cover
Contact Name
Komariah
Contact Email
komariah@trisakti.ac.id
Phone
+62271-648939
Journal Mail Official
sembio@fkip.uns.ac.id
Editorial Address
Prodi Pendidikan Biologi FKIP Gedung D Lt 3 FKIP Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126 Jawa Tengah INDONESIA
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Proceeding Biology Education Conference
Core Subject : Health, Science,
Proceeding Biology Education Conference was published since 2003, with title Prosiding Seminar Nasional Biologi. The early number of the journal were published offline
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 1,234 Documents
The Effects of Project-Based Learning and Cooperative Learning Group Investigation towards Student’s Concept Mastery at SMA in Respiratory System Sukmawati Sundari Siregar; Ely Djulia; Hasruddin Hasruddin
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 12, No 1 (2015): Prosiding Seminar Nasional XII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aimed to investigate the effect of using project based learning (PjBL) toward student’s concept learning of exact eleven grade senior high school students in respiratory system. The design of the study was quasi-experimental research design with pre-test and post-test control group design.The population of this research was all students in exact eleven grade of SMA Medan Academic Year 2014/2015 which consist of 11 classes. Taking sample done by using purposive sampling technique and the classes chosen are three classes i.e. XI MIA 10 (PjBL), XIMIA 7 (GI) and XIMIA 5 (Conventional). Research instrument are multiple choices (C1-C6) for collecting the student’s concept mastery aspect. The statistical assumption test revealed that the data were normally distributed and homogent. Hypothesis analysed using Analysis of Covariant (ANACOVA) followed by Tukey’s test assisted by SPSS 19.00. Research result showed that learning models effect the student’s concept mastery significantly. Student’s concept mastery was 80,05± 4, 23 for project-based learning class, and it differs significantly towards group investigation class (73,75 ± 5,95) (P=0,000), and conventional class (70,77±5,56) (P=0,000). Group investigation also differs significantly towards conventional learning (P=0,023). The result showed that student’s concept mastery on project-based learning class was higher than group investigation and conventional learning class.Keywords: Project-Based Learning, Group Investigation, Concept Mastery, Scientific Attitude, Creative Thinking Skill
PERBEDAAN HASIL BELAJAR MATERI PERPINDAHAN PANAS BENDA DENGAN METODE DISCOVERY DAN CERAMAH SISWA KELAS IV SDN MOJOAYU TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Rinawati, Dian Tri; Sulistiono, Sulistiono; Budi Retnani, Dwi Ari
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 10, No 1 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar materi perpindahan panas benda dengan metode  discovery  dan  metode  ceramahsiswa kelas IV  SDN  Mojoayu   Kediri Tahun 2012/2013.Penelitian dilakukansecara  eksperimen dengan subyek kelas IV A sebanyak 15 siswa diajar dengan metode ceramah dan kelas IV B sebanyak 15 siswa diajar dengan metode discovery. Parameter yang diukur adalah hasil belajar kognitif siswa yang diperoleh dengan melihat  skorhasil evaluasi setelah pembelajaran 1 kompetensi dasar. Hasil penelitian menunjukkan,  bahwa rata-rata dan ketuntasan hasil belajar siswa yang diajar dengan metode  discoveryadalah  85  dan  93,3%    lebih tinggi dari pada yang diajar dengan metode ceramah yaitu 78  dan 73,3%. Kata Kunci: hasil belajar, metode discovery dan ceramah
PEMBANGUNAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN SAINS MELALUI METODE ILMIAH Winarti Winarti
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 8, No 1 (2011): Prosiding Seminar Nasional VIII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Salah satu upaya dalam pembentukan karakter siswa dapat ditanamkan dengan pembelajaran sains yaitu dengan memberikan pengalaman kepada siswa. Sains adalah ilmu pengetahuan atau kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan teori yang dibentuk melalui proses kreatif yang sistematis melalui inkuari yang dilanjutkan dengan proses observasi (empiris) secara terus-menerus dilakukan oleh individu untuk menyingkap rahasia alam semesta. Sains juga merupakan pengetahuan yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu dan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan. Pembelajaran sains tidak dapat dilepaskan dari metode ilmiah karena  metode ilmiah  merujuk pada proses-proses