cover
Contact Name
Rohmat Junarto
Contact Email
rohmatjunarto@stpn.ac.id
Phone
+6287835761547
Journal Mail Official
jurnalwidyabhumi@stpn.ac.id
Editorial Address
Jalan Tata Bumi No.5 Banyuraden Gamping Sleman D.I.Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widya Bhumi
ISSN : 14127318     EISSN : 2797765X     DOI : https://doi.org/10.31292/wb.v1i1.10
Core Subject : Social,
Land right and Land tenure; Land-use regulation: land-use planning and enforcement and the adjudication of land use conflicts; Land valuation and land taxation; Land development; Land administration arrangements; Land information infrastructure; The implementation of land use policies, environmental impact assessment and monitoring activities that affect good land use; Community empowerment
Articles 59 Documents
Mewujudkan Ketahanan Pangan Lokal dengan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah Purwandari, Sisca Putri; Martanto, Rochmat; Sapardiyono, Sapardiyono; Alfons, Alfons
Widya Bhumi Vol. 5 No. 2 (2025): Widya Bhumi
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/wb.v5i2.246

Abstract

The rate of conversion of agricultural land to non-agricultural uses in Kaliwates District, Jember Regency, is increasing along with population growth, urbanization, and economic development—threatening the sustainability of local food security. This study aims to (1) analyze the suitability of Protected Rice Fields (LSD) with actual land use, (2) identify the factors causing land use conversion, and (3) formulate control strategies through LSD policies. The data used includes LSD maps, 2023 land use maps, population density data, LSD areas, and land production. The analysis method consists of spatial overlay to measure the level of land use suitability and multiple linear regression to test the influence of variables causing land use conversion. The results show that 73.44% of the LSD area is suitable for land use, while 26.57% is not. The variables of LSD area and land production have a significant effect on the tendency of land use conversion, while population density does not show a significant effect in the tested model. Based on these findings, a control strategy was formulated that includes evaluation of LSD policies, optimization of spatial planning, intensification of production on still productive land, economic incentives to maintain agricultural functions, synchronization of sectoral databases, and strengthening of cross-agency coordination. These findings are expected to be a reference for formulating more effective policies for maintaining sustainable food agricultural land in areas with high urbanization pressures. Laju alih fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian di Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, meningkat seiring pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan perkembangan ekonomi—mengancam keberlanjutan ketahanan pangan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis kesesuaian Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD) dengan penggunaan lahan aktual, (2) mengidentifikasi faktor penyebab alih fungsi lahan, dan (3) merumuskan strategi pengendalian melalui kebijakan LSD. Data yang digunakan meliputi peta LSD, peta penggunaan lahan tahun 2023, data kepadatan penduduk, luas LSD, dan produksi lahan. Metode analisis terdiri dari overlay spasial untuk mengukur tingkat kesesuaian penggunaan lahan dan regresi linier berganda untuk menguji pengaruh variabel penyebab alih fungsi. Hasil menunjukkan bahwa 73,44% luas LSD sesuai dengan penggunaan lahan, sedangkan 26,57% tidak sesuai. Variabel luas LSD dan produksi lahan berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan alih fungsi lahan, sedangkan kepadatan penduduk tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan dalam model yang diuji. Berdasarkan temuan tersebut dirumuskan strategi pengendalian yang mencakup evaluasi kebijakan LSD, optimalisasi tata ruang, intensifikasi produksi pada lahan yang masih produktif, insentif ekonomi untuk mempertahankan fungsi pertanian, sinkronisasi basis data sektoral, serta penguatan koordinasi lintas instansi.Temuan ini diharapkan menjadi acuan perumusan kebijakan yang lebih efektif dalam mempertahankan lahan pertanian pangan berkelanjutan di daerah dengan tekanan urbanisasi tinggi.
Penerapan SAM-Geo untuk Delineasi Otomatis Batas Bidang Tanah Pertanian pada Ortofoto Aristalindra, Fauzia; Basith, Abdul
Widya Bhumi Vol. 5 No. 2 (2025): Widya Bhumi
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/wb.v5i2.247

