cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 230 Documents
Konstruksi Patriotisme Anak Berdasarkan Yeremia 29:7: Studi Kasus pada Siswa Kristen Kelas 3–6 di Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga Gersom Kurniawan; Ruwi Hastuti; Ribut Agung Sutrisno
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.407

Abstract

This study aims to construct the understanding and practice of patriotism among Christian children based on Jeremiah 29:7, which emphasizes the importance of seeking and praying for the welfare of the city. Using a qualitative case study approach, the research involved Christian students in grades 3–6 and Christian Religious Education teachers in Tingkir District, Salatiga City, selected purposively. The results show that students’ understanding of patriotism is beginning to develop, marked by love for the homeland, respect for national symbols, and pride in being Indonesian citizens. The implementation of these values is reflected in concrete activities such as flag ceremonies, maintaining cleanliness, living in harmony, and praying for the nation. Teachers play an active role in integrating these values into Christian Religious Education using a contextual faith-based approach. The novelty of this study lies in the integration of patriotism with the theological foundation of Jeremiah 29:7, which highlights the spirituality of prayer and children’s involvement in the nation’s welfare, as well as its application in Christian religious education at the elementary school level through a contextual faith-based approach. In conclusion, children’s patriotism can be meaningfully nurtured through the integration of spiritual and national values in Christian education.AbstrakPenelitian ini bertujuan mengkonstruksi pemahaman dan praktik patriotisme anak Kristen berdasarkan Yeremia 29:7, yang menekankan pentingnya mengusahakan dan mendoakan kesejahteraan kota. Menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, penelitian melibatkan siswa Kristen kelas 3–6 dan guru PAK di Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, yang dipilih secara purposive. Hasil menunjukkan bahwa pemahaman siswa tentang patriotisme mulai terbentuk, ditandai dengan rasa cinta tanah air, menghormati simbol negara, dan bangga menjadi warga Indonesia. Implementasi nilai ini tampak melalui kegiatan nyata seperti upacara bendera, menjaga kebersihan, hidup rukun, dan doa untuk bangsa. Guru berperan aktif mengintegrasikan nilai-nilai ini dalam pembelajaran PAK dengan pendekatan kontekstual berbasis iman. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi nilai patriotisme dengan dasar teologis Yeremia 29:7, yang menekankan spiritualitas doa dan keterlibatan anak dalam kesejahteraan bangsa, serta penerapannya pada pendidikan agama Kristen di tingkat sekolah dasar dengan pendekatan kontekstual berbasis iman. Kesimpulannya, patriotisme anak dapat ditumbuhkan secara bermakna melalui integrasi nilai spiritual dan kebangsaan dalam pendidikan agama Kristen.
Penebusan dan Panggilan Berbuat Baik: Studi Eksegesis terhadap Titus 2:14 Mikael Mau
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.379

Abstract

This study aims to examine the concept of redemption in Titus 2:14 and explain the close relationship between redemption and good works, as well as its implications for the life of the church today. The concept of redemption in the New Testament, especially in Paul's letter to Titus, not only refers to liberation from the power of sin, but also includes the call to live in holiness and do good deeds as the identity of the redeemed. This research uses a qualitative method with an exegetical approach to analyse the text of Titus 2:14. The exegesis results show that redemption by Christ aims to form a people who are not only released from evil, but also purified and motivated to do good. The relevance for the church today lies in the importance of understanding that true salvation must be accompanied by real life transformation. The church is called to affirm its identity as God's people who are active in good works, and respond to theological and social challenges with the witness of holy and relevant lives. This research confirms that faith and good works are two things that cannot be separated in the lives of believers as evidence of Christ's redemptive work.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep penebusan dalam Titus 2:14 dan menjelaskan hubungan erat antara penebusan dan perbuatan baik, serta implikasinya bagi kehidupan gereja masa kini. Konsep penebusan dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam surat Paulus kepada Titus, tidak hanya menunjuk pada pembebasan dari kuasa dosa, tetapi juga mencakup panggilan untuk hidup dalam kekudusan dan melakukan perbuatan baik sebagai identitas umat tebusan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksegetis untuk menganalisis teks Titus 2:14. Hasil eksegesis menunjukkan bahwa penebusan oleh Kristus bertujuan membentuk umat yang bukan hanya dilepaskan dari kejahatan, tetapi juga dimurnikan dan dimotivasi untuk berbuat baik. Relevansi bagi gereja masa kini terletak pada pentingnya memahami bahwa keselamatan yang sejati harus disertai dengan transformasi hidup yang nyata. Gereja dipanggil untuk menegaskan identitas sebagai umat milik Allah yang giat dalam perbuatan baik, serta menanggapi tantangan teologis dan sosial dengan kesaksian hidup yang kudus dan relevan. Penelitian ini menegaskan bahwa iman dan perbuatan baik adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan orang percaya sebagai bukti dari karya penebusan Kristus.
Teologi Kontekstual dan Tantangan Hak Asasi Manusia dalam Masyarakat Modern dalam Persepktif Teologia Kristen Grace Gamaria Dunggio
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.461

