cover
Contact Name
Heppy Yohanes
Contact Email
heppyyohaneslim@gmail.com
Phone
+6287878968652
Journal Mail Official
info@pspindonesia.org
Editorial Address
Perum Puri Bengawan Indah Jl. Karandan Rt.007 Rw.005, Joyontakan, Serengan, Surakarta
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
ISSN : 2797717X     EISSN : 27977676     DOI : https://doi.org/10.54403/rjtpi
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia merupakan wadah untuk memublikasi hasil penelitian ilmiah para dosen / peneliti pada bidang Teologi. Fokus dan Scope pada Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia adalah: Sejarah pada Teologi Kajian Teologi Pentakosta Tokoh gereja Liturgi Musik Gereja Misiologi Kepemimpinan Kristen Pastoral Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia is a forum for publishing the scientific of lecturers / researchers in the field of Theology. Focus and scope on Jurnal Pentakosta Indonesia are: History of Theology The Pentacostal Analysis Theology Church Figure Liturgy Church Music Missiology Christian Leadership Pastoral
Articles 104 Documents
Pemulihan Elia sebagai Model Teologis-Psikologis bagi Intervensi Depresi Pada Remaja Yustinus, Yustinus
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 5, No 2 (2025): Ritornera: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia - Agustus 2025
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v5i2.138

Abstract

Depression was a form of mental health disorder that was widely experienced by adolescents in Indonesia, influenced by biological, psychological, social, and spiritual factors. Treatment that focused on clinical and psychological aspects was indeed beneficial, yet it often did not address the spiritual dimension that could support holistic recovery. This study aimed to develop a theologically and psychologically informed intervention model based on the narrative of Elijah’s restoration in 1 Kings 19 to support adolescents experiencing depression holistically. The research employed a qualitative approach with library research, integrating biblical exegesis, pastoral theology literature, and adolescent psychospiritual theories. The findings indicated that integrated physical, emotional, and spiritual recovery enhanced adolescents’ psychological resilience, reduced depressive symptoms, and fostered meaning and hope. This model held practical implications for counselors, pastors, and Christian educational institutions in designing contextual and holistic interventions for adolescent depression. Thus, the study affirmed that Elijah’s restoration narrative could serve as an applicable theological-psychological framework for adolescent depression interventions.AbstrakDepresi sebagai bentuk gangguan kesehatan mental yang banyak dialami oleh remaja di Indonesia, dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Penanganan yang berfokus pada aspek klinis dan psikologis memang bermanfaat, namun kerap belum menyentuh dimensi spiritual yang dapat mendukung pemulihan secara holistik. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model intervensi teologis-psikologis berbasis narasi pemulihan Elia dalam 1 Raja-Raja 19 untuk mendampingi remaja yang mengalami depresi secara holistik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, mengintegrasikan eksposisi Biblika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemulihan fisik, emosional, dan spiritual yang terintegrasi mampu meningkatkan ketahanan psikologis remaja, menurunkan gejala depresi, dan membangun makna serta harapan. Model ini memiliki implikasi praktis bagi konselor, pendeta, dan lembaga pendidikan Kristen dalam merancang intervensi depresi remaja yang kontekstual dan holistik.Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa narasi pemulihan Elia dapat menjadi kerangka konseptual teologis-psikologis yang aplikatif bagi intervensi depresi remaja.
Peranan Kepemimpinan Kerja Tim Terhadap Pertumbuhan Gereja Di JKI Mahanaim Blitar Berdasarkan Roma 12:4-8 Kusumaningsih, Sisilia Triwik; Boiliu, Esti Regina; Triposa, Reni
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 5, No 3 (2025): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia - Desember 2025 (This Issue is Sti
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v5i3.151

