cover
Contact Name
Wulan Agung
Contact Email
aristarkhusagung@gmail.com
Phone
+6282227139081
Journal Mail Official
jurnalsabdanusantara@gmail.com
Editorial Address
Sabda: Jurnal Teologi Kristen adalah jurnal ilmiah dalam bidang teologi yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Nusantara Salatiga. Diterbitkan dua kali dalam 1 tahun yaitu bulan Mei dan Nopember. Menerima naskah hasil penelitian dalam bidang: Teologi Biblika Teologi Sistematika Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Pastoral, Kepemimpinan Kristen, dan Manajemen Gereja Misi dan Penginjilan Seluruh naskah yang masuk akan diperiksa terlebih dahulu oleh editor, jika memenuhi ketentuan maka dapat diproses untuk review.
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Sabda : Jurnal Teologi Kristen
ISSN : 27223078     EISSN : 2722306X     DOI : https://doi.org/10.55097/sabda.v2i2
Sabda: Jurnal Teologi Kristen menerima artikel dengan fokus: Teologi Biblika Teologi Sistematika Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Pastoral, Kepemimpinan Kristen, dan Manajemen Gereja Misi dan Penginjilan
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER" : 11 Documents clear
Pandangan Alkitab Tentang Gereja sebagai Komunitas Pembelajaran dan Pembinaan pada Masa Kini Tuhumury, Markus; Duha, Sang Putra Immanuel; Tulus, Jekson
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.130

Abstract

Social transformation due to technological advances have changed the way humans relate. Relationships can be developed more easily, cheaper and faster. As a community, the church is "forced" to review whether the methods of educating and coaching in faith that have been implemented so far still meet the needs of contemporary congregations. Through a qualitative method of literature approach, the researchers investigated how the Bible views this matter, and found that closeness of relationships or relations between members is the main indicator in learning and faith formation, as done by the early church. Bringing the church back to its original design as a community of God's family (oikos), by taking advantage of today's technological advances, will make the church a constructive place for educating and coaching in the faith of its members. AbstrakPerubahan sosial akibat kemajuan teknologi telah mengubah cara manusia berelasi juga berasosiasi. Relasi dapat dikembangkan dengan lebih mudah, lebih murah, dan lebih cepat. Sebagai komunitas, gereja “dipaksa” untuk mengkaji ulang kembali, apakah metode pembelajaran dan pembinaan iman yang selama ini diterapkan masih menjawab kebutuhan jemaat kekinian. Melalui metode kualitatif pendekatan kepustakaan, peneliti menyelidiki bagaimana pandangan Alkitab mengenai hal ini, dan menemukan bahwa kedekatan hubungan atau relasi antar-anggota merupakan indikator utama dalam pembelajaran dan pembinaan iman, seperti yang dilakukan oleh jemaat mula-mula. Membawa gereja kembali ke desainnya semula sebagai persekutuan keluarga Allah (oikos), dengan memanfaatkan kemajuan teknologi sekarang, akan menjadikan gereja sebagai tempat yang konstruktif untuk pembelajaran dan pembinaan iman anggotanya.Kata Kunci: Pembelajaran, Pembinaan, Gereja, Komunitas. 
Kajian Peranan Konseling Pastoral Terhadap Penyelesaian Konflik di Keluarga Kaum Pentakostal Simangunsong, Ronaldo Pratama; Manurung, Kosma
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.171

