cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 230 Documents
Analisis Eksegetis Makna Allon Paraklēton dalam Injil Yohanes: Signifikansi Kehadiran Roh Kudus sebagai Pengganti Personal Kristus Rosalia Enny Astuti; Laurentius Prasetyo
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 2 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2026 - This is
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i2.487

Abstract

This study aims to systematically reconstruct the doctrine of the Holy Spirit (Pneumatology) in the Gospel of John, specifically through an analysis of the term Allon Paraklēton, and to evaluate its relevance for spiritual life in the contemporary era. As a qualitative study, this research employs a literature review design, utilizing theological hermeneutics and exegetical analysis of primary Biblical texts and systematic theology literature. The findings, established through source triangulation, emphasize that the term allon specifically refers to "another of the same kind," positioning the Holy Spirit as Christ’s personal replacement who is equal in divinity. Systematically, the personality of the Holy Spirit is validated through the possession of intellect, emotion, and will, playing a vital role in the regeneration and sanctification of believers. In the ecclesiological dimension, the Holy Spirit is understood as the principle of communion (communio) that unites the Church as the Mystical Body of Christ. The practical significance of this doctrine is found in the Holy Spirit’s role as a "decoder" of truth amidst the challenges of the post-truth era characterized by mass disinformation. In conclusion, the Holy Spirit serves as the dynamic bridge of salvation history, restoring the spiritual vitality of the congregation and ensuring the continuity of Christ's mission in the world.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi secara sistematis doktrin Roh Kudus (Pneumatologi) dalam Injil Yohanes, khususnya melalui analisis terhadap istilah Allon Paraklēton, serta menganalisis relevansinya bagi kehidupan spiritual umat di era kontemporer. Sebagai studi kualitatif, penelitian ini menerapkan desain studi literatur dengan pendekatan hermeneutika teologis dan analisis eksegetis terhadap teks primer Alkitab serta literatur teologi sistematika. Temuan penelitian melalui teknik triangulasi sumber menegaskan bahwa penggunaan istilah allon secara spesifik merujuk pada "Pribadi lain dari jenis yang sama," yang memposisikan Roh Kudus sebagai pengganti personal Kristus yang setara dalam keilahian. Secara sistematika, kepribadian Roh Kudus divalidasi melalui kepemilikan atribut intelek, emosi, dan kehendak yang berperan vital dalam karya regenerasi dan pengudusan jemaat. Dalam dimensi eklesiologis, Roh Kudus dipahami sebagai prinsip persekutuan (communio) yang menyatukan Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus. Signifikansi praktis dari doktrin ini ditemukan pada peran Roh Kudus sebagai "pemecah sandi" (decoder) kebenaran di tengah tantangan era pasca-kebenaran (post-truth) yang penuh disinformasi. Kesimpulannya, Roh Kudus adalah jembatan dinamis sejarah keselamatan yang memulihkan vitalitas spiritual jemaat dan menjamin keberlangsungan misi Kristus di dunia.
Teologi Kepemimpinan Musa dalam Perjanjian Lama dan Relevansinya bagi Pembentukan Spiritualitas Digital Era Postmodern Dorce Hanggawali; Yanto Paulus
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 2 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2026 - This is
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i2.513

