JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur (sebelumnya Jurnal Online Mahasiswa S1 Arsitektur UNTAN) adalah jurnal nasional yang berisi kumpulan naskah/ artikel hasil perancangan arsitektur yang fokus pada kegiatan "analisis dan sintesis" yang mendukung proses-proses perancangan arsitektur dan menghasilkan karya arsitektural. Substansi naskah dapat berupa kajian mengenai metode perancangan, proses analisis dalam perancangan, pengambilan keputusan dalam proses desain, proses penciptaan karya arsitektural, dan teori yang mendukung proses perancangan. Selain itu, JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur juga menerima (terbatas) naskah dengan pendekatan "penelitian" kajian arsitektural lainnya, seperti sejarah, teori, dan kritik arsitektur, teknologi bangunan, serta kota dan permukiman. JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur mempunyai ISSN 2746-5896 (media online)
Articles
428 Documents
POOL BUS PT. BANYUKE MANDIRI DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL
Ivan, Leonardus
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 7, No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v7i1.31695
Transportasi adalah kegiatan memindahkan atau mengangkut manusia dan barang dari satu tempat ketempat lain. Transportasi terdapat tiga jenis yaitu transportasi darat, air dan udara. Transportasi yang digunakan milik pribadi atau transportasi umum. Pada desa Darit, Kecamatan Menyuke, Kabupaten Landak terdapat Perusahaan Otobus (PO). PT. Banyuke Mandiri adalah PO terbesar di desa Darit, Kecamatan Menyuke, Kabupaten Landak. PT. Banyuke Mandiri menyediakan bus untuk menunjang aktivitas mobilitas masyarakat. Sebagai Standar Pelayanan Minimal angkutan antar kota dalam provinsi (AKDP) perusahaan otobus wajib memiliki fasilitas penyimpanan dan pemeliharaan kendaraan (Pool). PT. Banyuke Mandiri belum memiliki prasarana yang sesuai Sebagai Standar Pelayanan Minimal angkutan antar kota dalam provinsi (AKDP). Fasilitas penunjang aktivitas sopir dan kernet tidak tercukupi. Aktivitas naik turun penumpang dan muat barang dilakukan pada tepi jalan sehingga mengganggu sirkulasi kendaraan. Maka dibutuhkan perancangan Pool Bus PT. Banyuke Mandiri. Perancangan pool bus ini menggunakan konsep kontekstual yang harmoni untuk menyesuaikan bangunan dengan tapak dan lingkungan sekitar. Tumbuhan yang ada disekitar sebagai vegetasi pada lokasi perancangan. Konteks dilibatkan dalam hubungan khusus suatu bangunan dengan lingkungannya dalam Arsitektur. Kata kunci: Pool Bus, Pendekatan Kontekstual, Desa Darit
TAMAN KOTA DI KECAMATAN PONTIANAK BARAT
Jayanti, Carla
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 4, No 2 (2016): September
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v4i2.17906
Taman kota merupakan lahan terbuka publik yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan ekologis, rekreatif, edukasi atau kegiatan lain pada tingkat kota. Berdasarkan Permen PU No. 5/PRT/M/2008 Tahun 2008, cakupan pelayanan ditetapkan untuk setiap kelompok jumlah penduduk 2.500 orang memerlukan setidaknya satu buah ruang terbuka berupa taman aktif. Kecamatan Pontianak Barat adalah kecamatan berpenduduk 127.701 jiwa. Tidak terdapat satupun taman aktif pada kecamatan ini. Pendekatan konsep perancangan yang diambil adalah “Taman Tepian Sungai”. Aspek tersebut diterapkan pada perletakan zoning, ruang komunal, area interaksi dengan badan air, dan vegetasi kawasan. Secara singkat pengunjung taman dibagi dalam 4 kelompok usia, yaitu anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia. Wadah komunal pada taman berfungsi sebagai area berkumpul warga kota juga berfungsi sebagai pengendali sosial taman. Pada taman ini, interaksi pengunjung dengan badan air terbatas hanya pada waterfront area. Pembatasan area interaksi ini berfungsi sebagai pengendalian keamanan pengunjung pada tepi badan air. Perbedaan ketinggian lantai yang berbeda-beda dimaksudkan agar pengunjung tetap dapat berinteraksi dengan badan air pada saat pasang maupun surut. Vegetasi yang digunakan memiliki kriteria cocok ditanam di tepian sungai yaitu menyerap banyak air, memiliki perakaran yang kuat dan tidak merusak struktur. Kata kunci: Taman Kota, Tepian Sungai
PASAR SORE JALAN AMPERA KOTA PONTIANAK
Ahmad, Sy
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 7, No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v7i1.33778
Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor:70/M-DAG/PER/12/2013, pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah, pemerintah daerah, swasta, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki dan dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar. Salah satu pasar tradisional yang terdapat di Kota Pontianak yaitu Pasar Sore di Jalan Ampera. Pasar ini mulai beroprasional jam 12.00-18.00 WIB. Pasar Sore di jalan ampera mempunyai fungsi yang sangat penting bagi masyarakat sekitarnya, terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kurangnya fasilitas Pasar Sore serta kondisi fisik bangunan merupakan kendala yang perlu diatasi dengan perencanaan perancangan Pasar Sore yang baru. Konsep perancangan pasar sore dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan perilaku penghuni Pasar yang dapat melengkapi fasilitas yang memenuhi standar bagi pengguna maupun pedagang di kawasan Pasar Sore tersebut. Pasar Sore Jalan Ampera Kota Pontianak memperlihatkan bagaimana pembagian ruang, dan penentuan jumlah lantai pada pasar. Ruang-ruang di dalam pasar diletakan bedasarkan sifat kegiatan, pertimbangan terhadap perilaku pengguna pasar, dan mempertimbangan kenyamanan pengguna pasar. Kata kunci: pasar, pasar tradisional, fasilitas pasar tradisional
VILLA RESORT BATU BELIMBING DI KOTA SINGKAWANG
Kurniawan, Rio
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 6, No 1 (2018): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v6i1.25094
Pariwisata mempunyai peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Daerah tersebut merupakan daerah yang memiliki banyak objek wisata. Salah satu tujuan wisata yang saat ini sedang banyak diminati wisatawan adalah wisata alam. Terdapat suatu daerah yang memiliki potensi wisata alam berupa pegunungan yang terletak di Kota Singkawang, tepatnya terletak di Kelurahan Nyarumkop. Pada kelurahan ini terdapat potensi alam yang sedang berkembang dan dapat di manfaatkan ke-eksistensiannya yaitu Batu Belimbing. Tidak tersedianya infrastruktur & fasilitas pendukung seperti penginapan membuat berkurangnya minat wisatawan untuk menginap. Faktor ini merupakan hal penting bagi wisatawan agar merasa nyaman, aman, tenang dalam menginap ataupun beraktivitas yang ditunjang dengan tersedianya ruang terbuka hijau pada kawasan Villa resort Batu Belimbing di Kota Singkawang. Perencanaan dan perancangan Villa resort menerapkan unsur Arsitektur Tropis sebagai elemen-elemen dalam merancang dikarnakan pada daerah ini memiliki iklim yang cukup ekstrim. Villa resort Batu Belimbing di Kota Singkawang diharapkan menjadi ikon baru dalam sektor pariwisata yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomian dan wisata di Kota Singkawang baik secara lokal maupun skala internasional. Kata kunci: Pariwisata, Villa resort, Arsitektur Tropis
YOUTH CENTER DI KOTA PONTIANAK
Artha, Dita Ollivia;
Gultom, Bontor Jumaylinda;
Kalsum, Emilya
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 9, No 1 (2021): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v9i1.44614
Adolescence is a period of development from children to adults. Adolescents have various characteristics in their development. Lack of facilities and guidance for adolescents causes juvenile delinquency behavior, while adolescence is a very important period because of the process of forming individual characters. Youth need a place that can nurture and develop their potential. Youth-oriented forum, namely the Youth Center. The design of the Youth Center must facilitate the function of the building while taking into account the characteristics of youth in Pontianak City. The design of the Youth Center used a descriptive method, namely the description of literature and theory. The stages in the design method begin with collecting data, then the data is analyzed to form a concept that produces a product in the form of a design image. The design of Youth Centers in Pontianak City has creative, reacreative and educational functions. The design location is at the intersection of A. Yani street and MT. Haryono street with an area of +5,877 m2. The building consists of four floors, the first floor consists of public spaces, the second floor contains a sports area, then on the third floor there is a play area, while the fourth floor consists of educational spaces. The results achieved were building design based on building functions based on the activities and characteristics of youth in Pontianak City.