Abstract

Humans, in living their social lives, are very susceptible to conflict, including in family life. Conflicts that occur in the family will have a negative impact on relationships between family members and also affect the stability and harmony of household life. In the Pentecostal community, conflict resolution approaches often require interventions that are not only psychological, but also based on spiritual values. This research aims to frame the role of pastoral counseling in resolving conflicts that occur in Pentecostal families. Through qualitative descriptive methods and literature studies, efforts are made to provide a strong picture of the world of marriage and its various problems, descriptions of pastoral counseling services, and the role of pastoral counseling in solving problems. It was concluded that pastoral counseling plays a role in solving problems through the role of mentoring, restoration role, problem solver and monitoring role. Abstrak: Manusia dalam menjalani kehidupan sosialnya, sangat rentan terjadi konflik tak terkecuali dalam kehidupan keluarga. Konflik yang terjadi di keluarga akan berdampak negatif pada hubungan antar anggota keluarga juga mempengaruhi stabilitas serta keharmonisan kehidupan rumah tangga. Dalam komunitas kaum Pentakostal, pendekatan penyelesaian konflik sering kali memerlukan intervensi yang tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai spiritual. Penelitian ini bertujuan membingkai peran konseling pastoral dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di keluarga kaum Pentakostal. Melalui metode deskriptif kualitatif serta kajian literatur diupayakan bisa memberikan gambaran yang kuat tentang dunia pernikahan dan berbagai permasalahannya, deskripsi pelayanan konseling pastoral, serta peran konseling pastoral dalam menyelesaikan permasalahan. Disimpulkan bahwa konseling pastoral berperan dalam menyelesaikan masalah melalui peran pendampingan, peran restorasi, solver problem dan peran monitoring.Kata Kunci: Keluarga Kristiani; Konseling Pastoral; Teologi Pentakostal
Makna Teologis Frasa Kami Adalah Hamba yang tidak Berguna dalam Injil Lukas 17:7-10 Aliadi, Frans
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.136

Abstract

The phrase “we are useless servants” often causes confusion: does this suggest that our service has no meaning or value? In this era, where the success of a servant of God is often measured by awards, recognition, or large profits, the concept of a "useless servant" is the opposite. Humans generally want to be recognized for the efforts and sacrifices they make. This research uses a qualitative descriptive method, namely by observing a problem regarding the character of God's servants today and conducting a study of literature, articles, ebooks that are relevant to the topic, as well as using an exegetical study of the Biblical text. Based on the results of research conducted on the meaning of the text, it shows that the teachings about the principles of humility and selfless devotion in service, serving sincerely and with pure motivation. We are called to serve without seeking praise, appreciation, or recognition from others. A true servant of God is faithful in carrying out the responsibilities and services entrusted to him starting from the smallest things. Abstrak: Ungkapan "kami adalah hamba yang tidak berguna" sering kali menimbulkan kebingungan: apakah ini menunjukkan bahwa pelayanan kita tidak memiliki makna atau nilai? Di era ini, kerap kali keberhasilan pelayanan seorang hamba Tuhan diukur dengan penghargaan, pengakuan, atau keuntungan yang besar, konsep "hamba yang tidak berguna" bertolak belakang. Manusia umumnya ingin diakui atas usaha dan pengorbanan yang dilakukannya. Penelitian yang digunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu dengan melakukan observasi terhadap permasalahan mengenai karakter hamba Tuhan di masa kini dan melakukan kajian literatur, artikel, ebook yang relevan dengan topik, serta menggunakan studi eksegesis teks Alkitab. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap makna teks tersebut menunjukkan bahwa ajaran tentang prinsip kerendahan hati dan pengabdian tanpa pamrih dalam pelayanan, melayani dengan tulus serta motivasi yang murni. Kita dipanggil untuk melayani tanpa mencari pujian, penghargaan, atau pengakuan dari orang lain. Hamba Tuhan yang sejati adalah setia menjalankan tanggung jawab dan pelayanan yang dipercayakan mulai dari hal-hal terkecil.Kata Kunci: Hamba, Melayani, Kerendahan Hati, Lukas 17:7-10
Pola Asuh dan Kepemimpinan Spritual: Mendalami Makna Kegagalan Pola Asuh Samuel sebagai Pembelajaran bagi Rohaniawan Caroles, Jennery Delaila; Djiauw, Kuntjara; Sasongko, Yakob Arfin Tyas; Jonathans, Kornelius Rulli
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.168