pencarian sains yang dilakukan siswa. Dalam pembelajaran sains, metode ilmiah dapat dilakukan melalui pemberian pengalaman dalam bentuk kegiatan mandiri ataupun kelompok kecil. Metode ilmiah penting dikembangkan karena dapat mengembangkan  kemampuan yang paling sederhana yaitu mengamati, mengukur sampai dengan kemampuan tertinggi yaitu kemampuan bereksperimen. Selain itu juga dapat mencapai ranah kognitif level terendah sampai dengan level tertinggi. Dengan kegiatan metode ilmiah selain untuk meningkatkan pemahaman dan motivasi belajar siswa, dan juga memuat unsur kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam hal ini, aspek afektif yang muncul berupa munculnya karakteristik anak-anak untuk melakukan kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, kerja sama, dan hormat pada orang lain, semangat bekerja, semangat belajar, pantang putus asa,  menghargai orang lain, jujur, rasa ingin tahu, mandiri, kreatif,kerja keras, disiplin dan percaya diri.   Kata kunci: pembangunan karakter, metode ilmiah, kognitif, psikomotorik, afektif
POTENSI TEPUNG KEDELAI YANG DIPAPARKAN SECARA BERULANG TERHADAP HISTOLOGI TESTIS MENCIT (Mus musculus) Primiani, Cicilia Novi; Fitria, Aida
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 9, No 1 (2012): Prosiding Seminar Nasional IX Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Isoflavon merupakan senyawa aktif biji kedelai dengan struktur kimia menyerupai 17 β-estradiol dan mampu berikatan dengan reseptor estrogen pada sel Leydig dalam tubulus seminiferus testis. Berdasarkan  struktur kimia isoflavon mirip dengan hormon estrogen, maka aktivitas kerjanya menyerupai hormon estrogen, sehingga memberikan aktivitas fisiologis sebagai hormon estrogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan jaringan tubulus seminiferus testis mencit setelah pemaparan tepung kedelai secara berulang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari satu faktor yaitu dosis tepung kedelai 0,369 g/kg; 0,74 g/kg dan 1,47 g/kg. Parameter yang diamati adalah perubahan jaringan tubulus seminiferus testis setelah pemaparan berulang tepung kedelai selama 36 hari. Analisis data perubahan jaringan tubulus seminiferus testis dianalisis secara diskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spermatogenesis tidak dapat berkembang, fase proliferasi sel-sel germinal sampai  stadium spermatosit primer.   Kata kunci:  kedelai, isoflavon, tubulus seminiferus testis
Pembangunan Sumber Benih Genetik Lokal Araucaria cunninghamii di Bondowoso, Jawa Timur Dedi Setiadi
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 14, No 1 (2017): Proceeding Biology Education Conference
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Araucaria cunninghamii one type of conifer is a potential local flagship scattered in the mountains of Papua. It has fast growth, straight trunk with excellent natural pruning and its diversity of wood utilization is very good for industrial raw materials of plywood, pulp, paper and wood carpentry. Efforts to increase economic value and productivity in the development of A. cunninghamii plantation can be done through intensive silviculture techniques combined with the use of superior seeds/seeds supported by plant protection. One of the classical constraints in the development of plantations today is the unavailability of plant material in the form of seeds and seeds of genetic quality in sufficient quantities. In order to support the development of productive plantations that have high economic value, the development of seed sources is an urgent need and needs to be prioritized. The selection of popular local commercial types is an appropriate alternative choice and is based on various technical and other considerations such as economic, market, cultural and social values. A. cunninghamii is a fast growing and straight-line species and has a comparative advantage to be developed widely. The genetic resource of A. cunninghamii conservation activities have been undertaken by the Center for Research and Development of Biotechnology and Tree Crop Breeding through the development of seed breeding seedling seed garden (KBSUK) in 2008 in Bondowoso, East Java. The genetic material used were five provenan from Papua natural mountain ranges namely Serui provenans (11 families), Wamena (28 families), Manokwari (12 families), Jayapura (6 families), Fak-fak (7 families) and one provenan from Queensland As many as (16 families). The purpose of this seed source development is to meet the need for quality seeds (genetically) both locally and operationally for plantations.
