cover
Contact Name
Lut Dora
Contact Email
info@sttkalvari.ac.id
Phone
+6285398639223
Journal Mail Official
info@sttkalvari.ac.id
Editorial Address
Perum Banua Asri 1 Blok O,, Buha, Kec. Mapanget, Kota Manado, Sulawesi Utara
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
ISSN : 27989860     EISSN : 27989771     DOI : 10.53814
Core Subject : Religion, Education,
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen adalah jurnal yang menerbitkan artikel ilmiah yang berkualitas tentang Teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan Nomor ISSN: 2798-9771 (Online), 2798-9860 (Print). Semua naskah melalui proses peer-review dan pemeriksaan plagiarisme. Hanya Naskah yang original yang akan diterima untuk diterbitkan. Jurnal ini diterbitkan dua kali setahun oleh Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado yaitu Bulan Januari dan Juli. Adapun ruang lingkup dari Jurnal ELEOS: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Misiologi 5. Pendidikan Agama Kristen
Articles 64 Documents
Menelisik Etika Hamba Tuhan di Ruang Digital:: Tafsir Kontekstual terhadap Efesus 5:15-16 Yunus Hutagalung; Hasibuan, Serepina Yoshika
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i1.208

Abstract

Abstract: This article aims to examine and construct a digital ethical foundation for God’s servants through a contextual interpretation of Ephesians 5:15–16. In today’s fast-paced digital environment, many ministers become entangled in the misuse of social media, hate speech, and self-promotion, damaging their spiritual credibility and the church’s witness. Using a descriptive qualitative method grounded in literature analysis, this study interprets the biblical text within its historical-theological context and connects it with contemporary digital realities. The findings highlight three key ethical principles: living wisely, managing time carefully, and maintaining moral awareness in an evil age. The novelty of this study lies in its contextual application specifically for God’s servants, contrasting with previous studies that addressed Christian ethics more generally. The theological implication is that the digital realm must be viewed as a sacred space for ministry, demanding ethical responsibility and spiritual discernment. Ministers are called to be digitally present in a way that reflects Christ’s character and advances His mission in the digital age. Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dan membangun fondasi etika digital bagi hamba Tuhan melalui pendekatan tafsir kontekstual terhadap Efesus 5:15–16. Di era digital yang serba cepat dan penuh godaan, banyak hamba Tuhan terlibat dalam penyalahgunaan media sosial, ujaran kebencian, dan pencitraan diri yang berlebihan, yang berdampak buruk terhadap kesaksian pelayanan. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi literatur, teks ditafsirkan dalam konteks historis-teologis dan dihubungkan dengan fenomena digital masa kini. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga prinsip etis utama: hidup berhikmat, penggunaan waktu secara cermat, dan kesadaran moral terhadap zaman yang jahat. Kebaruan kajian ini terletak pada penerapan eksposisi kontekstual secara spesifik bagi hamba Tuhan, bukan sekadar umat Kristen secara umum. Implikasinya, kehadiran hamba Tuhan di ruang digital haruslah mencerminkan karakter Kristus dan bertanggung jawab secara etis dan spiritual. Dunia digital harus diperlakukan sebagai ladang pelayanan yang menuntut integritas, kebijaksanaan, dan kesadaran ilahi yang terus diperbarui.
Ego Eimi Narasi Injil Yohanes mengenai Ketuhanan Yesus:: Jawaban Argumentum Fallacia terhadap Iman Kristen Christiaan, John Abraham; Prasetyo, Adi; Dully, Stefanus
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i1.218