Abstract

Christian theology faces serious challenges in responding to increasingly complex human rights issues in modern societies characterised by pluralistic values, technological developments and the dynamics of globalisation. The discourse on human rights is often understood as a product of secular thought, giving rise to conceptual tensions between theological principles and the universal normative framework that has developed in modern society. These tensions require Christian theology to engage in critical reflection in order to remain relevant, contextual, and transformative without losing its integrity of faith and doctrinal foundations. The phenomenon of structural, systemic, and covert human rights violations indicates a crisis of understanding about human dignity in contemporary social life. This study aims to analyse how contextual Christian theology can provide reflective and critical contributions in responding to human rights challenges in modern society. The research method used is a qualitative approach through literature study, which concludes that contextual theology functions as an integrative hermeneutical framework in responding to human rights issues theologically and practically. The concept of imago Dei provides a normative foundation for understanding human dignity as an inherent value that demands protection and justice. Structural and systematic human rights challenges demand critical reflection of faith on power relations and social injustice. Within this framework, the church is positioned as a moral and social agent called to carry out human rights advocacy in a contextual, transformative manner oriented towards restoring human dignity.AbstrakTeologi Kristen dihadapkan pada tantangan serius dalam merespons persoalan hak asasi manusia yang semakin kompleks di tengah masyarakat modern yang ditandai oleh pluralitas nilai, perkembangan teknologi, dan dinamika globalisasi. Diskursus hak asasi manusia sering kali dipahami sebagai produk pemikiran sekuler, sehingga memunculkan ketegangan konseptual antara prinsip-prinsip teologis dan kerangka normatif universal yang berkembang dalam masyarakat modern. Ketegangan ini menuntut teologi Kristen untuk melakukan refleksi kritis agar tetap relevan, kontekstual, dan transformatif tanpa kehilangan integritas iman dan fondasi doktrinalnya. Fenomena pelanggaran hak asasi manusia yang bersifat struktural, sistemik, dan terselubung menunjukkan adanya krisis pemahaman tentang martabat manusia dalam kehidupan sosial kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana teologi kontekstual Kristen dapat memberikan kontribusi reflektif dan kritis dalam merespons tantangan hak asasi manusia di masyarakat modern. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi pustaka, maka  dapat disimpulkan bahwa teologi kontekstual berfungsi sebagai kerangka hermeneutik yang integratif dalam merespons isu hak asasi manusia secara teologis dan praksis. Konsep imago Dei memberikan fondasi normatif bagi pemahaman martabat manusia sebagai nilai inheren yang menuntut perlindungan dan keadilan. Tantangan hak asasi manusia yang bersifat struktural dan sistematis menuntut refleksi iman yang kritis terhadap relasi kuasa dan ketidakadilan sosial. Dalam kerangka tersebut, gereja diposisikan sebagai agen moral dan sosial yang terpanggil menjalankan advokasi hak asasi manusia secara kontekstual, transformatif, dan berorientasi pada pemulihan martabat manusia.
Kajian Baptisan Air Dalam Sejarah Alkitab Dan Implikasinya Bagi Gereja Masa Kini Benny Andreson Situmorang; Dina Br Sembiring
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.367