Abstract

The development of digital spirituality in the postmodern era calls for a reconceptualisation of spiritual leadership that is theologically grounded and adaptable to the complex dynamics of technology. This study aims to analyse the theology of Moses’ leadership in the Old Testament and its relevance to the formation of a contextual and transformative digital spirituality. The method employed is descriptive qualitative research through a literature review, utilising a hermeneutical approach to biblical texts and theological literature. The research findings indicate that Moses’ leadership possesses strong relational, theological, and pedagogical dimensions in shaping a faith community with deep roots. Furthermore, the values of obedience, integrity, and collective nurturing form a crucial foundation in addressing the fragmentation of digital spirituality. In conclusion, Moses’ leadership is relevant as a normative model for building authentic digital spirituality. Spiritual leadership must reflectively integrate technology with the depth of faith. Healthy digital spirituality requires consistent and ongoing theological guidance. The contribution of this research is the development of a contextual framework for digital spiritual leadership based on the theology of Moses.AbstrakPerkembangan spiritualitas digital dalam era postmodern menuntut rekonstruksi kepemimpinan rohani yang berakar teologis dan adaptif terhadap dinamika teknologi yang kompleks Penelitian ini bertujuan menganalisis teologi kepemimpinan Musa dalam Perjanjian Lama serta relevansinya bagi pembentukan spiritualitas digital yang kontekstual dan transformatif. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui studi pustaka dengan pendekatan hermeneutik terhadap teks Alkitab dan literatur teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan Musa memiliki dimensi relasional, teologis, dan pedagogis yang kuat dalam membentuk komunitas iman yang berakar Selain itu, nilai ketaatan, integritas, dan pembinaan kolektif menjadi dasar penting dalam menghadapi fragmentasi spiritualitas digital Kesimpulannya, kepemimpinan Musa relevan sebagai model normatif dalam membangun spiritualitas digital yang autentik Kepemimpinan rohani harus mengintegrasikan teknologi dengan kedalaman iman secara reflektif Spiritualitas digital yang sehat memerlukan bimbingan teologis yang konsisten dan berkelanjutan Kontribusi penelitian ini adalah pengembangan kerangka kepemimpinan rohani digital berbasis teologi Musa yang kontekstual.
Transformasi Hidup dalam Injil Yohanes: Integrasi Iman, Kasih, dan Persekutuan dengan Kristus Maria Fransisca Widyastuti Estiningtyas
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 2 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2026 - This is
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i2.540

Abstract

Faith, love, and communion in the Gospel of John are frequently interpreted as separate theological themes, leaving their integrated role in Christian life transformation insufficiently explained. This study aims to formulate a Christ-centred integrative model of life transformation. It employs qualitative library research and combines hermeneutical-theological, lexical-syntactical, narrative, and socio-historical analyses. John 1:12, 3:16, and 5:24 are examined to explain believing, receiving eternal life, and the formation of a new identity. John 13:34–35 and 15:9–17 are analysed to identify love as the mark of discipleship and public witness. John 15:1–8 and 17:20–26 are examined to understand abiding in Christ, fruitfulness, and communal unity. The findings demonstrate that faith constitutes an active response through which believers receive eternal life and a new identity as children of God. Communion with Christ sustains this relationship through the word, obedience, and fruitfulness, while love becomes its communal manifestation. These dimensions form a unified movement of transformation that is Christ-centred, relational, communal, and ongoing. This model provides a theological foundation for integrating faith formation, spiritual communion, loving service, and social witness within the contemporary Church.AbstrakPembacaan mengenai iman, kasih, dan persekutuan dalam Injil Yohanes masih sering dilakukan secara terpisah, sehingga hubungan ketiganya sebagai dasar transformasi hidup belum tergambarkan secara utuh. Penelitian ini bertujuan merumuskan model integratif transformasi hidup yang berpusat pada Kristus. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis hermeneutik-teologis, leksikal-sintaktis, naratif, dan sosial-historis. Yohanes 1:12, 3:16, dan 5:24 dianalisis untuk menjelaskan tindakan percaya, penerimaan hidup kekal, serta pembentukan identitas baru. Yohanes 13:34–35 dan 15:9–17 digunakan untuk mengkaji kasih sebagai tanda kemuridan dan kesaksian publik. Yohanes 15:1–8 dan 17:20–26 dianalisis untuk memahami makna tinggal di dalam Kristus, keberbuahan, dan kesatuan komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iman menjadi respons aktif yang membawa manusia kepada hidup kekal dan identitas sebagai anak-anak Allah. Persekutuan dengan Kristus memelihara keberlangsungan relasi melalui firman, ketaatan, dan keberbuahan. Kasih menjadi manifestasi komunal dari kehidupan yang telah diperbarui. Ketiga dimensi tersebut membentuk satu gerak transformasi yang kristosentris, relasional, komunal, dan berkelanjutan. Model ini memberikan dasar teologis bagi gereja untuk mengintegrasikan pembinaan iman, spiritualitas persekutuan, pelayanan kasih, dan kesaksian sosial.
Inovasi Pembelajaran Interaktif Pendidikan Agama Kristen dalam Menjawab Gaya Belajar Generasi Alpha Sarah Gracia Lumbantobing; Rudy Roberto Walean
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 2 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2026 - This is
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i2.497

