cover
Contact Name
Cresensius Hanny Kurniawan
Contact Email
jurnalamreta@sttsati.ac.id
Phone
+6287859937095
Journal Mail Official
jurnalamreta@sttsati.ac.id
Editorial Address
Jln. Raya Karanglo 94-103, Banjararum, Singosari, Malang
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teologi Amreta
ISSN : -     EISSN : 25993100     DOI : 10.54345
Amreta Theology Journal is a bilingual semi scientific journal aimed at developing and advancing written works in the fields of Theology
Articles 107 Documents
“Everyday Spirituality” dari Perspektif Pneumatologi Pentakosta Aritonang, Josua
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 7 No. 2 (2024): How The Holy Spirit renew our Earth and our hearts
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v7i2.158

Abstract

Makalah ini membahas fenomena umum di kalangan orang Kristen, khususnya di kalangan komunitas Pentakosta, di mana terdapat kecenderungan untuk lebih fokus pada mengalami Allah dalam peristiwa adikodrati dan supranatural. Dampaknya, kesadaran akan kehadiran Allah dalam peristiwa-peristiwa sehari-hari yang sederhana sering terabaikan. Dalam menanggapi permasalahan ini, spiritualitas sehari-hari sebenarnya telah memberikan solusi yang baik, sebab ia menekankan bahwa Allah sekaligus dapat dialami dalam peristiwa sederhana dari hari ke hari, melalui upaya pemaknaan dan penghayatan. Namun, penulis merasa perlu menyertakan perspektif Pneumatologi Pentakosta untuk lebih menegaskan, khususnya dalam konteks tulisan ini kepada orang-orang Pentakostal, bahwa Allah dapat dialami dalam peristiwa sederhana dari hari ke hari. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan pendekatan studi kepustakaan. Konsep spiritualitas sehari-hari akan dieksplorasi dan dikompatibelkan dengan Pneumatologi Pentakosta, terutama di pusaran Kisah Para Rasul pasal 2. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya nilai-nilai kompatibilitas di antara spiritualitas sehari-hari dan Pneumatologi Pentakosta, seperti menekankan ketekunan dalam menapaki kehidupan, menolak dualisme atau pemikiran biner, serta mampu dan dapat mengalami Allah dalam segala sesuatu. Dengan demikian, keselarasan di antara keduanya menegaskan bahwa pengalaman rohani tidak terbatas pada peristiwa-peristiwa “tidak biasa”, namun juga terdapat dalam kehidupan sehari-hari yang “biasa”.
An alternative description of paleo-astrogeophysics process and origin of Earth based on Low Temperature Physics: Including an outline to mitigate increasing Earth surface temperature Christianto, Victor; Suria, Isak
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 7 No. 2 (2024): How The Holy Spirit renew our Earth and our hearts
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v7i2.160

