Cermin Dunia Kedokteran
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala"
:
11 Documents
clear
Antivirus untuk Influenza
Nitiyoso, Nugroho
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1288.71 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i4.200
Influenza adalah salah satu penyakit infeksi saluran napas yang paling sering, menyebabkan 3 sampai 5 juta kasus berat dan 250.000 sampai 500.000 kematian setiap tahun (WHO). Vaksinasi influenza dapat mengurangi risiko influenza, sebaiknya dilakukan secara rutin setiap tahun. Pengobatan influenza biasanya simptomatik, suplementasi, dan istirahat. Ada beberapa obat antivirus untuk influenza, seperti: oseltamivir, zanamivir, amantadine, dan rimantadine. Di Indonesia, antivirus untuk influenza relatif kurang dikenal karena distribusinya sepenuhnya dikendalikan oleh Departemen Kesehatan. Tenaga kesehatan seyogyanya lebih mengenal profil farmakodinamik dan farmakokinetik obat-obat antivirus ini.
Herpes Zoster Lumbalis Sinistra pada Pasien Terinfeksi HIV
Hastuti, Rini;
Ulya, Imroatul;
Mustifah, Etty Farida;
Risman, Muhammad;
Dharmawan, Nugrohoaji
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (221.005 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i4.667
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Diketahui ada hubungan antara infeksi HIV dengan berbagai manifestasi penyakit kulit. Herpes zoster merupakan penyakit kulit yang disebabkan reaktivasi dan multiplikasi virus varicella zoster yang menetap pada ganglia sensoris setelah varicella. Kasus Laki-laki usia 32 tahun dengan gelembung bergerombol berisi air dengan dasar kulit eritem disertai nyeri pada betis sampai punggung kaki kiri sejak 3 hari. Pasien terinfeksi HIV sejak 7 bulan. Didapatkan lesi vesikel herpetiformis di atas dasar eritem sesuai dermatom Lumbal 5 (L5) sinistra. Tes Tzank menunjukkan adanya sel raksasa berinti banyak. Jumlah sel CD4 212/μL.Human Immunodeficiency Virus (HIV) may suppress the immune system. There is a relationship between HIV infection with various skin manifestations. Herpes zoster is caused by reactivation and multiplication of varicella zoster virus in sensory ganglia after varicella. Case : A 32 year-old male with painful, clustered vesicle on erythematous base along left calf to foot since 3 days. He was diagnosed HIV positive 7 months ago. Physical examination showed herpetiform vesicles on erythematous base in left Lumbal 5 (L5) dermatome. Tzank test showed the presence of multinucleated giant cells. CD4 cell count is 212/μL.
Faktor-Faktor Penyebab Pengembalian Berkas Resume Medis IGD RSCM oleh Verifikator BPJS Kesehatan
Habib, Hadiki;
Mulyana, Radi Muharris;
Albar, Imamul Aziz;
Sulistio, Septo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (578.818 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i4.198
Pendahuluan: Sejak dijalankan tahun 2014, program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terus mengalami perbaikan. Penyebab klaim tidak dapat diproses perlu dianalisis, diidentifikasi, dan diperbaiki, oleh karena itu perlu didentifikasi. Penelitian dilaksanakan di RSCM bulan Januari sampai November 2017, atas data rekam medis, berupa resume medis, hasil koding, dan rincian biaya. Dari 855 resume medis yang gagal verifikasi, diambil sampel 270 berkas secara acak. Sebanyak 215 (79,6%) resume medis dapat dibaca dengan baik, sehingga memudahkan proses telaah. Sebanyak 206 (76,3%) resume medis lengkap. Hampir separuh (49%) kasus tidak gawat darurat. Dari resume medis yang memang melaporkan pengelolaan kasus gawat darurat, hanya 58% diagnosis yang menggambarkan kegawatdaruratan. Masih ada 22,6% koding yang tidak sesuai dengan diagnosis yang tertulis di resume medis.
Perbandingan Glasgow Coma Scale dan Gambaran Midline-Shift CT-Scan Kepala sebagai Prediktor Mortalitas Pasien Cedera Kepala
Tito, Albert;
Saragih, Sonny G.R.
