cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
jabespasaribu031@gmail.com
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Editorial Address
Gedung House of Glory Lt.3-4, Jl. Ahmad Yani, Eden Park; Kel. Taman Baloi, Kec. Batam Kota, Kotamadaya Batam, Kepulauan Riau.
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : -
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani dengan ciri Pentakostal-Kharismatika, dengan nomor ISSN: 2685-3485 (online), ISSN: 2685-3515 (print), dikelola dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi REAL, Batam, Kepulauan Riau. Focus dan Scope penelitian DIEGESIS adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru); Teologi Sistematika; Teologi Pastoral; Misiologi; Isu-isu Pentakostal-Kharismatika. DIEGESIS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari semua institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 105 Documents
Kasih, Damai, dan Keadilan sebagai Dasar Etika Demonstrasi dalam Perspektif Kristen Estheria Kurnia; Yanto Paulus Hermanto
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/dvq3ks02

Abstract

The phenomenon of demonstrations within the modern socio-political landscape places Christians in an ethical dilemma between the call to pursue justice and the commitment to uphold love and peace. Using a qualitative approach through literature study and contextual theological reflection, this research examines how Christian ethics can serve as a normative framework for Christian participation in public protests. The findings demonstrate that demonstrations carried out with pure motives, integrity of faith, and non-violent principles are consistent with the values of the Gospel. Furthermore, this study offers a theological reinterpretation that the concept of love cannot be reduced to passive, gentle, or conflict-avoiding attitudes, but may also be expressed through prophetic actions such as firm protest, sharp critique, and bold speech aimed at upholding truth and defending human dignity. In this sense, love functions as a moral force that does not generate chaos but awakens public moral consciousness, restrains injustice, and promotes more humane social transformation. Thus, this study expands the discourse of public theology by asserting that love, peace, and justice constitute the ethical foundation that guides Christians in maintaining the integrity of their faith within the public sphere. Keywords: ethics of demonstration; Christian ethics; integrity of faith; love and peace; public awareness Abstrak Fenomena demonstrasi dalam konteks sosial-politik modern menempatkan orang Kristen pada dilema etis antara panggilan memperjuangkan keadilan dan komitmen terhadap kasih serta damai. Penelitian ini, melalui pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dan refleksi teologi kontekstual, menelaah bagaimana etika Kristen dapat menjadi kerangka normatif bagi partisipasi umat dalam aksi demonstrasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa demonstrasi yang dilakukan dengan motivasi murni, integritas iman, dan prinsip non-kekerasan selaras dengan nilai-nilai Injil. Lebih jauh, penelitian ini menawarkan reinterpretasi teologis bahwa konsep kasih tidak dapat direduksi pada sikap pasif, lembut, atau menghindari konflik, tetapi dapat terwujud dalam ekspresi profetis seperti protes tegas, kritik tajam, dan suara lantang yang bertujuan menegakkan kebenaran serta membela martabat manusia. Dalam pengertian ini, kasih berfungsi sebagai energi moral yang bukan menciptakan kekacauan, tetapi membangkitkan kesadaran publik, menahan laju ketidakadilan, dan mendorong perubahan sosial yang lebih manusiawi. Dengan demikian, penelitian ini memperluas diskursus teologi publik dengan menegaskan bahwa kasih, damai, dan keadilan merupakan fondasi etika demonstrasi yang membimbing orang Kristen menjaga integritas iman di ruang publik. Kata kunci: etika berdemostrasi; etika Kristen; integritas iman; kasih dan perdamaian; kesadaran publik
Spirit-Led Formation: Pentecostal Pneumatology and Children’s Spirituality in the Digital Era Didimus Sutanto B. Prasetya; Johnly Mewengkang; Gunawan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/bd3fte71

