cover
Contact Name
Rudi Sugiono Suyono
Contact Email
Rudi Sugiono Suyono
Phone
-
Journal Mail Official
untanjtst@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 14123576     EISSN : 26218429     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil Universitas Tanjungpura merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi peneliti yang hendak mempublikasikan hasil penelitiannya dalam bentuk studi literatur, peneltian, dan pengembangan teknologi sebagai bentuk penerapan metode, algoritma, maupun kerangka kerja. Melalui penulisan Jurnal Teknik Sipil yang terbit pada bulan Juni dan Desember setiap tahun. Redaksi Jurnal Teknik Sipil Universitas Tanjungpura mengundang para profesional dari dunia usaha, pendidikan dan peneliti untuk berpartisipasi mengembangkan profesi serta menyebarluaskan perkembangan ilmu dalam bidang Teknik Sipil termasuk geoteknik, transportasi, struktur, sumberdaya air dan lingkungan dengan penekanan khusus pada pengurangan resiko bencana termasuk pendekatan sosio-teknik untuk penanggulangan.
Arjuna Subject : -
Articles 588 Documents
ANALISA PEMETAAN GEOLOGI PADA DAS KAPUAS DAN SUB-DAS MELAWI KECAMATAN SINTANG Chandra Sihite, Leo
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.564 KB) | DOI: 10.26418/jtst.v16i1.24386

Abstract

Kecamatan Sintang merupakan salah satu kecamatan yang berada di jalur pelayaran Sungai Kapuas dan Sungai Melawi yang menjadi urat nadi kehidupan perekonomian masyarakat. Kasus tanah longsor merupakan salah satu permasalahan yang rawan timbul di DAS Kapuas dan sub-DAS Melawi Kecamatan Sintang. Longsoran ini mengakibatkan runtuhnya penyusun daerah aliran sungai yang mengakibatkan terganggunya aktivitas di ruas tersebut. Tujuan penelitian ini adalah melakukan zonasi kawasan longsor pada daerah aliran DAS Kapuas dan sub- DAS Melawi, Kecamatan Sintang. Studi yang dilakukan bersifat deskriptif dengan menggunakan metode survey lapangan dengan beberapa parameter kuantitatif. Penetapan kawasan rawan bencana longsor dan zona berpotensi longsor didasarkan pada hasil pengkajian terhadap daerah yang diindikasikan berpotensi longsor atau lokasi yang diperkirakan akan terjadi longsor akibat proses alami. Sedangkan pada tahap berikutnya dalam menetapkan tingkat kerawanan dan tingkat risikonya di samping kajian fisik alami yang lebih detail, juga dilakukan kajian berdasarkan aspek aktivitas manusianya. Metode yang digunakan adalah metode overlay peta yang memanfaatkan data primer berupa studi geoteknis dan data sekunder. Ada lima parameter yang berpengaruh dalam analisis tingkat rawan longsor yaitu geologi, struktur geologi, kemiringan lereng, penggunaan lahan dan persebaran IUP. Hasil akhir penelitian ini berupa peta rawan bencana longsor di DAS Kapuas dan sub-DAS Melawi di Kecamatan Sintang yang memuat informasi mengenai lokasi dan tingkat kerawanan longsor tersebut. Beberapa rekomendasi setelah diperoleh kesimpulan antara lain meliputi pencegahan, penanggulangan darurat dan penanggulangan permanen.  Kata kunci: Kecamatan Sintang, DAS Kapuas, sub-DAS Melawi, longsor, overlay
KAJIAN SEDIMENTASI PADA SUMBER AIR BAKU PDAM KOTA PONTIANAK Erlanda, Ella Prastika; Soeryamassoeka, Stefanus Barlian; Yuniarti, Erni
Jurnal Teknik Sipil Vol 12, No 2 (2012): Edisi desember 2012
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.052 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v12i2.1354

