cover
Contact Name
Lut Dora
Contact Email
info@sttkalvari.ac.id
Phone
+6285398639223
Journal Mail Official
info@sttkalvari.ac.id
Editorial Address
Perum Banua Asri 1 Blok O,, Buha, Kec. Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
ISSN : 27989860     EISSN : 27989771     DOI : 10.53814
Core Subject : Religion, Education,
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen adalah jurnal yang menerbitkan artikel ilmiah yang berkualitas tentang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan Nomor ISSN: 2798-9771 (Online), 2798-9860 (Print). Semua naskah melalui proses peer-review dan pemeriksaan plagiarisme. Hanya Naskah yang original yang akan diterima untuk diterbitkan. Jurnal ini diterbitkan dua kali setahun oleh Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado yaitu Bulan Januari dan Juli. Adapun ruang lingkup dari Jurnal ELEOS: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Misiologi 5. Pendidikan Agama Kristen
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026" : 9 Documents clear
AI sebagai Alat Bantu Homiletik: Telaah Teologis atas Kreativitas dan Otoritas Khotbah Irwanto, Ferry; Abraham, Rubin Adi; Hermanto, Yanto Paulus; Tjutjun Setiawan
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.390

Abstract

Abstract: The focus of this writing is to examine how AI is used in preparing sermons, as there is a perception that using AI in sermon preparation diminishes the influence of the Holy Spirit when the preacher prepares their material. This topic is studied because it is still debated whether AI in homiletics has the potential to shift the central role of the Holy Spirit with technological algorithms. The main research question formulated in this article is: How can we conduct a theological review of the use of AI in sermon preparation? The findings of this study indicate that AI can speed up pastors' work in collecting data, identifying themes, and conducting linguistic analysis of biblical texts. However, the process remained within the framework of Christian theology, which places the pastor as a witness who conveys the word through spiritual experience. Therefore, the authority of preaching does not lie in AI, but in how the church integrates AI within a theological framework that places revelation, exposition, and the work of the Holy Spirit at the centre of the preaching process. Abstrak: Fokus dari tulisan ini menelaah bagaimana penggunaan AI dalam menyusun khotbah, karena ada semacam anggapan penggunaan AI dalam penyusunan materi khotbah dalam homoletika menurunkan pengaruh Roh Kudus ketika sang pengkhotbah menyusun materinya. Topik ini dikaji karena masih menjadi perdebatan bahwa AI dalam homoletika berpotensi menggeser sentral Roh Kudus, dengan algoritma teknologi. Rumusan pertanyaan penelitian utama yang diajukan dalam artikel ini bagaimana telaah teologis terhadap penggunaan AI dalam menyusun khotbah? Hasil temuan dari kajian ini menunjukkan AI dapat mempercepat kerja pendeta dalam mengumpulkan data, mengidentifikasi tema, dan melakukan analisis linguistik terhadap teks Alkitab. Akan tetapi proses itu tetap berada dalam kerangka teologi Kristen yang menempatkan pendeta sebagai saksi yang menyampaikan firman melalui pengalaman Rohani. Sebab itu, otoritas khotbah tidak terletak pada AI tetapi bagaimana gereja mengintegrasikan AI dalam kerangka teologis yang menempatkan pewahyuan, eksposisi, dan karya Roh Kudus sebagai pusat dari proses berkhotbah.
Antara Kairos dan Pemuasan Instan (Instant Gratification): Teologi Penantian Perjanjian Baru di Tengah Budaya Akselerasi Digital Eddy Suandar Simanjuntak
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.331

