Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni adalah jurnal Nasional yang diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan Juni dan Desember dengan (E-ISSN 2620-8598). Jurnal ini menerbitkan artikel ilmiah tentang : 1. Pendidikan seni 2. Seni Drama 3. Seni Musik 4. Seni Tari 5. Seni Rupa 6. Media Pembelajaran Seni 7. Seni Budaya 8. Sejarah Seni 9. Antropologi Seni Artikel dapat ditulis dalam bahasa Inggris, atau bahasa Indonesia.
Articles
81 Documents
Analisis Pembelajaran Instrumen Gesek Biola Grade I Di Sekolah Musik Simphony Music Kota Tasikmalaya
Yuda Yuda;
Denden Setiaji;
Asti Tri Lestari
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 5 No. 1 (2022): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35568/magelaran.v5i1.1501
Di Kota Tasikmalaya terdapat beberapa sekolah musik khusus atau kursusan yang memfokuskan peserta didik dalam bidang pembelajaran seni musik yang sedang dijalani serta diminati oleh peserta didik tersebut. Yang mana di dalamnya mempelajari salah satu alat musik seperti piano, gitar akustik, gitar klasik, saxsophone, alat gesek seperti biola, cello, viola, dan alat musik yang lainya disesuaikan dengan minat dan bakat peserta didik. Simphony Music School, merupakan salah satu sekolah musik khusus di Kota Tasikmalaya yang menyelenggarakan pembelajaran khusus alat musik gesek biola yang terbagi menjadi beberapa tahapan atau biasa disebut per-grade, yang mana ini menjadi suatu ketertarikan bagi peneliti untuk meneliti secara langsung proses pembelajaran alat gesek biola dari grade I hingga lanjutannya. Di samping masih jarangnya minat serta bakat masyarakat Kota Tasikmalaya khususnya para generasi muda yang berkeinginan untuk mempelajari alat gesek biola, peneliti berharap dengan adanya hasil penelitian ini semoga bisa memotivasi serta membantu semua orang yang berminat untuk mempelajari salah satu alat musik gesek yaitu biola. Karena penelitian ini difokuskan serta dikhususkan bagi para pemula yang ingin mempelajari alat musik gesek biola. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Analisis Motif Batik Merak Ngibing Di Rizqi Batik Collection Cigeureung Kelurahan Nagarasari Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya
Eri Puspitasari;
Wan Ridwan Husen;
Asti Tri Lestari
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 5 No. 1 (2022): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35568/magelaran.v5i1.1797
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui visualisasi motif batik merak ngibing di Rizqi Batik Collection dan warna motif batik merak ngibing yang dihasilkan Rizqi Batik Collection. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk menggambarkan dan menjelaskan masalah-masalah secara alamiah yang berkaitan dengan batik dan menganalisis hasil penelitian mengenai motif-motif batik di Rizqi Batik Collection. Instrumen yang digunakan peneliti dalam penelitian untuk menghimpun data yaitu dengan menggunakan instrumen observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Data dianalisis melalui reduksi data, display data, kesimpulan dan verifikasi.Hasil temuan dari penelitian ini adalah motif batik Merak Ngibing dengan warna sawoan, tasikan, prada dan kombinasi motif. Visual pada Motif Merak Ngibing sesuai dengan alur kehidupan pada burung merak, ragam hias yang diterapakan yaitu kesatuan antara flora dan fauna, dengan makna filosofis sepasang burung merak yang saling berhadap-hadapan melambangkan kerukunan, damai dan juga kegembiraan, tak jauh dari budaya masyarakat sunda yang selalu rukun dan bersatu. Mempunyai unsur motif utama, unsur motif tambahan, isen-isen motif dan motif pinggiran. Warna yang digunakan menggunakan zat pewarna sintetis yaitu pewarna Naphtol (garam) dan Indigosol. Dengan menampilkan warna-warna yang pastel atau cerah pada batik kombinasi.