Abstract

The development of the digital era has shaped the characteristics of Generation Alpha, who have an interactive, visual, and technology-based learning style, thus demanding a transformation in the learning process, including in Christian Religious Education. However, the practice of Christian Religious Education learning still tends to be conventional, teacher-centered, and does not accommodate the learning needs of today's students. The mismatch between the learning approach and the characteristics of Generation Alpha has the potential to hinder the involvement and in-depth understanding of students' faith. This study aims to analyze and formulate interactive learning innovations in Christian Religious Education that can address the learning style of Generation Alpha. The research method used is a qualitative method with a literature review approach. The results show that Generation Alpha has the characteristics of an interactive, visual, and technology-based learning style, which has not been fully accommodated in the practice of Christian Religious Education, which still tends to be conventional and teacher-centered. Therefore, concepts and principles of interactive learning are needed that integrate theological and pedagogical approaches in a contextual, participatory, and experiential learning manner. The novelty of this research lies in the formulation of the FAITH Model (Foundation–Active–Interactive–Transformative–Holistic Learning) as a result of conceptual synthesis that integrates theological foundations, active learning, interactive digital technology, transformative reflection, and the application of Christian values into a systematic Christian Religious Education learning framework in accordance with the characteristics of the Generation Alpha learning style. Thus, the FAITH Model offers a conceptual framework for interactive Christian Religious Education learning that is appropriate to the Generation Alpha learning style to support increased learning engagement, understanding of faith, and internalization of Christian values.AbstrakPerkembangan era digital telah membentuk karakteristik Generasi Alpha yang memiliki gaya belajar interaktif, visual, dan berbasis teknologi, sehingga menuntut adanya transformasi dalam proses pembelajaran, termasuk dalam Pendidikan Agama Kristen. Namun, praktik pembelajaran Pendidikan Agama Kristen masih cenderung bersifat konvensional, berpusat pada guru, dan kurang mengakomodasi kebutuhan belajar peserta didik masa kini. Ketidaksesuaian antara pendekatan pembelajaran dengan karakteristik Generasi Alpha berpotensi menghambat keterlibatan serta pemahaman iman peserta didik secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan merumuskan inovasi pembelajaran interaktif dalam Pendidikan Agama Kristen yang mampu menjawab gaya belajar Generasi Alpha. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Alpha memiliki karakteristik gaya belajar yang interaktif, visual, dan berbasis teknologi, yang belum sepenuhnya diakomodasi dalam praktik Pendidikan Agama Kristen yang masih cenderung konvensional dan berpusat pada guru. Oleh karena itu, diperlukan konsep dan prinsip pembelajaran interaktif yang mengintegrasikan pendekatan teologis dan pedagogis secara kontekstual, partisipatif, dan berbasis pengalaman belajar. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan Model FAITH (Foundation–Active–Interactive–Transformative–Holistic Learning) sebagai hasil sintesis konseptual yang mengintegrasikan fondasi teologis, pembelajaran aktif, teknologi digital interaktif, refleksi transformatif, dan penerapan nilai-nilai Kristiani ke dalam satu kerangka pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang sistematis sesuai dengan karakteristik gaya belajar Generasi Alpha. Dengan demikian, Model FAITH menawarkan kerangka konseptual pembelajaran interaktif Pendidikan Agama Kristen yang sesuai dengan gaya belajar Generasi Alpha untuk mendukung peningkatan keterlibatan belajar, pemahaman iman, serta internalisasi nilai-nilai Kristiani.
Mewujudkan Pembelajaran Transformatif melalui Taksonomi Fink dalam PSAP Fisika: Perspektif Pendidikan Kristen Kurniawati Martha; Yanti Yanti
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 2 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2026 - This is
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i2.525