Abstract

This study aims to identify critical aspects of parenting relevant to this context. The research focuses on parenting practices as spiritual leaders in the ministerial setting. It emphasizes the need for ministers to address discrepancies between their teachings and parenting practices while fostering an environment that supports mental and emotional well-being within the family. The research employs a qualitative descriptive approach and literature review to analyze parenting patterns within spiritual leadership. The findings highlight five key aspects derived from the analysis of the prophet Samuel's experiences: balancing ministry duties with emotional involvement, aligning teachings with actions, reflecting on and adjusting parenting strategies, creating an environment conducive to mental health, and fostering open communication within the family. In contemporary practice, these aspects can be implemented through balanced ministry schedules, demonstrating spiritual values through real-life examples, developing flexible parenting plans, cultivating a home atmosphere that promotes psychological well-being, and establishing warm and transparent dialogue with children.Abstrak:Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi aspek penting pengasuhan yang relevan dalam konteks tersebut. Masalah penelitian berfokus pada praktik pengasuhan sebagai pemimpin spiritual dalam konteks pelayan Tuhan. Dalam kajian ini, pelayan Tuhan perlu mengatasi ketidaksesuaian antara ajaran dan praktik pengasuhan serta menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental dan emosional dalam keluarga. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kajian literatur untuk menganalisis pola asuh dalam kepemimpinan spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui analisis pengalaman Nabi Samuel, terdapat lima aspek penting yang relevan dalam pengasuhan anak bagi pelayan Tuhan, yakni keseimbangan antara tugas pelayanan dan keterlibatan emosional, konsistensi antara ajaran dan tindakan, refleksi dan penyesuaian dalam pengasuhan, menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental, serta komunikasi terbuka dalam keluarga. Implementasi kelima aspek ini meliputi penerapan jadwal pelayanan yang seimbang, memberikan teladan nyata dalam nilai-nilai spiritual, menyusun rencana pengasuhan yang fleksibel, menciptakan suasana rumah yang mendukung kesejahteraan psikologis, serta membangun dialog rutin yang hangat dan transparan dengan anak-anak. Kata Kunci: Pola Asuh, pemimpinan Spiritual, Samuel.
Dampak Pelayanan Pastoral Terhadap Perkembangan Moral dan Spiritual Anak Berhadapan dengan Hukum Pattipeilohy, Lukas
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.138

Abstract

This research focuses on children under the age of 18 who are involved in legal issues, whether as perpetrators, victims, or witnesses of criminal acts. This study also discusses pastoral care at Sentra Efata, Kupang, which serves 31 ABH in March 2024. Pastoral care is integrated to shape the moral and spirituality of ABH through a holistic approach that includes spiritual support, strengthening moral values, and social reintegration. This research uses descriptive qualitative methods to describe the phenomenon and impact of pastoral care on the moral and spiritual development of ABH in Sentra Efata, Kupang. The conclusion is that a holistic approach in pastoral care does not only pay attention to the physical and material needs but also the spiritual and moral needs of ABH. It is hoped that the integration of spirituality and morality values in pastoral care can strengthen faith, provide holistic support, and facilitate the spiritual and moral growth of ABH at the Efata Center in Kupang. Additionally, these services assist with emotional recovery, improved social relationships, and reintegration into society.AbstrakPenelitian ini mengkaji anak-anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), yakni anak-anak di bawah usia 18 tahun yang terlibat dalam masalah hukum, termasuk sebagai pelaku, korban, atau saksi tindak pidana. Studi ini juga membahas tentang pelayanan pastoral di Sentra Efata, Kupang, yang melayani 31 ABH pada Maret 2024. Pelayanan pastoral diintegrasikan untuk membentuk moral dan spiritual ABH, melalui pendekatan holistik yang mencakup dukungan spiritual, penguatan nilai moral, dan reintegrasi sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menggambarkan fenomena dan dampak pelayanan pastoral terhadap perkembangan moral dan spiritual ABH di Sentra Efata, Kupang. Kesimpulannya bahwa pendekatan holistik dalam pelayanan pastoral, tidak hanya memperhatikan kebutuhan fisik dan material, tetapi juga kebutuhan spiritual dan moral ABH. Integrasi nilai-nilai spiritualitas dan moralitas dalam pelayanan pastoral diharapkan dapat memperkuat iman, memberikan dukungan holistik, dan memfasilitasi pertumbuhan spiritual dan moral ABH pada Sentra Efata di Kupang. Selain itu, pelayanan ini membantu pemulihan emosional, peningkatan hubungan sosial, dan reintegrasi ke masyarakat. Kata Kunci: Hamba, Melayani, Kerendahan Hati, Lukas 17:7-10
Mengulik Peran Istri Gembala dalam Menyokong Pelayanan Suami di Gereja Beraliran Pentakostal Wibowo, Yolanda Arista; Hastuti, Ruwi; Hadi, Sukarno
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.174

