Jurnal Ilmiah Spiritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf
The Jurnal Ilmiah Spritualis: Jurnal Pemikiran Islam dan Tasawuf, published two times (March and September) a year since 2018, is a peer-reviewed journal and furnishes an international scholarly forum for research on Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, and Islamic Thought. Taking an expansive view of the subject, the journal brings together all disciplinary perspectives. It publishes peer-reviewed articles on the historical, cultural, social, philosophical, political, anthropological, literary, artistic and other aspects of Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, Islamic Thought in all times and places. By promoting an understanding of the richly variegated Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, and Islamic Thought in both thought and practice and in its cultural and social contexts, the journal aims to become one of the leading platforms in the world for new findings and discussions of all fields of Islamic studies.
Articles
113 Documents
MISTISISME JALAL AL-DIN AL-RUMI DALAM PERSPEKTIF ANNEMARIE SCHIMMEL
Mubaidi Sulaeman
Bahasa Indonesia Vol 5 No 2 (2019): JURNAL ILMIAH SPIRITUALIS
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (424.951 KB)
|
DOI: 10.53429/spiritualis.v5i2.66
Most of Orientalis misunderstood about Islam like they were made to touch an elephant, each described it according to the part of body his hands had touched: to one the elephant appeared like a throne, to another like a fan, or like water pipe, or like a pillar. Schimmel attempt to understands of Islam (sufism) very well used Phenomenology Approach, and the result is amazed the others orientalist and most of moeslem. Schimmel said The plurality of signs is necessary to veil the eternal One who is transcendent and yet ‘closer than the neck vein’ (QS 50:16). The signs show the way into His presence, where the believer may finally leave the images behind. Ru>mi one of Sufis who completed that understading passed way divine love.
MODERAT DAN PURITAN DALAM PEMIKIRAN KHALED ABOU EL FADL
Bayu Fermadi
Bahasa Indonesia Vol 5 No 2 (2019): JURNAL ILMIAH SPIRITUALIS
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53429/spiritualis.v5i2.67
Perlombaan adu gagasan kebenaran terjadi sangat ketat antara Islam moderat dan puritan. Masing-masing ‘mencari mangsa’ agar paham mereka dapat diterima oleh khalayak. Dalam artikel ini dibahas perbedaan mendasar kedua kelompok tersebut dari kacamata Khaled Abou el Fadl. Kesimpulan artikel ini adalah muslim puritan memiliki karakter kembali kepada al-Qur’an dan hadis. Kelompok ini diiwakili oleh Wahabi. Implikasi dari paham tersebut adalah Islam dicap sebagai agama garis keras, teroris, bahkan menghakimi orang yang tidak sepaham sebagai kafir. Mereka hanya mengikuti ijtihad ulama mereka dan menutup ruang pemahaman baru. Hal ini didasarkan oleh asumsi mereka bahwa 90 % ajaran Islam tidak dapat diinterpretasikan. Sedangkan muslim moderat adalah kelompok yang mengakomodir pemahaman dasar-dasar Islam melalui kacamata ijma>’ dan qiya>s: yang diwakili oleh kelompok Sunni. Mereka lebih longgar dan menerima modernitas. Paham tersebut mencerminkan Islam yang humanis dan fleksiel. Poin penting dalam menyikapi perbedaan tersebut bukan dinilai dari benar salah, tetapi siapakah yang lebih baik diantara mereka.
STRATEGI GURU MADRASAH DALAM PEMBINAAN AKHLAK SANTRI
Muhammad Khoiri
Bahasa Indonesia Vol 5 No 2 (2019): JURNAL ILMIAH SPIRITUALIS
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53429/spiritualis.v5i2.68
Globalisasi dan modernisasi memang menudahkan manusia untuk berinteraksi, bekerja, mencari informasi dan sebagainya. Namun di sisi lain, globalisasi dan modernisasi membawa dampak yang seirus bagi akhlak generasi bangsa. Bagi mereka yang mampu menggunakan sisi positifnya, akan menjadikan mereka lebih cepat berkembang dan sukses. Namun di sisi lain, bagi mereka yang terkena imbasnya, akan menjadikan moral generasi bangsa rusak. Di sinilah madrasah diniyah memiliki peran yang penting dalam rangka mencetak dan memfilter arus negatif modernisasi. Artikel ini akan membahas peran-serta guru dalam mendidik siswa atau santrinya dalam bidang akhlak. Kesimpulan artikel ini adalah, cara yang dilakukan oleh guru antara lain: sahalat berjamaah, mencium tangan guru saat salaman, menambahkan pelajaran bermuatan akhlak yang dimiliki oleh para nabi dan ulama, menanamkan keikhlasan, menuliskan cita-citanya pada tempat yang strategis, mengunjungi guru atau mentor, menggelar doa bersama dan memberikan reward serta sanksi. Sedangkan faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak adalah faktor internal diri sendiri, faktor eksternal dengan hal-hal lain seperti internet dan faktor lingkungan yang meliputi keluarga dan pergaulan antar sesama.
