cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 230 Documents
Relevansi Konsep Imago Dei terhadap Tanggung Jawab Ekologis di Era Teknologi Digital Deon Nehemia Paath; Andreas Nugroho; Yosef Antonius
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.460

Abstract

This article aims to analyze the relevance of the concept of Imago Dei as a theological foundation for ecological responsibility in the context of the development of digital technology. This study employs a library research method by examining biblical texts and relevant theological literature. The discussion is situated within the context of a global ecological crisis that has been increasingly exacerbated by the impact of digital technology, particularly through rising energy consumption and the accumulation of electronic waste. The findings indicate that the concept of Imago Dei must be understood holistically through substantial, relational, and functional approaches. Such a holistic understanding affirms humanity’s position as responsible stewards of creation before God, rather than as subjects of anthropocentric domination over nature. In the digital era, the concept of Imago Dei functions as an ethical–theological framework that guides the responsible and sustainable use of technology in the care and preservation of creation.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk menganalisis relevansi konsep Imago Dei sebagai landasan teologis bagi tanggung jawab ekologis dalam konteks perkembangan teknologi digital. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan menelaah teks-teks Alkitab serta literatur teologi yang relevan. Kajian ini ditempatkan dalam konteks krisis ekologis global yang semakin diperburuk oleh dampak teknologi digital, antara lain melalui peningkatan konsumsi energi dan akumulasi limbah elektronik. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep Imago Dei perlu dipahami secara holistik melalui pendekatan substansial, relasional, dan fungsional. Pemahaman holistik ini menegaskan posisi manusia sebagai penatalayan ciptaan yang bertanggung jawab di hadapan Allah, bukan sebagai subjek dominasi antroposentris atas alam. Dalam konteks era digital, konsep Imago Dei berfungsi sebagai kerangka etis-teologis yang menuntun penggunaan teknologi secara bertanggung jawab, berorientasi pada keberlanjutan, serta pemeliharaan ciptaan.
Humor Dalam Injil: Tantangan Dan Kendala Yang Dihadapi Masyarakat Berdasarkan Kuisioner Edi Zakarijah; Yohanes Kariyanto
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.356

Abstract

Alkitab sering dianggap sebagai literatur suci yang membutuhkan pemahaman yang mendalam, elemen humor dalam Injil sering kali diabaikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari lebih lanjut masalah yang ada dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang menggunakan pendekatan penyebaran kuesioner. 38 orang yang menjawab kuesioner berasal dari berbagai provinsi dan sinode di Indonesia. Studi ini menemukan beberapa komponen yang memengaruhi kemampuan pembaca untuk memahami komedi dalam Injil. Temuan utama menunjukkan bahwa pengenalan humor dalam teks dipengaruhi oleh keterbatasan memori, bahasa, budaya, dan keputusan redaksional dan penerjemahan. Selain itu, ditemukan bahwa kemampuan untuk berimajinasi, sikap bebas dari rasa bersalah, dan selera humor yang baik adalah faktor penting dalam memahami humor dalam Injil. Selain itu, kualitas redaksional dan penerjemahan juga sangat penting untuk menjaga humor tetap ada.
Pendekatan Alkitabiah Dan Psikologis Pada Individu Terindikasi Fopo Di Indonesia Fatou Osa Labagu; Maria Patricia Tjasmadi; Agung Waluyo Samadi; Rudy Tony; Ricky S Banamtuan
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.331

