cover
Contact Name
Nitaria Angkasa
Contact Email
lawmuhammadiyah@gmail.com
Phone
+6281272533316
Journal Mail Official
lawmuhammadiyah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ki Hajar Dewantara No.116, Iringmulyo, Metro Timur, Kota Metro. 34111 Prodi Hukum Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Metro
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
Muhammadiyah Law Review
ISSN : 2549113X     EISSN : 2580166X     DOI : https://doi.org/10.24127
Core Subject : Social,
The Journal of Muhammadiyah Law Review published by Faculty of Law University of Muhammadiyah Metro – Lampung. The accepted papers are the scientific papers which are the outcomes of either research or thoughts that refers to Law studies. It is published for the readers both regional and global. The Journal of Muhammadiyah Law Review is published into two volumes a year (January and July). As the peer-review of Indonesian Journal, we accept scientific works on islamic studies which are writen both in English and Indonesia. Feel free to send the papers through registering this page. The Review basically contains any novel topics concerning Indonesian laws and legal system. The range of contents covered by the review spans from established legal scholarships and fields of law such as private laws and public laws which include: constitutional and administrative law criminal law international laws concerning Indonesia various approaches to legal studies such as comparative law, law and economics, sociology of law, and legal anthropology Specialized areas of laws including commercial and business laws technology law, and natural resources law
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 130 Documents
FIDUSIA TERHADAP HAK MILIK KENDARAAN BERMOTOR DALAM PERJANJIAN PEMBIAYAAN Girang Jayanto
Muhammadiyah Law Review Journal Vol 3, No 2 (2019): Muhammadiyah Law Review
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.277 KB)

Abstract

Today, many consumer finance companies, especially motorcycle financing, are experiencing rapid development and have sprung up with offers of various convenience. Finance company engaged in the financing of motorcycles, specifically for the brands of Honda, Yamaha and Suzuki through consumer financing agreements with the guaranteed surrender of ownership rights in a fiduciary manner. Based on the results of research and discussion obtained that the status of ownership of motor vehicles in the consumer agreement is on the debtor. However, because the motorized vehicle is used as a fiduciary guarantee, the ownership rights of the motor vehicle are transferred to the consumer finance company until the payment of all debtor loan installments is paid. The legal consequence of this fiduciary transfer of ownership rights is that the debtor no longer holds the ownership rights to the motorcycle and only has the borrower's right to use the motorcycle. Transfer of ownership from the debtor to the creditor results in the debtor not having the right to hand over the motorbike to another party as it is being transferred because the motorcycle is collateral for the debtor's debt to Perusahaan Pembiayaan.
PARTISIPASI DARI MASYARKAT PEMBENTUKAN PERATURAN HERI KURNIADI
Muhammadiyah Law Review Journal Vol 5, No 1 (2021): Muhammadiyah Law Review
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.158 KB)

Abstract

Pembentukan peraturan perundang-undangan, merupakan suatu kajian yang di lakukan oleh pemerintah dengan berlandaskan prinsip Negara hukum. Pembentukan suatu peraturan, melibatkan semua kalangan masyarakat, baik masyarakat biasa hingga di kalangan pemerintahan seperti DPR. Agar hubungan tersebut dapat memberikan manfaat bagi penciptaan undangundang, maka partisipasi masyarakat yang responsive harus ada disetiap pembuatan undangundang. Tulisan ini akan membahas mengenai mengapa partisipasi masyarakat begiu penting dalam pembentukan undang-undang, serta bagaimana proses pembuatan undang-undang berdasarkan UU nomor 12 tahun 2011 dan responsive dari masyarakat. Dengan menggunakan metode juridis normative akan terlihat nantinya partisipasi masyarakat merupakan wujud dari asas keterbukaan yang merupakan asas dalam pembentukan peratran perundang-undangan yang akan memberikan manfaat enting dalam efektivitas pemberlakuan undang-undang tersebut. Untuk itu, perlu adanya kesadaran masyarakat dan dari pembentuk undang-undang mengenai relasi yang terjadi antara kedua belah pihak dalam pembentukan undang-undang.
EDUCATION AS A PRIMARY TOOL OF HUMAN RIGHTS ENFORCEMENT AND NATIONAL DEVELOPMENT Gibran M. Sanjaya
Muhammadiyah Law Review Journal Vol 2, No 1 (2018): Muhammadiyah Law Review
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.978 KB)