Eksistensi Kesenian Tradisional Benjang Batok di Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran
Salwa Naqiri Ziani;
Asep Wasta;
Arni Apriani
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 5 No. 1 (2022): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35568/magelaran.v5i1.2086
Kesenian tradisional sangat perlu dipertahankan eksistensinya, agar tidak terjadi kepunahan. Salahsatu kesenian tradisional di Jawa Barat yang masih eksis sampai sekarang ialah kesenian tradisional Benjang Batok di Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran. Kesenian ini merupakan seni musik yang menggunakan batok kelapa sebagai alat musiknya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif guna menggambarkan dan menjelaskan permasalahan yang berhubungan dengan seni Benjang Batok, dan juga menganalisis hasil penelitian mengenai eksistensi dan bentuk penyajiannya. Hasil dari penelitian ini mengatakan bahwa seni Benjang Batok masih tetap eksis dari 2019 sampai sekarang dibuktikan dengan sudah semakin banyak yang meminati kesenian ini baik masyarakat sekitar maupun luar, hal ini dibuktikan dengan perkembangan kesenian yang cukup baik, undangan untuk tampil diluar kota, serta kreativitas dalam bentuk penyajian nya sudah dilakukan yaitu dengan cara mengkolaborasikan Benjang Batok dengan alat musik tradisional lain
Perubahan Fungsi Kesenian Kolotik di Kecamatan Cimaragas Kabupaten Ciamis
Vidia Fauziah Kardila;
Asep wasta;
Arni Apriani
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 5 No. 1 (2022): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35568/magelaran.v5i1.2088
Skripsi ini berjudul “Perubahan Fungsi Kesenian Kolotik di Kecamatan Cimaragas Kabupaten Ciamis”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1). latar belakang keberadaan Kesenian Kolotik di Kecamatan Cimaragas Kabupaten Ciamis. 2) Perubahan fungsi Kesenian Kolotik di Kecamatan Cimaragas Kabupaten Ciamis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik yakni mendeskripsikan apa yang peneliti peroleh di lapangan ke dalam tulisan dengan analisis dan kajian secara multidisiplin dengan bidang ilmu lainnya. Objek penelitian ini adalah Kolotik yang meliputi latar belakang keberadaan Kolotik dan perubahan fungsi Kolotik. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kolotik merupakan inovasi dari Kolotok yaitu benda yang dikalungkan pada leher hewan (sapi atau kerbau) sebagai ciri atau penanda keberadaan hewan tersebut. Fungsi pada Kolotik sebagai souvenir khas Situs Budaya Galuh Salawe, kemudian berkembang menjadi alat musik ritmis pengiring kesenian bangbaraan dan alat musik melodis. Perubahan yang terjadi disebabkan oleh faktor internal (dalam masyarakat) dan faktor eksternal (luar masyarakat), dan faktor yang mempengaruhi jalannya proses perubahan pada Kolotik yang didorong oleh: a). Kontak kebudayaan lain, b). Sistem pendidikan formal yang maju, c). Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju, d). Ketidak puasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu, e). Penduduk yang heterogen, f). Orientasi ke masa depan, dan g). Nilai bahwa manusia harus senantiasa berikhtiar memperbaiki hidupnya.
Analisis Semiotika Roland Barthes pada Pelapalan Mantra Kesenian Bebegig Sukamantri
Rudi Mulyana;
Asep Wasta;
Arni Apriani
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 5 No. 1 (2022): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35568/magelaran.v5i1.2129
Penelitian ini mencoba mengkaji seni tradional yang berada di Kabupaten Ciamis Jawa Barat yang bernama Bebegig Sukamantri. Bebegig adalah sebuah benda yang biasa disebut di berbagai daerah sebagai orang-orangan sawah yang berfungsi untu\k mengusir hama burung di sawah yang kemudian berubah menjadi sebuah bentuk kesenian daerah yang mengandung unsur seni dan magis. Nama Sukamantri diambil dari nama desa asal terlahirnya kesenian tersebut yakni Desa Sukamantri Kecamatan Sukamantri Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat. Hal yang membuat peneliti tertarik untuk mengkaji kesenian ini adalah karena mempunyai sisi unik dari kesenian diantaranya dari sudut pandang sejarah, filosofi-filosofi yang terkandung dari kostum yang digunakan serta dari pelafalan mantra yang berfungsi dan dianggap sebagai sebuah do’a serta pesan-pesan, kemudian pola pelestarian yang terbilang berhasil mempertahankan kesenian tradisional ini. Maka dari itu peneliti membatasi permasalahan pada penelitian ini melalui beberapa rumusan masalah yaitu tentang bentuk penyajian kesenian dan makna simbolik yang terkandung dari pelafalan mantra pada kesenian Bebegig Sukamantri tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Sedangkan pisau bedah penelitian ini dikupas dengan inter disiplin ilmu, diantaranya dengan kajian ilmu Anthropologi, Sosiologi dan ilmu Semiotika gaya Roland Barthes untuk mengungkap makna makna yang ada pada kesenian ini diantaranya pada pelapalan mantra mantra khas yang digunakan, Instrumen yang digunakan dalam penelitian untuk menghimpun data yaitu dengan menggunakan instrumen observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, internet dan sumber lainnya yang relevan.
