cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
jabespasaribu031@gmail.com
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Editorial Address
Gedung House of Glory Lt.3-4, Jl. Ahmad Yani, Eden Park; Kel. Taman Baloi, Kec. Batam Kota, Kotamadaya Batam, Kepulauan Riau.
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : -
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani dengan ciri Pentakostal-Kharismatika, dengan nomor ISSN: 2685-3485 (online), ISSN: 2685-3515 (print), dikelola dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi REAL, Batam, Kepulauan Riau. Focus dan Scope penelitian DIEGESIS adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru); Teologi Sistematika; Teologi Pastoral; Misiologi; Isu-isu Pentakostal-Kharismatika. DIEGESIS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari semua institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 105 Documents
Hakikat Kemiskinan Menurut Montfort Dan Relevansinya Bagi Kehidupan Umat Katolik Di Indonesia Yakobus Syukur; Antonius Denny Firmanto
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.523

Abstract

This research aims to explore the nature of poverty according to Montfort and its relevance to the lives of Catholic communities in Indonesia. Poverty is often associated with living in discomfort, injustice, unhappiness, a life of scarcity, and a lack of material wealth to meet one's needs. This common paradigm needs to be examined more deeply using the surgical tool of the nature or spirituality of poverty according to Montfort. The research employs a literature review methodology. The study reveals that Montfort's spirituality of poverty highlights the ability to fulfill responsibilities and live responsibly, especially by engaging with others and paying attention to the needs of many, particularly those who are poor and marginalized. The use of material wealth is emphasized not for worldly pleasures but as a necessary means to support life. The relevance of Montfort's teachings in the context of how Catholics in Indonesia experience their religious life can be seen in three essential attitudes. Firstly, poverty is considered a means to attain holiness. Secondly, poverty is viewed as an effort in service and solidarity. Thirdly, poverty is seen as a means to guide the community towards the virtues of spiritual life. Keywords: God; Catholic church; poverty; humanit; MontfortAbstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hakikat kemiskinan menurut Montfort dan relevansinya bagi kehidupan umat Katolik Indonesia. Kemiskinan kerapkali diidentikkan dengan hidup dalam ketidakadilan, ketidakbahagiaan, hidup yang serba kekurangan, serta hidup yang tidak berharta (hartanya tidak mencukupi kebutuhannya). Paradigma umum ini perlu dikaji lebih dalam dengan menggunakan pisau bedah hakikat atau spiritualitas kemiskinan menurut Montfort. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan. Kajian ini menemukan bahwa spiritualitas kemiskinan menurut Montfort menunjukkan kesanggupan untuk menjalankan tugas dan hidup secara bertanggung jawab, terlebih terpanggil untuk terlibat dalam hidup dengan orang lain serta menaruh perhatian kepada kebutuhan banyak orang, khususnya bagi mereka yang miskin dan terlantar serta dalam penggunaan harta benda bukan untuk menjadi kesenangan duniawi melainkan diperlukan untuk menunjang hidup. Relevansi ajaran Montfort dalam konteks bagaimana umat Katolik di Indonesia menghayati kehidupan agamanya dapat dilihat dalam tiga sikap penting. Pertama, kemiskinan merupakan sarana menuju kekudusan. Kedua, kemiskinan adalah upaya pelayanan dan solidaritas. Ketiga, kemiskinan adalah sarana untuk menghantar umat kepada keutamaan hidup rohani.Kata Kunci: Allah; gereja katolik; kemiskinan; manusia; Montfort
Koreksi Paulus terhadap Spiritualitas Eskapis dalam 1 Korintus 15 Rynaldi Mahardika Situmeang
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/s3b4ha30

