cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
jabespasaribu031@gmail.com
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Editorial Address
Gedung House of Glory Lt.3-4, Jl. Ahmad Yani, Eden Park; Kel. Taman Baloi, Kec. Batam Kota, Kotamadaya Batam, Kepulauan Riau.
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : -
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani dengan ciri Pentakostal-Kharismatika, dengan nomor ISSN: 2685-3485 (online), ISSN: 2685-3515 (print), dikelola dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi REAL, Batam, Kepulauan Riau. Focus dan Scope penelitian DIEGESIS adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru); Teologi Sistematika; Teologi Pastoral; Misiologi; Isu-isu Pentakostal-Kharismatika. DIEGESIS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari semua institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 105 Documents
From Sacred Entity to Secular Resource: The Transformation of Water Values in an Ecotheological Perspective Nency Aprilia Heydemans; Frieska Putrima Tadung; Valentino Wariki
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/k1mx4363

Abstract

Water holds a significant position not only as an ecological resource but also as a spiritual and sacred symbol within human societies. However, modernization, rationalization, and economic orientation have driven a transformation in the meaning of water, shifting it from a sacred and relational understanding toward a more secular, instrumental, and exploitative perspective. This study aims to analyze the transformation of water meanings in modern society and to examine the role of the church in fostering ecological awareness through an ecotheological perspective. The research employs a qualitative method with a library research approach, analyzing various literature related to the sacredness of water, secularization, ecological crisis, and ecotheological thought. The findings indicate that in traditional societies, water is perceived as part of a spiritual reality maintained through customary values, rituals, and collective ecological practices. However, the rise of a modern paradigm based on instrumental rationality has reduced water to an economic commodity, contributing to environmental degradation, particularly through livestock activities and declining ecological awareness in society. Therefore, the church plays a strategic role as an agent of value transformation, bridging local cultural heritage, scientific knowledge, and theological principles concerning creation care. This role is expressed through faith-based education, strengthening ecological ethics, reinterpreting the sacred value of water, environmental advocacy, and the development of ecotheology-based educational curricula within the church. This awareness emerges from the church’s calling to embody a contextual theological praxis in responding to ecological crises and to affirm that water protection is an integral part of Christian responsibility toward the sustainability of life. Abstrak Air memiliki posisi penting tidak hanya sebagai sumber daya ekologis, tetapi juga sebagai simbol spiritual dan sakral dalam kehidupan masyarakat. Namun, modernisasi, rasionalisasi, dan orientasi ekonomi telah mendorong terjadinya transformasi nilai air dari yang semula dipahami secara sakral dan relasional menjadi semakin sekuler, instrumental, dan eksploitatif. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan makna air dalam masyarakat modern serta mengkaji peran gereja dalam membangun kesadaran ekologis melalui perspektif ekoteologi. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan melalui analisis berbagai literatur mengenai sakralitas air, sekularisasi, krisis ekologis, dan pemikiran ekoteologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam masyarakat tradisional, air dipandang sebagai bagian dari realitas spiritual yang dijaga melalui nilai adat, ritual, dan praktik ekologis kolektif. Akan tetapi, berkembangnya paradigma modern yang berorientasi pada rasionalitas instrumental menyebabkan air direduksi menjadi komoditas ekonomi, sehingga memicu pencemaran lingkungan, terutama akibat aktivitas peternakan dan lemahnya kesadaran ekologis masyarakat. Oleh sebab itu, gereja memiliki peran strategis sebagai agen transformasi nilai yang mampu menjembatani warisan budaya lokal, pengetahuan ilmiah, dan prinsip teologis tentang pemeliharaan ciptaan. Peran tersebut diwujudkan melalui pendidikan iman, penguatan etika ekologis, reinterpretasi nilai sakral air, advokasi lingkungan, dan pengembangan kurikulum pendidikan gerejawi berbasis ekoteologi. Kesadaran ini berangkat dari visi gereja yang dipanggil untuk menghadirkan praksis teologis yang kontekstual dalam merespons krisis ekologis serta membangun kesadaran bahwa menjaga air merupakan bagian integral dari tanggung jawab iman Kristen terhadap keberlanjutan kehidupan.
Privilege or Mandate? Nepo Babies in Biblical Narrative and the Political Reality of Indonesia Obet Nego; Debby Christ Mondolu
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/7d7qfr90

