cover
Contact Name
Zahrasari Lukita Dewi
Contact Email
zahrasari.dewi@atmajaya.ac.id
Phone
+6221-5703306
Journal Mail Official
editor.manasa@atmajaya.ac.id
Editorial Address
Fakultas Psikologi, Unika Indonesia Atma Jaya Jl. Jenderal Sudirman No. 51, Jakarta 12930, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
MANASA, Jurnal Ilmiah Psikologi
ISSN : 02166860     EISSN : 26563452     DOI : https://doi.org/10.25170/manasa
Core Subject : Social,
AIMS AND SCOPE Manasa publishes papers that focus on understanding human behavior as individuals and groups which include in any organization/school/community setting in regard to their personality, emotions, cognition, behavior, and any other psychological aspects and processes, ranging from children, adolescents, adults, to the elderly. In particular, papers that are relevant to current issues of urban areas, marginal, and multi-cultural groups in society within the Indonesian context. Manasa publishes papers with quantitative, qualitative, and mixed methods research; field study, and experimental approaches. The journal also publishes theoretical papers; empirical studies; case studies; empirical reviews; reports on instruments development and psychometric adaptation; and reports on innovative psychosocial programs or policies. Submitted manuscripts may also report results from either cross-cultural comparative research or single culture studies.
Articles 217 Documents
GAMBARAN EXPERIENCE OF LONELINESS PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL DENGAN ANAK USIA 0-5 TAHUN DARI KEHAMILAN DI LUAR NIKAH Kimberly Tan; Nanda Rossalia
MANASA Vol. 15 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/manasa.v15i1.6495

Abstract

Studi ini meneliti pengalaman kesepian di kalangan perempuan dewasa muda dengan anak berusia 0–5 tahun yang lahir dari kehamilan di luar nikah. Merawat anak pada tahap perkembangan ini bisa sangat menuntut, karena anak-anak bergantung pada ibu mereka secara fisik, emosional, dan sosial. Pada saat yang sama, perempuan dewasa muda seringkali masih mengeksplorasi identitas mereka dan mungkin merasa belum siap untuk tanggung jawab sebagai seorang ibu. Perbandingan sosial dan stigma masyarakat seputar kehamilan di luar nikah dapat semakin memperparah perasaan kesepian. Studi ini melibatkan empat perempuan dewasa muda dengan anak berusia 0–5 tahun dari kehamilan di luar nikah yang tidak direncanakan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam untuk mengeksplorasi pengalaman subjektif partisipan tentang kesepian, dengan fokus pada perbedaan dalam hubungan sosial dan proses kognitif seperti pelabelan diri, kontrol yang dirasakan, dan perbandingan sosial. Hasil menunjukkan bahwa kesepian muncul dari perbedaan antara hubungan sosial yang diharapkan dan yang sebenarnya, terutama dengan pasangan dan anggota keluarga. Proses kognitif, termasuk pelabelan diri negatif dan perbandingan sosial, juga berkontribusi secara signifikan terhadap kesepian partisipan. Lebih lanjut, kurangnya kesiapan partisipan dalam menghadapi peran sebagai ibu sementara mereka masih dalam proses pengembangan identitas di awal masa dewasa memperparah pengalaman ini. Studi ini menyoroti interaksi kompleks antara hubungan sosial, proses kognitif, dan tantangan perkembangan dalam membentuk kesepian di kalangan perempuan yang mengalami kehamilan di luar nikah.
DINAMIKA PSIKOLOGIS PEREMPUAN DEWASA AWAL YANG MENCARI SENTANA DI KABUPATEN TABANAN, PROVINSI BALI Ni Luh Gede Juniar Guna Padmi Juniar; I Rai Hardika Rai; Ni Nyoman Ari Indra Dewi Ari
MANASA Vol. 15 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/manasa.v15i1.7088