Abstract

Dalam artikel sebelumnya di Jurnal BPAS Geology Section, denganjudul: “How Shannon Entropy perspective provides link amongexponential data growth, average temperature of the Earth, decliningEarth magnetic field, and global consciousness” (BPAS Section F,Geology, 2019), penulis membahas antara lain data sunspotsepertinya menunjukkan bahwa Matahari kemungkinan akanmemasuki Maunder Minimum, yang dapat berarti rendahnyaaktivitas Matahari kemungkinan dapat menyebabkan rendahnyasuhu di Bumi, sementara itu kita mengalami suhu permukaan Bumiyang semakin tinggi. Kita juga harus mengingat perubahan iklim global yang akan terjadi dalam waktu dekat (cf. Toffler, The Ecospasm report, 1975). Fenomena ini kemudian membuat kamibertanya: apa yang dapat kita lakukan sebagai manusia di Bumiuntuk menunda atau menghindari memburuknya suhu pendinginanBumi di tahun-tahun mendatang? Kami pikir ini adalah masalahyang lebih mendesak dan merupakan bahaya nyata saat ini yang kitahadapi di Bumi. Seperti yang telah kami bahas sebelumnya, di sinikita akan membahas pendekatan fisika suhu rendah terhadap alamsemesta awal bersama dengan bumi ini, yang tampaknya terkaitdengan proses paleo-astrogeologi Bumi kita, serta model interaksiMatahari-Bumi dalam kaitannya dengan entropi Shannon. Karenaentropi Shannon dapat dinyatakan sebagai bit informasi, maka iniberarti kita mungkin dapat melakukan sesuatu terhadap suhu bumidengan mengontrol jumlah transfer dan penyimpanan informasi dibumi. Alternatif yang dapat dipertimbangkan dalam hal ini adalahdengan memantau dan mendinginkan perikanan laut dalam, karenabeberapa jenis ikan laut dalam kemungkinan besar akanmempengaruhi suhu laut global, dan kemudian suhu permukaanglobal cenderung meningkat.   Abstract In a previous article in a Journal, with title: “How Shannon Entropyperspective provides link among exponential data growth, averagetemperature of the Earth, declining Earth magnetic field, and globalconsciousness” (BPAS Section F, Geology, 2019), we discussedamong other things that the sunspot data seems to indicate that theSun is likely to enter Maunder Minimum, then it will mean that low Sun activity may cause low temperature in Earth, while in themeantime we experience increasingly high Earth surfacetemperature. We shall also keep in mind impending global climatechanges in the near future (cf. Toffler, The Eco-spasm report, 1975).This phenomenon then causes us to ask: what can we do as humanbeing in Earth to postpone or avoid the worsening situation in termsof Earth cooling temperature in the coming years? We think this is amore pressing problem for the real and present danger that we arefacing in the Earth. As we discussed earlier, we would discuss here alow temperature physics approach to early Universe along with thisearth, which seems to be linked to paleo-astrogeological process ofour Earth, along with a model Sun-Earth interaction in terms ofShannon entropy. Since Shannon entropy can be expressed as bits ofinformation, then it would mean that perhaps we can do somethingwith Earth temperature by controlling the amount of informationtransfer and storage in the Earth. An alternative way that can beconsidered in this regard is to monitor and cool deep-ocean fisheries,because several kind of deep-sea fishes are likely to affect the globalsea temperature, and then the global surface temperature tends toincrease.
Maldonado, G. Transformasi Supernatural Christianto, Victor
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 7 No. 2 (2024): How The Holy Spirit renew our Earth and our hearts
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v7i2.161

Abstract

Segala sesuatu berasal dari hati, demikianlah kira-kira pesan bukuini jika diringkaskan. Hal ini tampak tepat khususnya jika dihubungkandengan firman Yesus, bahwa bukan yang masuk ke dalam mulut yangmembuat orang najis, namun apa yang keluar dari mulut (karena ituberasal dari hati)
Teologi Misi Pentakostal; Isu-isu Terpilih Gulo, Rezeki Putra
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 7 No. 2 (2024): How The Holy Spirit renew our Earth and our hearts
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v7i2.163

Abstract

.
Sudut pandang Pendidikan Agama Kristen terhadap Teori Pavlov mengenai belajar cara Classical Conditioning Lawolo, Andianus; Zebua, Fentri Oktaviani; Lahagu, Ribca Septiani; Sababalat, Ariswanto; Hasibuan, Nelson
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 8 No. 1 (2024): Pentakostalisme dan moderasi beragama
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v8i1.156

Abstract

Artikel ini membahas tentang perspektif pendidikan agama Kristen terhadap teori Pavlov mengenai cara belajar classical conditioning. Dalam teorinya Pavlov tidak mengakui bahwa manusia memiliki roh dalam teorinya. Pavlov menyamakan manusia seperti binatang yang hanya terdiri dari tubuh dan pikiran. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami siapa manusia sebagai makhluk hidup dan perbedaannya dengan makhluk lain. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa manusia merupakan makhluk yang unik dan mulia diantara makhluk lain (Mzm. 139:13-14). Manusia, makhluk yang terdiri dari roh, jiwa dan tubuh (1 Tes. 5:23), sehingga manusia menjadi makhluk yang memiliki hidup kekal setelah kematian di bumi saat ini. Manusia adalah ciptaan Allah yang sempurna diantara ciptaan-Nya, karena manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kej. 1:26-27). Selain itu, Allah memberi kuasa kepada manusia untuk memelihara dan menjaga makhluk hidup lainnya (binatang dan tumbuhan) juga bumi ini. Inilah keunikan manusia sebagai makhluk progresif yang harus berjuang untuk mencapai tujuan hidup, yaitu memuliakan atau menyenangkan hati Allah.
Membentuk Identitas Kristen yang Toleran: Pendidikan Moderasi Beragama sebagai Pilar Kebhinekaan Gulo, Rezeki Putra; Mbelanggedo, Nelci; Padakari, Seprianus
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 8 No. 1 (2024): Pentakostalisme dan moderasi beragama
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v8i1.166