Abstract

This article examines the phenomenon of nepo babies, a term denoting the children of prominent figures who attain power through family connections, in relation to biblical narrative and Indonesia's political realities. Employing a critical qualitative approach combining biblical hermeneutics with critical discourse analysis, the study finds that political dynasties in Indonesia expose a persistent tension between privilege and mandate. Though often defended as legitimate within existing legal and social frameworks, such dynasties frequently erode democracy and deepen social inequality. A parallel pattern emerges in Scripture: hereditary succession alone guarantees neither competence nor faithfulness, as the failures of Eli's sons and Solomon's decline make clear, whereas Joseph and David show that legitimate leadership rests on divine calling and integrity rather than lineage. Drawing on Walter Brueggemann's prophetic imagination, the article argues that the church is called to function as a prophetic community that criticizes unjust power structures and envisions more just political alternatives. It concludes that privilege should be understood as a divine mandate rather than an inherited entitlement, with implications for ecclesial public engagement and a more meritocratic Indonesian politics. AbstrakArtikel ini mengkaji fenomena nepo babies, istilah yang merujuk pada anak dari tokoh berpengaruh yang memperoleh kekuasaan melalui koneksi keluarga, dalam kaitannya dengan narasi Alkitab dan realitas politik Indonesia. Dengan pendekatan kualitatif kritis yang menggabungkan hermeneutika biblika dan analisis wacana kritis, penelitian ini menemukan bahwa dinasti politik di Indonesia memperlihatkan ketegangan yang terus-menerus antara privilese dan mandat. Meski sering dibela sebagai sah dalam kerangka hukum dan sosial yang berlaku, dinasti semacam ini kerap melemahkan demokrasi dan memperlebar ketimpangan sosial. Pola serupa muncul dalam Kitab Suci: suksesi berdasarkan garis keturunan saja tidak menjamin kompetensi maupun kesetiaan, sebagaimana terlihat dari kegagalan anak-anak Eli dan kejatuhan Salomo, sementara Yusuf dan Daud menunjukkan bahwa kepemimpinan yang sah berakar pada panggilan ilahi dan integritas, bukan pada garis keturunan. Dengan mengacu pada imajinasi profetis Walter Brueggemann, artikel ini menegaskan bahwa gereja dipanggil menjadi komunitas profetis yang mengkritik struktur kekuasaan yang tidak adil sekaligus membayangkan tatanan politik alternatif yang lebih adil. Artikel ini menyimpulkan bahwa privilese seharusnya dipahami sebagai mandat ilahi, bukan hak warisan, dengan implikasi bagi keterlibatan publik gereja dan politik Indonesia yang lebih meritokratis.
Orality Hermeneutics in the Gospel of Mark and the Timorese Natoni Tradition: A Comparative Library-Based Study Yanjumseby Yeverson Manafe
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/rewkck28

Abstract

This article examines the dialogue between the oral traditions of the Timorese people and the Gospel of Mark through an oral-based hermeneutical approach, operationalized as a comparative library-based study rather than field ethnography. Primary data consist of the Markan text (Mark 4:1–34 and Mark 8:27–30); secondary data consist of published ethnographic documentation of Timorese oral practices, particularly natoni. Three analytical indicators are used consistently throughout the study: communal memory, speech event, and narrative performativity, synthesized from Walter J. Ong, Werner H. Kelber, James D. G. Dunn, Richard Bauman, Ruth Finnegan, Richard A. Horsley, and Dell Hymes. The analysis shows that both corpora exhibit structurally comparable oral mechanisms (repetition, dialogic address, and performative closure) that sustain memory and shape communal identity, without implying any historical or genealogical connection between them. The article positions its contribution against prior orality scholarship, particularly the volume Performing the Gospel, and argues that its distinct contribution lies in a documentary-comparative model applicable to library-based contextual hermeneutics where field access is constrained. The study concludes with an explicit call for future field-based validation of the proposed model. Abstrak Artikel ini mengkaji dialog antara tradisi lisan masyarakat Timor dan kesaksian Injil Markus melalui pendekatan hermeneutika berbasis orality, yang secara metodologis dioperasionalkan sebagai studi pustaka komparatif, bukan penelitian lapangan (etnografi partisipatoris). Data primer berupa teks Markus (Markus 4:1-34 dan Markus 8:27-30); data sekunder berupa dokumentasi etnografis terpublikasi mengenai praktik tutur masyarakat Timor, khususnya natoni. Penelitian menggunakan tiga indikator analisis secara konsisten di sepanjang naskah, yaitu memori komunal, peristiwa tutur (speech event), dan performativitas narasi, yang disintesiskan dari pemikiran Walter J. Ong, Werner H. Kelber, James D. G. Dunn, Richard Bauman, Ruth Finnegan, Richard A. Horsley, dan Dell Hymes. Analisis menunjukkan bahwa kedua korpus memperlihatkan mekanisme oral yang secara struktural dapat diperbandingkan (repetisi, sapaan dialogis, dan penutup performatif) yang berfungsi memelihara memori dan membentuk identitas komunal, tanpa mengandaikan hubungan historis maupun genealogis di antara keduanya. Artikel ini memosisikan kontribusinya berhadapan dengan kajian oralitas terdahulu, terutama volume Performing the Gospel, dan berargumen bahwa kebaruannya terletak pada model dokumenter-komparatif yang dapat diterapkan dalam hermeneutika kontekstual berbasis pustaka ketika akses lapangan tidak tersedia. Penelitian ini ditutup dengan seruan eksplisit bagi validasi lapangan pada penelitian lanjutan.
Contextual Theological Analysis of Mayo Boyo Practice among the Maybrat Tribe in Jayapura City Yosep Kambu
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/jtp3w371