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika psikologis yang dialami oleh perempuan dewasa awal yang mencari sentana di Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Perkawinan sentana merupakan bentuk pernikahan di mana pihak laki-laki tinggal dan bergabung ke dalam keluarga pihak perempuan, yang umumnya terjadi karena pihak perempuan tidak memiliki saudara laki-laki. Dalam budaya Bali yang masih menjunjung tinggi sistem patrilineal, fenomena ini menimbulkan tekanan tersendiri bagi perempuan yang dituntut untuk mencari pasangan yang bersedia nyentana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap lima partisipan perempuan yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika psikologis yang dialami oleh para partisipan terdiri atas tiga aspek: (1) aspek afektif yang mencakup rasa takut, sedih, tertekan, dan perasaan terbebani; (2) aspek kognitif yang ditandai dengan overthinking, keraguan terhadap masa depan, dan keraguan untuk melangsungkan pernikahan sentana; serta (3) aspek konatif yang tercermin dari perilaku menarik diri dan membatasi relasi sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tekanan budaya, ekspektasi keluarga, dan stigma sosial secara signifikan memengaruhi kondisi psikologis perempuan dewasa awal dalam proses pencarian sentana.
PREDIKSI ATTITUDE TOWARDS BEHAVIOR, SUBJECTIVE NORMS, PERCEIVED BEHAVIORAL CONTROL, DAN LITERASI KEUANGAN TERHADAP INTENSI UNTUK MEMPERSIAPKAN DANA PENSIUN PADA PEGAWAI SWASTA DI JABODETABEK Ferdinand Prawiro; Agnes Vilia
MANASA Vol. 15 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/manasa.v15i1.7278

Abstract

Persiapan dana pensiun tambahan bagi pegawai swasta sangat penting, karena tunjangan pensiun dari BPJS Ketenagakerjaan dan perusahaan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup pensiunan pegawai swasta, terutama di Jabodetabek dengan pengeluaran tinggi. Namun, hanya sepertiga masyarakat Indonesia yang mempersiapkan dana pensiun. Hal tersebut dapat berdampak negatif pada kesejahteraan individu pensiun dan keluarganya, terutama di tahun 2050 saat jumlah pensiunan meningkat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat prediksi attitude towards behavior (ATB), subjective norms (SN), perceived behavioral control (PBC), dan literasi keuangan terhadap intensi pegawai swasta berkeluarga di Jabodetabek untuk mempersiapkan dana pensiun. Penelitian kuantitatif ini menggunakan metode korelasional tipe prediktif. Setelah menyusun kuesioner berdasarkan hasil elisitasi, dilakukan pengambilan data pada 91 pegawai swasta berkeluarga yang berdomisili di Jabodetabek dan belum memasuki masa pensiun dalam waktu 6 bulan. Data dianalisis menggunakan multiple regression. Ditemukan bahwa hanya faktor PBC yang dapat memprediksi intensi mempersiapkan dana pensiun, sedangkan ATB, SN, dan literasi keuangan tidak memprediksi intensi tersebut. Responden dalam penelitian ini telah memperoleh dana pensiun dari perusahaan, sehingga lebih memprioritaskan pengeluaran dibandingkan dana pensiun dan hanya menabung untuk dana pensiun jika memiliki sisa uang. Dengan demikian, pemerintah atau penyedia dana pensiun dapat mensosialisasikan pentingnya dana pensiun tambahan bagi pegawai swasta. Pegawai swasta dapat membiasakan diri dan memprioritaskan menabung untuk dana pensiun tambahan. Pemasaran PT Bank X dapat lebih menonjolkan kemudahan dalam produk dana pensiun untuk meningkatkan minat nasabah.
PENGARUH SELF-CONTROL DAN FOMO (FEAR OF MISSING OUT) TERHADAP KETERGANTUNGAN SMARTPHONE Alvient Primadana Putra; Dianti Ria Saputri; Vina Aulia; M. Farian Faijel; Konto Iskandar Dinata
MANASA Vol. 15 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/manasa.v15i1.7434

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh self-control dan fear of missing out (FoMO) terhadap ketergantungan smartphone pada mahasiswa. Self-control diukur menggunakan skala Self-Control dan FoMO diukur menggunakan Fear of Missing Out Scale. Ketergantungan smartphone diukur menggunakan Smartphone Dependency Scale (SDS). Dengan melibatkan sebanyak 140 mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Raden Fatah Palembang, hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa self-control dan FoMO memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ketergantungan smartphone. Secara parsial, FoMO memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap ketergantungan smartphone. Artinya, semakin tinggi tingkat FoMO seseorang, maka cenderung akan semakin tinggi pula tingkat ketergantungan smartphone-nya. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa secara parsial, self-control memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap ketergantungan smartphone. Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi self-control, maka semakin tinggi pula tingkat ketergantungan smartphone pada mahasiswa.
PERAN PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT DAN MEANINGFUL WORK TERHADAP WORK ENGAGEMENT PADA KARYAWAN PT X Sophia Christy; Gianti Gunawan; Indah Soca K
MANASA Vol. 15 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/manasa.v15i1.7647