Abstract

Accurate data on agricultural parcel boundaries are essential to support efficient and equitable agrarian management. Conventional methods such as terrestrial surveys and manual digitization are often costly, time-consuming, and inconsistent. Advances in artificial intelligence-based segmentation models, particularly the Segment Anything Model for Geospatial (SAM-Geo), offer new opportunities to accelerate the automatic delineation of agricultural land parcels. This study aims to evaluate the performance of SAM-Geo in extracting agricultural parcel boundaries from 3.98 cm resolution orthophotos in Sumberrahayu Village, Moyudan Subdistrict, Sleman Regency, Yogyakarta Special Region, Indonesia. The research process includes orthophoto preprocessing, SAM-Geo implementation, mask filtering, and accuracy assessment using both area-based metrics (precision, recall, F1-score, and IoU) and boundary-based metrics (boundary precision, recall, and F1-score) with a 1 m buffer tolerance. The results indicate that SAM-Geo can produce highly precise boundary delineation in homogeneous areas, achieving F1-score and IoU values above 96%, while performance declines in heterogeneous areas due to complex land cover conditions. Overall, this study provides one of the first empirical evaluations of SAM-Geo in agricultural landscapes in Indonesia and highlights its potential as an effective approach for agricultural parcel boundary mapping. Ketersediaan data batas bidang tanah pertanian yang akurat menjadi prasyarat penting dalam mendukung pengelolaan agraria yang efisien dan berkeadilan. Metode konvensional seperti survei terestris dan digitasi manual seringkali memerlukan biaya tinggi, waktu lama, serta menghasilkan ketidakkonsistenan data. Perkembangan model segmentasi berbasis kecerdasan buatan, khususnya Segment Anything Model for Geospatial (SAM-Geo), membuka peluang baru untuk mempercepat delineasi batas bidang tanah pertanian secara otomatis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja SAM-Geo dalam mengekstraksi batas bidang pertanian dari ortofoto beresolusi 3,98 cm di Kalurahan Sumberrahayu, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta. Metode penelitian mencakup pra-pemrosesan ortofoto, penerapan SAM-Geo, mask filtering, serta evaluasi akurasi menggunakan metrik berbasis area (precision, recall, F1-score, and IoU) dan berbasis batas (boundary precision, recall, and F1-score) dengan toleransi buffer 1 m. Hasil penelitian menunjukkan SAM-Geo menghasilkan delineasi batas sangat presisi pada area homogen dengan F1-score dan IoU di atas 96%, sedangkan performa menurun pada area heterogen akibat kompleksitas tutupan lahan. Temuan ini menegaskan potensi SAM-Geo sebagai pendekatan efektif untuk pemetaan batas bidang pertanian di Indonesia.
Dinamika Perubahan Tutupan Lahan dan Tantangan Kebijakan Tata Ruang di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia Nurhadi, Rofi; Suhattanto, Muh. Arif
Widya Bhumi Vol. 5 No. 2 (2025): Widya Bhumi
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/wb.v5i2.249