Abstract

This article examines Paul’s correction of escapist spirituality in 1 Corinthians 15 by situating the doctrine of resurrection within the historical, cultural, and theological context of the Corinthian community. Influenced by Greek dualism, some believers rejected bodily resurrection and reinterpreted salvation as a purely spiritual reality detached from the body and history. Through an apologetic argument, Paul affirms the resurrection of Christ as a historical and eschatological event that constitutes the foundation of Christian faith and the guarantee of believers’ resurrection. The concept of soma pneumatikon underscores that resurrection does not abolish the body but entails an ontological transformation under the power of the Spirit. Within the framework of inaugurated eschatology, resurrection is presented as a reality already initiated in Christ while awaiting its final consummation. Consequently, resurrection functions as a theological correction to escapist, individualistic, and ahistorical forms of spirituality. Keywords: 1 Corinthians 15; new creation; Pauline eschatology; resurrection of the body; escapist spirituality Abstrak Artikel ini memperlihatkan koreksi Paulus terhadap spiritualitas eskapis dalam 1 Korintus 15 dengan menempatkan ajaran kebangkitan dalam konteks historis, kultural, dan teologis jemaat Korintus. Dipengaruhi oleh dualisme filsafat Yunani, sebagian jemaat menolak kebangkitan tubuh dan mereduksi keselamatan menjadi pengalaman rohani yang terlepas dari tubuh dan sejarah. Melalui argumentasi yang bersifat apologetik, Paulus menegaskan kebangkitan Kristus sebagai peristiwa historis dan eskatologis yang menjadi dasar iman Kristen serta jaminan kebangkitan orang percaya. Konsep soma pneumatikon menunjukkan bahwa kebangkitan bukan penghapusan tubuh, melainkan transformasi ontologis tubuh di bawah kuasa Roh. Dalam kerangka inaugurated eschatology, kebangkitan dipahami sebagai realitas yang telah dimulai di dalam Kristus sekaligus menantikan penggenapan akhir. Dengan demikian, kebangkitan berfungsi sebagai koreksi teologis terhadap spiritualitas yang eskapis, individualistik, dan a-historis. Kata kunci: 1 Korintus 15; ciptaan baru; eskatologi Paulus; kebangkitan tubuh; spiritualitas eskapis
Demokrasi Politik dalam Perspektif Pentakostalisme dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Berdemokrasi di Indonesia Yosua Feliciano Camerling
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 1: Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/0f5dh628

Abstract

This paper aims to analyze the concept of political democracy in the perspective of Pentecostalism and its application to democratic life in Indonesia. To answer the main problem of this research, the author uses a qualitative research method with data collection techniques through literature studies, namely books, journals and various articles both in print media and online media that are related to the topic of political democracy in the perspective of Pentecostalism and its essence towards democratic life in Indonesia. The results of this study indicate that although the Bible is not explained literally, democratic values are still discussed in it. This means that Christians, including Pentecostals, need to realize the importance of their understanding of political democracy in Indonesia. The impact on democratic life in Indonesia is that Pentecostals should provide support for political democracy, as well as take part in community activities and be actively involved in social services. Thus, the church can carry out its function as an extension of God's hand in the world by creating peace and social justice. Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis konsep demokrasi politik dalam perspektif pentakostalisme dan implikasinya terhadap kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Untuk menjawab pokok masalah penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kajian kepustakaan yaitu buku-buku, jurnal-jurnal serta berbagai artikel baik di media cetak maupun di media online yang memiliki kaitan dengan topik demokrasi politik dalam perspektif pentakostalisme dan implikasinya terhadap kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa walaupun tidak secara harfiah dijelaskan dalam Alkitab, namun nilai-nilai demokrasi tetap dibahas di dalamnya. Hal itu berarti umat Kristen termasuk kaum Pentakostalisme, perlu menyadari peranan mereka dalam bersikap terhadap demokrasi politik di Indonesia. Adapun implikasinya terhadap kehidupan berdemokrasi di Indonesia ialah kaum Pentakostalisme patut memberi dukungan kepada demokrasi politik, turut mengambil bagian dalam kegiatan kemasyarakatan dan terlibat aktif dalam pelayanan sosial. Dengan demikian, gereja dapat menjalankan fungsinya sebagai perpanjangan tangan Tuhan di dunia dengan menciptakan kedamaian dan keadilan sosial.
Kepemimpinan Transformasional di Era Postmodern: Strategi Meningkatkan Keterlibatan Spiritualitas Pemuda Gereja Karismatik Yudhy Sanjaya; Victor Angsono Huatama; Ronald Sianipar
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 1: Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/fsx9bh97