Abstract

National development will be well implemented only on a nation with educated people and guaranteed human rights, even further, education is the main crutch in human rights enforcement. However, Indonesia was ranked by PISA as 10 worst of education system from 76 countries, that means alteration of national education system is needed. Considering Indonesia stands before thousands of island and diverse of cultures and religions, the people requires adequate education about the character of their community and their local excellence. The purpose of that should be implemented clearly when look into the current codition of Indonesia, such as urbanization without the decent education from rural society who affect a high social gap. Those things will hamper the national development. The Law No. 20 of 2003 has regulated local content that can increase the education implementation based on local excellence, but the lessons of local content is not different with another lessons that students learn in the class room. Education can’t be interpreted as limited as education which “institutionalized” that take shelter inside the classroom because education is far more than that. Good education should be the core concern of government in order to maximize Indonesia’s national development and capability in global economic.This paper offers to evolve local content in Law No. 20 of 2003 so the people of Indonesia can compete with other countries in facing AEC. The research method that used for this paper is normative-juridical.
PENANGGULANGAN KEJAHATAN OLEH POLISI KEHUTANAN PADA KAWASAN HUTAN PROVINSI LAMPUNG Helsya Melati Sukma
Muhammadiyah Law Review Journal Vol 3, No 1 (2019): Muhammadiyah Law Review
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.247 KB)

Abstract

Wewenang Polisi Kehutanan yang cukup luas tidak serta merta mencegah kerusakan hutan yang diakibatkan oleh tindak pidana illegal logging. Hal lain yang menyebabkan semakin meningkatnya illegal logging adalah minimnya jumlah petugas keamanan hutan dan kurangnya sarana pengamanan hutan yang dimiliki oleh pemerintah yang digunakan oleh petugas dalam menjaga keamanan hutan dari tindak pidana illegal logging.
UPAYA HUKUM PASCA PUTUSAN PERKARA WANPRESTASI MENGHUKUM TERGUGAT UNTUK MENYERAHKAN JAMINAN SECARA SUKARELA PENTA Peturun
Muhammadiyah Law Review Journal Vol 2, No 2 (2018): Muhammadiyah Law Review
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.732 KB)

Abstract

Hukum Perikatan ditempatkan dalam Buku III dalam (KUHPerdata). Tujuan dari pada pengaturan.perikatan untuk memastikan tujuan hukum sesuai dengan asas keadilan, kepastian dan kemanfaat hukum. Prinsip yang diatur dalam KUHPerdata persoalan perikatan adalah kebebasan berkontrak sebagaimana diatur pasal 1338 KUHPerdata dan pasal 1320 KUHPerdata: a). Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya; b). Kecakapan untuk membuat suatu perikatan; c). Suatu pokok persoalan tertentu; d).Suatu sebab yang tidak dilarang. Juga mengatur soal memberi dan berbuat yang diatur dalam pasal 1234 KUH Perdata mengatakan bahwa tiap-tiap perikatan adalah untuk memberi sesuatu berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu.Pembahasan tulisan ini berkaitan dengan Perkara Nomor.24/Pdt.G/2014/PN Gns. yang memutuskan tergugat Wanprestasi, memerintahkan tergugat menyerahkan secara sukarela jaminan hutang kepada penggugat. Bila melihat kronologis perkara serta proses persidangan, dimana tergugat tidak hadir selama persidangan dan tidak ada ikitad baik membayar hutang. Hal ini ada peluang kesulitan pengugat untuk mendapatkan haknya kembali. Karena bunyi dari putusan menyatakan penyerahan jaminan secara sukarela. Oleh karena itu, dicari jalan hukum untuk menjamin terlaksana keputusan hakim tersebut untuk memastikan asas Kepastian, Keadilan Hukum dan Kemanfaat bagi pengugat.
ANALISIS YURIDIS TERHADAP PERKARA NO.363/Pid.Sus/2020/PN Sdn TENTANG PELECEHAN SEKSUAL ANAK DIBAWAH UMUR DI PENGADILAN NEGERI SUKADANA LAMPUNG TIMUR Jefri Ari Putra
Muhammadiyah Law Review Journal Vol 6, No 1 (2022): muhamadiyah law review
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.388 KB)