Abstract

There are many leadership styles in this world, and one of them is the teamwork leadership style. This leadership style plays an important role in church growth. There are some churches that do not fully understand the level of church growth, as well as the role of teamwork leadership in church growth. The importance of team leadership in the mobility of ministry, which has an impact on effective ministry and church growth, makes team leadership very important in church growth. This study aims to determine the role and effectiveness of team leadership in church growth at the JKI Mahanaim Blitar church. Of course, there are other factors behind the growth of the JKI Mahanaim church. This study uses a qualitative approach with a descriptive research type that aims to identify and describe the role of team leadership in church growth. The conclusion of this study emphasises that, in essence, leadership and teamwork are mutually influential processes aimed at achieving common goals through a collaborative, participatory, and service-oriented leadership style. In the context of the JKI Mahanaim Church in Blitar, teamwork leadership strategies are implemented to encourage church growth, despite facing various obstacles such as limited resources, communication, and team member commitment. However, the role of teamwork leadership has proven to have an important contribution in strengthening service, increasing congregation involvement, and supporting sustainable church growth.AbstrakAda banyak gaya kepemimpinan di dunia ini, dan salah satu hal tersebut adalah gaya kepemimpinan tim kerja. Gaya Kepemimpinan ini memiliki peranan penting terhadap pertumbuhan gereja. Ada beberapa gereja yang kurang mengerti tingkat pertumbuhan gereja, serta peranan  kepemimpinan Tim kerja terhadap pertumbuhan gereja. Besarnya peranan kepemimpinan tim kerja terhadap mobilitas pelayanan, yang berdampak pada pelayanan yang efektif, serta pertumbuhan gereja, sehingga kepemimpinan Tim Kerja ini menjadi sangat penting dalam pertumbuhan gereja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan dan keefektifan kepemimpinan Tim Kerja terhadap pertumbuhan gereja di gereja JKI Mahanaim Blitar. Dan tentunya adanya faktor lain yang melatar belakangi Gereja JKI Mahanaim tersebut bertumbuh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan mengenai peranan kepemimpinan tim kerja terhadap pertumbuhan gereja.  Kesimpulan penelitian ini menekankana bahwa secara hakikat, kepemimpinan dan kerja tim merupakan proses saling memengaruhi yang terarah untuk mencapai tujuan bersama melalui gaya kepemimpinan yang kolaboratif, partisipatif, dan berorientasi pada pelayanan. Dalam konteks Gereja JKI Mahanaim Blitar, strategi kepemimpinan kerja tim diterapkan untuk mendorong pertumbuhan gereja, meskipun masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan sumber daya, komunikasi, dan komitmen anggota tim. Namun demikian, peranan kepemimpinan kerja tim terbukti memiliki kontribusi penting dalam memperkuat pelayanan, meningkatkan keterlibatan jemaat, dan mendukung pertumbuhan gereja secara berkelanjutan.
Ketahanan Rohani dalam Wajah Persekusi: Studi Teologis tentang Teologi Penderitaan dalam 1 Petrus 4:12–14 dan Implikasinya bagi Umat Kristiani Era Kontemporer Sugiono, Sugiono
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 5, No 3 (2025): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia - Desember 2025 (This Issue is Sti
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v5i3.149

Abstract

Persekusi terhadap umat Kristiani merupakan tantangan yang terus berlangsung dari masa lalu hingga era kontemporer. Surat 1 Petrus 4:12–14 memberikan perspektif teologis penting mengenai penderitaan sebagai bagian integral dari iman Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi teologis tentang teologi penderitaan dalam perikop tersebut serta mengkaji implikasinya bagi ketahanan rohani umat Kristiani masa kini yang menghadapi persekusi dalam berbagai bentuk. Metode hermeneutik digunakan untuk menggali makna historis dan kontekstual teks, sekaligus menerjemahkannya ke dalam konteks pastoral dan spiritual. studi ini menegaskan bahwa penderitaan bukan sekadar ujian, melainkan sarana pemurnian iman dan pembentukan ketahanan rohani. Temuan menunjukkan bahwa ketahanan rohani tumbuh dari penghayatan penderitaan sebagai bagian dari panggilan iman yang membawa sukacita dan pengharapan eskatologis. Implikasi praktisnya mendorong gereja masa kini untuk membina spiritualitas tangguh dan pendampingan komunitas dalam menghadapi tantangan global, sehingga ketahanan iman umat Kristen tetap kuat di tengah tekanan dunia.
Liturgi Profetis Kesederhanaan: Studi Etika Ibadah Dan Penolakan Konsumerisme Sumiyati, Sumiyati
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 5, No 3 (2025): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia - Desember 2025 (This Issue is Sti
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v5i3.154