Abstract

Learning should be understood as a process of seeking meaning that is coherent with students’ lives. However, current teaching practices still tend to focus on mere memorizing and the transfer of knowledge, leading to reductionism and a weakening of students’ internal development. This study aims to describe the implementation of transformative learning through Fink’s Taxonomy of Significant Learning in the course on Planning, Strategy, Assessment, and Physics Learning (PSAP Physics). The method used is a qualitative descriptive approach based on a literature review and implementation with 9 students. The results indicate that learning designed with consideration of situational factors, learning goals, teaching-learning activities, as well as feedback and assessment can develop all six dimensions of Fink’s framework: foundational knowledge, application, integration, the human dimension, caring, and learning how to learn. These findings suggest that a holistic approach fosters changes in students’ ways of thinking, their relationship with God, and their social responsibility. This study implies the importance of transformative learning design in creating meaningful learning experiences.AbstrakPembelajaran seharusnya menjadi proses pencarian makna yang koheren dengan kehidupan peserta didik. Namun, praktik pembelajaran masih cenderung berfokus pada hafalan dan transfer informasi, sehingga memunculkan reduksionisme dan melemahnya perkembangan internal peserta didik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi pembelajaran transformatif melalui Taksonomi Pembelajaran Signifikan Fink dalam mata kuliah Perencanaan, Strategi, Assesment, Pembelajaran Fisika (PSAP Fisika).  Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif berbasis studi literatur dan implementasi pada 9 mahasiswa. Hasil menunjukkan bahwa pembelajaran yang dirancang dengan memperhatikan situational factors, learning goals, teaching-learning activities, serta feedback and assessment mampu mengembangkan keenam dimensi Fink: foundational knowledge, application, integration, human dimension, caring, dan learning how to learn. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan holistik mendorong perubahan cara berpikir, relasi dengan Tuhan, serta tanggung jawab sosial mahasiswa. Penelitian ini mengimplikasikan pentingnya desain pembelajaran yang transformatif untuk menghasilkan pengalaman belajar yang bermakna.
Roh Antikristus sebagai Kuasa Impersonal dalam Surat-Surat Yohanes dan Tantangannya bagi Spiritualitas Zaman Baru Lucky Richard Sariowan
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 2 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2026 - This is
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i2.426

Abstract

The New Age Movement (NZM) is a modern 20th-century spiritual phenomenon that emphasizes the divinity of the universe and that humans are part of the "divine." This has led to a theological distortion of the concept of God, which has implications for Christological doctrine and Christian anthropology. Through a qualitative approach with an exegetical-hermeneutical analysis of the antichrist texts in the Letters of 1 and 2 John, it was found that the impersonal dimension of the antichrist spirit has hermeneutical relevance as a lens for reading the phenomenon of new age spirituality behind the NZM's philosophical concept of God. The exegetical results show that, philosophically and theologically, the NZM rejects the incarnation of Christ, which is a denial of God's true identity. Based on these findings, this study develops a pastoral theology model based on contextual Christian apologetics with the aim of strengthening the congregation's faith, affirming correct theological understanding, and correcting deviations from the NZM's concept of God.AbstrakGerakan Zaman Baru (GZB) atau New Age Movement merupakan fenomena spiritual modern abad 20 yang menekankan keilahian semesta dan manusia merupakan bagian dari “yang ilahi”. Ini menimbulkan distorsi teologis terhadap konsep Allah yang berimplikasi pada doktrin Kristologi dan antropologi Kristen. Melalui pendekatan kualitatif dengan analisis eksegesis-hermenutika terhadap teks-teks antikristus pada Surat 1 dan 2 Yohanes, didapati bahwa dimensi impersonal roh antikristus memiliki relevansi hermeneutis sebagai lensa untuk membaca fenomena spiritualitas zaman baru di balik konsep filosofi Allah GZB. Hasil eksegesis menunjukkan, secara filosofis-teologis GZB yang menolak inkarnasi Kristus merupakan penyangkalan terhadap identitas sejati Allah. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengembangkan model teologi pastoral berbasis apologetika Kristen yang kontekstual dengan tujuan memperkuat iman jemaat, meneguhkan pemahaman teologis yang benar, serta meluruskan penyimpangan konsep Allah GZB.
Disrupsi Digital dan Degradasi Karakter Anak: Respon Pendidikan Keluarga Berbasis Teologi Pastoral Daoni Julius P Hutapea; Andreas Eko Nugroho; Kornelius Rulli Jonathans
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 2 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2026 - This is
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i2.502