Learning Environment of Science in Junior High School Which Use Curriculum 2013 in Baturetno Wonogiri Bowo Sugiharto; Baskoro Adi Prayitno, Sri Widoretno
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 12, No 1 (2015): Prosiding Seminar Nasional XII Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to describe the science learning environment in junior high school which use curriculum 2013 in Baturetno Wonogiri. The research was descriptive qualitative research. The subject of research was SMPN 1 Baturetno Wonogiri. The data of learning environment obtained through observation of lessons learned in class and specializes in relationship dimension. The data was analyzed in descriptive qualitative. The research shows that science learning environment especially seen from the relationship dimensions there were two sides i.e the interaction between students and student and the interaction between students and teacher. The interaction between students and students showed that it is the class is quite calm and not indicate the presence of noise but the cooperation each other still need to develop. The Interaction between students and teacher tend shows a conventional teaching and learning patern (teacher centered), not empowering the students to build a collaborative culture. Thus it can be concluded that the learning environemnt of science subject in SMPN 1 Baturetno need to optimalized.Keywords:learning environment, science teaching and learning
ANALISIS VEGETASI LANTAI SEBAGAI PENAHAN LIMPASAN AIR DI SEKITAR MATA AIR Fatimatuzzahra Fatimatuzzahra
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 11, No 1 (2014): Prosiding Seminar Nasional XI Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Water resources is essential for life. One of potential source is ground water springs. Floor vegetation act as rainwater retention,therefore rainfall does not become runoff instead infiltrate as ground water that is important.The purpose of this study was to analyze of floor vegetation (growth form shrubs, herbs, and grasses) around springs and study its role in the retention of water  infiltration. The study was conducted in June-October 2013 in Umbul Nila’s spring, Tulung, Klaten, Central Java and Mudal’s spring, Purwosari, Gunungkidul, D.I.Yogyakarta. The simple random sampling of 1m x1m quadrate method was used, for vegetation analyzes with a 15 samples of each springs. The results of analysis in Umbul Nila’s springs, was obtained 8 families, 17 species of vegetation floors and 5 families with 18 species around Mudal’s spring. The results of calculation, the highest INP value of 5 species vegetation in Umbul Nila: Heliotropium indicum 33,5%, Bidens pilosa 32%, Ischaemum triticeum 30,9%, Paspalum conjugatum 16,7%, dan Eleusine indica 11,6%.  whereas in Mudal: Ischaemum triticeum 28,6%, Elephantopus scaber 27,7%, Paspalum conjugatum 26%, Chromolaena odorata21,4%, Flemingia macrophylla16,9%. Diversity index (H ') in Umbul Nila (0,90) with low category and Mudal (1.02) includ of medium category. An index of similarity in both locations by 45,71%, meaning that a low floor vegetation similarity. The results of infiltration rate experiment using rain simulation, showed that the ability of water infiltration in Umbul Nila on herbs-covered land was 73% is higher than the land covered with grasses, shrubs, and base land. While in Mudal, shrub land covered by 97.17% compared to the land covered herbs, grasses, and base land. Keywords: Floor Vegetation, Springs, Infiltration, Umbul Nila, Mudal
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BIOLOGI MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERJANGKA BERWAWASAN SETS (SCIENCE ENVIRONMENT TECHNOLOGY AND SOCIETY PADA KELAS IX A SMP NEGERI 2 JATIPURNO TAHUN 2009 Slamet Riyadi
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 6, No 1 (2009): Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Pendidikan Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah terjadi pergeseran struktur program dan pendekatan pembelajaran dari bentuk konvensional ke bentuk yang adatif,  keatif, inovatif,efektif, menyenangkan dan bermakna. Untuk mencapai sasaran tersebut pembelajaran IPA khususnya biologi tidak mungkin hanya dipandang sebagai sosok pengetahuan verbal abstrak sehingga siswa hanya diarahkan sebagai kolektor temuan ahli biologi. Untuk itu pengalaman empiris sebagai subyek belajar sangat diperlukan sehingga pemaharnan siswa harus mereka bangun sendiri dengan situasi dan strategi yang didesain oleh guru sebagai fasilitator. Rumusan rnasalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah : apakah pendekatan pembelajaran berjangka berwawasan SETS (Science Environment Tehnology and Society) dapat meningkatkan prestasi belajar biologi kelas IX A SMP Negeri 2 Jatipurno Tahun 2009? Tujuan penelitiaan tindakan kelas ini adalah (1) meningkatkan prestasi belajar biologi kelas IX A SMP Negeri 2 Jatipurno Tahun 2009, (2) menyajikan proses pembelajaran yang adaptif, inovatif, kreatif efektif menyenangkan dan bermakna, (3) melaksanakan pendidikan kecakapan hidup (life skill education) dan pendidikan berbasis masyarakat. Cara pemecahan masalah yang di tawarkan dalam proses pembelajaran ini adalah : (1) untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, dengan menggunakan pendekatan pembelajaran berjangka berwawasan SETS, (2) Sedangkan langkah-langkah kegiatan dalam pelaksanaan PTK ini direncanakan empat siklus meliputi : (a) perencanaan tindakan, (b) pelaksanaan tindakan, (c) observasi, (d) refleksi. Dari seluruh rangkaian kegiatan menunjukan bahwa pendekatan pembelajaran berjangka berwawasan SETS dapat : (1) rneningkatkan prestasi belajar biologi kelas X A SMP Negeri 2 Jatipurno Tahun 2009, (2) rnenyajikan proses pembelajaran yang dinamis, kreatif, inovatif,  efektif, menyenangkan dan bermakna, (3) rnelaksanakan pendidikan kecapan hidup (life skill education) dan pendidikan berbasis masyarakat. Kata kunci : Prestasi Belajar, Pembelajaran Berjangka berwawasan SETS.