Abstract

Abstrak Peristiwa sedimentasi atau pengendapan partikel-partikel tanah yang terbawa aliran sungai seringkali terjadi di sungai-sungai, tidak terkecuali Sungai Kapuas di Pontianak Kalimantan Barat, khususnya pada sumber-sumber air baku PDAM Kota Pontianak. Tingkat sedimentasi yang tinggi mengakibatkan pendangkalan dan perubahan kualitas air sungai sehingga dapat mempengaruhi beberapa aktivitas masyarakat yang memanfaatkan sumber-sumber air baku tersebut, sehingga perlu diketahui besarnya tingkat sedimentasi dan debit air yang terjadi di sekitar intake PDAM Kota Pontianak. Metode yang digunakan pada saat pengambilan data primer menggunakan metode sesaat di mana hasil yang ada menggambarkan kondisi pada lokasi tertentu pengambilan sampel. Dalam menganalisis data digunakan metode grab sample (metode sesaat) dan metode L.C Van Rijn. Analisis data perhitungan menggunakan kedua metode ini menghasilkan nilai yang berbeda karena cara pandang setiap metode berbeda. Untuk metode sesaat debit sedimen dipengaruhi oleh debit aliran dan konsentrasi sedimen, sedangkan metode L.C Van Rijn debit sedimen dipengaruhi oleh diameter ukuran sedimen, kerapatan jenis, dan kecepatan. Dari hasil analisis didapat besar debit sedimen dengan metode sesaat di intake Selat Panjang saat pasang 3393,387 ton/hari, saat surut 927,208 ton/hari; di intake Imam Bonjol saat pasang 308,558 ton/hari, saat surut 158,506 ton/hari; di intake Penepat saat pasang 55,019 ton/hari, saat surut 34,388 ton/hari. Jumlah angkutan sedimen dengan metode L.C Van Rijn di intake Selat Panjang saat pasang 980,0276 ton/hari, saat surut 1,1517 ton/hari; di intake Imam Bonjol saat pasang 129,7662 ton/hari, saat surut 0,4585 ton/hari; di intake Penepat saat pasang 0,1267 ton/hari, saat surut 0,2964 ton/hari. Debit air di intake Selat Panjang saat pasang 1354,321 m3/detik, saat surut 357,989 m3/detik, di intake Imam Bonjol saat pasang 223,205 m3/detik, saat surut 114,660 m3/detik; di intake Penepat saat pasang 18,729 m3/detik, saat surut 12,876 m3/detik. Kata-kata kunci: PDAM Kota Pontianak, debit aliran, debit sedimen
KAJIAN KONSTRUKSI RIGID UNTUK APRON PADA TANAH LUNAK DI BANDARA SUPADIO PONTIANAK Apui, Ignasius
Jurnal Teknik Sipil Vol 14, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil Edisi Desember 2014
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.985 KB) | DOI: 10.26418/jtst.v14i2.14274

Abstract

Bandara Supadio sebagai salah satu penunjang moda transportasi udara yang   perkembangannya sangat cepat dan meningkat tajam. Hal tersebut tercermin dengan   peningkatan jumlah penumpang, angkutan barang (cargo) dan pesawatyang tinggi diatas 10 % per tahun. Demikian pula kebutuhan untuk pengembangan dan pembangunan berupa   perluasan Apron guna   peningkatan kapasitas pelayanan kepada pengguna jasa. Berdasarkan kondisi lapangan di bandara Supadio terdapat 2 jenis konstruksi yaitu apron lama menggunakan konstruksi   fleksibel dan pada peluasan tahun 2006 menggunakan Konstruksi Rigid, selanjutnya pada tahun 2011 direncanakan   perlusan Apron lagi (100 x 80) M, Hal ini menjadi menarik perhatian   penulis untuk membuat kajian teknis terhadap tanah lunak untuk mengetahui kapasitas daya dukung   tanah serta mendapatkan hasil desain tebal perkerasan untuk Konstruksi Rigid Apron. Kata-kata kunci: Konstruksi Rigid untuk Apron menggunakan Ceucuk pada Tanah Lunak, Kuat, Efisien dan Hemat     Biaya serta Bermanfaat.
PENGELOLAAN INFRASTRUKTUR IRIGASI MENGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) DAERAH IRIGASI RINTAU KECAMATAN SEKAYAM KABUPATEN SANGGAU Sinabutar, Ucok Riswanto; Nurhayati, -; Marsudi, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 2 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 2 EDISI DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v16i2.32558