Abstract

Pastoral ministry in Pentecostal churches is often viewed as the primary responsibility of a congregational pastor. However, the wife's contribution in supporting her husband's pastoral ministry also plays an important role that has not been widely studied. The problem that is attempted to be studied in this research is related to the tendency that the pastor's wife is not considered to have a role in pastoral ministry. This article aims to examine the role of wives in supporting their husbands' ministry in the Pentecostal church both theologically and in ministry practice. This research uses a qualitative-descriptive method with a literature review approach.. In conclusion, wives have a central role in supporting their husband's ministry through spiritual support, emotional support, practical support, and being a role model. Apart from that, through various things, the pastor's wife is able to have a significant impact in terms of maintaining the balance of her husband's ministry in the pastoral realm and family responsibilities.  AbstrakPelayanan pastoral di gereja Pentakostal sering kali dipandang sebagai tanggung jawab utama seorang gembala jemaat. Namun, kontribusi istri dalam mendukung pelayanan pastoral suami juga memainkan peran penting yang belum banyak diteliti. Masalah yang coba dikaji dalam penelitian ini terkait adanya kecenderungan istri gembala yang tidak dianggap peranannya dalam pelayanan pastoral. Artikel ini bermaksud untuk mengkaji peran istri dalam mendukung pelayanan suami di gereja Pentakostal baik secara teologis maupun praktik pelayanan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan kajian literatur. Disimpulkan, istri memiliki peran sentral dalam menyokong pelayanan suami melalui dukungan spritual, dukungan emosional, dukungan praktis, serta menjadi role model. Selain itu, melalui berbagai perannya, istri gembala mampu memberi dampak yang signifikan juga dalam hal menjaga keseimbangan pelayanan suami di ranah pastoral dan tanggung jawab keluarga.   Kata Kunci: Gereja Pentakostal; Istri Gembala; Pelayanan Pastoral.
Fenomena Pernikahan Kristen dalam Konteks Perbedaan Strata (Tana’) di Toraja dan Implementasinya bagi Warga Gereja Patandean, Wendi Triseptyadi
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.145

Abstract

Many say that marriage brings happines in life, so it is not uncommon for a person to want to marry specifically in the context of toraja the majority of christians, so christian marriage must be a requirement in their life that emphasizes a measure of good fidelity to the spouse more to the Lord but in toraja also adheres to a system of social strata called tana’, the strata in a tortuate’s life can be a trigger for divorce if there’s a difference, so loyalty is off the charts. It employs a qualitative method of descriptive, and it does a data collection with an interview with the source. The purpose of this study is to find the problems that cause divorce in people the tortuls of different social ranks, though it has been emphasized in christianity. The study found that the determinantions of to are not faithful in christian marriages because of the stratification principles, the longko’ or prestige principle, the tendency to demean those arround them, the discrimination that triggers marital discord, is likely to maintain social stratification, so judging in christianity, it is certainly wrong inthe behavior of a christian. Abstrak: Penelitian ini mengkaji anak-anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), yakni anak-anak di bawah usia 18 tahun yang terlibat dalam masalah hukum, termasuk sebagai pelaku, korban, atau saksi tindak pidana. Studi ini juga membahas tentang pelayanan pastoral di Sentra Efata, Kupang, yang melayani 31 ABH pada Maret 2024. Pelayanan pastoral diintegrasikan untuk membentuk moral dan spiritual ABH, melalui pendekatan holistik yang mencakup dukungan spiritual, penguatan nilai moral, dan reintegrasi sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menggambarkan fenomena dan dampak pelayanan pastoral terhadap perkembangan moral dan spiritual ABH di Sentra Efata, Kupang. Kesimpulannya bahwa pendekatan holistik dalam pelayanan pastoral, tidak hanya memperhatikan kebutuhan fisik dan material, tetapi juga kebutuhan spiritual dan moral ABH. Integrasi nilai-nilai spiritualitas dan moralitas dalam pelayanan pastoral diharapkan dapat memperkuat iman, memberikan dukungan holistik, dan memfasilitasi pertumbuhan spiritual dan moral ABH pada Sentra Efata di Kupang. Selain itu, pelayanan ini membantu pemulihan emosional, peningkatan hubungan sosial, dan reintegrasi ke masyarakat.Kata Kunci: Pernikahan Kristen, Perceraian, Tana’, Toraja.
Cermin Kehidupan Umat Kristen dalam Masyarakat Multikultural: Suatu Tinjauan Etika Kristen dan Pengaruhnya Terhadap Pendirian Rumah Ibadah Christiaan, John Abraham; Agung, Wulan
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.116