LAKU BATIN
Helfi;
Abdur Rohman
Bahasa Indonesia Vol 5 No 2 (2019): JURNAL ILMIAH SPIRITUALIS
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (460.108 KB)
|
DOI: 10.53429/spiritualis.v5i2.69
Nabi Mu>sa adalah orang terpilih dari bangsa terpilih, Bani> Isra>’i>l. Dia memiliki kelebihan ‘dapat berkomunikasi langsung dengan Tuhan’, menjadi rasul dan menerima Tawrat. Saat ditanya oleh umatnya, ‘siapakah manusia yang paling alim?’ dia menjawab ‘saya’. Atas keangkuhan itulah Allah menegurnya supaya dia mengikuti laku batin kepada seorang hamba yang berada di tempat bertemunya dua laut. Nabi Mu>sa kemudian menemuinya dan berguru kepadanya. Dia diterima sebagai murid dengan syarat tidak bertanya apapun yang dilakukan gurunya. Mu>sa mengalami tiga peristiwa besar yang tidak masuk akal yaitu: Khid}ir melubangi perahu yang ditumpanginya, membunuh anak kecil yang tidak berdosa dan membangun tembok miring tanpa ada orang yang menyuruh atau memberikan upah. Masing-masing dari peristiwa besar tersebut dipertanyakan oleh nabi Mu>sa sehingga ia tidak lulus uji.
HERMENEUTIKA AL-QUR’AN TENTANG PLURALISME AGAMA PERSPEKTIF FARID ESACK
Akhmad Ali Said
Bahasa Indonesia Vol 6 No 1 (2020): JURNAL ILMIAH SPIRITUALIS
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (550.801 KB)
|
DOI: 10.53429/spiritualis.v6i1.74
Al-Qur’an memiliki muatan universal (s}a>lih} li kulli zama>n wa maka>n) sehingga memberikan spirit berupa nilai kebebasan (al-h}urriyah), nilai-nilai humanistic, nilai keadilan (al-‘ada>lah), kesetaraan (al-musa>wah), dan hak asasi manusia (h}uqu>q al-insa>n). Nilai-nilai universal yang berorientasi pada spirit al-Qur’an inilah yang menjadi konsentrasi Farid Esack. Dia adalah seorang pemikir dari Afrika Selatan. Lewat karya dan keterlibatannya dalam gerakan praksis, Esack mendobrak klaim kebenaran eksklusif agama dan mengkonstruksi konsep pluralisme agama untuk membebaskan masyarakat Afrika Selatan dari belenggu kolonialisme rezim Apartheid. Dalam hermeneutiknya, Esack menempatkan teks (al-Qur’an), konteks Afrika Selatan dan penafsir berada pada posisi lingkaran hermeneutik. Pada posisinya sebagai pembaca sekaligus sebagai pengarang Esack menekankan adanya sebuah pembacaan yang kritis dan membebaskan dalam menafsirkan teks ke dalam konteks. Hermeneutika yang ditawarkan Farid Esack sebagai metode penafsiran al-Qur’an untuk membangun landasan teologis tentang konsep pluralisme agama. Dalam pandangan Esack, ada kemungkinan untuk hidup dalam kepercayaan penuh terhadap al-Qur’an dan konteks kehidupan sekarang bersama-sama kepercayaan-kepercayaan lain dan bekerjasama untuk membangun masyarakat yang lebih manusiawi. Esack mengembangkan gagasan hermeneutika al-Qur’an sebagai kontribusi bagi pengembangan pluralisme agama dalam Islam; menguji cara al-Qur’an mendefinisikan diri (muslim) dan orang lain (non-muslim) dengan tujuan untuk menciptakan ruang bagi kebenaran dan keadilan orang lain dalam teologi pluralisme untuk pembebasan; dan menggali hubungan antara eksklusivisme keagamaan dalam bentuk konservatisme politik (yang mendukung Apartheid) di satu sisi, dan inklusivisme keagamaan dan satu bentuk politik progresif (yang mendukung perjuangan pembebasan) di sisi lain, serta memberi dukungan rasional yang bersifat qur’ani, untuk membebaskan masyarakat Afrika Selatan dari belenggu rezim Apartheid.
