cover
Contact Name
suparna wijaya
Contact Email
life.jurnalku@gmail.com
Phone
+6287780663168
Journal Mail Official
life.jurnalku@gmail.com
Editorial Address
Serpong, Tangerang Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Indonesian Journal of Health Science
Published by PT WIM Solusi Prima
ISSN : -     EISSN : 28091167     DOI : https://doi.org/10.54957/ijhs
Core Subject : Health,
Indonesian Journal of Health Science is a place for disseminating research results in the field of health, including, but not limited to topics of public health, environmental health, occupational health, pharmacy, nutrition, epidemiology, medical laboratories, physiotherapy, or other general health.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 1 (2024)" : 10 Documents clear
Systematic Review: Efektivitas Penerapan Strengthening Dan Stretching Exercise Pada Kasus Erb’S Palsy Hayuningrum, Cicilia Febriani; Annisa, Alya Nur; Apriliani, Tika; Pamungkas, Vincencius Ganesa
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i1.492

Abstract

Background: Brachial plexus or lesion of the brachial nerve is an injury to the peripheral nerve strands in the neck (cervical) and shoulder areas which results in paralysis of the muscles of the shoulders, elbows, wrists and fingers. Brachial plexus injuries are usually unilateral or only one side is affected and most often occurs in trauma at birth in the form of a small maternal pelvis, shoulder dystocia, and sundang position while in the womb. Erb's Palsy is also called Duchenne-Erb or Dejerine-Klumpke syndrome, which is paralysis of the brachial plexus at (C5-C6) or (C7-T1) which is characterized by impaired abduction and external rotation of the shoulder and flexion of the elbow, so that it can interfere with the function of the hand and wrist. Objective: To find out the effectiveness of giving stretching and strengthening exercises in the case of Erb's Palsy. Results: There were 8 articles that met the predeter mined inclusion and exclusion criteria. Conclusion: Modifications in various stretching and strengthening exercises for sufferers of Erb's Palsy are considered effective for preventing progression, preventing contractures, increasing strength, and increasing active movement range of motion. These modifications include Pylometric Exercise, Proprioceptive Neuromuscular Facilitation (PNF), dynamic elbow brace, bimanual exercises, and other interventions that can improve the quality of life of ERB's palsy patients from newborns to adults Background: Brachial Pleksus atau lesi pada saraf brakialis merupakan cedera dari untaian saraf tepi di daerah leher (Cervical) dan bahu yang mengakibatkan kelumpuhan pada otot-otot bahu, siku, pergelangan tangan, dan jari-jari tangan. Cedera pleksus brakialis biasanya unilateral atau hanya salah satu sisi yang terdampak dan paling sering terjadi pada trauma saat lahir berupa ukuran panggul ibu yang kecil, shoulder dystocia, dan posisi sundang pada saat di dalam kandungan. Erb’s Palsy disebut juga sindrom Duchenne-Erb atau Dejerine-Klumpke, yaitu kelumpuhan pleksus brakialis pada (C5-C6) atau (C7-T1) yang ditandai dengan gangguan abduksi dan eksternal rotasi shoulder serta fleksi elbow, sehingga dapat mengganggu fungsi tangan dan pergelangan tangan. Tujuan: Untuk mengetahui efektifitas pemberian stretching dan strengthening exercise pada kasus Erb’s Palsy. Metode: Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah systematic review. Pengumpulan data secara kualitatif dengan menelusuri, mendokumentasikan, serta mereview semua artikel dan jurnal terkait penatalaksanaan fisioterapi pada kasus Erb’s Palsy dalam kurun waktu 2012-2022. Artikel yang digunakan pada penelitian ini diperoleh dari dua database yaitu Google Scholar dan PubMed. Hasil: Didapatkan 8 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan sebelumnya. Kesimpulan: Modifikasi dalam stretching dan strengthening exercise yang beragam untuk penderita Erb’s Palsy dinilai efektif untuk mencegah progresifitas, mencegah kontraktur, meningkatkan kekuatan, dan meningkatkan lingkup gerak sendi gerakan aktif. Modifikasi tersebut diantaranya ada Pylometric Exercise, Proprioseptive Neuromuscular Facilitation (PNF), elbow dynamic brace, Latihan bimanual, dan intervensi lainnya yang dapat memperbaiki kualitas hidup pasien erb’s palsy dari mulai bayi baru lahir hingga dewasa.  
Forulasi, Karakteristik, Dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Gel Moisturizer Anti-Aging Ekstrak Daun Sukun (Artocarpus altilis) Shofiah, Siti Aminatus
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i1.579