Abstract

Freedom of religion and worship is regulated in regulations regarding the establishment of places of worship and is an issue for Christians in areas with a majority of non-Christian religions. This research aims to find and discover the problem points of rejection of places of worship and the conditions for their establishment. The method used is qualitative with data collection through literature study. The results of the research found that several Christian houses of worship and their places of worship were often treated by the majority group as prohibiting worship, making it difficult to obtain approval for the establishment of houses of worship in accordance with applicable regulations. This condition encourages Christians to blend into the environment, carry out activities that are beneficial to local communities, and apply Christian ethical principles in a multicultural society as a form of implementing God's Word. The goal is for the church to be well received in the environment where the church is present. AbstrakKemerdekaan beragama dan beribadat diatur dalam peraturan tentang pendirian rumah ibadat dan menjadi peroalan bagi umat Kristen dilingkungan mayoritas agama Non Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk mencari dan menemukan titik persoalan dari penolakan rumah ibadat serta syarat-syarat pendiriannya. Metode yang digunakan adalah  kualitatif dengan pengumpulan data melalui studi kepustakaan. Hasil penelitian ditemukan fakta bahwa beberapa rumah ibadat Kristen serta peribadatannya sering diperlakukan oleh kelompok mayoritas melakukan  pelarangan beribadat sampai dengan sulitnya untuk mendapatkan persetujuan pendirian rumah ibadat sebagaimana peraturan yang berlaku. Kondisi ini mendorong umat Kristen untuk berbaur dengan lingkungan, melakukan kegiatan bermanfaat masyarakat lokal, dan menerapkan prinsip-prinsip etika Kristen ditengah masyarakat yang multikultural  sebagai wujud pelaksanaan Firman Tuhan. Tujuannya agar gereja dapat diterima dengan baik dilingkungan di mana gereja hadir.Kata Kunci: Pendirian gereja, Etika Kristen, Masyarakat Multikultural
Eksplorasi Teologi Kovenan dan Kepastian Janji Allah dalam 2 Korintus 1:20 pada Dinamika Spiritual Jemaat Purwonugroho, Daniel Pesah
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.144