Abstract

Land cover changes in Wonogiri Regency are closely related to increased urbanization and development in the Subosukowonosraten area, which has an impact on increasing the risk of disasters such as landslides and floods. This study aims to analyze the patterns and trends of land cover changes in 2019, 2022, and 2025 as a basis for evaluating the implementation of the Wonogiri Regency Spatial Plan (RTRW). A spatial quantitative method was used by classifying 10-meter-resolution Sentinel-2 imagery using the Random Forest algorithm through the Google Earth Engine platform. The results of the analysis show a decrease in natural/semi-natural vegetation cover and an increase in residential/mixed land areas, especially in Eromoko, Wonogiri, and Baturetno Districts. Natural/semi-natural vegetation cover decreased from 61.87% (2019) to 60.30% (2025), while residential/mixed buildings increased from 5.40% (2019) to 6.62% (2025). Other cultivated land tends to be stable. This finding indicates the need for regular evaluation of the implementation of the Spatial Planning (RTRW) and spatial use control interventions to reduce disaster risk and maintain the region's ecological function. This study provides multi-temporal empirical evidence based on Sentinel-2 imagery and the Random Forest algorithm in GEE to assess the suitability of the RTRW at the district level and identify priority locations for spatial planning policy revision and mitigation strategies. Perubahan tutupan lahan di Kabupaten Wonogiri menunjukkan keterkaitan erat dengan peningkatan urbanisasi dan pembangunan kawasan Subosukowonosraten, yang berdampak pada meningkatnya risiko bencana seperti longsor dan banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola dan tren perubahan tutupan lahan pada tahun 2019, 2022, dan 2025 sebagai dasar evaluasi terhadap implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Wonogiri. Metode kuantitatif spasial digunakan dengan mengklasifikasikan citra Sentinel-2 beresolusi 10 meter menggunakan algoritma Random Forest melalui platform Google Earth Engine. Hasil analisis menunjukkan adanya penurunan tutupan vegetasi alami/semi-alami dan peningkatan luas lahan permukiman/campuran, terutama di Kecamatan Eromoko, Wonogiri, dan Baturetno. Tutupan vegetasi alami/semi-alami menurun dari 61,87% (2019) menjadi 60,30% (2025), sementara bangunan permukiman/campuran meningkat dari 5,40% (2019) menjadi 6,62% (2025). Lahan tanaman budidaya lainnya cenderung stabil. Temuan ini mengindikasikan perlunya evaluasi berkala terhadap pelaksanaan RTRW serta intervensi pengendalian pemanfaatan ruang guna mengurangi risiko bencana dan menjaga fungsi ekologis wilayah. Studi ini memberikan bukti empiris multi-temporal berbasis citra Sentinel-2 dan algoritma Random Forest di GEE untuk menilai kesesuaian RTRW di tingkat kabupaten, serta mengidentifikasi lokasi prioritas bagi revisi kebijakan tata ruang dan strategi mitigasi.
Evaluasi Aplikasi Pemantauan Berkas untuk Modernisasi Layanan dan Penerbitan Dokumen Elektronik di Bidang Pertanahan Az-zahra, Salsabilla; Nugroho, Tanjung; Arnanto, Ardhi; Wahyuni, Wahyuni
Widya Bhumi Vol. 5 No. 2 (2025): Widya Bhumi
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/wb.v5i2.250

Abstract

The digital transformation of land services still faces challenges, such as weak file monitoring, lost documents, and the accumulation of backlogs among officers. This study aims to evaluate the SIAMEL (Electronic Media Transfer System) application for modernizing services and issuing electronic documents in the land sector. This study used a mixed-methods approach with primary and secondary data collection. Qualitative data were obtained through structured interviews, participant observation, and document studies, while quantitative data were collected through a questionnaire-based survey and SIAMEL application performance testing using Webpage Test. Analysis was conducted descriptively and experimentally to evaluate SIAMEL's effectiveness in improving the accuracy, efficiency, and transparency of land services. The results indicated that SIAMEL improves operational transparency and accountability through digital audit trails, real-time searches, and a backlog dashboard that generates objective metrics (work volume, average completion time, and backlog level per officer). Technical evidence supports operational feasibility through very fast server response (TTFB = 0.123 s), maintained interface stability (CLS/TBT ≈ 0), and high bandwidth efficiency (page weight decreased ≈ 98.9% on repeat view). In conclusion, SIAMEL has been proven to be effective in supporting the modernization of land services through document digitization. This study emphasizes the importance of adopting file monitoring systems in other government agencies as a strategic step in creating good public services. Keywords: File Monitoring, Performance, Media Transfer, Electronic Land Certificates   Transformasi digital layanan pertanahan masih menghadapi tantangan, seperti lemahnya pengawasan perjalanan berkas, kehilangan dokumen, dan akumulasi tunggakan berkas pekerjaan antar petugas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aplikasi SIAMEL (Sistem Alih Media Elektronik) untuk modernisasi layanan dan penerbitan dokumen elektronik di bidang pertanahan. Penelitian ini menggunakan mixed-methods dengan pengumpulan data primer dan sekunder. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara terstruktur, observasi partisipatif, dan studi dokumen, sedangkan data kuantitatif dikumpulkan melalui survei berbasis kuesioner dan pengujian performa aplikasi SIAMEL menggunakan WebPageTest. Analisis dilakukan secara deskriptif dan eksperimental untuk mengevaluasi efektivitas SIAMEL dalam meningkatkan akurasi, efisiensi, dan transparansi layanan pertanahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SIAMEL meningkatkan transparansi dan akuntabilitas operasional melalui audit-trail digital, pencarian real-time, serta dashboard klasemen tunggakan yang menghasilkan metrik objektif (volume kerja, waktu penyelesaian rata-rata, tingkat tunggakan per petugas). Bukti teknis mendukung kelayakan operasional melalui respons server sangat cepat (TTFB = 0,123 s), stabilitas antarmuka terjaga (CLS/TBT ≈ 0), dan efisiensi bandwidth tinggi (page weight turun ≈ 98,9% pada repeat view). Kesimpulannya, SIAMEL terbukti efektif mendukung modernisasi layanan pertanahan melalui digitalisasi dokumen. Penelitian ini menekankan pentingnya adopsi sistem pemantauan berkas di instansi pemerintah lain sebagai langkah strategis terciptanya pelayanan publik yang baik.
Penataan dan rekonstruksi batas bidang tanah PTSL menggunakan metode block adjustment dan plugin perekat Abdillah, Lalu Ubai; Aditya, Trias
Widya Bhumi Vol. 6 No. 1 (2026): Widya Bhumi
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/wb.v6i1.253