Abstract

Penuaan kulit akibat radikal bebas mampu dinetralisir dengan antioksidan. Penggunaan antioksidan diperlukan kosmetik anti-aging berupa gel moisturizer anti-aging untuk merawat kulit wajah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan formulasi serta menguji karakteristik dan aktivitas antioksidan gel moisturizer anti-aging dengan kandungan daun sukun. Daun sukun diekstraksi dengan metode maserasi selama 3x24 jam menggunakan pelarut etanol 96%. Di buat empat formulasi gel moisturizer anti-aging dengan konsentrasi ekstrak F0 0%, F1 10%, F2 15%, dan F3 20%. Hasil uji karakteristik sediaan gel moisturizer anti-aging berbentuk semi solid sesuai standar SNI sediaan topikal, berwarna kuning kehijauan, memiliki aroma khas daun sukun, bersifat homogen, memiliki nilai pH dan daya sebar yang aman bagi kulit, tidak menyebabkan iritasi, serta mampu melembabkan kulit. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Pada F3 mempunyai antioksidan kuat, F2 sedang, F1 lemah, dan F0 lemah. Formulasi gel moisturizer anti-aging yang terbaik ada pada F3 dengan antioksidan kuat. Penuaan kulit akibat radikal bebas mampu dinetralisir dengan antioksidan. Penggunaan antioksidan diperlukan kosmetik anti-aging berupa gel moisturizer anti-aging untuk merawat kulit wajah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan formulasi serta menguji karakteristik dan aktivitas antioksidan gel moisturizer anti-aging dengan kandungan daun sukun. Daun sukun diekstraksi dengan metode maserasi selama 3x24 jam menggunakan pelarut etanol 96%. Di buat empat formulasi gel moisturizer anti-aging dengan konsentrasi ekstrak F0 0%, F1 10%, F2 15%, dan F3 20%. Hasil uji karakteristik sediaan gel moisturizer anti-aging berbentuk semi solid sesuai standar SNI sediaan topikal, berwarna kuning kehijauan, memiliki aroma khas daun sukun, bersifat homogen, memiliki nilai pH dan daya sebar yang aman bagi kulit, tidak menyebabkan iritasi, serta mampu melembabkan kulit. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Pada F3 mempunyai antioksidan kuat, F2 sedang, F1 lemah, dan F0 lemah. Formulasi gel moisturizer anti-aging yang terbaik ada pada F3 dengan antioksidan kuat.
Formulasi Dan Uji Aktivitas Antibakteri Pada Krim Ekstrak Etanol Daun Jelatang (Urtica Dioica L.) Terhadap Bakteri Propionibacterium Acnes Purwanda, Irma
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i1.583

