cover
Contact Name
Jabes Pasaribu
Contact Email
jabespasaribu031@gmail.com
Phone
+6285372472039
Journal Mail Official
yunardikzega@sttrealbatam.ac.id
Editorial Address
Gedung House of Glory Lt.3-4, Jl. Ahmad Yani, Eden Park; Kel. Taman Baloi, Kec. Batam Kota, Kotamadaya Batam, Kepulauan Riau.
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika
ISSN : 26853515     EISSN : 26853485     DOI : -
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani dengan ciri Pentakostal-Kharismatika, dengan nomor ISSN: 2685-3485 (online), ISSN: 2685-3515 (print), dikelola dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi REAL, Batam, Kepulauan Riau. Focus dan Scope penelitian DIEGESIS adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru); Teologi Sistematika; Teologi Pastoral; Misiologi; Isu-isu Pentakostal-Kharismatika. DIEGESIS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari semua institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 105 Documents
GERONTEOLOGI PANTEKOSTA: Manusia Lanjut Usia sebagai Subjek Diakonia Sosial Elia Tambunan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 1: Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i1.385

Abstract

Indisputable, by remembering Pantecost, the association formed in the minds of academics is the doctrinal "drama" of the church that is infatuated with the strange manifestations of the Holy Spirit. Not many have considered that there is an academic reason to say, in the capacity possessed by Pentecostals according to their respective zones, they contribute socially to local communities. This paper answers how to humanize humans. With qualitative research by reading Pentecostal literature as a primary source, and interviewing many pastors, it is clear that the empirical data is true that there is Pantecostal gerontheology. Until now, these people are struggling to make adults the subject of social diakonia. Pantecostals represents the church's social responsibility to humans which is rightly seen as one of the social ways the church is present in the public arena so that they live a more dignified life.Keywords: Social Diakonia; Gerontheology; Elders; Pantecost. AbstrakSulit untuk dibantah, dengan hanya mengingat Pantekosta, maka asosiasi yang terbentuk di nalar akademisi ialah “drama” doktrinal gereja yang tergila-gila dengan manifestasi Roh Kudus yang ganjil. Tak banyak yang memperhatikan ada alasan akademis untuk mengatakan, dalam kapasitas yang dimiliki oleh kaum Pantekosta sesuai dengan zona masing-masing, mereka berkontribusi sosial kepada masyarakat lokal. Tulisan ini menjawab bagaimana memanusiakan manusia usia lanjut? Dengan penelitian kualitatif lewat membaca literatur Pantekosta sebagai sumber primer, dan mewancarai sejumlah pendeta terlihat data empiris benar ada geronteologi Pantekosta. Hingga sekarang, kaum ini terus bergulat untuk menjadikan orang dewasa sebagai subjek diakonia sosial. Pantekosta merepresentasikan tanggung jawab sosial gereja kepada manusia yang tepat dilihat sebagai salah satu cara sosial menggereja hadir di arena publik agar mereka hidup lebih bermartabat.Kata kunci: Diakonia Sosial; Geronteologi; Manula; Pantekosta.
Analisa Narasi Yehovah Shalom dalam Repetisi Perkataan Tuhan Kepada Gideon Berdasarkan Hakim-Hakim 6:11-24 Andris Kiamani; Aska Pattinaja
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 2: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i2.438