Abstract

During the implementation of Complete Systematic Land Registration (PTSL), spatial discrepancies frequently occur between previously certified land data and newly measured results. These inconsistencies include positional shifts, shape distortions, area differences, and overlapping parcels, highlighting the need for accurate spatial adjustment. Traditional manual methods, which rely on basic repositioning, rotation, and translation, are prone to human error and often fail to maintain spatial topology and consistency among adjacent parcels. This study evaluates the application of the block adjustment method using the PEREKAT plugin in QGIS to improve the quality of spatial data. The research was conducted in Suwaru Village, Tulungagung Regency, a designated PTSL location in 2023. The effectiveness of the method was assessed through area accuracy and significance tests on 74 previously mapped certified parcels. The results indicate that 69 parcels (93%) meet the area accuracy tolerance specified in the 2022 PTSL Technical Guidelines. In addition, the significance test at a 95% confidence level produced a Zo value of 0.734, which is lower than the critical value (Za = 1.96), indicating that the adjustments are statistically acceptable. These findings confirm that the PEREKAT plugin is an effective tool for automated land parcel adjustment, ensuring high-quality spatial data in PTSL implementation. Dalam pelaksanaan kegiatan PTSL, sering ditemukan ketidaksesuaian spasial antara bidang tanah yang telah terpetakan dan bersertifikat dengan hasil pengukuran terbaru. Ketidaksesuaian ini meliputi perbedaan posisi, bentuk, luas, hingga tumpang tindih antarbidang tanah, sehingga memerlukan penyesuaian spasial yang akurat. Penataan bidang tanah selama ini umumnya dilakukan secara manual melalui proses reposisi, rotasi, dan translasi, namun metode tersebut rentan terhadap kesalahan serta sulit menjaga konsistensi spasial antarbidang. Penelitian ini menerapkan metode block adjustment menggunakan plugin PEREKAT pada perangkat lunak QGIS untuk menata bidang tanah sekaligus menguji efektivitasnya dalam meningkatkan kualitas data spasial. Penelitian dilakukan di Desa Suwaru, Kabupaten Tulungagung, yang merupakan lokasi pelaksanaan PTSL Tahun 2023. Evaluasi hasil penataan dilakukan melalui uji akurasi luas dan uji signifikansi terhadap 74 bidang tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69 bidang (93%) memenuhi toleransi akurasi luas sesuai dengan Petunjuk Teknis PTSL 2022. Selain itu, uji signifikansi pada tingkat kepercayaan 95% menghasilkan nilai Zo sebesar 0,734 yang lebih kecil dari nilai kritis Za sebesar 1,96, sehingga hasil penataan dapat diterima secara statistik. Temuan ini menunjukkan bahwa metode block adjustment menggunakan plugin PEREKAT pada QGIS efektif untuk penataan spasial bidang tanah dalam kegiatan PTSL.
Mengukur kepercayaan masyarakat atas kinerja Kementerian ATR/BPN melalui analisis sentimen pada platform digital Amrin, Reza Nur; Darman, Ridho; Dewi, Asih Retno; Sudibyanung, Sudibyanung
Widya Bhumi Vol. 6 No. 1 (2026): Widya Bhumi
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/wb.v6i1.254