Abstract

Abstract: Technological developments and digital culture shape the way modern humans understand hope and fulfilment in life. Christian spirituality often loses meaning when waiting is perceived as failure, while immediately visible results are measured as success. The New Testament, however, presents a theology of waiting rooted in the concept of kairos, which is God's time and not subject to human chronological logic. This study aims to analyse and reconstruct the New Testament theology of waiting as a theological response to the culture of instant gratification. The method used is a qualitative-theological approach through biblical analysis and critical dialogue with contemporary digital culture studies. The results of the study show that theologically, the concept of kairos in the New Testament affirms that God's time is qualitative, relational, and eschatological, so that waiting is understood as a space for the formation of faith and obedience, not as a void of meaning. Conversely, the instant gratification paradigm born of digital acceleration culture has the potential to reduce the Christian understanding of time, suffering, and hope, and cause serious tension with the eschatological theology of waiting. Therefore, pastoral reconstruction through the spirituality of waiting is important as a theological response and prophetic praxis of the church to strengthen patience, perseverance, and eschatological hope in the midst of a culture of instant gratification. Abstrak: Perkembangan teknologi dan budaya digital membentuk cara manusia modern memahami harapan, dan pemenuhan hidup. Spiritualitas Kristen kerap mengalami reduksi makna ketika penantian dipersepsikan sebagai kegagalan, sementara keberhasilan diukur melalui hasil yang segera terlihat. Perjanjian Baru justru menghadirkan teologi penantian yang berakar pada konsep kairos, yakni waktu Allah dan tidak tunduk pada logika kronologis manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan merekonstruksi teologi penantian Perjanjian Baru sebagai respons teologis terhadap budaya instant gratification. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-teologis melalui analisis biblika dan dialog kritis dengan kajian budaya digital kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara teologis, konsep kairos dalam Perjanjian Baru menegaskan bahwa waktu Allah bersifat kualitatif, relasional, dan eskatologis, sehingga penantian dipahami sebagai ruang pembentukan iman dan ketaatan, bukan sebagai kekosongan makna. Sebaliknya, paradigma instant gratification yang lahir dari budaya akselerasi digital berpotensi mereduksi pemahaman iman Kristen tentang waktu, penderitaan, dan pengharapan, serta menimbulkan ketegangan serius dengan teologi penantian eskatologis. Oleh karena itu, rekonstruksi pastoral melalui spiritualitas penantian menjadi penting sebagai respons teologis dan praksis profetis gereja untuk meneguhkan kesabaran, ketekunan, dan pengharapan eskatologis di tengah budaya pemuasan instan
Musik sebagai Media Pembelajaran: Telaah Kidung Musa dalam Ulangan 32 Erlikasna br Tarigan, Priskila; Agus Marulitua Marpaung
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.350

Abstract

Abstract: The widespread popularity of contemporary music among today’s Christian children and teenagers reflects a serious content crisis in religious music. Many songs are sung merely for their catchy rhythms, without a deep understanding of their meaning, and are often adapted from secular culture with modified lyrics to appear spiritual. This crisis poses a significant threat to the formation of faith and the psychosocial-spiritual development of the young Christian generation. This article addresses the issue by presenting the Song of Moses in Deuteronomy 32 as an early model of music that serves as an effective, intergenerational medium for faith education. The study employs a descriptive qualitative method with a library research approach, examining biblical literature, Christian educational theology, child developmental psychology, and music theory in faith learning. The findings reveal that the Song of Moses is a concrete example of music used as an educational tool to warn, shape, and strengthen the faith of the people of Israel. The song was designed by God to be remembered and internalised across generations as a means of embedding divine truth. The study further shows that sacred music can be an effective strategy in Christian Religious Education (CRE), particularly in teaching faith values to children and youth. Music composed with theological and pedagogical considerations has the potential to deepen doctrinal understanding, build a personal relationship with God, and inspire authentic Christian living. Therefore, this article recommends that churches and Christian educational institutions develop contextual, biblical, and age-appropriate faith-learning songs. Abstract: Fenomena maraknya musik populer yang digemari oleh anak-anak dan remaja Kristen masa kini menunjukkan adanya krisis konten yang serius dalam musik keagamaan. Banyak lagu yang dinyanyikan hanya karena iramanya yang menarik, tanpa pemahaman makna yang mendalam, bahkan tak jarang diadopsi dari budaya sekuler dengan lirik yang dimodifikasi agar tampak rohani. Krisis ini menjadi ancaman bagi pembentukan iman dan perkembangan psikospiritual generasi muda Kristen. Artikel ini merespons isu tersebut dengan mengangkat Kidung Musa dalam Ulangan 32 sebagai model awal dari musik yang berfungsi sebagai media pendidikan iman yang efektif dan lintas generasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research), yang menelaah literatur Alkitabiah, teologi pendidikan Kristen, psikologi perkembangan anak, dan teori musik dalam pembelajaran iman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kidung Musa merupakan contoh konkret penggunaan musik sebagai alat edukatif untuk memperingatkan, membentuk, dan memperkuat iman bangsa Israel. Lagu tersebut dirancang Tuhan agar diingat dan dihayati lintas generasi sebagai bentuk internalisasi kebenaran ilahi. Temuan ini juga menunjukkan bahwa musik rohani dapat menjadi strategi yang efektif dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK), khususnya dalam pengajaran nilai-nilai iman kepada anak dan remaja. Musik yang disusun dengan pendekatan teologis dan pedagogis berpotensi memperkuat pemahaman doktrin, membangun hubungan personal dengan Allah, dan mendorong praktik hidup Kristen yang otentik. Oleh karena itu, artikel ini merekomendasikan perlunya gereja dan lembaga pendidikan Kristen mengembangkan lagu-lagu pembelajaran iman yang kontekstual, alkitabiah, dan relevan
Dari Kesadaran Teologis ke Praktik Pedagogis: Model Pendidikan Kristiani Multikultural Kontekstual di Halmahera Demianus Ice
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.356