GEDUNG PELATIHAN OLAHRAGA BELADIRI DI PONTIANAK
Mohlisin, Gusti
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 6, No 2 (2018): September
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v6i2.28024
Olahraga bela diri saat ini diminati oleh banyak orang dari berbagai kalangan, mulai dari atlet, pelajar, hingga masyarakat umum. Olahraga ini diminati karena dapat menjaga kebugaran tubuh dan dapat digunakan untuk membela diri dari tindakan kejahatan. Jenis bela diri yang populer di Kalimantan Barat adalah silat, karate, dan taekwondo. Ketiga jenis bela diri tersebut sering dilombakan baik di tingkat profesional, amatir hingga sekolah. Namun kondisi fasilitas yang minim membutuhkan perhatian maka perlunya penyediaan fasilitas yang layak berupa gedung untuk mewadahi aktifitas beladiri. Berdasarkan amatan dan data terdapat kesamaan yang memungkinkan ketiga bela diri tersebut digabungkan dalam satu buah gedung pelatihan bersama. Lokasi perancangan gedung ini berada di komplek stadion Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri. Dengan Adanya gedung pelatihan bela diri ini diharapkan mampu mendorong prestasi para atlet di Kalimantan Barat. Gedung ini terdiri dari dua massa bangunan yang pertama untuk aktifitas beladiri dan yang kedua untuk penginapan atlet atau asrama atlet. Gedung pelatihan ini juga dilengkapi dengan fasilitas gym yang berfungsi untuk menjaga kebugaran para atlet. Gedung Pelatihan Bela diri ini lebih mengedepankan fungsi daripada bentuk. Ini dilakukan untuk memaksimalkan fungsi utama yang harus mampu mewadahi tiga cabang bela diri sekaligus.Kata kunci: bela diri, ruang bersama, fungsi
TANJUNGPURA SCIENCE AND TECHNOLOGY LABORATORY
Andyani Eka Lestari;
Lestari Lestari;
Irwin Irwin
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 9, No 2 (2021): September
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v9i2.47622
Along with the rapid development of Science and Technology (IPTEK) globally, which seems to spread to various segments in the world, it creates competition for every country to take part in the progress of science and technology. To achieve this goal, a mature strategy is needed for equitable distribution of science and technology, a good synergy between institutions and human resources is needed. West Kalimantan has the potential in terms of territory and existing human resources to have the development center, because Universitas Tanjungpura is the largest university in West Kalimantan which has the potential to become a center for science and technology activities, of course with flexible laboratory facilities as a forum for development. The purpose of this design is to produce a design for the Tanjungpura Science and technology laboratory building. Design starts from determining the problem in the design, collecting primary and secondary data related to the design process. Primary data in the form of a field survey on Jl. Prof. Dr. Hadari Nawawi and secondary data from books, journals, and data from related institutions. The data is then processed and analyzed to produce floor plans, views, section and the perspective of exterior and interior. Adaptable architecture design considering physical aspects, spatial aspects, building character and contextual aspects in the design process. This concept resulted in a building design consisting of several separate masses then connected by bridges to achieve spatial attachment, flexible spaces that are comfortable and safe for users and their environment. Standarized and adaptability are the core of the Tanjungpura Science and technology laboratory design
PUSAT BAHASA DI KOTA PONTIANAK
Farizal, Ryan
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 3, No 1 (2015): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v3i1.10201