Abstract

This study explores how Pentecostal pneumatology provides a theological foundation for shaping children’s spirituality in the digital era. The research addresses the problem of spiritual superficiality among Generation Alpha, which grows up in a technology-saturated environment that both connects and distracts. Using a qualitative theological approach that integrates hermeneutic and grounded theory methods, this study analyzes biblical texts (Acts 2; Joel 2) and recent scholarly findings in Pentecostal and Christian education. The results show that the Holy Spirit continues to work powerfully in digital contexts, forming children as active participants in God’s redemptive mission. A Spirit-led transformative framework is proposed, encompassing experiential, relational, cognitive, ethical, and missional dimensions that guide Christian education and family discipleship. The study concludes that technology can serve as a sacred medium for faith formation when it is directed by the Holy Spirit and supported by a Spirit-centered pedagogy. Keywords: Christian education; digital culture; Pentecostal pneumatology; spiritual formation; spirituality of children Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pneumatologi Pentakosta memberikan dasar teologis untuk pembentukan spiritualitas anak di era digital. Permasalahan utama yang diangkat adalah meningkatnya kecenderungan superfisialitas iman di kalangan Generasi Alfa yang tumbuh dalam budaya digital yang sarat dengan konektivitas, namun sering kali miskin kedalaman rohani. Penelitian ini menggunakan pendekatan teologi kualitatif dengan metode hermeneutik dan grounded theory, yang menggabungkan kajian eksegesis terhadap teks biblika (Kisah Para Rasul 2 dan Yoel 2) dengan analisis kepustakaan atas penelitian-penelitian terkini dalam bidang teologi Pentakosta dan pendidikan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Roh Kudus tetap berkarya secara aktif dalam konteks digital, membentuk anak-anak sebagai peserta yang berdaya rohani dalam misi penebusan Allah. Melalui kerangka Spirit-Led Transformative Formation, ditemukan bahwa pembentukan spiritualitas anak dapat dikembangkan melalui lima dimensi, yaitu pengalaman, relasional, kognitif, etis, dan misioner. Dengan demikian, teknologi tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi iman, tetapi dapat menjadi media kudus untuk pendidikan rohani apabila diarahkan oleh bimbingan Roh Kudus serta didukung oleh pendekatan pedagogis yang berpusat pada karya-Nya. Kata kunci: budaya digital; formasi rohani; pendidikan Kristen; pneumatologi Pentakosta; spiritualitas anak
Maria Pasca Kematian Yusuf dan Tanggung Jawab Filial Yesus: Analisis Naratif Yohanes 19:25-27 Roy Haries Ifraldo Tambun
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/agy9gt67

Abstract

This study examines John 19:25–27 as a manifestation of Jesus' filial responsibility toward Mary who was a widow after Joseph's death. Through a narrative analysis of the four Gospels, this study shows that Mary was most likely a widow before Jesus began His public ministry. This conclusion is supported by six cumulative biblical indicators: the disappearance of the figure of Joseph from the Gospel narrative after Luke 2, the mention of Jesus as the "son of Mary" in Mark 6:3 which is unusual in Jewish patriarchal culture, the beginning of Jesus' ministry at the age of about thirty, Joseph's absence from the Canaanite wedding and throughout Jesus' ministry, Joseph's absence in the trial and crucifixion narratives,  and Jesus' actions on the cross entrusting Mary to her beloved disciples. The expressions "Mother, this is your son" and "This is your mother" are understood not to be mere practical arrangements, but to relational declarations that form new filial bonds and affirm the concept of the spiritual family. This research enriches the biblical understanding of widowhood in the context of first-century Judaism and provides a theological basis for the development of a sensitive, inclusive, and communal-oriented pastoral ministry of the church toward widows. Keywords: churches and widows; Joseph's death; Mary as widow; Jesus and Mary; John 19:25-27 Abstrak Penelitian ini mengkaji Yohanes 19:25–27 sebagai manifestasi tanggung jawab filial Yesus terhadap Maria yang berstatus janda setelah kematian Yusuf. Melalui analisis naratif terhadap keempat Injil, studi ini menunjukkan bahwa Maria kemungkinan besar telah menjadi janda sebelum Yesus memulai pelayanan publik-Nya. Kesimpulan ini didukung oleh enam indikator alkitabiah yang bersifat kumulatif: hilangnya figur Yusuf dari narasi Injil setelah Lukas 2, penyebutan Yesus sebagai “anak Maria” dalam Markus 6:3 yang tidak lazim dalam budaya patriarkal Yahudi, dimulainya pelayanan Yesus pada usia sekitar tiga puluh tahun, ketidakhadiran Yusuf dalam peristiwa pernikahan Kana dan sepanjang pelayanan Yesus, ketiadaan Yusuf dalam narasi pengadilan dan penyaliban, serta tindakan Yesus di kayu salib yang mempercayakan Maria kepada murid yang dikasihi. Ungkapan “Ibu, inilah anakmu” dan “Inilah ibumu” dipahami bukan sekadar pengaturan praktis, melainkan deklarasi relasional yang membentuk ikatan filial baru dan menegaskan konsep keluarga rohani. Penelitian ini memperkaya pemahaman biblika mengenai status janda dalam konteks Yahudi abad pertama dan menyediakan dasar teologis bagi pengembangan pelayanan pastoral gereja yang sensitif, inklusif, dan berorientasi pada tanggung jawab komunal terhadap para janda. Kata Kunci: gereja dan janda; kematian Yusuf; Maria sebagai janda; Yesus dan Maria; Yohanes 19:25-27
Labor, Capital, and Production in a Globalized World: A Reappraisal through Miroslav Volf's Theology of Work Edi Purwanto; Frans H. M. Silalahi
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/fg70kn40

