cover
Contact Name
Bobby Kurnia Putrawan
Contact Email
jurnaldidache@gmail.com
Phone
+628176907033
Journal Mail Official
jurnalrerum@gmail.com
Editorial Address
Matana University Tower Lantai 7 Jalan CBD Barat Kav.1 Kelapa Dua Tangerang, Banten 15810
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Didache : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
ISSN : -     EISSN : 27152758     DOI : https://doi.org/10.46362/didache
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani (e-ISSN: 2715-2758) merupakan jurnal ilmiah teologi dengan perspektif Praktika Alkitabiah yang menjadi wadah ilmiah untuk jurnal akademik dengan multidisiplin ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Teologi Moriah bersama Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia. Fokus dan Ruang Lingkup Artikel yang dimuat dalam Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani memiliki fokus dan scope pada teologi pendidikan agama Kristen, teologi pastoral, kepemimpinan Kristen, misi, dan manajemen gereja. Penerbitan jurnal ini akan dilakukan dalam satu tahun sebanyak dua kali terbit yaitu pada bulan Juni dan Desember.
Articles 77 Documents
MENINGKATKAN KARAKTER MENGHORMATI ORANG TUA LEWAT PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN UNTUK ANAK USIA SEKOLAH DASAR Santia Santia; Tarisih Naat; Lionarto Erson Jayadi
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 2 (2021): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.2, No.2, June 2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v2i2.45

Abstract

It is very important for children to have character in respecting their parents. In the formation of the child's character certainly does not happen by itself, but needs the help of others. Not only parents, Christian religious education, has an important role in shaping the character of children. The formation of character through school should also be considered in school, education is not only about subjects that only focus on the acquisition of cognitive abilities but also the cultivation of Christian values. In this paper, the author uses the method of literature study in solving the problem of how to increase the character of respect for parents through Christian religious education for primary school children. The results of this study are respect for parents is an attitude that needs to be instilled in elementary school children, so that they can socialize well in society. Character education for elementary school children through Christian religious education is the key in changing the younger generation for the better. Penting sekali untuk anak mempunyai karakter dalam menghormati orang tua. Dalam pembentukan karakter anak tentu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan butuh bantuan orang lain. Bukan hanya orang tua, pendidikan agama Kristen, punya peran penting dalam membentuk karakter anak-anak. Pembentukan karakter melalui sekolah juga harus di perhatikan di sekolah, pendidikan tidak semata-mata tentang mata pelajaran yang hanya mementingkan diperolehnya kemampuan kognitif tetapi juga penanaman nilai-nilai kristiani. Dalam tulisan ini penulis menggunakan metode studi pustaka dalam memecahkan permasalahan mengenai bagaimana meningkatkan karakter menghormati orang tua lewat pendidikan agama Kristen untuk anak sekolah dasar. Hasil penelitian ini adalah menghormati orang tua merupakan sikap yang perlu ditanamkan ke anak Sekolah Dasar, sehingga mereka dapat bersosialisasi dengan baik di masyarakat. Pendidikan karakter pada anak Sekolah Dasar lewat pendidikan agama Kristen menjadi kunci dalam perubahan generasi muda yang lebih baik
PEMBINAAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM PENDIDIKAN KARAKTER PESERTA DIDIK DI SEKOLAH Ella Tesalonika Mbeo; Andreas Bayu Krisdiantoro
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 1 (2021): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.3, No.1, December 2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v3i1.46

Abstract

Teacher character is an important part that cannot be separated from the lives of students. Therefore, the need for good teacher characteristics is very important to forming good and commendable students. It should be realized that most students currently experience character crisis problems, whereas peseta students are not controlled by the influence of the development of science and technology. Seeing this, this study aims to explain the development of the Christian religious education teacher to the formation of the character of the club to recognize the Christ Jesus in accordance with the teachings of the Bible. The method used in this study is a descriptive qualitative research method. The results of this study show that Christian education teachers have the role of transferring knowledge and character to students, thus having an impact on the growth of students' faith.   Karakter guru merupakan bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan peserta didik. Oleh karena itu perlunya karakter guru yang baik sangat berperan penting untuk membentuk karakter peserta didik yang baik dan terpuji. Perlu disadari bahwa saat ini sebagian besar peserta didik mengalami masalah krisis karakter, di mana peseta didik tidak terkontrol oleh pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melihat hal ini, penelitian ini bertujuan menjelaskan pembinaan guru Pendidikan Agama Kristen terhadap pembentukan karakter perserta didik untuk mengenal Kristus Yesus secara benar sesuai dengan ajaran Alkitab. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitaif deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah guru Pendidikan Agama Kristen memiliki peran mentransfer pengetahuan dan karakter kepada peserta didik, sehingga memiliki dampak pada pertumbuhan iman peserta didik.
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERKEMBANGAN MORAL PESERTA DIDIK Novida Dwici Yuanri Manik; Yusak Tanasyah
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 1 (2020): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.1, No.2, December 2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v2i1.41