Abstract

This study examines the influence of Transformational Leadership on the spiritual engagement of young people in charismatic churches. The background of this study is based on the need for charismatic churches to increase the engagement of young people which has tended to decline in recent years. Transformational Leadership, which emphasizes inspiration, emotional attachment, and individual development, is believed to be able to create strong bonds that support sustainable spiritual engagement. The formulation of the research problem focuses on how Transformational Leadership can influence the engagement of young people, the strategies adopted by charismatic churches to achieve this engagement, and the challenges that arise in its implementation. This study uses a descriptive qualitative method with a literature study approach that includes journals and academic books in the last five years. A literature review was conducted to understand the relevant trends, strategies, and dynamics related to transformational leadership styles in the church. The results of the study indicate that Transformational Leadership is able to increase the engagement of young people through an inspirational approach and supporting programs such as mentoring and social service activities. The main challenges faced are adaptation to technology and the values of the younger generation. In conclusion, Transformational Leadership plays a significant role in building spiritual attachment in charismatic churches and needs to be adapted innovatively to remain relevant to the younger generation. Abstrak Penelitian ini mengkaji pengaruh Kepemimpinan transformasional terhadap keterlibatan spiritual generasi muda di gereja-gereja karismatik. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kebutuhan gereja karismatik untuk meningkatkan keterlibatan generasi muda yang cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Kepemimpinan transformational, yang menekankan inspirasi, keterikatan emosional, dan pengembangan individu, diyakini mampu menciptakan ikatan kuat yang mendukung keterlibatan spiritual berkelanjutan. Rumusan masalah penelitian ini berfokus pada bagaimana Kepemimpinan transformasionaldapat memengaruhi keterlibatan generasi muda, strategi yang diadopsi gereja karismatik untuk mencapai keterlibatan ini, dan tantangan yang muncul dalam implementasinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur yang mencakup jurnal dan buku akademik lima tahun terakhir. Tinjauan literatur dilakukan untuk memahami tren, strategi, dan dinamika yang relevan terkait gaya kepemimpinan transformasional di gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepemimpinan transformasional mampu meningkatkan keterlibatan generasi muda melalui pendekatan inspiratif dan program-program pendukung seperti mentoring dan kegiatan pelayanan sosial. Tantangan utama yang dihadapi adalah adaptasi terhadap teknologi dan nilai-nilai generasi muda. Kesimpulannya, kepemimpinan transformasional berperan signifikan dalam membangun keterikatan spiritual di gereja karismatik dan perlu diadaptasi secara inovatif agar tetap relevan bagi generasi muda.
BERAGAMA YANG DISRUPTIF DI ERA POST-TRUTH: Klausa “Yaitu di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus”isi Doktrinal Pantekostalisme di Indonesia Dipanggungkan Aktor Digital Media Sosial Elia Tambunan; Haqqul Yaqin
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 1: Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/ee4e7x29

Abstract

This paper explores the clause “Namely in the Name of the Lord Jesus Christ” within the context of the meaning disruptions that occur in the post-truth era, particularly as influenced by social media. Historically rooted in the practice of immersion baptism within the Pantecostalism tradition since the Dutch East Indies era, this clause has undergone shifts in perception and has even been stigmatized as deviant teaching by various digital actors in today’s public sphere. Using a qualitative approach that combines digital ethnography and content analysis, this study investigates the representation, interpretation, and rejection of the clause across various digital platforms. The findings indicate that social media has transformed into a theatrical arena where digital figures renegotiate theological meanings through personal expressions of faith intertwined with viral public opinion. This research contributes to academic discussions on post-truth Indonesia’s Pantecostalism in the religious landscape shaped by social media. It highlights how the transformation of Indonesian Pantecostal theology is influenced by subjectivity, emotion, and the dynamics of viral digital information-oftenly by cyberbullying they ignore historical foundations, sociological data, and biblical truths. These findings emphasize the urgency for the church to critically engage with digital developments as a new arena for shaping understandings of faith. Abstrak Tulisan ini mengkaji klausa “Yaitu di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus” dalam konteks disrupsi makna yang terjadi di era post-truth melalui media sosial. Klausa yang historisitasnya berakar dari praktik sakramen baptisan selam dalam tradisi Pantekostalisme sejak era Hindia Belanda ini mengalami pergeseran persepsi, bahkan stigmatisasi sebagai ajaran menyimpang oleh sejumlah aktor digital di ruang publik kontemporer. Dengan pendekatan kualitatif melalui gabungan digital ethnography dan content analysis, penelitian ini menelusuri representasi, interpretasi, serta penolakan terhadap klausa tersebut dalam konten digital di sejumlah platform. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi arena teaterikal di mana figur-figur digital menegosiasikan ulang makna teologis melalui ekspresi iman personal yang terjalin dengan opini publik yang viral. Studi ini menawarkan kontribusi kebaruan dalam isi kajian akademik, yakni Pantekostalisme di Indonesia era post-truth beragama di media sosial yang disumbangkan setelah mengkaji doktrin gereja dengan menyoroti bagaimana transformasi makna teologi Pantekosta Indonesia dapat terbentuk oleh subjektivitas, emosi, dan dinamika viralitas informasi digital-sering kali dengan cyberbullying justru mengabaikan fondasi historis, data sosiologis, dan kebenaran biblika. Temuan ini memperlihatkan urgensi bagi gereja untuk merespons secara kritis perkembangan digital sebagai medan baru pembentukan pemahaman iman.
INTERSEKSI HERMENEUTIK RICOEUR DENGAN HERMENEUTIK PENTAKOSTAL Valentino Wariki
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 1: Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/27t3yr84