Abstract

This article offers a theological and ethical reappraisal of labor, capital, and production within the context of globalized economic systems through Miroslav Volf’s theology of work. Rather than treating labor merely as an economic input, the study interprets work as participation in God’s creative and redemptive activity through the empowering presence of the Holy Spirit. Employing a qualitative normative-theological approach, the article examines biblical teachings on work, justice, stewardship, and communal responsibility in dialogue with Volf’s concept of work in the Spirit. The study argues that globalization intensifies ethical distortions when labor is reduced to a commodity, capital is detached from moral accountability, and production is governed primarily by profit maximization. In response, Volf’s theology offers a constructive framework for understanding work as the expression of Spirit-given charisms that participate in God’s ongoing work of creation and new creation, capital as an instrument for human flourishing and responsible stewardship, and production as a moral practice oriented toward justice, solidarity, and the common good. The article concludes that churches, Christian professionals, and faith-based institutions should cultivate marketplace ministry, ethical entrepreneurship, and labor advocacy as concrete expressions of Spirit-empowered economic discipleship in contemporary society. Abstrak Artikel ini menawarkan telaah teologis dan etis terhadap relasi antara tenaga kerja, modal, dan produksi dalam konteks sistem ekonomi global melalui perspektif teologi kerja Miroslav Volf. Berbeda dari pendekatan ekonomi yang memandang tenaga kerja semata-mata sebagai faktor produksi, penelitian ini memahami kerja sebagai partisipasi manusia dalam karya penciptaan dan penebusan Allah melalui pemberdayaan Roh Kudus. Dengan menggunakan metode kualitatif normatif-teologis, penelitian ini mengkaji ajaran-ajaran Alkitab mengenai kerja, keadilan, penatalayanan, dan tanggung jawab komunal dalam dialog dengan konsep work in the Spirit yang dikembangkan oleh Volf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa globalisasi memperdalam berbagai distorsi etis ketika tenaga kerja direduksi menjadi komoditas, modal dilepaskan dari tanggung jawab moral, dan produksi didominasi oleh orientasi maksimalisasi keuntungan. Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, teologi Volf menawarkan suatu kerangka konstruktif yang memahami kerja sebagai perwujudan karunia-karunia Roh Kudus (Spirit-given charisms) yang memungkinkan manusia berpartisipasi dalam karya Allah yang terus berlangsung menuju penciptaan baru, memandang modal sebagai sarana bagi kesejahteraan manusia dan penatalayanan yang bertanggung jawab, serta menempatkan produksi sebagai praktik moral yang berorientasi pada keadilan, solidaritas, dan kesejahteraan bersama (common good). Penelitian ini menyimpulkan bahwa gereja, para profesional Kristen, dan berbagai institusi berbasis iman perlu mengembangkan pelayanan di marketplace, kewirausahaan yang beretika, serta advokasi bagi pekerja sebagai wujud nyata pemuridan ekonomi yang diberdayakan oleh Roh Kudus di tengah masyarakat kontemporer.
A Hermeneutical-Theological Analysis of the Nephilim in Genesis 6:4: A Pentecostal Systematic Theology Approach Rachmat Tony SinjoBantaeng; Candra Gunawan Marisi
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/e1m70j56