Abstract

This article examines how liturgy can function as a prophetic voice that challenges the growing influence of consumerism within the life of the church. Recognizing that worship is never theologically or socially neutral, this study highlights the significance of simplicity as a core value that guides believers back to the essence of true worship. Employing a library research method, the study explores literature on liturgical theology, Christian ethics, and social analyses of consumerism’s impact. Through a hermeneutical approach, various theological insights are synthesized to formulate an understanding of prophetic liturgy rooted in simplicity. The discussion reveals that simple yet meaningful liturgical practices serve as a form of faith-based critique toward materialistic lifestyles, while nurturing an ethical consciousness that encourages believers to live with greater sensitivity, justice, and responsibility. The findings affirm that prophetic liturgy grounded in simplicity offers a relevant model for renewing worship amid the pressures of a consumer-driven culture.AbstrakArtikel ini menelaah bagaimana liturgi dapat berfungsi sebagai suara profetis yang menantang budaya konsumerisme yang semakin memengaruhi kehidupan gereja. Berangkat dari kesadaran bahwa ibadah tidak netral secara teologis maupun sosial, kajian ini menyoroti pentingnya kesederhanaan sebagai nilai inti yang mengarahkan umat kembali pada esensi penyembahan yang berpusat hanya kepada Allah. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan menelusuri literatur teologi liturgi, etika Kristen, serta analisis sosial mengenai dampak konsumerisme. Melalui pendekatan hermeneutik, berbagai gagasan teologis diolah untuk merumuskan pemahaman tentang liturgi profetis kesederhanaan. Pembahasan menunjukkan bahwa liturgi yang sederhana namun bermakna mampu menjadi sarana kritik iman terhadap pola hidup materialistik, sekaligus membentuk kesadaran etis jemaat untuk hidup lebih peka, adil, dan bertanggung jawab. Hasil kajian menegaskan bahwa liturgi profetis kesederhanaan berpotensi menjadi model pembaruan ibadah yang relevan bagi gereja di tengah tekanan budaya konsumtif.
Orientasi Pengabdian Diri Orang Beriman Melalui Kajian Eksegesis Matius 6:19–24 Tarigan, Natanael Apriyanto
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 5, No 3 (2025): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia - Desember 2025 (This Issue is Sti
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v5i3.156