Abstract

The development of the times demands the intellectual development of humans to be able to compete in the world of work and in living a life of service. However, there are things that are far more important than just intellectual, such as morals and character. Without good morals, all the knowledge gained will not be able to have a good impact on the world of work and service. Information is important, but the cultivation of good morals needs to be taught as early as possible starting from the family and teachers at school. The concept of Christian ethical philosophy is important to be the philosophical underlying foundation of character and moral education. Everything related to teaching character and morals requires cooperation between educators in the family and school. So it is hoped that the provision of useful information to develop the intellectuals of students, in line with the cultivation and application of Christian and moral character.   Perkembangan zaman menuntut perkembangan intelektualitas manusia untuk mampu bersaing di dunia kerja dan dalam menjalani kehidupan yang mengabdi. Namun, ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar intelektual, seperti akhlak dan budi pekerti. Tanpa akhlak yang baik, segala ilmu yang didapat tidak akan mampu memberikan dampak yang baik bagi dunia kerja dan pengabdian. Informasi memang penting, namun penanaman akhlak yang baik perlu diajarkan sedini mungkin dimulai dari keluarga dan guru di sekolah. Konsep filsafat etika Kristen penting untuk menjadi landasan filosofis yang mendasari pendidikan karakter dan moral. Segala sesuatu yang berkaitan dengan pengajaran budi pekerti dan akhlak memerlukan kerjasama antara pendidik di lingkungan keluarga dan sekolah. Sehingga diharapkan pemberian informasi yang bermanfaat untuk mengembangkan intelektualitas siswa, sejalan dengan penanaman dan penerapan karakter kristiani dan moral.
PEMIMPINAN YANG MEMBERDAYAKAN: Perspektif Kepemimpinan Kristen Yaterorogo Zebua
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 1 (2021): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.3, No.1, December 2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v3i1.50

Abstract

There are many things that need to be learned, not just theories and teachings that contribute to increasing knowledge and intellectuals. And all of that really needs to be thought about, but we also need to realize that our lives cannot be separated from the concept of leadership. John Maxwell has a view that leadership is self-management and a lifestyle. So, whether we realize it or not, actually everyone has the potential to lead. The research method used is descriptive qualitative with literature analysis associated with the topic of discussion. The result is at a simple level everyone has the right to lead himself. At the next level one can lead the community and even a group of structured and planned organizations. At the next level a person can lead a community and even a group of structured and planned organizations. Many people get out of bed every morning and ask what they can do to show and tell people about Jesus, to make those people become true disciples of God and they themselves behave like true disciples of God. true too. Therefore, it is very necessary to have an empowerment for their lifestyle and mindset.   Ada banyak hal yang perlu dipelajari, bukan hanya teori dan ajaran yang berkontribusi pada peningkatan pengetahuan dan intelektual. Dan semua itu benar-benar perlu dipikirkan, tetapi kita juga perlu menyadari bahwa hidup kita tidak dapat dipisahkan dari konsep kepemimpinan. John Maxwell memiliki pandangan bahwa kepemimpinan adalah manajemen diri dan gaya hidup. Jadi, apakah kita menyadarinya atau tidak, sebenarnya semua orang berpotensi memimpin. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif desktriptif dengan analisis literatur yang terkait dengan topik pembahasan. Hasilnya adalah adalah pada tingkat sederhana setiap orang memiliki hak untuk memimpin sendiri. Pada tingkat berikutnya seseorang dapat memimpin komunitas dan bahkan sekelompok organisasi terstruktur dan terencana. Banyak orang bangun dari tempat tidur setiap pagi dan bertanya apa yang dapat mereka lakukan untuk menunjukkan dan memberi tahu orang-orang tentang Yesus, untuk membuat orang-orang itu menjadi murid sejati Allah dan mereka sendiri berperilaku seperti murid Allah yang sejati. Oleh karena itu, sangat diperlukan untuk memiliki pemberdayaan untuk gaya hidup dan pola pikir mereka.
PENGARUH PENDIDIKAN KARAKTER ANAK USIA DINI PADA KELUARGA YANG TIDAK MEMILIKI AYAH Sriwadi Banu; Novida Dwici Yuanri Manik
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 1 (2021): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.3, No.1, December 2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v3i1.49