Abstract

Indonesia mempunyai ±7000 spesies tanaman yang berkhasiat sebagai bahan obat, salah satunya yaitu daun jelatang. Daun jelatang berpotensi sebagai aktivitas antibakteri penyebab jerawat salah satunya yaitu bakteri Propionibacterium acnes. Pravelensi jerawat berkisar antara 85% menderita jerawat ringan dan 15% menderita jerawat berat. Antibiotik dapat mengobati infeksi bakteri, namun dalam jangka panjang dapat menyebabkan resistensi kulit. Krim mampu mencegah maupun mengobati terjadinya jerawat. Daun jelatang memiliki kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin yang diketahui senyawa tersebut memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian dilakukan untuk mengetahui ekstrak daun jelatang dapat diformulasikan sebagai krim antijerawat dan mengetahui efektivitas konsentrasi terbaik pada formulasi sediaan krim ekstrak daun jelatang terhadap aktivitas bakteri Propionibacterium acnes. Metode yang digunakan adalah true eksperimental dan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram. Konsentrasi ekstrak yang digunakan dalam pembuatan krim adalah 5%, 10%, dan 15%. Hasil evaluasi fisik sediaan krim ekstrak daun jelatang yaitu bertekstur semi solid, berwarna hijau pekat, bau khas ekstrak daun jelatang dan greentea, rentang pH 5-7, rerata daya sebar 5 cm, rerata daya lekat 11-17 detik, dan termasuk dalam tipe emulsi Minyak dalam Air (M/A). Formulasi sediaan krim 5%, 10%, dan 15% mampu menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes. Hasil uji daya hambat aktivitas antibakteri pada krim ekstrak daun jelatang yang paling baik yaitu formulasi F3 dengan konsentrasi ekstrak 15% memiliki diameter zona hambat 16,3 mm yang berkategori daya hambat tinggi. Indonesia mempunyai ±7000 spesies tanaman yang berkhasiat sebagai bahan obat, salah satunya yaitu daun jelatang. Daun jelatang berpotensi sebagai aktivitas antibakteri penyebab jerawat salah satunya yaitu bakteri Propionibacterium acnes. Pravelensi jerawat berkisar antara 85% menderita jerawat ringan dan 15% menderita jerawat berat. Antibiotik dapat mengobati infeksi bakteri, namun dalam jangka panjang dapat menyebabkan resistensi kulit. Krim mampu mencegah maupun mengobati terjadinya jerawat. Daun jelatang memiliki kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin yang diketahui senyawa tersebut memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian dilakukan untuk mengetahui ekstrak daun jelatang dapat diformulasikan sebagai krim antijerawat dan mengetahui efektivitas konsentrasi terbaik pada formulasi sediaan krim ekstrak daun jelatang terhadap aktivitas bakteri Propionibacterium acnes. Metode yang digunakan adalah true eksperimental dan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram. Konsentrasi ekstrak yang digunakan dalam pembuatan krim adalah 5%, 10%, dan 15%. Hasil evaluasi fisik sediaan krim ekstrak daun jelatang yaitu bertekstur semi solid, berwarna hijau pekat, bau khas ekstrak daun jelatang dan greentea, rentang pH 5-7, rerata daya sebar 5 cm, rerata daya lekat 11-17 detik, dan termasuk dalam tipe emulsi Minyak dalam Air (M/A). Formulasi sediaan krim 5%, 10%, dan 15% mampu menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes. Hasil uji daya hambat aktivitas antibakteri pada krim ekstrak daun jelatang yang paling baik yaitu formulasi F3 dengan konsentrasi ekstrak 15% memiliki diameter zona hambat 16,3 mm yang berkategori daya hambat tinggi.
Formulasi Tisu Basah Ekstrak Daun Binahong Merah (Anredera cordifolia) Sebagai Pembersih Make Up Mutmainah, Siti
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i1.585

Abstract

Daun binahong merah berpotensi sebagai antioksidan alami yang melindungi kulit. Jerawat disebabkan penumpukan sebum akibat make up tidak dibersihkan. Diperluas pembersih make up inovasi baru berupa Tisu basah. Penelitian bertujuan mengetahui formulasi tisu basah ekstrak daun binahong merah sesuai standart sediaan topical, efektivitas dari tisu basah ekstrak daun binahong merah dan aktivitas antioksidan dari sediaan tisu basah ekstrak daun binahong. Jenis penelitian kuantitatif. Metode uji organoleptic, pH, daya bersih, iritasi, Uji kelembapan dan uji antioksidan. Hasil evaluasi tisu basah padat, bau aroma bunga, khas ekstrak, warna putih-coklat pekat dan rasa dingin, pH 5. Daya bersih baik, tidak mengiritas, lembab, nilai antioksidan 162,957- 51,273ppm. Disimpulkan bahwa tisu basah ekstrak daun binahong merah telah memenuhi standart sediaan topical. Efektivitas ekstrak daun binahong merah diukur berdasarkan nilai kelembapan yang baik dan Aktivitas antioksidan sediaan tisu basah ekstrak daun binahong marah, f0 antioksidan sedang dan f1, f2, f3 kuat.
Asuhan Keperawatan Keluarga Pada NY. M Dengan Hipertensi Mirdawati, Eli; Hidayati, Husna; Atika, Syarifah
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i1.626