Abstract

Digital disruption has brought about significant changes in people’s lifestyles, including in the process of shaping children’s character within the family environment. Technological advancements offer various conveniences, yet they also pose serious challenges to children’s moral, spiritual, and character values. Moreover, the family, as the first and primary educational institution, faces the pressure of a trend towards the degradation of children’s character, such as a decline in discipline, empathy, and responsibility resulting from uncontrolled exposure to digital media and devices. This study aims to examine the response of family education based on pastoral theology in addressing digital disruption and the degradation of children’s character. Using a descriptive qualitative method with a literature review approach, it can be concluded that digital disruption has a significant impact on children’s development, contributing to character degradation through various factors such as uncontrolled exposure to technology and a lack of guidance. In addressing this, family education plays a crucial role in shaping children’s character based on biblical values. Therefore, a pastoral theological approach offers an integrative and relevant solution to strengthen the family’s role as the centre for children’s character development amidst the challenges of the digital age.AbstrakDisrupsi digital telah membawa perubahan signifikan dalam pola kehidupan masyarakat, termasuk dalam proses pembentukan karakter anak di lingkungan keluarga. Kemajuan teknologi menghadirkan berbagai kemudahan, namun juga menimbulkan persoalan  serius terhadap nilai-nilai moral, spiritual dan karakter anak. Apalagi keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama menghadapi tekanan  adanya kecenderungan degradasi karakter anak, seperti menurunnya sikap disiplin, empati, dan tanggung jawab akibat paparan media digital dan gawai yang tidak terkontrol. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji respon pendidikan keluarga berbasis teologi pastoral dalam menghadapi disrupsi digital dan degradasi karakter anak. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka, maka dapat disimpulkan bahwa disrupsi digital membawa dampak signifikan terhadap perkembangan anak yang berkontribusi pada terjadinya degradasi karakter melalui berbagai faktor seperti paparan teknologi yang tidak terkontrol dan lemahnya pendampingan. Dalam menghadapi hal tersebut, pendidikan keluarga memiliki peran yang krusial dalam membentuk karakter anak berdasarkan nilai-nilai Alkitabiah. Oleh karena itu, pendekatan teologi pastoral menjadi solusi yang integratif dan relevan dalam memperkuat fungsi keluarga sebagai pusat pembinaan karakter anak di tengah tantangan era digital.
Hidup Berdampingan dengan Perubahan: Misi Gereja dan Kesiapannya di Era Society 5.0 Ariel Rumondang Siregar
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 2 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2026 - This is
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i2.526

Abstract

This study examines the role and readiness of the church in facing the Society 5.0 era, which places humans at the center of technological development. Digital transformation, particularly artificial intelligence (AI), has influenced human thought, culture, and spirituality. As a moral and spiritual center, the church is challenged to reinterpret its mission of love, justice, and peace within a society increasingly dependent on technology. The research employs a descriptive qualitative method through literature review and theological reflection. The novelty lies in analyzing the integration of church mission with the human-centered society concept, enabling the church not merely to react to technology but to utilize it for strengthening pastoral care and ministry. Findings indicate that the church must develop digital strategies that preserve spiritual essence while addressing ethical challenges such as privacy, social inequality, and moral crises. Thus, the church can coexist with change without losing its faith identity.AbstrakTulisan ini mengkaji peran dan kesiapan gereja dalam menghadapi era Society 5.0, sebuah era yang menempatkan manusia sebagai pusat perkembangan teknologi. Perubahan digital, khususnya kecerdasan buatan (AI), telah memengaruhi pola pikir, budaya, dan spiritualitas umat. Gereja sebagai pusat moral dan spiritual dituntut untuk menafsirkan ulang misi kasih, keadilan, dan perdamaian dalam konteks masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan kajian literatur dan refleksi teologis. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis integrasi misi gereja dengan konsep human-centered society, sehingga gereja tidak sekadar bereaksi terhadap teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya untuk memperkuat pelayanan pastoral dan penggembalaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja perlu mengembangkan strategi digital yang menjaga esensi spiritualitas sekaligus menjawab tantangan etis seperti privasi, kesenjangan sosial, dan krisis moral. Dengan demikian, gereja dapat hidup berdampingan dengan perubahan tanpa kehilangan identitas iman.
Gereja dalam Pelayanan Digital: Analisis Teologis Tri Fungsi Gereja dalam Konteks Era Digital Sudarsono Sudarsono; Esti Rahayu; Remegisses Pandie
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 2 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2026 - This is
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i2.474