Abstract

Character education for early childhood who live only with single parents or who do not have a father, where the father of the family is still alive but has a different place of residence. Therefore he does not play a role as a father in the upbringing of a child. Through this journal, the author wants to describe the character education of a child in a fatherless family. Where in the family a child should receive character education, protection, and complete attention from parents at an early age. This paper is a literature review using a historical approach. The absence of a father figure in the family makes children lose attention, affection, and one of the roles of parents that are lacking in the family, especially in a child. As parents, always instill character education and Christian values ??in children through actions and habits and explanations. In the practice of character education in a family without a father, the mother will involve other parties such as grandfather, grandmother and the closest people in the family to help educate character, and look after children. Every obstacle experienced by a mother in carrying out her role as a housewife as well as having to be a father to support children. For this reason, the character of children who have been formed from family education without a father will make children independent, not spoiled, and obedient children.   Pendidikan karakter untuk anak usia dini yang hidup hanya dengan orang tua tunggal atau yang tidak memiliki ayah, dimana ayah dari keluarga tersebut masih hidup namun memiliki tempat tinggal yang berbeda. Oleh sebab itu ia tidak berperan sebagai ayah dalam pengasuhan seorang anak. Melalui jurnal ini, penulis ingin menjabarkan tentang pendidikan karakter seorang anak dalam keluarga tanpa ayah. Dimana seharusnya dalam keluarga seorang anak mestinya mendapatkan pendidikan karakter, perlindungan, serta perhatian dari orang tua lengkap di usia dini. Tulisan ini merupakan kajian pustaka dengan menggunakan pendekatan historis. Ketidakhadiran sosok seorang ayah dalam keluarga membuat anak kehilangan perhatian, kasih sayang, dan salah satu peran orang tua yang kurang di dalam keluarga terkhususnya dalam diri seorang anak. Sebagai orang tua, selalu menanamkan pendidikan karakter serta nilai-nilai Kristiani terhadap anak melalui tindakan dan pembiasaan serta penjelasan. Dalam praktik pendidikan karakter dalam keluarga tanpa seorang ayah, ibu akan melibatkan pihak lain seperti kakek, nenek dan orang terdekat yang ada dalam keluarga untuk membantu mendidik karakter, dan menjaga anak. Setiap kendala yang dialami oleh seorang ibu dalam menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga sekaligus harus menjadi ayah untuk menafkahi anak. Untuk itu, karakter anak yang telah dibentuk dari pendidikan keluarga tanpa adanya seorang ayah, akan menjadikan anak menjadi mandiri, tidak manja, serta anak yang penurut.
CHARACTER EDUCATION IN FORMING STUDENT BEHAVIOR: A Viewpoint of Christian Religious Education Learning Ester A. Tandana; Esti Koku Yowa; Novida Dwici Yuanri Manik
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 2 (2022): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.3, No.2, June 2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v4i1.48

