cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 216 Documents
Mendorong Pertumbuhan Gereja dengan Merevitalisasi Jemaat Menjadi Penuai Samuel Hutabarat; Frans H.M. Silalahi
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.372

Abstract

This article examines efforts to encourage the growth of the Church by revitalizing the congregation to become reapers in the context of Harvest Theology. In order to grow quantitatively and qualitatively, the Church must encourage the church to evangelize. Many churches struggle with problems that make them lose focus on achieving the vision and mission of the Church. To reach the stage of sending reapers, the Church should first settle internal affairs. The writing method uses a descriptive qualitative methodology with a focus on the indepth study approach and the literature study method. The result of the research is that revitalization is needed so that the Church undergoes transformation and returns to its function as a Church that reaps and makes disciples. The restored Church will move the congregation to harvest actively which produces positive growth so that it becomes a healthy and spiritually mature Church. The conclusion of the research is that Harvest Theology is an effective evangelistic method that encourages children of God to become a militant evangelist who harvest in God’s reaped fields, brings the harvest to the House of God to be discipled, and produces multiplication of souls. And in time, the disciples will be sent by the Church to harvest other unsaved souls. This process continues to roll until the growth and multiplication of the Church is achieved.AbstrakArtikel ini mengkaji upaya mendorong pertumbuhan Gereja dengan merevitalisasi jemaat untuk menjadi penuai dalam konteks Harvest Theology. Untuk dapat bertumbuh secara kuantitatif dan kualitatif, Gereja harus mendorong jemaat untuk menginjil. Banyak Gereja yang bergumul dengan berbagai masalah yang membuatnya kehilangan fokus dalam mencapai visi misi Gereja. Untuk mencapai tahap pengutusan penuai, Gereja selayaknya membenahi terlebih dahulu urusan internal. Metode penulisan menggunakan metodologi kualitatif deskriptif dengan fokus pada pendekatan indepth study dan metode studi kepustakaan. Hasil penelitian adalah revitalisasi diperlukan agar Gereja mengalami transformasi dan kembali pada fungsinya sebagai Gereja yang menuai dan memuridkan. Gereja yang telah direstorasi akan menggerakkan jemaat untuk menuai secara aktif yang menghasilkan pertumbuhan yang positif sehingga menjadi Gereja sehat dan dewasa secara rohani. Kesimpulan hasil penelitian adalah Harvest Theology merupakan metode penginjilan efektif yang mendorong setiap anak Tuhan untuk menjadi penginjil militan yang menuai ladang menguning, membawa hasil tuaian ke Rumah Tuhan untuk dimuridkan, dan menghasilkan multiplikasi jiwa. Dan pada waktunya, jiwa-jiwa yang telah dimuridkan akan diutus Gereja untuk menuai jiwa-jiwa lain yang belum diselamatkan. Hal ini menjadi suatu proses yang berjalan secara berkesinambungan hingga tercapai pertumbuhan dan multiplikasi Gereja.
Kajian Teologis tentang Praktik Brokohan dan Pemendaman Ari-Ari dalam Tradisi Jawa Kontemporer Wiji Suko Widodo
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.452

Abstract

Traditions or customs are concepts of belief that are passed down from generation to generation, both descriptively and verbally. This article uses qualitative research analysis with a literature study approach that aims to reveal and critique the extent to which the traditions of Brokohan after childbirth and the burial of the placenta after delivery or childbirth are still widely practiced in Javanese culture, including among Christian families who have accepted Christ's salvation as the basis of their faith. even practiced by Christian clergy. Data collection techniques included observations and interviews with 20 heads of families who had undergone the Brokohan and Ari-ari burial ceremonies, as well as a literature study of journals and books on Javanese culture. In practice, there are several shifts in meaning and purpose that are influenced by cultural, social, and personal conditions. From a Christian perspective, this tradition is seen as a human endeavor that, through its philosophy, provides teachings that must be passed down from generation to generation but are not in accordance with the teachings of Christ (Colossians 2:8).AbstrakTradisi atau kebiasaan merupakan suatu konsep kepercayaan yang diwariskan secara turun temurun, baik secara diskripsi maupun verbal. Artikel ini  menggunakan Penelitian kualitatif analisis dengan  pendekatan studi literatur yang bertujuan mengungkap dan mengkritisi sejauh mana tradisi Brokohan pasca melahirkan dan pemendaman Ari-ari pasca persalinan atau melahirkan pada budaya Jawa yang masih banyak dilakukan dimasyarakat jawa, juga termasuk keluarga Kristen yang telah menerima keselamatan Kristus yang menjadi pokok imannya, bahkan dijalani pula oleh tokoh rohaniawan keluarga Kristen. Tehnik pengambilan data dari hasil observasi wawancara dari 20 Kepala Keluarga yang telah menjalani upacara Brokohan dan Pemendaman Ari-ari dan studi pustaka dari jurnal dan buku-buku budaya jawa. Dan didalam pelaksanaanya ada beberapa pergeseran makna serta tujuan yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh kondisi kultural, sosial dan pribadi. Dari sudut pandang Kristen memberikan sebuah gambaran bagaimana tradisi ini merupakan usaha manusia yang dengan filsafatnya memberikan pengajaran yang harus dijalankan secara turun temurun tetapi tidak menurut atau sesuai dengan pengajaran Kristus (Kolose 2:8).
Dampak Game Online terhadap Kecerdasan Spiritual Anak Pelajar Kristen: Perspektif Pendidikan Kristen Kontemporer Siswanto Siswanto; Yonatan Alex Arifianto; Nining Indriana
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.346