Abstract

For Christians, water baptism is one of the most important doctrines and is a commandment written in the great commission. Therefore, it is very important to be known, understood, comprehended and respected by every believer. However, in reality, Christians often have different opinions and understandings about this. Some are of the view that the baptism of the Spirit and water baptism are the same, some sharpen the differences in terms of the method of baptism. In fact, water baptism has a very important meaning in the lives of Christians. So Christians should think maturely and support each other in carrying out God's commands without having to blame each other. Water baptism is not a church regulation engineered by humans. Baptism is a provision made and conveyed by the Lord Jesus. Even though in the end, people tend to view or consider baptism as a statement of belief from humans alone. Even today many Christians have lost awareness of the meaning and significance of baptism and they consider it an ordinary event. Water baptism is different from the baptism of the Holy Spirit, but the two cannot be separated. Water baptism is a very important dogma but is only a symbol or symbol of purification. Baptism outside of Christianity is different from Christian Baptism.
Inovasi Administrasi Gereja sebagai Upaya Transformasi Pelayanan di Gereja Kristen Alkitab Indonesia Kalimantan Barat Kapel Tardadi
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.442

Abstract

Effective church ministry requires innovation, particularly in the area of administration, which often poses a major obstacle to the development of ministry. Many churches, including the Indonesian Bible Christian Church (GKAI) in West Kalimantan, face challenges in administrative management due to limited resources, a lack of openness to technological developments, and a low interest in learning. This study aims to examine the importance of church administrative innovation as an effort to transform ministry so that it becomes more structured and relevant to the needs of the times. The method used is a descriptive qualitative approach with observation and documentation study. It is concluded that innovation and transformation are two complementary concepts in strengthening church ministry amid digital dynamics. Administrative innovation has proven to be a driving force for change through more structured, transparent, and efficient information management. The findings also confirm that GKAI West Kalimantan faces significant challenges in the form of limited digital literacy, uneven infrastructure, and resistance to renewal. Nevertheless, the application of modern technology-based administration has paved the way for more adaptive, inclusive, and sustainable services.AbstrakPelayanan gereja yang efektif menuntut adanya inovasi, khususnya dalam bidang administrasi yang seringkali menjadi kendala utama dalam perkembangan pelayanan. Banyak gereja, termasuk Gereja Kristen Alkitab Indonesia (GKAI) di Kalimantan Barat, menghadapi tantangan dalam penatalayanan administrasi akibat keterbatasan sumber daya, kurangnya keterbukaan terhadap perkembangan teknologi, dan rendahnya minat untuk belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pentingnya inovasi administrasi gereja sebagai upaya transformasi pelayanan agar menjadi lebih terstruktur dan relevan dengan kebutuhan zaman. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan observasi dan studi dokumentasi disimpulkan bahwa inovasi dan transformasi merupakan dua konsep yang saling melengkapi dalam memperkuat pelayanan gereja di tengah dinamika digital. Inovasi administrasi terbukti menjadi motor penggerak perubahan melalui pengelolaan informasi yang lebih terstruktur, transparan, dan efisien. Temuan juga menegaskan bahwa GKAI Kalimantan Barat menghadapi tantangan signifikan berupa keterbatasan literasi digital, infrastruktur yang belum merata, dan resistensi terhadap pembaruan. Meskipun demikian, penerapan administrasi modern berbasis teknologi mampu membuka jalan bagi pelayanan yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Konseling Pastoral sebagai Pendekatan dalam Menghadapi Stagnasi Rohani di Perkotaan. Charles Poerwanto; Juliana Hindradjat
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.335