Abstract

Abstract: This study is motivated by the increasing intensity of attacks from non-Christians against the Christian faith, particularly regarding the belief that Jesus is God. These attacks often rely on argumentum fallacia—fallacious and deceptive reasoning—posing questions such as, “Where in the Bible does Jesus explicitly declare Himself to be God?” This research aims to provide a theological and exegetical response to such polemics by analyzing the Johannine narrative, especially the phrase Ego Eimi (Ἐγώ εἰμι), as a divine self-declaration of Jesus. Utilizing a qualitative method through exegetical study supported by theological and linguistic literature, this research demonstrates that the phrase Ego Eimi in the Gospel of John is closely connected to God's declaration in Exodus 3:14, Ehyeh Asher Ehyeh (אהיה אשר אהיה), meaning “I Am Who I Am.” Jesus’ statement, “Before Abraham was, I am,” further affirms His divine identity. The findings conclude that Ego Eimi serves as an explicit and intentional affirmation of Jesus’ divinity. In light of these results and the growing polemical challenges against Christianity, it is recommended that theologians, pastors, and church leaders provide more comprehensive instruction on Christology to equip believers with sound theological understanding and guard them against misleading arguments. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya serangan dari pihak non-Kristiani terhadap ajaran iman Kristen, khususnya mengenai kepercayaan bahwa Yesus adalah Tuhan. Serangan ini seringkali disertai dengan argumentasi yang bersifat argumentum fallacia—yakni argumen yang menyesatkan dan manipulatif—yang mempertanyakan kebenaran iman Kristen, dengan pertanyaan utama: “Di mana dalam Alkitab Yesus secara eksplisit mengakui diri-Nya sebagai Tuhan?” Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan tersebut melalui kajian mendalam terhadap narasi Injil Yohanes, khususnya frasa “Ego Eimi” (Ἐγώ εἰμι) sebagai bentuk pengakuan diri Yesus yang bersifat ilahi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi eksegesis serta didukung oleh literatur-literatur teologis dan linguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frasa “Ego Eimi” dalam Injil Yohanes memiliki keterkaitan erat dengan pernyataan Allah dalam Keluaran 3:14, “Ehyeh Asher Ehyeh” (אהיה אשר אהיה), yang berarti “Aku adalah Aku.” Pernyataan Yesus, “Sebelum Abraham ada, Aku ada,” semakin menegaskan identitas keilahian-Nya. Dengan demikian, frasa “Ego Eimi” merupakan bentuk eksplisit dari pengakuan Yesus sebagai Tuhan. Berdasarkan temuan ini, peneliti merekomendasikan agar para teolog, pendeta, dan pemimpin gereja lebih proaktif dalam mengajarkan doktrin Kristologi kepada jemaat guna memperkuat iman dan menangkal serangan argumentasi yang menyesatkan.
AI sebagai Alat Bantu Homiletik: Telaah Teologis atas Kreativitas dan Otoritas Khotbah Irwanto, Ferry; Abraham, Rubin Adi; Hermanto, Yanto Paulus; Tjutjun Setiawan
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.390

Abstract

Abstract: The focus of this writing is to examine how AI is used in preparing sermons, as there is a perception that using AI in sermon preparation diminishes the influence of the Holy Spirit when the preacher prepares their material. This topic is studied because it is still debated whether AI in homiletics has the potential to shift the central role of the Holy Spirit with technological algorithms. The main research question formulated in this article is: How can we conduct a theological review of the use of AI in sermon preparation? The findings of this study indicate that AI can speed up pastors' work in collecting data, identifying themes, and conducting linguistic analysis of biblical texts. However, the process remained within the framework of Christian theology, which places the pastor as a witness who conveys the word through spiritual experience. Therefore, the authority of preaching does not lie in AI, but in how the church integrates AI within a theological framework that places revelation, exposition, and the work of the Holy Spirit at the centre of the preaching process. Abstrak: Fokus dari tulisan ini menelaah bagaimana penggunaan AI dalam menyusun khotbah, karena ada semacam anggapan penggunaan AI dalam penyusunan materi khotbah dalam homoletika menurunkan pengaruh Roh Kudus ketika sang pengkhotbah menyusun materinya. Topik ini dikaji karena masih menjadi perdebatan bahwa AI dalam homoletika berpotensi menggeser sentral Roh Kudus, dengan algoritma teknologi. Rumusan pertanyaan penelitian utama yang diajukan dalam artikel ini bagaimana telaah teologis terhadap penggunaan AI dalam menyusun khotbah? Hasil temuan dari kajian ini menunjukkan AI dapat mempercepat kerja pendeta dalam mengumpulkan data, mengidentifikasi tema, dan melakukan analisis linguistik terhadap teks Alkitab. Akan tetapi proses itu tetap berada dalam kerangka teologi Kristen yang menempatkan pendeta sebagai saksi yang menyampaikan firman melalui pengalaman Rohani. Sebab itu, otoritas khotbah tidak terletak pada AI tetapi bagaimana gereja mengintegrasikan AI dalam kerangka teologis yang menempatkan pewahyuan, eksposisi, dan karya Roh Kudus sebagai pusat dari proses berkhotbah.
Transformasi Pendidikan Agama Kristen: Strategi Adaptif menghadapi Tantangan Pembelajaran di Era Digital Kristiani; Elisa Nimbo Sumual; Yohana Fajar Rahayu
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 2 (2025): Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v4i2.133