Abstract

Dalam era digital, secara khusus game online telah menjadi bagian integral dari kehidupan generasi dewasa ini, termasuk anak pelajar Kristen. Penggunaan game online ini memunculkan perhatian mengenai dampaknya terhadap kecerdasan spiritual anak. Penelitian ini didasarkan pada kebutuhan untuk mengkaji bagaimana game online memengaruhi pembentukan karakter, nilai moral, dan perkembangan kecerdasan spiritual peserta didik Kristen. Pendidikan Kristen, yang menekankan pembentukan iman dan moralitas, menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan teknologi digital secara positif. Oleh karena itu, penting untuk memahami sejauh mana game online dapat berperan dalam mendukung atau menghambat perkembangan kecerdasan spiritual dalam pendidikan agama. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dampak positif dan negatif dari game online terhadap kecerdasan spiritual anak pelajar Kristen, serta untuk memberikan wawasan tentang bagaimana game online dapat diintegrasikan dalam konteks pendidikan Kristen kontemporer. Menggunakan metode  kualitatif deskritif dengan pendekatan sstudi literature dengan menganalisis literatur dan sumber-sumber ilmiah yang relevan mengenai pengaruh game online terhadap perkembangan moral dan spiritual anak dalam konteks pendidikan Kristen. Maka didapat kesimpulannya, kekristenan harus dapat memahami bahwa peran Kecerdasan Spritual dalam diri Anak didik Kristen perlu diperhatikan dan ternyata ada pengaruh game online terhadap kecerdasan spiritual anak pelajar kristen. selanjutnya kekristenan berani memberikan implikasi kedalam pendidikan Kristen kontemporer dalam menghadapi penggunaan game online. Oleh karena itu, pendidikan Kristen perlu lebih adaptif dalam memanfaatkan teknologi digital, dengan tetap menjaga nilai-nilai iman yang fundamental dalam pembentukan karakter dan kecerdasan spiritual anak.
Baptisan Roh Kudus yang Alkitabiah: Upaya Menjawab Perbedaan Pendapat di Kalangan Denominasi Gereja Daniel Setiawan Giamulia; Sugiono Sugiono
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.310

Abstract

The aim of writing in this scientific journal is to obtain a comprehensive picture of the Biblical baptism of the Holy Spirit.  The term baptism in the Holy Spirit is not a new term for churches, especially for Pentecostal churches.  Understandings of the teachings of the baptism of the Holy Spirit are very diverse.  Each church has a different dogma.  This resulted in quite a lot of division among believers.  These differences in views and opinions became the impetus for the author to investigate the Bible data regarding Spirit baptism.  The research method used is descriptive qualitative with a literature study approach and inductive interpretation. The result obtained is that the baptism of the Holy Spirit has the meaning of entering believers into the Body of Christ. Jesus Christ who baptized the Holy Spirit. There are two ways in which the baptism of the Holy Spirit occurs, namely without the laying on of hands and with the laying on of hands.  The result of the baptism in the Holy Spirit is receiving the gift of the Holy Spirit, becoming a member of the Body of Christ and becoming one in the death, burial and resurrection of Christ.AbstrakTujuan penulisan dalam jurnal ilmiah ini ialah bermaksud untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif mengenai baptisan Roh Kudus yang Alkitabiah.  Istilah baptisan Roh Kudus bukan merupakan istilah yang baru bagi Gereja-gereja khususnya bagi Gereja beraliran Pentakosta.  Pemahaman tentang ajaran baptisan Roh Kudus begitu beragam.  Setiap gereja memiliki dogma yang berbeda.  Hal ini mengakibatkan cukup banyak perpecahan di antara orang-orang percaya.  Perbedaan pandangan dan pendapat tersebut menjadi dorongan untuk penulis menyelidiki data-data Alkitab mengenai baptisan Roh.  Metode penelitian yang dipakai adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka dan Tafsiran Induktif. Hasil yang diperoleh ialah Baptisan Roh Kudus memiliki pengertian yakni memasukkan orang percaya kedalam Tubuh Kristus. Yesus Kristus yang membaptis Roh Kudus. Cara terjadinya baptisan Roh Kudus ada dua yaitu tanpa penumpangan tangan dan dengan penumpangan tangan.  Akibat dari baptisan Roh Kudus menerima karunia Roh Kudus, menja dianggota Tubuh Kristus dan menjadi satu dalam kematian, penguburan dan kebangkitan Kristus.
Rekonsiliasi dalam Perspektif Teologi Kristen: Hukuman atau Pertobatan, Mengingat atau Melupakan Christian Roy Panggabean; Ruth Sopiana Sianturi; Carel Hot Asi Siburian
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.291