Abstract

Judges 6:11-24 contains the life story of Gideon who was chosen by God to judge Israel. In researching this story, there is a special emphasis given by Gideon in response to God's call, by calling Yehovah Shalom. Many studies discuss the story of Gideon only in the context of its thematic structure in Gideon's encounter with God and ignore the deepening of the narrative meaning of Jehovah Shalom, which correlates with the repetition of God's words to Gideon. For this reason, this article is written based on qualitative research with a literature study in a hermeneutic approach, to analyze the narrative of Jehovah Shalom in the repetition of God's words to Gideon. This article finds that there are five important meanings, namely: First, Gideon believed that only God could save the Israelites from the Midianites; Second, Gideon believed that only God could restore the condition of the Israelites that was destroyed due to the colonization of the Midianites; Third, Gideon believed that only God could bless the Israelites so that they would experience prosperity from every poverty; Fourth, Gideon believed that only God could give peace to the Israelites so that Israel could return to a quiet, safe and peaceful life; and Fifth, Gideon believed that only God could choose and call him and give him the strength to be a judge over Israel.Keywords: judges; gideon; repetition; jehovah shalomAbstrakHakim-Hakim 6:11-24 berisi kisah hidup Gideon yang diplih oleh Tuhan untuk menjadi hakim atas Israel. Dalam meneliti tentang kisah ini, ada penekanan khusus yang diberikan oleh Gideon sebagai respon terhadap panggilan Tuhan, dengan menyebut Yehovah Shalom. Banyak penelitian yang membahas kisah Gideon hanya dalam konteks struktur tematisnya dalam perjumpaan Gideon dengan Tuhan dan mengabaikan pendalaman makna narasi Yehovah Shalom, yang berkorelasi dengan repetisi perkataan Tuhan terhadap Gideon. Untuk itulah artikel ini ditulis berdasarkan, penelitian kualitatif dengan studi literatur dalam pendekatan hermeneutik, untuk menganalisa narasi Yehovah Shalom dalam repetisi perkataan Tuhan kepada Gideon. Artikel ini menemukan, ada lima arti penting, yaitu: pertama, Gideon percaya hanya Tuhan yang sanggup menyelamatkan bangsa Israel dari bangsa Midian; kedua, Gideon percaya hanya Tuhan yang dapat memulihkan kondisi bangsa Israel yang hancur akibat penjajahan bangsa Midian; ketiga, Gideon percaya hanya Tuhan yang dapat memberkati bangsa Israel sehingga mengalami kemakmuran dari setiap kemelaratan; keempat, Gideon percaya hanya Tuhan yang dapat memberikan damai sejahtera atas bangsa Israel sehingga Israel dapat kembali hidup tenang, aman dan damai; dan kelima, Gideon percaya hanya Tuhan yang sanggup memilih dan memanggil dirinya serta memberikan kekuatan untuk dapat menjadi hakim atas Israel.Kata Kunci: hakim-hakim; gideon; repetisi; yehovah shalom
Mendesak Peran Aktif Gereja Merawat Ekosistem Laut: Sebuah Pelajaran Penting Dari Masyarakat Marao Biak Godfried San Ferre; Jois Yohanes Rumansara
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 2: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i2.443

Abstract

The Marao community in Biak Numfor Regency, Papua, faces severe challenges in managing marine ecosystems. The community's lack of knowledge about marine ecosystem management means that human activities in the sea that violate environmental ethics worsen conditions, threatening marine ecosystems and the quality of the coastal environment. This research examines the church's active role in caring for aquatic ecosystems in Marao village, Biak. A qualitative method with a case study approach was used to analyse the church's active role in protecting the marine environment. The results showed that community-based marine resource management involves active community participation in ecosystem protection. In Marao, the community applies the Sasi tradition to regulate the use of natural resources. This practice consists of prohibiting fishing or using destructive fishing gear for a certain period, allowing the marine ecosystem to recover and fish resources to be sustainable. The church plays an active role in introducing environmental ethics to the community, although it has not yet fully integrated the teachings in its programmes. The application of ethical-theological values influences the perception and responsibility of the Marao community in caring for the marine ecosystem, emphasising that nature is the work of God and thus a moral obligation and calling as believers in the God of man in maintaining the balance of the ecosystem.Keywords: active role of the church; marine ecosystem; marao biak communityAbstrakMasyarakat Marao di Kabupaten Biak Numfor, Papua yang menghadapi tantangan serius dalam mengelola ekosistem laut. Pengetahuan masyarakat yang minim tentang pengelolaan ekosistem laut sehingga aktivitas manusia di laut yang melanggar etika lingkungan memperburuk kondisi, mengancam ekosistem laut dan kualitas lingkungan pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran aktif gereja merawat ekosistem laut di kampung Marao, Biak. Metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus digunakan untuk menganalisis peran aktif gereja dalam menjaga lingkungan laut. Hasil penelitian menunjukkan pengelolaan sumber daya laut berbasis masyarakat melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam melindungi ekosistem. Di Marao, masyarakat menerapkan tradisi Sasi untuk mengatur penggunaan sumber daya alam. Praktik ini melibatkan pelarangan penangkapan ikan atau penggunaan alat tangkap merusak selama periode tertentu, memungkinkan ekosistem laut pulih dan sumber daya ikan berkelanjutan. Gereja menjalankan peran secara aktif dalam mengenalkan etika lingkungan kepada masyarakat, meskipun belum sepenuhnya mengintegrasikan ajaran tersebut dalam programnya. Pengaplikasian nilai etis-teologi memengaruhi persepsi dan tanggung jawab masyarakat Marao dalam merawat ekosistem laut yang menekankan bahwa alam adalah karya Tuhan sehingga menjadi tanggung jawab dan panggilan moral sebagai umat yang beriman kepada Tuhan manusia dalam menjaga keseimbangan ekosistem.Kata Kunci: peran aktif gereja; ekosistem laut; masyarakat marao biak
Kehilangan Hutan, Kehilangan Masa Depan: Krisis Ekologi Dalam Pendekatan Biblis Fredrik Warwer; Yakob Godlif Malatuny; Santy Layan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.446