Abstract

This research examines the application of pastoral counseling as an approach to dealing with spiritual stagnation experienced by individuals in urban areas. This phenomenon is a concern because the dynamics of modern life often cause spiritual saturation, which has an impact on mental health, emotions and social relations. The purpose of this research is to understand the causes of spiritual stagnation, explore effective pastoral counseling approaches, and evaluate their impact on counselees' recovery. This research found that pastoral counseling that integrates the principles of confidentiality, empathy, validation, normalization, and teaching spiritual skills is able to help clients identify the root of the problem and develop recovery strategies. Interventions such as reflective prayer, community involvement, and changes in routine have proven effective in strengthening clients' relationship with God and improving their holistic well-being. The results of this research are important because they show that pastoral counseling is not only relevant as a spiritual approach but also as a practical solution to support spiritual growth amidst the complexity of urban life. This strengthens the role of the church as a spiritual assistance agent capable of having a significant impact on the lives of individuals and communities in the modern era.AbstrakPenelitian ini mengkaji penerapan konseling pastoral sebagai pendekatan dalam menghadapi stagnasi rohani yang dialami individu di wilayah perkotaan. Fenomena ini menjadi perhatian karena dinamika kehidupan modern sering kali menyebabkan kejenuhan spiritual, yang berdampak pada kesehatan mental, emosional, dan relasi sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami penyebab stagnasi rohani, mengeksplorasi pendekatan konseling pastoral yang efektif, serta mengevaluasi dampaknya terhadap pemulihan konseli. Penelitian ini menemukan bahwa konseling pastoral yang mengintegrasikan prinsip kerahasiaan, empati, validasi, normalisasi, dan pengajaran keterampilan spiritual mampu membantu konseli mengidentifikasi akar masalah dan mengembangkan strategi pemulihan. Intervensi seperti doa reflektif, keterlibatan komunitas, dan perubahan rutinitas terbukti efektif dalam memperkuat hubungan konseli dengan Tuhan dan meningkatkan kesejahteraan mereka secara holistik. Hasil penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa konseling pastoral tidak hanya relevan sebagai pendekatan spiritual tetapi juga sebagai solusi praktis untuk mendukung pertumbuhan rohani di tengah kompleksitas kehidupan perkotaan. Hal ini memperkuat peran gereja sebagai agen pendampingan spiritual yang mampu memberikan dampak signifikan dalam kehidupan individu dan komunitas di era modern.
Kajian Sosio-Feminis terhadap Peran GMIT Syalom Oinlasi Barat Mengatasi Kekerasan Perempuan dalam Praktik Adat Sifon Masyarakat Dawan Titania Madelein Litelnoni; Astrid Bonik Lusi; Mariska Lauterboom
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.406

Abstract

This study examines the traditional practice of sifon in the Dawan community as a form of symbolic and structural violence against women. Sifon is a traditional post-circumcision practice (village) carried out by men involving women as healing media. In this practice, women are positioned not as dignified subjects, but as objects that can be accessed, paid for, and then forgotten. This tradition is legitimized by traditional symbols and passed down from generation to generation, making it difficult to openly question within society or the church in particular. This research approach is descriptive qualitative with in-depth interviews and literature studies, then analyzed using three theoretical perspectives based on socio-feminist studies, namely: Marianne Katoppo's Asian feminist theology, Gustavo Gutiérrez's liberation theology, and Peter L. Berger's sociology. The research findings indicate that the traditional practice of sifon has excluded women from their rights as spiritual and social subjects. Women's bodies are reduced to instruments of male healing, while also becoming an arena for conflict between cultural power, morality, and Christian faith. These findings demonstrate that the church theologically rejects the traditional practice of sifon, but has yet to voice its rejection collectively and transformatively. In conclusion, the practice of sifon is a form of cultural and spiritual violence that must be reexamined through the lens of gender justice and faith liberation. The church has the potential to be an agent of social transformation, actively defending women's dignity and challenging oppressive customary structures.AbstrakPenelitian ini mengkaji praktik adat sifon pada masyarakat Dawan sebagai bentuk kekerasan simbolik dan struktural terhadap perempuan. Sifon adalah praktik pasca-sunat tradisional (kampung) yang dilakukan oleh laki-laki dengan melibatkan perempuan sebagai media penyembuhan. Dalam praktik ini, perempuan diposisikan tidak sebagai subjek bermartabat, melainkan sebagai objek yang dapat diakses, dibayar, dan dilupakan. Tradisi ini dilegitimasi oleh simbol-simbol adat dan diwariskan turun-temurun sehingga sulit dipersoalkan secara terbuka dalam masyarakat maupun gereja. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam dan studi literatur, lalu dianalisis menggunakan tiga perspektif teori berdasarkan kajian sosio-feminis yaitu: teologi feminis Asia Marianne Katoppo, teologi pembebasan Gustavo Gutiérrez, dan sosiologi Peter L. Berger. Temuan penelitian menunjukkan praktik adat sifon telah menyingkirkan perempuan dari haknya sebagai subjek spiritual dan sosial. Tubuh perempuan direduksi menjadi alat penyembuhan laki-laki, sekaligus arena konflik antara kekuasaan budaya, moralitas, dan iman Kristen. Temuan ini memperlihatkan gereja secara teologis menolak praktik adat sifon, namun belum menyuarakan penolakannya secara kolektif dan transformatif. Kesimpulannya, praktik sifon merupakan bentuk kekerasan kultural dan spiritual yang harus ditinjau ulang melalui lensa keadilan gender dan pembebasan iman. Gereja memiliki potensi sebagai agen transformasi sosial yang harus aktif membela martabat perempuan dan menantang struktur adat yang menindas.
Pendekatan Teologi Praktis untuk Misi Gereja Era Digital, sebagai Strategi Transformasi Inovatif Menghadapi Tantangan Global Hanniel Jehoshua van der Krogt
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.468