Abstract

Abstract: Digital transformation has fundamentally changed the way humans learn and interact, meaning that Christian Religious Education can no longer be maintained within a conventional or traditional pedagogical framework that is separate from technological reality. This change presents serious challenges for Christian teachers and educational institutions, as an adaptive approach risks reducing the relevance, spiritual depth, and formative power of faith learning. The phenomenon of low student engagement, shallow theological reflection, and the dominance of instant content consumption in the digital space highlights the urgency of reforming Christian Religious Education. This study aims to formulate a conceptual framework for adaptive Christian Religious Education strategies that can address the challenges of learning in the digital age. The method used is a descriptive qualitative approach. It can be concluded that digital transformation encourages a reinterpretation of the theology of Christian Religious Education (CRE), which places faith as a contextual praxis in the digital space, while shifting the pedagogical paradigm from doctrinal transmission to participatory, reflective, and relational learning. The design of digital CARE learning requires adaptive strategies that combine theological foundations, contextual pedagogy, and the critical and creative use of technology. These changes have implications for the formation of incarnational spirituality and responsible digital ethics, so that students are able to live out Christian values authentically in the midst of digital culture. Abstrak: Transformasi digital telah mengubah secara mendasar cara manusia belajar dan juga berinteraksi sehingga Pendidikan Agama Kristen tidak lagi dapat dipertahankan dalam kerangka pedagogi konvensional atau tradisional yang terpisah dari realitas teknologi. Perubahan ini menghadirkan tantangan serius bagi guru dan lembaga pendidikan Kristen karena pendekatan yang tidak adaptif berisiko menurunkan relevansi, kedalaman spiritual, serta daya formatif pembelajaran iman. Fenomena rendahnya keterlibatan peserta didik, dangkalnya refleksi teologis, serta dominannya konsumsi konten instan dalam ruang digital memperlihatkan urgensi pembaruan Pendidikan Agama Kristen. Penelitian ini bertujuan merumuskan kerangka konseptual strategi adaptif Pendidikan Agama Kristen yang mampu menjawab tantangan pembelajaran di era digital. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dapat disimpulkan bahwa Transformasi digital mendorong reinterpretasi teologi Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang menempatkan iman sebagai praksis kontekstual dalam ruang digital, sekaligus menggeser paradigma pedagogi dari transmisi doktrinal menuju pembelajaran partisipatif, reflektif, dan relasional. Desain pembelajaran PAK digital menuntut strategi adaptif yang memadukan landasan teologis, pedagogi kontekstual, dan pemanfaatan teknologi secara kritis serta kreatif. Perubahan ini berimplikasi pada pembentukan spiritualitas yang inkarnatif dan etika digital yang bertanggung jawab, sehingga peserta didik mampu menghidupi nilai-nilai Kristiani secara autentik di tengah budaya digital
Iman dan Keunggulan: Sebuah Integrasi dalam Kerangka Manajemen Mutu Berbasis Nilai Kristiani pada Institusi Pendidikan Robert Juni Tua Sitio; Pardomuan Simanulang; Manangar Chardo Marpaung; Yedice Kamangmau
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 2 (2025): Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v4i2.136