Abstract

Fear of People's Opinion (FOPO) is a common anxiety in the digital age, where fear of others’ judgment can lead to indecision, fear, and counterproductive behaviors. Many Indonesian adolescents are unaware of FOPO’s signs and impacts, making them unable to engage in self-healing. James 1:6-8 highlights that doubt and instability hinder God’s blessings, emphasizing the need for firm faith and trust in Him. This study, using library research, combines psychological analysis and scriptural insights to outline self-healing steps for adolescents experiencing FOPO. The findings suggest three key actions: developing a healthy self-image aligned with God’s purpose, growing within a constructive and supportive community, and trusting in the unconditional love of God the Father. These steps help adolescents overcome FOPO, fostering confidence and emotional stability grounded in faith and positive relationships.AbstrakKecemasan manusia di era digital adalah opini orang lain terhadap dirinya, disebut Fear of People’s Opinion (FOPO). Jika hal itu tidak ditangani dengan benar menimbulkan gangguan berupa keragu-raguan, ketakutan dan kesulitan mengambil keputusan serta dampak destruktif lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kecemasan yang disebabkan oleh ketakutan terhadap opini orang lain (FOPO) berpotensi mengganggu kehidupan seseorang, serta menawarkan solusi praktis menggunakan pendekatan Alkitabiah dalam rangka self-healing. Yakobus 1 : 6-8 menekankan bahwa kebimbangan dan keraguan adalah hambatan menerima jawaban Tuhan, Tuhan menghendaki kepercayaan yang penuh kepada-Nya. Pentingnya iman tanpa keraguan dalam meminta sesuatu kepada Allah. Orang yang bimbang digambarkan sebagai tidak stabil, seperti gelombang laut dan karena itu sulit menerima berkat dari Tuhan. Tujuan penelitian ini memberikan langkah-langkah self-healing Alkitabiah. Metode penelitian yang digunakan adalah library research dengan pendekatan telaah berbagai sumber pustaka. Peneliti melakukan analisis psikologis dan telaah kebenaran Firman untuk mendapatkan langkah-langkah self healing pada individu terindikasi FOPO. Perlunya seseorang mendapatkan gambar diri yang sehat sesuai rencana Allah, bertumbuh dalam komunitas konstruktif dan keyakinan akan kasih dan penerimaan kasih Bapa menjadi langkah-langkah kunci bagi tindakan self healing.
Interkoneksi Teologia Doa Virtual dan Kepemimpinan Transformatif Gereja dalam Misi Digital Global Irma Ompusunggu; Andreas Nugroho; Kornelius Rulli Jonathans
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.441

Abstract

The interconnection between virtual prayer theology, transformative church leadership, and global digital mission is an important issue in the context of technological developments that continue to change the landscape of church ministry. The emergence of virtual prayer practices through various digital platforms has raised new theological questions about divine presence, spiritual participation, and the authenticity of the spiritual experience of the congregation. At the same time, the Church requires transformative leadership that is capable of adapting to digital changes, building a relevant vision, and facilitating the spiritual transformation of the congregation. The interconnection between virtual prayer theology and transformative leadership is an important basis for strengthening the global digital mission, especially in expanding cross-cultural and geographical ministry. This study aims to integrate these three dimensions into a comprehensive conceptual framework to assess their theological relationship and practical implications for church ministry. Using a qualitative approach through theological and leadership literature analysis, it can be concluded that the synergy between virtual prayer theology and transformative church leadership contributes significantly to effectiveness in global digital mission, enabling the church to develop digital ministry strategies rooted in Christian spirituality and the missio dei mandate. These findings emphasise the urgency of integrating theology, leadership, and digitalisation in the church's mission in the technological era.AbstrakInterkoneksi antara teologi doa virtual, kepemimpinan transformatif Gereja, dan misi digital global menjadi isu penting dalam konteks perkembangan teknologi yang terus mengubah lanskap pelayanan gereja. Munculnya praktik doa virtual melalui berbagai platform digital telah menghadirkan pertanyaan teologis baru mengenai kehadiran ilahi, partisipasi rohani, dan otentisitas pengalaman spiritual umat. Pada saat yang sama, Gereja memerlukan kepemimpinan transformatif yang mampu beradaptasi dengan perubahan digital, membangun visi yang relevan, serta memfasilitasi transformasi spiritual jemaat. Interkoneksi antara teologi doa virtual dan kepemimpinan transformatif menjadi dasar penting bagi penguatan misi digital global, terutama dalam memperluas pelayanan lintas budaya dan geografis. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan ketiga dimensi tersebut ke dalam kerangka konseptual yang komprehensif guna menilai hubungan teologis dan implikasi praktisnya bagi pelayanan gereja. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis literatur teologis dan kepemimpinan, maka dapat disimpulkan bahwa sinergi antara teologi doa virtual dan kepemimpinan transformatif gereja berkontribusi signifikan terhadap efektivitas dalam misi digital global, sehingga gereja mampu mengembangkan strategi pelayanan digital yang berakar pada spiritualitas Kristen dan mandat missio dei. Temuan ini menegaskan urgensi integrasi teologi, kepemimpinan, dan digitalisasi dalam misi gereja di era teknologi.
Fallen Leaders dan Mereduksi Celebrity Pastor Culture dalam Perspektif Etis Teologi Astria Gempita Fau; Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.403