Abstract

Kebutuhan air untuk sektor irigasi/pertanian sangat besar dan kian meningkat seiring dengan pertambahan penduduk, sementara ketersediaan air semakin berkurang, sehingga pemenuhan kebutuhan air dalam jumlah besar dengan kualitas air yang baik semakin sulit tercapai. Tujuan penelitian adalah menentuan prioritas pengelolaan infrastruktur irigasi pada Daerah Irigasi Rintau, Desa Bungkang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Penilaian kriteria dan alternatif dilakukan oleh 45 orang responden yang terdiri dari berbagai unsur profesi yang ada di Kabupaten Sanggau. Kriteria yang digunakan adalah ketersediaan air, debit air dilapangan, finansial dan sumber daya manusia. Hasil penelitian menunjukkan prioritas pertama untuk kriteria adalah ketersediaan air yang mutlak/utama terpenuhi dalam penentuan prioritas pengelolaan infrastruktur irigasi dengan bobot 0,360. Kriteria debit air di lapangan kriteria kedua dengan bobot 0,230. Prioritas ketiga ada kriteria finansial dengan bobot 0,225. Prioritas terakhir adalah kriteria sumber daya manusia dengan bobot 0,185.Pengelolaan infrastruktur irigasi adalah prioritas pertama pada perbaikan bangunan bendung dengan nilai bobot global 0,273. Perbaikan bendung dinilai sangat penting untuk ditangani pemerintah. Prioritas kedua pada pemberdayaan petani dengan nilai bobot global 0,250. Prioritas ketiga pada perbaikan bangunan bagi dengan nilai bobot global 0,249 dan prioritas terakhir pada perbaikan saluran dengan nilai bobot global 0,228.Kata kunci: prioritas, irigasi, AHP, Rintau
KAJIAN PENGEMBANGAN RUANG TERBUKA HIJAU PADA KAWASAN PERUMAHAN DI KABUPATEN KUBU RAYA, KECAMATAN SUNGAI RAYA Sinaga, Maranatha Yohanes; MT, Dr. Ir Marsudi,; Mulki,.DEA, Dr.Ir.Gusti Zulkifli; ,Ph.D, Ir. Elvira,M.T.
Jurnal Teknik Sipil No 1 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 15 EDISI JUNI 2015
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v15i1.25443