Abstract

Educational institutions become a central place to shape the character of children who are better than before through character education. Character education is a process of forming students into human beings with good character intact in the dimensions of reason, thinking, healthy, physically, spirituality, and a human heart. Character education carves the morals of students through the process of knowing goodness, loving-kindness, and practicing goodness. The process involves cognitive, emotional, and physical aspects so that noble character can be realized and carved into habits of the mint, heart, and hands. People who have a knowledge and knowledge orientation based on faith in Jesus Christ. A teacher carries out character education learning in the teaching and learning process by making students formulate questions actively, find learning resources, collect information, reconstruct facts, and present the results of reconstruction or improvement. Learning character education must be carried out by teachers by planning, implementing, and evaluating Christian religious education teachers not only provide information or knowledge to their students but Christian religious education teachers are expected to be able to guide and set good examples for students so that they can imitate and indirectly shape the character of children. In this paper, the author uses the literature study method to solve the problems in this research. This aims to find out how character education in shaping the behavior of students through learning Christian religious education. The results of the research are in building character, Christian Religious Education content must place Jesus Christ as the center of life and become the perfect role model for the character in their lives.   Lembaga pendidikan menjadi tempat sentral untuk membentuk karakter anak yang lebih baik dari sebelumnya melalui pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan proses membentuk peserta didik menjadi manusia yang berkarakter baik utuh dalam dimensi akal, budi pekerti berpikir, sehat jasmani, rohani, dan berhati manusia. Pendidikan karakter mengukir akhlak peserta didik melalui proses mengetahui kebaikan, mencintai kebaikan, dan mengamalkan kebaikan. Proses tersebut melibatkan aspek kognitif, emosional dan fisik, sehingga akhlak mulia dapat terwujud mengukir menjadi kebiasaan pikiran, hati, dan tangan. Orang yang memiliki orientasi ilmu dan pengetahuan yang dilandasi dengan iman kepada Yesus Kristus. Seorang guru melaksanakan pembelajaran pendidikan karakter dalam proses belajar mengajar dengan cara: membuat peserta didik merumuskan pertanyaan secara aktif, menemukan sumber belajar, mengumpulkan informasi, merekonstruksi fakta, dan menyajikan hasil rekonstruksi atau perbaikan. Pembelajaran pendidikan karakter harus dilakukan oleh guru dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Guru pendidikan agama Kristen tidak hanya memberikan informasi atau pengetahuan saja kepada anak didiknya akan tetapi guru pendidikan agama Kristen diharapkan mampu untuk membimbing dan memberikan contoh yang baik kepada anak didik sehingga mereka dapat meneladani dan secara tidak langsung membentuk karakter anak. Dalam tulisan ini penulis menggunakan metode studi pustaka untuk memecahkan permasalahan dalam penelitian ini. Hal ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pendidikan karakter membentuk perilaku peserta didik melalui pembelajaran pendidikan agama Kristen. Hasil penelitian adalah dalam membangun karakter, konten Pendidikan Agama Kristen harus menempatkan Yesus Kristus sebagai pusat kehidupan dan menjadi panutan yang sempurna bagi karakter dalam kehidupan mereka.
PARADIGMA ‘TEOLOGI FEMINIS’ YANG TIDAK RELEVAN DENGAN KETETAPAN TUHAN: Suatu Respon Empiris Dari Perspektif Injili Youke L. Singal; Radjiman Sirait
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 2 (2022): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.3, No.2, June 2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v3i2.51

Abstract

The presence of feminist theology has shaken both the church and the general public. They assume that many men occupy positions and positions that are "more" than women, both in church, state and community organizations. Feminism was originally in the form of a "movement" turned into a "theological teaching" which interprets the contents of the Bible by strengthening and directing the existence of women, where this paradigm is different from the interpretation in general as a set of axioms. So this paper aims to highlight the feminist theological paradigm in terms of biblical provisions, by looking at and understanding empirically and biblical teachings. The writing method in this article is descriptive qualitative research with the field of contextual theology. The results of this study are first, women avoid the issues that raise that men are more powerful and or masters than women and women servants. Second, feminist theology will not be formed if women understand God's heart through the Word of God in the Bible. Third, the feminist movement has had a positive influence by opening the eyes of not only men but also women, that society needs this gender participation.   Hadirnya teologi feminis  cukup menggoncangkan gereja dan masyarakat umum. Mereka beranggapan orang laki-laki banyak menempati posisi dan kedudukan yang “lebih” dari perempuan, baik dalam organisasi gereja, Negara, dan masyarakat. Feminis awalnya berbentuk “gerakan” berubah menjadi “ajaran teologi” dimana menafsir isi Alkitab dengan menguatkan dan mengarahkan pada eksistensi perempuan, dimana paradigma ini berbeda dengan penafsiran pada umumnya sebagai ketetapan aksioma. Maka tulisan ini bertujuan menyoroti paradigma teologi feminis dari segi ketetapan Alkitab, dengan melihat dan  memahami secara empiris dan ajaran  Alkitab. Metode penulisan pada artikel ini adalah penelitian kualitatif deskripsi dengan bidang kajian teologi kontekstual. Hasil dari penelitian ini adalah pertama, perempuan menghindari dari isu-isu yang membesarkan bahwa laki-laki lebih berkuasa dan atau tuan dari perempuan dan perempuan hamba. Kedua, teologi feminis tidak akan terbentuk apabila perempuan memahami hati Tuhan melalui firman Tuhan Alkitab. Ketiga, gerakan feminis telah memberikan pengaruh positif dengan membuka mata tidak hanya laki-laki tetapi juga perempuan, bahwa  masyarakat membutuhkan partisipasi gender ini.
PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN KEMISKINAN: Analisa Teologi Etika Kristen Pada Masalah Ekonomi Dan Ekologi Selatieli Sihura
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 2 (2022): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.3, No.2, June 2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v3i2.52