Abstract

Abstract: Christian education in a multicultural society faces the challenge of remaining faithful to its theological identity while remaining relevant to a pluralistic reality. This article examines the gap between the church's theological awareness of its calling to peace and the pedagogical practices of faith education, which remain transmissive and normative within the Halmahera Evangelical Church (GMIH). Through an analytical-constructive literature review of educational theology, contextual theology, and multicultural pedagogy, this study shows that theological foundations, including creation theology, incarnation, trinity, and missio Dei, have not been systematically translated into curricula and educational strategies that are responsive to plurality. As a major contribution, this article presents a conceptual model of contextual multicultural Christian education that integrates five components: normative theological foundations, sociocultural context analysis, multidimensional goals for faith formation, integrative learning content, and dialogical pedagogical strategies. This model emphasises the need to shift from doctrinal transmission to dialogical, communal transformation as part of the church's ecclesial calling. Abstrak: Pendidikan Kristiani di masyarakat multikultural menghadapi tantangan untuk tetap setia pada identitas teologis sekaligus relevan dengan realitas plural. Artikel ini mengkaji kesenjangan antara kesadaran teologis gereja tentang panggilan perdamaian dan praktik pedagogis pendidikan iman yang masih bersifat transmisif-normatif dalam konteks Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH). Melalui kajian pustaka analitis-konstruktif terhadap literatur teologi pendidikan, teologi kontekstual, dan pedagogi multikultural, studi ini menunjukkan bahwa fondasi teologis yang mencakup teologi penciptaan, inkarnasi, trinitas, dan missio Dei belum diterjemahkan secara sistematis ke dalam kurikulum dan strategi pendidikan yang responsif terhadap pluralitas. Sebagai kontribusi utama, artikel ini menawarkan model konseptual pendidikan Kristiani multikultural kontekstual yang mengintegrasikan lima komponen: landasan teologis normatif, analisis konteks sosial-budaya, tujuan formasi iman multidimensional, konten pembelajaran integratif, dan strategi pedagogis dialogis. Model ini menegaskan perlunya pergeseran dari transmisi doktrinal menuju transformasi komunal yang dialogis sebagai bagian dari panggilan eklesial gereja
Pembelajaran Ruang Ketiga: Hibriditas, Imajinasi Poskolonial, dan Transformasi Pendidikan Agama Kristen dalam Konteks Multikultural Indonesia Daniel Sudibyo Tjandra
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.357

