandingkan dengan objek-objek visual. Pemahaman inilah yang akan dianalisis melalui tulisan ini untuk menemukan bagaimana cara musik menjelaskan doktrin Trinitas. Metode yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif dengan bantuan studi pustaka. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, hasil yang didapatkan ialah: 1) Satu nada telah merepresentasikan akord; 2) Akord merupakan gabungan tiga nada (trinada atau triad) yang dibunyikan dalam ruang dan waktu yang sama; 3) Setiap nada penyusun akord memiliki sifat dan karakteristik masing-masing; 4) Ketiga nada yang berbeda akan saling beresonansi, menghasilkan satu karakter bunyi, bersatu tetapi bunyi setiap nada tetap dapat didengarkan. Menggunakan fenomena musikal tersebut untuk menjelaskan doktrin Trinitas disimpulkan bahwa nada dan Trinada dapat menjadi analogi Allah Trinitas. Allah Trinitas yaitu tiga pribadi yang bersatu dalam satu hakekat sama seperti satu bunyi nada dan akord yang dihasilkan oleh gabungan tiga nada yang berbeda.