Abstract

This article explores Pentecostal hermeneutics as a distinctive Pentecostal approach to interpreting Scripture and actualizing it in the practice of life. In ecumenical life, how do Pentecostals combine Pentecostal hermeneutics as a hermeneutic method that is parallel to other theological products? By bringing together Paul Ricoeur's views on linguistic symbols and narratives, Pentecostal hermeneutics rejects the overly dominant historical-critical methodology. The results show that Pentecostal hermeneutics offers a dynamic and relevant reading model for the context of contemporary communities. The emphasis of Pentecostal hermeneutics is on the literalization of the text and the implementation of narrative criticism. Narrative criticism becomes a hermeneutical tool that is able to reach the features that are on the surface of the text and unite them in the vortex of interpretation. Pentecostal hermeneutics becomes an alternative for a simpler reading that can offer substantive and unsubstituted meaning from the context of its narrative. Abstrak Artikel ini mengeksplorasi hermeneutik Pentakostal sebagai pendekatan khas Pentakostal dalam menafsirkan Kitab Suci dan mengaktualisasikannya pada praktik kehidupan. Dalam kehidupan ekumenikal, bagaimana Pentakostal mempresentasikan hermeneutik Pentakostal sebagai suatu metode hermeneutik yang sejajar dengan produk teologis lainnya? Dengan mempertemukan pandangan Paul Ricoeur mengenai simbol-simbol linguistik dan narasi, hermeneutik Pentakostal menolak metodologi historis-kritis yang terlampau dominan. Hasilnya memperlihatkan bahwa hermeneutik Pentakostal menawarkan model pembacaan yang dinamis dan relevan dengan konteks komunitas kontemporer. Penekanan hermeneutik Pentakostal ada pada literalisasi teks dan implementasi kritik naratif. Kritik naratif menjadi alat hermeneutis yang mampu menjangkau fitur-fitur yang berada di permukaan teks dan menyatukannya dalam pusaran tafsir. Hermeneutik Pentakostal menjadi alternatif guna pembacaan yang lebih sederhana yang dapat menawarkan makna yang substantif dan tidak tersubtitusi dari konteks narasinya.
Ketundukan kepada Pemimpin dalam Ketegangan Iman dan Keadilan: Studi Biblika dan Etika Publik Kristen Masa Kini Harapan Nainggolan; Jhon Remofe Malau; Yosua Michael Nainggolan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 1: Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/c7frr094