Abstract

Karyawan di industri retail fashion menghadapi tuntutan kerja yang tinggi sehingga memerlukan tingkat work engagement yang baik untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi. Namun, tingginya tuntutan kerja tidak selalu disertai dengan dukungan organisasi maupun pengalaman kerja yang bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Perceived Organizational Support dan Meaningful Work terhadap Work Engagement pada karyawan PT X. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 100 karyawan dari berbagai divisi dan jenjang jabatan. Instrumen yang digunakan meliputi Survey of Perceived Organizational Support, Work and Meaning Inventory, dan Utrecht Work Engagement Scale (UWES-17). Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda melalui SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Meaningful Work berpengaruh signifikan terhadap Work Engagement, sedangkan Perceived Organizational Support tidak berpengaruh signifikan secara parsial. Namun, kedua variabel secara simultan berkontribusi signifikan terhadap Work Engagement dengan sumbangan sebesar 31,2%. Temuan ini menunjukkan bahwa kebermaknaan kerja memiliki peran penting dalam meningkatkan keterikatan karyawan terhadap pekerjaannya.
HUBUNGAN ANTARA HARAPAN DENGAN RESILIENSI PADA SISWA SEKOLAH RAKYAT MENENGAH ATAS 17 SURAKARTA Angelina Chelsea Priscilia; Dian Kusuma Hapsari
MANASA Vol. 15 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/manasa.v15i1.7711

Abstract

Remaja yang hidup dalam kemiskinan menghadapi berbagai tantangan yang signifikan bagi perkembangan dirinya. Kesulitan ekonomi meningkatkan kerentanan remaja yang sedang mengalami perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang kompleks. Dalam kondisi tersebut, resiliensi—yaitu kemampuan untuk menghadapi tekanan dan bangkit dari kesulitan—menjadi faktor penting. Salah satu faktor protektif yang diduga dapat memperkuat resiliensi adalah harapan (hope). Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara harapan dan resiliensi pada siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 17 Surakarta. Resiliensi diukur menggunakan Resilience Quotient, sedangkan harapan diukur menggunakan Adult Hope Scale. Partisipan penelitian berjumlah 185 siswa yang berasal dari keluarga miskin dan sangat miskin. Data dianalisis menggunakan regresi linier sederhana dengan bantuan SPSS Statistics versi 25.0. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara harapan dan resiliensi pada siswa. Harapan juga memberikan kontribusi signifikan terhadap resiliensi remaja. Temuan ini mengindikasikan bahwa harapan berhubungan secara positif dan signifikan dengan resiliensi pada remaja dari keluarga miskin. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya serta menjadi dasar pengembangan program yang bertujuan meningkatkan harapan dan resiliensi pada remaja yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
EFEK MEDIASI REGULASI EMOSI DALAM HUBUNGAN CHRONOTYPE DAN EMOTIONAL EATING PADA INDIVIDU DEWASA AWAL Audrey Winata; Ignatius Darma Juwono
MANASA Vol. 15 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/manasa.v15i1.7820

Abstract

Chronotype mencerminkan preferensi individu terhadap siklus tidur-bangun. Hal ini memengaruhi preferensi individu terhadap aktivitas. Chronotype dikategorikan menjadi tiga jenis: morningness, eveningness, dan neither type. Studi sebelumnya telah mengidentifikasi hubungan antara chronotype dan emotional eating, namun mekanisme yang mendasarinya masih belum sepenuhnya jelas. Studi ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara chronotype dan emotional eating dengan memperkenalkan regulasi emosi sebagai variabel mediasi. Studi ini menggunakan desain korelasional. Data dikumpulkan dari 197 partisipan dewasa muda di wilayah Jabodetabek. Chronotype diukur menggunakan Morningness–Eveningness Questionnaire (MEQ), regulasi emosi diukur menggunakan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), dan emotional eating diukur menggunakan subskala Three Factor Eating Questionnaire (TFEQ-R21). Analisis korelasi dan mediasi dilakukan untuk meneliti hubungan antara ketiga variabel tersebut. Hasil penelitian menunjukkan hubungan terbalik yang kecil namun signifikan antara chronotype dan emotional eating. Chronotype juga berkorelasi terbalik secara signifikan dengan cognitive appraisal , sebuah dimensi regulasi emosi. Selain itu, emotional eating dan cognitive appraisal berhubungan secara signifikan. Analisis mediasi lebih lanjut menunjukkan bahwa cognitive appraisal sebagian memediasi hubungan antara chronotype dan emotional eating. Temuan ini menunjukkan bahwa chronotype dan emosi secara tidak langsung terkait melalui cognitive appraisal . Studi ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang chronotype dan strategi regulasi emosi seseorang sangat penting, karena faktor-faktor ini berkaitan dengan gejala emotional eating.