cover
Contact Name
Trisnu Satriadi
Contact Email
sylva.scientaeae@ulm.ac.id
Phone
+6285101185530
Journal Mail Official
trisnu.satriadi@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl. A. Yani Km 36 Simpang Empat Banjarbaru Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Sylva Scienteae
ISSN : -     EISSN : 26228963     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Sylva Scienteae merupakan jurnal yang mempublikasikan hasil penelitian di bidang kehutanan, meliputi Teknologi Hasil Hutan, Manajemen Hutan, Budidaya Hutan, dan Konservasi Hutan. Jurnal ini diterbitkan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat. Terbit pertama kali di bulan Agustus 2018. Pada Tahun 2018 hanya mengeluarkan dua edisi yaitu Agustus dan Oktober. Selanjutnya pada tahun 2019 sampai sekarang, jurnal dipublikasikan sebanyak 6 edisi, yaitu Februari, April, Juni, Agustus, Oktober dan Desember.
Articles 791 Documents
IDENTIFIKASI TUMBUHAN HUTAN BERKHASIAT OBAT TRADISIONAL OLEH MASYARAKAT SUKU DAYAK MERATUS Junaedi Junaedi; Arfa Agustina Rezekiah; Fonny Rianawati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i1.11984

Abstract

The use of medicinal plants is one of a form of interaction between the community and the forest. Community involvement is needed in conservation activities. This study aims to identify types of medicinal plants, plant parts used, processing, and utilization of medicinal plants by the community in Haratai Village. The method used in data collection using purposive sampling method and interviews with a total of 7 respondents. The data collected includes the characteristics of the respondents and the classification of the use of medicinal plants. The results showed that the community used 27 species from 31 families of medicinal plants that had been identified. The Zingiberaceae family is the most commonly used. Most of the medicinal plants are processed by boiling, and the way to use medicinal plants is to drink them.Identifikasi tumbuhan obat yaitu salah satu bentuk interaksi antara masyarakat dan hutan. Dalam kegiatan konservasi, masyarakat sangat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan obat, bagian tumbuhan yang dimanfaatkan, pengolahan, dan pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat di Desa Haratai. Pengumpulan data dilakukan secara purposive sampling dan waancara dengan jumlah 7 responden. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik dari responden serta klasifikasi pemanfaatan terhadap tumbuhan obat. Hasil yang didapat selama penelitian menunjukkan bahwa masyarakat menggunakan 27 spesies dari 31 famili tumbuhan obat yang telah teridentifikasi. Keluarga Zingiberaceae adalah yang paling umum digunakan. Sebagian besar tumbuhan obat diolah secara direbus, serta dengan cara diminum untuk pemanfaatan tumbuhan obatnya.
PRODUKTIVITAS DAN RENDEMEN PEMBUATAN ANYAMAN PANDAN LAUT (Pandanus odorifer) SERTA KONTRIBUSI TERHADAP PENDAPATAN DI DESA PULAU KERAYAAN Rezky Ramadhan; Noor Mirad Sari; Yuniarti Yuniarti
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i1.11725