Abstract

Abstract: This article explores the systematic integration of Christian values and quality management practices within Christian educational institutions. Employing a theological framework rooted in biblical principles of stewardship, integrity, love, service, and excellence, this study analyses how educational institutions can operationalise their faith commitments into measurable and sustainable quality systems. Through synthesis of theological and empirical literature, this article identifies three critical dimensions: theological foundations for quality management, practical mechanisms for translating values into performance indicators, and leadership models that integrate academic excellence with spiritual formation. Findings indicate that institutions that explicitly align their vision and mission with quality standards experience measurable quality improvements, whereas character-oriented leadership fosters environments conducive to holistic growth. Practical implications include developing strategic indicators aligned with the institutional mission, implementing Christian, value-based human resource practices, and designing curricula that coherently integrate faith and learning. Abstrak: Artikel ini mengeksplorasi integrasi sistematis antara nilai-nilai Kristiani dan praktik manajemen mutu dalam konteks institusi pendidikan Kristen. Dengan menggunakan kerangka teologis yang berakar pada prinsip-prinsip alkitabiah tentang penatalayanan, integritas, kasih, pelayanan, dan keunggulan, penelitian ini menganalisis bagaimana institusi pendidikan dapat mengoperasionalisasikan komitmen iman mereka ke dalam sistem mutu yang terukur dan berkelanjutan. Melalui sintesis literatur teologis dan empiris, artikel ini mengidentifikasi tiga dimensi kritis: fondasi teologis untuk manajemen mutu, mekanisme praktis untuk menerjemahkan nilai-nilai ke dalam indikator kinerja, dan model kepemimpinan yang mengintegrasikan keunggulan akademik dengan pembentukan spiritual. Temuan menunjukkan bahwa institusi yang secara eksplisit menyelaraskan visi misi dengan standar mutu mengalami peningkatan kualitas yang terukur, sementara kepemimpinan yang berorientasi pada pembentukan karakter menciptakan lingkungan kondusif bagi pertumbuhan holistik. Implikasi praktis mencakup pengembangan indikator strategis yang mencerminkan misi institusional, implementasi praktik sumber daya manusia berbasis nilai Kristiani, dan desain kurikulum yang mengintegrasikan iman dan pembelajaran secara koheren.
Shalom sebagai Telos Pendidikan: Menuju Teologi Pendidikan Agama Kristen yang Holistis, Ekologis, dan Berkeadilan Daud Saleh Luji
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 2 (2025): Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v4i2.147

Abstract

Abstract: This article examines shalom as the teleological foundation of Christian religious education. Through a qualitative literature review, this study argues that authentic Christian education must be oriented toward shalom—a holistic vision encompassing peace, justice, ecological integrity, and human flourishing. The discussion begins by tracing the biblical-theological roots of shalom in the Old Testament tradition and its pedagogical implications. It then explores the holistic dimension of Christian education, integrating faith, knowledge, and life praxis. Furthermore, this article analyses ecological responsibility as an essential content of Christian education in the era of environmental crisis. Finally, justice is discussed as the practical orientation of Christian education in the Indonesian context. This study concludes that a shalom-oriented Christian education offers a transformative theological framework that is holistic, ecological, and justice-bearing for contemporary society. Abstrak: Artikel ini mengkaji konsep shalom sebagai fondasi teleologis Pendidikan Agama Kristen. Melalui pendekatan kualitatif-kepustakaan, studi ini berargumen bahwa pendidikan Kristen yang autentik harus berorientasi pada shalom—sebuah visi holistis yang mencakup kedamaian, keadilan, keutuhan ekologis, dan kesejahteraan manusia. Pembahasan dimulai dengan menelusuri akar teologis-biblis konsep shalom dalam tradisi Perjanjian Lama dan implikasi pedagogisnya. Selanjutnya dieksplorasi dimensi holistis pendidikan Kristen yang mengintegrasikan iman, pengetahuan, dan praksis kehidupan. Artikel ini juga menganalisis tanggung jawab ekologis sebagai muatan esensial pendidikan Kristen di era krisis lingkungan. Terakhir, keadilan dibahas sebagai orientasi praksis pendidikan Kristen dalam konteks Indonesia. Studi ini menyimpulkan bahwa pendidikan Kristen berorientasi shalom menawarkan kerangka teologis transformatif yang holistis, ekologis, dan berkeadilan bagi masyarakat kontemporer
Antara Kairos dan Pemuasan Instan (Instant Gratification): Teologi Penantian Perjanjian Baru di Tengah Budaya Akselerasi Digital Eddy Suandar Simanjuntak
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.331