Abstract

Advances in science have brought great changes in human life. Progress has brought mankind on earth to be king over all of God's creation. Genesis 1:28 has been understood indefinitely; Humans feel they have great power on earth, as a result, the earth suffers, nature cries because the earth is the object of exploitation of scientific progress. Humans have an increasing desire to dominate and exploit the earth. Greed becomes a lifestyle and indifference to others and the environment as if it is a normal thing and is tolerated. Even though it is undeniable that scientific progress has brought new hope for humans, humans have become wild animals for their natural environment and for each other. This study aims to analyze poverty as an economic and ecological problem in which human actions on the natural environment are involved, humans are the main actors of all life activities. The writing method used is Christian ethical theology with an approach to economic theology and ecological theology. The results of this paper are first, humans feel they have great power to change the world and the universe, resulting in environmental damage and poverty. Second, poverty is considered a personal problem and not a social problem, so they feel they do not have a social responsibility to help the poor. Third, technological advances have brought many changes, both positive and negative.   Kemajuan ilmu pengetahuan telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Kemajuan telah membawa umat manusia di bumi menjadi raja atas segala ciptaan Tuhan. Kejadian 1:28 telah dipahami secara bebas tanpa batas; manusia merasa memiliki kekuasaan yang besar di bumi, akibatnya bumi menjadi menderita, alam menangis karena bumi menjadi obyek eksploitasi kemajuan ilmu pengetahuan. Manusia memiliki hasrat yang meningkat untuk menguasai dan mengeksploitasi bumi. Keserakahan menjadi gaya hidup dan ketidakpedulian terhadap sesama dan lingkungan seakan suatu hal biasa dan ditolerir. Sekalipun tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan ilmu pengetahuan telah membawa pengharapan baru bagi manusia, namun dibalik itu juga manusia telah menjadi binatang buas bagi alam lingkungannya dan bagi sesamanya. Kajian ini bertujuan untuk menganalisa kemiskinan sebagai masalah ekonomi dan ekologi di mana di dalamnya tercakup tindakan manusia terhadap lingkungan alam, manusia menjadi pemeran utama dari keseluruhan aktifitas kehidupan tersebut. Metode penulisan yang digunakan adalah bidang teologi etika Kristen dengan pendekatan teologi ekonomi dan teologi ekologi. Hasil dari penulisan ini adalah pertama, manusia merasa memiliki kuasa besar untuk mengubah dunia alam semesta, akibatnya terjadi kerusakan lingkungan dan kemiskinan. Kedua, kemiskinan dianggap sebagai masalah pribadi dan bukan masalah sosial, sehingga merasa tidak memiliki tanggung jawab sosial masyarakat dalam membantu orang miskin. Ketiga, kemajuan teknologi telah membawa banyak perubahan baik secara positip maupun negatif.
TEXT AND BIBLE CANONIZATION: Discussion of the Confession of the Bible Canon and Its Implications for the Church Dapot Damanik; Lasmaria Nami Simanungkalit
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 2 (2022): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.3, No.2, June 2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v3i2.53