Abstract

The destruction of forests in Indonesia has resulted in disasters and threatens the future of humanity on earth. Using forests for personal interests is an action that humans should prohibit. Theological reflection or Christian perspective studies are needed to encourage a contemplative approach to forests. This paper aims to examine the issue of ecological crisis in Indonesia with a biblical approach. A qualitative methodology of literature review approach is used in this article. The research reveals that deforestation continues to be the most significant form of land degradation in Indonesia. Although the Central Bureau of Statistics reported a substantial decrease in deforestation in Indonesia from 2019 to 2020, the country lost 213 million hectares of forest, equivalent to 3.5 times the size of Bali Island, between 2015 and 2020. Therefore, eco theology seeks to critique the Christian tradition to raise public awareness of the ecological crisis and not just concern for the environment. Awareness of forest sustainability should be instilled in the younger generation through planting programs to develop a sense of belonging, appreciation, and responsibility for the forest. This is an expression of gratitude to the Owner, God, while at the same time showing love to others and ensuring the preservation of the planet for future generations. Keywords: Forest Loss, Future Loss, Ecological Crisis, Biblical ApproachKeywords: forest los; future loss; ecological crisis; biblical approach Abstrak Kerusakan hutan di Indonesia mengakibatkan bencana dan mengancam masa depan umat manusia di muka bumi. Pemanfaatan hutan untuk kepentingan pribadi adalah tindakan yang seharusnya dilarang oleh manusia. Dibutuhkan refleksi teologi atau kajian perspektif Kristen untuk mendorong pendekatan kontemplatif terhadap hutan. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji persoalan krisis ekologi di Indonesia dengan pendekatan biblis. Metodologi kualitatif pendekatan tinjauan literatur digunakan dalam artikel ini. Penelitian ini mengungkapkan bahwa deforestasi terus menjadi bentuk degradasi lahan yang paling signifikan di Indonesia. Meskipun Badan Pusat Statistik melaporkan penurunan deforestasi yang signifikan di Indonesia dari tahun 2019 hingga 2020, kenyataannya negara ini kehilangan 213 juta hektar hutan, atau setara dengan 3,5 kali luas Pulau Bali, antara tahun 2015 dan 2020. Oleh karena itu, ekoteologi berusaha untuk mengkritik tradisi Kristen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang krisis ekologi, dan bukan hanya sekedar kepedulian terhadap lingkungan. Kesadaran akan kelestarian hutan harus ditanamkan kepada generasi muda melalui program penanaman, sehingga mereka dapat mengembangkan rasa memiliki, menghargai, dan bertanggung jawab terhadap hutan. Hal ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pemilik, Tuhan, dan sekaligus menunjukkan rasa cinta kasih kepada sesama, serta memastikan kelestarian planet ini untuk generasi mendatang.Kata Kunci: kehilangan hutan; kehilangan masa depan; krisis ekologi; pendekatan biblis
Model Transformasi Terhadap Budaya Sunda Cageur, Bageur, Bener, Pinter jeung Singer Jellia Puspa Purnama; Yanto Paulus Hermanto
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.460