Abstract

Governments increasingly leverage social media for institutional reputation management, yet a significant gap often persists between institutional narratives and public perception. This study aims to analyze the topical and sentimental disparities between the Instagram posts of Indonesia’s Ministry of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency (ATR/BPN) and netizens' responses throughout 2023. Employing a quantitative approach, this research applies lexicon-based sentiment analysis and descriptive content analysis to 15,198 comments across 1,213 posts. The results reveal a striking digital communication paradox. While the institutional agenda is heavily dominated by the celebration of land certificate handovers and ministerial visits, 56.5% of public comments exhibit negative sentiment. Netizens actively repurpose the comment section into a grassroots grievance mechanism for agrarian disputes, bureaucratic hurdles in land certification, and reports of land mafias. Consequently, there is a diametrical clash in the contextualization of the core lexicons "land" and "certificate" between the glorification of government performance and the reality of public service delivery. This study concludes that social media exposure does not holistically reflect successful land governance. The findings highlight a critical policy implication, urging government institutions to shift their digital governance paradigm from a mere public relations tool to an evaluative instrument for responsive public service.   Pemerintah semakin gencar memanfaatkan media sosial untuk membangun citra kelembagaan, namun seringkali terdapat kesenjangan antara narasi institusi dan persepsi publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis disparitas topik dan sentimen antara unggahan Instagram Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dan respons warganet sepanjang tahun 2023. Menggunakan pendekatan kuantitatif, studi ini mengaplikasikan analisis sentimen berbasis leksikon (lexicon-based) dan analisis isi deskriptif terhadap 15.198 komentar dari 1.213 unggahan. Hasil penelitian menyingkap sebuah paradoks komunikasi digital. Sementara agenda institusi didominasi oleh selebrasi kinerja penyerahan sertipikat dan kunjungan kerja menteri, 56,5% komentar warganet justru bersentimen negatif. Warganet secara aktif mengalihfungsikan ruang komentar menjadi wadah pengaduan sengketa agraria, hambatan prosedur administrasi, hingga pelaporan indikasi mafia tanah. Terdapat benturan pemaknaan diametral pada leksikon "tanah" dan "sertipikat" antara glorifikasi kinerja pemerintah dan realitas layanan publik di akar rumput. Studi ini menyimpulkan bahwa eksposur media sosial belum merefleksikan keberhasilan tata kelola pertanahan secara holistik. Implikasi dari temuan ini menuntut institusi pemerintah untuk menggeser paradigma tata kelola digital dari sekadar instrumen kehumasan (public relations) menjadi instrumen evaluasi pelayanan publik yang responsif.
Pengaruh kualitas pelayanan terhadap persepsi masyarakat mengenai sertipikat elektronik pada Kantor Pertanahan Kabupaten Temanggung Avivah, Lisnadia Nur; Salim, M. Nazir; Sunandar, Muhamad Aris; Suhendro, Suhendro
Widya Bhumi Vol. 6 No. 1 (2026): Widya Bhumi
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/wb.v6i1.277