Abstract

Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah bagian penting dari struktur pembentuk kota. Ruang Terbuka Hijau memiliki dua fungsi utama, yaitu Fungsi estetika dan Fungsi Ekologis. Ruang terbuka hijau pada   perumahan pada dasarnya memiliki fungsi pokok sebagai pendukung utama keberlanjutan kehidupan masyarakat di perumahan tersebut sehingga kebutuhan akan keberadaan Ruang terbuka Hijau sangatlah penting seperti pemenuhan kecukupan akan oksigen, menjadi salah satu daerah resapan air dan menjadi salah satu alrtenatif untuk berekreasi ataupun sekedar bersantai di daerah perumahan yang ditinggali .Akan tetapi seiring dengan perkembangan   perumahan, para pengembang tidak terlalu memandang pentingnya RTH, disinilah peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk pemenuhan Ruang Terbuka Hijau untuk masyarakat didalam perumahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan distribusi Ruang serta pengembangan Terbuka Hijau terutama pada kawasan Perumahan Hosana Fhileo, Bhayangkara dan Borneo Residence Khatulistiwa   yang sesuai sehingga dihasilkan sebuah konsep pengembangan Ruang Terbuka Hijau yang sesuai dengan fungsinya sebagai penunjang kualitas ekologis suatu pemukiman yang juga sesuai. Analisa permasalahan Ruang Terbuka Hijau digunakan metode deskriptif analisis. Untuk menemukan faktor penyebab kurangnya pengembangan Ruang Terbuka Hijau.Hasil dari penelitian ini adalah sebuah konsep sebagai arahan dalam upaya Pengembangan ruang terbuka hijau pada kawasan perumahan yang ada di kabupaten Kubu Raya , yang mampu berfungsi ekologis secara maksimal namun tetap memperhatikan nilai estetika dan nilai sosial, budaya dan ekonomi dari ruang terbuka hijau. Konsep ruang terbuka hijau pada kawasan perumahan   berupa taman, tempat bermain, kolam air sebagai penurun suhu dan minimal satu pohon pada masing masing rumah dimana konsep-konsep tersebut tetap mencirikan lokalitas kawasan melalui penggunaan vegetasi lokal. Dengan adanya kajian pengembangan ruang terbuka hijau pada perumahan maka diharapkan menjadi Role Model/Acuan dalam Pengembangan perumahan yang ada di kabupaten Kubu RayaKata Kunci:Pengembangan, Acuan, Konsep, Kajian dan Ruang Terbuka Hijau.
STUDI TENTANG PERILAKU PELAT BETON DI ATAS TANAH GAMBUT UNTUK PENGEMBANGAN JALAN BETON DI PONTIANAK Vivi Bachtiar, M. Yusuf, Siti Mayuni, .
Jurnal Teknik Sipil Vol 9, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil Fakultas Teknik Untan Volume 9 No 2 Des - 2009
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.922 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v9i2.288

Abstract

Sebagian besar tanah permukaan di Kota Pontianak merupakan tanah gambut yang cukup tebal. Dari sudut pandang teknik sipil, tanah gambut mempunyai sifat-sifat mekanis yang tidak menguntungkan. Hal ini merupakan problema bagi para praktisi konstruksi gedung, jalan, dan jembatan di Kalimantan Barat pada umumnya. Sering dijumpai kegagalan konstruksi jalan menunjukkan bahwa para praktisi masih belum berhasil dengan memuaskan mengatasi rendahnya daya dukung tanah di daerah ini. Tulisan ini bermaksud memberikan kontribusi untuk memecahkan masalah tersebut melalui simulasi program komputer. Variabel yang ditinjau adalah B (panjang sisi pelat bujur sangkar). Dari hasil studi ini didapat hubungan antara q (tekanan tanah) dan d (deformasi tanah). Dari hubungan q dan d diperoleh hubungan P (beban) dan d. Dari hubungan P dan d diperoleh hubungan Pu(beban ultimit) dan B. Dari hubungan q dan d diperoleh hubungan k (modulus reaksi tanah dasar) dan d. Dari hubungan k dan d diperoleh nilai k1(k pada penurunan 1 inci) dan B. Dalam beberapa tabel ataupun monograf yang menyajikan nilai k dari berbagai literatur, nilai B jarang muncul untuk menentukan nilai k1. Dari hasil studi ini, grafik k1 dan B dengan jelas menggambarkan nilai k1 semakin mengecil seiring dengan membesarnya nilai B. Untuk pelat berukuran 1,2m?1,2m diperoleh nilai k1 sebesar 0,144 MN/m3.
STUDI TENTANG PENENTUAN SKALA PRIORITAS PROGRAM PEMELIHARAAN RUAS JALAN KABUPATEN DIKABUPATEN SINTANG Rakhmah, Yutia
Jurnal Teknik Sipil No 1 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 15 EDISI JUNI 2015
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.269 KB) | DOI: 10.26418/jtst.v15i1.16309