Abstract

The crisis of spiritual leadership marked by the moral downfall of church leaders (fallen leaders) poses a serious challenge to the spiritual integrity of the church today. This phenomenon does not stand alone but often stems from a culture of celebrity worship within church ministry that prioritises popularity over holiness. The culture of celebrity pastors has shifted the focus of ministry from Christ to the leader themselves, leading to abuse of authority, spiritual narcissism, and manipulation of the congregation. This phenomenon indicates a paradigm shift in leadership that no longer is based on Christian ethics and the spirituality of the cross. The purpose of this study is to critically examine how theological ethical perspectives can respond to and reduce the culture of celebrity in church leadership. Using a qualitative method with a literature review approach, it can be concluded that Christ-centred Leadership Theology is the antithesis of the culture of popularity that dominates current church leadership models. In this context, the culture of celebrity pastors creates an identity crisis for church leaders that can only be addressed through theological ethics and the integrity of theological education that reshapes leadership rooted in the spirituality of the cross.AbstrakKrisis kepemimpinan rohani yang ditandai oleh kejatuhan moral para pemimpin gereja (fallen leaders) merupakan tantangan serius bagi integritas spiritual gereja masa kini. Fenomena ini tidak berdiri sendiri, tetapi sering kali berakar pada budaya selebritisasi dalam pelayanan gereja yang mengagungkan popularitas lebih dari kekudusan. Budaya celebrity pastor telah menggeser orientasi pelayanan dari Kristus kepada diri pemimpin itu sendiri, yang berujung pada penyalahgunaan otoritas, narsisme spiritual, dan manipulasi jemaat. Fenomena ini mengindikasikan adanya pergeseran paradigma kepemimpinan yang tidak lagi berbasis pada etika Kristiani dan spiritualitas salib. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji secara kritis bagaimana perspektif etis teologi dapat merespons dan mereduksi budaya selebritisasi dalam kepemimpinan gereja. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka maka dapat disimpulkan bahwa Teologi Kepemimpinan Kristus merupakan antitesis terhadap budaya popularitas yang mendominasi model kepemimpinan gereja masa kini. Dalam konteks ini, budaya pastor selebriti menciptakan krisis identitas pemimpin gereja yang hanya dapat dijawab melalui etika teologis dan integritas pendidikan teologi yang membentuk ulang kepemimpinan yang berakar pada spiritualitas salib.
Menghidupi Imago Dei Di Tengah Fenomena Phubbing Dan Krisis Kehadiran Yusuf Slamet Handoko
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.467