Abstract

This study examines the orientation of believers’ self devotion based on an exegetical analysis of Matthew 6:19–24. In the context of modern life characterized by materialism and consumerism, many believers experience a shift in their life orientation from God toward worldly concerns. This pericope emphasizes the impossibility of serving two masters and calls believers to store up treasures in heaven as an expression of genuine devotion to God. Therefore, this study aims to explore the theological meaning of Jesus’ teaching and its relevance for the lives of contemporary believers. The method employed is exegetical analysis using historical, grammatical, and theological approaches to the Greek text of the New Testament. The historical analysis seeks to understand the social and religious background of the first century, while the grammatical analysis focuses on key terms such as thēsauros (treasure), douleuein (to serve), and Mammon. The theological approach is then used to formulate the spiritual message of the text, highlighting the exclusive nature of devotion to God. The exegetical findings indicate that believers’ self devotion encompasses three main principles. First, a life orientation centered on earthly wealth has a negative impact on spiritual life, as it is transient and has the power to bind the heart. Second, devotion to God demands total and undivided commitment, thereby eliminating any compromise between God and Mammon. Third, genuine devotion is manifested through a life orientation focused on eternal values by storing up treasures in heaven. These findings affirm the continued relevance of Jesus’ teaching in Matthew 6:19–24 as a guide for believers in reorienting their lives to be centered on God.AbstrakPenelitian ini mengkaji orientasi pengabdian diri orang beriman berdasarkan eksegesis Matius 6:19–24. Dalam konteks kehidupan modern yang ditandai oleh materialisme dan konsumerisme, banyak orang percaya mengalami pergeseran orientasi hidup dari Allah kepada kepentingan duniawi. Perikop ini menegaskan ketidakmungkinan mengabdi kepada dua tuan serta mengarahkan orang beriman untuk mengumpulkan harta di surga sebagai wujud pengabdian sejati kepada Allah. Tujuan penelitian ini adalah menggali makna teologis pengajaran Yesus dan relevansinya bagi kehidupan orang beriman masa kini. Metode yang digunakan adalah eksegesis dengan pendekatan historis, gramatikal, dan teologis terhadap teks Yunani Perjanjian Baru. Analisis historis digunakan untuk memahami latar sosial dan religius abad pertama, sedangkan analisis gramatikal menyoroti istilah kunci seperti thēsauros (harta), douleuein (mengabdi), dan Mamon. Pendekatan teologis kemudian merumuskan pesan rohani yang menekankan eksklusivitas pengabdian kepada Allah. Hasil eksegesis menunjukkan bahwa pengabdian diri orang beriman mencakup tiga prinsip utama. Pertama, orientasi hidup yang berpusat pada harta duniawi berdampak negatif terhadap kehidupan rohani karena bersifat fana dan mengikat hati. Kedua, pengabdian kepada Allah menuntut komitmen total dan tidak terbagi, sehingga meniadakan kompromi antara Allah dan Mamon. Ketiga, pengabdian sejati diwujudkan melalui orientasi hidup pada nilai-nilai kekekalan dengan mengumpulkan harta di surga. Temuan ini menegaskan relevansi ajaran Yesus dalam Matius 6:19–24 sebagai pedoman bagi orang beriman untuk menata kembali orientasi hidupnya agar berpusat pada Allah.
Pekerjaan Roh Kudus Dalam Transformasi Manusia Menuju Keutuhan Dalam Kristus Mangoli, Yefta Yan; Djunaedi, Djunaedi
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 5, No 3 (2025): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia - Desember 2025 (This Issue is Sti
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v5i3.146

Abstract

The transformation of humans toward wholeness in Christ is the essence of true Christian life. In a world marred by sin, humans experience broken relationships with God, others, and even themselves spiritually, psychologically, socially, and physically. This study is motivated by the need to understand the role of the Holy Spirit as a divine person in the comprehensive process of human restoration and transformation. The purpose of this paper is to explore and explain how the work of the Holy Spirit transforms humans toward wholeness in Christ, encompassing spiritual, psychological, social, and physical aspects that unite in the formation of a new character. This research employs a qualitative descriptive method with a systematic theological approach, analyzing biblical texts and contemporary theological literature. The findings show that the Holy Spirit not only renews the human spirit but also shapes a healthy psychological identity, restores broken social relationships, and encourages the stewardship of the body as the temple of God. This process is evident in the fruit of the Spirit such as love, patience, and self-control, which manifest the character of Christ. The transformation worked by the Holy Spirit results in an authentic life that glorifies God and becomes a testimony and agent of change within family, church, and society. This study emphasizes that character formation by the Holy Spirit must be continuously deepened through spiritual disciplines and contextual faith development.AbstrakTransformasi manusia menuju keutuhan dalam Kristus merupakan inti dari kehidupan Kristen yang sejati. Dalam realitas dunia yang penuh dengan kerusakan akibat dosa, manusia mengalami keterputusan relasi dengan Allah, sesama, bahkan dirinya sendiri secara spiritual, psikologis, sosial, dan fisik. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk memahami peran Roh Kudus sebagai pribadi ilahi dalam proses pemulihan dan transformasi manusia secara menyeluruh. Tujuan penulisan ini adalah untuk menggali dan menjelaskan bagaimana pekerjaan Roh Kudus mengubah manusia menuju keutuhan dalam Kristus, mencakup aspek spiritual, psikologis, sosial, dan fisik yang menyatu dalam proses pembentukan karakter baru. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan teologis sistematik serta analisis teks Alkitab dan literatur teologi kontemporer. Adapun hasil kajian menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak hanya membarui roh manusia, tetapi juga membentuk identitas psikologis yang sehat, memperbaiki relasi sosial yang rusak, dan mendorong pengelolaan tubuh sebagai bait Allah. Proses ini terlihat dalam buah Roh seperti kasih, kesabaran, dan penguasaan diri yang menjadi manifestasi karakter Kristus. Transformasi yang dikerjakan Roh Kudus menghasilkan kehidupan yang autentik, memuliakan Allah, serta menjadi kesaksian dan agen perubahan dalam keluarga, gereja, dan masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa pembentukan karakter oleh Roh Kudus harus terus diperdalam melalui disiplin rohani dan pembinaan iman yang kontekstual.
Diskripsi Mengharapkan Segala Sesuatu Sebagaian Unsur Karakter Hamba Tuhan Sebagai Implementasi Kasih Dari Perspektif Korintus 13 : 7 Widodo, Wiji Suko; Suseno, Aji
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 5, No 3 (2025): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia - Desember 2025 (This Issue is Sti
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v5i3.150