Setiap negara mempunyai media komunikasi yang dapat memperlancar hubungan antar individu. Alat komunikasi ini kita sebut bahasa. Salah satunya adalah bahasa Indonesia, bahasa yang digunakan Negara Indonesia sebagai bahasa komunikasi di masyarakat, yang sudah tidak asing lagi karena sudah digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari bagi orang Indonesia. Perkembangan zaman yang semakin maju membuat Bahasa Indonesia pelan-pelan mulai terpinggirkan oleh pengaruh teknologi yang berkembang semakin pesat dan tidak ada batasnya. Penggunaan bahasa sebagai bahasa pengantar di dalam bidang pendidikan sangat penting dan akan mempengaruhi mutu pendidikan dan karakter bangsa. Institusi pendidikan di Indonesia harus menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dengan pengucapan yang baik dan benar. Sehingga diperlukan usaha untuk mempertahankan bahasa Indonesia secara umum agar tidak mengalami kepunahan karena tergerus pengaruh globalisasi baik pengaruh yang ditimbulkan dari media massa maupun dalam bentuk pergaulan sosial di antara masyarakat. Sehingga dibutuhkannya penyelenggaraan fasilitas dalam usaha untuk melestarikan bahasa Indonesia yang disebut sebagai Pusat Bahasa. Metodologi perancangan yang ditempuh adalah dengan mengumpulkan data dengan teknik observasi, literatur dan wawancara. Menganalisis data-data berdasarkan fasilitas dan sistem pelayanan yang ada pada Pusat Bahasa. Berdasarkan analisis tersebut maka dapat dihasilkan konsep perancangan yang digunakan untuk merancang fasilitas yang baik bagi Pusat Bahasa di Kota Pontianak. Kata kunci: Pusat Bahasa, Bahasa, Kota Pontianak
KAWASAN AGROWISATA ORGANIK DI PONTIANAK
Indrawati, Vilda
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 7, No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v7i1.31501
Fenomena parkiran Taman Alun Kapuas yang memakan setengah badan Jalan Rahadi Usman ketika akhir pekan menunjukkan bahwa masyarakat Kota Pontianak menyenangi ruang terbuka sebagai tempat berekreasi. Tidak hanya kekurangan tempat wisata ruang terbuka, Pontianak juga mengalami masalah dengan luas panen tanaman pertanian yang menurun setiap tahun. Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kota Pontianak merespons fenomena tersebut dengan membuat percontohan budidaya sayuran daun organik. Di sisi lain, pemerintah Kota Pontianak memiliki sebidang tanah di Jalan Purnama 2, dekat dengan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang melakukan pembuatan pupuk organik sehingga dapat mendukung adanya kawasan agrowisata organik. Perancangan kawasan agrowisata organik di Pontianak dilakukan dengan mengidentifikasi dan menganalisis fungsi rekreasi, edukasi, dan usaha bagi pengelola kawasan untuk diaplikasikan pada tapak berdasarkan konsep organik (alami). Konsep ini diaplikasikan pada perancangan tata ruang luar yang minim perkerasan, tidak menebang pohon-pohon besar existing, dan pemanfaatan vegetasi sebagai peneduh; tata ruang dalam yang mengandalkan pencahayaan dan penghawaan alami, meminimalisir penggunaan dinding masif, dan penggunaan sistem struktur serta tata massa yang sesuai dengan kondisi lahan; serta pemanfaatan air hujan untuk sistem irigasi, cahaya matahari sebagai sumber energi alternatif, dan pemanfaatan sampah botol untuk media tanam dan sampah terurai sebagai komposter. Kata kunci: agrowisata, organik, Pontianak
MUSEUM TENUN SONGKET SAMBAS
Fajar, Indra Wahyu
JMARS: Jurnal Mosaik Arsitektur Vol 4, No 2 (2016): September
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26418/jmars.v4i2.16690
Museum merupakan wadah kebutuhan masyarakat dan wisatawan untuk melihat dan memahami sejarah. Museum menjadi salah satu cara untuk melindungi, merawat, menyimpan, mengamankan hasil budaya manusia dan alam guna menunjang upaya pelestarian kekayaan budaya serta untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat, khususnya di Kota Sambas Kalimantan Barat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perkembangan Tenun Songket Sambas mulai memudar, seperti penurunan jumlah penenun serta kurangnya kepedulian masyarakat akan pengetahuan sejarah, filosofi maupun pengetahuan akan pemakaian alat dan bahan Tenun Songket Sambas. Dibutuhkan sebuah rancangan Museum Tenun Songket Sambas sebagai tempat yang mampu mewadahi dan memenuhi kegiatan-kegiatan tersebut. Kota Sambas memiliki potensi untuk pelestarian budaya tenun karena masyarakat memiliki budaya menenun dan memiliki lokasi sentral tenun. Museum Tenun Songket Sambas ini dirancang dengan konsep bangunan yang menceritakan sejarah perkembangan Tenun Songket Sambas. Konsep ini terlihat pada penataan tata ruang dalam bangunan, menceritakan zona-zona perkenalan hingga zona diorama menenun serta ruang pelatihan menenun. Diharapkan bangunan dapat memenuhi kebutuhan intelektual kalangan pendidikan yang ingin melakukan studi dan wisatawan serta masyarakat yang ingin mengetahui dan mempelajari tentang Tenun Songket Sambas. Kata kunci: Museum, Budaya, Tenun Songket Sambas