Abstract

The main problem of this research is about Legal Protection Against Victims of Sexual Harassment with Child Victims. In the case of Legal Protection for Victims of Sexual Harassment with Child Victims, it is contained in Law Number 23 of 2002 concerning Child Protection Article 81 Paragraph (2). In the realization of Legal Protection Against Victims of Sexual Harassment with Victims of Minors, for this reason the study has 2 (two) problem formulations, namely (1) How is legal protection for victims of sexual harassment with victims of minors (2) What are the factors that cause abuse sex with minors.This research method uses an empirical juridical approach which is carried out by interviewing several respondents or competent sources who are directly related to the writing of this thesis, in order to obtain operational data for empirical research conducted through field research.The results of this study prove that legal protection for victims of child sexual abuse has been carried out properly and fairly through Case Number: 363/Pid.Sus/2020/PN.Sdn on behalf of Bayu Samudra Als Juanto Bin Marsudi at the Sukadana District Court. well, with the prosecutor's demands, namely imprisonment for 10 (ten) years and a fine of Rp. 500,000,000 - (five hundred million rupiah) subsidiary to imprisonment for 5 (five) years to the defendant with all the evidence presented before the trial and the judge's considerations regarding aggravating and mitigating matters, namely his actions destroying the child's future, giving trauma and mitigating things The defendant behaves politely before the trial and regrets his actions. But to prevent abuse of children, both as victims and perpetrators, it is necessary to socialize children during their development period.
THE PREVENTION OF VIOLATION THE RIGHTS OF SUSPECTS BY POLICE IN LAW ENFORCEMENT Slamet Haryadi
Muhammadiyah Law Review Journal Vol 1, No 2 (2017): Muhammadiyah Law Review
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.331 KB)

Abstract

The national police, as well as being the stronghold of law enforcement,  has such a duty of protection of human rights. The problem is precisely the police in carrying out law enforcement more violates Human Rights, both administrative and procedural violations, and violations of physical/violence. It occurs in the case of the light up to the case that the heavy procedural infringement. The violation of human rights by police as if  become habit. Therefore, reinterpret human rights and human rights violations are understood by Police, is an attempt to answer the problem. Prevention of human rights violations requires such a cognitive approach. Placing mindset (thought) in the cognitive structure of apparatus as subject to change. The understanding of the criminal law and human rights instruments as knowledge and new awareness. Starting from the mental activity of apparatus for directing and controlling the mind for all the good things and open to do as well as close the negative things and not commendable. The police who realized that they have evidence of the important position that are empowered to enforce the law will give justice to man with wisdom and tact.
KEDUDUKAN SUAMI DALAM PERKAWINAN SEMANDA PADA MASYARAKAT HUKUM ADAT LAMPUNG DI PEKONMON KECAMATAN NGAMBUR KABUPATEN PESISIR BARAT Dwi Putri Melati Tuti
Muhammadiyah Law Review Journal Vol 4, No 2 (2020): Muhammadiyah Law Review
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.936 KB)

Abstract

Hakekat perkawinan adalah adanya ikatan lahir batin terhadap suami dan istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia. Perkawinan merupakan suatu ikatan antara suami dan istri yang sah menurut hukum agama dan hukum nasional. Namun selain dari kedua hukum tersebut ada hukum yang lahir dari kepercayaan dan kebiasaan masyarakat yang merupakan keturunan dari nenek moyang zaman dahulu yaitu hukum adat. Didalam hukum adat mengatur berbagai jenis hukum yang tidak terkodifikasi (tidak tertulis) yang dalam perkembangannya sangat kuat bahkan dapat mengenyampingkan hukum nasional. Salah satu yang termuat dalam hukum adat adalah masalah perkawinan, hal ini berkaitan dengan perkawinan jujur (ngakuk muli) dan perkawinan semanda (ngakuk Khagah) yang diyakini oleh masyarakat adat Lampung saibatin dan pepadun. Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana perkembangan dan perbedaan perkawinan adat Lampung saibatin dan pepadun serta bagaimana dampak dari perkawinan tersebut jika dilihat dari perspektif Hak Asasi Manusia. Dalam adat Lampung perkawinan semanda dan jujur merupakan perkawinan yang dilakukan dengan objek yang sama tapi tujuannya berbeda. Perkwinan Jujur (Ngakuk Muli) artinya perkawinan ini pihak laki-laki membayar mahar untuk mengambil si perempuan dari pihak keluarganya. Sedangkan perkawinan semanda (Ngakuk Khagah) artinya pihak wanita yang membayar mahar kepada pihak keluarga suami dengan kata lain pihak dari keluarga wanita membeli laki-laki untyk dijadikan menantunya. Alasan dilakukan perkawinan semanda karena kelaurga pihak perenpuan tidak mempunyai anak kandung laki-laki, dengan alasan tersebut maka dilakukannya perkawinan semanda. Akan tetapi dalam perjalanan perkawinan jujur dan semanda tersebut secara tidak langsung akan mengakibatkan pelanggaran HAM yang akan merugikan salah satu pihak.
KEDUDUKAN WAKIL PERTIMBANGAN PRESIDEN BERDASARKAN UNDANGUNDANG NOMOR 19 TAHUN 2006 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN PRESIDEN Nitaria Angkasa Tria Noviantika
Muhammadiyah Law Review Journal Vol 2, No 2 (2018): Muhammadiyah Law Review
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.315 KB)