Abstract

The Nephilim have long been a controversial topic in biblical theology and can give rise to conflict due to differing interpretations across various denominations, which in turn can weaken the unity of the body of Christ. One interpretation holds that the Nephilim were giants resulting from relations between human and spiritual beings, while another view argues that the Nephilim were simply large humans with no connection to spiritual entities. The question is whether Pentecostal believers, as part of the body of Christ, can respond more wisely to the existing differences in interpretation and discover alternative interpretations by using qualitative research methods, literature review, and exposition of biblical texts through a hermeneutical-theological study with a Pentecostal systematic approach? This study is limited to understand the Nephilim according to what is written in the canonical Indonesian Bible (Terjemahan Baru by Lembaga Alkitab Indonesia TB-LAI), without relying on conclusions drawn from apocryphal writings. The urgency of this research lies in its effort to offer a Pentecostal systematic approach to Nephilim theology, highlighting the root cause of humanity’s fall as rebellion against God and the restoration of the church through the work of the Holy Spirit, who guides and leads the new men to live as sons of God. The results of this study demonstrate that the Bible, under the guidance of the Holy Spirit, is capable of providing answers to the theology of the Nephilim and adequately explaining the identity of the sons of God in a way that supports the growth of Pentecostal believers’ faith in the dynamics of the modern era. Abstrak Nevilim telah lama menjadi topik yang kontroversial dalam teologi biblika dan dapat menimbulkan pertentangan karena perbedaan penafsiran dari berbagai denominasi, yang ujungnya dapat melemahkan persatuan kesatuan tubuh Kristus. Ada penafsiran mengatakan Nevilim adalah makhluk raksasa dikarenakan hubungan antara anak-anak manusia dengan makhluk roh, dan ada juga penafsiran bahwa Nevilim hanyalah anak-anak manusia berbadan raksasa yang tidak ada hubungannya dengan makhluk roh. Pertanyaannya apakah insan Pentakosta yang adalah bagian dari tubuh Kristus dapat menyikapi perbedaan penafsiran yang ada dengan lebih bijak dan menemukan penafsiran alternatif dengan menggunakan metode penelitian kualitatif tinjauan pustaka dan eksposisi teks-teks Alkitab melalui kajian hermeneutis-teologis dengan pendekatan sistematika Pentakosta? Penelitian ini dibatasi pada pemahaman Nevilim menurut Alkitab kanon standar Terjemahan Baru yang diterbitkan Lembaga Alkitab Indonesia (TB-LAI), tanpa perlu bergantung pada hasil akhir dari tulisan-tulisan apokrifa. Urgensi penelitian ini terletak pada upaya menawarkan respons pendekatan Sistematika Pentakosta terhadap teologi Nevilim yang menyoroti akar penyebab kejatuhan manusia sebagai pemberontakan manusia terhadap Allah dan pemulihan gereja melalui karya Roh Kudus yang membimbing, memimpin manusia baru untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa Alkitab dengan tuntunan Roh Kudus mampu memberikan jawaban akan teologi Nevilim dan menjelaskan predikat anak-anak Allah secara memadai untuk mendukung pertumbuhan iman umat Pentakosta dalam dinamika zaman modern ini.
Preserving Creation in Times of Conflict: A Biblical Response to Deforestation and Environmental Degradation in Nigeria’s War Zones Emmanuel Olurokan Olowoyeye; Kolade Samuel Oluwasegun; Caleb Abiodun Adeleye
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/ynq41107