PREPARASI DAN KARAKTERISASI KITIN YANG TERKANDUNG DALAM EKSOSKELETON KUMBANG TANDUK RHINOCEROS BEETLE (Xylotrupes gideon L) DAN KUTU BERAS (Sitophilus oryzae L) Komariah Komariah; Luki Astuti
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 9, No 1 (2012): Prosiding Seminar Nasional IX Biologi
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi kitin hasil preparasi dari eksoskeleton kumbang tanduk Rhinoceros Beetle (Xylotrupes gideon L) dan kutu beras (Sitophilus oryzae). Penelitian terbagi menjadi penelitian pendahuluan yaitu preparasi dan uji proksimat, dan penelitian utama yang terdiri dari proses pembuatan dan karakterisasi kitin. Proses pembuatan kitin diawali dengan uji demineralisasi (HCL 1 N, 90°C), deproteinisasi (NaOH 3 N, 90°C), dan dekalorisasi (NaOCl 4%, suhu kamar). Karakterisasi meliputi tekstur, rendemen, kelarutan, kadar air, kadar abu, kadar nitrogen, kadar mineral dan derajat deasetilasi. Kadar abu dan kadar air ditentukan dengan gravimetri, kadar protein dengan kjedahl. Uji Kelarutan dengan asam asetat 2%, kadar mineral dengan spektrofotometer, sedangkan derajat deasetilasi dianalisis dengan menggunakan First Derivative Ultra Violet Spektrofotometry. Berdasarkan hasil perhitungan memperlihatkan karakteristik kitin dari eksoskeleton Rhinoceros Beetle (Xylotrupes gideon) menghasilkan kadar abu 0,98%, kadar air 8,37%, kadar nitrogen 3,02%, derajat deasetilasi 44,84%. Karakteristik kitin dari eksoskeleton Sitophilus oryzae menghasilkan kadar abu 2,00%, kadar air 8,00%, kadar nitrogen 3,57%, derajat deasetilasi 28,60 %. Kitin dari kedua sempel tidak larut dalam asam asetat 2%, berwarna putih dan tidak berbau. Hasil yang diperoleh sesuai dengan kriteria mutu kitin.   Kata Kunci: kitin, kadar air, kadar abu, kadar nitrogen, kelarutan dan derajat deasetilasi.
SUMBER PEWARNA ALAMI INDIGO, PEMETAAN DAN POTENSI KONSERVASI DALAM MEMPERTAHANKAN PLASMA NUTFAH TANAMAN INDIGOFERA DI INDONESIA Muzzazinah, Muzzazinah
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 16, No 1 (2019): Proceeding Biology Education Conference
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Marga Indigofera merupakan salah satu sumber pewarna biru alami untuk batik dan tenun.  Jumlah jenis marga ini mencapai 750–780 di dunia. Jenis yang sering dimanfaatkan sebagai sumber pewarna biru oleh pembatik dan penenun di Indonesia, yaitu I. tinctoria. Warna biru yang dihasilkan daun Indigofera  berasal dari senyawa glukosida yang disebut indikan. Namun, keberadaan indikan dalam daun hingga kini belum dapat dikenali dari ciri morfologi. Penelitian ini bertujuan untuk memutahirkan data keberagaman jenis Indigofera, memetakan persebaran Indigofera pewarna di Indonesia, kualitas indikan dan indigo dari Indigofera penghasil pewarna, dan menganalisis keberagaman genetic berdasar  marka molekuler.  Data keberagaman diperoleh dengan eksplorasi pada 5 pulau dan koleksi herbarium. Sebaran Indigofera pewarna dipetakan dengan ArcGIS 10.1 . Kuantitas indikan diukur dengan HPLC. Kualitas pewarna indigo diuji  melalui ketahanan luntur warna terhadap pencucian 40 0C, keringat asam dan basa, sinar terang dan penekanan panas. Analisis kualitatif terhadap sembilan jenis Indigofera dari koleksi lapangan berhasil mengidentifikasi empat jenis penghasil warna biru yaitu I. arrecta, I. longiracemosa, I. suffruticosa, and I. tinctoria. Indikator keberadaan indikan pada daun ditandai dengan berubahnya warna air rendaman daun menjadi hijau tua, permukaan atas rendaman berbuih dan berbau tajam setelah percobaan perendaman. Uji kualitas indigo terhadap empat jenis tersebut menunjukkan keempat jenis menghasilkan warna biru dengan kualitas baik yang memenuhi syarat kualitas warna sesuai SNI ditandai nilai 4–5 pada 4 kualitas yang diuji, yaitu ketahanan luntur warna terhadap pencucian 40 0C, keringat asam dan basa, sinar terang dan penekanan panas.

Page 19 of 124 | Total Record : 1234