Abstract

Artikel ini mengkaji peran pendidikan Kristen dalam membentuk identitasKristen yang toleran melalui penerapan konsep moderasi beragama sebagaipilar kebhinekaan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnyatantangan keberagaman di tengah masyarakat multikultural, yangmemerlukan pendekatan pendidikan yang mampu menanamkan nilai-nilaitoleransi. Salah satu masalah utama yang diidentifikasi adalah kurangnyaintegrasi moderasi beragama dalam kurikulum pendidikan Kristen, yangberpotensi memperlebar kesenjangan antar kelompok agama. Denganmenggunakan metode penelitian kualitatif, riset ini mengumpulkan datamelalui analisis pustaka dan fenomenologi. Tujuan penelitian ini adalahmerumuskan model pendidikan Kristen yang mampu membentuk identitastoleran dan inklusif. Novelty penelitian terletak pada pengembangankonsep pendidikan Kristen berbasis moderasi beragama yang belumbanyak dieksplorasi dalam literatur sebelumnya. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa penerapan moderasi beragama dalam pendidikan Kristen secara signifikan dapat memperkuat nilai-nilai kebhinekaan danmenciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan inklusif.    Abstract This article examines the role of Christian education in shaping a tolerant Christian identity through the application of religious moderation as a pillar of diversity. The research is motivated by the increasing challenges of diversity in multicultural societies, which require an educational approach that can instill values of tolerance. The main issue identified is the lack of integration of religious moderation in Christian education curricula, which has the potential to widen gaps between religious groups. Using qualitative research methods, this study collected data through literature analysis and phenomenology. The purpose of this research is to formulate a model of Christian education capable of shaping a tolerant and inclusive identity. The novelty of this research lies in the development of a Christian education concept based on religious moderation, which has not been widely explored in previous literature. The findings indicate that the application of religious moderation in Christian education can significantly strengthen the values of diversity and create a more harmonious and inclusive society.
Konsep tentang Tuhan dan Keterpautan Model Relasi dengan Tradisi Kristiani dalam Upacara Wuat Wa’i Orang Manggarai Solosumantro, Heribertus; Eugenius Besli; K. Sahputra, Thomas
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 8 No. 1 (2024): Pentakostalisme dan moderasi beragama
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v8i1.167