Abstract

The influence of hedonistic Greek culture in Corinth had shaped the congregation's lifestyle, emphasising self-interest, competition, and division, thereby eroding Christian love in their faith and church fellowship. This situation caused concern for the Apostle Paul because the Corinthian congregation, despite being rich in spiritual gifts, had lost love as the foundation of relationships, ministry, and the unity of the body of Christ. It is in this context that the phrase ‘hoping all things’ in 1 Corinthians 13:7 becomes a theological affirmation that true love originates from Christ and leads believers to live in active, patient, and unifying hope. The purpose of this article is to examine the meaning of ‘hoping all things’ as an element of the character of God's servants in the implementation of Christ's love based on the perspective of 1 Corinthians 13:7. This study uses a descriptive qualitative method through an exegetical study of the biblical text and an analysis of relevant theological literature and scientific journals. The results of the study show that hope in love is not passive, but rather oriented towards Christ as the centre of faith, example of life, and source of unity. This hope encourages servants of God to continue to prioritise love in the midst of conflict, suffering, and differences in the church and society. Thus, expecting everything in Christ's love becomes an important foundation for the formation of the character of servants of God who are humble, have integrity, and are committed to maintaining the unity of the body of Christ.AbstrakPengaruh budaya Yunani yang hedonistik di Korintus telah membentuk pola hidup jemaat yang menekankan kepentingan diri, persaingan, dan perpecahan sehingga nilai kasih Kristiani semakin tergerus dalam kehidupan iman dan persekutuan gerejawi. Kondisi tersebut menimbulkan keprihatinan rasul Paulus karena jemaat Korintus, meskipun kaya karunia rohani, kehilangan kasih sebagai dasar relasi, pelayanan, dan kesatuan tubuh Kristus. Dalam konteks inilah ungkapan “mengharapkan segala sesuatu” dalam 1 Korintus 13:7 menjadi penegasan teologis bahwa kasih sejati bersumber dari Kristus dan menuntun orang percaya untuk hidup dalam pengharapan yang aktif, sabar, dan mempersatukan. Tujuan penulisan artikel ini adalah mengkaji makna “mengharapkan segala sesuatu” sebagai unsur karakter hamba Tuhan dalam implementasi kasih Kristus berdasarkan perspektif 1 Korintus 13:7. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui kajian eksegetis teks Alkitab serta analisis literatur teologis dan jurnal ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengharapan dalam kasih tidak bersifat pasif, melainkan berorientasi pada Kristus sebagai pusat iman, teladan hidup, dan sumber kesatuan. Pengharapan tersebut mendorong hamba Tuhan untuk tetap mengedepankan kasih di tengah konflik, penderitaan, dan perbedaan dalam gereja maupun masyarakat. Dengan demikian, mengharapkan segala sesuatu dalam kasih Kristus menjadi fondasi penting bagi pembentukan karakter hamba Tuhan yang rendah hati, berintegritas, dan berkomitmen menjaga kesatuan tubuh Kristus.
Resiliensi Holistik Dalam Pelayanan Misi: Pengalaman Keluarga Misionaris Indonesia Di Kyrgyzstan Behar, Apner Ndapa; Ja Hwe, Lie
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 5, No 3 (2025): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia - Desember 2025 (This Issue is Sti
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v5i3.147