Abstract

Background: Hypertension is one of the common non-communicable diseases in Indonesia. This might happen because of the need for more knowledge and interest in adopting a healthy lifestyle. Aim of Research: This research aimed to describe the family nursing care for hypertension. Research Method: This research used a descriptive qualitative method with a case study approach to nursing care, including reviewing, establishing diagnosis, intervening, implementing, and evaluating. Result of Study: Nursing intervention referred to 5 tasks of family health, including introducing hypertension problem, giving support and motivation to the family in taking care of family members related to hypertension, demonstrating a DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) diet, providing a comfortable environment, suggesting family having use the nearby facility. Conclusion: Family nursing care was based on five essential family tasks in improving interest and family motivation to apply a healthy life style to achieve better health status. Latar Belakang: Hipertensi menjadi salah satu penyakit tidak menular dengan angka kejadian yang cukup tinggi di Indonesia. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan dan minat dalam menerapkan pola hidup sehat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan pada keluarga dengan hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, penetapan diagnosa, intervensi, impelementasi dan evaluasi. Hasil: Intervensi keperawatan keluarga yang diberikan merujuk pada lima tugas kesehatan keluarga yaitu pengenalan masalah hipertensi, memberikan dukungan dan motivasi pada keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan hipertensi, demonstrasi diet DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension), menciptakan lingkungan yang nyaman, serta menganjurkan keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan terdekat. Kesimpulan: Asuhan keperawatan keluarga berdasarkan lima tugas kesehatan sangat penting dalam meningkatkan minat dan motivasi untuk menerapkan pola hidup sehat sehingga dapat tercapai status kesehatan yang lebih baik.
Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Bambu Tali (Gigantochloa apus) Sebagai Penyembuhan Luka Secara In Vivo Adrianto, Dimas; Rianty Lakoan, Milda; Arianti, Varda
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i1.680

Abstract

Luka adalah gangguan normal hilangnya integritas epitel kulit. Diikuti dengan gangguan anatomi dan fungsinya. Penyembuhan luka dapat dibagi menjadi tiga tahap; hemostasis atau peradangan, proliferasi, remodeling atau terminasi. Namun proses ini dapat dihambat oleh infeksi bakteri. Ekstrak tanaman bambu tali diduga mengandung senyawa golongan triterpenoid yang berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa yang terkandung pada ekstrak etanol daun bambu tali dan mengetahui efektivitas ekstrak tanaman bambu tali sebagai penyembuh luka. Pengujian ini menggunakan 28 mencit yang dibagi menjadi 4 kelompok. Luka sayatan pada mencit dibuat pada bagian punggung mencit dengan panjang 1,5 cm dan kedalaman 2 mm, setelah itu diberikan perlakuan sesuai dengan masing-masing kelompok. Hasil identifikasi skrining fitokimia menunjukan adanya kandungan pada ekstrak daun bambu tali seperti flavonoid (positif) dan triterpenoid (positif). Hasil dari penyembuhan luka memiliki efektivitas terhadap luka sayat pada mencit ditunjukkan oleh ekstraksi daun bambu tali.
Epigenetik Pada Sindrom Ovarium Polikistik: Gangguan Proses Folikulogenesis Yang Melibatkan Gen Reseptor Androgen, Reseptor Follicle-Stimulating Hormone Dan Reseptor Luteinizing Hormone Arianto, Steven; Radhina, Afifa; Shari, Amalia; Jannah, Insani Fitrahulil; Sari, Mike Permata
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i1.683