Abstract

The Sundanese culture, known as cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer, also referred to as Gapura Panca Waluya, is deeply ingrained in the life of the Sundanese community. Unfortunately, Christianity is often perceived as a religion that opposes culture, even compelling individuals to abandon their native traditions. This perception arises because Christianity was introduced to Sundanese lands by European missionaries, who were associated with colonialism, making conversion to Christianity seem like adopting the religion of the colonizers. Through this research, the author aims to answer how the model of transformation for the Sundanese values of cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer can be achieved without opposing them but by transforming the existing understanding to help Sundanese Christians experiencing these cultural values. The data collection and analysis technique employed is a literature review. Through this research, the author hopes to ensure that the Gospel can remain relevant and contextual, especially for the Sundanese community, as God uses culture to communicate His plans and wills. Keywords: Sunda; cageur; bener; pinter; bageurAbstrak Budaya Sunda yaitu cageur, bageur, bener, pinter jeung singer, disebut juga dengan Gapura Panca Waluya merupakan budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Sunda. Sayangnya, kekristenan dianggap sebagai agama yang menentang budaya, bahkan dianggap memaksa seorang untuk meninggalkan budaya asal. Ini disebabkan oleh karena agama Kristen dibawa ke tanah Sunda melalui para misionaris Eropa yang identik dengan penjajah, sehingga memeluk agama Kristen dianggap memeluk agama penjajah. Lewat penelitian ini, penulis bertujuan ingin menjawab bagaimana model transformasi terhadap budaya Sunda cageur, bageur, bener, pinter jeung singer dengan tidak perlu menentang, namun mentransformasikan pengertian yang ada untuk menolong masyarakat Sunda Kristen mengalami nilai budaya tersebut. Adapun teknik pengumpulan dan analisa data menggunakan kajian literatur. Lewat penelitian ini, penulis berharap agar Injil bisa tetap menjadi relevan dan konstekstual khususnya bagi masyarakat Sunda, sebab Allah memakai budaya untuk mengkomunikasikan rencana dan kehendakNya.Kata Kunci: Sunda; cageur; bener; pinter; bageur
Debora Dan Kepemimpinan Perempuan Dalam Konteks Indonesia Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.472

Abstract

Women are not actually second class citizens in society.  Women can actually lead too.  However, public awareness of choosing women is still low.  Moreover, in the Indonesian political calendar, in 2024 Indonesia will elect leaders both above the executive and legislative branches.  This article is intended to find out the causes of women’s minimal involvement in the Indonesian political arena.  After that, this article will also show the role of women in leading.  This context will be put into dialogue with the story of Deborah in the Bible, who was also a successful female leader.  The result of this dialogue is to provide a leadership perspective that is not gender biased.  The building in this paper uses the literature method, namely by looking at literature that specifically discusses the two topics that are currently in the spotlight, namely the role of Deborah and the contribution of Indonesian women in leading. Keywords: Deborah; women; leadersAbstrakPerempuan sesungguhnya bukan warga kelas dua dalam masyarakat. Perempuan juga sebenarnya bisa memimpin. Hanya saja, kesadaran publik untuk memilih perempuan masih rendah. Apalagi dalam kalender politik Indonesia, tahun 2024 ini Indonesia akan memilih pemimpin baik di atas eksekutif maupun legislatif. Adanya tulisan ini dimaksudkan untuk mencari tahu penyebab keterlibatan perempuan yang minim di arena politik Indonesia. Setelah itu, tulisan ini juga akan menampilkan tentang bagaimana peran perempuan dalam memimpin. Konteks ini akan didialogkan  dengan kisah Debora dalam Alkitab yang juga adalah pemimpin perempuan yang berhasil. Hasil dialog ini yakni memberi suatu perspektif kepemimpinan yang tidak bias gender. Bangunan dalam tulisan ini menggunakan metode kepustakaan yaitu dengan melihat literatur-literatur yang secara khusus membahas kedua topik yang sementara menjadi sorotannya yaitu peran Debora dan kontribusi perempuan Indonesia dalam memimpin.Kata Kunci: Debora; perempuan; pemimpin
Menelisik Spiritualitas Gerakan Pentakostal-Kharismatik dalam Potret Megachurch di Indonesia Fredy Simanjuntak
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 2: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i2.484