Abstract

Nigeria's conflict-affected regions, particularly the Northeast, Middle Belt, and Niger Delta, have experienced severe deforestation driven by insurgency, displacement, military operations, and resource extraction. These dynamics have deepened food insecurity, accelerated biodiversity loss, and produced long-term ecological degradation across communities already burdened by violence. While environmental scholarship has documented these impacts with growing urgency, theological and eco-theological studies have insufficiently engaged the question of how biblical war legislation conceptualizes limits to environmental destruction in conflict settings. This study addresses that gap by revisiting Deuteronomy 20:19–20, examining how this ancient legal text articulates constraints on ecological harm within the context of warfare and how its ethical logic may be critically, rather than prescriptively, related to contemporary conflict-induced deforestation in Nigeria. The study employs an integrated methodological framework combining historical-critical, literary, and eco-theological approaches, further deepened by just war theory, political theology, and postcolonial critique. Findings reveal that Deuteronomy 20:19–20 functions primarily as a legal constraint on totalizing destruction, reflecting an internal tension between military necessity and resource preservation rather than a fully developed ecological ethic. Its significance for contemporary discourse lies not in direct normative transfer but in its capacity to illuminate enduring tensions between violence, governance, and environmental limitation. The study therefore reframes the passage as a dialogical resource for critical theological reflection, one that invites engagement with the moral boundaries of warfare and the sacred responsibility toward creation, without assuming direct continuity between ancient and modern contexts. Abstrak Wilayah-wilayah Nigeria yang dilanda konflik, khususnya Timur Laut, Sabuk Tengah, dan Delta Niger, telah mengalami deforestasi parah akibat pemberontakan, perpindahan penduduk, operasi militer, dan eksploitasi sumber daya alam. Dinamika-dinamika ini telah memperparah ketidakamanan pangan, mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati, dan menghasilkan degradasi ekologis jangka panjang di tengah komunitas yang sudah terbebani oleh kekerasan. Meskipun kajian lingkungan hidup telah mendokumentasikan dampak-dampak tersebut dengan urgensi yang semakin meningkat, studi teologis dan eko-teologis belum cukup mengkaji pertanyaan tentang bagaimana perundang-undangan perang dalam Alkitab mengonseptualisasikan batasan terhadap kerusakan lingkungan dalam situasi konflik. Penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut dengan mengkaji ulang Ulangan 20:19–20, menelaah bagaimana teks hukum kuno ini mengartikulasikan pembatasan terhadap kerusakan ekologis dalam konteks peperangan dan bagaimana logika etisnya dapat dikaitkan secara kritis, bukan preskriptif, dengan deforestasi akibat konflik kontemporer di Nigeria. Penelitian ini menggunakan kerangka metodologis terpadu yang menggabungkan pendekatan historis-kritis, sastra, dan eko-teologis, yang diperdalam lebih lanjut oleh teori perang yang adil, teologi politik, dan kritik poskolonial. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa Ulangan 20:19–20 berfungsi terutama sebagai pembatas hukum terhadap pemusnahan total, mencerminkan ketegangan internal antara keniscayaan militer dan pelestarian sumber daya, ketimbang sebagai etika ekologis yang sepenuhnya berkembang. Signifikansinya bagi wacana kontemporer terletak bukan pada transfer normatif secara langsung, melainkan pada kemampuannya menerangi ketegangan abadi antara kekerasan, tata kelola, dan pembatasan lingkungan. Penelitian ini karenanya merumuskan ulang perikop tersebut sebagai sumber dialogis untuk refleksi teologis kritis, yang mengundang keterlibatan dengan batas-batas moral peperangan dan tanggung jawab sakral terhadap ciptaan, tanpa mengandaikan kesinambungan langsung antara konteks kuno dan modern.
Rethinking Discrimination in Christian Fellowship: Theological Implications of James 2:1–13 for Gen Z Claudia Angelina; Joko Priyono
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/9bdc9n16