Abstract

The purpose of this study was to determine the average value of the contribution of woven sea pandanus to productivity, yield, and income in the form of fans, hoods, and bowls. Analyze the data collected by collecting information on the contribution of income to productivity, yield, and productivity of the woven sea pandanus craftsmen. Findings show that fan mats produce an average of 0.075 pieces per hour. The hood productivity averaged 0.042 pieces per hour. The average woven bowl productivity is 0.031 pieces per hour. The average yield of woven fans was 76.12 percent, the average yield of hoods was 71.59 percent, and the average yield of woven bowls was 57.38 percent. For weaving fans, the average net income value per year was IDR 2,886,118, with an average of IDR. Bowl weaving generated an annual net income of IDR 2,824,844. Bowl, hoods, and fan contributions all had average values of 29.03 percent and 29.06 percent, respectively. The highest average value of woven productivity was 0.075 pieces per hour, the highest average yield was 76.12 percent, and the highest annual average net income was IDR 2,886,118, with fan weaving contributing 30.06 percent of the highest average contribution valueTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai rata-rata kontribusi anyaman pandan laut terhadap produktivitas, hasil, dan pendapatan berupa kipas, tudung, dan mangkok.  Analisis data yang dikumpulkan melalui pengumpulan informasi mengenai kontribusi pendapatan terhadap produktivitas, hasil, dan produktivitas pengrajin anyaman pandan laut. Temuan menunjukkan bahwa tikar kipas menghasilkan rata-rata 0,075 lembar per jam. Produktivitas kap mesin rata-rata 0,042 lembar per jam. Produktivitas mangkuk anyaman rata-rata 0,031 lembar per jam. Hasil rata-rata kipas tenun adalah 76,12 persen, rendemen rata-rata tudung 71,59 persen, dan rendemen rata-rata anyaman mangkok 57,38 persen. Untuk kipas tenun, rata-rata nilai pendapatan bersih per tahun adalah Rp2.886.118, dengan rata-rata Rp. Anyaman mangkok menghasilkan pendapatan bersih tahunan Rp2.824.844.2.741.760.Mangkok, tudung, dan kipas tenun kontribusi semuanya memiliki nilai rata-rata masing-masing 29,03 persen dan 29,06 persen. Nilai rata-rata produktivitas anyaman tertinggi adalah 0,075 lembar per jam, hasil rata-rata tertinggi 76,12 persen, dan pendapatan bersih rata-rata tahunan tertinggi sebesar Rp2.886.118, dengan tenun kipas menyumbang 30,06% dari nilai kontribusi rata-rata tertinggi.
KARAKTERISTIK INDIVIDU TIM KERJA PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT (TK PPEG) DAN PEMETAAN USAHA MASYARAKAT DALAM UPAYA PEMULIHAN EKOSISTEM GAMBUT Muhammad Indera Wijaya; Rina Muhayah Noor Pitri; Syam'ani Syam'ani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i6.11035

