Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles
230 Documents
Peran Konseling Grup Berdasarkan 2 Timotius 3:16 dalam Mengembangkan Potensi Kepemimpinan Generasi Z
Emilia Kartika;
Rikardo P Sianipar;
Selviawati Selviawati
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59177/veritas.v7i1.357
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran konseling grup berbasis prinsip-prinsip Alkitab, khususnya 2 Timotius 3:16, dalam mengembangkan potensi kepemimpinan Generasi Z di gereja lokal. Generasi Z, yang memiliki karakteristik adaptif terhadap teknologi dan nilai inklusivitas, sering menghadapi tantangan dalam menemukan peran kepemimpinan yang relevan dalam pelayanan gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, yang melibatkan kajian teologis terhadap teks 2 Timotius 3:16, analisis karakteristik Generasi Z, dan sintesis antara prinsip konseling grup dengan nilai-nilai Alkitabiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip pengajaran, teguran, perbaikan, dan pendidikan dalam kebenaran yang terkandung dalam 2 Timotius 3:16 dapat diterapkan secara efektif dalam konseling grup untuk membentuk karakter kepemimpinan Generasi Z. Konseling grup ini menciptakan ruang kolaboratif yang mendukung transformasi spiritual, keterampilan interpersonal, dan dinamika kelompok. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan ini relevan untuk gereja lokal dalam mempersiapkan generasi pemimpin Kristen yang berintegritas. Disarankan untuk mengembangkan modul konseling grup berbasis Alkitab dan mengeksplorasi penerapannya di berbagai konteks gereja, termasuk integrasi teknologi digital untuk memperluas jangkauan dan efektivitas pendekatan ini.
Roh Antikristus Menurut 1 Yohanes 2:18-27 dan Keberadaannya dalam Masyarakat Post-Modernisme
Meyta Rosalin Kapoh;
Otieli Harefa
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59177/veritas.v6i2.315
Discussing the end times will not escape discussing the antichrist because he is the central figure as a sign that the end times have come into effect. The Apostle John in 1 John 2 has specifically warned that the Antichrist will come and the spirit of the antichrist is already at work. The signs of the antichrist spirit according to this passage include: denying Jesus as the Christ and denying the Father who sent Him; rejecting that Jesus Christ has come in the flesh; and all of this begins within the community of believers. The movements that characterise postmodernism have strong indications of being influenced by the spirit of the antichrist that makes man the centre of life and denies the existence and sovereignty of God. Using a descriptive qualitative research method, this paper aims to expose the antichrist, specifically the spirit of antichrist that works in postmodernist society. With the spirit of postmodernism, society deconstructs christianity, relativises the truth of the Bible and even pluralises the way of salvation. All this is the work of the spirit of antichrist. Believers must truly abide in the teaching of the Bible, which is the Word of God, and live under the guidance of the Holy Spirit to withstand the influence of the antichrist spirit.AbstrakMembahas akhir zaman tidak akan luput dari membahas antikristus karena merupakan tokoh sentral sebagai pertanda zaman akhir telah berlaku. Rasul Yohanes dalam 1 Yohanes 2 telah secara spesifik mengingatkan bahwa Antikristus akan datang dan roh antikristus sudah bekerja. Tanda-tanda roh antrikristus menurut perikop ini antara lain; memungkiri Yesus sebagai Kristus dan memungkiri Bapa yang mengutusNya; menolak bahwa Yesus Kristus sudah datang sebagai manusia; dan semua ini diawali dari dalam komunitas orang percaya. Pergerakan-pergerakan yang menjadi ciri postmodernisme berindikasi kuat dipengaruhi oleh roh antikristus yang menjadikan manusia sebagai pusat kehidupan dan memungkiri keberadaan dan kedaulatan Allah. Dengan metode penelitian deskriptif qualitatif, tulisan ini bertujuan memaparkan antikristus, secara khusus roh antikristus yang bekerja dalam masyarakat postmodernisme. Dengan semangat postmodernisme, masyarakat men-dekonstruksi kekristenan, me-relatifkan kebenaran Alkitab bahkan mem-pluralkan jalan keselamatan. Semua ini adalah pekerjaan roh antikristus. Orang percaya harus sunguh-sungguh tinggal dalam pengajaran Alkitab yang adalah Firman Allah dan hidup dalam tuntunan Roh Kudus untuk dapat bertahan dari pengaruh roh antikristus.