Abstract

Digital transformation in the land sector through the implementation of electronic certificates represents an administrative modernization effort that encounters challenges related to public acceptance. This study aims to analyze the influence of service quality on public perceptions of electronic certificates at the Temanggung Regency Land Office. This study employs a quantitative approach with a sample of 75 respondents selected through simple random sampling, and the data were analyzed using simple linear regression. The findings indicate that service quality has a positive and significant effect on public perceptions, with a moderate correlation. However, this variable explains only a limited portion of the variance in perceptions, suggesting that service quality alone is insufficient to ensure full public acceptance. The public tends to remain doubtful about the security, reliability, and legal certainty of electronic certificates despite perceiving the service as satisfactory. In conclusion, digital transformation within the ATR/BPN environment must go beyond merely improving technical services. It is necessary to strengthen aspects of digital trust, data protection, system transparency, and public digital literacy. This study highlights the importance of integrating service quality perspectives with risk perceptions to provide a more comprehensive understanding of digital technology acceptance. Transformasi digital di sektor pertanahan melalui penerapan sertipikat elektronik merupakan upaya modernisasi administrasi yang menghadapi tantangan terkait penerimaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas pelayanan terhadap persepsi masyarakat mengenai sertipikat elektronik di Kantor Pertanahan Kabupaten Temanggung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan sampel sebanyak 75 responden yang dipilih melalui teknik simple random sampling, dan data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi masyarakat dengan tingkat hubungan yang sedang. Namun demikian, variabel ini hanya mampu menjelaskan sebagian kecil variasi persepsi, yang menunjukkan bahwa kualitas pelayanan saja belum cukup untuk menjamin penerimaan masyarakat secara penuh. Masyarakat masih cenderung meragukan aspek keamanan, keandalan, dan kepastian hukum sertipikat elektronik meskipun pelayanan yang diberikan dinilai baik. Kesimpulannya, transformasi digital di lingkungan ATR/BPN perlu melampaui sekadar peningkatan layanan teknis. Diperlukan penguatan pada aspek kepercayaan digital, perlindungan data, transparansi sistem, serta literasi digital masyarakat. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi antara perspektif kualitas pelayanan dan persepsi risiko dalam memahami penerimaan teknologi digital secara komprehensif.
Pengaruh risiko lingkungan pesisir terhadap harga penawaran properti residensial di Jakarta Utara Negari, Muthi'a Sekhar; Marisah, Syahna; Saefulloh, Muhammad Hafidz Meiditambua; Putra, Hardana Gading Perdana; Paramita, Maria Putri
Widya Bhumi Vol. 6 No. 1 (2026): Widya Bhumi
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/wb.v6i1.285

Abstract

The coastal areas of North Jakarta face structural threats due to a combination of tidal flooding and land subsidence, which have the potential to affect residential property asking prices. This study aims to analyze the impact of coastal environmental risks on residential property asking prices in North Jakarta (excluding PIK) using the Hedonic Price Model (HPM) approach. The data used includes 141 observations of property asking prices sourced from the Kaggle platform and analyzed using Multiple Regression Analysis (MRA) with robust standard errors, extended with spatial econometric models (SAR and SEM). The results indicate that land subsidence is the only significant environmental risk variable, where a 1 cm/year increase in the subsidence rate reduces property asking prices by 28.32%. Conversely, the flood hazard variable showed no significant effect, suggesting limited utilization of risk information by market participants. Meanwhile, the distance to the seawall showed a significant positive coefficient, indicating that proximity to the seawall serves as a proxy for risk rather than a protection premium. These findings suggest that the real estate market tends to be more responsive to direct and easily observable environmental risks, while probabilistic risks are less internalized in prices. Therefore, policy interventions and improved access to risk information are crucial for maintaining property values in coastal areas.  Kawasan pesisir Kota Jakarta Utara menghadapi ancaman struktural akibat kombinasi banjir rob dan penurunan muka tanah yang berpotensi mempengaruhi harga penawaran properti residensial. Penelitian ini  bertujuan menganalisis pengaruh risiko lingkungan pesisir terhadap harga penawaran properti residensial  di Jakarta Utara (non-PIK) menggunakan pendekatan Hedonic Price Model (HPM). Data yang digunakan mencakup 141 observasi harga penawaran properti yang bersumber dari platform kaggle dan dianalisis menggunakan Multiple Regression Analysis (MRA) dengan robust standard errors, diperluas dengan model ekonometrika spasial (SAR dan SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan muka tanah merupakan satu-satunya variabel risiko lingkungan yang berpengaruh, di mana setiap kenaikan laju penurunan tanah 1 cm/tahun menurunkan harga penawaran properti sebesar 28.32%. Sebaliknya, variabel bahaya banjir tidak menunjukkan pengaruh signifikan yang mengindikasikan keterbatasan pemanfaatan informasi risiko oleh pelaku pasar. Sementara itu, jarak ke tanggul menunjukkan koefisien positif signifikan yang mencerminkan bahwa kedekatan dengan tanggul berfungsi sebagai proksi risiko, bukan protection premium. Temuan ini menunjukkan bahwa pasar properti cenderung lebih responsif terhadap risiko lingkungan yang bersifat langsung dan mudah diamati, sementara risiko yang bersifat probabilistik kurang terinternalisasi dalam harga. Oleh karena itu, intervensi kebijakan dan peningkatan akses informasi risiko menjadi penting dalam menjaga nilai properti di kawasan pesisir.
Perspektif hukum agraria terhadap perlindungan para pihak dalam kontrak pembangunan pipa gas bawah tanah Pangesti, Shinta; Girsang, Fredsly Hendra Sardol; Widyanti, Khairina; Syari, Shinta Kumala
Widya Bhumi Vol. 6 No. 1 (2026): Widya Bhumi
Publisher : Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/wb.v6i1.287