Abstract

Indonesia has peatlands of approximately 15.5 million-18.5 million ha on three major islands, namely the islands of Sumatra, Kalimantan and Papua. Kalimantan is an island with a distribution of 9.75 million ha of peatlands, where Tapin and Hulu Sungai Utara Regencies have scattered peatlands. Related to the peatlands being faced is the absence of individual TK-PPEG characteristics and spatial information that maps the distribution of peatland-based community businesses in supporting peat ecosystem restoration efforts. The aims of the research are: (1) To analyze the individual characteristics of TK-PPEG in peatland-based businesses in efforts to restore peatlands; and (2) Analyze the distribution of community efforts in efforts to restore the peat ecosystem. The research was carried out in four scattered villages, namely in Pabaungan Hulu Village, Sungai Rutas Village. Pawalutan Village and Pulau Damar Village. Location determination and informants were selected by purvosive sampling in which all informants were taken from TK-PPEG (Census) members who had peatland-based businesses and village facilitators (2 people/village). The results of the analysis of the TK-PPEG characteristic assessment were that the level of individual characteristics in Sungai Rutas Village was moderate (18.23), Pabaungan Hulu Village was high (19.4), Pawalutan Village was high (19.06), and Pulau Damar Village was moderate (17.41 ). The distribution of community businesses in efforts to restore peat ecosystems is Sungai Rutas Village (eel farming) with a low success rate, Pabaungan Hulu Village (healthy chicken farming) medium success rate, Pawalutan Village (goat farming) high success rate, and Pulau Damar Village success rate low in papuyu fish farming, celery, tomato and watermelon farming, while the success rate is moderate in chili farmingIndonesia memiliki lahan gambut kurang lebih 15,5 juta-18,5 juta ha yang ada di tiga pulau besar yaitu pulau Sumatera, Kalimantan serta Papua. Kalimantan sebagai pulau dengan sebaran lahan gambut 9,75 juta ha dimana, Kabupaten Tapin dan Hulu Sungai Utara memiliki lahan gambut tersebar. Terkait dengan lahan gambut yang dihadapi adalah belum adanya karakteritik individu TK-PPEG dan informasi spasial yang memetakan persebaran usaha masyarakat berbasis lahan gambut dalam mendukung kegiatan upaya pemulihan ekosistem gambut. Tujuan dari penelitian yaitu: (1) Menganalisis karakteristik individu TK-PPEG pada usaha berbasis lahan gambut dalam upaya pemulihan lahan gambut; dan (2) Menganalisis sebaran usaha masyarakat dalam upaya pemulihan ekosistem gambut. Pelaksanaan penelitian di empat desa yang tersebar yaitu di Desa Pabaungan Hulu, Desa Sungai Rutas. Desa Pawalutan dan Desa Pulau Damar. Penentuan lokasi dan informan dipilih secara purvosive sampling dimana informan diambil seluruh anggota TK-PPEG (Sensus) yang mempunyai usaha berbasis lahan gambut dan fasilitator desa (2 orang/desa). Hasil analisis penilaian karakteristik TK-PPEG yaitu tingkat karakteristik individu di Desa Sungai Rutas sedang (18,23), Desa Pabaungan Hulu tinggi (19,4), Desa Pawalutan tinggi (19,06), dan Desa Pulau Damar sedang (17,41). Sebaran usaha masyarakat dalam upaya pemulihan ekosistem gambut yaitu Desa Sungai Rutas (budidaya ikan belut) dengan tingkat keberhasilan rendah, Desa Pabaungan Hulu (peternakan ayam sehat) tingkat keberhasilan sedang, Desa Pawalutan (peternakan kambing) tingkat keberhasilan tinggi, dan Desa Pulau Damar tingkat keberhasilan rendah pada usaha peternakan ikan papuyu, kebun selidri, tomat dan semangka, sedangkan tingkat keberhasilan sedang pada usaha kebun cabe
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN JENIS POHON SENGON (Paraserianthes falcataria L. Nielsen), AMPUPU (Eucalyptus grandis) DAN SUNGKAI (Peronema canescens Jack) PADA LAHAN KRITIS DI KHDTK MANDIANGIN Joan Gabriel Talenta; Ahmad Yamani; Setia Budi Peran
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i6.11020

Abstract

The purpose of this study was to analyze the level of land suitability for sengon tree species (Paraserianthes falcataria L. Nielsen), Ampupu (Eucalyptus grandis) and Sungkai (Peronema canescens Jack) tree species at KHDTK ULM Mandiangin. The determination of the observation point is carried out by the purposive sampling method by deliberately choosing a retrieval point that represents and access is easily accessible to obtain the physical and chemical properties of the soil. The results obtained from this study are that sengon plants have an actual land suitability level of S2sr (quite in accordance) with the limiting factor of the terrain (s) and Root condition (r). After efforts were made to improve the actual land suitability level increased to S2r (quite appropriate) with the rock outcrop limiting factor. In Ampupu plants have an actual land suitability level of S2wrs (quite appropriate) with limiting factors water availability (w), terrain (s) and root conditions (r). After efforts were made to improve the actual land suitability level increased to S2ws (quite appropriate) with the limiting factor of rock outcrops and dry moons.Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat kesesuaian lahan untuk jenis tanaman Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen), Ampupu (Eucalyptus grandis) dan Sungkai (Peronema canescens Jack) di KHDTK ULM Mandiangin. Penentuan titik pengambilan sampel tanah dilakukan dengan metode purposive sampling, dengan harapan sampel tanah yang diambil bisa mewakili areal di lokasi penelitian dan selanjutnya sampel tanah tersebut dianalisis beberapa sifat fisik dan kimianya yang diperlukan. Hasil penelitian menunjukkan pada tanaman sengon memiliki tingkat kesesuaian lahan actual S2sr (cukup sesuai) dengan faktor pembatas medan (s) dan kondisi perakaran. Kemudian setelah dilakukan upaya perbaikan tingkat kesesuaian lahan aktual meningkat menjadi S2r (cukup sesuai) dengan faktor pembatas singkapan batuan. Pada tanaman Ampupu memiliki tingkat kesesuaian lahan aktual S2wrs (cukup sesuai) dengan faktor pembatas ketersediaan air (w), medan (s) dan kondisi perakaran (r). Setelah dilakukan upaya perbaikan tingkat kesesuaian lahan aktual meningkat menjadi S2ws (cukup sesuai) dengan faktor pembatas singkapan batuan dan bulan kering. Sedangkan pada tanaman sungkai memiliki tingkat kesesuaian lahan aktual S2wrs (cukup sesuai) dengan (w) faktor pembatas ketersediaan air, medan (s) dan kondisi perakaran (r). Setelah dilakukan upaya perbaikan tingkat kesesuaian lahan aktual meningkat menjadi S2ws (cukup sesuai) dengan faktor pembatas singkapan batuan dan bulan kering.
IDENTIFIKASI HAMA PADA TUMBUHAN KAYU MANIS (Cinnamomum burmanii) DI TAMAN HUTAN HUJAN TROPIS INDONESIA (TH2TI) BANJARBARU KALIMANTAN SELATAN Fadlan Heriannor; Susilawati Susilawati; Dina Naemah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i1.11988