Abstract

Pada konstitusi kita saat ini tertuang secara jelas terkait dengan pembagian kekuasaan dalam beberapa cabang yakni dibagi atas 3 cabang kekuasaan yaitu cabang eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Dalam kenyataannya ada lembaga negara yang bukan perwujudan dari ketiga macam kekuasaan, namun sebenarnya dapat menjadi bagian dari lembaga negara yang telah ada, karena secara fungsional lembaga tersebut dibutuhkan. Sebagai contoh adanya kekuasaan konsultatif yang dilakukan oleh Dewan Pertimbangan Agung (DPA) saat sebelum UUD 1945 diamandemen sebagai lembaga pertimbangan yang dapat memberikan nasihat kepada presiden secara langsung berdasarkan perintah Undang-Undang Dasar 1945 lalu digantikan dengan Wakil Pertimbangan Presiden (Watimpres) dengan tugas dan fungsi yang sama dengan kedudukan dibawah presiden serta bertanggung jawab kepada presiden secara langsung. Permasalahan yang aan dibahas dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah Kedudukan Wakil Pertimbangan Presiden berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2006 Tentang Dewan Pertimbangan Presiden? dan Struktur, tugas dan Fungsi lembaga tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif, menggunkan pendekatan peraturan perundang-undangan dan aturan lainnya sesuai dengan permasalahan. hasil penelitian ini  menunjukan bahwa Tugas dan fungsi Wakil Pertimbangan Presiden ini diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2007 tentang Tata Kerja Wantimpres dan Sekretariat Wantimpres, tugas Wantimpres adalah: memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan negara baik diminta atau tidak diminta oleh Presiden yang disampaikan baik secara perorangan maupun sebagai satu kesatuan nasihat dan pertimbangan seluruh anggota dewan. Sedangkan fungsinya sebagai lembaga penasihat dapat memberikan nasihat terkait bidang politik ini meliputi politik dalam negeri dan politik luar negeri, bidang ekonomi dan keuangan ini meliputi kebijakan fiskal, moneter, perbankan, perencanaan dan pembangunan, serta pelaksanaan dan pengawasan APBN, dan bidang kesejahteraan rakyat ini meliputi sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, pembangunan, perhubungan serta fasilitas umum.
PROBLEMATIKA KONSEPSI STRICT LIABILITY DALAM PERLINDUNGAN LINGKUNGAN HIDUP PASCA DISAHKANNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2020 TENTANG CIPTA KERJA Hendi Gusta Rianda
Muhammadiyah Law Review Journal Vol 5, No 2 (2021): Muhammadiyah Law Review
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.234 KB) | DOI: 10.24127/lr.v5i2.1626

Abstract

Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup merupakan suatu bagian dari Hak Asasi Manusia yang kemudian dijaminkan oleh UUD 1945 (Green Constitution) dengan tujuan untuk memakmurkan rakyat Indonesia. Salah satu perlindungan tersebut kemudian secara norma di implementasikan dalam Pasal 88 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) melalui konsep Strict Lialibility atau tanggung jawab mutlak bagi setiap yang melakukan kerusakan lingkungan tanpa perlu adanya pembuktian terlebih dahulu. Problematika makin terjadi pasca disahkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja) yang telah mereduksi beberapa hal yang mengenai perlindungan terhadap lingkungan hidup, salah satunya adalah konsep Strict Liability yang menghapus frasa “tanpa perlunya pembuktian”, sehingga semakin rapuhnya keadilan ekologis dalam perlindungan terhadap lingkungan hidup. Kemudian metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan pendekatan secara yuridis normatif dengan disajikan secara deskriptif-analitis.

Page 4 of 13 | Total Record : 130