Abstract

The construction of underground gas pipelines across privately owned land may create legal uncertainty, restrict land use, and trigger compensation disputes when it relies solely on right-of-way agreements without clear minimum standards. This study formulates minimum contractual clauses for right-of-way agreements to protect land-right holders within Indonesia’s agrarian-law framework. Using a normative-juridical method with statutory and conceptual approaches, this research examines primary legal materials consisting of the Basic Agrarian Law, the Land Acquisition Law, Government Regulation Number 18 of 2021, Government Regulation Number 19 of 2021, Minister of ATR/BPN Regulation Number 19 of 2021, and Minister of Energy and Mineral Resources Regulation Number 32 of 2021, as well as secondary legal materials in the form of books, journal articles, and references on right-of-way and easement practices. These materials were obtained through library research and document review and analyzed prescriptively. The findings show that minimum clauses should regulate parties’ authority, corridor identification, access scope, land-use restrictions, duration, compensation, liability, restoration, supervision, and dispute resolution. These standards strengthen legal certainty, reduce conflict, and balance private land rights with energy infrastructure needs. Pembangunan pipa gas bawah tanah yang melintasi tanah milik perseorangan dapat menimbulkan ketidakpastian hukum, membatasi pemanfaatan tanah, dan memicu sengketa kompensasi apabila hanya didasarkan pada perjanjian hak lintas tanpa standar minimum yang jelas. Penelitian ini merumuskan klausul minimum kontrak hak lintas untuk melindungi pemegang hak atas tanah dalam kerangka hukum agraria Indonesia. Dengan menggunakan metode yuridis-normatif melalui pendekatan perundang-undangan dan konseptual, penelitian ini mengkaji bahan hukum primer yang terdiri atas Undang-Undang Pokok Agraria, Undang-Undang Pengadaan Tanah, Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2021, Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 19 Tahun 2021, dan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 32 Tahun 2021, serta bahan hukum sekunder berupa buku, artikel jurnal, dan referensi mengenai praktik hak lintas dan easement. Bahan-bahan tersebut diperoleh melalui studi kepustakaan dan penelaahan dokumen, lalu dianalisis secara preskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klausul minimum harus mengatur kewenangan para pihak, identifikasi koridor, ruang lingkup akses, pembatasan penggunaan tanah, jangka waktu, kompensasi, tanggung jawab, pemulihan tanah, pengawasan, dan penyelesaian sengketa. Standar ini memperkuat kepastian hukum, mengurangi konflik, dan menyeimbangkan hak atas tanah dengan kebutuhan infrastruktur energi.