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (140.08 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i4.197
Pendahuluan: Cedera kepala merupakan satu penyebab utama kematian dan disabilitas di dunia terutama pada usia produktif. Prediksi awal keluaran pasien cedera kepala yang akurat penting untuk menentukan keputusan klinis, alokasi rasional sumber daya dan konseling keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan Glasgow Coma Scale (GCS) dengan Midline-Shift (MLS) sebagai prediktor mortalitas pasien cedera kepala. Metode: Penelitian analitik potong-lintang pada 43 pasien. Data GCS dan status pasien saat masuk IGD diambil dari rekam medis RSUD Dr Abdul Aziz Kota Singkawang dan data MLS diketahui melalui hasil CT-Scan di RS Santo Vincentius Kota Singkawang. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman dan dilakukan perbandingan antara GCS dan MLS terhadap status keluar pasien. Hasil: Nilai GCS memiliki hubungan moderat terhadap status keluar pasien (IK 95%; p = 0,018; r = 0,361). MLS memiliki hubungan kuat terhadap status keluar pasien (IK 95%; p = 0,000; r = 0,531). Makin rendah nilai GCS dan makin tinggi nilai MLS, makin banyak status keluar meninggal. Simpulan: MLS memiliki korelasi lebih kuat sebagai prediktor mortalitas daripada GCS pada pasien cedera kepala.
Pemeriksaan Radiologi untuk Deteksi Kanker Ovarium
Putri Suastari, Ni Made
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1330.608 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i4.669
Kanker ovarium merupakan kanker ginekologi terbanyak kedua di dunia. Terdapat beberapa faktor risiko kanker ovarium, namun penyebab pastinya belum diketahui. Kombinasi berbagai modalitas pemeriksaan radiologi seperti USG, CT-scan, PET-scan, dan MRI dapat digunakan untuk deteksi dini yang akan meningkatkan harapan hidup penderita.Ovarian cancer is the second most frequent gynecology cancer in the world. Several risk factors are associated with ovarian cancer, but the exact cause is still unknown. Combination of various medical imaging modalities such as USG, CT-scan, PET-scan, and MRI can be utilized for early detection that can improve survival.
Pengaruh Stres Psikologis terhadap Kadar Testosteron Saliva Anak Masa Pubertas
Bagus Prastyo, Dimas;
Deliana, Melda;
Mayasari Lubis, Siska;
Sugih Arto, Karina
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i4.665
Pubertas merupakan tahap penting proses tumbuh kembang anak yang merupakan sebuah proses biologis kompleks perkembangan maturasi seksual. Proses tersebut dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan, salah satunya stres. Kondisi stres akan mengganggu sistem reproduksi. Penelitian menemukan bahwa kadar testosteron dipengaruhi oleh stres. Pengukuran kadar testosteron melalui saliva tidak invasif dan hasilnya serupa dengan kadar testosteron bebas dalam serum. Pengukuran kadar testosteron saliva dapat menggambarkan pengaruh stres terhadap aksis HPG pada anak masa pubertas.Puberty is an important stage in the child's development; it is a complex biological process of sexual maturation. The process is influenced by genetic and environmental factors, like stress. Stress conditions can disrupt the reproductive system. Studies found that testosterone levels are affected by stress. Measurement of testosterone levels through saliva is not invasive and correlate with serum free testosterone levels. Salivary testosterone levels can potrays the effect of stress on the HPG axis during puberty.