Abstract

The development of digital technology in the post-digital era has shaped new patterns in human social and spiritual relationships. Behind the intensity of digital connectivity, a crisis of presence has emerged, marked by a decline in the quality of interpersonal communication and a diminished sensitivity to actual physical presence. One concrete expression of this presence crisis is the phenomenon of phubbing, the practice of ignoring people who are physically present in favor of attention to digital devices. This study aims to analyze phubbing as a form of relational alienation while affirming relational spirituality as a way to embody imago Dei within the framework of Christian communication theology. The study employs a qualitative method through library research with a reflective-theological approach, analyzing theological, sociological, and phenomenological literature related to communication, digitalization, and Christian spirituality. The findings indicate that phubbing is not merely an issue of communication ethics but also a manifestation of a theological crisis of presence, as it diminishes the meaning of human relationships as a reflection of imago Dei. Therefore, relational spirituality, which emphasizes tangible presence, openness, and relational responsibility, is understood as the antithesis of phubbing in the post-digital era. These findings contribute to the development of contextual Christian communication theology and have significant implications for pastoral practice and Christian education in fostering a culture of presence that truly humanizes.AbstrakPerkembangan teknologi digital dalam era post-digital telah membentuk pola baru dalam relasi sosial dan spiritual manusia. Di balik intensitas konektivitas digital, muncul krisis kehadiran yang ditandai oleh menurunnya kualitas komunikasi interpersonal serta melemahnya kepekaan terhadap kehadiran fisik yang nyata. Salah satu ekspresi konkret dari krisis kehadiran tersebut adalah fenomena phubbing, yaitu praktik mengabaikan orang yang hadir secara langsung demi perhatian pada perangkat digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis phubbing sebagai bentuk alienasi relasional sekaligus menegaskan spiritualitas relasional sebagai cara menghidupi imago Dei dalam kerangka teologi komunikasi Kristen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka dengan pendekatan reflektif-teologis, dengan menganalisis literatur teologis, sosiologis, dan fenomenologis yang berkaitan dengan komunikasi, digitalisasi, dan spiritualitas Kristen. Hasil kajian menunjukkan bahwa phubbing tidak hanya merupakan persoalan etika komunikasi, tetapi juga manifestasi krisis kehadiran yang bersifat teologis karena mereduksi makna relasi antarmanusia sebagai cerminan imago Dei. Oleh karena itu, spiritualitas relasional yang menekankan kehadiran nyata, keterbukaan, dan tanggung jawab relasional dipahami sebagai antitesis terhadap phubbing di era post-digital. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan teologi komunikasi Kristen yang kontekstual serta memiliki implikasi signifikan bagi praktik pastoral dan pendidikan Kristen dalam membangun budaya kehadiran yang memanusiakan.
Pentingnya Memahami Teologi Kontemporer Sebagai Sebuah Divisi Ilmu Teologi Frasnsius Kusmanto; Yesa Oktaviani
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.355

Abstract

Contemporary theology is the result of the critical thinking of theologians who discuss theological issues that develop today that are not relevant to what the Bible says. Contemporary theology has an important role in the academic world as a branch of knowledge that allows many people to understand various religious concepts in the context of today. In this rapid development, contemporary theology is able to help students, scholars and researchers to reflect on religious and ethical values in a modern context. The purpose of this study is to analyze the role of contemporary theology as a division within theological science and explore the academic implications in understanding the relationship between religion and science. In addition, this study also identifies the main characteristics of contemporary theology, such as its academic, empirical, non-permanent nature, as well as its approach that takes the Bible as the object of study. The novelty of this research lies in its approach that highlights contemporary theology as a discipline that is not only academic but also serves as a bridge between religion and science. The method used in this scientific work is descriptive qualitative research method. The author will describe the important parts in it by using reference materials such as books, journals, articles and other scientific papers to describe the parts of the study.AbstrakTeologi kontemporer merupakan hasil dari pemikiran kritis para teolog yang membahas mengenai isu-isu teolpgi yang berkembang pada masa kini yang tidak relevan dengan apa yang dikatakan Alkitab. Teologi kontemporer memiliki peran yang penting dalam dunia akademik sebagai cabang ilmu yang memungkinkan banyak orang untuk memahami beragam konsep agama dalam konteks zaman sekarang. Dalam perkembangan yang semakin pesat ini, teologi kontemporer mampu untuk membantu siswa, mahasiswa dan para peneliti untuk merenungkan nilai-nilai keagamaan dan etika dalam konteks modern. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran teologi kontemporer sebagai sebuah divisi dalam ilmu teologi serta mengeksplorasi implikasi akademik dalam memahami hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi karakteristik utama teologi kontemporer, seperti sifat akademik, empiris, non-permanen, serta pendekatannya yang menjadikan Alkitab sebagai objek penelitian. Kebaruan daalm penelitian ini terletak pada pendekatannya yang menyoroti teologi kontemporer sebagai disiplin ilmu yang tidak hanya bersifat akademik tetapi juga berfungsi sebagai jembatan antara agama dan ilmu pengetahuan. Metode yang digunakan dalam karya ilmiah ini ialah metode penelitian kualitatif deskriptif. Penulis akan mendeskripsikan bagian-bagian penting didalamnya dengan menggunakan bahan acuan seperti buku, jurnal, artikel maupun tulisan karya ilmiah lainnya untuk mendeskripsikan bagian-bagian penting dalam teologi kontemporer.an berdasarkan penelitian teologi kontemporer ialah sebuah divisi ilmu teologi yaitu teologi kontemporer disiplin ilmu yang memeriksa antara kepercayaan agama dengan ilmu pengetahuan.
Model Penginjilan Rasul Paulus Dalam Pelayanan Hamba Tuhan Gereja SIB Sabah, Malaysia Samson Sidi
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.450