Abstract

Moda Transportasi   darat memegang   peranan   yang   sangat   vital   dalam mendukung   aktivitas   masyarakat. Terciptanya sistem transportasi jalan untuk menjamin pergerakan manusia dan barang secara lancar, aman, cepat, murah dan nyaman. Jalan mempunyai kecenderungan mengalami penurunan kondisi yang diindikasikan dengan terjadinya kerusakan pada perkerasan jalan. Laju Penurunan Kondisi dan mempertahankan kondisi pada tingkat yang layak, jalan tersebut perlu dikelola pemeliharaannya dengan baik agar dapat berfungsi sepanjang waktu. Keterbatasan Dana yang mengakibatkan tidak memungkinkannya pemeliharaan jaringan jalan dapat dilakukan sekaligus dalam 1 (satu) tahun anggaran. Agar alokasi dana jalan tetap memadai, minimal jalan yang telah ada dapat di pelihara sehingga beroperasi sebagaimana mestinya. Perlu pengambilan keputusan yang tepat untuk menentukan alternatif prioritas penanganan pemeliharaan jalan. Penelitian ini dikonsentrasikan untuk menyusun sistem pendukung keputusan penentuan prioritas pemeliharaan jalan kabupaten. Proses penelitian ini adalah menentukan   kriteria dan alternatif yang akan dilakukan pemeliharaan melalui pembobotan hasil kuisioner dari 20 stakeholder yang bertujuan membantu dalam penentuan keputusan mengenai urutan prioritas penanganan pemeliharaan jalan kabupaten di Kabupaten Sintang. Sebagai alat bantu pengambilan keputusan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Analytical Hierarchi Process (AHP). Hasil pembobotan kriteria berdasarkan persepsi responden wakil stakeholder 5 Orang Dinas Pekerjaan Umum, 5 Orang Dinas Perhubungan, 5 Orang Bappeda dan 5 Orang anggota DPRD Kabupaten Sintang. Urutan prioritas penanganan jalan dengan metode AHP diperoleh tingkat kepentingan dengan bobot masing-masing kriteria yang dipakai untuk menentukan prioritas penanganan jalan yaitu: Kondisi Struktur Jalan dengan bobot 34,5%, Kondisi Lalu Lintas dengan bobot 23,7%, Kondisi Pelayanan dengan bobot 21,73%, Tuntutan Pengguna Jalan dengan bobot 10,25% dan Anggaran Biaya Pemeliharaan dengan bobot 97,77%. Hasil pembobotan alternatif berdasarkan wilayah kecamatan diperoleh prioritas utama pemeliharaan jalan adalah Kecamatan Sintang dengan bobot 70,25%, yang kedua Kecamatan Sungai Tebelian dengan bobot 49,81%, ketiga Kecamatan Sepauk dengan bobot 27,84, keempat Kecamatan Tempunak dengan bobot 27,14%, kelima Kecamatan Serawai dengan bobot 23,95 % dan terakhir Kecamatan Ketungau Hulu dengan bobot 21,55%.   Dari hasil analisa menunjukkan bahwa penilaian pembobotan terhadap kriteria mampu menampilkan urutan prioritas yang sesuai dengan kondisi yang ada. Dengan demikian metode ini dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan prioritas penanganan pemeliharaan jalan kabupaten dikabupaten Sintang . Kata Kunci : Jalan Kabupaten, Urutan Prioritas Pemeliharaan Jalan, Metode AHP
KONSEP PENATAAN RUANG TERBUKA HIJAU PADA KAWASAN JEMBATAN KAPUAS 2 DI KABUPATEN KUBU RAYA Asy’ari, Khatim; Elvira, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 18, No 1 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2018
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.433 KB) | DOI: 10.26418/jtst.v18i1.29315