Telomerase Inhibitor: Promising Target Therapy for Cancer
Kusuma, Diana;
Aliya, Izza;
Putra, Andre;
Sutopo, Mediana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (839.94 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i4.670
The key to selectively targeting cancer cells is to exploit some basic differences with their normal precursors. One such difference is the activity of the enzyme telomerase. Some studies targeted telomerase and telomeres in order to block limitless replicative potential of cancer cells, providing a fascinating strategy for a broad-spectrum cancer therapy. Telomerase based therapies could be well tolerated and perhaps with minimal side effect on telomerase-competent stem cells.Kunci pengobatan selektif sel kanker adalah dengan memanfaatkan beberapa perbedaan mendasar antara prekursor sel kanker dengan sel normal tubuh. Salah satu perbedaannya adalah aktivitas enzim telomerase. Beberapa penelitian sudah menargetkan telomerase dan telomer sebagai target terapeutik untuk memblokir potensi replikasi sel kanker yang tak terbatas, sebagai strategi terapi kanker spektrum luas. Terapi berbasis telomerase ini dapat ditoleransi dengan baik dan memiliki efek samping minimal pada telomerase sel normal tubuh lainnya.
Peranan Sel Punca dalam Penyembuhan Luka
-, Santi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1206.793 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i4.681
Penyembuhan luka yang optimal melibatkan berbagai proses biologi dan molekuler berupa migrasi sel, proliferasi, deposisi matriks ekstraseluler, dan remodelling. Berbagai pendekatan penelitian berbasis sel dapat membantu penggunaan sel punca (stem cells) untuk mempercepat proses penyembuhan luka. Tinjauan ini mengenai tipe sel punca yang dapat digunakan untuk penyembuhan luka meskipun penggunaan klinisnya masih terbatas.Optimal wound healing involves various biological and molecular processes. Adult stem cells can promote more effective wound therapy. Choosing the appropriate stem cells through in vivo study is important. Further studies is needed for the identification of appropriate adult stem cells, protocols, and building the bioscaffold for optimal wound healing in the future.
Perbandingan Tingkat Pencapaian Target Tekanan Darah oleh Lisinopril dan Valsartan pada Pasien Stroke Iskemik dengan Faktor Risiko Hipertensi
Susanti, Susi;
Pinzon, Rizaldy Taslim
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (110.942 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i4.199
Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko terpenting pada stroke iskemik. Terapi antihipertensi bertujuan mencegah kekambuhan stroke. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan tingkat pencapaian tekanan darah antara lisinopril dan valsartan pada pasien stroke iskemik dengan faktor risiko hipertensi di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Jenis penelitian adalah penelitian observasional analitik kohort retrospektif. Data dianalisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-square atau uji Fisher. Data 108 pasien hipertensi pasca-stroke iskemik terdiri dari kelompok yang diberi valsartan 81 pasien dan lisinopril 27 pasien. Target tekanan darah yang tercapai pada kelompok valsartan adalah 40 orang (49,4%) dan lisinopril 15 orang (50,9%), tidak berbeda bermakna (p value >0,05). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan dalam mencapai target tekanan darah antara lisinopril dan valsartan pada pasien stroke iskemik dengan faktor risiko hipertensi di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.
Sindrom Stevens-Johnson Diduga Akibat Fenitoin
Stephanie, Aurelia;
Susilowati, Eny
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (163.59 KB)
|
DOI: 10.55175/cdk.v45i4.666
Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) merupakan bagian dari nekrolisis epidermis (NE) yaitu sindrom reaksi mukokutan akut yang ditandai dengan nekrosis dan pengelupasan epidermis yang luas. Diaporkan seorang perempuan, usia 21 tahun, datang ke UGD rumah sakit dengan keluhan demam dan timbul ruam-ruam merah yang kemudian berisi air sejak 3 hari. Setelah konsumsi fenitoin, timbul bercak merah disertai gatal di daerah paha, tungkai dan punggung. Dua hari kemudian bercak merah tersebut mulai berisi cairan berdinding kendur dan menyebar ke seluruh tubuh. Pada hari ke-9 perawatan, pasien mengalami perbaikan klinis dan boleh pulang.Stevens-Johnson Syndrome (SJS) is a type of epidermal necrolysis (NE) , a syndrome of acute mucocutaneus reaction recognized by widespread necrosis and epidermal lysis. A case of 21 year-old female, presented in emergency with fever and reddish rash followed by vesicles since 3 days. After phenytoin consumption, reddish spots with urticaria were observed in thigh, legs and back. Two days later, they were followed with vesicles spreading to whole body. Clinical improvement was observed after 9 days, and the patient was discharged.