Abstract

The controversy over submission to leaders, both in the realm of the church and secular government, is a serious issue that demands in-depth theological and ethical studies. This study offers a critical approach through a qualitative study with a literature review method to examine historically, biblically, and socially how the legitimacy of leadership is understood and practiced, especially when the leader is repressive or corrupt. The results of the study show that the Bible emphasizes obedience to the government as part of the call of faith, but this obedience is not absolute, but must go hand in hand with ethical awareness and prophetic courage to reject injustice. The urgency of this study lies in true submission must be rooted in justice, moral integrity, and commitment to the values ??of the Kingdom of God, so that the church is a critical partner in building a just and dignified social order. Abstrak Kontroversi ketundukan kepada pemimpin, baik dalam ranah gerejawi maupun pemerintahan sekuler, menjadi persoalan serius yang menuntut kajian teologis dan etis yang mendalam. Penelitian ini menawarkan pendekatan kritis melalui studi kualitatif dengan metode tinjauan pustaka untuk menelaah secara historis, biblika dan sosial bagaimana legitimasi kepemimpinan dipahami serta dipraktikkan, khususnya ketika pemimpin bersifat represif atau koruptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Alkitab menekankan ketaatan kepada pemerintah sebagai bagian dari panggilan iman, namun ketaatan tersebut tidak bersifat mutlak, melainkan harus berjalan beriringan dengan kesadaran etis dan keberanian profetik untuk menolak ketidakadilan. Urgensitas dari penelitian ini terletak pada ketundukan yang benar harus berakar pada keadilan, integritas moral, dan komitmen pada nilai-nilai Kerajaan Allah, sehingga gereja sebagai mitra kritis dalam membangun tatanan sosial yang adil dan bermartabat.
Law Enforcement and Social Conflict Detection: A Study of Jürgen Moltmann’s Public Theology in the Indonesian Context Hendy Tan; Iman Kristina Halawa
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/x9zv8v53

Abstract

Social conflict in Indonesia is no longer merely incidental but rather systemic and recurrent, rooted in structural inequality, social exclusion, and weak institutional capacity to detect potential conflicts at an early stage. Under these conditions, law enforcementwhich remains legally formalistic and reactivehas not yet been optimized as a mechanism for the early detection of social conflict. Although various studies have examined the relationship between law and conflict, existing approaches tend to be partial and have not been able to integrate legal, moral, and social dimensions simultaneously. This study aims to analyze the limitations of law enforcement in the early detection of social conflict and to reconstruct its function through the perspective of Jürgen Moltmann’s public theology, specifically the concept of the Theology of Hope. This study employs a qualitative approach with a normative-conceptual design within a socio-legal framework through systematic literature review. The findings indicate that the limitations of law enforcement lie in the dominance of a reactive paradigm, a weak orientation toward substantive justice, and the absence of mechanisms sensitive to structural injustice. This study offers an integrative model that positions law as a preventive, responsive, and transformative instrument in the prevention of social conflict, while also providing a theoretical contribution to the development of public theology in the Indonesian context. Abstrak Konflik sosial di Indonesia tidak lagi sekadar bersifat insidental, melainkan sistemik dan berulang, yang berakar pada ketimpangan struktural, eksklusi sosial, dan lemahnya kapasitas institusional dalam mendeteksi potensi konflik sejak dini. Dalam kondisi ini, penegakan hukum yang masih berorientasi legal-formal dan reaktif belum mampu dioptimalkan sebagai mekanisme deteksi dini konflik sosial. Meskipun berbagai studi telah mengkaji hubungan antara hukum dan konflik, pendekatan yang ada cenderung parsial dan belum mampu mengintegrasikan dimensi hukum, moral, dan sosial secara simultan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterbatasan penegakan hukum dalam deteksi dini konflik sosial serta merekonstruksi fungsinya melalui perspektif teologi publik Jürgen Moltmann, khususnya konsep Theology of Hope. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain normatif-konseptual dalam kerangka socio-legal melalui studi pustaka sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan penegakan hukum terletak pada dominasi paradigma reaktif, lemahnya orientasi pada keadilan substantif, serta absennya mekanisme yang sensitif terhadap ketidakadilan struktural. Penelitian ini menawarkan model integratif yang menempatkan hukum sebagai instrumen preventif, responsif, dan transformatif dalam pencegahan konflik sosial, sekaligus memberikan kontribusi teoritis bagi pengembangan teologi publik dalam konteks Indonesia.
The Tension between Divine Sovereignty and Human Agency in Pentecostal Theology: Miracles, Healing, and the ‘Word of Faith’ Movement Upa Silaen; Ibiang O. Okoi; Foret Nicholson
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/pv6qz253