Abstract

Perubahan ruang dapat terjadi dikarenakan tidak terdapatnya penataan ruang seperti ruang terbuka hijau. Hal tersebut dapat dilihat pada salah satu daerah di Kabupaten Kubu Raya tepatnya di kawasan jembatan kapuas 2. Jembatan Kapuas 2 merupakan sarana alternatif yang digunakan masyarakat untuk melakukan mobilitas di daerah Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya, sehingga keberadaan jembatan Kapuas 2 memiliki peran penting bagi masyarakat dalam menunjang kegiatan sehari-hari. Kondisi eksisting jembatan Kapuas 2 yang dekat dengan pemukiman masyarakat. Hal tersebut menimbulkan dampak berupa potensi kumuh di sekitar kawasan jembatan Kapuas 2, dikarenakan terdapat lahan kosong di sekitar kawasan jembatan Kapuas 2, sehingga diperlukan untuk dikembangkannya ruang terbuka hijau agar peran dan fungsinya dapat lebih memberi manfaat bagi masyarakat. Pendekatan menggunakan deskriptif adalah penelitian yang   berusaha   untuk   menuturkan   pemecahan   masalah   yang   ada   sekarang berdasarkan data-data untuk dianalisis dan di interpretasikan. Penulis berusaha   untuk   menuturkan   pemecahan   masalah   yang berhubungan dengan penataan ruang terbuka hijau di kawasan jembatan kapuas 2. Analisis mengkaji permasalahan dalam penyediaan ruang terbuka hijau, mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan ruang terbuka hijau dan mengkaji perencanaan dan penataan ruang terbuka hijau di kawasan jembatan kapuas 2 di Kabupaten Kubu Raya.Hasil penelitian adalah kondisi eksisiting yang terjadi pada kawasan jempatan kapuas 2 yaitu masih belum terencana dan kondisinya masih belum tertata dengan terdapatnya rumah penduduk semi permanen, kondisi sempadan sungai yang tidak terawat, terdapat semak belukar dan aktivitas kegiatan usaha disekitar kawasan jempatan kapuas 2. Faktor yang mempengaruhi pengembangan ruang terbuka hijau di kawasan Jembatan Kapuas 2 yaitu kegiatan pada ruang terbuka hijau pembangunan yang ada diarahkan untuk berkembang secara vertikal, pembagian letak tanah terbagi menjadi 15 bagian yang terbagi menjadi 4 sertifikat tanah dan 11 surat keterangan tanah. Konsep perencanaan lansekap akan mencakup: penciptaan kesan visual yang baik, suasana yang nyaman, teduh, dan dapat mewujudkan rasa aman bagi masyarakat, peningkatan nilai tambah lingkungan, baik secara estetis, psikologi maupun ekologis, memfungsikan kembali elemen/unsure pembentuk ruang-ruang terbuka maupun figure kawasan, penguatan bentuk struktur kawasan dan pengatur iklim mikro (micro climate), media konservasi tanah dan estetika kawasan, maupun filter terhadap udara kotor.  Kata Kunci: Konsep, Jembatan Kapuas 2, Ruang Terbuka Hijau
STRATEGI PENGEMBANGAN TRANSPORTASI SUNGAI DALAM MENUNJANG PENGEMBANGAN POTENSI KAWASAN YANG DILALUI JALUR SUNGAI MELAWI Okgarianda, Jimmi; Widodo, Slamet; Mulki, Gusti Zulkifli
Jurnal Teknik Sipil Vol 17, No 1 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2017
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.741 KB) | DOI: 10.26418/jtst.v17i1.23876