Abstract

This study examines the notable expansion of Indonesian churches in urban areas, particularly in relation to the Pentecostal-Charismatic movement and its subsequent metamorphosis into megachurches. This phenomenon has become indisputable in the modern church's image, giving it a unique symbolism in the culture at large. With their expressive worship styles, vibrant environments, modern music, expansive stages, and inspirational sermons, these churches provide a distinctive religious experience. Even though this movement is gaining traction and expanding quickly, the research also draws attention to the idea that megachurches are a kind of religious commodification that may be more designed to appeal to the general public. As a result, the purpose of this study is to determine whether this transformation is only on the surface or if it includes comprehensive changes in the structure and essence of the church. The research method used is phenomenology, and theologically, this research finds a strong foundation for this movement in the Bible. The findings of this study show that, despite the criticism leveled at it, the megachurch movement has had a positive impact on the spiritual growth of its congregation, demonstrating that the megachurch phenomenon is not only superficial, but also includes a profound transformation in their spiritual experience.Keywords: pentecostal-charismatic movement; spirituality; megachurch; IndonesiaAbstrakPenelitian ini mengeksplorasi pertumbuhan gereja yang signifikan di daerah perkotaan di Indonesia, khususnya dalam konteks gerakan Pentakostal-Kharismatik yang kemudian mengalami transformasi menjadi gereja raksasa atau megachurch. Fenomena ini menjadi tak terbantahkan dalam gambaran gereja kontemporer, menciptakan simbolisme khas dalam masyarakat modern. Gereja-gereja ini menawarkan pengalaman religius yang unik dengan gaya ibadah ekspresif, suasana yang aktif, musik kontemporer, panggung yang megah, dan khotbah motivasional. Meskipun gerakan ini mendapat dukungan dan pertumbuhan pesat, penelitian ini juga menyoroti kritik terhadap konsep gereja mega sebagai komodifikasi agama yang mungkin lebih ditujukan untuk menarik massa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menelusuri apakah transformasi ini hanya terjadi di permukaan atau mencakup perubahan menyeluruh dalam struktur dan esensi gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah fenomenologi, dan secara teologis, penelitian ini menemukan dasar yang kuat dalam Alkitab untuk gerakan ini. Hasil penelitian ini merinci bahwa, di samping kritik yang muncul, gerakan ini memiliki dampak positif dalam pertumbuhan spiritual para jemaatnya, menunjukkan bahwa fenomena gereja raksasa tidak hanya bersifat permukaan, tetapi mencakup transformasi yang mendalam dalam pengalaman rohaniah mereka.Kata Kunci: Gerakan Pentakostal-Kharismatik; Spiritualitas; Megachurch; Indonesia
Mendengar Suara Perempuan dalam Peristiwa Bungkamnya Sarah: Studi Naratif Dialog Abram dengan Sarai dalam Kej. 12:10-20 Abraham Pakpahan
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 2: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i2.485

Abstract

Dialogue is an interaction between two or more people that involves mutually constructive communication between the speaker and the interlocutor, but in the narrative Gen. 12:10-20 looks like just one way dialogue. This dialogue is seen through the conversation between Abram and Sarai. Abram, who was filled with fear, told Sarai to recognize herself as Abram's sister and not as his wife. The author's aim in conducting this research is to see that Sarai is an important character in this narrative. The author sees that Sarai has an important role in shaping this narrative even though she is shown as someone who is silent without offering any resistance. This research was conducted by the author using narrative criticism to understand that the narrative of Sarai's silence is a criticism for today's readers to hear women's voices and respect women.Keywords: Abram; sarai; voice; Lord; silence; narrativeAbstrakDialog merupakan interaksi dua orang atau lebih yang melibatkan komunikasi yang saling membangun interaksi antara pembicara dengan lawan bicaranya namun dalam narasi Kej. 12:10-20 terlihat hanya dialog satu arah. Dialog ini terlihat melalui percakapan antara Abram dan Sarai. Abram yang sedang dipenuhi ketakutan menyuruh Sarai untuk mengakui dirinya sebagai adik Abram dan bukan sebagai istrinya. Tujuan penulis dalam melakukan penelitian ini untuk melihat bahwa Sarai merupakan tokoh yang penting dalam narasi ini. Penulis melihat bahwa Sarai memiliki peranan penting dalam membentuk narasi ini meskipun ia diperlihatkan sebagai seorang yang bungkam tanpa memberikan perlawanan. Penelitian ini dilakukan oleh penulis dengan menggunakan kritik naratif untuk memahami bahwa narasi bungkamnya Sarai merupakan kritik kepada pembaca masa kini untuk mendengar suara perempuan dan menghormati perempuan.Kata Kunci: Abram; sarai; suara; Tuhan; bungkam; narasi
Relasi Alam dengan Eksistensi Manusia Terhadap Krisis Ekologi Berdasarkan Perspektif Filsafat-Teologis Delinda Elizabeth Aritonang; Roberto Hamonangan Silitonga; Destri Ayu Natalia Hutauruk
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 6 No. 2: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v6i2.489