Abstract

This article examines the theological implications of discrimination in Christian fellowship through an exegetical reading of James 2:1–13 in relation to the Gen Z community. Using a qualitative approach grounded in historical-critical exegesis and theological literature analysis, this study argues that James’s prohibition of partiality is not merely a moral warning against social inequality, but a theological critique of communal practices that contradict faith in Jesus Christ, the royal law of love, and the community’s accountability before divine judgment. The analysis shows that the rich-poor contrast in James 2:1–13 functions as a concrete case through which the text exposes a broader ecclesial disorder, namely the tendency to assign differential worth according to outward status and visibility. In dialogue with practical-theological studies on Gen Z, the article further argues that the passage remains highly relevant in a context where younger generations evaluate Christian communities through justice, authenticity, participation, and belonging. This study contributes an integrative theological framework that connects biblical exegesis, discrimination in Christian fellowship, and the practical-theological horizon of Gen Z, while proposing James 2:1–13 as a normative resource for evaluating ecclesial belonging in contemporary church life. Abstrak Artikel ini mengkaji implikasi teologis diskriminasi dalam persekutuan Kristen melalui pembacaan eksegetis Yakobus 2:1–13 dalam kaitannya dengan komunitas Generasi Z. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang berlandaskan eksegesis historis-kritis dan analisis literatur teologis, kajian ini berargumen bahwa larangan Yakobus terhadap keberpihakan bukan sekadar peringatan moral terhadap ketimpangan sosial, melainkan kritik teologis terhadap praktik komunal yang bertentangan dengan iman kepada Yesus Kristus, hukum kerajaan tentang kasih, dan pertanggungjawaban komunitas di hadapan penghakiman ilahi. Analisis ini menunjukkan bahwa kontras kaya-miskin dalam Yakobus 2:1–13 berfungsi sebagai kasus konkret yang melaluinya teks tersebut menyingkapkan kekacauan eklesial yang lebih luas, yakni kecenderungan untuk menetapkan nilai yang berbeda berdasarkan status dan penampilan lahiriah. Dalam dialog dengan kajian teologi praktis tentang Generasi Z, artikel ini selanjutnya berargumen bahwa perikop tersebut tetap sangat relevan dalam konteks ketika generasi muda menilai komunitas Kristen melalui keadilan, autentisitas, partisipasi, dan rasa keberterimaan. Kajian ini menyumbangkan kerangka teologis integratif yang menghubungkan eksegesis biblika, diskriminasi dalam persekutuan Kristen, dan horizon teologis-praktis Generasi Z, sekaligus mengusulkan Yakobus 2:1–13 sebagai sumber normatif untuk mengevaluasi keberterimaan eklesial dalam kehidupan gereja masa kini.
Beyond Stewardship: Toward a Batak Toba Eco-Theology of Friendship and Relational Ontology Roy Charly HP Sipahutar; Welko Henro Marpaung; Fredy Simanjuntak
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/8t41w342

Abstract

The ecological crisis in the Batak lands, manifested in flooding, landslides, pollution of Lake Toba, and forest degradation, reflects a crisis of relationship between humanity, nature, and God rooted in an anthropocentric paradigm. Although global ecotheology has critiqued this paradigm through the concept of stewardship, such an approach is considered to retain hierarchical relational structures. This article aims to formulate a Batak Toba ecotheology of friendship as a post-stewardship relational ontology by positioning local cosmology as a locus theologicus. This study employs a qualitative-theological approach using Stephen B. Bevans’s anthropological model of contextual theology, based on a literature review and critical analysis of the dialogue between the ecological crisis, Batak Toba cosmology, and Christian theological reflection. The findings indicate that the human-nature relationship in Batak Toba cosmology is genealogical and communal, whereby ecological responsibility is understood as fidelity to cosmic kinship. This paradigm offers a transformative spiritual-ethical framework for the church in responding to ecological crises in a contextual and sustainable manner. Abstrak Krisis ekologis di Tanah Batak, yang tampak dalam banjir, longsor, pencemaran Danau Toba, dan degradasi hutan, mencerminkan krisis relasi antara manusia, alam, dan Allah yang berakar pada paradigma antroposentris. Meskipun ekoteologi global telah mengkritiknya melalui konsep stewardship, pendekatan ini dinilai masih menyisakan struktur relasional yang hierarkis. Artikel ini bertujuan merumuskan ekoteologi persahabatan Batak Toba sebagai ontologi relasional pasca-stewardship dengan menjadikan kosmologi lokal sebagai locus theologicus. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-teologis melalui metode teologi kontekstual model Antropologi Stephen B. Bevans, berbasis studi pustaka dan analisis kritis atas dialog antara krisis ekologis, kosmologi Batak Toba, dan refleksi teologis Kristen. Melalui dekonstruksi teks-teks kultural, kajian ini mengonstruksi ulang relasi manusia-alam dalam kosmologi Batak Toba yang bersifat genealogis dan komunal menjadi sebuah etika kesetiaan kosmik. Kebaruan yang ditemukan adalah konseptualisasi hubungan non-hierarkis di mana alam bertindak sebagai subjek mitra, yang menawarkan kerangka spiritual-etis bagi gereja dalam merespons krisis ekologis secara kontekstual dan berkelanjutan.
Indonesian Societas Verbi Divini (SVD) Missionaries in the Netherlands Fransiska Widyawati
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/5j1rav70