Melunaknya Hati Tuhan: Tinjauan Teologis Dan Psikologis Terhadap Pembebasan Emosi Dalam Kitab Keluaran 32:14
Benediktus Widya Darmaka
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59177/veritas.v7i2.412
This scholarly work explores the theological and psychological implications of the release of divine emotions as depicted in Exodus 32:14. The background of this study focuses on how Moses’ intercession succeeded in softening God’s heart after His anger toward the Israelites for worshiping the golden calf. This situation raises profound questions concerning the nature of God’s emotions and their relevance to the human–divine relationship.The research employs a qualitative approach through narrative analysis and literature study to examine Exodus 32:14 from both theological and psychological perspectives. This method involves the use of primary and secondary sources, as well as data triangulation to enhance the validity of the analysis.The findings reveal that God’s emotions are not only central to theological discourse but also carry significant implications for individual psychological well-being. By understanding God’s nature as loving and compassionate, we can strengthen our relationship with Him and live a more meaningful life.AbstrakKarya ilmiah ini mengeksplorasi implikasi teologis dan psikologis dari pelepasan emosi ilahi sebagaimana digambarkan dalam Keluaran 32:14. Latar belakang penelitian ini berfokus pada bagaimana doa syafaat Musa berhasil melunakkan hati Allah setelah murka-Nya terhadap bangsa Israel yang menyembah anak lembu emas. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendalam mengenai hakikat emosi Allah dan relevansinya dalam hubungan antara Allah dan manusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis naratif dan studi literatur untuk menelaah Keluaran 32:14 dari perspektif teologis maupun psikologis. Metode ini melibatkan penggunaan sumber primer dan sekunder, serta triangulasi data guna meningkatkan validitas analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emosi Allah tidak hanya menjadi pusat diskursus teologis, tetapi juga memiliki implikasi penting bagi kesejahteraan psikologis individu. Dengan memahami sifat Allah yang penuh kasih dan belas kasih, kita dapat memperkuat hubungan dengan-Nya dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna.
Membangun Pendidikan Agama Kristen Inklusif Untuk Anak Usia Dini: Menghargai Keberagaman Dan Mendorong Toleransi
Edwin Goklas Silalahi;
Titus Tunggul Simbolon;
Velino Siahaan;
Xaves Hendrik
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59177/veritas.v7i2.398
Christian religious education in Indonesia plays a significant role in shaping children's character and spiritual values from an early age. However, in an increasingly diverse society, Christian religious education faces major challenges in adopting an inclusive approach. This article explores how inclusive Christian religious education for early childhood can promote respect for diversity and encourage tolerance. Through a literature review, this study identifies key principles that can be applied to the Christian religious education curriculum to foster mutual respect and facilitate interfaith dialogue. It also examines the challenges of implementing inclusive Christian education and explores possible solutions. The findings suggest that Christian Religious Education (CRE) should be delivered in an inclusive manner—teaching the love of Christ while nurturing openness toward differences. These values are integrated into the curriculum through learning objectives that emphasize love and respect for others, materials that include Bible stories highlighting love and acceptance, and assessments that evaluate children’s tolerance in daily interactions. Respect for diversity is consistently instilled through the habituation of respectful behavior, the use of relevant Bible stories, and classroom activities that promote cooperation and empathy. One example of such practice is the “Circle of Love” method, in which children are encouraged to say one positive thing about a friend each week. This activity helps nurture respect and love amidst differences.AbstrakPendidikan agama Kristen di Indonesia memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan nilai-nilai spiritual khususnya bagi anak sejak usia dini. Namun di tengah masyarakat yang semakin beragam, pendidikan agama Kristen menghadapi tantangan besar dalam menghadirkan pendekatan yang inklusif. Artikel ini membahas bagaimana pendidikan agama Kristen inklusif untuk anak usia dini dapat mengedepankan penghargaan terhadap keberagaman dan mendorong toleransi. Melalui tinjauan pustaka, penelitian ini mengidentifikasi prinsip-prinsip dasar yang dapat diterapkan dalam kurikulum pendidikan agama Kristen untuk memupuk sikap saling menghormati dan menciptakan dialog antar umat beragama, serta tantangan yang dihadapi dalam implementasi pendidikan agama Kristen yang inklusif serta solusi yang dapat diterapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PAK harus disampaikan secara inklusif mengajarkan kasih Kristus sekaligus membentuk sikap terbuka terhadap perbedaan. Nilai-nilai diintegrasikan ke dalam kurikulum, melalui: Tujuan pembelajaran yang menekankan cinta kasih dan sikap menghormati sesama, materi yang mencakup cerita-cerita Alkitab tentang kasih dan penerimaan, dan evaluasi yang menilai sikap toleran anak dalam praktek sehari-hari. Penghargaan terhadap perbedaan ditanamkan secara konsisten melalui: Pembiasaan sikap saling menghargai berupa, cerita Alkitab yang relevan, kegiatan kelas yang melibatkan kerja sama dan empati. Contoh praktik di kelas menggunakan metode “Lingkaran Kasih”: anak-anak menyebutkan satu kebaikan dari temannya setiap minggu. Kegiatan ini menumbuhkan rasa hormat dan kasih dalam perbedaan.