Abstract

God uses the Bible as a means of introducing himself in a special way (a special revelation to people who want to believe). The writers of this Bible are human beings who at the time of writing have been or are being controlled by the Holy Spirit. Even though they did the writing for a specific purpose, these writings were history for the next generation, giving advice, making poetry but in the end the canon team found that the writing was authoritative as the word of God. The importance of textual alignment and canonization of the Bible is due to the many interpretations of various theological circles. The purpose of this study is to discuss the text (books) and the canonization of the Bible and how it implies for Christians. The method in this research uses a qualitative approach with a literature study in the field of systematic theology. The result is that the determination of the canon is very important, because in this way the church states frankly, that the future of God's revelation begins in the Old Testament and ends in the New Testament. The canon of the Bible is central to the life of a Christian, because it is related to the scriptures.   Tuhan memakai Alkitab Sebagai sarana dalam memperkenalkan diri secara khusus (penyataan khusus kepada manusia yang mau percaya). Para penulis dari Alkitab ini adalah manusia yang saat melakukan penulisan telah atau sedang dikuasai oleh Roh Kudus. Walaupun mereka melakukan penulisan tersebut untuk tujuan tertentu, tetapi tulisan-tulisan tersebut mensejarahkan kepada generasi berikut, memberikan nasehat, membuat syair tetapi pada akhirnya tim kanon menemukan bahwa ternyata tulisan tersebut berwibawa sebagai firman Tuhan. Pentingnya pelurusan terhadap teks dan kanonisasi Alkitab disebabkan oleh banyaknya interpretasi berbagai kalangan teologi. Tujuan Penelitian ini adalah mendiskusikan teks (kitab-kitab) dan kanonisasi Alkitab dan bagaimana implikasinya bagi umat Kristen. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi literatur bidang teologi sistematika. Hasilnya adalah penetapan kanon tersebut sangat penting, sebab dengan demikian gereja menyatakan dengan berterus terang, bahwa masa depan penyataan Tuhan diawali dalam Perjanjian Lama dan telah diakhiri dengan Perjanjian Baru. Kanon Alkitab merupakan hal yang sentral dalam kehidupan orang Kristen, karena hal tersebut berkaitan dengan kitab suci.
SUFFERING FROM GOD? Reflections on I Peter 4:13–29 For Christians Ludwig Beethoven Jones Noya; Bobby Kurnia Putrawan
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 2 (2022): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.3, No.2, June 2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v3i2.54

Abstract

Suffering is an integral part of the status of a believer because the condition of following Christ is the Cross and leaving something, so suffering is the most important part of Christian teaching. Suffering is a fact that exists in every life in life without limits both believers and non-believers, but suffering for believers has a different meaning. The method used in this paper is a theological method with biblical theology studies. In I Peter 4: 13-29 the meaning of suffering for believers is explained, namely: first, as a test of faith to develop perseverance in the believer so that faith becomes stronger after going through purification and producing perseverance and the maturity of faith. Second, suffering for believers aims to glorify God, because through suffering and how to respond by staying grateful and joyful the Spirit of glory is in the believer. Third, suffering is God's will, because God is sovereign over all things and sustains all things with His powerful Word. In this study, the author examines and analyzes suffering for believers in terms of the theological meaning of suffering by exposing the text of I Peter 4: 13-27.   Penderitaan merupakan bagian integral dari status umat Kristenkarena syarat mengikut Kristus adalah salib dan meninggalkan sesuatu, maka penderitaan adalah bagian terpenting dari ajaran Kristen. Penderitaan merupakan fakta yang ada dalam setiap kehidupan dalam kehidupan tanpa batas baik yang beriman maupun yang tidak beriman, namun penderitaan bagi orang yang beriman memiliki arti yang berbeda. Dalam penelitian ini, penulis mengkaji dan menganalisis penderitaan bagi orang percaya ditinjau dari makna teologis penderitaan dengan memaparkan teks I Petrus 4:13-27.Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode teologis dengan kajian teologi biblika. Hasilnyadalam I Petrus 4:13-29 dijelaskan pengertian penderitaan bagi orang percaya, yaitu: pertama, sebagai ujian iman untuk mengembangkan ketekunan dalam diri orang percaya sehingga iman menjadi lebih kuat setelah melalui pemurnian dan menghasilkan ketekunan dan kedewasaan iman. Kedua, penderitaan bagi orang percaya bertujuan untuk memuliakan Tuhan, karena melalui penderitaan dan cara menyikapinya dengan tetap bersyukur dan bersukacita Roh kemuliaan ada pada orang percaya. Ketiga, penderitaan adalah kehendak Tuhan, karena Tuhan berdaulat atas segala sesuatu dan menopang segala sesuatu dengan Firman-Nya yang penuh kuasa.