Abstract

This study examines the relationship between nature and human existence regarding the current ecological crisis. God, humans and nature are inseparable links. Recently, society has been faced with an environmental crisis and a decline in the ecosystem system, ranging from global warming, drought, floods, climate change, reduction in natural resources, to the extinction of flora and fauna diversity. When technological developments become more advanced and penetrate development that does not pay attention to environmental welfare, an ecological crisis occurs. Humans are considered the main actor in the ecological crisis which occurs due to greed and negligence in exploiting natural resources. A crisis of human existence and disharmony in the relationship between God and nature occurred. The aim of this research is to provide an understanding of the relationship between nature and human existence in order to create awareness of the relationship between humans and their love of nature and minimize the ecological crisis. The research method uses descriptive qualitative methods. This research method is carried out by collecting data, describing, analyzing and evaluating through critical thinking from books, journal articles and the Bible related to the discussion. This method divides this research into three important points. First, Human Existence and the Ecological Crisis. Second, the meaningful relationship between humans, nature and God towards the ecological crisis. Third, Understanding the Spiritual-Ecological Relationship between Nature and Human Existence. The result of this research is to offer a reconstruction of the paradigm of human existence towards an awareness of the meaningful relationship between God and nature as an alternative in overcoming the ecological crisis and conserving natural resources. The conclusion is to convey the message that through awareness, humans as God's creation must be grateful and responsible for maintaining and preserving them in the form of positive-constructive actions.Keywords: relations; human existenc; ecological crisis; nature; ecological spiritualityAbstrakKajian ini menelisik relasi alam dengan eksistensi manusia terhadap krisis ekologi yang terjadi sekarang ini. Allah, manusia dan alam, merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Akhir-akhir ini masyarakat diperhadapkan pada krisis lingkungan dan penurunan dalam sistem ekosistem, mulai dari pemanasan global, kekeringan, banjir, perubahan iklim, berkurangnya sumber daya alam, hingga punahnya keanekaragaman flora dan fauna. Ketika perkembangan teknologi semakin maju dan merasuki pembangunan yang tidak memperhatikan kesejahteraan lingkungan, terjadilah krisis ekologis. Manusia dianggap sebagai aktor utama atas krisis ekologi yang terjadi karena keserakahan dan kelalaian dalam mengeksploitasi sumber daya alam. Krisis eksistensi manusia dan disharmoni relasi antara Allah dan alam pun terjadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberi pemahaman relasi alam dengan eksistensi manusia demi mewujudukan kesadaran relasi manusia terhadap kecintaan kepada alam dan meminimalisir krisis ekologi. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. Metode penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data, mendeskripsikan, menganalisis dan mengevaluasi melalui pemikiran kritis dari buku, artikel jurnal dan Alkitab yang berkaitan dengan pembahasan. Metode ini membagi penelitian ini menjadi tiga poin penting. Pertama, Eksistensi Manusia dan Krisis Ekologi. Kedua, Relasi Bermakna Manusia, Alam dan Tuhan terhadap Krisis Ekologi. Ketiga, Memaknai Relasi Alam dan Eksistensi Manusia yang Spiritualitas-Ekologis. Hasil dari penelitian ini adalah menawarkan rekonstruksi paradigma eksistensi manusia terhadap kesadaran relasi yang bermakna antara Allah dan alam sebagai suatu alternatif dalam menanggulangi krisis ekologis dan melestarikan sumber daya alam. Kesimpulannya adalah untuk menyampaikan pesan bahwa melalui kesadaran manusia sebagai ciptaan Allah harus bersyukur dan bertanggungjawab menjaga dan melestarikan dipertanggungjawabkan dalam bentuk perbuatan yang positif-konstruktif.Kata Kunci: relasi; eksistensi manusia; krisis ekologi; alam; spiritualitas ekologis
Konsep Simbol Keagamaan Yang Sakral Menurut Mircea Eliade Dan Relevansinya Bagi Umat Kristiani Dalam Relasi Antar Agama Di Indonesia Siprianus Bruto; Fransiska Widyawati; Antonius Marius Tangi
DIEGESIS: Jurnal Teologi Kharismatika Vol. 7 No. 1: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/diegesis.v7i1.491