Abstract

Missionary service in challenging regions such as Kyrgyzstan imposes psychological, cultural, and social pressures on Indonesian missionary families. Obstacles such as isolation, cultural differences, and limited support from sending churches require an understanding of the formation of missionary family resilience. This study aims to examine the resilience of Indonesian missionary families in Kyrgyzstan, the factors influencing it, and effective pastoral support strategies. A qualitative approach was used through in-depth interviews with three missionary families, along with data triangulation from fellow missionaries, local church councils, and sponsored children. The results indicate that missionary family resilience is shaped by spirituality, family harmony, and support from both local communities and international partners. Adaptation strategies such as language learning and cultural appreciation are important for successful inculturation and contextual ministry. The lack of a member care system from sending churches highlights the need to strengthen spiritual guidance and ongoing emotional support.AbstrakPelayanan misi di wilayah menantang seperti Kyrgyzstan menimbulkan tekanan psikologis, budaya, dan sosial bagi keluarga misionaris Indonesia. Hambatan seperti isolasi, perbedaan budaya, dan minimnya dukungan gereja pengutus menuntut pemahaman tentang pembentukan resiliensi keluarga misionaris. Penelitian ini bertujuan mengkaji resiliensi keluarga misionaris Indonesia di Kyrgyzstan, faktor yang mempengaruhinya, dan strategi dukungan pastoral yang efektif. Pendekatan kualitatif digunakan melalui wawancara mendalam dengan tiga keluarga misionaris, triangulasi data dari rekan misionaris, majelis gereja lokal, dan anak asuh. Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa Resiliensi keluarga misionaris terbentuk melalui spiritualitas, keharmonisan keluarga, dan dukungan komunitas lokal maupun mitra internasional. Strategi adaptasi seperti pembelajaran bahasa dan penghargaan budaya penting untuk keberhasilan inkulturasi dan pelayanan kontekstual. Kurangnya sistem member care dari gereja pengutus menunjukkan perlunya penguatan pendampingan rohani dan dukungan emosional berkelanjutan.
Tinjauan Teologis Berdasarkan Kolose 3:21 dan Efesus 6:4 Terhadap Pola Asuh Otoriter Ayah Sebagai Penyebab Post Traumatic Syndrome Disorder (PTSD) Gea, Endang Trisna; Sugiarto, Jimmy; Baskoro, Paulus Kunto
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 6, No 1 (2026): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia (April 2026)
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v6i1.160

Abstract

Parenting styles are very important for children. Fathers play an important role in raising children. This depends on a father's parenting style. Looking at the background of the situation when Paul wrote Colossians 3:21 and Ephesians 6:4, the customs of leaders at that time influenced fathers in raising their children. The author of this study aims to present a theological review of Colossians 3:21 and Ephesians 6:4 regarding authoritarian parenting by fathers as a cause of post-traumatic stress disorder (PTSD). The purpose of this study is to reveal a theological review of Colossians 3:21 and Ephesians 6:4 regarding authoritarian parenting by fathers as a cause of post-traumatic stress disorder (PTSD). To obtain a theological review of Colossians 3:21 and Ephesians 6:4 regarding authoritarian parenting by fathers as a cause of post-traumatic stress disorder (PTSD), qualitative research using the literature method was used. The objectives of this study are: First, to explain authoritarian parenting in the context of Colossians 3:21 and Ephesians 6:4. Second, to explain the meaning of Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Third, to provide solutions for handling children who experience post-traumatic stress disorder (PTSD). With a focus on hermeneutic study of Ephesians 6:4 and Colossians 3:21 to find the best solution for children experiencing post traumatic syndrome disorder (PTSD).AbstrakPola asuh sangat penting bagi seorang anak. Dan ayah memiliki peran penting dalam mendidik anak. Ini tergantung dari pola asuh seorang ayah. Dengan melihat latar belakang situasi yang terjadi pada saat Paulus menulis surat Kolose 3:21 dan Efesus 6:4, yang mana kebiasaan para pemimpin yang terjadi pada saat itu mempengaruhi para ayah dalam mendidik anaknya. Penulis dalam penelitian ini mau memaparkan tinjauan teologis surat Kolose 3:21 dan Efesus 6:4 terhadap pola asuh otoriter ayah sebagai penyebab post traumatic syndrome disorder (PTSD). Tujuan penelitian ini ialah untuk mengungkapkan tinjauan teologis surat Kolose 3:21 dan Efesus 6:4 terhadap pola asuh otoriter ayah sebagai penyebab post traumatic syndrome disorder (PTSD). Untuk memperoleh tinjauan teologis surat Kolose 3:21 dan Efesus 6:4 terhadap pola asuh otoriter ayah sebagai penyebab post traumatic syndrome disorder (PTSD) dengan menggunakan penelitian kualitatif dengan metode kepustakaan. Tujuan dari penelitian ini adalah Pertama, menjelaskan pola asuh otoriter yang terjadi dalam latar belakang surat Kolose 3:21 dan Efesus 6:4. Kedua, menjelaskan makna Post Traumatic Syndrome Disorder (PTSD). Ketiga, memberikan solusi penanganan anak yang mengalami post traumatic syndrome disorder (PTSD). Dengan fokus pengkajian secara hermenetik dari Efesus 6:4 dan Kolose 3:21 untuk menemukan solusi yang terbaik bagi anak yang mengalami post traumatic syndrome disorder (PTSD).
Kajian Diakonia Reformatif: Aksi Nyata Gereja Sebagai Agen Kerukunan Sosial Ervandy, Yoell
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 6, No 1 (2026): Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia (April 2026)
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v6i1.161

