cover
Contact Name
Lut Dora
Contact Email
info@sttkalvari.ac.id
Phone
+6285398639223
Journal Mail Official
info@sttkalvari.ac.id
Editorial Address
Perum Banua Asri 1 Blok O,, Buha, Kec. Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
ISSN : 27989860     EISSN : 27989771     DOI : 10.53814
Core Subject : Religion, Education,
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen adalah jurnal yang menerbitkan artikel ilmiah yang berkualitas tentang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan Nomor ISSN: 2798-9771 (Online), 2798-9860 (Print). Semua naskah melalui proses peer-review dan pemeriksaan plagiarisme. Hanya Naskah yang original yang akan diterima untuk diterbitkan. Jurnal ini diterbitkan dua kali setahun oleh Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado yaitu Bulan Januari dan Juli. Adapun ruang lingkup dari Jurnal ELEOS: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Misiologi 5. Pendidikan Agama Kristen
Articles 64 Documents
Membaca Sepuluh Tulah sebagai Narasi Teologi dan Kritik Sosial: Analisis Kritik Sternberg dan Shimon Bar Efrat terhadap Keluaran 7-12 Sari, Oktriliem; Irna Wati Satigi
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.386

Abstract

Abstract: Exodus 7–12 presents the narrative of the ten plagues as a central part of the story of the liberation of the Israelites from slavery in Egypt. In general, this text is read with a historical approach that leads readers to understand the ten plagues as historical records or symbols of divine punishment. This approach often pays little attention to how the text is structured and communicated to readers. This study aims to analyze the structure and narrative dynamics of the ten plagues using a narrative criticism approach. The method used is a qualitative method with a narrative analysis model developed by Meir Sternberg and Shimon Bar-Efrat, examining elements of plot, repetition, characterization, narrator's point of view, and narrative tension. From the perspective of the narrative criticism approach, this study confirms that Exodus 7–12 is a narrative unit that is consciously structured to convey a theological message about God's active role in the history of His people's liberation. The structure and dynamics of the story of the ten plagues show how narrative strategies shape the reader's understanding of the meaning of the text as a whole. Through narrative reading, space is opened for contextual theological reflection, where the story of the plagues is understood not merely as historical events of the past but as a narrative that continues to speak into the reality of social and ecological crises. Abstrak: Keluaran 7–12 menyajikan narasi sepuluh tulah sebagai bagian sentral dalam kisah pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Pada umumnya teks ini dibaca dengan pendekatan historis yang mengantar pembaca pada pemahaman sepuluh tulah sebagai catatan sejarah atau simbol penghukuman ilahi. Pendekatan tersebut sering kali kurang memberi perhatian pada cara teks disusun dan dikomunikasikan kepada pembaca. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur dan dinamika naratif sepuluh tulah dengan menggunakan pendekatan kritik naratif. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan model analisis naratif sebagaimana dikembangkan oleh Meir Sternberg dan Shimon Bar-Efrat, dengan menelaah unsur alur, pengulangan, penokohan, sudut pandang narator, dan ketegangan naratif. Dari sudut pandang pendekatan kritik naratif, penelitian ini menegaskan bahwa Keluaran 7–12 merupakan kesatuan narasi yang disusun secara sadar untuk menyampaikan pesan teologis tentang peran Allah yang aktif dalam sejarah pembebasan umat-Nya. Struktur dan dinamika kisah sepuluh tulah memperlihatkan bagaimana strategi naratif membentuk pemahaman pembaca terhadap makna teks secara utuh. Melalui pembacaan naratif membuka ruang untuk refleksi teologis yang kontekstual dimana kisah tulah dipahami bukan semata mata sebagai peristiwa historis masa lampau melainkan sebagai narasi yang terus berbicara kedalam realitas krisis sosial dan krisis ekologis
Juru Bahasa Isyarat dalam Gereja untuk Mendukung Inklusi Worek, Natalia Yevonne; Arifianto, Yonatan Alex; Triposa, Reni
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.392

Abstract

Abstract: Church services in Indonesia still face challenges in providing equal access to communication for deaf congregations, mainly because worship services are generally verbal and are not yet fully supported by alternative means of communication. These limitations often marginalise deaf friends from the full liturgical experience, resulting in their participation not being as optimal as that of other congregants. This situation demonstrates that the need for truly inclusive services is increasingly urgent for churches to address and implement. The growing use of sign language interpreters in various churches indicates an initial awareness of this issue, but it is not yet fully supported by comprehensive research. This study aims to analyse the role of sign language interpreters in strengthening liturgical inclusion for deaf congregations in church settings. The research method used is a descriptive qualitative study, which concludes that the presence of sign language interpreters not only facilitates understanding of worship but also strengthens deaf congregations' sense of belonging to the church community. Other findings indicate that integrating interpreters into the liturgical service structure significantly improves the quality of spiritual communication. This study emphasises the importance of the church's commitment to promoting inclusive and equitable services for all congregations. Abstrak: Pelayanan gereja di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menyediakan akses komunikasi yang setara bagi jemaat tuli, terutama karena ibadah umumnya berbasis verbal dan belum sepenuhnya didukung oleh sarana komunikasi alternatif. Keterbatasan ini menyebabkan teman tuli sering terpinggirkan dari pengalaman liturgis yang utuh, sehingga partisipasi mereka tidak seoptimal jemaat lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan akan pelayanan yang benar-benar inklusif semakin mendesak untuk diperhatikan dan diimplementasikan oleh gereja. Fenomena meningkatnya penggunaan juru bahasa isyarat di berbagai gereja menunjukkan adanya kesadaran awal, namun belum seluruhnya didukung oleh penelitian yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran juru bahasa isyarat dalam memperkuat inklusi liturgis bagi jemaat tuli di lingkungan gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kualitatif deskriptif, maka dapat disimpulkan bahwa  keberadaan juru bahasa isyarat tidak hanya memfasilitasi pemahaman ibadah, tetapi juga memperkuat rasa memiliki jemaat tuli terhadap komunitas gerejawi. Temuan lain menunjukkan bahwa integrasi penerjemah ke dalam struktur pelayanan liturgi meningkatkan kualitas komunikasi spiritual secara signifikan. Penelitian ini menegaskan pentingnya komitmen gereja dalam memajukan pelayanan yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh umat.
Perempuan, Alam, dan Pangan: Analisis Eko-Feminis Sosial dalam Perspektif Teologi Feminis Merilyn, Merilyn; Desy Natalia; Krisma Natalia
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.405