Abstract

The health of artificial forest stands such as TH2TI is influenced by the incidence of pest attacks from various levels of growth, so it is necessary to conduct a study to identify the type of pest in one of the plants in TH2TI such as cinnamon which has many benefits and economic value. The purpose of this study to identify the type of pest on cinnamon leaves (Cinnamomum burmanii). The benefits of this research are expected to provide information for academics, researchers, related parties and information on the wealth of non-timber forest products (HHBK), especially cinnamon, so that it can be used and preserved as one of the non-timber products. This study used seek applications and google photos to identify pests, while pest observations were carried out during the day and night with net aids to catch pests and emergency lights to attract pest attention at night. Sampling was taken on a plot of cinnamon plants (C. burmanii) of 30 plants in an area of 1 hectare in TH2TI. The results showed that there were 8 types of pests attacking cinnamon leaves found in the field.Tegakan hutan buatan pada TH2TI harus dijaga kesehatannya, dimana kondisi ini dipengaruhi serangan hama dari berbagai tingkatan pertumbuhan, sehingga perlu dilakukan sebuah penelitian untuk mengidentifikasikan jenis hama pada salah satu tanaman yang ada di TH2TI seperti kayu manis yang memiliki banyak manfaat dan bernilai ekonomi. Tujuan penelitian yaitu mengidentifikasi jenis hama pada daun kayu manis (Cinnamomum burmanii). Manfaat penelitian diharapkan bisa menyampaikan penjelasan bagi akademisi, peneliti, berbagai pihak terkait maupun informasi kekayaan hasil hutan bukan kayu (HHBK) terkhusus kayu manis agar dapat dimanfaatkan dan dilestarikan sebagai salah satu hasil bukan kayu. Penelitian ini menggunakan aplikasi seek dan google foto untuk mengidentifikasi hama, sedangkan pengamatan hama dilakukan pada siang dan malam hari dengan alat bantu jaring untuk menangkap hama dan lampu emergency untuk menarik perhatian hama pada malam hari. Pengambilan sampel diambil pada petak tanaman kayu manis (C. burmanii) sebanyak 30 tanaman dalam luasan 1 hektar di TH2TI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis hama menyerang daun kayu manis yang ditemukan di lapangan sebanyak 8 jenis
POTENSI CADANGAN KARBON PADA BIOMASSA DI HUTAN LINDUNG LIANG ANGGANG KOTA BANJARBARU Ubai Dillah; Mufidah Asy'ari; Suyanto Suyanto
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i1.11732