Abstract

Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) merupakan salah satu gangguan hormonal yang dialami oleh wanita. Gangguan ini menyebabkan disregulasi proses neuroendokrin dan mengganggu proses pembentukan folikel (folikulogenesis). Etiologi gangguan folikulogenesis pada Sindrom Ovarium Polikistik disebabkan oleh reseptor androgen, reseptor follicle stimulating hormone (FSH), dan reseptor luteinizing hormone (LH). Beberapa pendekatan ilmiah digunakan untuk memahami penyebab gangguan folikulogenesis pada Sindrom Ovarium Polikistik, salah satunya epigenetik. Faktor epigenetik seperti metilasi DNA dan modifikasi histon diduga menjadi salah satu penyebab gangguan pengaturan sinyal luteinizing hormone dan follicle stimulating hormone pada folikulogenesis. Sinyal luteinizing hormone dan follicle-stimulating hormone diatur oleh reseptor luteinizing hormone dan reseptor follicle stimulating hormone yang memiliki ekspresi messenger RNA (mRNA) yang berbeda dibandingkan dengan kondisi normal. Reseptor luteinizing hormone diekspresikan secara berlebihan pada sel teka dan sel granulosa, sedangkan reseptor follicle stimulating hormone mengalami represi ekspresi gen pada sel granulosa. Hiperandrogenisme yang dimediasi reseptor androgen juga diatur secara berbeda pada Sindrom Ovarium Polikistik.
Evaluasi Dan Outcome Terapi Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Pasien Sectio Caesarea Di Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring Jakarta Sjahid Latief, Mutawalli; Destian, Lutfi
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i1.732

Abstract

Background: Penggunaan antibiotik profilaksis pada saat operasi sesar telah terbukti mengurangi risiko infeksi luka, Intensnya penggunaan dan penyalahgunaan antibiotik tidak diragukan lagi, merupakan faktor utama yang terkait dengan tingginya jumlah bakteri patogen, untuk mengurangi dampak dan membatasi penyebaran resistensi salah satunya dengan penggunaan obat antimikroba secara rasional, komplikasi yang paling sering terjadi pada operasi adalah sectio saesarea timbulnya demam diserta naiknya angka leukosit. Tujuan: untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien Sectio Caesarea secara kualitatif menggunakan metode gyssens dan untuk mengetahui outcome terapi penggunaan antibiotik profilaksis setelah operasi sesar. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dengan pendekatan cross sectional, pengambilan data dilakukan secara retrospektif, berupa data rekam medis sebanyak 84 pasien di rumah sakit Muhammadiyah Taman Puring Jakarta. Hasil: evaluasi menggunakan gyssens menunjukkan bahwa penggunan antibiotik profilaksis pada pasien sectio caesarea di rumah sakit Muhammadiyah Taman Puring Jakarta sudah tepat obat dan dosis sesuai pedoman, namun terdapat penggunaan antibiotika profilaksis yang terlalu lama (III A)  68%, ada antibiotik yang lebih murah (IV C) 22%, ada antibiotik lain yang spektrumnya lebih sempit (IV D) 6% dan penggunaan antibiotik tidak tepat waktu (I) 4%, sedangkan berdasarkan outcome terapi setelah operasi sesar menunjukkan angka leukosit <11.000/mcL dan suhu tubuh <37,5°C sehingga cefazolin, cefuroxime, ceftriaxone, cefotaxime memiliki efektivitas yang sama. Kesimpulan: penggunaan obat yang terlalu lama perlu menjadi perhatian pada penggunaan antibiotika profilaksis pada pasien Sectio Caesarea.
Perbedaan Parameter Eritrosit Dan Retikulosit Pada Pasien Talasemia Beta Minor Dan Anemia Defisiensi Besi Ringan Roes, Bellya Affan; Prihatni, Delita; Tristina, Nina
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i1.749