Abstract

Abstract This paper is a qualitative descriptive that explains the concept of God and the linkage of the relationship model with the Christian tradition in the wuat wa'i ceremony of the Manggarai people. The view of God as the highest being in the life of the Manggarai people reveals a reality of life between human faith and God the Creator and Ruler, the God who is involved and the eternal God. The dynamics of the life of the Manggarai people who adhere to local traditions and the influence of the Church link the situation where the Manggarai people place an intimate relationship with God the Universe. The results of writing using qualitative methods show that there are several concepts of the Manggarai people about God found in the wuat wa'i ceremony: God is the creator and ruler, God who is involved and God who is eternal. Furthermore, there are two relationship models that build the Manggarai Community in the wuat wa'i ceremony: Symbolic relations and the concept of Mediatorship. It was also found that the view that explains the symbols shows the relationship of the unity of life experience through the concept of mediatorship between the power of God and the struggle of the Manggarai people to find the God of the Manggarai people through rites that are carried out collectively. Thus, the wuat wa’i ritual of the Manggarai people underlines the power of immanence that enlightens the hearts and minds of humans in their journey to find God in the concepts and relationships that are built. Keywords: God, Wuat Wa’i, Christian Tradition, Manggarai. Abstrak Tulisan ini merupakan deskriptif kualitatif yang menjelaskan konsep tentang Allah dan keterpautan model relasi dengan tradisi Kristiani dalam upacara wuat wa’i orang Manggarai. Pandangan Allah sebagai wujud tertinggi dalam kehidupan orang Manggarai mengungkapkan suatu realitas kehidupan antara iman manusia dengan Allah Pencipta dan Penguasa, Allah yang terlibat dan Allah yang abadi. Dinamika kehidupan orang Manggarai yang berpegang pada tradisi lokal dan pengaruh Gereja menautkan situasi tempat orang Manggarai menaruh relasi yang intim dengan Allah Semesta. Hasil penulisan dengan penggunaan metode kualitatif menunjukkan bahwa ada beberapa konsep orang Manggarai tentang Tuhan yang ditemukan dalam upacara wuat wa’i: Allah adalah pencipta dan penguasa, Allah yang terlibat dan Allah yang abadi. Lebih lanjut, terdapat dua model relasi yang membangun Masyarakat Manggarai dalam upacara wuat wa’i: Relasi simbolik dan konsep Kepengantaraan. Ditemukan juga bahwa pandangan yang menjelaskan simbol-simbol menunjukkan relasi persatuan pengalaman hidup lewat konsep kepengantaraan antara kekuatan Allah dan perjuangan orang Manggarai menemukan Allah orang Manggarai lewat ritus-ritus yang dilakukan secara kolektif. Dengan demikian, ritus wuat wa’i orang Manggarai menggarisbawahi kekuatan imanensi yang mencerahkan hati dan pikiran manusia dalam perjalanannya menemukan Allah dalam konsep dan relasi yang dibangun. Kata Kunci: Allah, Wuat Wa’i, Tradisi Kristiani, Manggarai.
ANALISIS TEOLOGIS TERHADAP PEMAHAMAN ONENESS PENTECOSTAL TENTANG TUHAN MELALUI LENSA PENGAKUAN IMAN OIKOUMENIS Marpaung, Welko; Fransisco, Vido
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 8 No. 1 (2024): Pentakostalisme dan moderasi beragama
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v8i1.171

Abstract

The Pentecostal Oneness’ view of God significantly deviates from thedoctrine of the Trinity. However, it is precisely this concept ofunderstanding that most of Trinitarian Pentecostal Christians indirectlyunderstand the concept of the Godhead. Oneness Pentecostals reject theconcept of the Trinity by teaching that God is one person revealed in JesusChrist, with no personal distinction between the Father, Son, and HolySpirit. This rejection creates fundamental theological differences thataffect Christians' understanding of the nature of God. This study aims toanalyze the Pentecostal Oneness’ doctrine of God through the lens of theoikoumenical creeds, which represents the Trinitarian view. The resultsshow that the Pentecostal Oneness teaching carries theologicalimplications that contradict the doctrine of the Trinity affirmed in theOikoumenical Creeds. Through theological analysis, it was found that thedoctrine of Oneness misleads Trinitarian Pentecostal Christians' view ofGod, which should be understood within the framework of the Trinity. Thisresearch emphasizes the significance of maintaining the doctrine of theTrinity and provides direction for the churches to respond appropriately tothe Pentecostal Oneness teaching to avoid distortion in theologicalteaching.
A preliminary stylometric analysis of the Four Gospels in order to prove literary independence instead of the Synoptic Problem Christianto, Victor
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 8 No. 1 (2024): Pentakostalisme dan moderasi beragama
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v8i1.173

Abstract

As we discussed in a forthcoming article, there is an alternative hypothesisthat can be considered in lieu of the so-called Baur’s Tuebingen school, thatis the formative years of Earliest Christianity led to such notion of synthesisbetween Petrine Christianity and Pauline Christianity. Instead, we consider a branching process, which can be considered alternatively as spreadingnetwork even to Asia and Europe at the time. Corresponding to the hypothesis is that the four witnesses who worked on at the period to write down the four Gospels were more likely to write independently. In the meantime, this hypothesis does not exclude possibility that they ever met in person, at the First Council in Jerusalem as depicted in the book of Acts chapter 15, or before, or after that event.
Mari mengenal arkeologi Alkitab, D.L. Baker & John J. Bimson Christianto, Victor
Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) Vol. 8 No. 1 (2024): Pentakostalisme dan moderasi beragama
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, East Java

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54345/jta.v8i1.174

Abstract

Among the books on Biblical Archaeology, this book is especially useful for beginning readers. According to the authors of this book, the archaeology of the biblical lands, in the modern sense of a science, actually emerged only in the late 19th century.

Page 10 of 11 | Total Record : 107