Abstract

The potential forests decreasing become global warming, thus affecting the occurrence of global climate change. Climate change in turn has impacted on the survival living. This is marked by appearance of extreme weather. The other phenomena in the form of natural disasters, namely: drought, floods, rain, storms, high waves, tidal floods, and so on. The goal of this case was to specify the potential for carbon stocks of biomass in Liang Anggang protected forest, Banjarbaru City. The chosen research method is using primary and secondary data. Secondary data was obtained from research, while primary data was obtained from field observations by taking several plots of biomass measurements. Plot placement is determined based on the normalized different vegetation index (NDVI). Primary data used a purposive sampling method from 12 plots from three NDVI classes, namely dark green (dense), light green (medium), and yellow (rare). The shape of the plot is in the form of a square measuring 30x30 m for the tree level, which contains plots of 10x10 for the pole level, 5x5 m for the sapling level, and 0.5x0.5 m for observations of understorey biomass and seedling level. The amount of potential biomass is counted using the appropriate allometric equation. The results of this study indicate overall potential for carbon stocks in an area of 960 ha is 37,739.60 tonnes with an average carbon reserve of 39.31 tonnes/ha, including a very low potential when compared to the potential for carbon stocks in general peatlandsPotensi hutan semakin berkurang mengakibatkan pemanasan global, sehingga mempengaruhi terjadinya perubahan iklim global. Perubahan iklim global tersebut pada gilirannya berdampak pada kelangsungan makhluk hidup. Hal ini di tandai dengan munculnya cuaca ekstrim. Selain itu, munculnya fenomena lain berupa bencana alam, yaitu: kekeringan, banjir, hujan, badai, gelombang tinggi, banjir rob, dan sebagainya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui besaran potensi cadangan karbon pada biomassa di hutan lindung Liang Anggang Kota Banjarbaru. Metode penelitian yang dipilih adalah menggunakan data primer dan sekunder, dimana data sekunder didapat pada studi Pustaka sebelumnya, sedangkan data primer didapat dari observasi ke lapangan dengan mengambil beberapa plot pengukuran biomassa. Peletakan plot ditentukan berdasarkan indeks nilai kehijauan (Normalized Different Vegetation Index / NDVI). Data primer di lapangan diambil menggunakan metode purposive sampling 12 plot dari tiga klas indeks kehijauan NDVI yaitu hijau tua (rapat), hijau muda (sedang), dan kuning (jarang). Bentuk plot berupa bujur sangkar berukuran 30x30 m pada tingkat pohon, didalamnya berisi plot 10x10 m sebagai plot tingkat tiang, 5x5 m tingkat pancang, dan 0,5x0,5 m pengamatan biomassa tumbuhan bawah dan tingkat semai. Besaran potensi biomassa dihitung menggunakan persamaan allometric yang sesuai. Hasil penelitian ini menunjukkan potensi cadangan karbon secara keseluruhan dalam luasan 960 ha adalah sebesar 37.739,60 ton dengan rataan cadangan karbonnya adalah 39,31 ton/ha, termasuk potensi sangat kurang bila dibandingkan dengan potensi cadangan karbon yang umum di lahan gambut
THE EFFECT OF AXIAL AND RADIAL DIRECTIONS ON THE EXTRACTIVE CONTENT OF LONTAR (BORASSUS FLABBELLIFER) STEM FROM WONRELI VILLAGE Hanny R Rupidara; Herman Siruru; Lieke Tan
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i6.11101