Abstract

This article examines the deployment of Indonesian Societas Verbi Divini (SVD) missionaries to the Netherlands as a structured expression of "reverse mission," situating this contemporary phenomenon within a historical relationship spanning over a century. Based on fieldwork conducted in 2025, including semi-structured interviews with six Indonesian SVD priests currently serving in the Netherlands and participant observation in Dutch parishes, this study identifies 83 Indonesian missionaries active throughout the country, with the SVD emerging as the most numerically prominent male congregation. The article further argues that the current movement of Indonesian SVD missionaries to the Netherlands is not a spontaneous response to modern clerical shortages, but rather the latest chapter in a reciprocal relationship that began when Dutch SVD missionaries arrived in Indonesia in 1914. This reverse mission embodies a living theology of reciprocity, wherein the fruits of past evangelization return to revitalize an increasingly secularized Church. These findings contribute to the field of missiology by highlighting structured religious orders, rather than diaspora communities, as the primary institutional vehicles for reverse mission, and by demonstrating that historical missionary ties fundamentally shape contemporary currents of reverse mission. Abstrak Artikel ini mengkaji penempatan misionaris Societas Verbi Divini (SVD) Indonesia ke Belanda sebagai ekspresi terstruktur dari misi balik, menempatkan fenomena kontemporer ini dalam hubungan historis yang berlangsung lebih dari satu abad. Berdasarkan penelitian lapangan yang dilakukan pada tahun 2025, termasuk wawancara semi-terstruktur dengan enam imam SVD Indonesia yang saat ini melayani di Belanda dan observasi partisipan di paroki-paroki Belanda, studi ini mengidentifikasi 83 misionaris Indonesia yang aktif di seluruh negeri, dengan SVD sebagai kongregasi pria yang paling menonjol secara numerik. Artikel ini selanjutnya menyatakan bahwa pergerakan misionaris SVD Indonesia ke Belanda saat ini bukanlah respons spontan terhadap kekurangan pendeta modern, tetapi merupakan babak terbaru dari hubungan timbal balik yang dimulai ketika misionaris SVD Belanda tiba di Indonesia pada tahun 1914. Misi balik ini mewujudkan teologi timbal balik yang hidup di mana buah dari penginjilan masa lalu kembali untuk memperbarui Gereja yang semakin sekuler. Temuan ini berkontribusi pada kajian misiologi dengan menyoroti ordo keagamaan yang terstruktur, alih-alih komunitas diaspora, sebagai wahana kelembagaan utama misi balik, dan dengan menunjukkan bahwa ikatan misionaris historis secara mendasar membentuk arus misi balik kontemporer.
He Must Increase: An Exegetical Study of John 3:30 and Its Implications for Christian Educational Leadership Noh Ibrahim Boiliu
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/xjt4p241