Abstract

Abstract: This article examines the application of third-space theory and hybridity concepts to Christian religious education in Indonesia's multicultural context. Drawing on postcolonial theoretical frameworks by Homi Bhabha and contemporary educational scholarship, this study examines how third-space pedagogy can transform Christian education from an exclusivist approach to inclusive, dialogical practices that honour religious and cultural diversity. Through an analysis of recent scholarship on Indonesian Christian education, intercultural theology, and postcolonial pedagogy, the article argues that third-space learning environments create transformative possibilities for negotiating Christian identity while embracing pluralism. The study identifies key pedagogical strategies, including cultural integration, interreligious dialogue, decolonial imagination, and contextual curriculum development. Findings suggest that third-space pedagogy enables Christian educators to maintain theological integrity while fostering mutual understanding, social justice, and harmonious coexistence within Indonesia's diverse religious landscape. This approach offers practical implications for curriculum design, teacher training, and educational policy in multicultural Christian education contexts. Abstrak: Artikel ini mengeksplorasi penerapan teori ruang ketiga dan konsep hibriditas dalam pendidikan agama Kristen di konteks multikultural Indonesia. Berdasarkan kerangka teoretis poskolonial dari Homi Bhabha dan kajian pendidikan kontemporer, penelitian ini mengkaji bagaimana pedagogi ruang ketiga dapat mentransformasi pendidikan Kristen dari pendekatan eksklusif menuju praktik inklusif dan dialogis yang menghormati keberagaman agama dan budaya. Melalui analisis literatur terkini tentang pendidikan Kristen Indonesia, teologi interkultural, dan pedagogi poskolonial, artikel ini berargumen bahwa lingkungan pembelajaran ruang ketiga menciptakan kemungkinan transformatif untuk menegosiasikan identitas Kristen sambil merangkul pluralisme. Studi ini mengidentifikasi strategi pedagogis kunci, termasuk integrasi budaya, dialog antaragama, imajinasi dekolonial, dan pengembangan kurikulum kontekstual. Temuan menunjukkan bahwa pedagogi ruang ketiga memungkinkan pendidik Kristen mempertahankan integritas teologis sambil memupuk saling pengertian, keadilan sosial, dan hidup berdampingan secara harmonis dalam lanskap religius Indonesia yang beragam. Pendekatan ini menawarkan implikasi praktis untuk desain kurikulum, pelatihan guru, dan kebijakan pendidikan dalam konteks pendidikan Kristen multikultural
Membaca Sepuluh Tulah sebagai Narasi Teologi dan Kritik Sosial: Analisis Kritik Sternberg dan Shimon Bar Efrat terhadap Keluaran 7-12 Sari, Oktriliem; Irna Wati Satigi
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.386

Abstract

Abstract: Exodus 7–12 presents the narrative of the ten plagues as a central part of the story of the liberation of the Israelites from slavery in Egypt. In general, this text is read with a historical approach that leads readers to understand the ten plagues as historical records or symbols of divine punishment. This approach often pays little attention to how the text is structured and communicated to readers. This study aims to analyze the structure and narrative dynamics of the ten plagues using a narrative criticism approach. The method used is a qualitative method with a narrative analysis model developed by Meir Sternberg and Shimon Bar-Efrat, examining elements of plot, repetition, characterization, narrator's point of view, and narrative tension. From the perspective of the narrative criticism approach, this study confirms that Exodus 7–12 is a narrative unit that is consciously structured to convey a theological message about God's active role in the history of His people's liberation. The structure and dynamics of the story of the ten plagues show how narrative strategies shape the reader's understanding of the meaning of the text as a whole. Through narrative reading, space is opened for contextual theological reflection, where the story of the plagues is understood not merely as historical events of the past but as a narrative that continues to speak into the reality of social and ecological crises. Abstrak: Keluaran 7–12 menyajikan narasi sepuluh tulah sebagai bagian sentral dalam kisah pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Pada umumnya teks ini dibaca dengan pendekatan historis yang mengantar pembaca pada pemahaman sepuluh tulah sebagai catatan sejarah atau simbol penghukuman ilahi. Pendekatan tersebut sering kali kurang memberi perhatian pada cara teks disusun dan dikomunikasikan kepada pembaca. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur dan dinamika naratif sepuluh tulah dengan menggunakan pendekatan kritik naratif. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan model analisis naratif sebagaimana dikembangkan oleh Meir Sternberg dan Shimon Bar-Efrat, dengan menelaah unsur alur, pengulangan, penokohan, sudut pandang narator, dan ketegangan naratif. Dari sudut pandang pendekatan kritik naratif, penelitian ini menegaskan bahwa Keluaran 7–12 merupakan kesatuan narasi yang disusun secara sadar untuk menyampaikan pesan teologis tentang peran Allah yang aktif dalam sejarah pembebasan umat-Nya. Struktur dan dinamika kisah sepuluh tulah memperlihatkan bagaimana strategi naratif membentuk pemahaman pembaca terhadap makna teks secara utuh. Melalui pembacaan naratif membuka ruang untuk refleksi teologis yang kontekstual dimana kisah tulah dipahami bukan semata mata sebagai peristiwa historis masa lampau melainkan sebagai narasi yang terus berbicara kedalam realitas krisis sosial dan krisis ekologis
Juru Bahasa Isyarat dalam Gereja untuk Mendukung Inklusi Worek, Natalia Yevonne; Arifianto, Yonatan Alex; Triposa, Reni
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.392