Abstract

Community interest in timber forest products is still high, but log production is decreasing. This can be circumvented by using non-timber forest products, but it is necessary to test the extractive content first so that the utilization is maximized. The purpose of this study was to determine the effect of the axial and radial directions on the extractive content of lontar (Borassus flabbellifer) stem. Extractive content testing was preceded by making particles from lontar stems. Then the lontar stem particles were dried and powdered with a size of 40 mesh and retained at 60 mesh. The content of cold water-soluble extractives was analyzed using the TAPPI T 207 om-88 standard, the hot water-soluble extractives content using the TAPPI T 264 om-88 standard and the ethanol-benzene soluble extractives content using TAPPI T 257 cm-85. The results showed that the levels of cold-water soluble extractives ranged from 1.426 - 8.159%, hot water-soluble extractives 1.854 - 10.07% and ethanol-benzene soluble extractives 1.97% - 10.11%. The correlation between hot water-soluble extractives and cold-water soluble extractives is 0.8390 and 0.6325 for ethanol-benzene soluble extractives, while the correlation between cold water-soluble extractives and ethanol-benzene soluble extractives is 0.2954
ANALISIS STATUS KERUSAKAN TANAH DI DAERAH TANGKAPAN AIR (DTA) SUB-SUB DAS RIAM KANAN Regina Putri Utami; Eko Rini Indrayatie; Khairun Nisa
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i6.11025

Abstract

Changes in land cover can cause damage to the physical, chemical, and biological properties of the soil. Soil damage is one indicator that makes land critical. Soil damage has the potential to cause erosion so that plant growth on land cannot grow optimally or is said to be infertile. This study aimed to analyze the potential and status of soil damage in the water catchment area of The Riam Kanan sub-watersheds. The methods used in this study are overlays and scoring to determine the potential for soil damage; and matching and scoring to determine the status of soil damage. Based on the analysis of soil damage, there are three classes of potential soil damage, specifically low, medium, and high. The highest potential is found in the Typic Eutrudox Steep Open Land unit. As for soil damage, all land units have the same status, specifically slightly damaged. Those have the same limiting factors, specifically bulk density and total porosity on land unit lateritic Podzolic Flat Rubber Plantation, Lateritic Podzolic Flat Mixed Dryland Agriculture, and Kandic Podzolic Flat Mixed Dryland Agriculture. The limiting factors for unit weight, total porosity, and redox in the Haplic Oxisol Sloping Mixed Garden and Moderately Steep Haplic Oxisols Mixed Gardens land unitsPerubahan tutupan lahan dapat mengakibatkan kerusakan pada sifat fisik tanah, kimia tanah dan biologi tanah. Kerusakan tanah merupakan salah satu indikator yang membuat lahan menjadi kritis. Tanah yang mengalami kerusakan berpotensi terjadi erosi sehingga membuat pertumbuhan tanaman pada lahan tidak dapat tumbuh dengan optimal atau dikatakan tidak subur. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis potensi dan status kerusakan tanah di Daerah Tangkapan Air (DTA) Sub-Sub DAS Riam Kanan. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah overlays dan scoring untuk menentukan potensi kerusakan tanah, matching dan scoring untuk menentukan status kerusakan tanah pada lokasi penelitian. Berdasarkan dari hasil analisis didapatkan 3 kelas potensi kerusakan tanah yaitu potensi rendah, potensi sedang dan potensi tinggi. Potensi tinggi terdapat pada unit lahan Typic Eutrudox Curam Tanah Terbuka (TECTT), sedangkan status kerusakan tanah pada semua unit lahan memiliki status yang sama yaitu rusak ringan. Adapun yang memiliki faktor pembatas yang sama yaitu berat isi dan porositas total pada unit lahan Podsolik Laterik, Datar, Perkebunan Karet (PLDPK), Podsolik Laterik, Datar, Pertanian Lahan Kering Campur (PLDPLKC), dan Podsolik Kandik, Datar, Pertanian Lahan Kering Campur (PKDPLKC). Faktor pembatas berat isi, porositas total dan redoks pada unit lahan Oksisol Haplik, Landai, Kebun Campuran (OHLKC) dan Oksisol Haplik Cukup Curam, Kebun Campuran (OHCCKC).
Sampul JSS Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024 Arman Mirza
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i1.12008

Abstract

Sampul JSS Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT PADA PENGELOLAAN AGROFORESTRI DI DESA BATU NINDAN KABUPATEN KAPUAS Cahyani Hanifah; Hafizianor Hafizianor; Asysyifa Asysyifa
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i6.11016