Abstract

Abstract: Technological developments and digital culture shape the way modern humans understand hope and fulfilment in life. Christian spirituality often loses meaning when waiting is perceived as failure, while immediately visible results are measured as success. The New Testament, however, presents a theology of waiting rooted in the concept of kairos, which is God's time and not subject to human chronological logic. This study aims to analyse and reconstruct the New Testament theology of waiting as a theological response to the culture of instant gratification. The method used is a qualitative-theological approach through biblical analysis and critical dialogue with contemporary digital culture studies. The results of the study show that theologically, the concept of kairos in the New Testament affirms that God's time is qualitative, relational, and eschatological, so that waiting is understood as a space for the formation of faith and obedience, not as a void of meaning. Conversely, the instant gratification paradigm born of digital acceleration culture has the potential to reduce the Christian understanding of time, suffering, and hope, and cause serious tension with the eschatological theology of waiting. Therefore, pastoral reconstruction through the spirituality of waiting is important as a theological response and prophetic praxis of the church to strengthen patience, perseverance, and eschatological hope in the midst of a culture of instant gratification. Abstrak: Perkembangan teknologi dan budaya digital membentuk cara manusia modern memahami harapan, dan pemenuhan hidup. Spiritualitas Kristen kerap mengalami reduksi makna ketika penantian dipersepsikan sebagai kegagalan, sementara keberhasilan diukur melalui hasil yang segera terlihat. Perjanjian Baru justru menghadirkan teologi penantian yang berakar pada konsep kairos, yakni waktu Allah dan tidak tunduk pada logika kronologis manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan merekonstruksi teologi penantian Perjanjian Baru sebagai respons teologis terhadap budaya instant gratification. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-teologis melalui analisis biblika dan dialog kritis dengan kajian budaya digital kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara teologis, konsep kairos dalam Perjanjian Baru menegaskan bahwa waktu Allah bersifat kualitatif, relasional, dan eskatologis, sehingga penantian dipahami sebagai ruang pembentukan iman dan ketaatan, bukan sebagai kekosongan makna. Sebaliknya, paradigma instant gratification yang lahir dari budaya akselerasi digital berpotensi mereduksi pemahaman iman Kristen tentang waktu, penderitaan, dan pengharapan, serta menimbulkan ketegangan serius dengan teologi penantian eskatologis. Oleh karena itu, rekonstruksi pastoral melalui spiritualitas penantian menjadi penting sebagai respons teologis dan praksis profetis gereja untuk meneguhkan kesabaran, ketekunan, dan pengharapan eskatologis di tengah budaya pemuasan instan
Musik sebagai Media Pembelajaran: Telaah Kidung Musa dalam Ulangan 32 Erlikasna br Tarigan, Priskila; Agus Marulitua Marpaung
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.350