Abstract

Pentecostal theology has long emphasized the dynamic interplay between divine sovereignty and human agency, particularly in the realms of miracles, healing, and faith. However, the rise of the Word of Faith movement with its teachings on “claiming” blessings through faith has intensified theological and pastoral tensions within Pentecostalism. This study examines the biblical, historical, and theological foundations of Pentecostal views on healing, contrasting classical Pentecostal perspectives with the more controversial Word of Faith approach. It further analyzes how this core tension manifests in the gendered dynamics of global healing ministries, where women’s Spirit-empowered authority often exists in paradoxical tension with institutional patriarchy. While early Pentecostals like William Seymour and Charles Parham viewed healing as a sovereign act of God, albeit responsive to faith, later figures such as Kenneth Hagin and Kenneth Copeland framed faith as an almost mechanistic force that obligates divine intervention. The paper explores key biblical passages (e.g., Mark 5:34, James 5:14-16, and 2 Corinthians 12:7-10) to assess whether the Word of Faith movement aligns with Scripture or risks reducing God’s power to human manipulation. It also engages critiques from Pentecostal scholars (e.g., Gordon Fee, Amos Yong) who warn against the movement’s potential for spiritual abuse, particularly in its tendency to blame believers for unanswered prayers. The study further analyzes pastoral implications, including theodicy concerns when healing does not occur, the ethical pitfalls of prosperity-centered preaching, and the need for an ecclesial practice that affirms the Spirit’s sovereign distribution of healing gifts across gender lines. Ultimately, the paper argues for a balanced Pentecostal theology that upholds both God’s sovereignty and human responsibility, one that makes theological space for the full exercise of charismatic gifts by all believers, thereby avoiding the extremes of passive fatalism and presumptive “faith formulas.” By reclaiming the early Pentecostal emphasis on the Spirit’s unpredictability and the biblical theology of suffering, and by confronting its own gendered paradoxes, contemporary Pentecostalism can navigate these tensions with greater theological integrity and pastoral sensitivity. Keywords: divine healing; divine sovereignty; pentecostal theology; word of faith movement Abstrak Teologi Pentakosta sejak lama menekankan keterkaitan dinamis antara kedaulatan ilahi dan agensi manusia, khususnya dalam ranah mujizat, kesembuhan, dan iman. Namun, kemunculan gerakan Word of Faith dengan ajarannya tentang “mengklaim” berkat melalui iman telah memperuncing ketegangan teologis dan pastoral di dalam Pentakostalisme. Studi ini menelaah dasar biblika, historis, dan teologis dari pandangan Pentakosta tentang kesembuhan, dengan membandingkan perspektif Pentakosta klasik dan pendekatan Word of Faith yang lebih kontroversial. Studi ini juga menganalisis bagaimana ketegangan mendasar tersebut termanifestasi dalam dinamika pelayanan kesembuhan di berbagai konteks global yang bercorak gender, di mana otoritas perempuan yang diberi kuasa oleh Roh seringkali berada dalam ketegangan paradoksal dengan struktur patriarki institusional. Sementara para Pentakosta awal seperti William Seymour dan Charles Parham memandang kesembuhan sebagai tindakan kedaulatan Allah, meskipun tanggap terhadap iman, tokoh-tokoh kemudian seperti Kenneth Hagin dan Kenneth Copeland membingkai iman sebagai suatu kekuatan yang hampir mekanistik yang mewajibkan intervensi ilahi. Artikel ini mengeksplorasi bagian-bagian Alkitab kunci (misalnya Markus 5:34; Yakobus 5:14–16; dan 2 Korintus 12:7–10) untuk menilai apakah gerakan Word of Faith sejalan dengan Kitab Suci atau justru berisiko mereduksi kuasa Allah menjadi manipulasi manusia. Tulisan ini juga berinteraksi dengan kritik para sarjana Pentakosta (misalnya Gordon Fee, Amos Yong) yang memperingatkan potensi penyalahgunaan rohani dalam gerakan tersebut, khususnya kecenderungannya menyalahkan orang percaya atas doa yang tidak dijawab. Studi ini selanjutnya menganalisis implikasi pastoral, termasuk persoalan teodise ketika kesembuhan tidak terjadi, jebakan etis dari pengkhotbahan yang berpusat pada kemakmuran, serta kebutuhan akan praktik gerejawi yang menegaskan distribusi kedaulatan karunia kesembuhan oleh Roh melintasi batas-batas gender. Akhirnya, artikel ini berargumen bagi suatu teologi Pentakosta yang seimbang yang menegakkan baik kedaulatan Allah maupun tanggung jawab manusia yang memberi ruang teologis bagi pelaksanaan penuh karunia-karunia karismatik oleh semua orang percaya, sehingga menghindari ekstrem pasif fatalistik maupun “rumus iman” yang presumtif. Dengan memulihkan penekanan Pentakosta awal pada ketidak-terdugaan Roh dan teologi penderitaan yang alkitabiah, serta dengan menghadapi paradoks gendernya sendiri, Pentakostalisme kontemporer dapat menavigasi ketegangan ini dengan integritas teologis dan kepekaan pastoral yang lebih besar. Kata kunci: kesembuhan ilahi; kedaulatan ilahi; teologi Pentakosta; gerakan Word of Faith
Peirasmos and Dokimion in the New Testament: Contextual-Theological Analysis and Contemporary Implications Wennar; Djone Georges Nicolas; Peter Oyugi
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 8 No. 2: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/k917qv76