Abstract

Local wisdom is a form of behavior or mindset of the people of an area that is applied in the environment where they live. The purpose of this study was to examine the local wisdom of the community in managing agroforestry land in Batu Nindan Village. This research method is interviewing key respondent (such as village heads, community leaders, and agroforestry farmers) who have information related to the problem under study regarding forms of local community wisdom in managing agroforestry land. The interview method used is in-depth interviews to key respondent. The data were obtained from direct observations in the field. The results of the observation of this study are that there are three components, namely Ideological Superstructure (relating to the carrying out of a traditional ritual during land clearing called the ritual "Ala Ayuning or Dewase Ayu"), Social Structure (absence of customary institutions related to agroforestry land management) and Material Infrastructure (in processing the land is carried out with special treatments, such as making mounds, boiling and applying lime. This treatment is carried out because the condition of the land in Batu Nindan Village is including wetlands).Kearifan lokal adalah bentuk perilaku atau pola pikir dari masyarakat suatu daerah yang diterapkan di lingkungan tempat tinggalnya. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kearifan lokal masyarakat dalam pengelolaan lahan agroforestri di Desa Batu Nindan. Metode penelitian ini adalah wawancara kepada responden kunci (seperti Kepala Desa, Tokoh Masyarakat, dan Petani Agroforestri) yang mengetahui informasi terkait dengan masalah yang diteliti ini tentang bentuk kearifan lokal masyarakat dalam mengelola lahan agroforestri. Metode wawancara yang digunakan ialah wawancara secara mendalam (Indept Interview) kepada responden kunci. Data-data yang didapatkan dalam penelitian diperoleh dari hasil observasi secara langsung di lapangan. Hasil dari penelitian ini terbagi menjadi tiga komponen yaitu Supesrtruktur Ideologis (Struktur Sosial (tidak adanya kelembagaan secara adat yang berkaitan dengan pengelolaan lahan agroforestri) dan Infrastruktur Material (dalam pengolahan lahannya dilakukan dengan perlakuan khusus, seperti pembuatan guludan tanah, pendangiran dan pemberian kapur. Perlakuan tersebut dilakukan karena kondisi lahan di Desa Batu Nindan termasuk lahan basah).

Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 6 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 6 Edisi Desember 2025 Vol 7, No 6 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 6 Edisi Desember 2024 Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024 Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024 Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024 Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024 Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024 Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023 Vol 6, No 5 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 5 Edisi Oktober 2023 Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023 Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023 Vol 6, No 2 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 2 Edisi April 2023 Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023 Vol 5, No 6 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 6 Edisi Desember 2022 Vol 5, No 5 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 5 Edisi Oktober 2022 Vol 5, No 4 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 4 Edisi Agustus 2022 Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 3 Edisi Juni 2022 Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 2 Edisi April 2022 Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 1 Edisi Februari 2022 Vol 3, No 6 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Volume 3 No 6 Edisi Desember 2020 Vol 4, No 6 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 6 Edisi Desember 2021 Vol 4, No 5 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 5 Edisi Oktober 2021 Vol 4, No 4 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 4 Edisi Agustus 2021 Vol 4, No 3 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 3 Edisi Juni 2021 Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 2 Edisi April 2021 Vol 4, No 1 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 1 Edisi Februari 2021 Vol 3, No 5 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 5, Edisi Oktober 2020 Vol 3, No 4 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 4, Edisi Agustus 2020 Vol 3, No 3 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 3, Edisi Juni 2020 Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 2, Edisi April 2020 Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 1, Edisi Februari 2020 Vol 2, No 6 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 6, Edisi Desember 2019 Vol 2, No 5 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 5, Edisi Oktober 2019 Vol 2, No 4 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 4, Edisi Agustus 2019 Vol 2, No 3 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 3, Edisi Juni 2019 Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 2, Edisi April 2019 Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 1, Edisi Februari 2019 Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 2, Edisi Oktober 2018 Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 1, Edisi Agustus 2018 More Issue