Abstract

This study examines the tension between the Mayo Boyo (dowry) tradition of the Maybrat community in Jayapura City and Christian theological perspectives, particularly in relation to justice, human dignity, and the sacredness of marriage. It investigates how Mayo Boyo can be interpreted within a Christian theological framework without disregarding its cultural significance. Using a qualitative grounded theory design, the study employs hermeneutic analysis to examine Mayo Boyo as a socio-cultural practice in light of the Gospel. The findings indicate that Mayo Boyo functions as an important relational and symbolic institution that strengthens family and communal ties. However, it may also shift toward economic burden and the commodification of marriage when practiced without critical reflection. The study argues for a pastoral contextual theological approach that reinterprets Mayo Boyo through dialogue with Christian teachings while preserving its constructive cultural values. Such an approach enables cultural continuity while affirming the Christian principles of love, justice, and human dignity. Abstrak Penelitian ini mengkaji ketegangan antara tradisi Mayo Boyo (mas kawin) dalam masyarakat Maybrat di Kota Jayapura dan perspektif teologi Kristen, khususnya yang berkaitan dengan keadilan, martabat manusia, dan kesakralan perkawinan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana praktik Mayo Boyo dapat dimaknai dalam kerangka teologi Kristen tanpa mengabaikan nilai-nilai budaya yang melekat di dalamnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain grounded theory serta analisis hermeneutik terhadap Mayo Boyo sebagai praktik sosial-budaya dalam terang Injil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mayo Boyo memiliki fungsi relasional dan simbolik yang penting dalam memperkuat ikatan keluarga dan komunitas. Namun, praktik ini juga berpotensi bergeser menjadi beban ekonomi dan bentuk komodifikasi perkawinan apabila dijalankan tanpa refleksi yang kritis. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan pendekatan teologi kontekstual pastoral yang menafsirkan kembali Mayo Boyo melalui dialog dengan ajaran Kristen, sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya yang bersifat konstruktif. Pendekatan tersebut memungkinkan tradisi budaya tetap lestari sejalan dengan prinsip kasih, keadilan, dan martabat manusia dalam iman Kristen.
The Economic-Soteriological Dimension of the Doctrine of the Trinity in Pentecostal-Charismatic Perspective: A Biblical-Theological Inquiry Petrus Ng; Nicodemus Welhelem Manuhutu; Gunawan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 9 No. 1: June 2026
Publisher : Institut Kristen Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/gwwk3358

Abstract

This article examines the economic-soteriological dimension of the doctrine of the Trinity from a biblical-theological and Pentecostal-Charismatic perspective. It does not reject the classical ontological formulation of the Trinity, but clarifies how Scripture witnesses to the saving work of the Father, the Son, and the Holy Spirit in the economy of salvation. Using a qualitative biblical-theological method, the study analyzes Genesis 1:1-3, John 1:1-14, and 1 Corinthians 8:4-6 in dialogue with contemporary discussions on the relation between the immanent and economic Trinity. The study shows that Genesis 1:1-3 cautiously opens a theological horizon for the creative work of God’s Spirit without overreading the Old Testament as an explicit Nicene formula. John 1:1-14 presents high Logos Christology oriented toward incarnation and salvation, while 1 Corinthians 8:4-6 frames the Father and Jesus Christ within Christian monotheistic confession, worship, and life. From a Pentecostal-Charismatic perspective, Spirit baptism, testimony, and altar-centered soteriology are understood as lived participation in the triune economy of salvation. The article contributes a moderated synthesis that connects biblical theology, Trinitarian restraint, and Pentecostal spirituality. Abstrak Artikel ini mengkaji dimensi ekonomi-soteriologis doktrin Tritunggal dalam perspektif biblika-teologis dan Pentakostal-Karismatik. Kajian ini tidak menolak formulasi ontologis klasik tentang Tritunggal, tetapi memperjelas bagaimana Kitab Suci menyaksikan karya keselamatan Bapa, Anak, dan Roh Kudus dalam ekonomi keselamatan. Dengan metode kualitatif biblika-teologis, artikel ini menganalisis Kejadian 1:1-3, Yohanes 1:1-14, dan 1 Korintus 8:4-6 dalam dialog dengan diskusi kontemporer tentang hubungan Tritunggal imanen dan Tritunggal ekonomi. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kejadian 1:1-3 membuka cakrawala teologis tentang karya kreatif Roh Allah tanpa membaca Perjanjian Lama secara berlebihan sebagai formula Nicea eksplisit. Yohanes 1:1-14 menampilkan Kristologi Logos yang tinggi dan berorientasi pada inkarnasi serta keselamatan, sedangkan 1 Korintus 8:4-6 menempatkan Bapa dan Yesus Kristus dalam pengakuan monoteistik, ibadah, dan kehidupan Kristen. Dalam perspektif Pentakostal-Karismatik, baptisan Roh, kesaksian, dan soteriologi altar dipahami sebagai partisipasi hidup dalam ekonomi keselamatan Allah Tritunggal. Artikel ini berkontribusi melalui sintesis moderat antara teologi biblika, kehati-hatian Trinitarian, dan spiritualitas Pentakostal.

Page 11 of 11 | Total Record : 105