Abstract

Abstract: The widespread popularity of contemporary music among today’s Christian children and teenagers reflects a serious content crisis in religious music. Many songs are sung merely for their catchy rhythms, without a deep understanding of their meaning, and are often adapted from secular culture with modified lyrics to appear spiritual. This crisis poses a significant threat to the formation of faith and the psychosocial-spiritual development of the young Christian generation. This article addresses the issue by presenting the Song of Moses in Deuteronomy 32 as an early model of music that serves as an effective, intergenerational medium for faith education. The study employs a descriptive qualitative method with a library research approach, examining biblical literature, Christian educational theology, child developmental psychology, and music theory in faith learning. The findings reveal that the Song of Moses is a concrete example of music used as an educational tool to warn, shape, and strengthen the faith of the people of Israel. The song was designed by God to be remembered and internalised across generations as a means of embedding divine truth. The study further shows that sacred music can be an effective strategy in Christian Religious Education (CRE), particularly in teaching faith values to children and youth. Music composed with theological and pedagogical considerations has the potential to deepen doctrinal understanding, build a personal relationship with God, and inspire authentic Christian living. Therefore, this article recommends that churches and Christian educational institutions develop contextual, biblical, and age-appropriate faith-learning songs. Abstract: Fenomena maraknya musik populer yang digemari oleh anak-anak dan remaja Kristen masa kini menunjukkan adanya krisis konten yang serius dalam musik keagamaan. Banyak lagu yang dinyanyikan hanya karena iramanya yang menarik, tanpa pemahaman makna yang mendalam, bahkan tak jarang diadopsi dari budaya sekuler dengan lirik yang dimodifikasi agar tampak rohani. Krisis ini menjadi ancaman bagi pembentukan iman dan perkembangan psikospiritual generasi muda Kristen. Artikel ini merespons isu tersebut dengan mengangkat Kidung Musa dalam Ulangan 32 sebagai model awal dari musik yang berfungsi sebagai media pendidikan iman yang efektif dan lintas generasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research), yang menelaah literatur Alkitabiah, teologi pendidikan Kristen, psikologi perkembangan anak, dan teori musik dalam pembelajaran iman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kidung Musa merupakan contoh konkret penggunaan musik sebagai alat edukatif untuk memperingatkan, membentuk, dan memperkuat iman bangsa Israel. Lagu tersebut dirancang Tuhan agar diingat dan dihayati lintas generasi sebagai bentuk internalisasi kebenaran ilahi. Temuan ini juga menunjukkan bahwa musik rohani dapat menjadi strategi yang efektif dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK), khususnya dalam pengajaran nilai-nilai iman kepada anak dan remaja. Musik yang disusun dengan pendekatan teologis dan pedagogis berpotensi memperkuat pemahaman doktrin, membangun hubungan personal dengan Allah, dan mendorong praktik hidup Kristen yang otentik. Oleh karena itu, artikel ini merekomendasikan perlunya gereja dan lembaga pendidikan Kristen mengembangkan lagu-lagu pembelajaran iman yang kontekstual, alkitabiah, dan relevan
Dari Kesadaran Teologis ke Praktik Pedagogis: Model Pendidikan Kristiani Multikultural Kontekstual di Halmahera Demianus Ice
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.356