Abstract

The development of digital technology has changed the landscape of communication and social interaction, creating new challenges for the church in carrying out its Great Commission and spirituality. The church is required to adapt its pastoral practices, evangelism, and congregational development to the digital context without compromising theological values and integrity of faith. However, many churches still face difficulties in formulating effective mission strategies amid global complexity and cultural plurality. This phenomenon can be seen in the limitations of churches in maximising the use of digital media to build active and inclusive faith communities. This study aims to formulate a practical theological approach that can be used as an innovative transformation strategy for the digital church mission. The research method used is qualitative with a literature study, and it can be concluded that a digital mission based on contextual practical theology is a strategic means for the church to present the Gospel in a relevant way amid technological and digital cultural developments. Through innovative transformation strategies, the church can respond to the global challenges of digital mission with an inclusive, ethical, and sustainable approach. Practical implementation and a planned digital mission management model enable church ministry to remain faithful to its calling while being adaptive to the changing times.AbstrakPerkembangan teknologi digital telah mengubah lanskap komunikasi dan interaksi sosial, sehingga menimbulkan tantangan baru bagi gereja dalam menjalankan misi Amanat Agung dan spiritualitasnya. Gereja dituntut untuk menyesuaikan praktik pastoral, penginjilan, dan pembinaan jemaat dengan konteks digital tanpa mengorbankan nilai-nilai teologis dan integritas iman. Namun, banyak gereja masih menghadapi kesulitan dalam merumuskan strategi misi yang efektif di tengah kompleksitas global dan pluralitas budaya. Fenomena ini terlihat dari keterbatasan gereja dalam memanfaatkan media digital secara maksimal untuk membangun komunitas iman yang aktif dan inklusif. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan pendekatan teologi praktis yang dapat dijadikan strategi transformasi inovatif bagi misi gereja digital. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa misi digital berlandaskan teologi praktis yang kontekstual menjadi sarana strategis bagi gereja untuk menghadirkan Injil secara relevan di tengah perkembangan teknologi dan budaya digital. Melalui strategi transformasi inovatif, gereja dapat menjawab tantangan global misi digital dengan pendekatan yang inklusif, etis, dan berkelanjutan. Implementasi praktis serta model pengelolaan misi digital yang terencana memungkinkan pelayanan gereja tetap setia pada panggilan iman sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman.
Implementasi Pengajaran Kristologi bagi Anak di Keluarga Tri Untoro; Monaati Zebua
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.358

Abstract

The issue addressed in this study is the limited understanding of Christology among children due to the complexity of theological concepts, the lack of interactive teaching approaches, and insufficient support from the learning environment. This research aims to explore the role of families in teaching Christology to children and to formulate effective strategies to enhance their understanding of Christ's teachings. The study employs a qualitative method with structured interviews and participatory observation involving 20 children aged 6-12 years from Christian families. Data were analyzed using content analysis techniques to delve into the experiences and perspectives of children regarding Christology learning within the family environment. The results reveal that parents play a vital role in fostering children's understanding of Christology. Contextual approaches, such as simple analogies, Bible stories, and family worship, effectively simplify theological concepts. Active parental involvement and family discussions create a supportive environment for Christology teaching. Effective Christology teaching requires relevant, interactive, and practical approaches to enable children to internalize Christ's teachings. The family’s role is crucial, supported by the church in providing appropriate resources and approaches.AbstrakPermasalahan dalam penelitian ini adalah rendahnya pemahaman anak-anak tentang Kristologi akibat kompleksitas konsep teologi, kurangnya pendekatan pengajaran yang interaktif, dan minimnya dukungan lingkungan belajar yang mendukung. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran keluarga dalam pengajaran Kristologi anak-anak serta merumuskan strategi efektif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap ajaran Kristus. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan wawancara terstruktur dan observasi partisipatif terhadap 20 anak berusia 6-12 tahun dari keluarga Kristen. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi untuk mendalami pengalaman dan pandangan anak-anak terkait pembelajaran Kristologi di lingkungan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orangtua berperan vital dalam membangun pemahaman Kristologi anak. Pendekatan kontekstual, seperti analogi sederhana, cerita Alkitab, dan ibadah bersama, efektif menyederhanakan konsep teologi. Keterlibatan aktif orangtua dan diskusi keluarga mendukung pengajaran Kristologi. Pengajaran Kristologi yang efektif membutuhkan pendekatan relevan, interaktif, dan aplikatif agar anak-anak dapat menginternalisasi ajaran Kristus. Peran keluarga sangat penting, didukung oleh gereja dalam menyediakan sumber daya dan pendekatan yang sesuai.
Peran Gembala dalam Kepemimpinan Gereja Ekoteologis: Studi Biblikal Kritis terhadap Mandat Ciptaan Yohanes Praprowarso; Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.451