Abstract

Abstract: Church services in Indonesia still face challenges in providing equal access to communication for deaf congregations, mainly because worship services are generally verbal and are not yet fully supported by alternative means of communication. These limitations often marginalise deaf friends from the full liturgical experience, resulting in their participation not being as optimal as that of other congregants. This situation demonstrates that the need for truly inclusive services is increasingly urgent for churches to address and implement. The growing use of sign language interpreters in various churches indicates an initial awareness of this issue, but it is not yet fully supported by comprehensive research. This study aims to analyse the role of sign language interpreters in strengthening liturgical inclusion for deaf congregations in church settings. The research method used is a descriptive qualitative study, which concludes that the presence of sign language interpreters not only facilitates understanding of worship but also strengthens deaf congregations' sense of belonging to the church community. Other findings indicate that integrating interpreters into the liturgical service structure significantly improves the quality of spiritual communication. This study emphasises the importance of the church's commitment to promoting inclusive and equitable services for all congregations. Abstrak: Pelayanan gereja di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menyediakan akses komunikasi yang setara bagi jemaat tuli, terutama karena ibadah umumnya berbasis verbal dan belum sepenuhnya didukung oleh sarana komunikasi alternatif. Keterbatasan ini menyebabkan teman tuli sering terpinggirkan dari pengalaman liturgis yang utuh, sehingga partisipasi mereka tidak seoptimal jemaat lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan akan pelayanan yang benar-benar inklusif semakin mendesak untuk diperhatikan dan diimplementasikan oleh gereja. Fenomena meningkatnya penggunaan juru bahasa isyarat di berbagai gereja menunjukkan adanya kesadaran awal, namun belum seluruhnya didukung oleh penelitian yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran juru bahasa isyarat dalam memperkuat inklusi liturgis bagi jemaat tuli di lingkungan gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kualitatif deskriptif, maka dapat disimpulkan bahwa  keberadaan juru bahasa isyarat tidak hanya memfasilitasi pemahaman ibadah, tetapi juga memperkuat rasa memiliki jemaat tuli terhadap komunitas gerejawi. Temuan lain menunjukkan bahwa integrasi penerjemah ke dalam struktur pelayanan liturgi meningkatkan kualitas komunikasi spiritual secara signifikan. Penelitian ini menegaskan pentingnya komitmen gereja dalam memajukan pelayanan yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh umat.
Perempuan, Alam, dan Pangan: Analisis Eko-Feminis Sosial dalam Perspektif Teologi Feminis Merilyn, Merilyn; Desy Natalia; Krisma Natalia
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.405