TRANSFORMASI SANTRI PASCA 1965
Bayu Fermadi
Bahasa Indonesia Vol 6 No 1 (2020): JURNAL ILMIAH SPIRITUALIS
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (315.862 KB)
|
DOI: 10.53429/spiritualis.v6i1.78
Sebelum kemerdekaan, santri, kyai dan seluruh elemen masyarakat bersatu padu untuk melawan penjajah. Namun setelah merdeka, mereka sedikit banyak dibenturkan oleh kepentingan politik dalam negeri. Tulisan singkat ini akan membahas tentang transformasi santri pasca tahun 1965 dari segi budaya, agama dan politik di wilayah Pare, Kediri. Kesimpulan artikel ini adalah munculnya pemberontakan di Madiun yang dilakukan oleh PKI menjadi cikal bakal persatuan para santri disebabkan perseteruan idiologi antara keduanya. Untuk memperkuat solidaritas umat Islam, akhirnya didirikan banyak pesantren di Kediri sebagai penangkal kekuatan Abangan dan kristenisasi. Lambat laun, banyaknya jumlah pesantren sedikit banyak mengalami gesekan. Pesantren yang melahirkan alumni di desa-desa membuat mereka saling berkompetisi dan ingin menunjukkan jati diri masing-masing. Gesekan antar santri cukup terasa terutama dalam masalah politik. Sebab pondok pesantren merupakan lahan empuk untuk meraih suara santrinya. Meskipun saat ini, pengaruh pesantren dalam persoalan politik tidak terlalu signifikan. Sedangkan identitas Abangan akhir-akhir ini sudah sulit ditemukan karena pada umumnya label Abangan tersebut merupakan citra negatif.
KEPEMIMPINAN WANITA DALAM ISLAM
Patsun
Bahasa Indonesia Vol 6 No 1 (2020): JURNAL ILMIAH SPIRITUALIS
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (402.895 KB)
|
DOI: 10.53429/spiritualis.v6i1.79
Kepemimpinan wanita dalam kancah politik menuai kontroversi di dalam Islam. Hal ini disebabkan oleh nas{ hadis sahih yang menyatakan bahwa suatu kaum tidak akan beruntung jika dipimpin oleh wanita. Bagi ulama konservatif, akan memahami hadis tersebut apa adanya (tekstual). Namun bagi ulama yang moderat akan memahaminya dari sisi kontekstual. Agama Islam berpedoman kepada al-Qur’an dan hadis, oleh sebab itu, tidak adil kiranya jika hanya memotret dari sisi hadis saja dan mengesampingkan al-Qur’an. Artikel ini akan membahas tentang kepemimpinan wanita dari sisi al-Qur’an, hadis, biologis wanita dan sosiologis bangsa Indonesia. Kesimpulan artikel ini adalah al-Qur’an melegitimasi kepemimpinan wanita lewat kisah ratu Saba’ (Bilqi>s). Hadis tentang kepemimpinan wanita dapat dipahami sebagai ‘komentar’ Nabi terhadap pergantian kepemimpinan di Persia dan memiliki muatan lokal-temporal. Wanita memiliki kelemahan biologis pada saat menstruasi dan hamil, kelemahan fisik dibandingkan laki-laki, kelemahan psikologis dan emosional. Sedangkan bangsa Indonesia sesungguhnya juga menganut paham patriarki. Jadi, kontestasi politik terbuka lebar bagi siapapun, tanpa harus membeda-bendakan jenis kelamin. Siapapun yang terbaik, dialah yang berhak menjadi pemimpin.
PEMIKIRAN MUH}AMMAD ABIED AL-JABIRI SEBAGAI PROYEK KEBANGKITAN ISLAM
Yuni Pangestutiani
Bahasa Indonesia Vol 6 No 1 (2020): JURNAL ILMIAH SPIRITUALIS
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (318.236 KB)
|
DOI: 10.53429/spiritualis.v6i1.81
Abied al-Jabiri adalah seorang jawara filsafat Arab yang tak tertandingi. Ia ingin membangkitkan Islam dari keterpurukan. Artikel ini akan membahas pemikiran al-Jabiri untuk membangkitkan Islam. Kesimpulannya adalah: Pertama, orang Arab ketika Nabi Muh}ammad di utus, tidak mempunyai raja dan negara. Pada waktu itu sistem sosial politik di Makkah dan Yatsrib (Madinah) adalah sistem sosial kesukuan yang belum memenuhi persyaratan sebuah negara. Kedua, meskipun pada prakteknya Rasulullah saw. merupakan seorang pemimpin, komandan perang sekaligus pembimbing masyarakat muslim, beliau berulangkali menolak dengan keras untuk disebut sebagai raja atau pemimpin negara. Ketiga, pasca wafatnya Rasulullah, para sahabat beliau merasa bahwa ketiadaan Rasulullah berarti kekosongan institusional. Menurut Al-Jabiri klasifikasi nalar Arab adalah: Pertama, kelompok yang menolak apa saja yang bukan dari tradisi Islam. Kedua, kelompok sekuler-liberal yang menganggap kebangkitan tidak akan bisa dicapai kecuali mengikuti pola-pola Barat. Untuk tujuan ini Al-Jabiri menawarkan qira>’ah mu‘a>s}irah terhadap tradisi yang ia sebut naqd al-‘aql al-‘arabi. Akal Arab dalam pandangan Al-Jabiri, terdiri dari baya>ni, ‘irfa>ni, burha>ni. Baya>ni adalah nalar yang berpijak kepada ilmu nahwu dan bala>ghah; ‘irfa>ni adalah nalar religios-sufistik dan burha>ni adalah nalar yang mengandalkan rasio/akal.