Abstract

The challenges of life in an increasingly complex and developing era greatly affect society. Changes and upheavals in all aspects of life in Indonesia have caused uncertainty. Adding to this, a multicultural environment filled with differing viewpoints makes community life even more complex. This research presents the church not only as a strengthener of the congregation's faith amidst controversy, but also as a bringer of real impact in life. Using a descriptive qualitative research method with a literature review. Producing a study that discusses the church as an agent that transcends differences and brings harmony for the sake of social love. From public health, children's education, and daily living needs. Facing every challenge that exists while still embodying Christ's love for all people. An ecumenical and synergistic church for inclusive social interests will bring innovation in addressing problems that arise in the field. Overall, reformative diakonia is a response from the church that must indeed be manifested when seeing the increasingly developing needs of the times. A response rooted in Christ's just and enduring love can be expressed thru church actions focused on service that can bring about a positive reformation in social life.AbstrakTantangan kehidupan di zaman yang semakin kompleks dan berkembang sangat mempengaruhi masyarakat. Perubahan dan gejolak seluruh aspek kehidupan di Indonesia menyebabkan sebuah ketidakpastian. Di tambah sebuah lingkungan hidup yang multikultural dan dipenuhi perbedaan pandangan menjadikan kehidupan bermasyarakat kian pelik. Dalam penelitian ini menghadirkan gereja yang bukan hanya sebagai penguat iman jemaat di tengah polemik, namun juga membawa sebuah dampak nyata dalam kehidupan. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan kajian literatur. Menghasilkan sebuah penelitian yang membahas gereja sebagai agen yang melampaui perbedaan dan membawa kerukunan demi sebuah kasih sosial. Mulai dari kesehatan masyarakat, pendidikan anak-anak dan kebutuhan hidup sehari-hari. Menghadapi setiap tantangan yang ada namun tetap mewujud nyatakan kasih Kristus bagi semua orang. Gereja yang ekumenis dan bersinergi demi kepentingan sosial yang inklusif akan membawa sebuah inovasi dalam menghadapi permasalah yang muncul di lapangan. Secara keseluruhan, diakonia reformatif adalah suatu respon gereja yang memang harus diwujud nyatakan saat melihat kebutuhan zaman yang makin berkembang. Respon yang beranjak dari kasih Kristus yang adil dan berkelanjutan dapat dinyatakan melalui tindakan gereja yang berfokus pada pelayanan yang dapat mebawa sebuah reformasi dalam kehidupan sosial yang menjadi lebih baik.

Page 10 of 11 | Total Record : 104