Abstract

Transportasi sungai merupakan prasarana pengangkutan dan penghubung yang sangat penting, untuk memperlancar kegiatan sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan kesehatan. Semakin meningkatnya usaha pembangunan menuntut pembangunan dan peningkatan transportasi air untuk memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalulintas dari satu daerah ke daerah yang lain. Kabupaten Melawi dialiri oleh dua sungai besar yaitu Sungai Melawi dan Sungai Pinoh. Sungai terbesar adalah Sungai Melawi dengan panjang 471 km dan melalui sisi utara wilayah Melawi. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, penulis tertarik melakukan studi dan analisa untuk mengetahui kondisi infrastruktur transportasi sungai di daerah yang dilalui Sungai Melawi; menganalisis potensi SDA yang dapat dikembangkan di daerah yang dilalui Sungai Melawi; dan menemukan strategis pengembangan   jaringan transportasi air untuk menunjang distribusi hasil produksi pada kawasan yang dilalui Sungai Melawi. Kondisi jaringan transportasi air dikawasan yang dilalui jalur Sungai Melawi yang memiliki kawasan potensi SDA sebagai berikut : (a) Kec. Nanga Pinoh,   terdapat Dermaga Nanga Pinoh yang melayani trayek Nanga Pinoh-Nanga Kayan (antar desa dalam 1 kecamatan). Berdasarkan hasil analisis LQ matriks potensi wilayah yang dilalui jalur Sungai Melawi memiliki 6 jenis Sub Sektor potensi kawasan, diantaranya pertanian (jagung, ubi kayu dan ubi jalar), perkebunan (karet); peternakan (babi dan ayam ras), yang mana hasil produksi dapat didistribusikan melalui jalur darat maupun jalur sungai. (b) Kecamatan Ella Hilir, untuk transportasi sungai berupa jalur perlintasan trayek   arah hulu: Nanga Pinoh Ella Hilir Menukung. Berdasarkan hasil analisis LQ matriks potensi wilayah diantaranya pertanian (padi, jagung, dan ubi jalar), perkebunan (kelapa), dan peternakan (sapi, babi, ayam buras dan itik) yang mana hasil produksi dapat didistribusikan melalui jalur darat maupun jalur sungai. (c) Kecamatan Menukung, untuk transportasi sungai berupa jalur perlintasan trayek   arah hulu: Nanga Pinoh Ella Hilir Menukung. Berdasarkan hasil analisis LQ matriks potensi wilayah Kecamatan Menukung memiliki potensi urutan ke-2 setelah Kecamatan Ella Hilir, potensi pertanian (ubi kayu dan ubi jalar), perkebunan (kelapa), peternakan (sapi, babi, ayam buras dan itik), yang mana hasil produksi dapat didistribusikan melalui jalur darat maupun jalur sungai. Hasil analisis SWOT strategi pengembangan jaringan transportasi sungai dikawasan yang dilalui jalur Sungai Melawi didapatkan strategi kekuatan dan peluang (SO), diantaranya : (1) Peningkatan produksi pertanian tanaman pangan, perkebunan dan peternakan. (2) Tersedianya prasarana dan sarana transportasi air yang mendukung pemasaran hasil produksi pertanian, perkebunan dan peternakan. (3) Optimalisasi pembangunan infrastruktur trasportasi air guna memenuhi kebutuhan trasportasi antar wilayah serta menunjang pengembangan wilayah. (4) Sinkronisasi kebijakan sector trasportasi air , pengembangan wilayah dan pembangunan perekonomian.  Kata Kunci: Transportasi Sungai, Sungai Melawi, Potensi Sumber Daya Alam
STUDI MATERIAL SIRTU DARAT DAN SIRTU SUNGAI UNTUK LAPIS PONDASI AGREGAT KELAS B Supiandi, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.858 KB) | DOI: 10.26418/jtst.v16i1.24727