Abstract

Reconciliation will always be the ultimate goal of a problem. At least that is what is often said when a conflict arises. But in practice, reconciliation is not that easy. This article will show that reconciliation may indeed be the ultimate goal of a problem, but the process towards reconciliation is not easy. At least elements of punishment or repentance and remembering or forgetting are present in the process. It is not uncommon for people to choose to go straight to reconciliation without going through the four elements mentioned above. The main focus is on the argument that reconciliation is the culmination of remembrance and forgiveness, even if the path is not the same. It is therefore necessary to clarify the reasons why the process of reconciliation is so difficult and, in some cases, unnecessary. This article offers two paths to reconciliation: through punishment or repentance. We also try to analyze what might happen during the process. Thus we can see how complex the interrelationship between the processes of remembrance, forgiveness, and reconciliation is.AbstrakRekonsiliasi akan selalu menjadi tujuan akhir dari sebuah permasalahan. Paling tidak hal tersebut yang sering kali disampaikan ketika muncul sebuah konflik. Namun dalam praktiknya, rekonsiliasi ternyata tidak semudah itu. Artikel ini akan menunjukkan bahwa rekonsiliasi mungkin memang merupakan tujuan akhir dari sebuah permasalahan, namun proses menuju rekonsiliasi tersebut tidaklah mudah. Setidaknya elemen mengenai hukuman atau pertobatan dan mengingat atau melupakan hadir dalam proses menuju tahapan rekonsiliasi tersebut. Bahkan tidak jarang seseorang memilih untuk langsung menuju tahapan rekonsiliasi tanpa melalui keempat elemen yang disebut di atas. Fokus utamanya terletak pada argumen bahwa rekonsiliasi merupakan puncak dari ingatan dan pengampunan, meskipun jalan yang dilalui tidak satu. Sebab itu dibutuhkan kejelasan alasan mengapa proses rekonsiliasi itu sangat menyulitkan, bahkan dalam beberapa kasus, dirasa tidak dibutuhkan. Artikel ini menawarkan dua jalan menuju proses rekonsiliasi yaitu melalui hukuman atau melalui pertobatan. Kami juga mencoba menganalisis hal-hal apa saja yang mungkin terjadi selama menuju proses tersebut. Dengan demikian kita dapat melihat betapa kompleksnya keterkaitan antara proses mengingat, pengampunan, dan rekonsiliasi.
Kristologi dalam Pentatuk sebagai Dasar Pengetauan tentang Trinitas dan Inkarnasi Puji Swismanto
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.401

Abstract

The purpose of this research is to find the Christology written in the Torah in accordance with the words of Jesus written in the Gospel of Luke 24:44-45 about Jesus which is useful for adding insight into knowledge about Christology by describing in a qualitative description sourced from the Torah as the object of research. The discussion begins by correlating Jesus' words about Himself written in the Gospel of Luke 24:44-45 with what is written in the Torah, as a basis for proving the existence of Christology in the Torah. The results found that Jesus was the Spirit of God who incarnated into a human who gave life again after humans fell into sin and were expelled from the garden of Eden. Eden is opened again and the tree of life can be accepted by humans who believe in Jesus, which is caused because humans have fallen into sin.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kristologi dalam kitab Taurat berdasarkan perkataan Yesus dalam Lukas 24:44-45, tetang diri Yesus yang berguna untuk menanbah wawasan pengetahuan tentang Kristologi yang sampai saat ini menadi polemik dengan cara mendiskripsikan secara deskripsi kualitatif yang bersumber dari kitab Taurat sebagai obyek penelitihan. Pembahasan diawali dengan menkorelasikan perkataan Yesus tentang diriNya yang tertulis dalam kitab Injil Lukas 24:44-45 dengan apa yang tertulis dalam Taurat, sebagai dasar untuk membuktikan adanya Kritologi yang ada dalam kitab Taurat.  Hasil yang ditemukan bahwa Yesus adalah Roh Allah yang berinkarnasi menjadi manusia yang memberikan kehidupan kembali setelah manusia jatuh dalam dosa dan terusir dari taman Eden. Eden terbuka kembali dan pohon kehidupan dapat diterima oleh manusia yang percaya kepada Yesus, yang diakibatkan karena manusia telah jatuh dalam dosa.