Tari Kuda Lumping di Desa Kalapagenep Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya
Ami Rahma Nursiam;
Asti Tri Lestari;
Wan Ridwan Husen
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 5 No. 2 (2022): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35568/magelaran.v5i2.3659
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tari kuda lumping dalam struktur penyajian dan nilai sosial. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan subjek penelitian ini adalah ketua, anggota, dan sekertaris Sanggar Setia Asih Binangkit. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif teknik pengumpulan datanya meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah struktur penyajian tari kuda lumping meliputi gerak, busana, rias, properti, dan iringan musik. Dan nilai sosial yang terdapat pada tari kuda lumping ini meliputi solidaritas, kekompakan, tanggung jawab, disiplin, dan rasa peduli terhadap sesama.
Analisis Bentuk Penyajian Kesenian Sisingaan Di Sanggar Sinar Saluyu Kampung Ngenol Desa Puspamukti Kecamatan Cigalontang
Ledi Lestaluhu;
Ase Wasta;
Budi Dharma
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 5 No. 2 (2022): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35568/magelaran.v5i2.3660
Artikel ini berjudul ”Analisis Bentuk Penyajian Kesenian Sisingaan di Sanggar Sinar Saluyu Kampung Ngenol Desa Puspamukti Kecamatan Cigalontang.” Dasar pemikiran yang melatar belakangi masalah penelitian ini adalah bagaimana kesenian Sisingaan serta pewarisan yang terdapat pada kesenian Sisingaan. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah Bagaimana Bentuk Penyajian Kesenian dan Bagaimana bentuk pewarisan Kesenian Sisingaan di Kampung Ngenol Desa Puspamukti Kecamatan Cigalontang. Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Bentuk Penyajian dan Pewarisan pada kesenian Sisingaan. Kajian teori yang digunakan pada penelitian ini yaitu teori struktur dan teori perkembangan, penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis yaitu peneliti berusaha memaparkan semua hasil penelitian yang ada di lapangan. Tekhnik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, studi pustaka, dokumentasi dan tekhnnik analisis data
Analisis Prosesi Upacara Adat Nyapu Kabuyutan di Situs Lingga Yoni Indihiang Kota Tasikmalaya
Miftahul Rizki Saparudin;
Asep Wasta;
Wan Ridwan Husen
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 5 No. 2 (2022): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35568/magelaran.v5i2.3661
benda budaya (Lingga Yoni) yang memiliki nilai sejarah sebagai warisan budaya Kota Tasikmalaya. Dalam pelaksanaannya, upacara adat Nyapu Kabuyutan dilakukan secara gotong royong dan dipimpin oleh pemandu adat. Maka dari itu peneliti membatasi permasalahan dalam penelitian melalui beberapa rumusan masalah yakni meliputi: (1) bagaimana struktur penyajian/tahapan upacara adat Nyapu Kabuyutan di Situs Lingga Yoni Indihiang Kota Tasikmalaya (2) bagaimana makna yang terkandung dalam prosesi upacara adat Nyapu Kabuyutan di Situs Lingga Yoni Indihiang Kota Tasikmalaya. Tujuan dalam penelitian ini yaitu (1) untuk mengidentifikasi struktur penyajian/tahapan upacara adat Nyapu Kabuyutan di Situs Lingga Yoni Indihiang Kota Tasikmalaya (2) untuk menganalisis makna yang terkandung dalam prosesi upacara adat Nyapu Kabuyutan di Situs Lingga Yoni Indihiang Kota Tasikmalaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Dalam penyajiannya, prosesi upacara adat Nyapu Kabuyutan ini terdapat beberapa tahapan yakni (1) membaca do’a (2) rajah (bubuka) (3) ukup (4) nyampingan lingga (5) nyapu (6) do’a penutup. Secara umum Nyapu Kabuyutan memiliki makna melatih jiwa dan raga akan sadar bahwa hati dan pikiran harus bersih dari kotoran-kotoran yang menghalangi diri manusia untuk mengingat kepada sang pencipta serta menghormati dan menerima terhadap asal-usul kelahiran diri manusia. Dengan demikian Nyapu Kabuyutan adalah bentuk kesadaran manusia dalam menjaga kebersihan lingkungan