Abstract

Abstract: Christian education in a multicultural society faces the challenge of remaining faithful to its theological identity while remaining relevant to a pluralistic reality. This article examines the gap between the church's theological awareness of its calling to peace and the pedagogical practices of faith education, which remain transmissive and normative within the Halmahera Evangelical Church (GMIH). Through an analytical-constructive literature review of educational theology, contextual theology, and multicultural pedagogy, this study shows that theological foundations, including creation theology, incarnation, trinity, and missio Dei, have not been systematically translated into curricula and educational strategies that are responsive to plurality. As a major contribution, this article presents a conceptual model of contextual multicultural Christian education that integrates five components: normative theological foundations, sociocultural context analysis, multidimensional goals for faith formation, integrative learning content, and dialogical pedagogical strategies. This model emphasises the need to shift from doctrinal transmission to dialogical, communal transformation as part of the church's ecclesial calling. Abstrak: Pendidikan Kristiani di masyarakat multikultural menghadapi tantangan untuk tetap setia pada identitas teologis sekaligus relevan dengan realitas plural. Artikel ini mengkaji kesenjangan antara kesadaran teologis gereja tentang panggilan perdamaian dan praktik pedagogis pendidikan iman yang masih bersifat transmisif-normatif dalam konteks Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH). Melalui kajian pustaka analitis-konstruktif terhadap literatur teologi pendidikan, teologi kontekstual, dan pedagogi multikultural, studi ini menunjukkan bahwa fondasi teologis yang mencakup teologi penciptaan, inkarnasi, trinitas, dan missio Dei belum diterjemahkan secara sistematis ke dalam kurikulum dan strategi pendidikan yang responsif terhadap pluralitas. Sebagai kontribusi utama, artikel ini menawarkan model konseptual pendidikan Kristiani multikultural kontekstual yang mengintegrasikan lima komponen: landasan teologis normatif, analisis konteks sosial-budaya, tujuan formasi iman multidimensional, konten pembelajaran integratif, dan strategi pedagogis dialogis. Model ini menegaskan perlunya pergeseran dari transmisi doktrinal menuju transformasi komunal yang dialogis sebagai bagian dari panggilan eklesial gereja
Pembelajaran Ruang Ketiga: Hibriditas, Imajinasi Poskolonial, dan Transformasi Pendidikan Agama Kristen dalam Konteks Multikultural Indonesia Daniel Sudibyo Tjandra
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 5 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v5i2.357

Abstract

Abstract: This article examines the application of third-space theory and hybridity concepts to Christian religious education in Indonesia's multicultural context. Drawing on postcolonial theoretical frameworks by Homi Bhabha and contemporary educational scholarship, this study examines how third-space pedagogy can transform Christian education from an exclusivist approach to inclusive, dialogical practices that honour religious and cultural diversity. Through an analysis of recent scholarship on Indonesian Christian education, intercultural theology, and postcolonial pedagogy, the article argues that third-space learning environments create transformative possibilities for negotiating Christian identity while embracing pluralism. The study identifies key pedagogical strategies, including cultural integration, interreligious dialogue, decolonial imagination, and contextual curriculum development. Findings suggest that third-space pedagogy enables Christian educators to maintain theological integrity while fostering mutual understanding, social justice, and harmonious coexistence within Indonesia's diverse religious landscape. This approach offers practical implications for curriculum design, teacher training, and educational policy in multicultural Christian education contexts. Abstrak: Artikel ini mengeksplorasi penerapan teori ruang ketiga dan konsep hibriditas dalam pendidikan agama Kristen di konteks multikultural Indonesia. Berdasarkan kerangka teoretis poskolonial dari Homi Bhabha dan kajian pendidikan kontemporer, penelitian ini mengkaji bagaimana pedagogi ruang ketiga dapat mentransformasi pendidikan Kristen dari pendekatan eksklusif menuju praktik inklusif dan dialogis yang menghormati keberagaman agama dan budaya. Melalui analisis literatur terkini tentang pendidikan Kristen Indonesia, teologi interkultural, dan pedagogi poskolonial, artikel ini berargumen bahwa lingkungan pembelajaran ruang ketiga menciptakan kemungkinan transformatif untuk menegosiasikan identitas Kristen sambil merangkul pluralisme. Studi ini mengidentifikasi strategi pedagogis kunci, termasuk integrasi budaya, dialog antaragama, imajinasi dekolonial, dan pengembangan kurikulum kontekstual. Temuan menunjukkan bahwa pedagogi ruang ketiga memungkinkan pendidik Kristen mempertahankan integritas teologis sambil memupuk saling pengertian, keadilan sosial, dan hidup berdampingan secara harmonis dalam lanskap religius Indonesia yang beragam. Pendekatan ini menawarkan implikasi praktis untuk desain kurikulum, pelatihan guru, dan kebijakan pendidikan dalam konteks pendidikan Kristen multikultural