Abstract

This paper is crafted with the aim of exploring covenant theology and the certainty of promises in 2 Corinthians 1:20 concerning the spiritual dynamics of the congregation. Covenant theology frames the interaction between God and humanity and is divided into two systems: the covenant of works and the covenant of grace, each with distinct focal points. Jesus Christ plays a significant role in both systems, fulfilling the covenant of works and serving as the mediator between God and humanity within the covenant of grace. Jesus Christ is also the central figure of God's promises, as expressed in 2 Corinthians 1:20. God's promises have a significant impact on the spiritual life of the congregation. In addition to God's promises, covenant theology positively influences the spiritual dimension of the congregation. Through a descriptive qualitative approach, the author explores covenant theology and the certainty of promises in 2 Corinthians 1:20 for the congregation's spiritual dynamics. The author asserts that the exploration of covenant theology and the certainty of promises in 2 Corinthians 1:20 has a significant positive impact on the spiritual dynamics of the congregation. AbstrakTulisan ini dirangkai dengan tujuan untuk mengeksplorasi teologi kovenan dan kepastian janji dalam 2 Korintus 1:20 pada dinamika spiritual jemaat. Teologi kovenan merupakan teologi yang membingkai interaksi Allah dengan manusia. Teologi kovenan terbagi dalam 2 sistem yaitu kovenan kerja dan kovenan anugerah dimana masing-masing kovenan memiliki titik tumpu yang berbeda. Yesus Kristus memiliki peran signifikan di dalam 2 sistem tersebut dimana Yesus Kristus menggenapi kovenan kerja dan menjadi perantara Allah dan manusia di dalam kovenen anugerah. Yesus Kristus juga menjadi pusat janji Allah yang dinyatakan di dalam 2 Korintus 1:20. Janji Allah memilki dampak yang signifikan dalam membangun kehidupan rohani jemaat. Selain janji Allah, teologi kovenan juga memberikan pengaruh positif di dalam sisi spiritual jemaat. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penulis akan mengeksplorasi teologi kovenan dan kepastian janji dalam 2 Korintus 1:20 bagi dinamika spiritual jemaat. Penulis menegaskan bahwa eksplorasi teologi kovenan dan kepastian janji dalam 2 Korintus 1:20 memberi dampak positif yang signifikan di dalam dinamika spiritual jemaat yaitu jemaat akan mengalami pertumbuhan rohani baik secara individu maupun secara komunal.
Kajian Teologis Tentang Mujizat dan Ketaatan Berdasarkan 2 Raja-Raja 7:1-2 Pinem, Sony; Rumeksa, Edhy; Yanthie, Eva; Jonathans, Kornelius Rulli
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.166

Abstract

This study aims to demonstrate that miracles do not contradict natural laws but instead operate in harmony with them through divine intervention prompted by obedience to God’s Word. The study begins with a conceptual analysis of miracles from various academic sources to establish an objective theoretical foundation. Subsequently, the interaction between miracles and natural laws is analyzed using C.S. Lewis’s approach, focusing on the argument that miracles function within the framework of natural laws through the role of obedience. A hermeneutical approach is applied to 2 Kings 7:1–2 using lexicographical and syntactical methods to uncover the meaning of the text within its historical and grammatical contexts. The findings reveal that miracles, while seemingly impossible by natural laws, can occur through divine intervention, with obedience serving as the primary catalyst. Additionally, insights from Stanley Milgram’s social psychology research are incorporated to analyze factors influencing obedience, offering practical perspectives on developing patterns of compliance in daily life. This study concludes that obedience to God’s Word is a critical factor in enabling miracles and contributes to a deeper theological and practical understanding of the relationship between obedience, natural laws, and miracles through divine intervention. Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa mukjizat tidak bertentangan dengan hukum alam, melainkan berjalan selaras melalui intervensi Allah yang dipicu oleh ketaatan kepada Firman-Nya. Kajian ini diawali dengan analisis konseptual mukjizat dari berbagai literatur akademis untuk memperoleh landasan teoritis yang objektif. Selanjutnya, hubungan antara mukjizat dan hukum alam dianalisis menggunakan pendekatan C.S. Lewis, dengan fokus pada argumen bahwa mukjizat bekerja dalam kerangka hukum alam melalui peran ketaatan. Pendekatan hermeneutik diterapkan pada 2 Raja-raja 7:1-2 dengan menggunakan metode leksikografis dan sintaksis untuk menggali makna teks secara historis dan gramatikal. Hasil analisis menunjukkan bahwa mukjizat, yang secara alami tampak mustahil, tetap dapat terjadi melalui intervensi Allah, dengan ketaatan sebagai faktor penggerak utama. Perspektif psikologi sosial dari penelitian Stanley Milgram juga diintegrasikan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi ketaatan, memberikan wawasan tambahan terkait pembentukan pola ketaatan dalam kehidupan praktis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketaatan terhadap Firman Tuhan merupakan elemen krusial dalam membuka ruang bagi mukjizat sekaligus memperkaya pemahaman teologis dan praktis tentang hubungan antara ketaatan, hukum alam, dan mukjizat melalui intervensi ilahi.Kata Kunci: 2 Raja-raja 7:1-2. Mukjizat, Hukum Alam, Ketaatan.

Page 1 of 2 | Total Record : 11