Abstract

Evangelism is the theological mandate of the church, originating from the Great Commission and forming the core of Christian ministry throughout history. In the New Testament, particularly through the ministry of the Apostle Paul, evangelism appears as a theological, contextual, and transcultural practice of faith. However, in the context of the contemporary church, the model of evangelism is often reduced to a pragmatic approach that pays little attention to theological depth and social context sensitivity. This phenomenon is evident in the ministry of the ministers of the Sabah Borneo Gospel Church (SIB), who serve in a multi-ethnic, multilingual, and multireligious society with various social and regulatory limitations. This study aims to analyse the evangelism model of the Apostle Paul and relate it to the ministry of the ministers of the SIB Church in Sabah, Malaysia. The research method used is qualitative with a literature study approach through analysis of biblical texts and relevant missiological literature. The results of the study show that the Apostle Paul's model of evangelism is rooted in a Christocentric theological foundation, manifested through relationships, dialogue, and contextual living testimony, and inspired by a cross-centred ethos that interprets suffering as an integral part of faithfulness. This model affirms evangelism as a transformative theological practice, not merely a verbal activity. Its relevance to the ministry of SIB Sabah ministers is evident in its ability to bridge the faithfulness of the Gospel with social sensitivity, interfaith dialogue, and perseverance in ministry in the midst of a pluralistic society.AbstrakPenginjilan merupakan mandat teologis gereja yang bersumber dari Amanat Agung dan menjadi inti identitas pelayanan Kristen sepanjang sejarah. Dalam Perjanjian Baru, khususnya melalui pelayanan Rasul Paulus, penginjilan tampil sebagai praksis iman yang bersifat teologis, kontekstual, dan transkultural. Namun, dalam konteks gereja kontemporer, model penginjilan sering kali mengalami reduksi menjadi pendekatan pragmatis yang kurang memperhatikan kedalaman teologi dan sensitivitas konteks sosial. Fenomena ini terlihat dalam pelayanan hamba Tuhan Gereja Sidang Injil Borneo (SIB) Sabah yang melayani di tengah masyarakat multietnis, multibahasa, dan multireligius dengan berbagai keterbatasan sosial dan regulatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model penginjilan Rasul Paulus dan merelevansikannya bagi pelayanan hamba Tuhan Gereja SIB Sabah, Malaysia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka melalui analisis teks Alkitab dan literatur teologi misi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model penginjilan Rasul Paulus berakar pada landasan teologis yang kristosentris, diwujudkan melalui relasi, dialog, dan kesaksian hidup yang kontekstual, serta dijiwai oleh etos salib yang memaknai penderitaan sebagai bagian integral dari kesetiaan iman. Model ini menegaskan penginjilan sebagai praksis teologis yang transformatif, bukan sekadar aktivitas verbal. Relevansinya bagi pelayanan hamba Tuhan SIB Sabah tampak dalam kemampuannya menjembatani kesetiaan Injil dengan kepekaan sosial, dialog lintas iman, dan ketekunan pelayanan di tengah masyarakat majemuk.
Kontekstualisasi Injil terhadap Kepercayaan Duata Suku Bajau Herlina Sianturi; Jovita Elizabeth Abraham
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.343