Praktik Wacana Iman di Era Digital: Khotbah Virtual GMIM Analisis Wacana Kritis Model Norman Fairclough
Juan Rasulivan Hendrik Lasut;
Mariam Lidia Mytty Pandean;
Djeinnie Imbang
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59177/veritas.v8i1.465
This study analyzes the transformation of faith discourse practices in the virtual sermons of the Christian Evangelical Church in Minahasa (GMIM) amidst the mediatization of religion. Employing a qualitative method with Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis approach, this research examines text, discursive practice, and socio-cultural dimensions to reveal power relations in the digital space. The findings indicate that the linguistic structure of sermons has significantly shifted to become more persuasive and egalitarian, utilizing synthetic personalization strategies to establish pseudo-intimacy with the congregation. Sermons are repackaged as concise, visual, and therapeutic content, adapting to the logic of social media algorithms and aesthetics. It is concluded that GMIM’s virtual sermons are not merely dogma transmission but an adaptive strategy reconstructing ecclesiastical authority from hierarchical to more humanist and motivational to maintain institutional relevance within digital culture.AbstrakPenelitian ini menganalisis transformasi praktik wacana iman dalam khotbah virtual Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) di tengah arus mediatisasi agama. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough, studi ini menelaah dimensi teks, praktik diskursif, dan sosiokultural untuk mengungkap relasi kuasa di ruang digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur bahasa khotbah mengalami pergeseran signifikan menjadi lebih persuasif dan egaliter melalui strategi synthetic personalization guna membangun keintiman semu dengan jemaat. Khotbah dikemas ulang sebagai konten terapeutik yang ringkas dan visual, menyesuaikan diri dengan logika algoritma serta estetika media sosial. Disimpulkan bahwa khotbah virtual GMIM bukan sekadar transmisi dogma, melainkan strategi adaptif yang merekonstruksi otoritas gerejawi dari hierarkis menjadi lebih humanis dan motivasional demi menjaga relevansi institusi dalam budaya digital.
Kajian Teologis Mendalami Kontribusi Ayah dalam Mempersiapkan Masa Depan Anak di Keluarga Kristiani
Sugiarto Sugiarto;
Kosma Manurung
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59177/veritas.v7i1.328
It is important to prepare your child's future properly because this provides a sense of peace and also increases the child's chances of success in the future. This also means preventing children from committing various crimes in the future. This research seeks to explore the contribution of fathers in preparing children's future in Christian families. It is hoped that the use of descriptive qualitative methods and literature studies can explain at a glance the existence of fathers in Christian families, the urgency in preparing children's futures, and the maximum contribution a father can make in preparing children's futures. It is concluded that fathers will contribute maximally in preparing their children's future when they teach Bible truths as a guide to their children's faith and daily behavior, making themselves role models, consistent and the main motivator when their children need it.AbstrakPentingnya masa depan anak dipersiapkan dengan benar karena hal ini memberikan rasa tentram sekaligus memperbesar peluang anak untuk berhasil di masa depan. Ini juga berarti mencegah anak melakukan berbagai tindak kejahatan di kemudian hari. Adapun penelitian ini berupaya mendalami kontribusi ayah dalam mempersiapkan masa depan anak di keluarga Kristiani. Penggunaan metode kualitatif diskriptif serta kajian literatur diharapkan bisa menjelaskan dengan baik selayang pandang keberadaan ayah dalam keluarga Kristiani, urgensi dalam mempersiapkan masa depan anak, serta kontribusi maksimal yang bisa seorang ayah lakukan dalam mempersiapkan masa depan anak. Disimpulkan bahwa ayah akan berkontribusi maksimal dalam mempersiapkan masa depan anak ketika mengajarkan kebenaran Alkitab sebagai tuntunan iman dan berperilaku keseharian anak, menjadikan dirinya figur teladan, konsisten, dan pemberi motivasi utama ketika anak membutuhkan.