Abstract

The global ecological crisis, with its numerous natural disasters caused by human actions and policies, challenges the church to re-examine its theological role and responsibility towards God's creation. Church leadership, which has tended to be anthropocentric, has often failed to integrate the mandate of creation as an ethical and theological basis in pastoral practice. As a result, the role of the pastor as a spiritual leader has not been fully understood as that of a steward of creation who is ecologically responsible. The phenomenon of increasing discourse and practice of eco-theology in contemporary churches indicates a new awareness, but this has not been balanced with critical biblical reflection that places the pastor as the main actor of eco-theological leadership. This article aims to analyse the mandate of creation biblically and theologically and to formulate the role of the pastor as a church leader responsible for the sustainability of the relationship between God, humanity, and creation. It uses a qualitative method with a literature study and biblical analysis approach. It can be concluded that based on the mandate of creation, church leadership is understood biblically as an eco-theological calling that places the stewardship of creation as an integral part of pastoral responsibility. Pastors, in a biblical perspective, are positioned as leaders who integrate theology and pastoral praxis to guide the congregation in building right relationships with God, others, and nature. Thus, eco-theological church leadership has significant theological and pastoral implications for the contemporary church in responding to the environmental crisis in a faithful and responsible manner.AbstrakKrisis ekologis global dengan banyaknya bencana alam akibat ulah manusia dan kebijakannya menantang gereja untuk meninjau kembali peran dan tanggung jawab teologisnya terhadap ciptaan Tuhan. Kepemimpinan gereja yang selama ini cenderung berorientasi antroposentris sering kali belum mengintegrasikan mandat penciptaan sebagai dasar etis dan teologis dalam praksis penggembalaan. Akibatnya, peran gembala sebagai pemimpin rohani belum sepenuhnya dimaknai sebagai penatalayan ciptaan yang bertanggung jawab secara ekologis. Fenomena meningkatnya wacana dan praksis ekoteologi dalam gereja kontemporer menunjukkan adanya kesadaran baru, namun belum diimbangi dengan refleksi biblikal kritis yang menempatkan gembala sebagai aktor utama kepemimpinan ekoteologis. Artikel ini bertujuan menganalisis mandat penciptaan secara biblikal-teologis dan merumuskan peran gembala sebagai pemimpin gereja yang bertanggung jawab terhadap keberlanjutan relasi antara Allah, manusia, dan alam ciptaan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literature dan analisis  biblikal. Maka dapat disimpulkan bahwa berdasarkan mandat penciptaan, kepemimpinan gereja dipahami secara biblikal sebagai panggilan ekoteologis yang menempatkan pemeliharaan ciptaan sebagai bagian integral dari tanggung jawab pastoral. Gembala, dalam perspektif biblikal, diposisikan sebagai pemimpin yang mengintegrasikan teologi dan praksis pastoral untuk membimbing jemaat membangun relasi yang benar dengan Allah, sesama, dan alam. Dengan demikian, kepemimpinan gereja ekoteologis memiliki implikasi teologis dan pastoral yang signifikan bagi gereja kontemporer dalam merespons krisis lingkungan secara beriman dan bertanggung jawab.