MENGGALI ‘IBRAH PANDEMI DALAM BINGKAI TAFSIR ISHARI
Abdur Rohman;
Masrul Anam
Bahasa Indonesia Vol 6 No 1 (2020): JURNAL ILMIAH SPIRITUALIS
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (428.264 KB)
|
DOI: 10.53429/spiritualis.v6i1.82
Angka penyebaran virus corona hingga saat ini masih cukup tinggi dan belum memberikan tanda-tanda berakhir. Untuk itu dibutuhkan peran serta seluruh lapisan masyarakat untuk saling mengingatkan akan bahaya virus tersebut. Salah satunya adalah para akademisi tafsir agar menyajikan pemahaman mengenai ayat al-Qur’an kepada umatnya terutama dalam menanggulangi penyebaran virus corona. Penelitian ini termasuk ke dalam kajian pustaka dengan pendekatan tafsir sufi isha>ri>. Kesimpulan penelitian ini adalah kisah nabi Ayu>b yang dijauhi oleh orang-orang dekatnya dengan asumsi agar tidak tertular merupakan kode social distancing. Sedangkan kesembuhan penyakitnya karena mencuci badan dengan air bersih merupakan isyarat untuk selalu menjaga kebersihan. Kisah para istri nabi Muh}ammad yang diperintahkan agar di rumah saja memiliki tujuan agar terhindar dari marabahaya merupakan kode stay at home. Kisah nabi Lu>t} yang menjauh dari zona merah dan juga kisah semut yang mengintruksikan kepada semut lain agar masuk rumah supaya tidak terinjak-injak pasukan Sulayma>n merupakan langkah preventif agar terhindar dari marabahaya. Sedangkan aplikasi dari pemahaman terhadap ‘ibrah ayat-ayat tersebut dapat dilihat dari keputusan ‘Umar bin Khat}t}a>b yang tidak jadi mengunjungi daerah terdampak wabah supaya selamat adalah bentuk tafsir al-Qur’an dengan ‘ucpaan sahabat’ dan dikuatkan dengan hadis nabi yang mengintruksikan agar jangan memasuki daerah terdampak.
CADAR
Aina Noor Habibah
Bahasa Indonesia Vol 6 No 1 (2020): JURNAL ILMIAH SPIRITUALIS
Publisher : Program Studi Ilmu Tasawuf IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk, Jawa Timur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (302.28 KB)
|
DOI: 10.53429/spiritualis.v6i1.83
Fenomena bercadar bagi wanita muslim saat ini cukup menyita perhatian publik, termasuk para akademisi dan sosiolog. Artikel ini akan membahas tentang cadar dari segi orang yang mengenakan cadar dan pandangan orang lain serta pengaruhnya dalam ruang publik. Kesimpulannya adalah orang yang mengenakan cadar menyandang stigma negatif dari orang lain disebabkan mereka lebih bersifat eksklusif dan wanita Islam garis keras, bahkan teroris. Stigma tersebut disebabkan karena istri teroris rata-rata memakai cadar, apalagi pasca runtuhnya gedung WTC tahun 2001. Meskipun terpojokkan oleh stigma masyarakat, pengguna cadar justru memiliki ikatan yang kuat, baik dari segi emosional, sosial, agama, ekonomi bahkan politik. Implikasinya adalah cadar bukan hanya berfungsi sebagai penutup aurat tetapi sebagai salah satu life style dan trend fashion. Stigma negatif itu kemudian berupaya dirubah oleh mereka dengan cara menunjukkan sikap inklusifitas yaitu dengan banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti di mall, bioskop, café bahkan ajang pameran busana. Bagi mereka, bercadar merupakan cermin wanita Islami dan jati diri baik di dalam maupun di luar rumah.