Perumpamaan Penabur dalam Matius 13:3-8 sebagai Refleksi Teologi Praktis atas Tantangan Strategi Pemasaran Digital
Octa Surya Agung;
Roni Kurniawan;
Yosef Antonius
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59177/veritas.v8i1.446
The development of digital marketing strategies has changed the way messages are conveyed and received, including in the context of church ministry and Christian evangelism. This change raises theological-practical issues when the effectiveness of digital communication is often measured by popularity metrics, while the depth of faith acceptance does not always align with these achievements. In this situation, practical theology is challenged to re-reflect on the relationship between faithfulness to the Gospel message and the context of the message recipients in the digital space. The phenomenon of the increasing use of social media and digital platforms by churches indicates the need for a theological framework that is capable of critically assessing these digital marketing practices. This study aims to interpret the Parable of the Sower (Matthew 13:3–8) as a reflection of practical theology in facing the challenges of digital marketing strategies. The research method used is a qualitative-descriptive approach through biblical studies. The conclusion of the study shows that the Parable of the Sower is understood as a practical theological paradigm that emphasizes that the effectiveness of preaching is not only determined by the message, but also by the readiness and context of the recipient. The analogy of various conditions of ‘soil’ reflects the reality of digital audience segmentation, while also revealing the challenges of digital marketing strategies that must be critically considered in the light of the theology of the cross and incarnation so that the church does not get caught up in the logic of popularity alone. Thus, this reflection emphasizes the pastoral implication of the need for a contextual model of church digital practice, rooted in theological fidelity and oriented towards authentic faith transformation.AbstrakPerkembangan strategi pemasaran digital telah mengubah cara pesan disampaikan dan diterima, termasuk dalam konteks pelayanan gereja dan pewartaan iman Kristen. Perubahan ini menimbulkan persoalan teologis-praktis ketika efektivitas komunikasi digital sering diukur melalui metrik popularitas, sementara kedalaman penerimaan iman tidak selalu sejalan dengan capaian tersebut. Dalam situasi ini, teologi praktis ditantang untuk merefleksikan kembali hubungan antara kesetiaan pada pesan Injil dan konteks penerima pesan di ruang digital. Fenomena meningkatnya penggunaan media sosial dan platform digital oleh gereja menunjukkan adanya kebutuhan akan kerangka teologis yang mampu menilai secara kritis praktik pemasaran digital tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan Perumpamaan Penabur (Mat13:3–8) sebagai refleksi teologi praktis dalam menghadapi tantangan strategi pemasaran digital. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi biblika, Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa perumpamaan penabur dipahami sebagai paradigma teologi praktis yang menegaskan bahwa efektivitas pewartaan tidak hanya ditentukan oleh pesan, tetapi oleh kesiapan dan konteks penerima. Analogi berbagai kondisi “tanah” merefleksikan realitas segmentasi audiens digital, sekaligus mengungkap tantangan strategi pemasaran digital yang harus ditimbang secara kritis dalam terang teologi salib dan inkarnasi agar gereja tidak terjebak pada logika popularitas semata. Dengan demikian, refleksi ini menegaskan implikasi pastoral berupa kebutuhan akan model praktik digital gereja yang kontekstual, berakar pada kesetiaan teologis, dan berorientasi pada transformasi iman yang autentik.
Memikat Generasi Z Dengan Khotbah Ekspositori
Markus Adelbert Simanjuntak
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59177/veritas.v7i1.337
Artikel ini membahas efektivitas khotbah ekspositori dalam menjangkau Generasi Z di Indonesia di tengah tantangan era digital. Dengan karakteristik khas seperti berpikir kritis, preferensi terhadap relevansi, dan ketergantungan tinggi pada platform digital, Generasi Z memerlukan pendekatan unik dalam pembinaan spiritual. Khotbah ekspositori, yang berakar pada otoritas dan autentisitas Alkitab, menawarkan metode kuat untuk menjawab kebutuhan rohani mereka dengan menghubungkan kebenaran Alkitab dengan isu kehidupan nyata. Melalui pemanfaatan platform digital seperti media sosial dan forum daring, pendekatan ini menciptakan peluang untuk keterlibatan interaktif yang transformatif. Studi ini mengidentifikasi enam elemen utama khotbah ekspositori yang efektif bagi Generasi Z, termasuk relevansi, kreativitas, dan kedalaman doktrinal. Dengan menggunakan metode kualitatif dan analisis literatur, artikel ini memberikan rekomendasi praktis bagi gereja untuk mengimplementasikan strategi yang menginspirasi transformasi spiritual dan keterlibatan mendalam dengan Kitab Suci. Hasil ini menyoroti potensi khotbah ekspositori, baik secara langsung maupun on-line, untuk membentuk Generasi Z yang rohani dan berkontribusi aktif dalam gereja dan masyarakat.