Penciptaan Karya Komposisi Musik Kamelang Sepuh
Juansah Juansah
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 5 No. 2 (2022): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35568/magelaran.v5i2.3662
Karya musik Kamelang Sepuh ini terinspirasi berdasarkan pengalaman penulis dalam kehidupan sehari-hari yang dituangkan pada media suara, pada konteksnya karya ini diciptakan berdasarkan kehidupan nyata yakni bentuk pelepasan tanggung jawab seorang ibu dan ayah terhadap anaknya, namun pada dasarnya rasa kehawatiran seorang ibu dan ayah tidak ada batasnya, dari mulai anaknya dalam kandungan sampai beranjak dewasa kekhawatiran tersebut masih sangatlah besar dalam benak seorang ibu dan ayah dalam proses kreatifnya kamelang sepuh ini memakai sebuah media bunyi yang dihasilkan oleh Alat musik konvesional tradisi khas jawa yakni sebuah waditra kacapi dan suling. Kamelang sepuh ini di buat dalam bentuk sajian musik yang di sembahkan untuk orangtua penulis serta ini menjadi bentuk rasa syukur penulis dalam menjalani kehidupan yang telah mendapatkan kasih sayang serta didikan yang dilakukan seorang ayah dan ibu. Penulis mempercayai bahwa semua orang tua menpunyai rasa kasih sayang yang besar terhadap anaknya, namun sebaliknya tidak semua anak mempunyai rasa sayang terhadap orang tuanya
Revitalisasi Kesenian Jingkrung Di Kampung Kalapadua Desa Margaluyu Kecamatan Manonjaya Kabupaten Manonjaya
Maylisa Hayati;
Asti Tri Lestari;
Budi Dharma;
Asep Wasta
Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni Vol. 6 No. 1 (2023): Magelaran: Jurnal Pendidikan Seni
Publisher : Prodi Pendidikan Sendratasik FKIP UMTAS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35568/magelaran.v5i2.3663
Penelitian ini berjudul ”Revitalisasi kesenian Jingkrung di Kampung Kalapadua Desa Margaluyu Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya” kesenian ini tumbuh dan berkembang di Kampung Kalapadua yang tidak diketahui munculnya pada tahun berapa tetapi mulai berkembang dan dikenal oleh masyarakat Kampung Kalapadua pada tahun 1930-an. Hal itu tidak bertahan lama hanya bertahan dari tahun 1930 sampai 1940-an. Kesenian Jingkrung ini mengalami penurunan yang sangat pesat sehingga kesenian Jingkrung ini dianggap sudah tidak ada. Namun dalam hal ini kesenian Jingkrung mulai diangkat kembali dengan adanya revitalisasi melalui penelitian ini. Dalam penelitian ini juga menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriftif analisis. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Berdasarkan hasil penelitian ini, kesenian Jingkrung merupakan kesenian khas Kampung Kalapadua sejak zaman dulu digunakan sebagai sarana ritual namun seiring perkembangan zaman kesenian Jingkrung tersebut dijadikan sebagai sarana hiburan atau pementasan diacara-acara tertentu seperti peresmian balai, peresmian aliran sungai yang baru dibuat, pengucapan rasa sukur kepada sang pencipta atas diberikannya nikmat sehat, sukuran 4 bulanan bayi yang baru lahir, dan sukuran pada pembuatan aliran sungai