Abstract

Indonesia memiliki suku Bajau dengan kemampuan maritim yang begitu luar biasa. Namun, penginjilan kepada suku Bajau ini masih 0,08%. Tulisan ini merupakan salah satu upaya awal untuk mengenal dan memahami budaya suku Bajau guna menemukan strategi pengabaran Injil yang dapat digunakan sebagai jalan masuk penginjilan kepada suku tersebut. Suku Bajau masih memegang kuat ritual nenek moyang mereka, dan salah satunya adalah ritual Duata, di mana mereka meyakini bahwa Duata adalah dewa yang turun ke bumi dan menjelma menjadi manusia. Melalui studi kualitatif terhadap literatur mengenai ritual Duata ini serta penginjilan kontekstual yang dilakukan Rasul Paulus kepada penduduk Atena, dapat diambil suatu strategi penginjilan kontekstual untuk menjangkau suku Bajau melalui kemiripan konteks antara kepercayaan Duata mereka dengan inkarnasi Allah melalui Yesus Kristus. Kepercayaan suku Bajau kepada Duata ini bisa dijadikan sebagai suatu strategi untuk menceritakan tentang Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, Yesus Kristus, demi menyelamatkan umat manusia
Dampak Berkembangnya Teologi Kontemporer Terhadap Pertumbuhan Iman Di Jemaat Gkii Antiokhia Laja Fransius Kusmanto; Melton Melton
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.313

Abstract

The Purpose of this study was to determine the impact of the development of contemporary theology on the growth of the faith of the congregation at GKII Antiokhia Laja. The GKII Antiokhia Laja congregation is one of the branches of the GKII Church in Melawi, West Kalimantan. The emergence of many theologies has led to many perceptions and paradigms in the congregation about which theology is correct. Therefore, the title of this research is The Impact of the Development Contemporary Theology on Faith Growth in the GKII Antiokhia Laja Congregation. The author in this study uses a qualitative positivist design and an approach with a non-experimental design. The references used are books, journals and articles on the internet. The result of this study is that there is a very significant impact on the development of Contemporary theology on the growth of the faith of the congregation at GKII Antiokhia Laja. The impact is divided into two, namely negative impact and positive impact. The positive impact of the development of Contemporary theology on the growth of congregational to theologize and help explain theological issues that occur in the congregation. The negatif impacts are causing misunderstandings in the congregation, hindering the growth of the congregation’s faith and changing the congregation’s view of the authority of the Bible.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak berkembangnya Teologi kontemporer bagi pertumbuhan iman Jemaat di GKII Antiokia Laja. Jemaat GKII  Antiokhia Laja adalah salah satu cabang gereja GKII  yang ada di Melawi Kalimantan Barat. Munculnya banyak Teologi menimbulkan banyak persepsi dan paradigma di dalam jemaat tentang mana Teologi yang benar. Sebab itu judul dalam penelitian ini yaitu Dampak Berkembangnya Teologi Kontemporer Terhadap Pertumbuhan Iman Di Jemaat GKII Antiokhia Laja. Penulis dalam penelitian ini menggunakan “rancangan dan ancangan positivis kualitatif dengan rancangan bukan eksperimental. Referensi-referensi yang digunakan yaitu buku, jurnal maupun artikel yang ada di dalam internet. Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa terdapat dampak yang sangat signifikan tentang berkembangnya teologi kontemporer terhadap pertumbuhan iman jemaat di GKII  Antiokhia Laja. Dampaknya terbagi menjadi dua yaitu dampak negatif dan dampak positif. Dampak positif berkembangnya teologi kontemporer terhadap pertumbuhan iman jemaat yaitu Memperluas wawasan teologi jemaat, Memberi ruang untuk jemaat berteologi dan Membantu menjelaskan isu-isu teologi yang terjadi dalam jemaat. Adapun dampak negatifnya yaitu menimbulkan kesalahpahaman dalam jemaat, memperhambat pertumbuhan iman jemaat dan mengubah pandangan jemaat terhadap otoritas Alkitab.