Abstract

This study investigates the Koine Greek terms peirasmos (temptation) and dokimion (testing) in the New Testament to clarify the widespread confusion among contemporary Christians regarding the origins, purposes, and theological significance of trials. Employing a qualitative method grounded in textual analysis, linguistic study, and hermeneutics, this research examines the etymology, distribution, and contextual use of both terms across selected New Testament passages. The study reveals that peirasmos frequently denotes a challenge that intends to weaken or disrupt faith, whereas dokimion refers to a refining test designed to strengthen and validate spiritual character. Nevertheless, the findings also show that peirasmos, when responded to in faith, can function as a means through which dokimion takes place, producing endurance and spiritual maturity. In light of contemporary challenges such as materialism, moral relativism, digital pressure, and identity fragmentation, this study demonstrates the relevance of these biblical concepts for shaping Christian responses to modern ethical and spiritual struggles. By integrating linguistic, historical, and contextual-theological analysis, this research provides a framework for understanding how believers can transform temptation into opportunities for growth and spiritual resilience. The study contributes to contextual theology by bridging biblical interpretation with practical implications for Christian life in a rapidly changing world. Keywords: crisis of faith; dokimion and peirasmos; modern era spirituality; spiritual maturity; weak loyalty Abstrak Penelitian ini mengkaji istilah Yunani Koine peirasmos (pencobaan) dan dokimion (ujian) dalam Perjanjian Baru untuk memperjelas kerancuan pemahaman di kalangan umat Kristen masa kini mengenai asal-usul, tujuan, dan signifikansi teologis dari berbagai tantangan iman. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi linguistik, analisis teks, dan pendekatan hermeneutika, penelitian ini menelusuri akar kata, distribusi, serta konteks penggunaan kedua istilah tersebut dalam beberapa bagian Perjanjian Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peirasmos sering merujuk pada tantangan yang bertujuan melemahkan atau menjatuhkan iman, sedangkan dokimion menggambarkan proses pengujian yang dimaksudkan untuk memurnikan dan menguatkan karakter rohani. Temuan juga mengindikasikan bahwa peirasmos, apabila dihadapi dengan iman, dapat menjadi sarana bagi terjadinya dokimion yang menghasilkan ketekunan serta kematangan rohani. Dalam konteks modern seperti materialisme, relativisme moral, tekanan digital, dan krisis identitas, konsep-konsep ini terbukti relevan untuk membentuk respons Kristen terhadap pergumulan etis dan spiritual masa kini. Dengan mengintegrasikan analisis linguistik, historis, dan teologi kontekstual, penelitian ini memberikan kerangka untuk memahami bagaimana orang percaya dapat mengubah pencobaan menjadi kesempatan pertumbuhan rohani. Penelitian ini berkontribusi pada teologi kontekstual dengan menjembatani pemahaman biblika dengan tantangan praktis kehidupan Kristen kontemporer. Kata kunci: dokimion dan peirasmos; kematangan rohani; kesetiaan lemah; krisis iman; spiritual era modern

Page 9 of 11 | Total Record : 105