Abstract

Beta thalassemia and iron deficiency anemia (IDA) are most common microcytic hypochromic anemia. It is difficult to distinguish minor β thalassemia from mild iron deficiency anemia only by clinical findings and routine hematology examinations, it requires confirmatory tests which are limited in availability and relatively expensive. The presence of additional erythrocyte and reticulocyte parameters (RDW-CV, RBC-He, %MicroR, %Hypo-He, Ret-He, IRF) in hematology analysers are expected to be screening parameters in differentiating minor β thalassemia from mild IDA. The purpose of this study was to determine the differences in the values ​​of RDW-CV, RBC-He, %MicroR, %Hypo-He, Ret-He, and IRF between minor β thalassemia patients and mild IDA.              This study was an observational, analytical, comparative, with a cross sectional design. Research was conducted at RSU Kota Tangerang Selatan from July to October 2020. Subjects were children who went to an outpatient clinic/medical check-up, or with laboratory data of minor β thalassemia or had β thalassemia families. Samples were analysed using Sysmex XN 1000. Statistical analysis was performed by the independent t test for normally distributed data and the Mann Whitney difference test for abnormally distributed data.     The RBC-He and Ret-He values ​​were lower in minor β thalassemia than mild IDA and significantly different with p value 0.005 and 0.004, respectively. The %MicroR and %Hypo-He values were higher in minor β thalassemia than mild IDA and significantly different with p values ​ 0.000 and 0.003, respectively. The RDW-CV and IRF values ​​were higher in minor β thalassemia than mild IDA but were not significantly different with the p value 0.076 and 0.528 respectively.     Conclusion: RBC-He and Ret-He values which reflect hemoglobin content in erythrocytes and reticulocytes ​​were lower in minor β thalassemia patients compared to mild IDA and were significantly different. The values ​​of %MicroR and %Hypo-He which reflect microcytic and hypochromic in erythrocyte population were higher in patients with minor β thalassemia than mild IDA and were significantly different. RDW-CV which reflects variation size of erythrocytes and IRF which reflects erythropoiesis activity and ineffective erythropoiesis were higher in patients with minor β thalassemia than mild IDA and were not significantly different.
Perbandingan Profil Hematologi Antara Pasien COVID-19 Bergejala Dan Tanpa Gejala Di RSU Kota Tangerang Selatan Marziah, Cut; Parwati, Ida; Lismayanti , Leni
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i1.751

Abstract

Amplifikasi RNA virus oleh RT-PCR merupakan baku emas untuk konfirmasi infeksi penyakit COVID-19. Parameter hematologi berperan dalam respon imun suatu infeksi, di antaranya adalah jumlah leukosit, neutrofil absolut, limfosit absolut, monosit absolut, jumlah trombosit, Neutrofil Limfosit Rasio. Parameter-parameter tersebut berpotensi menjadi parameter skrining pada penderita COVID-19. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan profil hematologi antara penderita COVID-19 bergejala dan tidak bergejala pada berbagai periode lonjakan kasus (masa varian Alpha/Beta, Delta dan Omicron). Metode penelitian berupa observasional deskriptif komparatif dengan rancangan potong lintang yang dilakukan pada bulan Mei-Agustus 2020, Juni-Juli 2021, dan Januari-Februari 2022 di RSU Kota Tangerang Selatan, Banten, sebanyak 380 subjek. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar subjek memiliki gejala (88,9%), subjek terbanyak pada periode Januari – Februari 2022. Median usia subjek 42 tahun, dengan proporsi yang hampir sama antara laki-laki dan perempuan. Hasil uji beda profil hematologi menunjukkan terdapat perbedaan bermakna untuk parameter jumlah trombosit (p=0,002), eosinofil (p<0,001), limfosit (p<0,001), NLR (p<0,001) antara kelompok COVID-19 bergejala dibandingkan dengan kelompok tidak bergejala. Tidak terdapat perbedaan bermakna untuk parameter jumlah leukosit (p=0,702), neutrofil (p=0,061) dan monosit (p=0,368) di antara kedua kelompok tersebut.

Page 1 of 1 | Total Record : 10