Abstract

Incidents of religious harassment are frequently reported in Indonesia, often manifesting as insults or damage to sacred religious symbols, including those of Christianity. This not only disrupts the tranquility of the Christian community but also undermines interfaith relationships. This study explores the thoughts of Mircea Eliade on sacred religious symbols, distinguishing them from the profane, and assesses their relevance to Christians and the development of interfaith relations. The research aims to reinforce Christian understanding of the sacred and profane within their religion and to correlate these concepts with biblical principles. A qualitative approach, specifically a literature review, is employed in this study. The findings suggest that Eliade’s philosophy provides a theoretical framework for comprehending the sanctity of symbols across religions. Each religion has its unique interpretation of the sacred and profane, shaped by its theological and historical context. Sacred elements demand a different level of respect and protection compared to the profane. Eliade’s philosophy aligns with the interpretation of the Scriptures, which also employ symbols to depict the presence of the Holy Trinity. For Indonesian Christians, Eliade’s thoughts are relevant as they encourage religious communities to respect each other’s religious symbols, engage in symbolic dialogues, and strengthen faith experiences and relationships. Eliade’s philosophy can enrich Christians’ understanding of the sanctity of religious symbols. Externally, Christians can apply Eliade’s philosophy to foster respect and build tolerant and inclusive interfaith relationships. Keywords: Mircea Eliade; Symbol; Sacred; Religious Relations; InfidelAbstrak Insiden pelecehan agama sering dilaporkan di Indonesia, seringkali berwujud penghinaan atau kerusakan terhadap simbol-simbol sakral agama, termasuk simbol-simbol milik agama Kristen. Hal ini tidak hanya mengganggu ketenangan komunitas Kristen tetapi juga merusak hubungan antaragama. Studi ini mengeksplorasi pemikiran Mircea Eliade tentang simbol-simbol keagamaan yang sakral, membedakannya dari yang profan, dan menilai relevansinya bagi umat Kristen dan pengembangan hubungan antaragama. Penelitian ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman umat Kristen tentang konsep sakral dan profan dalam agama mereka dan untuk mengaitkan konsep-konsep ini dengan prinsip-prinsip Alkitab. Pendekatan kualitatif, khususnya studi literatur, digunakan dalam penelitian ini. Temuan menunjukkan bahwa filsafat Eliade memberikan kerangka teoritis untuk memahami kesucian simbol di berbagai agama. Setiap agama memiliki interpretasi unik tentang sakral dan profan, yang dibentuk oleh teologi dan konteks historisnya. Elemen-elemen sakral menuntut tingkat penghormatan dan perlindungan yang berbeda dibandingkan dengan yang profan. Filsafat Eliade sejalan dengan interpretasi Kitab Suci, yang juga menggunakan simbol untuk menggambarkan kehadiran Allah Tritunggal. Bagi umat Kristen di Indonesia, pemikiran Eliade relevan karena mendorong komunitas agama untuk saling menghormati simbol-simbol agama masing-masing, melakukan dialog simbolik, dan memperkuat pengalaman dan hubungan iman. Pemikiran Eliade dapat memperkaya pemahaman umat Kristen tentang kesucian simbol-simbol keagamaan. Secara eksternal, umat Kristen dapat menerapkan pemikiran Eliade untuk menunjukkan penghormatan dan membangun hubungan antaragama yang toleran dan inklusif.Kata Kunci: Mircea Eliade; simbol; sakral; relasi agama; kafir

Page 8 of 11 | Total Record : 105