Abstract

Abstract: Household food security is related to economic or production aspects and shaped by gender relations, spirituality, and ecological conditions. This article aims to examine the role of women in sustaining household food security through a feminist theological approach enriched by ecotheological and sociological perspectives, focusing on Dayak women in Luwuk Bunter, East Kotawaringin, Central Kalimantan. This study employs a qualitative method using in-depth interviews, observation, and participatory documentation. The findings reveal that women play strategic roles as food producers, managers, and processors, while also serving as guardians of ecological and spiritual values in their relationship with nature. Agricultural and food-related practices are understood as expressions of faith and ecological responsibility. However, these contributions remain marginalised by patriarchal structures and the environment; crises. The study concludes that recognising women as theological and social subjects is essential for achieving gender-just and sustainable household food security. Abstrak: Ketahanan pangan rumah tangga tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi dan produksi, tetapi juga relasi gender, spiritualitas, dan kondisi ekologi. Artikel ini bertujuan mengkaji peran perempuan dalam menjaga ketahanan pangan rumah tangga melalui pendekatan teologi feminis yang diperkaya oleh perspektif ekoteologi dan analisis sosiologi, dengan studi terhadap perempuan Dayak Desa Luwuk Bunter, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan berperan strategis sebagai produsen, pengelola, dan pengolah pangan sekaligus penjaga nilai ekologis dan spiritual dalam relasi dengan alam. Praktik berladang, berkebun, dan mengelola pangan dimaknai sebagai ekspresi iman dan tanggung jawab ekologis. Namun, dalam kontribusi tersebut masih terpinggirkan oleh struktur dan sistem patriarki serta krisis lingkungan. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa pengakuan terhadap perempuan sebagai subyek teologis dan sosial merupakan kunci bagi terwujudnya ketahanan pangan rumah tangga yang berkeadilan gender dan berkelanjutan
Pembinaan Warga Gereja bagi Jemaat Korban KDRT: Perspektif Teologi Pastoral Simon, Simon; Pardede, Zulkisar; Tandiongan, Fianus
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.441

Abstract

Abstract: The author of this study, Dasariah, starts from the increasing prevalence of domestic violence in Christian families. The result of this domestic violence is a high divorce rate. The writing of this topic is also based on the church's seeming tendency to still rely on normative advice and prioritise textual interpretation to create Christian family wholeness, without addressing the problems of congregants who are victims of domestic violence. The main research question formulated in this study is: How can the development of church members be framed as a pastoral practice that supports the recovery of victims of domestic violence? In elaborating on this topic, the researcher applied a qualitative method with a pastoral theological approach. The findings of this study indicate that domestic violence experienced by the congregation often takes various forms. Often, the church responds to congregants experiencing domestic violence in a normative manner, and the victim's issues are treated as secondary. That's why the church guides by creating a safe space for the congregation to speak honestly without fear, and by collaborating with counselling institutions to heal the wounds of congregants who have experienced domestic violence. Abstrak: Dasariah penulis kajian ini berangkat dari semakin maraknya kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi dalam keluarga Kristen. Akibat dari KDRT ini menyebabkan tingginya angka perceraian. Penulisan topik ini juga didasarkan pada gereja yang seakan masih cenderung bertumpu pada pemberian nasihat bersifat normatif dan mengutamakan tafsir teks demi menciptakan keutuhan keluarga Kristen, tanpa penyelesaian problem jemaat yang menjadi korban KDRT. Rumusan pertanyaan penelitian utama yang diajukan dari kajian ini bagaimana pembinaan warga gereja dapat dirumuskan sebagai praksis pastoral yang berpihak pada pemulihan korban KDRT? Di dalam menguraikan topik ini, peneliti menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan teologi pastoral. Hasil temuan kajian ini mengemukakan bahwa kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh jemaat sering kali hadir dalam berbagai bentuk. Acap kali gereja merespons jemaat yang mengalami KDRT bersikap normatif dan masalah korban ditempatkan bersifat sekunder. Itu sebabnya gereja melakukan pembinaan dengan memberikan ruang aman bagi jemaat tanpa takut bersuara secara jujur, serta berkolaborasi dengan lembaga pendampingan guna penyembuhan luka jemaat yang mengalami KDRT.