Abstract

Sirtu adalah singkatan dari pasir batu. Orang kadang menyebutnya dengan Gravel atau Base Caorse .   Sirtu terjadi karena akumulasi pasir dan batuan yang terendapkan di daerah "“ daerah relatif rendah atau lembah. Sirtu biasanya merupakan bahan yang belum terpadukan dan biasanya tersebar di daerah aliran Sungai. Sirtu juga bisa diambil dari satuan konglomerat atau Breksi yang tersebar di daerah daratan.  Sirtu berasal dari dua bagian yang berukuran besar merupakan material dari batuan beku, metamorf, dan sendimen. Sedangkan yang berukuran halus terdiri dari pasir dan lempung. Seluruh material tersebut tererosi dari batuan induknya bercampur menjadi satu dengan material yang halus. Kuatnya proses ubahan atau pelapukan batuan dan jauhnya transportasi sehingga material berbentuk elip atau bulat dengan ukuran mulai krikil sampai bongkaran.  Penggunaan sirtu terbatas sebagai bahan bangunan terutama untuk campuran beton. Selain itu dapat juga digunakan sebagai bahan perkerasan jalan raya. Mengingat keadaan sekitar wilayah Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat sangat sulit ditemui bukit batu, namun masih banyak hamparan sirtu. Untuk menyakinkan bahwa sirtu yang di wilayah tersebut dapat digunakan dan memenuhi syarat Speksifikasi Teknik   Bidang Bina Marga, perlu dilakukan penelitian dengan melakukan pengujian- pengujian yang dapat merekomendasikan bahwa material sirtu tersebut dapat digunakan sebagai bahan untuk Lapis Pondasi Agregat pada jalan raya dan cara pengolahan sirtu agar dapat     memenuhi persyaratan.  Kata-kata kunci :   ketahanan material (abrasi ), CBR Laboratorium, tekstur, warna, bidang pecah (anggularitas)

Filter by Year

2008 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 1 (2026): Jurnal Teknik Sipil Universitas Tanjungpura Vol 25, No 3 (2025): Vol 25, No 3 (2025): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI AGUSTUS 2025 Vol 25, No 2 (2025): Vol 25, No 2 (2025): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI MEI 2025 Vol 25, No 1 (2025): Vol 25, No 1 (2025): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI FEBRUARI 2025 Vol 25, No 4 (2025): Jurnal Teknik Sipil: Vol 25, No. 4, November 2025 Vol 24, No 4 (2024): Vol 24, No 4 (2024): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI NOVEMBER 2024 Vol 24, No 3 (2024): Vol 24, No 3 (2024): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI AGUSTUS 2024 Vol 24, No 2 (2024): Vol 24, No 2 (2024): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI MEI 2024 Vol 24, No 1 (2024): Vol 24, No 1 (2024): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI FEBRUARI 2024 Vol 23, No 4 (2023): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI NOVEMBER 2023 Vol 23, No 3 (2023): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI AGUSTUS 2023 Vol 23, No 2 (2023): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI MEI 2023 Vol 23, No 1 (2023): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI FEBRUARI 2023 Vol 22, No 2 (2022): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2022 Vol 22, No 1 (2022): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2022 Vol 22, No 1 (2022) Vol 21, No 2 (2021): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2021 Vol 21, No 1 (2021): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2021 Vol 20, No 2 (2020): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2020 Vol 20, No 1 (2020): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2020 Vol 19, No 2 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2019 Vol 19, No 1 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2019 Vol 18, No 2 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2018 Vol 18, No 1 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2018 Vol 17, No 2 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI DESEMBER 2017 Vol 17, No 1 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2017 Vol 16, No 2 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 2 EDISI DESEMBER 2016 Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016 Vol 15, No 2 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 15 NO 2 EDISI DESEMBER 2015 No 1 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 15 EDISI JUNI 2015 Vol 14, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil Edisi Desember 2014 Vol 14, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil Edisi Juni 2014 Vol 13, No 2 (2013): Edisi Desember 2013 Vol 13, No 1 (2013): Edisi Juni 2013 Vol 12, No 1 (2012): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 12 NO 1 EDISI JUNI 2012 Vol 12, No 2 (2012): Edisi desember 2012 Vol 11, No 2 (2011): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 11 NO 2 EDISI DESEMBER 2011 Vol 11, No 1 (2011): Edisi Juni 2011 Vol 10, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil Fakultas Teknik Untan Volume 10 No 2 Des - 2010 Vol 10, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil Fakultas Teknik Untan Volume 10 No 1 Juni - 2010 Vol 9, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil Fakultas Teknik Untan Volume 9 No 2 Des - 2009 Vol 9, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil Fakultas Teknik Untan Volume 9 No 1 Juni - 2009 Vol 8, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil Fakultas Teknik Untan Volume 8 No 1 Juni - 2008 More Issue