Abstract

Modern theological discourse and popular culture frequently generate various speculations concerning the identity of Jesus that do not always align with the theological witness of Scripture. Certain historical approaches tend to portray Jesus merely as a human figure within the context of first-century Judaism, thereby obscuring the Church’s confession of His divinity and messianic identity. In this context, the testimony of John the Baptist in John 3:30, “He must increase, but I must decrease,” serves as a significant text affirming the supremacy of Christ. Although this verse has been widely examined from Christological and spiritual perspectives, there remains a limited number of studies that specifically explore John 3:30 as a theological foundation for a leadership paradigm in Christian education. This gap in the literature constitutes the primary focus of the present study. The purpose of this research is to examine the theological meaning of John 3:30 through exegetical analysis and to formulate its implications for a Christ-centered model of leadership in Christian education. The novelty of this study lies in its effort to position John 3:30 as a paradigmatic foundation for Christian educational leadership oriented toward the supremacy of Christ, a perspective that has received limited attention in both theological and Christian educational scholarship. This research employs a library research method using an exegetical-theological approach. Data were collected through an analysis of the Greek text of John 3:30, an examination of the narrative context of John 3:22–36, and a critical review of relevant biblical, theological, and Christian leadership literature. The findings reveal that John 3:30 constitutes a theological confession of Christ’s supremacy within God’s plan of salvation. The Greek expression ekeinon dei auxanein, eme de elattousthai conveys a divine necessity whereby the glory and authority of Christ must increasingly be manifested, while the role of John the Baptist diminishes as part of the mission entrusted to him. Within the narrative framework of the Gospel of John, John the Baptist appears as a witness who directs attention to Christ as the center of God’s revelation. His testimony reflects a model of leadership characterized by humility, self-emptying, and an orientation toward the glory of Christ. This study contributes to the development of Christian educational leadership theory by affirming that authentic leadership authority is realized through a disposition that centers the entire educational process on Christ as the source, goal, and transformative center of learners. Abstrak Diskursus teologi modern dan budaya populer sering menghadirkan berbagai spekulasi mengenai identitas Yesus yang tidak selalu sejalan dengan kesaksian teologis Alkitab. Pendekatan historis tertentu kerap menempatkan Yesus hanya sebagai tokoh manusiawi dalam konteks sejarah Yudaisme abad pertama sehingga mengaburkan pengakuan iman gereja mengenai keilahian dan kemesiasan-Nya. Dalam konteks tersebut, kesaksian Yohanes Pembaptis dalam Yohanes 3:30, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil,” menjadi teks penting yang menegaskan supremasi Kristus. Meskipun ayat ini telah banyak dikaji dalam perspektif kristologi dan spiritualitas, masih terdapat keterbatasan kajian yang secara khusus menelaah Yohanes 3:30 sebagai landasan teologis bagi paradigma kepemimpinan dalam pendidikan Kristen. Kekosongan literatur inilah yang menjadi fokus penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah makna teologis Yohanes 3:30 melalui analisis eksegetis serta merumuskan implikasinya bagi konsep kepemimpinan yang berpusat pada Kristus dalam pendidikan Kristen. Kebaruan penelitian ini terletak pada upayanya menempatkan Yohanes 3:30 sebagai dasar paradigmatik kepemimpinan pendidikan Kristen yang berorientasi pada supremasi Kristus, suatu perspektif yang belum banyak dieksplorasi dalam literatur teologi maupun pendidikan Kristen. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan eksegetis-teologis. Data diperoleh melalui analisis teks Yunani Yohanes 3:30, penelaahan konteks naratif Yohanes 3:22–36, serta kajian kritis terhadap literatur teologi biblika dan kepemimpinan Kristen yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yohanes 3:30 merupakan pengakuan teologis tentang supremasi Kristus dalam rencana keselamatan Allah. Ungkapan Yunani ekeinon dei auxanein, eme de elattousthai menunjukkan suatu keharusan ilahi bahwa kemuliaan dan otoritas Kristus harus semakin dinyatakan, sementara peran Yohanes Pembaptis semakin berkurang sebagai bagian dari misi yang dipercayakan kepadanya. Dalam konteks naratif Injil Yohanes, Yohanes Pembaptis tampil sebagai saksi yang mengarahkan perhatian kepada Kristus sebagai pusat wahyu Allah. Kesaksiannya mencerminkan model kepemimpinan yang ditandai oleh kerendahan hati, pengosongan diri, dan orientasi pada kemuliaan Kristus. Temuan penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori kepemimpinan pendidikan Kristen dengan menegaskan bahwa otoritas kepemimpinan sejati diwujudkan melalui sikap yang memusatkan seluruh proses pendidikan pada Kristus sebagai sumber, tujuan, dan pusat transformasi peserta didik. 

Page 10 of 11 | Total Record : 105