Abstract

The advancement of technology in the digital era has created a new landscape for church ministry, where virtual space has become a significant social and spiritual context. However, the church's response to this change is often technical and pragmatic, not yet rooted in deep theological reflection on the nature of its presence and calling. This study aims to analyze the church's digital ministry through the theological lens of the Triune Functions of the Church; Koinonia, Marturia, and Diakonia, to understand its challenges, opportunities, and implications for the local church. Using a qualitative method and a literature study approach on missiology and digital ministry literature, this study concludes that the effective integration of these three ecclesial functions in digital space requires a transformation of paradigms, structures, pastoral ethics, and church leadership. The findings indicate that digital ministry is not merely the adoption of technology, but a contextual expression of the Missio Dei and obedience to the Great Commission. This study offers an integrated theological framework that positions digital ministry as an essential part of the church's identity, while providing a foundation for developing relevant, transformative, and sustainable ministry strategies in the digital age.AbstrakKemajuan teknologi di era digital telah menciptakan lanskap baru bagi pelayanan gereja, di mana ruang virtual menjadi konteks sosial dan spiritual yang signifikan. Namun, respons gereja terhadap perubahan ini sering kali bersifat teknis dan pragmatis, belum berakar pada refleksi teologis yang mendalam tentang hakikat kehadiran dan panggilannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pelayanan digital gereja melalui lensa teologis Tri Fungsi Gereja, yaitu Koinonia, Marturia, dan Diakonia, guna memahami tantangan, peluang, dan implikasinya bagi gereja lokal. Dengan metode kualitatif dan pendekatan studi pustaka terhadap literatur misiologi dan pelayanan digital, penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi yang efektif dari ketiga fungsi gerejawi dalam ruang digital menuntut transformasi paradigma, struktur, etika pastoral, dan kepemimpinan gereja. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pelayanan digital bukanlah sekadar adopsi teknologi, melainkan ekspresi kontekstual dari Missio Dei dan ketaatan terhadap Amanat Agung. Penelitian ini menawarkan kerangka teologis yang terintegrasi, yang memposisikan pelayanan digital sebagai bagian esensial dari identitas gereja, sekaligus memberikan landasan bagi pengembangan strategi pelayanan yang relevan, transformatif, dan berkelanjutan di era digital.
Formasi Karakter Kristen melalui Pelayanan Gereja: Studi Kualitatif Tantangan Iman Generasi Modern Martines Lydia
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 2 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2026 - This is
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i2.512

Abstract

Rapid social change in the modern era has influenced the spiritual lives of Christians, particularly in the process of character formation, which is increasingly facing pressure from secular and pragmatic values. The Church, as a theological and pastoral institution, plays a strategic role in shaping the character of its congregation; however, existing ministry practices are often not oriented towards holistic and sustainable faith development. This situation creates an urgent need to reconstruct church ministry so that it is more contextual in responding to the challenges of the times. This study aims to analyse the role of church ministry in shaping Christian character amidst the challenges of faith faced by the modern generation. The method used is qualitative with a literature review approach. The research findings indicate that Christian character formation, from a pastoral theological perspective, emphasises the importance of holistic faith transformation through the church’s role as a formative community. Furthermore, the adaptive dynamics of church ministry in response to the faith challenges of the modern generation have been shown to contribute to strengthening the congregation’s spiritual resilience. Therefore, a contextual and transformative model of church ministry is required to shape character and enhance faith maturity in a sustainable manner.AbstrakPerubahan sosial yang pesat di era modern telah memengaruhi kehidupan iman umat Kristen, khususnya dalam proses pembentukan karakter yang semakin menghadapi tekanan nilai sekular dan pragmatis. Gereja sebagai institusi teologis dan pastoral memiliki peran strategis dalam membentuk karakter jemaat, namun praktik pelayanan yang ada sering kali belum berorientasi pada pembinaan iman yang holistik dan berkelanjutan. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi pelayanan gereja agar lebih kontekstual dalam menjawab tantangan zaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pelayanan gereja dalam membentuk karakter Kristen di tengah tantangan iman generasi modern. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formasi karakter Kristen dalam perspektif teologi pastoral menekankan pentingnya transformasi iman yang holistik melalui peran gereja sebagai komunitas pembentuk. Selain itu, dinamika pelayanan gereja yang adaptif terhadap tantangan iman generasi modern terbukti berkontribusi dalam memperkuat ketahanan spiritual jemaat. Oleh karena itu, diperlukan model pelayanan gereja yang kontekstual dan transformatif guna membentuk karakter serta meningkatkan kedewasaan iman secara berkelanjutan.