Abstract

Abstract: Household food security is related to economic or production aspects and shaped by gender relations, spirituality, and ecological conditions. This article aims to examine the role of women in sustaining household food security through a feminist theological approach enriched by ecotheological and sociological perspectives, focusing on Dayak women in Luwuk Bunter, East Kotawaringin, Central Kalimantan. This study employs a qualitative method using in-depth interviews, observation, and participatory documentation. The findings reveal that women play strategic roles as food producers, managers, and processors, while also serving as guardians of ecological and spiritual values in their relationship with nature. Agricultural and food-related practices are understood as expressions of faith and ecological responsibility. However, these contributions remain marginalised by patriarchal structures and the environment; crises. The study concludes that recognising women as theological and social subjects is essential for achieving gender-just and sustainable household food security. Abstrak: Ketahanan pangan rumah tangga tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi dan produksi, tetapi juga relasi gender, spiritualitas, dan kondisi ekologi. Artikel ini bertujuan mengkaji peran perempuan dalam menjaga ketahanan pangan rumah tangga melalui pendekatan teologi feminis yang diperkaya oleh perspektif ekoteologi dan analisis sosiologi, dengan studi terhadap perempuan Dayak Desa Luwuk Bunter, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan berperan strategis sebagai produsen, pengelola, dan pengolah pangan sekaligus penjaga nilai ekologis dan spiritual dalam relasi dengan alam. Praktik berladang, berkebun, dan mengelola pangan dimaknai sebagai ekspresi iman dan tanggung jawab ekologis. Namun, dalam kontribusi tersebut masih terpinggirkan oleh struktur dan sistem patriarki serta krisis lingkungan. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa pengakuan terhadap perempuan sebagai subyek teologis dan sosial merupakan kunci bagi terwujudnya ketahanan pangan rumah tangga yang berkeadilan gender dan berkelanjutan
Pembinaan Warga Gereja bagi Jemaat Korban KDRT: Perspektif Teologi Pastoral Simon, Simon; Pardede, Zulkisar; Tandiongan, Fianus
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.441

Abstract

Abstract: The author of this study, Dasariah, starts from the increasing prevalence of domestic violence in Christian families. The result of this domestic violence is a high divorce rate. The writing of this topic is also based on the church's seeming tendency to still rely on normative advice and prioritise textual interpretation to create Christian family wholeness, without addressing the problems of congregants who are victims of domestic violence. The main research question formulated in this study is: How can the development of church members be framed as a pastoral practice that supports the recovery of victims of domestic violence? In elaborating on this topic, the researcher applied a qualitative method with a pastoral theological approach. The findings of this study indicate that domestic violence experienced by the congregation often takes various forms. Often, the church responds to congregants experiencing domestic violence in a normative manner, and the victim's issues are treated as secondary. That's why the church guides by creating a safe space for the congregation to speak honestly without fear, and by collaborating with counselling institutions to heal the wounds of congregants who have experienced domestic violence. Abstrak: Dasariah penulis kajian ini berangkat dari semakin maraknya kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi dalam keluarga Kristen. Akibat dari KDRT ini menyebabkan tingginya angka perceraian. Penulisan topik ini juga didasarkan pada gereja yang seakan masih cenderung bertumpu pada pemberian nasihat bersifat normatif dan mengutamakan tafsir teks demi menciptakan keutuhan keluarga Kristen, tanpa penyelesaian problem jemaat yang menjadi korban KDRT. Rumusan pertanyaan penelitian utama yang diajukan dari kajian ini bagaimana pembinaan warga gereja dapat dirumuskan sebagai praksis pastoral yang berpihak pada pemulihan korban KDRT? Di dalam menguraikan topik ini, peneliti menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan teologi pastoral. Hasil temuan kajian ini mengemukakan bahwa kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh jemaat sering kali hadir dalam berbagai bentuk. Acap kali gereja merespons jemaat yang mengalami KDRT bersikap normatif dan masalah korban ditempatkan bersifat sekunder. Itu sebabnya gereja melakukan pembinaan dengan memberikan ruang aman bagi jemaat tanpa takut bersuara secara jujur, serta berkolaborasi dengan lembaga pendampingan guna penyembuhan luka jemaat yang mengalami KDRT.

Page 1 of 1 | Total Record : 9