Narasi Elia dan Nabi Baal: Kritik Hermeneutik terhadap Relasi Kekuasaan dan Pluralisme Agama di 1 Raja-Raja 18
Jisman Nainggolan;
Esther Debora Soeoth
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59177/veritas.v7i2.397
This article examines the Elijah narrative in 1 Kings 18 in the context of the relationship between political power and religious pluralism, using a hermeneutic approach. Through textual analysis, the narrative highlights how religion can be used by those in power to maintain political hegemony, as well as Elijah's role as a prophetic agent who challenges corrupt authority. This study shows the relevance of the Elijah narrative in the contemporary multicultural world, where religious pluralism and the misuse of religion for political purposes are central issues. The conclusion shows that Elijah teaches the importance of faith integrity in facing pluralism and critiques the use of religion to legitimize power. This study provides theological and social insights that are relevant to the discourse on religion and politics in the modern era.AbstrakArtikel ini mengkaji narasi Elia di 1 Raja-Raja 18 dalam konteks relasi antara kekuasaan politik dan pluralisme agama, dengan pendekatan hermeneutik. Melalui analisis teks, narasi ini menyoroti bagaimana agama dapat dimanfaatkan oleh kekuasaan untuk mempertahankan hegemoni politik, serta peran Elia sebagai agen profetik yang menantang otoritas yang korup. Penelitian ini menunjukkan relevansi narasi Elia dalam dunia kontemporer yang multikultural, di mana pluralisme agama dan penyalahgunaan agama untuk tujuan politik menjadi isu sentral. Kesimpulan menunjukkan bahwa Elia mengajarkan pentingnya integritas iman dalam menghadapi pluralisme dan kritik terhadap penggunaan agama untuk legitimasi kekuasaan. Penelitian ini memberikan wawasan teologis dan sosial yang relevan untuk diskursus tentang agama dan politik di era modern.
Patriarki Dan Perempuan Dalam Alkitab: Sebuah Tinjauan Historis-Teologis Dari Kejadian Hingga Injil
Nofida Fitria Lassa;
Henky Purwanto;
Lukas Widiyanto
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.59177/veritas.v8i1.469
This study is motivated by the ongoing theological debate concerning patriarchal structures and the position of women in the Bible, which are often interpreted in an ahistorical and purely normative manner without sufficient attention to the development of divine revelation and socio-cultural contexts. The aim of this research is to examine how the concept of patriarchy and the roles of women are portrayed and progressively transformed within the biblical narrative, from the Book of Genesis to the Gospels. Employing a qualitative research design with a historical-theological approach, this study analyzes biblical texts in dialogue with the ancient cultural background and the chronological development of biblical theology. The findings indicate that the Bible does not statically endorse patriarchy; rather, it presents a progressive dynamic that leads toward the restoration of women’s dignity and roles, culminating in the attitudes and teachings of Jesus in the Gospels.Abstrak Kajian ini dilatarbelakangi oleh perdebatan teologis yang terus berlangsung mengenai relasi patriarki dan posisi perempuan dalam Alkitab, yang kerap dipahami secara ahistoris dan normatif tanpa memperhatikan perkembangan wahyu dan konteks sosial-budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri bagaimana konsep patriarki dan peran perempuan digambarkan dan ditransformasikan dalam narasi Alkitab dari Kitab Kejadian hingga Injil. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan historis-teologis, melalui analisis teks Alkitab, latar budaya kuno, serta perkembangan teologi biblika secara kronologis. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa Alkitab tidak secara statis meneguhkan patriarki, melainkan menghadirkan dinamika progresif yang mengarah pada pemulihan martabat dan peran perempuan, yang mencapai puncaknya dalam sikap dan ajaran Yesus dalam Injil.